. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 8 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 8

0
452

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 8

Untitled

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Janda
-Mempunyai anak satu bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para pria ingin menjamahnya

.
.

EVAN

Gue sosok anak lelaki yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang bernama Widya. Seorang perempuan yang menjadi sosok seorang ibu atau mamah penyayang dan cinta terhadap anaknya. Gue sangat merasa beruntung bisa terlahir di dalam keluarga ini, walau kebahagiaan yang gue dapat tak terlalu lama bisa gue rasakan secara lengkap seperti layaknya keluarga idaman pada umumnya karna memang sosok pilar pada keluarga sudah tak ada lagi, sosok seorang ayah.

Gue dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang lebih, namun hal tersebut tak membuat gue menjadi sosok anak yang manja dan tak bisa hidup secara mandiri.

Sebelum kehidupan gue seperti sekarang ini yang bisa dikatakan lumayan terpenuhi, dulu keluarga gue pernah juga mengalami waktu dimana sedang berada di bawah. Semua beban dan semua hal susah yang waktu terjadi di pikul oleh pundak lembut mamah seorang diri. Rasanya gue ingin bantu apa yang gue bisa waktu itu, namun keadaan gue sama sekali masih belum melakukan hal tersebut dan hanya bisa menjadi beban berat bagi mamah. Ya walau pasti ibu tak pernah merasa bahwa gue ini beban baginya, karna itu memang tanggung jawab sebagai orang tua pada anaknya, namun tetap saja gue merasa bahwa gue sendiri adalah sebuah beban.

Terserah orang lain menyebutku anak mamah atau apalah itu karna gue memanggil ibuku dengan sebutan seperti itu. Apa salahnya dengan panggilan mamah?

Semenjak melewati keterpurukan di dalam masalah yang pernah menyelimuti keluarga gue dan sampai sekarang, gue ga pernah meminta hal lebih pada mamah. Jikalau gue minta sesuatu pun gue tak pakai yang namanya memaksa. Gue minta dikasih ya syukur, ga bisa dikasih juga tak apa.

Gue bukan tipe anak yang penurut banget, tapi gue juga bukan tipe anak yang suka membantah. Gue ingin mengucapkan rasa terima kasih gue sama mamah yang udah membesarkan serta menanggung semua beban hidup hanya buat gue bahagia dengan cara menjadi seorang anak yang patut dibanggakan oleh orang tuanya.

“Apa aku udah ga jadi beban lagi buat mamah?”, ucap gue sambil menerawang jari tangan ke atas sambil tiduran di kasur Alice.

Terasa Alice menjatuhkan pantatnya, duduk di ujung ranjang tepat di sebelah gue yang sedang tiduran. Ku pandang sosok wanita tersebut dan ia pun juga tengah memandangi gue sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“kamu ga pernah menjadi sebuah beban bagi siapapun, bahkan bagi mamahmu sendiri. Semua ada waktunya masing-masing, disaat kamu menjadi orang tua kelak, nanti kamu juga bakal ada di posisi tersebut”, ucapnya.
“Jika anakmu kelak bertanya apakah dia menjadi beban untukmu, apakah kamu bakal berpikiran apakah anakmu menjadi beban tersendiri? Sudah pasti kamu bakal jawab ga. Orang tua punya peran, anak pun juga perannya sendiri. Jalani peran masing-masing dengan cara saling menghargai”, lanjutnya dengan kini menyibak rambut depan gue dan diusapnya dahi gue dengan lembut.

Gue pegang tangan halusnya dan gw cium telapak atasnya. Ia hanya tersenyum membalas. Gue berpikir, apakah gue salah satu dari banyaknya pria di dunia ini yang mendapat sebuah keberuntungan yang amat banyak? Mempunyai sosok orang tua yang sayang terhadap anaknya dan juga bisa merasakan serta mendapatkan cinta dari wanita cantik yang ada di depan gue itu. Entah kenapa gue merasa ingin berteriak dengan sangat kencang untuk meluapkan rasa bahagia ini.

“Mau makan apa? Aku pesanin ya”, ujarnya.

Gue menggeleng, “ga usah, aku mau makan mie telur buatan kamu aja”. Alice tersenyum.

“yaudah, aku buatin dulu. Jangan tidur lagi, nanti aku siram pake kuah mie loh”, candanya.
“masa aku disiram? Harusnya aku yang siram kamu loh. Hahaha”, balas gue.
“Yeee…. Pikirinya jorok terus”, balasnya sambil mencubit pelan perut gue.
“siapa yang jorok, emang maksud aku apa coba?”
“Tau!”

Alice berjalan ke arah dapur kosnya untuk membuatkan gue makanan, sementara gue masih tetap pada posisiku yang kini malah mengambil ponsel gue yang tergeletak di atas meja kecil samping ranjang dan memainkannya. Yang gue lakukan hanya kegiatan scrol atas bawah tak jelas sambil sesekali melihat apa yang sedang ramai di perbincangkan saat itu di dalam jejaring sosial.

Merasa dengan jejaring sosial yang hanya isinya itu-itu saja, gue mencoba membuka salah satu situs berita yang bisa dibilang besar di negara ini. Sebagian besar isinya hanya mengenai politik dan juga gosip maupun sensasi selebriti. Tapi disini ada salah satu berita yang membuat gue sedikit tertarik untuk mengekliknya. Berita yang berjudul “Seorang Ibu Rumah Tangga yang menjadi Pemuas Nafsu Demi Kehidupan Anak-anaknya Setelah ditinggal sang Suami”.

Isi berita yang mengatakan bahwa ibu tersebut melakukan hal tersebut karna faktor ekonomi keluarga yang semakin mencekiknya setelah ditinggal sang suami pergi meninggalkan. Dengan dua anak yang masih kecil, ibu tersebut akhirnya memilih menjajakan tubuhnya kepada para lelaki demi beberapa lembar uang kertas untuk makan serta susu anaknya.

“Hidup memang keras”, batin gue.

Alice kembali dari arah belakang sambil membawa nampan berisi dua mangkuk berisi mie rebus campur telur. Disuruhnya gue untuk turun dari tempat tidur dan duduk di lantai seperti biasa dan kami menyantap makan siang kita dengan lauk yang sederhana.

“entar malam gimana? Jadi ga?”, tanya Alice setelah mangkuk kita hanya tersisa sedikit kuah.
“Jadi, paling jam 8 berangkat, soalnya jam 9 baru mulai acaranya.
“Nanti enaknya pake baju apa ya?”, ucap Alice dan membuat gue menoleh.
“Mau kemana emang? Jangan bilang mau ikut aku”, tebak gue.
“memangnya mau kemana lagi?”
“Ga usah ya, ini acara tertutup yang teman aku adain soalnya. Mending kamu ga usah ikut deh. Bukannya gimana, Cuma…mending jangan ya”, ucap gue berhati-hati.

Dengan susah payah dan terjadi perdebatan kecil, akhirnya gue berhasil meyakinkan Alice untuk tak ikut dengan gue malam ini. Sampai keringatan gue saat debat dengan Alice karna gue sadar kalo gue debat sama dia, pasti kemungkinan gue buat menang sangat tipis, tapi untungnya buat masalah kali ini gue bisa menang debat dengan dia.

Alice menaruh mangkuk kotornya beserta mangkuk gue di atas nampan untuk dibersihkannya. Namun, saat akan beranjak ke belakan Alice mendekatkan wajahnya tepat di hadapan gue.

“kali ini aku kalah debat sama kamu, tapi kalo kamu ga temenin aku belanja, aku bakal marah”, ancamnya sambil menatap tajam mata gue.
“Iya-iya, aku bakal kawal tuan putri buat belanja supaya ga ada yang karungin nanti. Hahaha”
“Isshhh!!”, cubitnya di pinggang gue.

Alice (20 Tahun) Pacar Evan

Siang hari di dalam pusat perbelanjaan yang ramai akan pengunjung, gue mondar-mandir mengikuti langkah dan kemauan Alice saat belanja pakaian maupun kosmetik yang ia inginkan. Hampir setiap toko yang kita lewati akan disambangi olehnya, ya walau ujung-ujungnya tak semua toko yang ia masuki tak semua produknya dibeli, malah lebih sering Alice hanya melihat dan mencobanya saja.

Tangan gue selalu ditarik oleh semangat belanjanya yang sedang menggebu itu. Kadang merasa kesel juga, tapi disisi lain gue merasa senang melihat tingkahnya itu. Seolah-olah wanita yang ada di depan gue sosok anak kecil yang tengah merengek pada orang tuanya untuk dibelikan apa yang dia mau. Dalam hal ini perlu diketahui, setiap barang yang Alice beli menggunakan uang sendiri, bukan gue ga mau bayarin, tapi memang dia sendiri yang menolak. Justru kebalikannya, gue yang sering dibelikan barang oleh dia. Cowok macam apa gue? Hahaha.

Seperti saat ini, kita berada di dalam toko yang menjual kosmetik. Namanya juga toko kosmetik, sejauh mata memandang hanya peralatan perempuan yang bisa gue lihat di setiap penjuru toko. Gue masih berdiri di dekat Alice sembari ditemani oleh salah satu karyawan toko yang dengan sabarnya melayani pelanggan macam pacar gue ini.

Di depan kaca kecil yang telah disiapkan oleh karyawan tersebut, Alice mencoba salah satu lipstik yang menarik perhatiannya. Gue ga tau pasti apa sebutan bagi perempuan warna itu, tapi yang gue lihat warna pink. Dengan tangan letiknya Alice mengoleskannya pada bibir dengan perlahan dan mengecapkannya.

“Gimana, yang? Cocok ga?”, Tanya Alice selesai melapisi bibirnya dengan warna tersebut dan menghadap ke gue.

Disini gue yang ga tau selera wanita karna takut salah hanya bisa memberi anggukan kepala dan pujian ringan. Tapi kalo dilihat memang terlihat cocok di bibirnya dan gue lihat semakin cantik memakai warna tersebut.

“coba ya?”, ucapnya. Gue langsung kaget. Masa iya gue disuruh coba lipstik juga.

CUP!!!

Ternyata tebakan gue salah. Apa yang dimaksud Alice mencoba adalah rasa dari lipstik tersebut dengan Alice mencium bibir gue tepat di hadapan si karyawan toko yang tengah bengong melihat tindakan Alice. Gue sendiri pun juga diam membisu saat bibirnya menempel di bibir gue.

Pikir gue, “gila ini cewek, ga lihat tempat”

Walau hanya ciuman biasa tanpa ada aksi lebih, tapi gue bisa rasakan ternyata kaya ada rasa manisnya pada bibir Alice. Ciuman yang Alice berikan tak berlangsung lama, tapi cukup untuk gue yang dibuat kaget olehnya.

“Rasanya gimana?”, ucapnya selepas ciuman spontan tersebut.
“manis”, kata itu yang keluar dari mulut gue.

Alice tersenyum, “aku apa rasa lipstiknya?”.

“Dua-duanya. Hehehe”
“Gombal”

Kami tertawa bersama dan karyawan toko pun juga ikut tertawa melihat tingkah kami. Pada akhirnya Alice langsung membeli lipstik tersebut dan beberapa kosmetik tambahan lainnya.

Keluar dari toko tersebut tangan gue digandeng oleh Alice sembari berjalan melewati para pengunjung perbelanjaan lainnya. Sudah hampir 2 jam kita di dalam sini dan akhirnya Alice bilang bahwa dirinya lapar. Gue ajak dia ke salah satu foodcourt yang ada perbelanjaan tersebut. Sebuah masakan jepang yang akhirnya kita pilih untuk menambal rasa lapar yang ada di dalam perut.

Pesanan 1 Oyakudon untuk Alice dan 1 porsi Ramen dengan tambahan daging Short Ribs diatasnya untuk gue. Alice juga memesan 2 porsi daging Wagyu. Sedangkan untuk minumnya hanya Teh Ocha dan Cola.

“Serius bakal habis?”, tanya gue melihat pesanan yang sudah ada di atas meja.
“Habis lah”

Pertama gue membantu Alice memanggang daging Wagyu, setelahnya baru gue santap Ramen yang gue pesan ini. Untung saja masih dalam keadaan panas, bisa bikin mual kalo udah dingin.

Setelah semua makanan selesai disantap dan hanya menyisihkan piring kotor, gue langsung membayar dan kita beranjak pergi untuk pulang ke kos. Namun saat berjalan ke arah lift utama, Alice menarik tangan gue dan mengajaknya berjalan ke ujung perbelanjaan. Alice mengajak gue untuk menggunakan Lift yang biasa dipakai para pekerja.

Lorong tempat gue sama Alice menunggu Lift terlihat sangat sepi dan hanya terdengar suara riuh dari para pengunjung. Beberapa saat Lift akhirnya terbuka dan lagi-lagi Alice menarik tangan gue untuk masuk ke dalam dengan cepat. Setelah memencet lantai tujuan dan pintu tertutup Alice mendorong tubuh gue ke ujung dan langsung dilumatnya bibir gue.

Hari ini gue kembali dibuat kaget olehnya setelah sebelumnya ia cium gue di tempat umun dan sekarang di dalam lift. Tapi untungnya gue ga lihat ada CCTV di dalam lift yang kita gunakan ini. Gue coba balas lumatan bibir Alice dan gue peluk tubuhnya untuk lebih melekat erat. Gue letakan tangan gue mengusap belakang kepalanya dan ciuman kita berlangsung dengan panas di dalam lift yang panas pula.

“Yang…”, ucap gue tertahan disela lumatan bibir lembutnya.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

“aaakkkhh….aaakkkhh….CUP!!!”

Deru nafas kami mulai terdengar disela lumatan bibir kita yang semakin membuat nafsu naik. Gue mulai meraba dan meremas pantat sekal Alice yang masih terbungkus celana Jeans ketat. Gue merasakan dibawah sana bahwa tangan Alice mulai meraba selangkangan gue dan mencoba meremas batang penis gue yang semakin mengeras.

Tangan gue makin gemas meremas pantat Alice dan lumatan gue makin liar di bibirnya, hingga lidah kita sekarang saling bermain di dalam sana saling bertukar air liur dengan fokusnya. Gue balik tubuh Alice sehingga tubuhnya yang kini gue pepet di ujung lift. Tangan gue yang tadinya ada di kepala Alice, gue turunkan ke arah dadanya. Gue remas pelan dada tersebut yang kini terasa mulai mengeras bertanda nafsu.

“Aaakkkhh…yang…”, desah Alice disela lumatan.

Gue terus gerakan kedua tangan gue meremas pantat dan payudaranya dengan gemas. Sementara gue sendiri terus melumat bibir nya dengan nafsu.

TING!!!

Bunyi suara pintu lift terbuka membuat kita berhenti dari aktivitas panas tersebut dan gue lihat Alice mengelap bibirnya yang basah oleh air liur. Untung saja tak ada pekerja disini yang sedang menunggu lift jadi kita tak ketahuan.

Gue ajak Alice untuk keluar dari dalam lift dan ternyata di lorong pun juga sepi tak ada orang. Hal tersebut membuat Alice kembali pada nafsunya, gue rasakan tangannya mulai meremas kembali penis gue yang sudah tegang dibalik celana sambil kita berjalan. Kita tau betul dan sadar bahwa di lorong ini sudah ada CCTV, tapi Alice acuh dan gue sendiri pun tak menghentikan kegiatan tangan Alice yang sedang meremas selangkangkan gue.

“Yang…aku pengen”, ucapnya sambil memandang gue dengan tatapan sayu dan wajah yang terlihat memerah mulai mengeluarkan keringat.

Tanpa mengeluarkan suara, gue berjalan lebih cepat dari sebelumnya dan kini gue yang menarik tangan Alice untuk cepat-cepat pergi ke parkiran bawah.

.
.

Hari ini gue habiskan bersama Alice mulai dari menemaninya belanja sampai berakhir di ranjang kos miliknya. Beberapa ronde kami lakukan secara panas, saling bergelut di atas ranjang sempitnya demgan keadaan saling telanjang bulat. Entah kenapa Alice menjadi bernafsu seperti itu setelah belanja dan gue juga terbawa suasana nafsu yang ia suguhkan. Peluh mengucur deras di dahi dan badan kami tanpa dihiraukan hanya demi meraih apa yang dinamakan kepuasan.

Ranjang yang tak hidup menjadi saksi bagaimana panasnya persetubuhan kami. Ranjang uang rapi berakhir dengan kondisi berantakan dengan seprei yang kacau dan bantal yang terserak di lantai.

Setelah hal tersebut, disini lah gue berada. Malam ini menjadi malam perayaan ulang tahun salah satu teman satu fakultas gue yang diadakan secara privat Room di tempat yang sudah ia pesan. Banyak orang di sekitar gue, bau rokok, bau alkohol tercium dimana-mana menyelimuti udara yang sedang gue hirup. Acaranya sendiri terlihat cukup mewah dan hal tersebut tak membuat gue terkejut karna memang orang yang menyelenggarakannya anak orang punya dalam hal materi.

“hhaaahhhh…..”, Hembus nafas gue.

Disaat musik DJ terdengar mengiringi orang-orang yang sedang berjoget ria menggerakkan tubuhnya, gue hanya duduk menyender di salah satu kursi sofa dalam keadaan mual dan pusing yang sangat membuat tak nyaman. Ya, gue mabuk berat. Untuk pertama kalinya gue minum minuman beralkohol dan langsung dalam jumlah banyak dengan dosis alkohol tinggi. Rasanya tempat dan semua orang berputar di pandangan gue.

“inikah yang namanya mabuk?”
“Sial, apa enaknya mabuk seperti ini?”

Gue hanya bisa duduk terdiam menggerutu melihat semua orang beraktivitas di depan sana dan tanpa sadar setiap gerutuan yang gue buat, gue tertawa kecil.

Tanpa sadar ternyata ada seseorang yang duduk di sebelah gue. Gue hanya acuh tak memedulikannya, tapi orang tersebut malah mengajak gue untuk mengobrol. Dengan terpaksa gue coba untuk mengalihkan pandangan gue ke arahnya. Ternyata seorang perempuan yang menghampiri gue. Gue Masih terlihat samar-samar siapa dan menebak siapa perempuan tersebut. Dilihat dari bawah dia menggunakan Dress berwarna hitam yang memperlihatkan kedua paha mulusnya. Sementara saat gue mencoba untuk memandang lebih naik lagi. Terlihat belahan dadanya yang terlihat jelas karna pakaian yang ia kenakan saat itu sangatlah seksi hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.

“elu, Res”, ucap gue saat menyadari bahwa itu sosok Resti, mantan gue.
“Kok lu ada disini?”, sambung gue.
“Emang ga boleh ya gue disini? Gue diundang sama temen lu tuh yang jadi raja disini”, jawabnya sambil menunjuk teman gue yang sedang ulang tahun hari ini.

“aneh temen lu, bukannya kemarin malam pestanya, malah baru sekarang. Kalo semalam kan bisa sekalian ucapin, momennya pas kalo pergantian hari”

Gue mencoba tersenyum karna gue emang dah KO sama alkohol. Resti memandang lekat wajah gue yang merah padam karna dibawah pengaruh alkohol.

Resti (20 Tahun) Mantan Evan

“lu mabuk ya? Sok-sok’an lu pake minum segala. Mabuk gini baru tau rasa kan. Hahaha”, ucapnya menertawakan gue.
“gimana hubungan lu sama anak Akuntansi itu, siapa namanya…Alice”
“ga ada masalah. Ya gitu, gue sama dia adem ayem aja sampe sekarang”
“Serius? Eh, lu udah berapa kali ngewe sama dia”, tanya Resti seenaknya.

Ya gue tau itu dan itulah sifat Resti yang suka bercanda seenaknya. Terlepas lagi karna sifat dia juga yang Easy going sama orang lain.

“Matamu lah, Res”
“ya masa pacaran udah hampir dua tahun kaya nyicil motor tapi belum pernah ngewe sekalipun. Kaya sama gue dulu, lu pengen banget ngewe sama gue kan. Hahaha… Tapi gue nya belum mau. Kasihan. Hahaha”
“tapi kalo sekarang gue mau kok. Hahaha… Lu mau? Kalo mau ayo, gue siap kok puasin mantan gue ini”, ucapnya samping mengelus paha gue.

Resti mencoba menggoda gue dengan candaan kotornya dengan tubuhnya mulai merapat ke tubuh gue. Tangannya mulai meraba ke atas dimana penis gue berada terbungkus celana. Dalam keadaan mabuk parah gue bisa merasakan hawa panas dari nafas Resti yang mengenai pipi gue. Terasa bibirnya mengecup pipi gue dengan perlahan.

Pria ibarat kucing dan perempuan itu ikan. Kucing dikasih ikan ya pasti mau kan. Gue mulai menikmati apa yang Resti lakukan pada gue ini. Awalnya gue kira itu hanya candaan kotor yang biasa ia lontarkan saat ketemu gue, tapi kali ini gue merasa beda dengan dia. Terlihat aura serius dari dalam diri Resti saat melakukan hal tersebut pada tubuh gue untuk dirangsangnya.

Tangannya yang sudah berada di atas paha gue mulai di usap-usap dengan pelan oleh Resti. Gue tau ini cuma candaan dia, tapi lama kelamaan gue mulai menikmati usapan tangan Resti itu. Sementara gue lihat dari matanya memang mulai tersirat alasan tertentu di dalamnya, tapi gue sendiri tak terlalu memikirkannya. Usapannya kini berhenti dan dia menatap gue secara tajam dan dalam.

“Lu masih sayang sama gue ga?”, Tanyanya pelan. Gue yang ditanya seperti itu oleh seorang mantan hanya bisa diam. Ga tau harus jawab apa dan karna rasa mabuk juga.

“Kita masih ada harapan balik kaya dulu lagi ga, Van? Gue masih ada harapan bisa dapetin lu lagi ga?”, Sambungnya dan gue masih diam tak menjawab.

Tangannya membelai dada gue dari luar pakaian yang gue kenakan sambil matanya terus menatap gue tajam. Dari belaian di dada, tangannya naik kembali memegang pipi kanan gue. Gue bisa merasakan lembutnya tangan Resti kembali, tangan yang pernah gue pegang dan gw genggam semasih pacaran dulu.

“Gue tau, lu pasti udah lama bingung kenapa gue sekarang berubah ga kaya dulu lagi kan? Bukan sosok Resti yang lu kenal sebagai perempuan yang masih polos”
“Gue berubah kaya gini karna lu, Van”. Oke, gue ga tau maksud dia ngomong kaya gitu.

“Sebenarnya dulu gue sakit pas lu mutusin buat akhiri hubungan kita dengan alasan yang ga jelas itu. Tapi gue tau alasan asli lu apa. Lu putus sama gue karna gue belum siap buat lu perawanin kan? Lu mau tubuh gue waktu itu, tapi gue yang masih polos itu malah nolak”
“Jujur, jujur gue mau sama lu terus, Van. Gue sayang, gue cinta sama lu. Gue berubah semuanya demi lu. Gue pengen jadi apa yang lu mau itu”
“Lu mau tubuh gue kan? Gue sekarang udah bisa kasih semuanya ke lu. Gue selama ini sama sekali belum punya cowok lagi setelah putus sama lu dan semua masih gue jaga, termasuk keperawanan gue ini. Gue mau lu yang ambil perawan gue ini, Van. Gue mau orang yang ambil perawan gue ini itu orang yang gue sayang dan gue cinta”

Resti mengungkapkan perasaanya selama ini yang ia pendam dan gue akhirnya tau alasan kenapa dia berubah dari Resti yang polos menjadi Resti yang suka ngomong vulgar. Itu semua semata-mata buat gue?

Cukup lama Resti diam setelah ucapannya itu dan gue sendiri juga masih belum bisa mengeluarkan komentar gue sampai wajahnya kini semakin dekat dengan wajah gue dan…

CUP!!!

Ia daratkan bibir manisnya pada bibir gue. Dari lumatan kecil nan pelan, perlahan mulai lumatan yang disertai dengan nafsu yang menggebu dan disini gue juga dalam keadaan dibawah pengaruh alkohol. Bukan gue, ternyata terhirup juga dari aroma nafas Resti yang berbau alkohol.

“Eeggghhhh….Eeggghhhh….cuup…”, lenguh kita berdua disela lumatan bibir.

Tangannya gue rasakan mulai membelai dan meremas pelan penis gue yang semakin keras. Dadanya yang lebih besar daripada punya Alice tergencet menempel di dada gue. Teksturnya terasa sangat kenyal dan rasanya ingin gue remas itu daging.

Saat gue pacaran dengan dia, Resti itu sosok yang berbanding balik dengan sekarang. Dia dulu anaknya lumayan pemalu dan juga tak pernah neko-neko. Gue pacaran sama dia dulu paling kenceng Cuma ciuman tanpa ada kata pegang dada maupun sampai berbau ranjang. Jujur gue dulu emang ngebet pengen lakuin hal itu sama dia, tapi dianya tak mau dengan alasan takut dan belum siap. Akhirnya sampai suatu hari kita putus dan sampai putus pun gue belum pernah dapat tubuhnya. Gue hargai itu.

Tapi entah kenapa dan apa sebabnya sekarang ia bisa berubah tak seperti Resti yang gue kenal dan sosok Resti yang pernah gue pacari itu. Mungkin karna faktor pergaulan atau apapun itu, gue kurang paham. Tapi walau kaya gitu, gue masih berteman baik sama dia. Status Mantan bukan menjadi penghalang atau pembatas buat saling bercanda ataupun saling sapa saat bertemu.

“yaudah, gapapa kok. Aku terima keputusan kamu, Van”, ucap Resti yang sangat bisa gue ingat saat gue putusin dia dulu.

Kembali lagi. Walau di bawah pengaruh alkohol yang sangat, gue masih bisa tersadar dari aktivitas yang gue lakukan dengan mantan pacar gue itu. Gue dorong pelan tubuh Resti yang menempel di tubuh gue. Terlihat raut wajah bingung yang terpampang di hadapan gue. Matanya gue tatapan dan gue kasih senyuman yang pernah gue kasih ke dia dulu.

“Maaf, Res….ini salah, jangan dilanjutin”, ucap gue. Bukannya gue sok alim.

Terlihat Resti seperti sedih dan menunduk malu sambil mengelap bibirnya yang basah oleh air liur kita tadi. Setelahnya ia bangkit dari posisi duduknya.

“gue panggilin teman-teman lu ya, gue lihat kayaknya lu udah ke siksa banget sama rasa mabuk lu itu”, ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan gue yang masih duduk bersandar mulai merasakan kembali rasa pusing dan mual.

Disaat gue sedang merasakan rasa mual dan rasa pusing yang teramat, dari dalam saku ponsel gue bergetar. Saat gue buka ternyata sebuah panggilan masuk dari pacar gue tersayang, Alice. Dengan pandangan mulai sedikit kabur dan tenaga yang seperti hilang, gue mencoba menggeser tombol terima di layar ponsel. Gue hanya diam saat Alice berbicara di seberang sana.

“Kamu mabuk kan?!”, tanyanya demgan intonasi sedikit ditekan.
“Aaaaa….ga…ga koookk…”
“Ngga apanya?! Jelas-jelas dari ucapan kamu kaya orang lagi mabuk berat gitu. Aku kesana ya terus aku anterin pulang”, ucap Alice yang kini terdengar seperti khawatir dengan gue.
“Ga usah, aku bisa pesan sendiri”
“Yaudah aku ga mau tau, kamu harus pulang sekarang kalo ga pulang aku kesana”

Setelah panggilan dengan Alice berakhir, gue dengan keadaan mabuk berat bersusah payah mencoba untuk bangun, namun ternyata badan gue terasa sangat berat. Terlihat beberapa teman gue mendekat sambil menanyakan apakah gue mau pulang saja atau tetap stay di dalam pesta dan gue juga sekilas lihat Resti berdiri diam tak jauh dibelakang teman-teman gue. Walau buat ngomong aja rasanya ini mulut malas banget, gue coba jelasin sedikit ke teman-teman gue dan akhirnya mereka mengerti maksud omongan gue dan membantu gue berjalan keluar dimana driver mobil yang sebelumnya di pesan telah menunggu. Gue tak mungkin bawa motor dalam kondisi gue yang seperti itu, akhirnya motor gue tinggal dan akan dibawa oleh teman gue.

“Sorry-Sorry, kita lupa kalo lu ga pernah minum. Sekali lagi Sorry, Van”
“iya, gue benar-benar minta maaf, Van”

Terdengar teman-teman gue meminta maaf, merasa bersalah sama gue yang notabene tak pernah minum tapi gue malah dicekoki untuk minum terlalu banyak. Gue hanya bisa memaklumi dan menganggukkan kepala lemas.

“jangan ngebut, pak. Teman saya lagi mabuk berat bisa-bisa mobil bapak penuh muntahan kalo ngebut”, ucap salah satu teman gue yang entah siapa itu karna gue terlalu sibuk dengan efek mabuk yang gila ini.
“Baik, mas”
“thanks, kawan…”, ucap gue dengan pelan.

Saat salah satu teman gue ingin menutup pintu mobil, terlihat sebuah tangan yang tiba-tiba menahan gerakan pintu yang akan menutup. Ternyata itu teman gue yang bernama Deni. Dia berbicara pada yang lain bahwa dirinya akan menemani gue sampai pulang ke rumah. Ya karna bisa dibilang Deni ini salah satu teman gue yang paling dekat semenjak gue masuk perguruan tinggi ini, akhirnya gue bolehkan untuk ikut masuk.

“Sorry, Den bikin repot lu”, ucap gue.
“santai, lu sering bantu gue dan lu emang baik banget sama gue, makanya gue mau balas apa yang pernah lu kasih ke gue. Ya walau ga ada apa-apanya”

Mobil yang gue tumpangi dalam keadaan mengenaskan ini mulai bersama Deni melaju menembus angin malam dan berjalan di bawah sorotan tiap lampu jalan yang dilewati. Di dalam mobil gue sekilas seperti melihat salah satu teman perempuan gue bersama dengan entah siapa pria tersebut sedang bercumbu di sudut ruangan saat gue dipapah keluar dari tempat pesta.

“Untung gue ga ajak Alice buat ikut”, batin gue yang masih mencoba mengontrol kesadaran yang masih tersisa sebelum sepenuhnya dikuasai oleh rasa mabuk.

.
.

Di depan bangunan rumah mobil yang gue tumpangi telah berhenti. Dengan dibantu driver Online yang mengantarkan gue, gue dipapah Deni untuk masuk ke dalam rumah. Untungnya pagar tak dikunci dari dalam. Mungkin kesadaran gue sudah 90% dikuasai rasa mabuk dan rasa tersebut terus bertambah. Gue dengar suara bel rumah yang dipencet oleh Deni beberapa kali, namun belum ada jawaban dari dalam, beberapa pencetan lagi dilakukan oleh Deni hingga terdengar suara seperti beberapa barang jatuh dan kemudian suara kunci pintu yang dibuka dari dalam lalu munculnya sosok mamah gue yang memakai baju tidurnya.

“Loh Evan, kamu kenapa nak?”, khawatir mamah gue yang langsung menanyakan kondisi gue ini.
“Gapapa kok, tan. Evan hanya sedikit mabuk karna tadi air yang kira Evan air putih ternyata alkohol dan langsung dia minum habis”, jelas Deni mencoba menolong gue supaya tak terlalu disalahkan. Walau alasnya lumayan lucu, tapi untungnya bisa diambil oleh mamahku.

Dengan sedikit berteriak mamah memanggil kakek gue yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah dari desa. Tak lama terlihat kakek berlari kecil ke arah gue sambil mengenakan sarungnya.

“ini cucu kakek kenapa, Wid?”, tanya kakek.
“udah, yah ini tolong bantu bawa Evan dulu ke kamarnya”, ucap mamah gue.

Dibantu Deni, kakek gue memapah tubuh lemas ini naik ke lantai dua tempat dimana kamar gue berada. Langkah yang tertatih gue mulai menaiki anak tangga satu persatu. Rasanya ingin gue langsung tidur di tempat tidur dan langsung tertidur pulas lalu terbangun di keesokan harinya dengan rasa yang segar kembali.

Dibaringkannya tubuh gue oleh Deni dan kakek gue diatas ranjang empuk yang sudah gue tunggu dari tadi. Rasanya sangat nyaman meresap keseluruhan tubuh gue ini. Diaturnya bantal untuk mengatur letak nyaman kepala gue oleh mamah dengan posisi menungging ke arah gue dan DAMN!!! Dalam sedikit rasa kesadaran normal gue, gue bisa melihat payudara mamah gue yang besar dan berisi menggantung di dalam baju tidurnya tanpa tanpa menggunakan Bra. Gue bisa lihat dengan jelas kedua buah daging kenyal yang menggantung itu dari kerah baju tidur mamah gue yang di bagian kerahnya sangat longgar.

Beliau orang tua gue, tapi disisi lain juga gue seorang lelaki yang normal seperti pada umumnya. Gue tau itu mamah gue, tapi perasaan yang gue alami ini ga bisa bohong. Pikiran kotor yang dulu pernah gue rasakan udah hilang dan apa yang sekarang gue lihat di depan mata ini mulai memancing pikiran kotor itu lagi. Ini salah, tapi gue mulai terangsang di bagian bawah sana yang mulai terasa mengeras dengan perlahan.

Walau berusia 38 tahun, tapi dengan tubuh dan wajah yang masih kelihatan muda itu tak menjadi sebuah alasan. Payudara dengan kulit yang mulus tergantung bebas tanpa penyangga BRA terpampang jelas, siapa yang ga terangsang?

“itu susunya, mah”, batin gue seakan mengingatkan mamah gue untuk memperbaiki kerah baju tidur yang ia pakai, namun gue tak berani untuk bicara langsung. Disisi lain juga gue seperti menikmati pemandangan yang ada.

“itu mamah, sadar!”

Gerakan tubuh mamah saat membetulkan letak bantal di kepala gue membuat payudaranya yang tak terbungkus BRA menjadi ikut tergoyang dan gue lihat saja sepertinya daging besar di hadapan gue itu terlihat sangat kenyal dan lembut.

“Makasih ya, nak….”, ucap mamah gue mengucapkan terima kasih ke Deni.
“Deni, tan”, ucap Deni.
“Makasih ya nak Deni udah nganterin Evan pulang”
“Sama-sama, tan. Lagian saya juga sering dibantu dan sering ngerepotin Evan”, Balas Deni.
“Kalo gitu saya langsung pamit aja tante”, sambung Deni dan menjabat tangan mamah gue beserta kakek.

Deni keluar dari kamar gue diantar oleh kakek, sementara mamah gue menyelimuti tubuh gue dari atas hingga bawah. “SHIT!!!”, Namun lagi-lagi gue dibuat tak percaya dengan apa yang gue lihat itu. Disaat mamah gue akan menarik selimut dari bawah dan otomatis dirinya membelakangi gue dengan menungging dan di tambah lagi baju tidur yang mamah gue pakai bukan model satu seat dengan celana, melainkan model piama. Di saat gue ga bisa pastikan demgan jelas apakah mamah gue sadar akan penis gue yang sedang mulai mengeras atau tidak. Gue berharap semoga saja mamah ga tau kalo penis gue mulai tegang akibat terangsang melihat payudaranya itu.

Di saat posisi seperti itu piamanya tersingkap ke atas sehingga memperlihatkan paha bagian dalamnya dan apa yang gue lihat ini…. Mamah gue sama sekali ga pake celana dalam. Vaginanya bisa gue lihat dengan jelas di depan mata gue dan lebih parahnya lagi Vagina mamah gue bersih tak ada bulu sama sekali. Mungkin karna memang sudah di cukur habis oleh mamah.

“Deni”, pikir gue.

Gue teringat bahwa saat tadi mamah gue mengatur posisi bantal yang gue pakai, mamah gue menungging di depan Deni. Berarti Deni juga bisa melihat dengan jelas selangkangan mamah gue yang tengah memperlihatkan vaginanya dengan bebas. Pantas saja sekilas gue melihat Deni seperti tak berkedip sama sekali dan terlihat menelan ludahnya.

Bukan hanya penampakan vagina mamah gue yang terlihat bersih seperti habis di cukur, namun ada hal yang jauh lebih parah lagi. Walau tak banyak, tapi bisa dilihat demgan jelas bahwa ada sebuah cairan putih kental yang seperti tak asing lagi bagi gue mengalir dari lubang vaginanya. Cairan sperma kah? Kalo itu menurut gue sama sekali ga mungkin, tapi kalo mikir kemungkinan buruknya, berarti itu sperma milik siapa? Kakek?

“Apakah mamah ada main sama orang karna mamah memang sudah lama menjanda?”

Bisa gue rasakan demgan jelas bahwa penis gue mulai mengeras demgan perlahan dan semakin keras dari sebelumnya. Rasanya ingin segera gue keluarkan dan gue tuntaskan rasa menyiksa ini. Gue berharap kakek dan mamah gue segera keluar dari kamar sehingga gue bisa mulai mengurut penis gue yang mulai keras sampai bisa lemas kembali.

Pikiran gue berkecamuk memikirkan hal yang sangat tak masuk akal itu.

Tak terlalu lama kakek kembali masuk ke dalam kamar gue ini sambil membawa botol kecil seperti berisi minyak. Kakek menghampiri gue yang sedang di nasihati oleh mamah.

“namanya juga laki-laki. Gapapa, Wid. Kakek juga dulu pernah kaya kamu, malah lebih parah lagi tapi jangan pernah tiru kakek ini”, ucap Kakek.
“Coba kamu tengkurap, nak. Biar kakek pijat kepala sama tengkuknya. Kamu balik tidur aja, Wid ini udah malam biar kakek yang urus”, sambung kakek dan gue pun menurut.
“tapi kamu benar ga kenapa-napa kan, nak?”, tanya mamah.
“Iya, mah Evan gapapa kok”
“nanti kalo perlu sama mamah tinggal panggil aja ya. Kalo gitu mamah balik ke kamar dulu, nak”, ucap Mamah.
“tolong ya, yah”, sambung mamah dan terdengar beliau keluar dari kamar.
“iya, ini mau ayah pijat buat ringanin rasa mabuknya. Udah kamu lanjutin aja”

Gue posisikan tubuh gue yang sebenarnya sangat lemas ini untuk tengkurap di atas ranjang dan sementara di dalam gerakan gue memutar tubuh, gue sempat membetulkan posisi penis gue di balik selimut yang sudah tegang maksimal. Jemari kakek yang sudah kelihatan keriput mulai memijat dari pelipis, kepala atas dan tengkuk gue secara lembut.

Rasanya sangat enak sekali dipijit oleh kakek, semua rasa pusing dan mual rasanya perlahan mulai hilang. Awalnya tubuh yang terasa berat mulai terasa ringan dan gue mulai terpejam menikmati pijatan tersebut yang mengantarkan gue ke dalam mimpi.

.
.

Di Saat Evan sudah Tertidur.

Pak Kasno masih memijat cucunya itu dengan sabar dan telaten. Sudah lewat 10 menit dirinya terus menggerakkan jemarinya untuk memijat sampai Evan sendiri kini telah terlelap tidur. Dilihatnya sang menantu, Widya sudah berada di ambang pintu dan dengan perlahan pak Kasno menghentikan kegiatan memijatnya dan menghampiri Widya.

“udah gapapa, masuk aja”, ucap pak Kasno.
“Evan sudah tidur”, sambungnya.

Setelah pak Kasno menyelesaikan kalimat terakhirnya, terdengarlah suara lain yang tak terlalu keras juga. Widya berjalan dengan pelan mendekat ke arah ranjang tempat anaknya itu tengah tertidur. Widya berjalan dengan pelan dan sedikit menggunakan perjuangan karna posisi dirinya berjalan dengan sedikit menungging sambil dibelakangnya ada yang sedang memaju mundurkan pantatnya.

Walau tak terlalu keras, namun jika Evan tak dalam keadaan tidur dirinya bisa mendengar suara tersebut. Suara dimana dua buah kulit paha saling bertabrakan dan kini terdengar pula suara desahan Widya yang ditahan.

“hhhmmmppfff…hhhmmmppfff… Ssshhh….pelan…pelan….Eeggghhhh….Eeggghhhh…”

“Jalan terus, Wid. Ayah pengen wujudin fantasi ayah yang sudah lama dimimpikan ini. Kamu sebagai menantu ayah harus bisa buat mertuamu ini senang juga. Maju terus, Wid”, lirih pak Kasno sambil membelai rambut menantunya itu.

“Ooohhhhhsss….ssshhh….tolong pelan… Saya takut Evan bangun”, ucap Widya, namun bukannya memelankan, genjotan yang terjadi sedikit disentakan dengan keras hingga Widya mengerang tertahan kembali.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Suara selangkangan Widya yang tengah digenjot dari belakang mulai terdengar sedikit lebih keras dari suara desahannya. Hal tersebut membuat Widya menggelengkan kepalanya saat merasakan nikmat dan tersiksa karna tak bisa mengeluarkan suaranya secara bebas sedangkan genjotan yang ia terima sungguh kuat menumbuk selangkangannya.

“EEGGGHHHHH!!! EEEGGGHHHH!!!! PELAN!!! EEEGGHHH!!! SSSHHHH…..”, Desah Widya sambil menutup mulutnya menggunakan tangannya sendiri mencoba meredam suara yang ia keluarkan.

.
.
.

*Bersambung….

Daftar Part

Cerita Terpopuler