. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 9 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 9

0
499

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 9

Fantasi Sang Mertua Dan Maaf, Ini Nikmat

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Janda
-Mempunyai anak satu bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat lelaki ingin menjamahnya

.
.

Menikmati hidup secara sendiri sebagai seorang perempuan yang sudah mempunyai anak bukan perkara mudah untuk dijalani. Harus menjadi tulang punggung, mendidik anak seorang diri dan menjalani semua aktivitas tanpa adanya sosok pendamping itu susah. Sudah bertahun-tahun Widya merasakan hal tersebut. Memang sulit, tapi bukan berarti menjadi sebuah beban.

Duduk terdiam dikala mentari sore menjelang sambil memikirkan hidupnya, Widya ditemani teh hangat yang ia nikmati. Semenjak Evan menginjak perguruan tinggi ia sering ditinggal sendiri didalam rumah. Evan selalu sibuk dengan urusan pribadinya, entah itu urusan kampus maupun urusan bersama pacarnya, Alice. Tak jarang juga Widya harus melewati malam seorang diri karna anak satu-satunya itu menginap di rumah temannya. Itu yang Widya tau.

Bukan bermaksud melarang atau membatasi kegiatan anaknya, tapi Widya juga ingin mengobrol banyak dan kumpul bersama anaknya itu.

Sudah 2 hari ini kehidupannya di rumah sedikit tak merasa sepi karna 2 hari ini mertuanya telah berkunjung. Widya sedikit bisa melepas rasa sepinya dengan mengobrol ringan dengan sang mertuanya itu.

Seperti sore itu, Widya yang tengah duduk sambil menikmati secangkir teh hangat di depan teras dihampiri oleh mertuanya, pak Kasno. Ia datang dari arah dalam setelah selesai mandi dengan membawa segelas kopi hitam yang ia buat sendiri di dapur. Pak Kasno ikut duduk di kursi kosong menemani Widya mengobrol santai.

“Kalo sore-sore kaya gini, ayah jadi ingat suamimu, Wid. Dulu pas sore kaya gini ayah selalu ajak Harjo main ke sawah, kadang ayah juga liatin dia main bola sama anak-anak lain di lapangan”, ucap pak Kasno mengingat masa kecil anaknya, suami Widya.
“Pernah juga ayah marahin gara-gara dia cari belut di sawah sampai semua badanya berlepotan lumpur, padahal baru saja dia mandi. Hahaha…”, sambungnya dan disusul sambil menyeruput pelan kopinya.
“mas Harjo kalo lagi dirumah juga sore-sore kaya gini suka banget duduk di teras rumah sambil ngopi, liatin Evan main kelereng di halaman rumah”, ujar Widya sambil tersenyum momen tersebut.
“Waktu emang ga bisa diputar lagi. Senakalnya Harjo dulu sampai buat ayah marah-marah terus, tapi sekarang justru malah yang ayah kangengin dari dia”
“Jujur dulu ayah didik suamimu itu lumayan keras dan ayah akui, dulu ayah suka marahin dia. Entah demgan alasan yang jelas maupun yang ga jelas. Karna ayah memang saat masa muda lumayan temperamental, pengaruh suka minum dan yang lain. Ayah nyesel dan itu salah satu alasan kenapa ayah sayang sama Evan. Ayah pengen bayar semua rasa bersalah ayah ini sama darah dagingnya, Evan”, jelas pak Kasno.

Ada jeda berhenti saat mereka berdua mengobrol. Suasanya berubah menjadi sunyi tanpa ada suara, hanya suara anak-anak kompleks yang sedang bermain dan beberapa suara kendaraan yang lewat.

“setelah Harjo mulai dewasa, dia memutuskan buat kerja di kota. Awalnya dulu ayah sama ibu kaget dan sedikit ga rela buat lepasin anak pertama kami itu, tapi sudah waktunya dia buat hidup mandiri”
“2 tahun dia kerja di kota dan hanya pulang sekali dua kali dalam satu tahun itu buat rasa kangen kami makin bertambah dan disaat tepat 2 tahun dia pulang ke rumah sambil ajak kamu. Kami merasa sangat senang karna dia akhirnya punya seseorang yang dia sayangi, tapi disisi lain dulu kami sedikit merasa cemas karna yang kami taunya kalo orang kota itu sombong-sombong dan ga mau buat diajak susah. Seiring berjalannya waktu rasa cemas dan khawatir kami akhirnya bisa ditepis. Ternyata perempuan yang ia kenalkan pada kami rupanya sosok perempuan yang baik, sopan dan bisa diajak bareng dalam segala hal tanpa harus memandang materi. Kami bertambah senang”, ucap pak Kasno panjang, Widya tersenyum senang menyimak.

“syukur, dalam waktu setahun kemudian akhirnya Harjo bisa mulai memperbaiki nasib keluarganya dan memutuskan buat lamar kamu. Syukurnya lagi keluarga kamu menerima tanpa ada syarat dan senang hati…Makasih, Wid”

Widya mengusap punggung pak Kasno, “ayah ga usah terima kasih sama Widya, justru Widya yang harus terima kasih sama ayah dan ibu karna berhasil membesarkan anak yang hebat seperti mas Harjo dan anak hebat itu diizinkan buat hidup berumah tangga sama Widya”, balas Widya.

“Belum sempat kami melihat cucu pertama kami tumbuh besar, ibu mertuamu lebih dahulu meninggalkan. Rasa bahagia akan hadirnya cucu pertama kami menjadi kurang lengkap dan saat itu ayah juga mengalami Impoten”
“belum lama berselang, hanya berjarak beberapa tahun…Harjo ikut menyusul ibunya. Rasanya ayah menjadi seperti orang gila saat itu, ditinggal orang-orang yang sangat ayah sayangi”

Widya hanya diam mengimak setiap keluh kesah hidup yang mertuanya utarakan.

“Harapan ibu mertuamu dulu dan kamu juga sudah tau akan hal itu dimana ibu mertuamu itu ingin melihat Evan punya adik, tapi kembali lagi semua hanya harapan yang sudah hilang. Pernah juga ayah tanya ke Evan tentang hal ini dan Evan ternyata juga menginginkan hal yang sama yaitu mempunyai adik. Itu pas masih Harjo masih ada”
“tapi setelah Harjo pergi, ayah sempat juga menyinggung masalah itu lagi lewat telepon dan jawaban Evan masih sama, dia pengen mempunyai adik, tapi Evan juga sadar betul itu ga mungkin”

Widya terdiam sesaat sembari terlihat berpikir, “Kalo itu memang keinginan ibu sama Evan, Widya bakal usahain dengan cara bayi tabung”

“Sudah, Wid. Evan ga mau kalo pake cara bayi tabung, ayah ga tau alasannya apa, Cuman Evan menentang banget dan Evan juga ga berani bilang sama kamu jadi Evan hanya bisa curhat dan mengutarakan keinginannya sama ayah”
“umur Widya udah 38 Tahun dan di usia segitu sangat berisiko buat mengandung. Kalo memang itu yang diinginkan, Widya bakal coba. Tapi bagaimana caranya kalo ga pakai cara ilmu kedokteran? Masa rahim Widya harus dibuahi sama secara langsung?”
“sebenarnya ayah berat hati, tapi mungkin begitu caranya. Sebaiknya nanti ayah secara pelan coba ngomong sama Evan. Semoga aja Evan mau pakai cara kedokteran saja”
“Iya, yah semoga saja”

Sebuah fakta yang sama sekali tak diketahui oleh mertuanya bahwa sang menantu, Widya sebenarnya pernah dan sering dibuahi rahimnya oleh orang lain, seperti saat digilir di bus, terminal maupun oleh mbah Mitro dirinya meminum pil sehingga benih yang masuk ke dalam rahimnya tak dapat membuahi. Hal tersebut juga berlaku saat rahimnya selesai dibuahi oleh satpam kompleks, pak Narto.

Langit yang tadinya masih sore dengan warna sedikit oranye, berganti warna dan mulai gelap. Kegiatan mengobrol serius di teras rumah mereka sudahi dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kembali. Sementara Widya langsung masuk ke dalam dapur untuk membuat makan malam yang akan disantap ayah mertua, dirinya beserta Evan.

.
.

JRENG!!! JRENG!!! JRENG!!!

Suara alunan gitar terdengar di dalam kamar Evan yang tengah mencoba mengisi waktu luang malamnya selain bermain game Online ataupun Video Call dengan Alice. Beberapa lagu acak ia mainkan dengan gitarnya.

“Hhaaahhhh…main game terus bosan, main gitar juga bosan”, ucapnya sambil menghela nafas.

TOK!!! TOK!!!

Pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar membuat Evan tersadar dari rasa bosan yang sedang ia alami malam itu diatas ranjang.

Dibukanya pintu kamarnya dan terlihatlah sosok sang kakek yang tengah berdiri di depannya sambil membawa 2 cangkir kopi panas. Mengerti dengan maksud sang kakek, Evan lekas menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamar.

“Kakek ga ganggu kan?”, tanya pak Kasno duduk di lantai.
“Kek, jangan dibawah lah. Duduk diatas aja, gapapa”
“Bawah aja, nak. Di langai dingin bikin enak kalo buat ngobrol”

Evan yang merasa tak enak lalu ikut duduk di lantai menghargai kakeknya itu. Satu gelas kopi di berikan ke Evan dan Evan mengambil bungkus rokoknya yang ada di atas ranjang untuk dipersilahkan pada kekeknya.

“Gimana, kuliahnya tadi, nak? Ga ada masalah kan?”, tanya pak Kasno membuka obrolan.
“ga ada kok, kek. Semua berjalan lancar”
“Iyalah lancar, orang ada pujaan hatinya yang bisa bikin semangat. Hahaha”, pak Kasno mencoba untuk menggoda cucunya itu.
“yang akur, nanti kakek temani kamu buat samperin keluarganya”, sambung pak Kasno sambil menepuk pundak Evan.
“Apaan sih, kek”, balas Evan ikut tertawa. Evan merasa seperti bingung, tapi entah itu apa dan Evan hanya menghiraukan rasa bingungnya itu.

Obrolan berlanjut dari hal yang tak penting pun dijadikan topik pembicaraan. Bahkan seperti yang Evan kenal pada kakeknya itu, seorang pria yang humoris. Di beberapa kadang diselingi humor yang membuat keduanya tertawa.

Dari obrolan yang ringan secara perlahan pak Kasno mulai menyerempet ke niat awalnya berkunjung ke dalam kamar cucunya itu. Topik obrolannya mulai mengarah ke hal yang lebih serius. Dengan berhati-hati pak Kasno mulai berbicara pada hal sensitif yang pernah dibicarakan juga dan malam ini akan kembali dilanjutkan.

“dulu kamu pernah kepingin banget punya adik kan, nak?”
“Iya, Evan dari dulu sebenarnya kepingin banget punya Adik tapi kayaknya udah ga bisa deh”
“Ya mungkin aja sih, kakek dulu pernah saranin pake cara bayi tabung, Cuma kamu tolak”, ucap pak Kasno mulai memancing Evan.
“ga tau kenapa ya, kek. Evan ga mau aja kalo pake bayi tabung”
“kalo bayi tabung ga boleh, berarti mamah kamu harus pake cara alami biar bisa hamil lagi”

Evan terlihat kaget dengan ucapan kakeknya yang mengingatkan bahwa masih ada cara lain, namun terdengar ekstrem.

“cara alami? Yang benar saja, kek. Masa mamah dihamili orang secara langsung”, ucap Evan sedikit menekan intonasi nya.

Pak Kasno mengubah posisi duduknya dan sedikit menggeser ke tempat Evan duduk. Pak Kasno memegang pundak Evan dan mulai berbicara lagi, Namun dengan nada yang sedikit pelan dan sabar.

“Ada 2 keuntungan buat mamahmu kalo pake cara itu, nak”
“Pertama, mamah kamu ada kemungkinan bisa hamil dengan cara alami, maksudnya hamil oleh sperma orang secara langsung tanpa harus pake cara kedokteran. Keuntungan kedua…”
“Kamu sadar kan kalo selama ayah kamu meninggal mamah kamu itu sendiri? Untuk hal itu kamu juga tau kan maksudnya?”, ucap pak Kasno.

Evan terlihat diam berpikir.

“Mamah kamu ga dapat nafkah batin lagi. Nah, sedangkan kalo pake cara itu mamah kamu sedikit bisa terobati soal nafkah batin itu. Ya kakek sebagai orang tua disini ga bermaksud buat bikin mamah kamu buat melakukan hal yang ga Bener dan perlu kamu tau bahwa mamah kamu itu sudah jadi anak kakek juga sekarang”

Pak Kisno mulai membuat Evan bingung dengan perkataannya. Dengan bingungnya Evan, pak Kasno bisa dengan mudah masuk untuk mempengaruhi pikirannya. Disini pak Kasno sebenarnya punya maksud lain pada masalah keluarga ini.

Perlu diketahui, sebenarnya pak Kasno dari dulu punya hasrat terhadap tubuh menantunya itu, namun ada hal yang membuatnya tak bisa melakukannya. semenjak di tinggal mendiang sang istri, pak Kasno mengalami Impoten dan karna hal itu niatnya berubah. Sekarang pak Kasno memiliki fantasi dimana dia bisa melihat sang menanti yang ia idamkan itu disetubuhi oleh pria lain yang bukan anaknya sendiri (mendiang Harjo) sampai hamil.

Pak Kasno tau betul walau hal itu terwujud pun batangnya tak bisa tegang, namun…. Dari salah satu kenalan orang yang ia punya. Ia sudah rutin menggunakan sebuah terapi menggunakan minyak khusus supaya dirinya bisa ereksi kembali. Kata orang tersebut masih ada kemungkinan sembuh dengan cara mengurut penisnya menggunakan minyak yang dia beri secara teratur dan prosesnya akan lebih manjur lagi jika lebih sering melihat orang yang ia kenal bersetubuh di hadapannya dan karna itu pak Kasno ingin melihat Widya disetubuhi orang di hadapannya langsung untuk membantu kesembuhannya.

Dengan sembuhnya masalah yang dialami pak Kasno, ia juga dapat menikmati juga nantinya tubuh sang menantu itu.

Terlepas dari hal tersebut, makanya pak Kasno dengan memutar otak mencari cara supaya cucunya itu mau menggunakan cara yang ia inginkan itu.

“Yaudah, Evan sih mau aja, kek. Asalkan mamah juga mau dan tanpa ada paksaan. Evan juga tau kalo Evan egois dan ini salah, tapi Evan juga ga paksa mamah buat lakuin. Semua keputusan ada pada mamah. Apapun yang mamah putuskan Evan bakal terima hal itu”, ucap Evan. Pak Kasno yang mendengar langsung tertawa di dalam hati. Sifat bajingan pak Kasno disaat muda mulai kembali lagi.

Cukup susah dan terjadi perdebatan kecil juga saat pak Kasno membujuk Evan untuk masuk ke dalam rencananya, semua berakhir dengan kemenangan bagi pak Kasno.

“Yaudah, nanti coba kakek bicarakan lagi sama mamah kamu”
“Iya, kek. Tapi misalkan mamah mau dengan cara itu, nanti siapa yang bakal lakuin? Kalau kakek kan…”, ucap Evan dipotong cepat oleh pak Kasno.
“iya kakek tau. Untuk masalah itu masalah gampang. Kakek memang ga bisa ereksi lagi, tapi dengan penampilan mamah mu itu, buat cari hal tersebut adalah perkara yang mudah”, ucapnya seakan-akan dengan logat bicara sedikit berat, padahal di dalam hatinya ia sangatlah senang.

“Maafkan ayahmu ini Harjo. Maafkan juga kakekmu ini. Hehehe…”, batin pak Kasno.

“udah malam, nak. Kamu mendingan tidur. Kakek biar temuin mamah kamu dulu buat bicarakan hal ini”

Pak Kasno beranjak dari kamar Evan dan tak lupa juga dua cangkir kopi yang sudah kosong ia bawa keluar. Tertutupnya pintu kamar Evan, pak Kasno tersenyum licik.

“tak percuma belajar ilmu hipnotis dulu. Hahaha…”.

Ya, pak Kasno ternyata mempengaruhi pikiran cucunya menggunakan ilmu hipnotis yang ia pelajari dulu saat masih muda. Ternyata apa yang dulu ia pelajari sampai sekarang masih ada gunanya bagi pak Kasno. Menggunakan hipnotis pak Kasno bisa mengendalikan pikiran Evan dan Evan dipaksa untuk menuruti perkataannya yang sebenarnya adalah fantasi sendiri milik pak Kasno terhadap menantunya itu, terhadap mamahnya Evan.

Dengan langkah senangnya pak Kasno menuruni tangga dan langsung menemui Widya yang sudah berada di dalam kamarnya malam itu setelah menaruh gelas kotor di dapur.

Sebelumnya juga, pak Kasno masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu untuk melakukan terapi rutin yang ia lakukan selama ini. Menggunakan minyak yang ia bawa dari kampung itu, pak Kasno melepas sarungnya dan langsung terlihat penis besarnya dalam keadaan lemas. Dioleskannya seluruh minyak tersebut di batang tersebut dengan gerakan memijit pelan.

“Semoga kamu bisa cepet sembuh ya, le. Kamu sembuh nanti bakal aku kasih hadiah memek legit menantumu itu. Hehehe”, pelan pak Kasno sambil mengurut penis besarnya.

.
.

Di dalam kamar Widya terdengar suara dua orang tengah berbicara dengan serius. Pak Kasno menemui Widya untuk membicarakan niat busuknya lebih lanjut.

“Evan bilang seperti itu, yah?”, tanya Widya.
“kamu kira ayah bohong sama kamu, Wid? Kalo kamu emang ga percaya, kamu bisa tanyakan langsung sama anakmu”, ucap pak Kasno.

“sudah jelas anakmu bakal jawab boleh, Wid. Anakmu dibawah pengaruh hipnotisku ini”, batin pak Kasno

“Bukan begitu maksud Widya, yah. Widya Cuma merasa bingung saja, jika Widya benar-benar hamil sama orang takutnya para tetangga pada curiga. Widya janda, tapi Widya hamil”
“ayah punya rencana buat itu. Disaat kandungan kamu mulai terlihat, kamu ikut ayah aja ke kampung sampai anak kamu lahir. Orang kampung juga pastinya bakal bingung juga, tapi kalo dikampung orang-orang masih bisa dibohongi. Ayah bilang kalo kamu sudah menikah lagi dan dengan alasan kamu kangen sama keluarga di kampung, kamu bisa tinggal sementara disana”, jelas pak Kasno.

“tapi orang yang bakal bantu masalah ini siapa, yah?”, tanya Widya.
“Semenjak ayah tinggal disini, ayah sering lihat satpam kompleks ini kalo ketemu kamu kaya suka liatin kamu. Kayaknya dia tertarik sama kamu, Wid. Bagaimana kalo kita coba bicarakan sama dia buat bantu?”

Widya tau betul siapa orang yang dimaksud oleh mertuanya itu. Widya juga sadar bahwa semenjak datangnya pak Kasno di dalam rumah. Pak Narto sama sekali tak berani menjamahnya. Jika orang itu lewat depan rumahnya, dia hanya berpura-pura menanyakan situasi keamanan kompleks dan biasanya mampir sebentar untuk melihatnya tanpa berani melakukan hal apapun.

“pak Narto maksud ayah?”
“Ayah ga tau namanya, tapi yang satpam itu intinya”
“Tapi masa Widya yang ngomong sama pak Narto?”, ucap Widya.
“ya bukan kamu juga, Wid. Nanti ayah yang bakal coba ngomong sama pria itu. Tapi kamu sendiri benar-benar siap apa ga?”

Widya terlihat mengambil nafas lumayan banyak, lalu menghembuskannya secara perlahan.

“Widya siap, yah. Widya pengen wujudin keinginan Evan buat punya adik lagi dan Evan sendiri sudah setuju. Widya bakal coba”
“kalo memang kamu sudah putusin, berarti besok siang ayah bakal coba ngomong sama….pak Narto buat minta bantuan dari dia”, ucap pak Kasno.

.
.

Keesokan harinya setelah pak Kasno kembali dari tugasnya untuk menemui pak Narto di pos jaganya. Pak Kasno duduk di sofa sambil menonton televisi dan dari arah belakang sosok Widya muncul sambil membawakan minuman dingin untuk meredamkan hawa panas.

Pak Kasno pulang dari tugasnya dengan raut wajah yang senang karna orang yang akan ia mintai bantuan ternyata memang benar adanya, dimana pak Narto mempunyai hasrat tersendiri pada menantunya itu dan tanpa berpikir panjang setelah dirinya meminta bantuan, pak Narto dengan cepat menjawab bahwa dirinya sangat bersedia untuk membantu Widya hamil dengan spermanya.

Dari hal tersebut juga pak Kasno akhirnya mendapat sebuah fakta yang membuatnya kaget, namun dirinya juga terdapat rasa senang. Fakta dimana pak Narto menceritakan semua hal yang terjadi belakangan ini. Kejadian dimana menantunya sudah pernah disetubuhi oleh pak Narto beberapa kali dan pak Narto juga bilang bahwa Widya sudah tunduk di bawah kepuasannya.

Pak Kasno tak mengira bahwa wanita baik, sopan seperti Widya ternyata sudah ditundukkan oleh satpam kompleks. Jika anaknya, Harjo masih ada mungkin pak Kasno marah mendengar hal tersebut dan menyuruh anaknya untuk menceraikan Widya, namun keadaan berbeda. Pak Kasno malah terlihat senang, dengan begitu rencana yang ia inginkan bisa berjalan dengan lancar.

“Wid, ayah pengen ngomong sama kamu”, ucap pak Kasno.
“Iya, yah”
“sejak meninggalnya Harjo, kamu ga pernah menyeleweng kan?”, tanya pak Kasno.

DEG!!! Widya terdiam dalam kaget, mengingat bahwa orang yang dimintai bantuan oleh mertuanya adalah pak Narto dan pak Narto sudah pernah menikmati setiap jengkal tubuhnya beberapa kali. Widya menjadi khawatir dan cemas kalo pak Narto memang sudah menceritakan hal tersebut pada mertuanya itu.

“udah, ga usah kaget gitu. Ayah udah tau semuanya, pak Narto sudah cerita sama ayah soal hubungan kalian. Mungkin jika suamimu masih hidup, ayah bakal suruh dia buat ceraikan kamu, Wid”, ucap pak Kasno.

Wajah Widya menjadi pucat saat mendengar ayah mertuanya berbicara demikian.

“Ayah sebenarnya ga menyaka kalo kamu itu ternyata seorang istri yang mudah takluk sama kontol orang”, pak Kasno sengaja berbicara seperti itu karna dirinya merasa bahwa hal tersebut bisa menjadi senjata untuk menaklukkan Widya.

Dengan cepat Widya bergerak dari posisi duduknya dan berlutut di hadapan pak Kasno sambil menangis meminta maaf. Pak Kasno tersenyum dan dirinya mencoba untuk bertindak lebih jauh lagi memancing emosi Widya.

“Pantas saja pas ayah bilang mau bantuan ke pak Narto, kamu kelihatan menerima begitu saja. Ternyata kamu memang sudah kangen sama kontolnya ya, Wid”
“Buka, yah….bukan seperti itu. Widya minta maaf, yah… Widya tau kalo Widya salah besar”, maaf Widya sambil menangis.

Pak Kasno tersenyum menang. Tangannya memegang kedua sisi bahu Widya dan menyuruhnya untuk bangun dari posisinya itu. Memasang tatapan seakan orang bijak, pak Kasno menghela nafas panjang.

“bukan salah kamu sepenuhnya, Wid. Bangunlah. Sekarang kamu nurut saja sama ayah dan kamu fokus wujudin keinginan anakmu itu buat punya adik. Ayah rela, semua demi cucu ayah satu-satunya dari Harjo”, pak Kasno menuntun Widya untuk duduk kembali di sofa.
“Yang kamu lakukan sekarang hanya bersetubuh dengan pak Narto hingga dirimu hamil anaknya demi kesalahan kamu pada Evan. Buat dia bahagia, Wid”, Widya mengangguk lemas masih sedikit terisak.

Lagi-lagi pak Kasno menggunakan keahliannya untuk memanipulasi pikiran seseorang dan kali ini ia gunakan pada mantunya sendiri. Pak Kasno gunakan cara itu supaya Widya tak terlalu protes dan mengikuti kemauannya.

“Malam ini bakal dimulai, Wid. Nanti malam pak Narto bakal datang buat bantu. Nanti malam berpakaianlah yang mengundang nafsu pak Narto dan berdandanlah secantik mungkin”, ucap pak Kasno, Widya mengangguk.

.
.

Waktu terasa berlalu dengan cepat. Tibalah dimana pak Kasno dan menantunya, Widya tengah menunggu kedatangan pak Narto di ruang keluarga dengan perasaan campur aduk. Tanpa disadari dari keduanya sedang merasakan keringat dingin dengan dada yang berdegup dengan kencang menanti sesuatu yang sama sekali belum terpikirkan.

Dimana Widya akan disetubuhi di depan ayah mertuanya oleh satpam kompleksnya dan sementara pak Kasno akan melihat pemandangan dimana menantu kesayangannya yang cantik dan mempunyai badan bagus akan di Setubuhi de depan mata kepalanya sendiri.

“aku seperti menyuruh menantuku ini untuk menjadi pelacur”, batin pak Kasno melihat sekilas penampilan Widya yang cantik dengan memakai baju tidur dengan bahan yang tipis.

“Aku seperti dijual oleh mertuaku, tapi dijual pada lelaki yang lebih dulu membuatku takluk”, batin Widya menundukkan kepala melihat kedua pahanya yang terbuka cukup lebat akibat piama yang ia pakai sangatnya pendek.

Sepanjang mereka menunggu sama sekali tak ada suara percakapan yang berarti. Adapun percakapan dan itu hanya sangatlah singkat, bukan ucapan mengarah pada obrolan panjang.

Pak Kasno dapat melihat jika kedua puting Widya terlihat menonjol dari pakaian yang ia kenakan itu. Ya, itu memang pak Kasno yang menyuruh agar Widya tak memakai pakaian dalam sama sekali. Pada bagian bawah terlihat paha mulus Widya yang terbuka akibat kecilnya pakaian yang ia kenakan saat itu dan pak Kasno juga bisa menebak secara jelas bahwa selangkangan Widya menempel secara langsung di atas sofa tanpa terkena penghalang lagi.

Jika pak Kasno tak mengalami masalah pada batang penisnya, mungkin dia sudah tegang maksimal dan tanpa meminta bantuan dari pak Narto, ia sendiri yang bakal menghamili Widya. Namun karna kondisi yang ada, makanya pak Kasno memilih pak Narto sebagai batu loncatannya untuk menundukkan Widya, menantu cantik dan montoknya itu.

TING TONG!!!

Suara bel tersengar bunyi dan sudah dipastikan orang yang memencet bel rumah adalah orang yang sedang mereka berdua tunggu, siapa lagi kalo bukan pak Narto.

“Kamu siap, Wid?”, tanya pak Kasno. Widya mengangguk pelan.
“kalo begitu kamu yang bukain pintu dan aja pak Narto untuk masuk ke dalam”

Widya beranjak dari duduknya berjalan ke arah pintu menemui pak Narto di luar sana. Sementara pak Kasno menunggu dengan jantung yang berdegup kencang sambil tak fokus menonton televisi.

Tak lama terlihat sosok pak Narto berjalan masuk beriringan dengan Widya dengan posisi tangannya merangkul pundak Widya. Sepertinya pak Narto tak usah memasang tampang sok malu lagi, karna dirinya juga sudah menceritakan semua rahasianya bersama Widya pada pak Kasno.

Terlihat jelas bagi pak Kasno yang tengah duduk di sofa bahwa pak Kasno merangkul Widya, namun sesekali meremas payudara besar Widya yang tak terbungkus BRA di dalamnya sambil tersenyum.

“Main remas saja menanti saya, pak”, ucap pak Kasno.
“Hehehe…maaf, pak habisnya saya sudah kangen sama bu Widya ini”
“Yaudah lah, lagian kamu juga udah pernah merasakan tubuhnya juga kan. Oh iya, duduk”

Pak Kasno menyuruh pak Narto untuk duduk juga di sofa dan sekarang terlihatlah bahwa sosok perempuan yang menjadi istri anaknya itu seperti bukan menantunya, karna Widya duduk bersebelahan dengan pak Narto di sofa yang berbeda. Pak Kasno merasa seperti sedang bertamu di rumah tangga orang lain.

“Bagaimana pak, saya beneran disuruh buat hamilin bu Widya kan?”, tanya pak Narto.
“ya seperti yang saya bicarakan siang tadi, pak. Saya dan Widya serius meminta bapak buat hamilin menanti saya ini. Cucu saya, Evan sudah lama pengen punya adik tapi ga kesampaian karna anak saya pergi duluan”
“tapi kalo bu Widya nanti hamil sama saya, apa nak Evan ga curiga pak?”, tanya pak Narto kembali.
“soal itu Evan sudah setuju, pak dan Evan sudah mengizinkan hal tersebut dengan catatan itu memang keputusan Widya tanpa paksaan”

Pak Narto memandang wanita disebelah nya itu dengan tersenyum girang. Dirinya bisa mendapatkan wanita seperti Widya dan sekarang dirinya bisa menikmati tubuhnya dengan izin mertua serta anaknya? Beruntungnya pak Narto. Ditambah lagi, dia bisa menikmati tubuh Widya sampai hamil oleh benihnya. Benar-benar Jackpot buat pak Narto.

“wah, bakal terima kasih yang besar dari saya kalo begitu, pak. Sebagai tanda terima kasih saya itu, saya janji bakal buat Widya hamil. Jangankan 1, 2 ataupun 3 kali hamilin bu Widya juga saya siap, pak”, ucap pak Narto.
“saya lakukan ini semata buat cucu saya saja, pak dan kebetulan Widya juga bersedia. Kalo begitu sekarang bapak bisa memulainya”
“Maaf, pak. Bapak beneran Impoten?”, tanya pak Narto yang sudah siap mengeksekusi Widya.
“iya, kalo saja saya ga seperti ini, saya ga usah suruh bapak, saya bakal lakukan sendiri”, jawab pak Kasno.
“Benar juga, pak. Yaudah, bapak duduk aja liatin. Mulai malam ini saya janji bakal buat Widya hamil, pak. Bakal saya kasih benih ini buat bapak sama nak Evan”

Pak Narto berdiri dan mencopot celananya dan setelahnya muncul benda panjang nan besar keluar dari balik celana dalamnya dalam keadaan sudah mulai menegang. Pak Kasno memosisikan tubuhnya duduk kembali di sofa.

“ayo, bu dimulai. Bikin kontol saya keras dulu”, ucap pak Narto tanpa malu dan tanpa tau dirinya.

Widya sedikit ragu bergerak untuk bersimpuh di tengah selangkangan pak Narto. Menggunakan tangan lembutnya, Widya memegang kontol besar milik pak Narto dan mulai mengocoknya secara pelan. Dari kocokkan pelan, gerakan Widya berubah menjadi mencaplok semua batang besar itu masuk ke dalam mulutnya. Terlihatlah kini Widya yang tengah mengulum kontol yang bukan milik suaminya di depan sang mertua secara langsung.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“Telan semua kontol saya, bu. Ini kontol yang suka buat ibu lupa diri. Hehehe…ya seperti itu, bagus. Sssshhhh…..”

Gerakan kepala Widya naik turun diatas selangkangan pak Narto sambil mulutnya melakukan sedotan keras pada batang yang sedang ia kulum itu. Dimana gerakan yang dilakukan Widya itu sontak membuat pak Narto langsung merem melek dibuatnya.

“aaakkkhh….ssshhhhh…sedot terus, bu. ssshhhhh…”, racau pak Narto dengan tangan menyilang dibelakang kepalanya sendiri.

Mulut Widya terus bergerak naik terus dengan satu tangannya membantu mengurut pelan batang kontol pak Narto yang kian membesar dan mengeras di dalam mulutnya. Rambut kemaluan lebat milik pria tua tersebut juga selalu mengenai hidung serta mulutnya.

Secepat itu Widya tak terlihat ragu lagi seperti sebelum mulai tadi. Gerakan kepala serta tangannya terlihat sangat lihat diselangkangan pak Narto padahal dirinya tengah di tonton oleh mertuanya sendiri, ayah dari suaminya.

Tangan pak Narto yang tadinya diam diatas sekarang mulai menggerepe bagian pantat Widya yang disuruhnya sedikit untuk diangkat. Disingkapnya kain yang sedikit menutupi bongkahan pantat itu oleh dan Narto hingga terlihat jelas di hadapan pak Kasno memek Menantunya itu yang masih ditumbuhi rambut kemaluan yang tak terlalu banyak.

“Eeggghhhh…..”, lenguh Widya disela kulumannya terdengar kala pak Narto meremas pantatnya.

Sementara itu pak Kasno mulai menikmati tontonan di depannya itu saat Widya mengulum kontol pak Narto dengan cepat sedangkan pantatnya diremas kencang oleh satpam tersebut. Menikmati, tapi batang milik pak Kasno sama sekali belum bisa berdiri.

Dilepasnya secara perlahan batang tersebut dari dalam mulutnya, lalu dengan perlahan mulai menjilati nya demgan telaten dari ujung kepala hingga pangkal menggunakan lidahnya. Terlihat sekali bahwa Widya seperti sudah biasa memanjakan benda panjang yang ada di genggamannya itu.

“Bu…”, ucap pak Narto mengangkat wajah Widya.

CUP!!!

Dilumatnya bibir Widya dengan nafsu oleh bibir pak Narto. Lidahnya bermain di sekitar bibir Widya dan menjilatinya hingga dimasukkan kembali untuk saling melilit di dalam mulut.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Bunyi lumatan keduanya terdengar saat masing-masing menyedot air ludah dari lawannya. Tangan pak Narto bergerak menelusuri setiap jengkal tubuh Widya dan berakhir di gundukan daging kenyal milik Widya yang tak terbungkus Bra. Di remasnya dengan gemas dan di pelintir puting miliknya dari balik piama tipis dan dimasukkan tangannya meraih payudara Widya yang besar nan kenyal itu. Pak Narto meremas gemas daging kenyal itu secara langsung dan menggosok puting tersebut dengan gerakan sedikit cepat.

“Eeggghhhh…Eeggghhhh….ssshhhhh”, desah Widya saat kedua payudaranya tengah dimainkan.

Kontol pak Narto terlihat sudah tegang maksimal. Pak Narto yang merasa cukup pemanasan tersebut, melepaskan lumatannya atas bibir Widya dan saat kedua bibir mereka terlepas terlihat benang ludah yang terpentang seiring menjauhnya bibir mereka.

Pak Narto berdiri dan mulai mencopot semua kain yang masih melekat pada tubuhnya sampai dirinya berdiri di depan Widya dan pak Kasno dengan telanjang bulat beserta keadaan kontolnya yang mengacung keras di hadapan wajah Widya.

Pak Narto menyuruh Widya untuk duduk di sofa dalam posisi mengangkang dan pak Narto mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya yang ternyata alat cukur. Widya yang tak memakai celana dalam pun bisa langsung terlihat belahan memeknya yang sudah merekah siap untuk dimasuki, namun pak Narto memilih untuk mencukur terlebih dahulu rambut kemaluan Widya.

Dikarenakan tak ada air, pak Narto meludahi rambut kemaluan Widya beberapa kali hingga terlihat banyak lelehan ludah disana dan setelahnya pak Narto menggunakan ludahnya itu sebagai pelumas untuk mencukur habis rambut kemaluan Widya.

CUIH!!! CUIH!!!

“Dicukur dulu, bu biar bersih”, ucap pak Narto.

“Cukurin, pak”, sambung pak Narto pada pak Kasno.

Ternyata pak Kasno lah yang disuruh untuk mencukur habis rambut kemaluan menantinya itu. Dengan senang hati pak Kasno maju mendekat ke arah Widya yang disuruh mengangkang di sofa oleh pak Narto sehingga memperlihatkan memeknya itu.

Pelan-pelan pak Kasno mulai menghilangkan rambut kemaluan Widya dan saat baru setengah jalan ternyata ludah pak Narto tadi telah habis ikut terbuah, akhirnya pak Kasno ikut meludahi selangkangan menantinya sendiri beberapa kali hingga terlihat basah oleh ludah kembali. Pak Kasno mencukur habis kemaluan Widya hingga tak tersisa sedikit pun rambut yang mengganggu.

“Sudah bersih, pak”, ucap pak Kasno pada pak Narto yang tengah berciuman kembali dengan Widya dan tangannya meremas payudara.

Pak Narto bangkit dan memosisikan tubuhnya sejajar dengan selangkangan Widya dan kontolnya yang keras dan besar sudah siap menjebol memek Widya. Pak Narto melihat sejenak ke arah pak Kasno dan diberi jawaban anggukan kepala.

“sudah siap, bu? Saya sudah kangen sama jepitan memek ibu ini. Memek legit”, ucap pak Kasno sambil memukulkan kontolnya berulang kali tepat kearah bibir memek Widya.
“Siap ya, bu. Saya bakal jebol lagi memeknya pake kontol ini”

Pak Narto mengarahkan kepala kontolnya di bibir memek Widya dan demgan perlahan pak Narto mulai mendorong masuk kontolnya menembus sempitnya memek Widya itu. Senti demi senti benda besar nan panjang itu mulai tertelan di dalam lubang segama milik Widya yang sudah bersih tanpa rambut.

“Aaaakkkkhhh….pelan, pak….besarr….ssshhhhh….”, ucap Widya saat pak Narto mencoba melakukan penetrasi.
“Ssshhhhh….udah sempit lagi bu memeknya. Sssshhhhh…padahal baru beberapa hari ga saya genjot”

“Aaaakkkkhhh….ini….demi Evan, yah. Ssshhhhh….”, ucap Widya pada pak Kasno yang tengah melihat demgan saksama ke arahnya.
“pak Kasno. Ssshhhhh….semoga bapak lekas sembuh. Setelah sembuh bapak bisa rasakan juga kaya apa sempitnya lubang memek….menantu bapak ini. Sssshhhhh…sempit banget, pak”, ucap pak Narto menikmati proses penetrasinya.

BLES!!!

Setelah mencoba menembus kembali memek Widya dengan sedikit kesusahan, akhirnya pak Narto bisa membenamkan seluruh batang kontolnya di dalam memek Widya kembali. Lubang yang selalu bisa membuatnya merasakan nikmat yang tak ia dapat dari istrinya di kampung.

Saat pak Narto mendiamkan kontolnya, ia bisa merasakan bahwa dinding memek Widya serasa memijat seluruh batangnya di dalam sana. Rasanya sungguh sangat nikmat. Apalagi ia menikmati hal tersebut sambil di tonton oleh pria yang disebut sebagai mertua dari Widya. Nikmatnya sungguh berlipat ganda dirasakan oleh pak Narto.

“bu Widya minta tolong saya buat apa, bu?”, tanya pak Narto, tapi Widya diam.
“Bu Widya….saya tanya loh, apa mau saya cabut saja?”
“Ja…jangan pak. Tolong bantu saya. Ssshhh…. Tolong bantu dengan hamilin saya, pak”, ucap Widya sambil menahan rasa sesak di dalam selangkangannya.
“Pak, masa saya disuruh buat hamilin bu Widya. Menantu bapak ini apa benar, pak?”, tanya pak Kasno mencoba melecehkan Widya dan juga berimbas pada pak Kasno sendiri yang ikut diseret.
“Iya, pak. Hamili menantu saya itu”, jawab pak Kasno.

Entah itu efek yang mulai berasa atau bukan. Pak Kasno tak pernah menikmati apa yang namanya nafsu setelah dirinya Impoten, tapi untuk sekarang dirinya merasa bahwa nafsu yang sudah pernah hilang itu mulai kembali dengan perlahan dan ajaibnya ia merasakan jelas bahwa kontolnya sedikit mengedut, walau belum bisa ereksi.

Pak Kasno yang berpikir bahwa saran orang kampungnya ternyata berhasil, pak Kasno menyuruh pak Narto kembali melanjutkan aktivitasnya pada tubuh menantunya itu.

“baik, bu. Saya bakal buat bu Widya hamil”
“terima kontol saya ini, bu. Bakal saya genjot memek ibu ini sampai puas. Ssshhhhh…Aaaakkkkhhh….”, ucap pak Narto mula menggerakkan pantatnya maju mundur menumbuk selangkangan Widya.

PLOK!!!! PLOK!!! PLOK!!!

Bunyi kulit saling bertemu mulai menggema menyelimuti ruang keluarga rumah Widya. Dirinya tengah disetebuhi oleh satpam kompleks bernama pak Narto sambil dirinya di tonton oleh sang mertua. Sukar untuk diakui, namun Widya juga merasakan rasa nikmat yang ia dapatkan dari persetubuhan awal malam itu.

Widya menatap ke arah bawah dimana selangkangannya tengah di masuki benda besar nan panjang yang keluar masuk menyodok memeknya itu. Saat melihat Widya sempat tak percaya karna ukuran seperti itu bisa masuk seluruhnya ke dalam lubangnya dan padahal tadi sangatlah sakit, namun rasa sakit dengan cepat berubah rasa nikmat. Sungguh hebatnya batang tersebut.

“ayah Kasno…aku disetebuhi pak Narto dengan penuh nafsu di depannya. Mimpikah aku?”, batin Widya di tengah genjotan kontol pak Narto diselangkangkannya sambil melihat mertuanya itu.

Tubuh Widya ikut terlonjak di setiap hentakkan pantat pak Narto yang mengenai selangkangannya. Kedua bukit indahnya diremas oleh pak Narto dengan lumayan keras tanpa melepas piama yang dipakai sehingga membuat Widya mendesah bercampur dengan erangan kecil.

“Ssshhhhh….Aaaakkkkhhh….Aaaakkkkhhh….”

“Akhirnya saya bisa merasakan nikmatnya memekmu lagi, bu. Ini memek yang selalu saya tunggu buat saya genjot. Ssshhhhh…”
“Enak?”, sambung pak Narto. Widya mengangguk pelan.
“Bagus, bu. Bu Widya sekarang sedang saya entotin di depan mertua ibu dan ibu menikmatinya seperti biasa. Aaaakkkkhhh….ibu emang pantas buat jadi Pelacur saya, bu. Ssshhhhh…Aaaakkkkhhh….saya bakal didik ibu buat jadi Pelacur yang patuh dan saya bakal buat bu Widya hamil. Ya…ssshhh…bapak bakal buat bu Widya hamil sama peju saya. Hehehe….sssshhhhh….”

Sambil terus menggenjot memek Widya dengan gerakan sedikit cepat, pak Narto mengalihkan pandangannya ke arah pak Kasno yang tengah menonton adegan dirinya menyetubuhi menantunya itu.

“pak, terima kasih sudah bolehin saya pakai memek bu Widya lagi. Ssshhhhh….Aaaakkkkhhh….menantu bapak kaya Lonte buat saya, pak. Ssshhhhh….aaakkkhh…enaknya. ssshhhhh….”
“Saya bakal buat bu Widya hamil. Ssshhh….tapi izinkan saya buat miliki tubuhnya juga, pak. Aaaakkkkhhh…saya mau…menantu bapak ini….ssshhh jadi Pelacur pribadi saya, pak. Saya….Ssshhhhh…..anjing enak banget ini memek. Ssshhhhh… Saya mau Widya jadi pemuas saya, pak”

“Silahkan saja, pak. Lagian dari awal juga menantu saya ini sudah jadi Pelacur bapak kan. Tapi dengan satu syarat. Bapak harus nurut sama perintah saya dan setelah saya sembuh, saya juga mau pakai memeknya juga”, ucap pak Kasno membuat perjanjian dengan pak Narto.

“Siapppp….ssshhhhh…saya setuju, pak. Berarti buat sekarang bu Widya milik saya seutuhnya sampai bapak sembuh. Selama itu juga….ssshhhhh….saya bebas menikmati tubuh menantu bapak ini. Anakkkhhhh…”
“saya setuju”, balas pak Kasno.

Di genjotnya selangkangan Widya dengan ritme yang ditambah. Tubuhnya ikut terlonjak setiap pantat pak Narto menubruk selangkangkannya dengan kuat. Payudara besarnya yang masih tersembunyi di bali piama ikut bergerak naik turun dan saking kuatnya sodokan kontol pak Narto di selangkangannya sampai sofa yang menjadi tempat pertempuran sedikit demi sedikit mulai ikut terdorong ke belakang.

Suara desahan, racauan dan suara kulit uang saling berbenturan mengisi ruang tengah rumah Widya yang bisa didengar jelas oleh telinga pak Kasno selaku mertuanya yang tengah menonton adegan dimana sang menantu tengah di Setubuhi secara cepat dan kasar oleh seorang pria yang bekerja sebagai satpam kompleks. Pria tersebut dengan sangat bernafsu menyodokkan kontolnya dengan keras dan kuat.

“Bu Widya sudah dengar? Tubuh ibu sekarang milik saya. Ssshhhhh…bu Widya Pelacur saya. Ssshhhhh…Pemuas nafsu kontol saya ini. Aaaakkkkhhh…rasakan kontolku, bidak. Ssshhhhh….Aakkkhhhh”, umpat pak Narto menikmati setiap sodokan kontolnya di dalam memek sempit Widya. Wanita uang sekarang demgan bebas dapat ia Setubuhi sesukanya dan wanita yang sudah tunduk oleh kenikmatan yang diberikan oleh kontol besarnya itu.
“Aakkkhhhh…Aaaakkkkhhh….pelan, pak. Aakkkhhhh….enakkk…ssshhhhh….”, racau Widya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pak Narto.

“anakku kalo tau kamu kaya Pelacur gitu, pasti Harjo bakal nyesel nikahin kamu, Wid”, timpal pak Kasno di posisi menontonnya.
“Hajar terus memek menantu saya yang kaya Pelacur itu, pak. Hajar terus memeknya biar kapok”, sambung pak Kasno.

Pak Narto mencabut kontolnya dengan cepat sementara Widya melenguh akibat ulah pak Narto itu. Dibaliknya tubuh Widya untuk menungging di dan dengan gemasnya pak Narto menampar pantat Widya yang mulus beberapa kali. Setelahnya, dalam sekali sentakan keras kontol pak Narto kembali masuk ke dalam memek Widya.

“AAAKKKHHHH!!!!”, erang Widya saat kontol pak Narto masuk dengan kasar.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

Tamparan yang dilakukan pak Narto pada pantat Widya meninggalkan bekas warna kemerahan yang lumayan jelas tercetak di pantat mulusnya itu. Nafsu pak Narto yang sudah memuncak langsung menggerakkan kembali pantatnya maju mundur, menggerakkan kontolnya supaya keluar masuk di dalam memek Widya demgan celat dan kuat.

“terima kontolku ini, memek! Terima ini. Aaaakkkkhhh….rasakan kau Pelacur. Ssshhhhh…Aaaakkkkhhh”, umpat pak Narto.
“Sia-sia mendiang suamimu mendidik supaya jadi istri yang baik…ssshhhhh….aaakkkhh…ujung-ujungnya jadi Lonte juga kamu, bu. Aaaakkkkhhh…kurang ajar, nikmat banget ini memek. Ssshhhhh…”
“setelah bapak sembuh, bapak harus langsung coba memeknya ini, pak. Ssshhhh…aaakkkhh… Menantu bapak punya memek kualitas wahid. Gila enak banget. Ssshhhh….”
“Memeknya enak buat dijadikan sarung kontol, pak. Pas buat diisi peju banyak orang. Aakkkhhhh…menantu bapak memang bibit Pelacur mahal. Ssshhhh….tapi sayangnya jadi murahan. Aakkkhhhh…”

PLAK!!! PLAK!!!

Lagi-lagi pantat Widya mendapat tamparan dari pak Narto yang sedang sangat menikmati menyetubuhi dirinya dengan cepat dan kasar. Bukan hanya perlakuan kasar, namun kata-kata umpatan yang dilontarkan oleh pak Narto terhadap dirinya membuat Widya merasakan sensasi nikmat dan adrenalinnya semakin bertambah. Apalagi disaat dirinya sedang disetubuhi dan direndahkan dengan kata-kata oleh pak Narto, dirinya ditonton langsung oleh sang mertua. Nikmat, malu bercampur di rasakan oleh Widya.

“aaakkkhh….ini nikmat…ini jauh lebih nikmat rasanya…aaakkkhh…kontol memang enak. Aaaakkkkhhh….”, batin Widya berbicara menikmati kejadian yang tengah dialaminya.

Pak Kasno yang sedari tadi menonton persetubuhan yang sedang terjadi di depannya kemudian berdiri dan berjalan ke arah depan Widya yang tengah di doggy oleh pak Narto. Dirinya sedikit membukukan badannya dan kedua tangannya ia arahkan pada payudara Widya yang masih tertutup piama nya, namun bisa ditebak payudara tersebut tergantung bebas di dalam sana karna memang tak memakai Bra.

“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh….Aaaakkkkhhh….”, desah Widya menikmati sodokan kontol pak Narto.

Pak Kasno meremas kencang payudara Widya dan membuat Widya sendiri menjadi tambah mendesah dibuatnya. Pak Kasno mencaplok mulut Widya yang tengah menganga mengeluarkan desahan. Dengan ganasnya pak Kasno melumat habis seluruh mulut Widya. Terlihat nafsu, namun batang kontol pak Kasno belum bisa ereksi.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Menantu dan mertua tersebut saling melumat dengan ganas sampai Widya mengulum lidah mertuanya itu dengan kencang. Widya sudah tak memikirkan lagi bahwa yang di depannya itu sosok mertuanya atau bukan. Lagian mertuanya itulah yang menyarankan hal tersebut dan dia juga ikut melecehkan dirinya tadi. Masa bodo pikir Widya saat itu yang penting adalah kenikmatan yang ia dapat.

Disaat Widya tengah saling melumat dengan pak Kasno, pak Narto menarik tubuh Widya untuk menghadap ke arah rak yang terdapat foto keluarga. Disana terlihat Widya berserta Evan dan mendiang suaminya tersenyum di dalam bingkai foto. Di hadapan foto tersebut, pak Narto menggenjot memek Widya dengan cepat seakan-akan ingin memperlihatkan kepada mendiang suaminya jika sang istri sedang disetubuhi olehnya.

Pak Narto juga ingin menunjukkan kepada Evan bahwa sang mamah saat itu sedang disetubuhi oleh satpam Komplek yang biasa ia sapa sewaktu lewat gerbang pos.

“lihat ini…. Istrimu dan mamahmu sekarang sedang bapak entotin pake kontol besar. Lihatnya betapa Lacurnya wanita kalian ini. Aakkkhhhh….khususnya buat kamu, Harjo. Aaakkkhh….lihatlah istrimu ini. Memek yang kau anggap hanya bisa dinikmatin sendiri, sekarang bisa saya kontolin juga. Aaakkkhh….istrimu yang kamu banggakan dan kamu sayangi sekarang jadi Pelacurku. Aaaakkkkhhh….ssshhh….nikmatnya memek istrimu ini, Harjo. Akkkkhhhh….”

Perlu di ingat apa yang dikatakan oleh pak Narto semata-mata karna disuruh oleh pak Kasno sendiri. Pak Kasno ingin mewujudkan fantasi gilanya dengan meminta bantuan pada pak Narto. Ia meminta pak Narto untuk mengucapkan kata-kata melecehkan kepada Widya maupun pada cucu serta mendiang anaknya.

Dasar pak Narto sebelum disuruh oleh pak Kasno juga pak Narto selalu sering mengeluarkan kata kasar sewaktu menyetubuhi Widya. Dengan datangnya datangnya fantasi dari pak Kasno bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh pak Narto.

Widya yang tengah di doggy oleh pak Narto menggunakan tangannya untuk berpegangan pada tak di depannya yang terdapat foto bingkai keluarga. Saking kerasnya sentakan senjata pak Narto pada selangkangannya membuat tubuh Widya ikut bergoyang kasar. Rak yang menjadi tumpuan tangannya ikut bergerak juga mengakibatkan foto bingkai keluarga terjatuh ke lantai.

“Pak…pak….Aaaakkkkhhh….Aaaakkkkhhh…paakkk…”, desah Widya yang tengah di genjot oleh pak Narto dari belakang.
“Nikmati aja, bu. Ssshhhhh….nikmati….”
“ooohhhh….ayahhhh….ssshhh…aakkkkaahhh…Aakkkhhhh…Widya mau sampai. Widya mau keluar, paakkk….Aakkkhhhh…”, erang saat merasa orgasme keduanya akan segera meledak kembali setelah orgasme pertama tadi pas dirinya berciuman dengan mertuanya sendiri.

Di tariknya baju piama yang masih digunakan oleh pak Narto dari belakang sehingga kedua bentuk payudaranya tercetak jelas di baju tipis itu. Dadanya terasa terjepit karna tarikan kuat di piamanya.

Tarikan kuat pak Narto pada piama Widya membuat Widya sampai tertarik ke belakang dan masih dalam posisi terus disodok oleh kontol pak Narto. Tubuh Widya dipeluk demgan erat. Diciumnya leher jenjang Widya dan pak Narto juga sengaja membuat cupangan di leher putih itu.

“AAAKKKHHHHH!!!!”, lolong Widya saat orgasmenya kembali meledak dengan hebat.

Tubuh Widya serasa memegang dan tubuhnya bergetar dengan hebat di dalam pelukan erat pak Narto. Seakan tak ingin memberi waktu pada Widya untuk menikmati gelombang orgasmenya, pak Narto terus saja memompa memek Widya dengan cepat dan bertenaga. Rupanya pak Narto juga akan mengalami orgasmenya yang kian dekat.

“STOP, PAK…STOOPPP….AAAKKKHHHH….AAAKKKHHH…”, erang Widya karna pada selangkangannya merasakan nikmat bercampur dengan rasa ngilu akibat orgasmenya.
“Saya mau keluar juga, bu. Aaaakkkkhhh….saya mau keluar. Diam kami, bu. Aaaakkkkhhh….DIAMMM!!!”. Pak Narto terus menggenjot selangkangan Widya.

Widya merasakan lututnya sangat lemas dan gemetar untuk berdiri. Bukan hanya lutut, tubuhnya serasa sangat lemas dibuatnya. Gerakan pantat pak Narto saat menumbuk selangkangannya juga bisa Widya rasakan semakin gencar dan sentakannya kuat. Rasanya Widya ingin terjatuh dari posisinya yang setengah berdiri karna di doggy oleh pak Narto. Tapi untuknya tubuhnya dalam keadaan dipeluk oleh lelaki tersebut demgan erat.

“Pak Kasno…aaakkkhh…pegangin….pegangin tubuh bu Widya”, ucap pak Narto disela genjotannya yang kian mendekati puncak orgasmenya.

Pak Kasno maju mendekati mereka dan memosisikan tubuhnya berdiri di depan Widya. Pak Narto langsung melepaskan pelukannya dan tubuh Widya ambruk ke depan menubruk tubuh mertuanya itu. Tubuh lemas Widya dipegangi oleh pak Kasno dari depan sedangkan dari belakang pak Narto terus menggenjot memek menantunya dengan cepat.

Suara kulit bertabrakan kian keras terdengar. Pantat Widya yang putih mulus kini mulai berwarna merah akibat tamparan, remasan keras dan akibat benturan demgan selangkangan pak Narto. Bisa pak Kasno rasakan tubuh menantunya masih bergetar dalam keadaan terus bergerak ikut maju mundur mengikuti genjotan selangkangan pak Narto.

“Aakkkhhhh….akkkkhhhh…aaakkkhh….”, hanya suara desahan lirih yang terdengar dari mulut Widya.

“KELUAR!!! SAYA KELUAR, ANJING!!! AAAKKKHHH…AAKKKHHH… TERIMA PEJU KU, LACUR!!! AAKKKKHHH….MENANTUMU SAYA HAMILIN, PAK. HAMIL MENANTU PELACURMU INI. AAAKKKKHHHH!!!!”, erang pak Narto meledak saat ia ejakulasi dengan nikmat di dalam rahim Widya.

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

“BUNTING MENANTUMU, PAK. BUNTING!!! AAAKKKHHH…LONTE INI MEMEK….SSSHHHHH….”, ucap pak Narto sambil mengeluarkan sisa-sisa peju nya menyiram rahim dalam Widya.

Entah berapa kali semburan peju yang diterima oleh Widya karna Widya sendiri tak bisa fokus dengan pikirannya. Yang bisa tau hanya jumlah peju milik pak Narto yang masuk mengisi rahimnya sangat banyak hingga rasanya rahimnya terasa panas.

Tepat setelah pak Narto tuntas menyemburkan peju nya ke dalam rahim Widya. Bel rumah terdengar dipencet menandakan ada orang diluar sana. Pak Narto yang kaget jika orang itu Evan, lantas langsung saja ia cabut kontolnya dengan cepat. Selepasnya kontol pak Narto yang menyumpal lubang memek Widya, lelehan peju kental dengan banyak menetes ke jatuh ke lantai.

TING TONG!!! TING TONG!!!

Sementara tubuh Widya langsung di singkirkan dan jatuh ke lantai, tepat di depan kaki pak Kasno yang masih berdiri. Terlihat pak Narto yang kaget dengan cepat mengambil semua pakaiannya hingga tak sengaja menabrak meja kecil depan televisi itu. Suaranya cukup kencang.

“Masuk kamar saya saja, pak yang itu”, ucap pak Kasno mengerti kegelisahan pak Narto sambil menunjuk letak kamarnya.

Perginya pak Narto dari ruang tengah, pak Kasno menyuruh Widya untuk bangkit dari posisinya sambil membantu merapikan piamanya yang terangkat sampai pinggang.

“atur nafas kamu dan benerin rambutnya terus kamu bula pintunya, Wid. Bapak mau ke kamar biar kesannya bapak sudah tidur”, suruh pak Kasno kepada Widya yang sudah berdiri.

Widya berjalan demgan langkah sedikit susah akibat baru saja selangkangannya digempur habis oleh batang kontol besar milik pak Narto demgan kasar. Saat berjalan Widya merasakan lelehan peju yang keluar di pahanya. Widya hanya mengelap sekenanya lelehan tersebut menggunakan tangannya dan membuka kunci pintu.

CEKLEK!!!

Terlihat tubuh anaknya, Evan tengah dipapah oleh dua orang pria yang sama sekali belum pernah Widya lihat sebelumnya. Widya kembali menjadi sosok orang tua seperti biasanya dengan menunjukkan rasa khawatir yang asli.

“Loh Evan, kamu kenapa nak?”, khawatir Widya saat melihat Evan dalam keadaan setengah sadar.
“Saya temannya Evan, tan. Saya Deni”, ucapnya.
“Evan Gapapa kok, tan. Evan hanya sedikit mabuk karna tadi air yang kira Evan air putih ternyata alkohol dan langsung dia minum habis”, jelas salah satu pria muda itu sebagai teman anaknya bernama Deni.

Dengan sedikit berteriak Widya memanggil pak Kasno, Mertuanya yang tadi masuk ke dalam kamarnya. Tak lama terlihat pria yang ia panggil menunjukkan batang hidungnya sambil berlari kecil ke arah pintu sambil mengenakan sarungnya.

“ini cucu kakek kenapa, Wid?”, tanya pak Kasno dengan perasaan khawatir yang asli juga.
“udah, yah. Ini tolong bantu bawa Evan dulu ke kamarnya”, ucap Widya.

Dengan dibantu oleh Deni, pak Kasno membawa Evan masuk untuk naik ke kamar milik cucunya itu. Sementara saat Widya berniat menyusul dan akan menutup pintu, pria satunya yang masih berdiri menghentikan Widya.

“Maaf, bu. Gr*bnya belum dibayar”, ucap driver Online tersebut.

Dalam keadaan khawatir dan bingung karna tak memegang uang, Widya meminta Driver tersebut untuk menunggu dan Widya langsung berlari ke arah kamarnya.

Tak lama Widya kembali dengan uang ditangannya yang ia bawa.

“Berapa, pak?”
“32 ribu, bu”

Uang yang Widya bawa adalah pecahan sehingga ia memberikan dengan uang 10 ribu pertama. Karna Widya sedang khawatir uang tersebut jatuh. Sang Driver mengambilnya, saat ia akan diambil Driver tersebut tak sengaja melihat paha Widya yang mengalir cairan kental dan juga bau anyir yang tercium.

“Yaudah, pak ini kembaliannya ambil aja sekalian”, ucap Widya memberikan uang 20 ribuan dan 10 ribu, sementara si driver telah memegang uang 10 ribu.

Setelah memberikan uang 40 ribu pada Driver Online tersebut Widya langsung menutup pintu dan bergegas naik menemui nakanya di dalam kamar.

“Anjir, habis main itu perempuan. Itu peju sampe ngalir keluar banyak kaya gitu. Selangkangnya juga bau peju banget. Lumayan lah, dapat bayaran lebih, plus tip dengan dikasih tontonan perempuan aduhai bau peju. Hahaha…”, ucap si Driver sambil berjalan ke arah mobilnya.

.
.

Setelah melihat kondisi anaknya di dalam kamar. Widya disuruh oleh ayah mertuanya untuk ke luar menemui pak Narto dan Evan sendiri tengah dipijat oleh ayah mertuanya di dalam kamar.

Sementara dibawah, Widya tengah menungging sambil berpegangan pada pegangan tangga yang menuju ke langai dua. Disana dirinya tengah disebadani kembali oleh pak Narto dengan kini piamanya dilepas habis hingga baik Widya maupun pak Narto telanjang bulat.

Dengan berpegangan pada ujung tangga, Widya berdiri kembali demgan posisi menungging dan lubangnya kembali di sumpal penuh oleh kontol besar pan Narto yang sudah tegah maksimal. Badanya kembali tersodok ke depan dan belakang setiap gerakan selangkangkan pak Narto. Payudaranya yang sudah terbuka bebas ikut terlihat jelas terombang-ambing.

“aaakkkhh….Aakkkhhhh….”, desah Widya.

Pak Narto memegang kedua pundak Widya dan menggeser tubuh perempuan tersebut untuk menjatuhkan kepala di pijakan tangga. Pak Narto menyetubuhi Widya tepat di anak tangga dengan posisi kepala Widya berada di lantai pijakan. Sementara bagian belakangnya terus dipompa oleh kontol pak Narto dengan gerakan konstan.

“ga ada bosannya saya ngentotin memek kamu, bu. Ssshhh….memek ibu memang memek terenak yang saya coba. Memek terenak yang bisa saya genjot secara gratis. Aaaakkkkhhh….nikmatnya”, ucap pak Narto menggenjot Widya.

“naik, bu. Kita coba tengok nak Evan sambil mamahnya saya entotin”
“Sudah gila, bapak? Aaaakkkkhhh…ssshhh…”, tolak Widya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pak Narto mengeraskan genjotannya pada selangkangan Widya, memaksa wanitanya itu untuk menuruti kemauannya dengan menemui anaknya sambil terus di Setubuhi.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh…aaakkkhh…”, Desah Widya.

“ibu nurut aja sama saya. Cepet sambil mulai jalan”, ucap pak Narto dan Widya mulai berjalan dengan pelan dalam posisi menungging. Jalannya terasa susah karna dirinya berjalan sambil digenjot memeknya dari belakang oleh pak Narto.

Perlahan kedua insan yang tengah bertelanjang bulat sambil bersebadan mulai naik hingga lantai dua. Posisi mereka sudah dekat dengan pintu kamar Evan dan dengan sedikit melongokan kepalanya, Widya melihat ke arah pak Kasno yang tengah memijat anaknya itu.

Terlihat pak Kasno yang sadar akan kehadiran Widya lekas turun dari ranjang dan menghampiri Widya. Saat pak Kasno di hadapan Widya, pak Kasno bisa melihat demgan jelas bahwa menantunya sudah telanjang bulat dengan pak Narto yang tengah menyetubuhi menantunya kembali.

“udah gapapa, masuk aja”, ucap pak Kasno.
“Evan sudah tidur”, sambungnya.

Pak Narto yang mendengar ucapan pak Kasno langsung menyentakan pantatnya mendorong Widya ke depan untuk berjalan memasuki kamar.

Widya berjalan dengan pelan mendekat ke arah ranjang tempat anaknya itu tengah tertidur. Widya berjalan dengan pelan dan sedikit menggunakan perjuangan karna posisi dirinya berjalan dengan sedikit menungging sambil dibelakangnya pak Narto sedang memaju mundurkan pantatnya menumbuk habis lubang memeknya yang sempit.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Walau tak terlalu keras, namun jika Evan tak dalam keadaan tidur dirinya bisa mendengar suara tersebut. Gerakan pantat pan Narto saat menyodok selangkangan Widya membuat Suara, dimana dua buah kulit paha saling bertabrakan dan kini terdengar pula suara desahan Widya yang ditahan akibat sodokan kontol pak Narto yang kian terasa lebih masuk ke dalam.

“hhhmmmppfff…hhhmmmppfff… Ssshhh….pelan…pelan….Eeggghhhh….Eeggghhhh…”, pelan Widya menyuruh pak Narto untuk memelankan tempo genjotannya.

“Jalan terus, Wid. Ayah pengen wujudin fantasi ayah yang sudah lama dimimpikan ini. Kamu sebagai menantu ayah harus bisa buat mertuamu ini senang juga. Maju terus, Wid”, lirih pak Kasno sambil membelai rambut menantunya itu.

“Ooohhhhhsss….ssshhh….tolong pelan… Saya takut Evan bangun”, ucap Widya, namun bukannya memelankan, genjotan yang terjadi sedikit disentakan dengan keras hingga Widya mengerang tertahan kembali.

“EEGGGHHHHH!!! EEEGGGHHHH!!!! PELAN!!! EEEGGHHH!!! SSSHHHH…..”, Desah Widya sambil menutup mulutnya menggunakan tangannya sendiri mencoba meredam suara yang ia keluarkan.

Pak Narto memandang pak Kasno dan kedua pria tersebut hanya tersenyum melihat wanita di depan mereka tengah tersiksa dalam kenikmatan.

Di samping Evan yang sudah tertidur dalam rasa mabuknya, Widya menungging dengan tangannya bertumpu pada ujung ranjang, sedangkan satu tangan lainnya masih menutup mulutnya sendiri mencoba menahan suara yang keluar saat dirinya tetap di sodok dari belakang oleh pak Narto.

Widya akui dirinya benar-benar tersiksa dalam posisi tersebut karna dirinya tak bisa bersuara dengan bebas dan rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuhnya kembali menyerang dengan hebat. Rasanya Widya mendesah dan mengerang dengan keras, namun hal tersebut bisa membangunkan anaknya. Dimana saat anaknya bangun bakal menjumpai pemandangan dimana sang mamah tengah disetubuhi satpam Komplek si sampingnya sambil di tonton oleh sang kakek.

“gimana rasanya, bu saya entotin di samping anaknya yang lagi tidur? Enak?”, Tanya pak Narto.
“Buat pak Kasno sendiri gimana perasaannya setelah fantasi yang bapak inginkan sedang terjadi ini. Ssshhhhh….sungguh nikmat sekali ngentotin orang di sebelah anaknya langsung. Aaaakkkkhhh…enak sekali bu Widya. Aaaakkkkhhh…ssshhhhh…”

“rasanya kontol saya mulai ada reaksi sedikit, pak. Kayaknya kalo saya liat bapak ngentotin menantu saya ini, saya bisa sembuh kembali. Liatkan kan pak, kontol saya sedikit lebih membesar dari sebelumnya”, ucap pak Kasno.
“Wah kalo begitu bagus dong, pak. Ssshhhh…saya bakal bantu proses sembuhnya kontol bapak itu. Aakkkhhhh….saya bakal bantu buat ngentotin memek menantu bapak ini sambil bapak tonton. Saya juga bakal bantu buat bikin bu Widya hamil. Aakkkhhhh….ssshhhhh….mantap…”

Widya hanya mampu menahan semua gempuran yang diterima pada selangkangannya itu, sementara dua orang pria di sekitarnya hanya tersenyum sambil terus melecehkannya. Nikmat, tapi memalukan. Bahkan rasa malu yang Widya rasakan telah kalah oleh rasa nikmat yang menyerang. Bisa diketahui dengan Widya ikut menggoyangkan pantatnya maju kundur menyambut setiap tusukan kontol pak Narto pada memeknya.

Widya bukan sosok yang seperti duku, sekarang sosok Widya adalah sosok perempuan yang akan langsung terlena saat kontol besar pak Narto masuk ke dalam lubang peranakannya. Hanya karna benda panjang dan besar itu bisa membuat Widya berubah menjadi sosok perempuan dan ibu rumah tangga yang binal. Sosok perempuan yang dengan gampangnya bisa terlena akan kenikmatan dari kontol sang pejantan yang siap memuaskannya hingga mengerang minta ampun.

“Paaaakkkk….ssshhhhh….tolong pelan-pelan. Evan nanti BANGUN!! Paakkk….”, ucap pan Widya sedikit keras saat pak Narto menyentakan kontolnya lebih dalam sampai menyentuh rahimnya.
“Gapapa, Wid. Evan lagi mabuk dan hal itu buat Evan susah buat bangun. Kamu teriak juga kemungkinan Evan tetap tidur”, ucap pak Kasno pada menantunya.

“Lagian lewat pijatan yang ayah lakukan sama Evan itu semata-mata sugesti yang ayah berikan supaya Evan tetap terlelap tidur walau dirinya dengar suara berisik maupun tubuhnya digoyang dengan keras. Evan bakal terbangun kalo ayah yang membangunkannya, Wid. Hehehe…”, batin pak Kasno.

“Bu Widya bisa mendesah yang keras. Mendesahlah, bu. Mendesahlah disamping anakmu yang sedang teler itu. Anaknya teler karna mabuk, bu Widya sebagai ibunya ikut-ikutan teler….tapi teler sama kontol. Hahaha… Ssshhhh….”

Pak Narto mencabut kontolnya dan mengangkat sebelah kaki Widya naik ke atas ranjang. Menggunakan tangannya, pak Narto mengocok cepat lubang peranakan milik Widya. Suara kecipak air tersengar jelas saat jari pak Narto mengocoknya. Ceceran dan muncratan cairan kewanitaan Widya terlihat membasahi tangan pak Narto. Ada beberapa pancutan yang jatuh ke ranjang yang dipakai tidur oleh Evan.

Setelah cukup membuat lubang Widya sangat basah, pak Narto kembali mengarahkan ujung kontolnya untuk menembus kembali memek Widya itu. Satu sentakan keras pak Narto berhasil membenamkan seluruh batangnya masuk dan langsung menggerakkan pantatnya maju mundur menikmati setiap jengkal pijatan dinding mek Widya di dalam sana. Widya benar-benar dibuat kewalahan oleh nafsu yang dimiliki oleh satpam kompleknya itu.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Hhhzzzzz…..Eeggghhhh….Eeggghhhh…ampun, pak…ampun. akkkkhhhh….ssshhhhh….”, desah Widya yang digempur demgan sedemikian rupa oleh pak Narto.
“Eeggghhhh….Aakkkhhhh…aaakkkhh…”,
“Enak banget kontolmu, pak. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh….”
“Sodok lebih keras lagi. Aakkkhhhh….ya seperti itu, pak. Lebih keras….lebih cepat. Sssshhhhh…..akkkkhhhh….”

Pak Kasno maju mendekat dan membisikan sesuatu pada pak Narto. Terlihat raut wajah tak yakin ditunjukkan oleh pak Narto di sela genjotannya pada Widya. Pak Kasno menjawab rasa tak yakin pak Narto dengan mengangguk.

Rasanya Widya sedang diterbangkan diatas awan oleh pengemudi tubuhnya dibelakang itu. Saat dirinya sedang menikmati setiap sodokan yang diberikan oleh pak Narto, tiba-tiba tubuhnya di dorong ke depan sehingga batang kontol pak Narto langsung terlepas dari dalam rongga memeknya dan Widya sendiri tersungkur menimpa tubuh tidur Evan.

Widya kaget setengah mati akibat perlakuan pak Narto itu. Dirinya sangat takut anaknya bangun dengan ditabrak keras seperti itu, namun Widya dibuat heran dan bingung saat Evan terlihat masih saja diam serta nafasnya menandakan orang masih dalam keadaan tidur pulas. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Evan. Mungkin seperti itu pemikiran Widya.

Belum sempat Widya keluar dari rasa khawatir campur bingung, tangan pak Narto kembali memegang tubuh telanjangnya itu dan dengan paksa memosisikan tubuh Widya untuk telungkup di atas badan anaknya. Setelah badan Widya diposisi yang diinginkan, pak Narto memosisikan dirinya dibelakang Widya dan tepat diatas kaki Evan.

“saya pengen entotin ibu diatas badan anaknya langsung”, ucap pak Narto.
“Jangan gila, pak! Evan bisa bangun!”, bentak Widya dengan nada lirih.
“Bu Widya lihat sendiri kan? Di timpa tubuh ibu ja anaknya ga bangun”

Pak Narto membuka bongkahan pantat Widya untuk membuka jalan bagi kontolnya untuk masuk ke dalam memeknya lagi. BLES!!! Kontol besarnya kembali masuk memenuhi rongga memek Widya dengan sempurna dan langsung saja tanpa membuang waktu pak Narto menggerakkan pantatnya maju mundur kembali.

“Aaaakkkkhhh…Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh….”, desahan Widya kembali terdengar saat pak Narto menggenjotnya kembali. Sekarang Widya tepat digenjot dalam posisi menindih tubuh anaknya sendiri.

Setiap hentakkan kontol pak Narto di dalam selangkangannya membuat tubuh Widya ikut terdorong ke depan dan tertarik kembali ke belakang. Tubuh telanjangnya bergerak kasar diatas tubuh anaknya sendiri.

“Mantapnya ini memek. Ssshhhh….mamahnya lagi digenjot sama kontol masih aja tidur. Aaaakkkkhhh…bangun, nak Evan. Mamahmu lagi bapak entotin nih. Kamu harus liat…memek mamah kamu lagi bapak kontolin kaya gini. Aaaakkkkhhh….sssshhhhh…”

Widya hanya mendesah dengan tubuh yang terus bergerak kasar. Dirinya harus memeluk tubuh anaknya yang berada dibawahnya dan mulutnya mendesah tepat di telinga anaknya yang sedang tidur itu. Pelukan yang Widya lakukan pada Evan semakin erat karna Widya akan mencapai Orgasmenya lagi. Sementara pak Narto yang mulai hafal dengan tanda-tanda Widya akan orgasme langsung meningkatkan ritme genjotannya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“AAAKKKKHHHHH….KELUAARR, PAKKK…KELUAARRRR….”, erang Widya sambil memeluk erat tubuh Evan.

PLOP!!!

Pak Narto menarik lepas kontolnya dari dalam memek Widya dan langsung saja terlihat pancuran air kewanitaan Widya keluar dengan deras membasahi kedua paha anaknya dan ranjang. Ternyata Widya kali ini mengalami Squirt yang hebat. Badanya melengking dan bergetar hebat. Suara nikmat yang keluar dari mulut Widya tak bisa ia tahan. Tubuhnya mengalami Squirt diatas tubuh Evan. Kedua buah pantatnya bergetar saat Squirt itu datang dalam waktu lumayan lama dan mengeluarkan banyak cairan.

“Hhaaahhhh….hhaaahhhh….”, nafasnya berantakan setelah Widya mengalami Squirt ternikmatnya.

“banjir gitu memeknya, bu. Keenakan ya? Hahaha…”, ejek pak Narto.
“sekarang giliran saya buat buang peju di dalam memekmu, bu. Buar bu Widya hamil”, ucapnya dengan mengambil bingkahan pantat Widya kembali dan mengarahkan ujung kontolnya ke arah lubang memek Widya yang sudah sangat banjir itu.

BLES!!!

“Aaaakkkkhhh….emang legit banget ini memek. Sssshhhhh… Rasakan kontolku, bu. Rasakan ini. Ssshhhhh…bakal saya buat memek sempitmu ini longgar sama kontolku. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh…ooohhhh Lonteku….”
“Aaaakkkkhhh….aaakkkhh….ngilu, pak. Ssshhh….ngilu memek saya. Aaaakkkkhhh…tapi enak. Terus, pak….genjot terus memek Lonte, memek Pelacurmu ini. Aaaakkkkhhh…aku budakmu, pak. Aaaakkkkhhh…kontol enak!”, racau Widya yang sudah kacau karna terus mendapat kenikmatan dari kontol pak Narto.

Genjotan makin keras dan cepat. Pak Narto mulai merasakan bahwa cairan peju nya sudah mulai berjalan untuk keluar. Diremasnya kedua bongkah pantat Widya dengan keras dan pantatnya terus bergerak menumbuk selangkangan Widya.

“AAAKKKKHHHH….AAAKKKKHHH…SAYA MAU KELUAR, BU. AAAAAKKKKHHH….AAAKKKKHHHH…”
“OOOGGGGHHHHH….LONTEKU!!! CROT!!! CROT!!! CROT!!! SSSHHHH…..”

Kembali pak Narto berejakulasi di dalam rahim Widya, rahim tersebut kembali terisi penuh oleh benih-benih sel telur sang siap membuahi di dalam rahim Widya. Cukup lama pak Narto mendiamkan kontolnya di dalam memek Widya dan akhirnya dengan perlahan pak Narto menarik kontolnya sampai lepas. Lelehan cairan putih kental mengikuti dan jatuh tepat mengenai celana yang dipakai oleh Evan.

PLAK!!!

Tampar pak Narto pada pantat Widya setelah puas menikmati tubuhnya dan beranjak dari atas ranjang meninggalkan tubuh telanjang Widya yang masih tengkurap di atas tubuh anaknya dengan cairan kental mengalir dari lubang memeknya.

“Puas banget saya, pak”, ucap pak Narto sambil mengurut pelan kontolnya yang mulai lemas.
“saya nonton nya juga puas, pak. Adai saja saya dah sembuh pasti sekarang giliran saya yang bakal sumpal memek menantu saya itu”, balas pak Kasno.
“semoga cepat sembuh deh, pak biar kita bisa nikmatin bareng memeknya sampe longgar. Hahaha…”

“Yaudah, pak. Saya balik patroli di, udah terlalu lama saya disini”, ucapnya dan berjalan ke arah pintu.

Sepeninggalnya pak Narto, pak Kasno menghampiri tubuh telanjang Widya yang lemas dan membantunya bangun dari ranjang dengan sebelumnya Widya disuruh untuk membersihkan lelehan peju milik pak Narto yang jatuh di celana Evan.

“kamu langsung istirahat aja, Wid. Kamu pasti capek banget kan”, suruh pak Kasno, sementara Widya hanya mengangguk lemah dengan badan yang berkeringat dan dari selangkangannya menetes cairan kental setiap Widya melangkahkan kakinya, tercecer di lantai.

Pak Kasno tersenyum puas memandang punggung mulus Widya yang sedang berjalan ke kuar dari kamar.

.
.
.

*Bersambung….

Daftar Part

Cerita Terpopuler