. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 7 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 7

0
463

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 7

Tragedi Di Terminal Lagi

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat pria ingin menjamahnya

.
.

Di siang yang cukup panas, Widya tengah disibukkan oleh pekerjaannya untuk menyiapkan pesanan katering yang di terimanya. Cukup lama Widya berkutat di dalam dapur dengan di bantu oleh salah satu orang suruhannya. Bersama bu Marni, akhirnya apa yang dikerjakan selesai juga tepat pada waktunya sebelum pesanan yang diminta di ambil. Rasa lelah cukup menyelimuti Widya siang itu, badannya berkeringat karna harus bolak balik dan terkena hawa panas kompor. Di ambilnya beberapa helai tisu yang terdapat diatas meja untuk mengelap keringat yang berada di dahinya.

“ini, bu es teh manisnya”, ucap bu Marni sembari menyodorkan segelas es teh manis di depan Widya.
“eh, iya Makasih banget bu”
“panas, keringatan kaya gini emang paling pas minum yang dingin-dingin”, sambung Widya pada bu Marni.

Keduanya duduk melepas letih yang ada ditubuhnya sembari mengobrol ringan ala ibu-ibu, dimana obrolan ringan yang bisa di kategorikan sebagai obrolan gosip. Entah masalah apapun itu, semua bisa menjadi topik gosip yang bisa diperbincangkan. Dari masalah kecil maupun masalah rumit yang menyangkut rumah tangga orang lain.

“Itu anaknya bu Darso, si Rizal katanya kan hamilin pacarnya. Manalagi masih sekolah, bentar lagi mau ujian lagi”, ucap bu Marni.
“Seriusan, bu? Terus gimana itu? Rizal nya suruh buat tanggung jawab atau gimana”
“Ya pastinya suruh tanggung jawablah, bu. Dari kedua pihak keluarga sih katanya udah dirundingkan soal pertanggung jawabannya. Mungkin karna sebentar lagi, baik dari Rizal maupun dari pihak ceweknya bentar lagi kan ujian, makanya kesepakatan udah dibuat. Rizal harus nikahin ceweknya itu selepas ujian”, jelas bu Marni.
“Parah juga ya, bu masih sekolah udah berani lakuin hal yang terlalu jauh kaya gitu”, ucap Widya.
“Pergaulan dan cara pacaran anak zaman sekarang memang udah kelewat batas, bu. Beda sama pacaran zaman kita dulu ya, bu. Hahaha…”
“dulu pacaran juga paling nakal pegang tangan, jangankan buat hal lakuin kaya Rizal gitu, cium bibir aja udah gemetaran. Hahaha”, balas Widya.

“makanya itu, bu. Anak saya aja, saya perhatikan terus pergaulannya. Semisal kalo sampe pulang malam atau Nginep di mana gitu yang belum jelas tempatnya pasti bakal saya larang. Ga peduli anaknya mau marah sama saya apa enggak, yang jelas saya lakuin Juga buat kebaikan dia kan”, ujar bu Marni.

Sekilas Widya teringat akan Evan. Widya berpikir seperti apakah gaya pergaulan anaknya itu dan seperti apa cara berpacaran anaknya dengan Alice di luar sana. Terlepas lagi Evan sering main ke dalam kosan Alice entah dari sore sampai malam, tak jarang juga Evan sampai menginap di kosan Alice, sang pacar. Sejauh ini yang Widya tau tentang Alice adalah sosok yang baik dan tak ada tanda terlihat bahwa Alice anak yang nakal. Begitu pula dengan Evan. Untuk Evan sendiri, Widya tau bukan hanya satu dua tahun, tapi memang karna Evan anaknya jadi Widya sudah tau seperti apa Evan sejak kecil duku dan Widya juga yakin bahwa anaknya tak akan jauh menyimpang soal pergaulannya.

Walau seperti itu, Widya kadang juga masih khawatir tentang apa yang dilakukan oleh Evan dikuat sana, entah bersama teman-temannya atau dengan Alice sekalipun. Widya hanya ingin menjadi sosok ibu yang seperti khalayaknya, mengkhawatirkan perkembangan serta pergaulan anaknya. Meski dirinya sendiri sadar bahwa Widya juga tak bisa dikatakan hidup di jalan yang selalu benar.

Widya sadar betul akan kesalahannya dulu dan dirinya juga sadar betul akan masalah seksnya di luar sana yang sama sekali Evan tak tau seperti apa. Bahkan untuk masalah dengan pak Narto dirinya juga sadar betul bahwa apa yang ia lakukan jauh dari kata wajar ataupun dari kata baik.

Setelah berbincang yang dibarengi dengan menggosip lumayan lama, akhirnya bu Marni memutuskan untuk pulang dan tak lupa juga Widya memberi upah padanya sebagai tanda terima kasih karna telah membantu menyelesaikan pesanan katering yang datang pada hati itu.

Pulangnya bu Marni dan selesainya pesanan katering bukan berarti Widya bisa beristirahat dengan tenang. Widya masih harus membersihkan peralatan dapur yang digunakan tadi. Di tambah lagi dirinya harus memasak ulang untuk menyambut kedatangan ayah mertuanya yang akan sampai malam ini. Widya menyudahi bermain ponselnya dan dengan tersenyum ia bangkit dari tempat duduknya untuk mulai melakukan kegiatannya kembali berkutat sendirian di dalam dapur.

.
.

Cukup lama Widya menghabiskan waktunya kembali di dalam dapur hingga semuanya beres yang membuat nafas lega pada dirinya. Dengan hembusan nafas panjang, Widya memandang hasil masakannya yang lumayan banyak dan bervariasi di atas meja makan. Dilihatnya kam dinding sudah menunjukkan pukul 17.05, yang berarti sebentar lagi dirinya harus berangkat ke terminal menjemput ayah mertuanya yang akan segera tiba untuk berkunjung.

Niat awal dan rencana adalah Evanlah yang akan menjemput sang mertua, namun entah kenapa sedari tadi ponsel Evan sama sekali tak bisa dihubungi olehnya. “Mungkin masih ada kelas sore”, pikir Widya tentang alasan kenapa Evan susah untuk dihubungi. Menggunakan senyumannya kembali, Widya melangkah memasuki kamarnya untuk mandi, bersiap pergi ke terminal menjemput sang ayah mertua.

Selesai mandi Widya menghadapkan diri di depan cermin risanya. Dengan beberapa olesan cantik pada wajahnya, kini Widya terlihat lebih cantik dan kelihatan lebih segar lagi sehabis mandi. Menggunakan baju yang tak terlalu formal dan terkesan santai, hanya T-shirt biasa yang dipadukan dengan jaket tipis berwarna abu-abu dan untuk bawahannya hanya memakai celana panjang leggings warna hitam. Dengan semua persiapan yang telah selesai, Widya melangkahkan kakinya keluar dari rumah menuju depan kompleks untuk mencari taksi guna mengantarkan dirinya ke terminal.

Langit yang mulai gelap menemani langkah Widya di sepanjang jalanan kompleks tempat tinggalnya. Mungkin karna hari sudah mau memasuki Maghrib jadi hanya terlihat beberapa penghuni kompleks yang masih terlihat mencuci mobil maupun motornya di depan rumah. Setiap orang yang melihat Widya pasti akan selalu menyapa, apalagi dari para tetangga lelakinya, pasti dengan cepat akan menyapa dengan sangat ramah.

Tak terlalu jauh Widya berjalan hingga sekarang dirinya akan tiba di pos masuk kompleks. Terlihat dari jarak Widya bahwa pak Narto tengah duduk depan posnya sambil merokok. Melihat Widya berjalan ke arahnya, pak Narto berdiri dati duduknya dan mematikan rokok yang tengah di hisapnya.

“Mau kemana, bu?”, tanya pak Narto.
“ini pak, saya mau jemput ayah mertua saya katanya mau berkunjung ke rumah”, balas Widya.

Terlihat pak Narto memperhatikan seluruh lekuk tubuh Widya sore itu. Dari ujung kaki hingga ujung kepala tak terlewat oleh pak Narto. Dengan tersenyum melihat tubuh Widya, pak Narto mendekati.

“Bu, sebentar aja yuk, bu. Saya lihat badan ibu langsung bawaannya jadi kepingin”, ucap pak Narto sambil matanya beberapa kali melihat ke sekeliling, sementara tangannya mengusap selangkangannya yang terdapat tonjolan besar disana.
“Jangan kurang ajar deh, pak. Ini tempat umum”
“Ya bukan disini juga, bu. Maksud saya di dalam pos”, sambil menunjuk posnya yang terlindungi dari kaca hitam.
“ayo lah, bu. Ga perlu ngentot juga gapapa, bu. Cukup Sepongin kontol saya saja”, pak Narto memegang tangan halus Widya.
“janji ya, pak Cuma sepong ga pake masukin”, balas Widya.

Mendengar balasan Widya membuat pak Narto kesenangan, dengan tergesa pak Narto menarik Widya untuk masuk ke dalam pos satpamnya.

“bu Widya di bawah meja saja”, ucap pak Narto.

Widya di suruh untuk berlutut di bawah meja pos satpam sedangkan pak Narto menempatkan dirinya duduk tepat didepan Widya yang tengah berjongkok. Dengan lincahnya pak Narto mengeluarkan kontolnya yang sudah setengah berdiri di hadapan wajah Widya. Sementara Widya yang sudah tau apa yang harus dilakukannya langsung melumat kontol setengah tegak tersebut ke dalam mulutnya. Masuknya ke dalam mulut Widya membuat pak Narto berdesir keenakan.

Beberapa kali Widya lumat keseluruhan batang kontol pak Narto hingga ia keluarkan kembali dan sekarang dijilatnya batang yang kian membesar itu oleh lidah Widya dari pangkal hingga ujung kepala kontol pak Narto. Terdapat perempuan cantik yang sedang menjilati kontolnya seperti anak kecil menjilati es krim di bawah meja posnya, pak Narto mengelus rambut Widya yang harum itu.

“Biji pelernya sekalian dijilat dong, bu. Jangan dijilat aja, bijinya ibu emut”, ucap pak Narto menikmati servis yang diberikan mulut serta lidah Widya.

Widya sendiri menuruti apa yang diucapkan oleh pak Narto dengan menjilat dan mengulum buah zakar pak Narto. Tangannya mengocok pelan kontol pak Narto sedangkan mulutnya bekerja menjilati dan mengulum buah zakarnya.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Bunyi aktivitas mulut Widya pada selangkangan pak Narto tak jelas terdengar tertindih oleh suara lalu lalang kendaraan di jalan. Sambil merem melek menikmati yang dilakukan Widya di bawah sana, pak Narto mengarahkan kepalanya ke atas.

“Oowwsshhhh….nikmat, bu sepongan mu. Ssshhh….”, racau pak Narto.

Saat dirinya meracau keenakan, sebuah mobil datang dan berhenti untuk menempelkan kartu penghuni kompleksnya. Pak Narto yang tau hal tersebut tersenyum pada pengemudi tersebut dan menyapanya. Orang tersebut menyapa balik pak Narto dengan ramahnya tanpa tau apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pos tersebut. Dimana terdapat seorang perempuan tengah memuaskan kontol seorang satpam tua.

“Kulum lagi kontol saya pake mulutmu, bu. Biar cepet keluar nanti”, ucap pak Narto sambil memegang kontolnya sendiri dan mengusapkannya di bibir Widya.

Widya lantas membuka mulutnya kembali dan melahap batang tersebut hingga masuk semuanya. Kepalanya bergerak naik turun, menyedot dengan kuat supaya pria tua di depannya itu cepat mendapatkan klimaksnya.

GLOK!!! GLOK!!? GLOK!!!

Pak Narto meletakan kedua tangannya di belakang kepalnya sendiri menikmati servis yang tengah dilakukan oleh Widya, sang wanita yang sekarang menjadi pemuasnya itu. Sambil melihat menikmati gerakan kepala Widya yang tengah naik turun di selangkangannya, pak Narto terus mengeluarkan desahan kecilnya.

Di dalam kepala pak Narto ia sungguh tak bisa percaya dengan apa yang sedang ia alami. Ia sama sekali tak pernah berpikir bahwa dirinya bisa mendapatkan Widya sebagai seorang wanita yang bisa memuaskannya di saat ia butuhkan. Apa yang duku hanya bisa ia kagumi semata, kini bisa ia rasakan seutuhnya. Lekuk tubuh yang dulu hanya bisa ia bayangkan, kini bisa ia pegang dan dapat ia miliki. “oowwsshhhh….beruntungnya aku”, pikir pak Narto dalam hati.

Pak Narto berpikir bahwa tak apa jika ada seseorang yang nantinya akan mempersunting Widya kembali, yang penting dirinya bisa tetap memuaskan hasrat seksualnya terhadap tubuhnya itu. Biarkan orang yang menjadi suaminya memiliki hatinya, tapi yang penting ia bisa memiliki dan menikmati tubuhnya setiap saat. Karna dengan modal kontolnya yang besar, dirinya sudah bisa menaklukkan tubuh wanita tersebut.

Di pegangnya dagu Widya oleh pak Narto. Widya melihat ke arah pak Narto dengan tatapan yang membuat lelaki bernafsu. Dengan cepat pak Narto melumat bibir Widya dengan bernafsu, sedangkan Widya ikut membalas lumatan nafsu dati pria tersebut.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

PUAH!!!

“Kamu cantik sekali, Widya. Bapak tak menyangka bisa dapetin tubuh kamu ini. Bapak beruntung banget”, ucap pak Narto.

CUP!!!

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Dilumatnya kembali bibir Widya dengan ganas, digigit juga bagian bawah bibir Widya. Lumatan ganas yang di sertai dengan sedotan kuat pada lidah Widya sampai Widya sendiri gelagapan menerima lumatan serta sedotan yang terjadi pada lidahnya. Air liur keduanya saking bertukar di sela lumatan tersebut.

Di sudahinya lumatan pada bibir Widya dan kembali Widya mencaplok kontol pak Narto yang sudah tegang maksimal ke dalam mulutnya untuk di kulum kembali. Kedua tangan pak Narto di susukannya ke dalam baju yang Widy pakai dan tangannya bergerak meremas payudara Widya dari dalam. Terasa betul di telapak tangan pak Narto kulit halus nan sangat empuk disana. Di sela kulumannya pada kontol pak Narto, Widya mengeluarkan suara desahannya. Permainan tangan pak Narto pada payudaranya membuat Widya makin bersemangat menggerakkan kepalanya naik turun melumat habis batang tersebut keluar masuk.

“nikmat banget, bu mulutnya. Sssshhhhh…kalo begini caranya balak bakal minta ibu buat puasin saya terus kalo lagi ga ada di pos. Ssshhhhh….”

Saat sedang mengeluar masukkan kontol pak Narto di mulutnya, tak sengaja Widya melihat jam dinding yang terdapat di dalam pos pak Narto itu. Ternyata sudah hampir 20 menit Widya mencoba memuaskan pak Narto dengan menggunakan mulutnya, tapi tak kunjung juga ada tanda akan klimaks.

“Kok dikeluarin, bu? Lagi enak ini, Bu. Ayo masukin lagi, sayang…”, ucap pak Narto sambil membelai rambut Widya.
“saya harus ke terminal, pak. Takutnya ayah mertua saya sudah sampai disana”
“Yaudah, bu Widya pengen cepat bapak keluar kan?”, tanya Pak Narto, Widya mengangguk.

Di pegangnya kepala Widya dengan kedua tangannya dan pak Narto langsung menggerakkan kepala Widya dengan cepat dan kuat untuk naik turun di selangkangannya. Widya dibuat gelagapan oleh tindakan pak Narto tersebut. Tangannya terlihat memukul-mukul paha pak Narto karna dirinya tak bisa bernafas. Hal tersebut tak dihiraukan oleh pak Narto, dirinya sendiri juga sudah ingin sekali mencapai klimaksnya atas mulut Widya.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“Ssshhh….Aakkkhhhh…bentar lagi, bu…bentar lagi…ssshhhhh….”, racau pak Narto sambil memejamkan matanya menikmati perlakuan deepthroat nya pada mulut Widya.

Widya yang merasa perlawanannya hanya sia-sia, akhirnya Widya Cuma pasrah di paksa untuk me’deeptrhoat kontol besar milik pak Narto itu. Kedua tangannya bertumpu pada paha pak Narto sementara kepalanya dinaik turunkan dengan kasar serta rambutnya terasa dijambak.

Untuk bernafas rasanya sangat sulit bagi Widya. Terlihat juga mulutnya mulai mengeluarkan busa-busa air liur akibat kocokkan kasar kepalanya pada kontol pak Narto. Beberapa kali Widya rasnya ingin muntah, tapi tertahan oleh laju keluar masuknya batang tersebut yang menyumpal dan menabrak tenggorokannya.

Sekian menit Widya tersiksa di dalam perlakuan tersebut, hingga akhirnya dari kedua telinga Widya mendengar bahwa pak Narto mulai mengerang dan juga Widya bisa merasakan bahwa pegangan tangan maupun gerakan pada kepalanya mulai terasa lebih kuat dan mulai tak beraturan. Ternyata memang benar bahwa pak Narto akan segera mencapai klimaksnya.

“Aaaakkkkhhh…ssshhhhh….bu….bapak mau keluar…sshhhh…”

“Bapak ga mau post ini bau peju. Ssshhhhh….mending bu Widya telan semuanya…Aaaakkkkhhh…ssshhhhh….”, racau pak Narto.

“Aaaakkkkhhh….bapak keluar, bu. Telan peju bapak. Telan!!! Aaaakkkkhhh!!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Lumayan banyak juga yang bisa Widya rasakan saat cairan kental tersebut keluar dan masuk ke dalam mulutnya. Saking bernafsunya, pak Narto menekan habis seluruh kontolnya hingga ke dalam kerongkongan Widya. Dalam hak tersebut Widya benar-benar dipaksa untuk menelan semua peju yang keluar dari kontol pak Narto. Tak ada pilihan lain kalo memang dirinya ingin masih bisa mengambil nafas.

“Aakkkhhhh…telan semua, bu…ssshhh…telan”

Saat Widya mencoba menelan semua peju yang masuk ke dalam kerongkongannya, Widya terbatuk dan hal tersebut membuat peju yang ada keluar lewat lubang hidungnya.

“Aaaakkkkhhh…nikmatnya, bu. Nikmat banget mulutmu. Ssshhh….”, ucap pak Narto setelah selesai melepaskan semua muatannya di dalam mulut Widya. Namun posisi kontolnya masih berada di dalam mulut Widya.

PUAH!!!

“Bapak…apa-apaan sih….Widya ga bisa nafas tadi. Uhuk!!! Uhuk!!!”, protes Widya setelah kontol pak Narto terlepas dari mulutnya.
“Maaf, bu. Namanya juga tadi bapak lagi nafsu banget. Bapak tadi keluar nya lagi enak banget, jadi bapak lupa sama kondisi bu Widya yang lagi kehabisan nafas. Maaf, bu. Hehehe…”, balas pak Narto tanpa ada rasa bersalah yang serius.

Widya mengambil tisu dari dalam tasnya dan mulai mengelap mulutnya sendiri yang berlepotan oleh busa-busa air liurnya dan juga tak terlupakan membersihkan bagian hidungnya yang mengalir cairan peju milik pak Narto tadi.

Sebelumnya Widya merapikan baju bagian payudaranya yang sedikit berantakan saat diremas oleh pak Narto dan juga merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan oleh ulah pria tua di depannya itu. Widya bangkir dari tempatnya jongkok di bawah meja dan berdiri di ambang pintu. Mengeluarkan Lipstik dari tasnya beserta kaca kecil untuk melapisi kembali bibirnya yang mulai pudar warnanya.

Saat Widya melihat ke arah pak Narto, ternyata pria tua tersebut masih mengumbar kontolnya yang sudah loyo namun masih terlihat besar itu sambil mengocok pelan dengan menatap Widya yang berdiri di dekat pintu. Widya melongokan sebentar kepalanya keluar pos.

“bapak, apaan sih? Nanti kalo ada yang lihat gimana? Masukin dong kontolnya, jangan diumbar terus kaya gitu”, perintah Widya yang kini mulai bisa berbicara kotor di depan pak Narto secara langsung.
“Hehehe…entar dulu, bu. Kontol bapak masih mau lihat wanitanya yang sudah bikin muntah tadi”, balas pak Narto masih mengocok pelan kontolnya ke arah Widya.
“terserah bapak ajalah. Saya harus segera pergi, takut ayah mertua saya udah sampai”

“Mau saya anterin, bu? Nanti bayar pake mulut ibu Widya lagi juga gapapa kok. Tapi kalo mau pake memek juga bapak malah lebih senang. Hahahaha…”
“Ngentot mulu yang ada di pikiran bapak”, kesal Widya.
“Kaya gini juga ibu Widya suka kan? Buktinya bu Widya bisa bapak bikin kelojotan sama kontol bapak ini dan tadi ibu juga mau”, Widya tak bisa membalas lagi perkataan pak Narto dan lebih memilih meninggalkan pria tua tersebut di dalam pos menuju jalan untuk mencari taksi.

Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya taksi yang di nanti oleh Widya bisa ia dapatkan. Dengan tergesa Widya memasuki taksi tersebut untuk mengantarkannya ke terminal tempat dimana sang ayah mertua akan datang dari perjalanannya.

“ke terminal, pak”, ucap Widya kepada sopir taksi.
“oke, bu”

.
.

Hanya membutuhkan sekitar 20 menit Widya telah sampai di tempat tujuan. Setelah membayar taksi yang mengantarkannya, Widya berjalan ke ruang tunggu terminal mengecek apakah ayah mertuanya sudah sampai atau belum dan ternyata masih belum terlihat sosok yang ia cari. Dengan langkahnya, Widya berjalan menemui petugas yang kebetulan berada tak jauh darinya.

“Oh belum, bu. Setengah atau sejam lagi busnya baru masuk ke terminal”, balas petugas tersebut.

Mungkin karna tadi dirinya disuruh untuk memuaskan pak Narto di dalam pos menggunakan mulutnya, Widya merasakan bahwa tenggorokannya kering. Widya berjalan ke arah salah satu toko yang terdapat di dalam terminal untuk membeli air mineral. Setelah membelinya Widya berjalan kembali dan duduk di dalam ruang tunggu terminal.

Saat dirinya tengah duduk menunggu sambil menikmati tontonan dalam televisi yang berada di dalam ruang tunggu. Terdengar suara riuh khas terminal sambil meneriaki jurusan yang akan segera berangkat malam itu.

“Bus dengan nomor 12BR, jurusan xxxxx sebentar lagi akan berangkat, dimohon para penumpang segera memasuki bus”, teriak pria tersebut.

Saat Widya mencoba mengalihkan pandangannya pada pria yang berteriak keras itu, Widya dibuat kaget dengan yang dilihatnya. Ternyata pria tersebut adalah pak Mamat, kernet bus yang dulu pernah ikut menggilir dirinya di dalam bus maupun di Rest area. Sementara itu Mamat terlebih dahulu menyadari kehadiran Widya yang tengah duduk di ruang tunggu. Mamat hanya melihat Widya sekilas lalu kembali fokus pada tugasnya mengumpulkan para penumpang dan mengantarkannya ke dalam bus.

Rasa lega di rasa oleh Widya karna pria tersebut tak mendekatinya lagi dan lebih memilih pergi dengan pekerjaannya, tapi disisi lain Widya masih merasa khawatir dan berharap bahwa bus yang ditumpangi oleh ayah mertuanya untuk segera sampai dengan begitu dirinya bisa cepat-cepat pergi dari terminal tersebut.

Rasa lega yang tadi dirasakan oleh Widya ternyata tak bertahan lama, karna dirinya melihat Mamat kembali dimana dirinya duduk dan menghampirinya bersama dengan seorang pria dengan pakaian yang berantakan atau lebih tepatnya penampilan layaknya preman. Jantung Widya berdetak demgan kencang, Widya merasa bahwa hal yang pernah ia alami dulu akan terulang kembali. Rasanya Widya ingin lari dan berteriak, tapi hal tersebut tak bisa ia lakukan karna terlalu takut dan khawatir.

“Ketemu lagi kita, bu”, ucap Mamat dengan senyum menjijikkannya.

Widya yang disapa oleh Mamat hanya diam seribu bahasa dan memalingkan wajahnya ke arah yang lain, enggan melihat ke arah Wajah busuk pria tersebut.

Mamat terus berbicara sambil memperkenalkan teman premannya itu pada Widya. Entah apa yang Mamat bicarakan saat itu, Widya sama sekali tak menghiraukannya. Widya hanya ingin pria itu segera pergi dan tak mengganggunya kembali. Terminal, salah satu tempat yang membuat Widya mempunyai trauma tersendiri, ya walau tak sepenuhnya bisa disebut trauma, hanya sebatas ketakutan semata.

Widya tersadar saat dirinya merasa ada yang memegang tangannya dan ternyata itu Mamat. Tangannya ditarik oleh Mamat untuk mengikutinya. Widya yang terlalu takut tak bisa melawan dan hanya bisa mengikuti tarikan tangan Mamat, berjalan takut dibelakang dua pria yang entah akan membawanya kemana.

Dilihatnya sudah ada 4 orang lagi yang sudah menunggu kedatangan mereka di belakang terminal. Keempat pria tersebut ternyata dikenali sebagai si sopir bus yang pernah ikut menggilirnya dulu, 1 preman lainnya dan 2 petugas terminal.

“Ini pak, ibu Widya nya”, ucap Mamat pada kedua petugas terminal yang sudah menunggu.
“Dijamin kalian bakal puas sama servisnya. Semua lubangnya juga bisa di pakai sekaligus. Intinya bu Widya ini barang yang bagus”, ucap si sopir bus, Sobri.

Salah satu petugas terminal berseru, “badannya emang bagus. Ini toketnya juga mantap”, ucapnya sambil meremas sebelah payudara Widya. Widya menepis dengan cepat tangan tersebut.

“Hahaha…ga usah galak-galak gitu lah, bu. Sebentar lagi juga bakal hilang galaknya pas saya genjot. Hahaha”, ucapnya sambil tertawa dan diikuti lainnya yang ikut tertawa.

“yaudah, sekarang aja kita eksekusi itu perempuan”, ucap salah satu preman tadi sambil menarik tangan Widya menuju belakang terminal yang ternyata hanya tanah kosong dengan banyaknya semak-semak yang tumbuh.

Widya diajak masuk lebih dalam ke arah semak-semak dan yang disana sudah terdapat alas berupa tumpukan kardus bekas yang sudah disiapkan terlebih dahulu oleh mereka gunakan untuk mengacak-acak tubuh Widya.

“Tolong, pak. Sudah cukup waktu itu. Tolong jangan lakukan ini lagi sama saya, saya mohon, pak”, iba Widya yang sudah tau betul apa yang akan terjadi dengannya bersama keenam pria tersebut.

Tubuh Widya di dorong kencang hingga terjerembap di atas alas kardus tersebut dan tak membuang waktu mereka mulai melolosi celana mereka mengeluarkan kontolnya masing-masing di depan tubuh gemetar Widya.

“ibu ga usah melawan, tugas ibu hanya mengangkang terus layani kontol kita aja. Kita ga bakal lama kok, kita bakal udahan kalo udah buang peju di memek ibu. Ga usah takut. Ibu ga lawan kita juga ga bakal berbuat kasar”, ucap si preman.

Mungkin karna preman tersebut salah satu penguasa yang ditakuti di terminal tersebut, dia dengan bebas menyuruh kelima pria tersebut untuk menuruti perintahnya. Preman tersebut menyuruh kelimanya untuk memegangi tangan serta kaki Widya. Sementara preman tersebut yang telah siap dengan kontolnya mendekati Widya yang kini tak bisa bergerak dan dengan kasar celana yang Widya pakai di lepasnya.

“Giliran gue pertama, lu berlima tinggal liatin aja duku gimana gue bakal genjot memeknya”, ucapnya dan tanpa melakukan pemanasan terlebih dulu preman tersebut sudah siap untuk mulai penetrasinya ke dalam memek Widya.

“lepas!! Lepas, bajingan!!!”, berontak Widya dengan mencoba menggerakkan kedua kakinya, namun sia-sia.
“Tolong lepaskan saya. Bajingan kalian!!!”

Tanpa memedulikan makian Widya, si preman tanpa melepas celana dalam hitam yang dipakai Widya, hanya menggesernya preman tersebut mulai menekan masuk kontolnya ke dalam lubang memek Widya yang terbuka bebas di depannya. Demgan dorongan sedikit memaksa kontol preman tersebut berhasil menjebol sempitnya memek Widya. Widya sendiri hanya memejamkan matanya dan mengeluarkan suara pelan saat kontol tersebut telah bersarang di dalam lubangnya.

“Gimana bos?”, tanya preman satunya.

“Ssshhhhh….gila!!! Sempit banget ini memek. Entar lu pada cobain aja sendiri”
“Jangan lupa juga rasain sempitnya lubang pantat milik bu Widya ini. Jauh lebih menggigit rasanya”, ucap Sobri menimpali.
“Ga doyan gue sama pantat. Gue mau pake memeknya aja”
“Yaudah, nanti pantatnya biar gue yang pake aja”, ucap Sobri
“Gue mulai ya, bu. Nikmati aja kontol gue ini. Gue bakal tunjukan enaknya kontol gue ini dibanding sama kontol-kontol yang udah pernah masuk ke memekmu ini. Ssshhhhh…”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pria tersebut langsung menggenjot dengan ritme semi cepat di selangkangan Widya hingga langsung terdengar pula suara rintihan yang keluar dari mulut Widya. Tak sepenuhnya sakit, tak sepenuhnya juga nikmat yang Widya rasakan. Ia sama sekali belum bisa memastikan apa yang tengah ia rasakan. Yang jelas rasa yang paling condong ke arah sakit karna keadaan lubangnya masih kering tanpa pemanasan tapi langsung di genjot dengan kasar.

“Aaaakkkkhhh….Aaaakkkkhhh….juara memang. Sshhhhh…”, racau si preman tengah menikmati genjotannya.

“kalo lu pada udah ga sabar, mainin aja kontol lu pada, tapi jangan ada satupun yang masukin ke dalam lubang manapun”, ucap si preman.

Mendapat ijin dari pria tersebut, kelima pria lainnya langsung memainkan kontolnya masing-masing pada tubuh Widya. Ada yang mengusapkannya di payudara Widya sambil melumat putingnya ada juga yang mengusapkan ke pipi, wajah serta rambutnya. Bagian tubuh mulai perut ke atas tak luput dari jamahan kelima pria tersebut.

Dirapatkannya kedua kaki Widya dan ditindih oleh badan si preman sampai kedua lutut Widya menempel pada payudaranya. Ia genjot tubuh tak berdaya Widya dari atas dengan hentakan-hentakan keras. Setiap hentakkan yang diterimanya membuat Widya mengerang, “Aakkkhhhh!!”.

Rasa gigitan nyamuk yang ada di kulit orang-orang di tempat itu serasa tak terasa sama sekali tertutup oleh rasa nafsu untuk terus memuaskan nafsunya masing-masing terhadap tubuh molek yang tak bisa melawan lagi. Diatas alas kardus tersebut, tubuh Widya terus digenjot dengan penuh tenaga. Sedangkan bagian tubuh lainnya dilecehkan oleh tangan-tangan yang sedang menggerayanginya.

Dipegangnya bagian atas kepala Widya dan dilumatnya bibir tersebut dengan ganas oleh si preman sambil terus memompa selangkangan Widya tanpa henti.

Dari posisi terlentang, kini tubuh Widya digeser untuk sedikit miring dan masih dalam posisi kontol di dalam memek Widya, Widya kembali di genjot dari belakang dengan gaya menyamping menghadap kelima pria lainnya yang terlihat sedang mengocok pelan kelaminnya masing-masing. Sementara Widya mencoba menutupi payudaranya yang keluar dari balik bajunya menggunakan tangan, namun dicegah dan disingkirkan tangan itu.

“Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…”
“Enaknya. Ibu bisa mendesah yang keras disini, ssshhhhh….disini ga bakal kedengaran sama orang lain selain sama kita. Aakkkhhhh….”, ucap si preman dengan fokus menggenjot Widya dari arah belakang.

Dipeluknya tubuh menyamping Widya dari belakang dan terlihatnya bahwa si preman makin gemas menggerakkan pantatnya maju mundur menumbuk selangkangan Widya yang mulai terasa basah di dalam sana. Nafas keduanya seperti sedang melakukan lari maraton yang panjang, tak beraturan dan terdengar keras. Bunyi kecipak selangkangan terdengar berbarengan dengan suara hewan-hewan malam.

Gerakan preman tersebut mulai cepat dan tak beraturan membuat tubuh Widya ikut bergerak kasar mengikuti setiap sodokan yang mengenai selangkangannya. Rambut panjangnya yang indah ikut bergoyang kesana kemari dan payudaranya yang menggantung di remas dari belakang dengan keras membuat Widya menjerit pelan dibuatnya.

Sedikit demi sedikit preman tersebut terus menambah ritme kecepatannya, hingga mencapai kecepatan maksimal, si preman langsung mencabut kontolnya dengan keras. Dibaliknya tubuh Widya dalam posisi merangkak, tak lama “BLES!!!”. Kembali kontol tersebut memasuki lubang Widya dan bergerak keluar masuk dengan cepat.

Dalam posisi menungging tersebut dan digenjot demgan kasar membuat desahan Widya makin terdengar dengan jelas dan lebih sering. Tubuhnya terlonjak ke depan setiap kali tusukan terjadi.

“Aaaakkkkhhh…akkkkhhhh…pelaann…sshhhh…pelan, mas….Aakkkhhhh”, racau Widya yang tengah di Setubuhi dengan lumayan kasar dari belakang.

Mendengar racauan Widya bukannya memelankan ritme kecepatannya, si preman malah tak menggubrisnya. Digenjotnya terus memek Widya dengan cepat dan kedua pundaknya dipegang demgan erat dari belakang sehingga tubuh Widya terangkat dan menekuk ke arah tubuh si preman.

Payudaranya yang menggantung otomatis ikut terangkat dan membusung ke depan dengan indahnya. Hal tersebut tak dilewatkan oleh pria lainnya dengan cara disingkirkannya rambut panjang Widya yang menutupi payudara tersebut dan langsung melumat serta meremas kedua payudara indah tersebut dari arah depan.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Bunyi seruput lumatan pada payudara dan bunyi kulit saling bertabrakan di belakang saling menyahut satu sama lain membelah suasana tanah kosong tersebut dengan meriah. Semakin lama, gerakan si preman makin tak terkontrol kembali. Sekarang dengan menjambak rambut Widya, preman tersebut menumbuk selangkangan Widya dengan keras dan cepat, sementara Widya hanya bisa mendesah sejadi-jadinya karna diperlakukan seperti itu.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh….oowwsshhhh….”, desah Widya. Bukan hanya suara itu, bahkan desahan Widya kadang terdengar seperti mengerang kencang namun tertahan di tenggorokannya.

“ssshhh….keluar gue, bu. Ssshhh….gue mau keluar. Aaaakkkkhhh…Aaaakkkkhhh….”, racau si preman demgan gerakan cepatnya.
“Aaaakkkkhhh….gue mau buang di dalam. Ssshhh…gue mau hamilin istri orang ini. Bakal gue bikin penuh lubangmu, bu. Aaaakkkkhhh…ssshhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Jangan…jangan di dalam. Aaaakkkkhhh….saya ga mau hamil anak kamu, bangsat. Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…”, hardik Widya.
“Silahkan, silahkan bilang gue bangsat. Aakkkhhhh…buktinya ibu keenakan sama kontol saya kan? Ngaku aja lu, bu. Aakkkhhhh….”, ucap si preman.
“ga usah…sok galak. Bentar lagi memekmu juga bakal gue pejuin. Aakkkhhhh…ssshhhhh….”, sambungnya masih sambil menjambak rambut Widya dati belakang.

Genjotan yang dilakukan oleh si preman sangat keras dan kasar, begitu juga bisa Widya rasakan pada jambakan rambutnya terasa mulai lebih keras di tarik ke belakang. Mulai ada rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh Widya, namun tak mungkin bagi dirinya untuk menunjukkan hal tersebut. Bisa-bisa dirinya terus dipermainkan dan dilecehkan lebih jauh lagi dan juga lebih kasar lagi seperti boneka seks mereka saja nantinya.

Dengan mengatupkan kedua gigitnya dengan keras, Widya mencoba menahan rasa nikmat bercampur sakit tersebut sebisa mungkin. Keringat mulai terasa mengalir di tubuh serta dahinya saat mencoba menahan apa yang sedang dirasakannya itu. Bukan hanya Widya yang mulai berkeringat, bahkan dirasa juga keringat preman yang tengah menyetubuhinya dengan kasar dari belakang juga ikut menetes jatuh ke atas pantatnya dengan deras.

“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh…STOP….STOOOPPPP!!!! AAAKKKKHHH!!!!”, teriak Widya.

Si preman maupun kelima pria lainnya tertawa melihat Widya yang mendapatkan orgasmenya di tengah perlakuan kasar si preman. Tanpa memberi ampun pada Widya yang tengah dilanda gelombang orgasmenya, preman tersebut tetap menggerakkan kontolnya keluar masuk demgan cepat tanpa mengurangi ritmenya sama sekali.

“Ngecrot juga lu, Lonte. Aakkkhhhh….sekarang giliran gue yang bakal ngecrot di dalam memek lu, jalang!!! Ssshhhhh….Aaaakkkkhhh….”
“KELUAARRR!!!! GUE KELUARR!!! AAAAKKKHHHH!!!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Terasa dengan sangat bagi Widya bahwa sebuah cairan kental nan hangat menyiram rahimnya dengan sangat banyak, hingga terasa penuh di dalam sana. Beberapa kedutan pantat di perlihatkan oleh preman tersebut saat mengeluarkan muatannya ke dalam tubuh Widya dengan sangat nikmat. Matanya terpejam sembari mendongakkan kepalanya ke atas menikmati sensasi nikmat orgasme yang luar biasa.

“Aaaakkkkhhh….gila, puas banget gue. Hhaaahhhh….hhaaahhhh….”, ucap si preman sambil membuka sedikit pantat Widya melihat ke arah kelamin keduanya yang masih bersatu.

Puas telah menodai tubuh Widya, sambil mencengkeram kedua pantat Widya, preman tersebut mencabut keluar kontolnya dengan perlahan sambil menikmati remasan dinding memek Widya yang masih bisa ia rasakan.

PLOP!!!

Mengalirlah lahar panas dari lubang memek Widya yang terbuka sehabis disumpal penuh oleh kontol besar preman tersebut. Gumpalan cairan putih kental menetes ke atas alas kardus dengan banyak. Melihat pemandangan tersebut, sang preman hanya tersenyum pas memandangi sosok wanita yang tengah menungging dengan peju nya yang mengalir sehabis memuaskan nafsunya itu.

Tubuh Widya ambruk tengkurap diatas alas kardus tersebut dengan nafas yang tersengal dengan hebat.

HHHHAAAHHHH!!!! HHHAAAAHHHH!!!

Si preman langsung memakai celananya kembali sambil menjawab ucapan salah satu temannya, “iya, sekarang giliran lu pada buat nikmatin tubuhnya”.

Satu preman lainnya langsung memosisikan dirinya di depan pantat Widya yang masih tengkurap itu. Dengan membuka kedua buah pantat Widya, preman kedua mulai mengarahkan dan memasukkan kontolnya ke dalam memek Widya yang sudah berlepotan peju milik bosnya itu.

“Aaaakkkkhhh!!! Masuk juga kontol gue”, ucapnya.

Kini Widya harus merasakan kembali kubang memeknya diisi oleh kontol kedua yang siap menggenjot tubuhnya lagi. Dengan pasrah Widya hanya bisa tengkurap tanpa melawan saat tubuhnya melai bergerak akibat sodokan kontol di belakang sana. Pantatnya di tindih oleh selangkangan preman kedua sambil terus memaju mundurkan selangkangannya ke arah pantat Widya.

“Padahal baru aja di entotin ini memek, tapi masih aja seret banget rasanya. Gila emang ini Lonte. Ssshhhhh….”

Sementara preman yang pertama menikmati tubuh Widya kini tengah duduk menonton bawahannya yang sedang menyetubuhi mangsanya itu sambil merokok. Namun tiba-tiba terbesit sebuah ide yang masuk di kepalanya. Dengan mendekati tubuh Widya yang tengah terlonjak ke depan dan ke belakang akibat genjotan bawahannya itu, preman tersebut menempelkan rokoknya di bibir Widya yang awalnya tengah menganga mengeluarkan desahan.

UHUK!!! UHUK!!!

“Aakkkhhhh….akkkkhhhh….”, desah Widya sambil mencoba memalingkan wajahnya, namun ditahan.

“Hisap, bu. Sambil dientotin teman gue, ibu hisap rokok ini. Merokoklah, bu”, perintah si preman pada Widya yang tengah di Setubuhi.

Sambil Widya di Setubuhi dari belakang dalam posisi tengkurap, Widya dengan terpaksa menuruti perintah preman tersebut untuk merokok sambil dirinya tengah disetubuhi. Dengan dibantu dipegang rokok tersebut oleh si preman, Widya mulai menghisap batang tembakau tersebut dan mengeluarkan asapnya. Awalnya Widya terbatuk, tapi kelamaan Widya bisa mengontrol nafasnya sehingga ia bisa menghisap dan menghembuskan asapnya tanpa ada masalah. Walau Widya rasa betul bahwa matanya terasa sangat perih terkena asap rokok sampe terlihat sedikit berwarna merah matanya, namun Widya terus melakukan hal tersebut sampai rokok yang ada mulai sampai pada gabusnya.

“Bagus, bu. Ibu ini memang pintar dan penurut banget”, ucap si preman sambil mengelus rambut Widya dan berdiri kembali ke menonton.

Seumur-umur Widya tak pernah merokok sama sekali dan tadi adalah hal pertama baginya merasakan secara langsung apa yang namanya rokok beserta rasa asapnya yang telah masuk ke dalam paru-parunya. Apalagi dirinya melakukan hal pertama tersebut sambil tengah disetubuhi dan di tonton oleh Lima pria. Sungguh sangat memalukan.

Preman kedua yang tengah menyetubuhi Widya memetik beberapa daun yang terdapat di dekatnya. Daun tersebut dikumpulkan dan, “PLAK!!! PLAK!!!!”, daun tersebut digunakan untuk memukul pelan punggung mulus milik Widya. Walau keadaan lumayan gelap, namun jika diterangi pasti punggung tersebut akan terlihat corak garis merah disana.

“Aakkkhhhh….Aaaakkkkhhh….”, jerit pelan Widya saat dedaunan tersebut dipukulkannya pada area punggung.

Sebenarnya tak sakit dan begitu juga tak perih saat dirasakan oleh Widya, namun Widya hanya merasakan rasa gatal yang mulai ada di punggungnya, entah daun apa itu karna Widya tak bisa melihatnya. Tapi yang jelas rasa gatal.

“Hentikan, mas…. Tolong. Ssshhh…punggung saya gatal. Aaaakkkkhhh….”, ucap Widya sambil mencoba meraih punggungnya sendiri dengan tangan, namun tak bisa dijangkau olehnya.
“Tolong, mas…. Tolong garukin punggung saya. Aaaakkkkhhh….gila, punggung saya gatal banget, mas. Aaaakkkkhhh….”

Ternyata niatan awal preman tersebut memang untuk membuat rasa gatal pada punggung Widya sehingga Widya akan memohon pada dirinya untuk menggaruknya. Dengan tersenyum menang, preman tersebut mengusap lembut punggung Widya dan hal tersebut membuat tubuhnya berdesir. Usapan kulit telapak tangan yang kasar pada punggung Widya yang mulus.

“Kalo ibu mau gue garukin punggungnya, ibu harus menuruti apa yang gue perintahkan”, ucap si Preman.
“jawab! Mau gue garukin apa ga? Apa mau gue tambahin lebih parah lagu rasa gatalnya?!”, bentaknya.

Widya menggeleng cepat, “jangan! Sudah cukup, tolong. Saya mau. Aaaakkkkhhh….saya mau menuruti perintah, mas. Aakkkhhhh”

“Nah gitu dong. Sekarang gue mau lu ngomong sambil mohon kaya gini”

“Mas, tolong entotin memek saya lebih keras dan lebih kuat lagi. Saya pengen kontol mas. Saya mohon mas. Nah ibu ngomong kaya gitu, tapi ibu juga harus tambahin lagi kata-katanya yang lebih menggoda dan cabul. Aaaakkkkhhh….”
“cepat ulangi omongan gue tadi. Aaaakkkkhhh….nikmatnya. ssshhhhh….”

Widya tak punya pilihan lain lagi dan dirinya juga sebenarnya diam-diam mulai menikmati apa yang sedang terjadi padanya itu. Dengan mengatur nafas panjang Widya mulai menuruti apa yang diperintahkan tadi.

“Mas, tolong entotin memek Widya lebih keras dan lebih kuat lagi. Widya pengen kontol mas. Widya pengen kontol mas hajar memek Widya yang kasar. Aaaakkkkhhh…. Ayo tuan, puaskan Widya”, ucap Widya.

Entah kata-kata dari mana yang Widya dapatkan sehingga bisa keluar perkataan yang benar-benar cabul dan melecehkan dirinya sendiri. Setelah mengatakan hal tersebut, dada Widya serasa lebih bergemuruh dan nafasnya menjadi semakin tak beraturan. Pada punggungnya juga bisa Widya rasakan bahwa ada benda dingin yang menyentuh kulit punggungnya itu. Ternyata Sobri mengusapkan es batu pada punggungnya itu dan entah sejak kapan dan darimana pria tersebut bisa mendapatkan es batu tersebut.

Rasa gatal serta rasa genjotan kontol si preman di memeknya yang bercampur dengan rasa dingin di punggungnya membuat sensasi nikmat tersendiri yang bisa Widya alami. Rasa nikmat yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Semuanya rasa bercampur menjadi satu yang tak bisa diucapkan demgan kata-kata. Hanya kata “enak”, yang bisa mendeskripsikan rasa tersebut.

“gimana rasanya? Pasti enak kan, bu?”, tanya Sobri si sopir bus.
“Iyaaahhh….sssshhhhh….”

Entah sadar atau tidak Widya mengucapkan hal tersebut. Jawaban yang membuat keenam pria tersebut saat mendengarkannya menjadi tertawa dengan keras mencoba mempermainkan perasaan Widya lebih jauh lagi.

Dicabutnya kontol si preman dari jepitan sempit memek Widya. Dirinya memosisikan tubuhnya tiduran di atas alas kardus yang ada dan tubuh Widya dibantu oleh beberapa pria untuk duduk diatas selangkangan si preman. Diarahkannya ujung kontol tersebut tepat di bibir memek Widya dan dalam gerakan turun secara perlahan, memek Widya berhasil tersumpal kembali oleh benda besar tersebut.

“Aaaakkkkhhh!!!”, desah keduanya.

“Daritadi saya yang kerja buat puasin memek ibu, sekarang giliran ibu yang harus kerja puasin kontol saya. Sekarang gerakan tubuh ibu naik turun”, ucap si preman.

Tanpa harus memaksa, Widya mulai menaik turunkan tubuhnya di atas selangkangan si preman sambil dirinya mengeluarkan desahan. Payudaranya yang sudah terbuka dengan bebas ikut naik turun mengikuti irama tubuhnya. Widya sekarang mulai aktif akan gerakannya sendiri dengan memutarkan pantatnya sendiri meremas kontol si preman di dalam lubangnya. Widya mencoba mencari posisi nikmatnya sendiri di atas selangkangan si preman yang tengah tiduran dengan santai menikmati gerakan yang tengah di lakukan oleh Widya.

Sementara itu Sobri yang sudah tak sabar mulai bangkit dari posisi menontonnya dan mendekat ke arah belakang Widya. Dengan melumuri batang kontolnya dengan air ludahnya sendiri, Sobri mulai mengarahkan kepala kontolnya ke arah lubang pantat Widya. Tubuh Widya didorong untuk lebih turun ke arah depan untuk memudahkan proses penetrasinya. Tanpa ada perlawanan dari Widya saat Sobri mencoba untuk menganal Widya, Sobri dengan leluasa mulai menekan masuk kontolnya yang sudah tegang tersebut dengan perlahan.

Senti demi senti kontol Sobri mulai membelah masuk pantat Widya yang sangat sempit tersebut. Dengan telaten, Sobri membuka kedua pantat Widya untuk membantu membuka lubang sempit tersebut supaya memudahkan jalan masuk kontolnya ke dalam.

“pelan….Aaaakkkkhhh….”, seru Widya di tengah proses penetrasi yang dilakukan Sobri pada lubang pantatnya.

Merasa sudah tak tahan lagi, Sobri dengan keras menekan masuk seluruh batang kontolnya dalam satu sentakan yang membuat Widya menjerit dengan keras. “AAAKKKHHH!!!”. Terlihat jelas oleh si preman bahwa wajah kesakitan Widya membuatnya semakin terangsang. Ditariknya dengan cepat kepala Widya oleh si preman dan langsung dilumat dengan kasar bibir seksi Widya.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Sementara itu Sobri sedang menikmati momennya dimana seluruh kontolnya berhasil menjebol pantat Widya dan tengah memejamkan matanya meresapi rasa nikmat dari sempitnya pantat Widya. Dicengkeramnya kedua pantat Widya dengan kencang sambil meracau tak jelas dari mulutnya.

“sialan ini sapi betina. Ssshhhhh…pantatnya sempit banget, kontol gw bisa remuk kalo begini. Aaaakkkkhhh…”
“Ini semalam mah ga bakal bisa dibikin longgar kalo gini. Harus sering-sering di hajar ini lubang biar ga sempit banget. Aaaakkkkhhh….tapi gue suka pantat kaya gini. Ssshhh…rasanya pengen gw hajar terus. Aaaakkkkhhh….”, racau Sobri terus.

Sobri mulai menggerakkan pantatnya untuk menyodomi Widya dengan perlahan sementara di lubang bawahnya terdapat kontol si preman yang juga sedang keluar masuk mengocok lubang memek Widya yang sudah sangat basah itu. Kedua lubang lada tubuh Widya sudah diisi oleh benda besar yang tengah keluar masuk secara bergantian bak piston kendaraan yang sedang dalam keadaan bekerja.

“Aaaakkkkhhh…Aaaakkkkhhh….sesaaakkk…ssshhhhh….”, desah Widya disela lumatan si preman.

“Aaaakkkkhhh….kontol lu masuk di pantatnya, kontol gue rasanya jadi semakin diremas, bangsat. Ssshhh….anjing ini enak banget. Ssshhh….”, ucap si Preman.
“sama, pantatnya masih sempit ditambah kontol lu di memeknya, bikin tambah sempit ini lubang. Ssshhhhh…”, balas Sobri.

Sobri meraih celana panjangnya dan mencabut gesper miliknya. Diraihnya rambut Widya untuk ditarik ke belakang dan Sobri gunakan gesper miliknya untuk dipakaikan di leher Widya tersebut. Sehingga kini terlihat jelas bahwa Widya seperti memiliki sebuah kalung di lehernya yang sedang di tarik dari belakang oleh Sobri yang tengah menyodomi pantatnya.

“Aaaakkkkhhh…Aaaakkkkhhh….kan jadi mirip sapi betina kamu, bu. Ssshhh….”, ucap Sobri memandangi leher Widya yang sudah terpasang gesper miliknya.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

Ditamparnya pantat Widya tak terlalu keras oleh Sobri. Sementara si preman yang tengah menikmati lubang memek Widya terlihat sedang menyusu pada payudara Widya yang tengah tergantung dengan bebas diatasnya. Sebelahnya di remas dengan gemas dan memainkan putingnya dengan di pelintir dan ditarik beberapa kali membuat Widya melenguh nikmat bercampur rasa sakit.

“ssshhh…ampun….ampun….”, ucap Widya.

Si preman tersenyum di bawah sana dan meminta agar Sobri untuk menyingkir terlebih dahulu. Dengan perasaan kesal Sobri mencabut kontolnya dari lubang pantat Widya dan membiarkan teman premannya itu untuk menikmati sendiri tubuh Widya yang molek itu. Ditepuknya sekali pantat Widya oleh Sobri sebelum menyingkir ke samping karna rasa gemas.

Dibaliknya tubuh Widya oleh si preman tanpa melepaskan kontolnya di dalam memek Widya sehingga posisinya kini Widya terlentang dengan posisi kaki mengangkang dan si preman telah siap untuk menggempurnya kembali untuk menyemprotkan isi buah zakarnya ke dalam tubuh Widya. Puncak kenikmatan yang sedang ia cari dan ia kejar dari tubuh Widya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Preman tersebut langsung menggenjot selangkangan Widya dengan cepat dan kuat. Gerakan yang tak jauh beda dengan gerakan yang dilakukan oleh bosnya saat menyetubuhi Widya pertama tadi. Gerakan pantatnya terus menumbuk selangkangan Widya demgan keras sambil tangannya mencengkeram leher Widya tak terlaku keras, namun tak terlalu pelan juga. Tapi cengkeraman pada lehernya itu tetap saja membuat Widya susah untuk bernafas.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh…mantap banget ini memek. Kapan lagi gue bisa ngentot kasar kaya gini. Ssshhh….gue bayar pelacur aja ga mau gue kasarin kaya gini. Ssshhhhh….”, racau si preman dengan nikmat.
“Istri orang gue entotin kasar dan secara gratis. Sssshhhhh….”, sambungnya.

“bukan hanya itu, lu juga dapat kesempatan buat bikin bunting itu memek istri orang”, sahut salah satu pria yang menjadi petugas terminal dalam keadaan masih menonton sambil mengocok kontolnya.

“betul. Ssshhh…. ibu bakal gue kasih oleh-oleh dari terminal. Ssshhh….berupa benih anak di dalam rahim lu, bu. Aaaakkkkhhh….nikmat banget lu betina. Ssshhhhh….”

Sementara si preman tengah mengumpat pada Widya dengan kurang ajarnya, dibawah sana Widya tengah kesusahan untuk bernafas akibat cengkeraman yang dilakukan preman tersebut pada lehernya. Wajahnya terlihat memerah mulai kehabisan nafas dan si preman tanpa memedulikan terus memompa kontolnya keluar masuk dengan keras dan terus mengumpat dalam kenikmatan yang ia terima.

Dalam tempo genjotan yang makin liar, preman tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda dirinya akan mengalami klimaks yang sedang ia kejar. Dalam beberapa sodokan keras, preman tersebut mengeram tertahan.

“EEEGGGHHHH!!!!! KELUUAARRR!!! AAAKKKKHHHH!!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Bermili-mili cairan putih kental sedikit panas keluar masuk menyembur memek Widya dengan kuatnya. Bukan dalam jumlah sedikit, namun lagi-lagi dalam jumlah yang banyak mengisi ruang dalam rahim Widya. Kedutan demi kedutan pantat si preman mengeluarkan peju nya dengan sangat nikmat.

Dilain sisi Widya yang sudah mulai kehabisan nafas mulai seperti akan hilang kesadarannya. Terlihat matanya berkaca-kaca dan dari sudut mulutnya yang menganga mengalir air liur miliknya sendiri yang menetes dikulit pipinya. Menyadari hal tersebut, si preman lantas melepaskan cengkeramnya pada leher Widya dan langsung terdengar suara batuk dari mulut Widya. Nafasnya terdengar kasar dan sangat berat akibat kehabisan nafas.

HHHAAAHHHHH!!! HHHAAAHHHH!!!

“Maaf, bu. Gue kebawa suasana soalnya nikmat banget. Hehehe”, ucap si preman sambil menarik lepas kontolnya yang basah berlepotan cairan, lalu membuang begitu saja kedua kaki Widya ke samping.

“lu nanti aja napa. Lu kan udah pernah ngerasain. Gue dulu yang belum pernah”, ucap salah satu petugas terminal pada Sobri yang awalnya akan mengambil posisi.

Dengan perasaan dongkol kembali, Sobri hanya bisa mengalah dan membiarkan temannya itu untuk terlebih dahulu menikmati tubuh Widya. Sementara Widya yang tengah diperebutkan hanya bisa tergolek lemas di atas alas kardus setelah di gilir dua orang pria dengan kasar. Apalagi yang pria kedua tadi, si preman sungguh lebih kasar dari pada yang pertama. Tenaga Widya sungguh hilang dan badanya lemas.

Disamping perlakuan kasar kedua pria sebelumnya, Widya juga sudah beberapa kali orgasme saat di Setubuhi dengan kasar tadi sehingga tenaganya benar-bebar terkuras saat itu.

Saat petugas pertama akan mengambil posisinya atas tubuh Widya dengan membuka kembali kedua kaki Widya. Ponsel yang terdapat di dalam tasnya bunyi. Petugas tersebut menyuruh Widya untuk mengangkat panggilan tersebut terlebih dahulu. Dengan lemas Widya meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam.

“wa’alaikum salam, yah”, balas Widya.
“Ini ayah sudah sampai di terminal, Wid. Kamu dimana?”, tanya ayah mertuanya yang memberitahu bahwa dirinya telah sampai.

Widya melihat sekilas pada keenam pria yang ada didekatnya.

“maaf, yah. Widya masih dalam perjalanan ke terminal, Widya lagi kena macet soalnya. Ayah tunggu dulu sebentar”, balas Widya terpaksa berbohong karna dirinya sudah tau bahwa dirinya tak akan dilepaskan sebelum memuaskan semua pria tersebut.
“Yaudah, ayah ada di ruang tunggu ya”
“Iya, yah”

Widya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Siapa?”, tanya petugas yang akan mendapat giliran selanjutnya.
“Ayah mertua”, jawab Widya acuh.

“Hahaha…mantap! Ibu bakal kita genjot dulu sebelum ketemu sama mertuanya. Hahaha…”

Dibukanya kembali kedua kaki Widya dan dengan sekali sentakan kontol petugas tersebut masuk seluruhnya ke dalam lubang memek Widya. Dilumat serta di remasnya kedua payudara Widya secara bergantian sebelum mulai menggenjot selangkangan Widya yang sudah sangat becek. Sedotan keras pada kulit payudara Widya membuat sebuah tanda merah disana. Petugas tersebut bukan hanya membuat satu tanda cupangan, namun lebih dari 3 tanda di kedua payudaranya.

“Kita mulai, bu. Sekarang nikmati kontol gue ini”, ucapnya mulai memaju mundurkan pantatnya menumbuk selangkangan Widya.

CEPLAK!!! CEPLAK!!! CEPLAK!!!

Bunyi selangkangan becek Widya yang tengah di genjot oleh kontol milik petugas terminal tersebut dengan ritme perlahan menambahkan kecepatannya. Erangan dan desahan kini kembali terdengar masuk ke dalam telinga dengan sangat nyaring. Dalam kondisi kaki mengangkang, petugas tersebut terus melancarkan serangannya pada selangkangan Widya yang terbuka. Setiap gerakan membuat pelakunya merasakan rasa nikmat yang amat serta menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.

“Aakkkhhhh….licin banget sama peju ini memek, ssshhh….tapi rasanya masih tetap enak. Aaaakkkkhhh…”, racaunya menikmati lubang memek Widya yang licin akibat peju kedua pria sebelumnya.

“Bri, lu boleh gabung sini biar tambah mantap lubangnya”, ucap petugas sambil membalikkan tubuh Widya untuk berada di atas.

Dengan tersenyum senang Sobri mendekat sambil mengocok pelan kontolnya dan mengarahkannya ke lubang pantat Widya yang sudah siap untuk dimasuki olehnya. Tak begitu susah untuk memasukkan seluruh batang miliknya karna sebelumnya tadi sudah ia renggangkan menggunakan kontolnya sebentar. Hanya dengan sekali hentakkan seluruh kontol Sobri kembali mengisi lubang pantat Widya yang sedari tadi kosong.

Tanpa membuang waktu terlalu lama, keduanya langsung menggenjot masing-masing lubang Widya dengan bernafsu dan dengan hentakkan yang bertenaga. Widya kembali di Sandwich oleh dua orang dan posisi dirinya hanya bisa pasrah sembari mendesah di tengah-tengah dua tubuh pria yang sedang menikmati kedua lubangnya itu.

“Ssshhh….Aaaakkkkhhh…”, desah Widya.

“nikmati aja, bu kontol kita di kedua lubangmu yang enak ini. Ssshhhhh….”, ucap si petugas tepat di telinga Widya. Tubuh Widya yang tengah di Sandwich dipeluk oleh petugas tersebut.

Sobri mencabut kontolnya dan menyuruh si petugas untuk merubah gaya. Sobri menyuruh si petugas untuk menggendong berhadapan dengan Widya dan memasukkan kontolnya. Sementara Sobri memosisikan dirinya dibelakang Widya yang tengah di gendong dan mengarahkan kontolnya masuk ke dalam lubang pantat Widya.

Terlihatlah kini Widya di Setubuhi dari dua arah dalam posisi di gendong. Gerakan keduanya sama sekali tak terlihat kesusahan walau dalam posisi seperti itu. Bahkan untuk Sobri sendiri kini bisa mengeluar masukan kontolnya dengan mudah. Keadaan di depan, si petugas tengah melumat bibir Widya dengan rakus sambil pantatnya terus merojok masuk ke dalam selangkangan Widya dengan nikmatnya.

Entah karna sangat bernafsu terhadap Widya atau karna sedari tadi menonton sambil mengocok kontolnya. Kini Sobri mengadu bahwa dirinya akan segera keluar dan gerakannya dipercepat.

Si petugas menyerahkan tubuh Widya pada Sobri untuk dinikmati dan sekarang Widya dalam posisi setengah berdiri, menungging dengan Sobri dibelakangnya tengah menggenjot lubang pantat Widya dengan celat dan alurnya sendiri tak beraturan, malah terkesan kasar seperti sebelumnya.

Sobri yang kini menikmati tubuh Widya seorang diri merasa lebih leluasa dari sebelumnya. Dengan awalnya Sobri memasukkan ko tolnya di dalam lubang pantat Widya, kini juga dimasukkan pula ke dalam memek Widya dan hal tersebut terus berulang. Beberapa sodokan di pantat lalu di cabut dan dimasukkan ke dalam memek. Dicabut lagi dan dimasukkan le dalam pantat.

“Aakkkhhhh….mampus kamu Widya. Ssshhh…. Memek sama pantat lu emang juara buat dikontolin rame-rame. Ssshhhhh….Aaaakkkkhhh….”, racau Sobri di tengah genjotannya.
“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh…bajingan kamu. Aakkkhhhh….”, umpat Widya disela desahannya.

Beberapa menit Sobri menggenjot kedua lubang Widya secara bergantian telah berlalu, hingga akhirnya dari mulut Sobri terdengar erangan yang sangat nikmat.

“AAAAKKKHHH!!!! GUE PEJUIN LU BETINA!!!! SSSHHH!!! AAAKKKKHHH!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Sobri mengeluarkan setengah peju nya di dalam pantat Widya dan setengahnya lagi dia semburkan di dalam memek hingga pancutan terakhir selesai dimuntahkan.

Dicabutnya kontol Sobri dan tubuh Widya langsung ditangkap oleh si petugas terminal. Dengan cekatan langsung ia masukan kontolnya untuk mengisi kembali lubang memek Widya sedang meneteskan cairan putih kental milik Sobri dan bercampur dengan cairan milik kedua pria sebelumnya.

Keadaan Widya sudah sangat lemas dan dirinya juga telah mengalami beberapa kali orgasme kembali. Tatapannya sayu, namun masih dalam kesadaran yang bisa ia jaga walau tubuhnya sendiri bergetar efek dari orgasme yang terus-terusan menerpanya dan juga efek karna digilir dengan kasar.

Apa yang dialami oleh Widya beluamlah berakhir karna masih ada pria yang sedang mencari keluasan pada tubuhnya dan dua orang pria lagi yang tengah menunggu gilirannya untuk mengisi dan menyemburkan peju nya ke dalam lubang yang mereka inginkan.

Selesainya Sobri menikmati tubuh Widya. Pria lain seperti kedua petugas terminal dan juga kernet busnya, si Mamat juga ikut mengambil gilirannya menikmati setiap inci dan rapatnya lubang yang dimiliki oleh Widya. Mungkin malam itu hanya Sobri yang memakai sempitnya pantat Widya, karna ketiga pria terakhir hanya memakai memek Widya sebagai media pemuasnya. Dari keenam pria yang menggilir Widya, tak ada satupun yang membuang peju nya secara cuma-cuma. Semua mengeluarkannya di dalam lubang Widya dan yang paling banyak ialah pada lubang memek Widya yang masuk memenuhi di dalamnya hingga Widya sendiri merasa bahwa rahim serta memeknya sendiri terasa sangat penuh oleh cairan kental tersebut.

Setelah keenam pria tersebut selesai memuaskan nafsunya pada tubuh Widya. Widya disuruh kembali untuk memakai pakaiannya secara lengkap sambil di tonton oleh keenam pria yang sudah menggilirnya demgan kasar saat Widya memakai celana serta bajunya.

Mereka hanya memandangi sambil tertawa melihat Widya yang sudah lemas akibat perbuatan mereka. Bahkan saat Widya mencoba untuk memakai celana dalamnya kembali, bisa terlihat cairan kental dalam jumlah banyak mengucur jatuh ke bawah dan hak tersebut kembali membuat gelak tawa keenam pria tersebut pecah.

“bu Widya, itu makanannya pada jatuh. Hahaha”, seru salah satu pria yang menyebut cairan peju mereka yang mengalir di memek Widya sebagai makanan untuk Widya sendiri.

Sebenarnya Widya merasakan sangat panas saat mereka mengatakan hal tersebut, namun mau bagai mana lagi. Ia tak punya tenaga, ia gak punya kesempatan dan ia tak punya cara untuk melawannya sehingga hanya bisa diam saat dilecehkan.

“sudah, ayo. Kita antarkan ibu buat temuin ayah mertuanya”
“Ga usah, saya bisa sendiri”, balas Widya.
“jangan kaya gitu lah, bu. Ini sebagai ucapan terima kasih kita karna udah diijinin buat ngerasain legitnya memek ibu itu”

Tanpa menunggu jawaban Widya, Widya ditarik oleh salah satu pria dan disuruh untuk berjalan dengan keadaan diampit belakang depan oleh mereka. Saat berjalan Widya bisa merasakan bahwa pada bagian selangkangannya seperti tebal akan sesuatu, tak lain hal karna banyaknya cairan peju yang berada di dalamnya.

Saat dirinya berjalan bersama dengan keenam pria tersebut, ponsel Widya kembali bunyi. Saat dilihat ternyata panggilan dari ayah mertuanya.

“Masih macet, Wid? Ayah udah lama loh nunggu daritadi”, tanyanya.
“iya, pak. Ini Widya udah di terminal kok. Widya lagi jalan ke ruang tunggu. Sebentar lagi Widya sampai, yah”
“syukurlah, kalo gitu ayah tunggu ya, Wid”
“iya, yah”

Panggilan antara Widya dengan ayah mertuanya terputus. Sementara setelah Widya selesai dengan panggilannya, keenam pria tersebut tertawa.

“Hahaha…bu Widya memang nakal. Mertuanya datang bukannya dijemput malah disuruh nunggu sampe setengah jam lebih buat ngentot dulu sama enam kontol. Hahahah…”
“Mertuanya nunggu lama sampe kehausan. Bu Widya malah kenyang makan kontol sama peju kita. Bu Widya ke terminal buat jemput mertuanya, apa ke terminal mau nge’lonte sih? Hahaha…”

Tiba-tiba salah satu pria berujar ingin menemui ayah mertuanya dan berjalan, namun langsung Widya cegah dengan cepat.

“Bapak mau ngapain sih?”, tanya Widya kesal.

“udah, sekarang jemput mertua ibu itu sebelum kita ngaceng lagi terus gilir bu Widya sampe pagi. Kalo sampe kita gilir lagi juga jangan salahin kita kalo nanti bukan hanya 6 orang, bahkan bu Widya bisa digilir lebih banyak kontol lagi”, ucap salah satu pria sambil meremas kencang kedua payudaranya dari belakang.

“AAAKKKHHHH!!!”

“Makasih buat memeknya, bu Widya. Kalo lagi dekat terminal atau lewat depan terminal jangan lupa mampir. Nanti kita bikin bu Widya merasakan nikmat yang buat ibu melayang. Hahaha”

Widya mulai berjalan meninggalkan keenam pria tersebut menuju mertuanya yang sedang duduk menunggu sedari tadi di dalam ruang tunggu terminal. Sebelum dirinya berjalan terlaku jauh dari keenam pria tersebut, salah satu pria menampar keras pantat Widya dari balik celana yang dipakainya

PLAK!!!

“Bakal kangen gue sama ini pantat. Jaga baik-baik tubuh ibu jangan sampe sakit. Terutama toket, lubang pantat sama memek biar bisa kita garap bareng-bareng lagi”

“Semoga kontol kita bisa bertemu kembali dengan memekmu, bu Widya”

Widya rasanya ingin sekali menangis mendapatkan pelecehan sedemikian rupa kembali. Setelah dirinya benar-benar merasakan apa pelecehan itu. Semua lubangnya telah dipakai oleh 6 pria terminal. Dirinya sangat kesal, sangat benci. Tapi sebuah perasaan tak bisa berbohong bahwa dirinya menikmati setiap perlakuan kasar kontol mereka terhadap memeknya secara bergiliran hingga dirinya mendapatkan beberapa kali orgasme panjang yang sudah 2 tahun tak ia rasakan.

Widya marah, benci dan dirinya mengutuk para pria tersebut, tapi disisi lain ia menikmati setiap keluar masuknya kontol-kontol besar tersebut yang mengisi penuh lubang memeknya dengan kasar. Rasa merah, benci karna di anggap sebagai Pelacur oleh mereka pun juga membuat perasaan lain pada tubuhnya. Rasa menikmati saat dengan bergantian ataupun secara bersama menikmati lubangnya dengan kasar sambil dirinya diteriaki sebagai Pelacur, Lonte ataupun layaknya wanita murahan. Dirinya basah, dirinya bernafsu, dirinya terangsang dan dirinya orgasme menyemburkan cairan kewanitaannya.

“Apa yang terjadi dengan diriku ini? Ini pemerkosaan Widya, bahkan kamu dilecehkan dan di katai sebagai Lonte oleh mereka. Sadarlah Widya, sadar”, batin Widya mengatai dirinya sendiri sambil merasakan selangkangannya yang terisi penuh oleh cairan kental.

“tapi aku menikmatinya kembali”, lanjut Widya sambil terus berjalan ke arah ayah mertuanya.

Terasa pada saat jalan, bahwa pada bagian selangkangannya seperti penuh akan sesuatu yang tak lain adalah gumpalan peju yang memenuhi memeknya, menetes membasahi celana hitam yang ia pakai. Hanya saja waktu yang terjadi malam, sehingga hal tersebut tak menjadi perhatian orang-orang yang berada di dalam terminal. Namun, bisa dengan jelas setiap orang yang berpapasan dengannya bisa mencium dengan jelas aroma peju dari selangkangannya.

“Sshhhh….”, lirih Widya di sela jalannya.

.
.

Tak terlalu jauh Widya berjalan ke tempat ruang tunggu yang disediakan oleh pihak terminal, hingga ia bisa melihat sosok pria tua yang disebutnya sebagai “Ayah Mertua” tengah duduk di salah satu kursi panjang. Lekas Widya menghampiri sosok mertuanya tersebut dan langsung salim tangan dengannya.

“Maaf, yah Widya lama banget”
“Iya, iya gapapa. Yaudah langsung balik aja sekarang, Wid. Ayah mau cepat-cepat pengen ketemu cucu ayah”

Kembali Widya menggunakan jasa taksi sebagai sarana untuk dirinya pulang ke rumah bersama ayah mertuanya. Setelah semua barang yang dibawa sang mertua dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Mereka berdua duduk di bangku belakang dan menyampaikan tempat tujuan kepada sooir taksi tersebut.

Di dalam taksi yang sedang berjalan menelusuri jalanan malam, mertua Widya merasakan ada hal yang aneh di sekitarnya.

“Ini mobil kok bau peju sih?”, pikirnya dalam hati.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler