. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 6 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 6

0
577

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 6

Malam Penaklukan

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Memiliki anak Satu Bernama, Evan
-Memlunyai tubuh yang membuat lelaki saat melihatnya ingin menjamahnya

.
.

Sehabis menyiapkan masakan yang lumayan banyak pada hari itu, Widya berjalan ke arah sofa ruang tengah untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak dari rasa lelah yang sedikit ia rasakan. Dengan menyalakan televisi dan segelas minuman dingin di tangannya, Widya duduk. Karna badanya sedikit berkeringat, Widya membuka beberapa kancing atas baju daster yang ia pakai, berharap agar udara dapat masuk ke dalam pakaiannya.

Widya bersyukur bisa menikmati hidupnya secara normal lagi tanpa ada beban yang menindih bahunya. Terlepasnya pelaris dari tubuhnya membuat badan Widya merasa lebih enteng dan lebih bebas dari sebelumnya. Memang terdengar egois karna disaat dirinya sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, Widya langsung membuang apa yang selama ini membantunya keluar dari masalah, tapi mau bagaimana lagi itu memang salah.

Saat Widya tengah bersantai di ruang tengah menikmati rasa lelah yang mulai menghilang, ponsel Widya bunyi menandakan sebuah panggilan di layar ponselnya. Tertera jelas nama ayah mertuanya “Ayah Kasno” di sana. Dengan sigap Widya mengangkat panggilan yang masuk tersebut dengan sopan.

“Halo, yah”
“iya, Wid. Ini ayah udah di perjalanan, mungkin nanti malam ayah sampai di terminal”, ungkapnya pada Widya.
“Iya, yah. Nanti Widya suruh Evan buat jemput ayah sesampainya di terminal”
“Bagaimana kabar kami sama cucu kakek, Wid?”, tanya pak Kasno dari balik panggilan.
“Alhamdulillah Widya sehat, yah. Evan juga sehat, sekarang malah cucu kakek ini udah kuliah”

Cukup lama Widya mengobrol dengan mertuanya lewat telepon hingga dirinya menyudahi hal tersebut karna dirinya ingin membersihkan dirinya akibat badan yang dirasa mulai lengket oleh keringat sehabis memasak. Dengan langkah pelannya Widya berjalan ke arah kamarnya.

Di hadapan cermin lemari pakaiannya, Widya berkacak pinggang melihat lekuk tubuh dirinya sendiri sambil berpikir apakah sebegitu menariknya tubuh miliknya itu sampai-sampai banyak pria yang menggodanya secara halus maupun langsung secara kurang ajar. Ia tatap lekat sekujur tubuhnya sendiri dari ujung kaki hingga rambut secara perlahan. Dari hanya menatap tubuh sendiri sampai tangannya ikut bergerak menelusuri tubuh.

Saat berada di dada, Widya hentikan gerakan tangannya pada kedua buah daging kenyal miliknya itu. Menggunakan telapak tangannya ia pengang pelan payudaranya yang bagi pria pribadi merupakan hal pertama yang membuat terangsang sat melihatnya. Ia remas secara pelan sambil memandang tubuhnya sendiri ke arah cermin tepat diaman dirinya sedang meremas kedua payudaranya sendiri secara perlahan.

Widya buka pakaiannya hingga hanya menyisihkan Bra hitam dengan balutan celana dalam berwarna putih yang masih melekat pada tubuhnya. Terlihat dengan jelas pada kulit atas payudaranya terdapat beberapa titik merah yang disebabkan oleh seseorang.

Saat Widya melihat beberapa titik merah cupangan di kulit payudaranya yang mulus membuat pikiran Widya kembali terbang pada kejadian semalam saat dirinya dengan gampang jatuh pada kehangatan seorang pria kembali dengan mudahnya tanpa ada perlawanan berarti yang Widya lakukan pada perbuatan yang dilakukan oleh sang pria.

Tanpa sadar hal tersebut terus memenuhi pikirannya kembali membuat selangkangan Widya merasakan mulai basah dan nafsunya kembali meluap secara perlahan. Dengan cepat Widya melepaskan semua dalaman yang masih tersisa pada tubuhnya dan bergegas pergi masuk ke dalam kamar mandi. Saat di dalam kamar mandi, Widya duduk diatas Kloset dengan membuka kedua kakinya sendiri dan terpampanglah selangkangan yang terlihat basah. Menggunakan tangannya ia gosok secara perlahan namun terus meningkatkan ritmenya saat menggosok bibir memeknya beberapa menit. Merasa bosan dengan gerakan menggosok, Widya ubah menjadi memasukkan beberapa jarinya ke dalam lubang memeknya secara cepat, mengocok lubang tersebut mencari sebuah kepuasan dari jari-jarinya.

CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!!

“Ssshhhhh….ssshhhhh….pakk …sshhhhh….”

Entah siapa yang sedang dibayangkan oleh Widya di sela desahan masturbasinya itu. Desahan dan suara tusukan cepat jari di lubang memeknya memenuhi ruang kamar mandi tersebut. Gerakannya terus semakin bernafsu sambil membayangkan setiap genjotan dan tusukan yang ia peroleh oleh sebuah batang besar hitam milik seorang pria yang sudah tak asing lagi bagi Widya.

–Sebelumnya—

Waktu menunjukkan pukul 19.55 malam. Widya berada di ruang tengah sedang menonton acara sinetron yang tersaji di layar televisi. Seperti layaknya seorang ibu-ibu pada umumnya saat menonton sebuah sinetron pasti akan terbawa suasana dengan adegan yang diperlihatkan oleh para aktor tersebut. Di tengah gumaman kecilnya saat menonton, Evan turun dari kamarnya dan menemui sang mamah yang sedang bergumam kesal.

“kesal banget kayaknya sama sinetron, mah”, ucap Evan pada Widya.

Dengan muka masih terlihat kesal Widya menjawab, “lagian tokoh prianya bikin mamah kesel aja. Jadi pria kok gitu banget sih, kesel mamah jadinya”. Sementara Evan hanya tertawa kecik melihat mamahnya itu.

“eh, kamu mau kemana? Rapi banget”, tanya Widya melihat Evan terlihat rapi.
“Ini, mah Evan mau pergi sama Alice, mau Evan ajak jalan soalnya kasihan. Alice tadi bilang katanya kesepian di kosan, makanya Evan mau ajak jalan”, ungkap Evan.
“Yaudah, tapi jangan larut banget pulangnya”
“Iya, mah”, balas Evan sambil mencium tangan Widya untuk berpamitan dan langsung keluar.

Sudah lebih dari setengah jam setelah Evan keluar rumah, Widya masih setia di depan televisinya. Saat masih menikmati acara sinetron sebuah suara terdengar dari balik pintu utama, sebuah ketukan. Widya yang mendengar ada seseorang yang datang ke rumahnya langsung bangkit dari posisi duduknya berjalan ke arah pintu menemui orang tersebut.

“eh, pak Narto. Ada apa ya pak malam-malam ke rumah?”, tanya Widya saat mengetahui orang yang datang adalah seorang satpam di kompleksnya bernama pak Narto.

Sedikit penggambaran mengenai pak Narto. Pak Narto ini seorang pria tua berusia 60 tahunan yang mempunyai tubuh sedikit gemuk. Pak Narto sudah menjadi satpam di kompleks rumah Widya sudah sangat lama sebelum mempunyai anak dengan istrinya sampai sekarang yang sudah mempunyai 2 anak dengan beberapa cucu. Pria tersebut sangat sopan terhadap para penghuni kompleks termasuk pada Widya sendiri dan pak Narto juga seseorang yang dikenal sopan.

“Ini bu, saya tadi lagi keliling lihat kalo gerbang rumah terbuka terus lampu depan mati, saya yang takut terjadi apa-apa makanya saya datang buat memastikan”, ujar pak Narto.
“Oh iya pak, maaf. Mungkin tadi pas Evan keluar lupa buat tutup pintu gerbang lagi. Soal lampu depan mati juga karna lampunya memang sudah mati. Tadinya mau minta tolong sama Evan buat gantiin tapi saya juga lupa”, Ucap Widya dengan tersenyum kecil.
“Ohalah, takutnya tadi ada maling yang masuk terus bu Widya di apa-apain di dalam. Hehehe”

Tanpa Widya sadari, ternyata pak Narto memang memperhatikan Widya saat berucap tadi. Karna memang pak Narto seorang pria biasa jadi dia juga punya rasa tertarik dengan lawan jenis dan apalagi saat itu Widya memang sudah memakai baju tidur dengan bahan yang tipis dan beberapa kancing bajunya yang terbuka sedikit rendah sehingga bisa memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Sopan dan ramah, tapi bukan berarti pak Narto tak bisa menyembunyikan rasa terangsangnya. Dibalik celana hitam satpamnya sebuah batang besar sudah terasa mengeras ingin memberontak. Apalagi dirinya juga sudah 2 tahun tak pulang kampung menemui istri serta anaknya sehingga selama 2 tahun belakangan ini pak Narto sama sekali tak bisa menyalurkan rasa birahinya.

Sebenarnya bisa saja menyewa seorang wanita, tapi untuk hal tersebut pak Narto harus berpikir dua kali. Terlepas dari uang yang harus dikeluarkan, daripada untuk membayar seorang wanita lebih baik ia kasih uang tersebut untuk anak istrinya.

“Maaf, pak. Saya bisa minta tolong sekalian aja ga? Tolong buat pasangin lampu depan yang mati itu”, ucap Widya.
“bisa, bu. Sini biar bapak pasangkan”
“Maaf ya pak kalo saya ngerepotin bapak”
“Ga sama sekali kok, bu. Lagian saya kerja disini sebagai satpam buat jaga kompleks, saya juga siap bantuin penghuni kompleks yang butuh bantuan”, ucap pak Narto sambil tersenyum ramah seperti biasa.
“yaudah, kalo gitu saya masuk dulu ya, pak mau ambil lampunya”

Saat Widya berjalan, dengan jelas pak Narto bisa melihat pantat Widya yang hanya terbungkus celana panjang tipis bergerak ke kanan dan ke kiri. Di ambang pintu pak Narto memperbaiki letak posisi kontolnya yang terasa tak nyaman akibat tegang melihat lekuk tubuh Widya.

“Aduh pantat bu Widya bikin tambah ga tahan pengen manjain si batang ini”, ucap pak Narto melihat Widya yang semakin jauh masuk ke dalam sambil mengelus kontolnya yang sudah keras maksimal dari balik celananya.

.
.

Di depan gerbang rumah Widya, pak Narto telah selesai mengganti lampu yang mati. Sambil membawa tangga yang ia gunakan ke pekarangan rumah Widya, pak Narto ditawari minum oleh Widya sebagai rasa terima kasihnya karna sudah dibantu mengganti lampu. Pak Narto awalnya menolak secara halus karna memang dirinya harus melanjutkan kelilingnya kembali, tapi karna paksaan dati Widya yang merasa tak enak jika pak Narto menolak rasa terima kasinya, akhirnya pak Narto mau menuruti tawaran Widya dengan segelas kopi.

Pak Narto duduk di kursi santai teras rumah Widya sambil menunggu Widya membuatkan kopi untuknya. Saat tengah menunggu, pak Narto merasakan bahwa dirinya ingin kencing, dengan terpaksa pak Narto masuk ke dalam rumah dan menjumpai Widya di dapur yang tengah membuat kopi untuknya. Awalnya Widya kaget, tapi karna pak Narto mengutarakan niatnya masuk ke rumah untuk Numpang buang air kecil, akhirnya Widya menunjukkan kamar kecil yang tepat berada di dalam dapur.

CUURRR!!!!

Mengalir keluarlah cairan kencing pak Narto dari batang kontolnya yang masih sedikit tegang. Saat dirinya memperhatikan kontolnya sendiri, pak Narto kembali teringat akan Widya. Sehabis kencing, pak Narto tak langsung keluar dari dalam toilet. Untung bagi pak Narto, karna di pintu toilet terdapat ventilasi yang bisa ia gunakan untuk melihat ke arah luar. Dari lubang ventilasi tersebut pak Narto bisa melihat tubuh Widya yang tengah berdiri masih membuat kopi untuk dirinya.

Nafsu yang membelenggu selama 2 tahun ingin segera dikeluarkan oleh pak Narto. Ia pegang kontolnya yang sudah tegang kembali dan mulai mengocoknya sambil melihat tubuh Widya dari balik lubang tersebut. Hampir satu menit pak Narto mengocok kontolnya, tapi sama sekali belum ia rasakan akan segera keluar dan Widya sendiri berjalan keluar dari dapur sambil membawa segelas kopi di tangannya.

Dengan rasa khawatir bercampur nafsu pak Narto melanjutkan kocokkan pada kontolnya di dalam toilet. Terdengar Widya kembali masuk ke dapur sambil memanggil nama pak Narto sambil memberi tahu bahwa kopinya sudah siap. Sementara orang yang dipanggil Widya di dalam toilet tengah bermasturbasi dengan mengocok kontol besarnya dengan cepat. Mungkin karna nafsu sudah di ubun-ubun, tanpa pikir panjang pak Narto membuka Pintu toilet dan memperlihatkan dirinya tengah mengocok kontolnya di depan Widya. Widya yang melihatnya kaget dengan pemandangan yang pak Narto perlihatkan di depannya. Kontol besar, panjang berwarna hitam tengah dikocok dengan cepat.

“Bapak, ngapain?! Jangan kurang ajar, pak!”, bentak Widya pada pak Narto yang masih mengocok kontolnya.
“maaf, bu kalo saya kurang ajar. Saya mohon, bu…bantu saya, saya udah ga tahan lagi pengen keluarin peju saya, bu”, ucap pak Narto dengan vulgar pada Widya.

Dilihatnya oleh Widya kontol pak Narto yang besar, ia pandangi dengan teliti setiap gerakan tangan pak Narto saat mengocok. Entah kenapa Widya merasa seperti menjadi tak keberatan melihat tindakan pak Narto yang kurang ajar itu. Melihat kelakuan kelakuan kurang ajar dari satpam kompleksnya, Widya membalikkan badan dan berlari, tapi apa daya belum sempat berlari tubuhnya terlebih dahulu ditangkap oleh pak Narto dengan dipeluk dari belakang. Terasa jelas bahwa daging keras menekan pantatnya saat pria tersebut memeluk Widya dari belakang. Bahkan terasa jika kontol pak Narto bergerak menyentak ke arah selangkangan Widya dari balik celana tipis yang ia pakai.

Widya mencoba melakukan perlawanan dengan memberontak sekuat yang bisa ia lakukan, tapi tenaganya masih kalah. Tua bukan berarti tenaganya telah hilang, selain pak Narto seorang Satpam yang notabene harus punya stamina kuat, dia juga mempunyai tubuh yang lumayan gemuk sehingga hal tersebut bisa membuat Widya tak bisa melawan dengan banyak.

Perlawanan Widya berhasil ditangani oleh pak Narto. Setelah tubuh Widya terkunci oleh pelukannya, pak Narto mencium tengkuk leher Widya dari belakang. Tengkuk adalah salah satu titik sensitif yang Widya punya. Mendapat rangsangan di tengkuknya Widya sedikit tersentak dan merasakan geli saat diperlakukan seperti itu. Perlawanan masih Widya coba, namun ciuman pak Narto berpindah dari tengkuk kini merambat ke area belakang telinga. Bukan hanya ciuman, tapi ciuman tersebut berubah menjadi jilatan nafsu di daun telinganya dan sementara kedua tangan pak Narto digunakan untuk meremas kencang kedua payudara Widya dengan bernafsunya. Di remas dan dimainkan kedua payudaranya dari balik baju tidur tipis yang ia pakai.

“sshhhh….”, mendapat rangsangan seperti itu membuat Widya sedikit mulai mendesah.

Kedua tangan pak Narto masih bermain di kedua payudara Widya masih mencium dan menjilat bertambah dengan menggigit kecil daun telinga.

“Bu Widya ga usah melawan, tolong puaskan saya, bu. Ibu juga bak dapat kepuasan balik dari kontol saya. Kita saling memuaskan saja, bu. Saya tau ibu juga sebenarnya kangen dengan kontol selama ini”, ucap pak Narto tepat di telinga Widya. Hembusan nafas dari mulut pak Narto membuat sensasi tersendiri pada Widya. Tubuhnya merinding dan nafasnya mulai tersengal.

Tanpa menunggu jawaban yang Widya berikan, pak Narto menurunkan sedikit celana panjang tipis Widya beserta dengan celana dalam yang dipakainya sehingga kontol pak Narto yang sudah mengeras menempel tepat di bibir memek Widya. Di gesek-gesekan kontol tersebut yang membuat Widya makin membuat desahannya tak bisa ditahan lagi. Desahan yang Widya keluarkan membuat pak Narto makin bernafsu untuk menyetubuhi salah satu primadona di kompleksnya itu.

Widya merasakan bahwa ujung kepala kontol pak Narto ditempelkan di depan bibir memeknya langsung mulai memberontak kembali karna dirinya tau bahwa pria tua tersebut akan segera melakukan penetrasi. Apa yang dipikirkan oleh Widya ternyata benar, tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu pak Narto langsung menancap masuk kontolnya membelah memek Widya dengan keras. Mendapat serangan yang keras membuat Widya menjerit kesakitan karna dipaksa dengan keras dan cepat benda besar tersebut masuk ke dalam lubangnya.

“AAAKKKHHHH!!!”

“AAKLKKHHHHH….SEMPIT BANGET, BU. SSHHHH…”, racau pak Narto saat seluruh batang kontolnya berhasil masuk sepenuhnya mengisi memek Widya.

Pak Narto membiarkan sebentar kontolnya di dalam memek Widya, membiarkan lubang Widya sedikit beradaptasi dengan kontolnya yang besar itu.

“sudah lama saya ga merasakan memek, akhirnya saya bisa merasakan kembali dan memek itu punya bu Widya. Ssshhh…Makasih, bu”, ucap pak Narto memeluk tubuh Widya dari belakang dengan batang kontolnya yang sudah masuk.
“tolong cabut, pak. Ini salah. Saya mohon, pak jangan lakukan ini sama saya”, iba Widya.
“Cabut? Maksudnya seperti ini?”

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

Pak Narto langsung menggerakkan keluar masuk kontolnya di dalam memek Widya dengan tempo pelan namun kuat. Sekarang terlihatlah sosok Widya yang sedikit menungging dengan tangannya bertumpu pada ujung wastafel tengah di Setubuhi oleh pak Narto satpam kompleksnya.

BRET!!!

Di buka dengan paksa oleh pak Narto baju tidur yang dipakai oleh Widya sampai semua kancing bajunya copot berjatuhan ke lantai dapur. Baju tidurnya yang sudah terbuka memperlihatkan Bra putih yang dipakai oleh Widya, namun karna posisi pak Narto di belakang jadinya ia tak bisa melihat Bra yang dipakai oleh Widya. Sekarang dengan gerakan selanjutnya, pak Narto membetot bagian depan Bra Widya sampai putus sehingga kedua payudaranya tergantung dengan bebas di posisi menunggingnya. Kedua payudara mulus yang ikut bergoyang oleh pompaan kontol pak Narto di memeknya.

Di remasnya payudara Widya dari belakang dengan gemas sambil terus menumbuk selangkangan Widya dengan kuat. Pak Narto sedikit membukukan badanya condong ke depan. Menggunakan satu tangannya, pak Narto menyuruh kepala Widya untuk mendekat ke arahnya dan memalingkan wajahnya pak Narto langsung melumat bibir seksi Widya dengan kasar. Bunyi khas ciuman terdengar menambah riuh dari suara selangkangan pak Narto yang bertubrukan demgan kulit pantat Widya.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Di dalam hati pak Narto tersenyum dengan apa yang Widya tunjukan untuknya, dimana Widya kini mulai membalas lumatan kasar pak Narto dengan sendirinya. Tadinya yang dipaksa, kini Widya mulai menikmati hal tersebut karna memang dari Widya sendiri sebenarnya sudah sangat menginginkan sebuah batang kontol untuk memuaskan nafsunya kembali. Entah kenapa setelah dirinya di garap beberapa pria di dalam bus duku serta pas masih melakukan ritual bulanan bersama mbah Mitro, dirinya mulai menyukai apa yang namanya bersetubuh dan apa yang namanya kenikmatan dari batang-batang kontol yang mengisi lubang memeknya.

“Ssshhh….kita tutup pintu dulu, bu. Takutnya ada yang curiga”, ucap pak Narto di sela lumatan mereka. Widya hanya mengangguk dan berniat berdiri, namun oleh pak Narto ditahan.
“Ga usah, bu. Kita ke depan sambil kontol saya tetap genjot memek bu Widya”, ucapan pak Narto membuat Widya kaget dan menggeleng pelan di sela kenikmatan yang diperoleh dari sodokan kontol besar pak Narto.
“Jangan, pak. Ssshhh…saya takut”

“Udah gapapa, bu. Bu Widya ga usah takut. Ssshhh…ayo jalan!”

PLAK!!!

Pak Narto menampar sebelah pantat Widya lumayan keras hingga terdengar jeritan kecil yang keluar dati mulut Widya. Widya yang sudah lama menanti rasa kontol seorang pria hanya bisa menuruti apa yang pak Narto ucapkan. Dengan masih disodok dari belakang, Widya berjalan pelan sedikit menungging ke arah pintu depan. Untuk berjalan saja bagi Widya susah apalagi dalam posisi dirinya sedang disetubuhi dari belakang. Sesekali mendapat tamparan pada pantatnya oleh pak Narto.

Sedikit demi sedikit Widya berjalan ke arah pintu depan yang masih terbuka dengan pak Narto yang tengah menyodok memeknya dari belakang tanpa peduli. Setelah berjuang lumayan susah, Widya dan pak Narto sudah ada di depan pintu, namun bukannya menutup pintu, pak Narto menyodok keras kontolnya supaya Widya tetap berjalan ke teras rumah. Pak Narto mencabut kontolnya yang sudah basah oleh lendir kewanitaan Widya dan duduk di kursi teras. Widya yang tak tau apa yang akan dilakukan oleh pak Narto masih berdiri setengah badan dalam kondisi sedikit menungging yang memperlihatkan selangkangkannya tepat di depan pak Narto yang sudah duduk dibelakangnya.

“emut kontol saya, bu. Saya pengen merasakan lembutnya mulut bu Widya yang manis itu”, ucap pak Narto menyuruh badan Widya untuk bersimpuh di depan selangkangannya.

Widya yang sudah berada di depan selangkangan pak Narto hanya melihat dengan tatapan nafsu bercampur takut. Pak Narto yang mengetahui perasaan Widya saat itu memegang kedua pipi Widya sambil mengusap pelan.

“Gapapa, bu. Ga bakal ada yang lihat kelakuan kita disini. Ayo masukan kontol saya ke mulut bu Widya”, ucapan dan usapan pak Narto di pipinya membuat Widya merasa lebih santai kembali.

“ayo, bu emut”, sambung pak Narto sambil memukulkan pelan kontolnya di bibir Widya.

Seperti seseorang yang sudah mahir soal memuaskan pria. Pertama Widya menjilati batang kontol pak Narto dari pangkal bawah sampai ke ujung kepala kontol pak Narto dan diulangi beberapa kali. Dilanjutkan dengan Widya memainkan lidahnya tepat di kepala kontol pak Narto sebelum memasukkan keseluruhannya ke dalam mulutnya. Pak Narto yang mendapat servis gratis dari Widya hanya bisa merem melek menikmati setiap rasa nikmat yang menyerang kontolnya itu sambil sesekali meminum kopinya.

Di pegang dan di elusnya kepala Widya dengan lembut di setiap gerakan kepala Widya yang tengah bekerja mengulum serta menyedot kencang kontolnya di dalam mulut Widya. Rasa nikmat yang baru pertama kali di rasakan oleh Narto sungguh sangat tak bisa dibendung lagi karna hal itu memang pengalaman pertama pak Narto di servis oleh mulut perempuan. Selama menikah dengan istrinya, istrinya itu sama sekali tak pernah dan tak mau namanya oral seks dengan berasalan jijik. Jadi ini salah satu keberuntungan terbesar bagi pak Narto sendiri yang bisa merasakan apa yang namanya dan apa rasanya di oral itu.

Dibantunya kepala Widya untuk lebih cepat lagi bergerak mengocok selangkangkannya sampai hidung Widya beberapa kali menyentuh hingga mentok mengenai rambut kemaluannya.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“Sshhhhh….enak banget, bu”, racau pak Narto menikmati mulut Widya.
“Gugah yaghh paghh…”, ucap Widya tak jelas di tengah kulumannya.
“Sudah? Yaudah kalo gitu kita masuk, bu”, pak Narto membantu Widya untuk berdiri, tapi bukan berjalan biasa, namun pak Narto kembali menunggingkan tubuh Widya dan memasukkan kembali kontolnya ke dalam lubang memek Widya dan menggenjotnya. Sambil di genjot kembali, pak Narto menuntun pelan Widya untuk berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu serta menguncinya.

Setibanya di sofa ruang tengah, pak Narto memompa selangkangan Widya menambah sedikit ritmenya. Widya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan menikmati setiap inci batang kontol pak Narto yang menggesek rongga memeknya dan setiap sodokan yang mengenai bagian dalam membuat Widya mengerah nikmat.

PLOP!!!

“pak, kok dicabut?”, tanya Widya bingung dalam keadaan kentang.
“Bu Widya, saya boleh masukin ke lubang yang ini ga?”, tanya pak Narto sambil mengusap pelan lubang pantat Widya.
“Jangan disitu, pak saya mohon. Punya bapak terlalu besar untuk masuk ke lubang pantat saya”
“jangan takut, bu. Awalnya saja yang sakit, nanti ibu juga bakal merasakan nikmat yang berlipat. Mau ya? Nanti bapak kasih yang nikmat yang lebih lagi”

Widya diam berpikir, namun saat dalam diamnya pak Narto mulai melakukan penetrasi pada lubang pantat Widya yang membuat Widya sendiri mengerang kesakitan dan mencoba untuk memberontak. Hal tersebut bukan pertama kalinya bagi Widya, jika di flashback pantat Widya sebelumnya juga sudah pernah di perawani oleh mbah Mitro, tapi masalahnya ukuran antara milik mbah Mitro dengan milik pak Narto terdapat perbedaan, dimana milik pak Narto lebih besar.

Setiap inci bayang kontol pak Narto yang mencoba masuk ke dalam lubang pantat Widya membuatnya merasakan sakit sambil meremas kencang ujung sofa yang digunakan sebagai tumpuannya. Rasa sakit yang diterima membuat Widya mengerang cukup keras, hal tersebut membuat pak Narto bertindak dengan menutup mulut Widya dengan tangannya supaya tak terlalu keras suaranya.

“lemasin, bu. Lemasin biar ga terlalu sakit”, ucap pak Narto terus menekan kontolnya untuk masuk.

Widya hanya menggeleng cepat merasakan rasa sakit yang ada di pantatnya. Rasanya Widya ingin berteriak sekeras mungkin dan rasanya ingin menangis karna rasa sakit tersebut. Rasanya lubang pantat miliknya yang sempit tengah dipaksa untuk terbuka dengan lebar dari ukuran biasanya sampai seperti mau robek. Mengetahui bahwa Widya terlalu mendapat banyak rasa sakit, pak Narto menghentikan sejenak proses penetrasinya pada pantat Widya. Pak Narto belai lembut pipi Widya dan ternyata sudah mengalir air mata disana.

CUP!!!

Diciumnya pipi Widya dengan lembut mencoba menenangkan. Sambil terus menjaga agar batang kontolnya yang terdiam supaya tak terlepas kembali, pak Narto memeluk leher Widya sehingga posisi Widya menungging sedikit berdiri ke arah belakang. Justru hak tersebut membuat rasa sakit yang Widya alami bertambah karna kontol pak Narto makin menancap masuk ke dalam pantatnya. Seperti tak mau melepaskan Widya, pak Narto tetap memeluk Widya yang kini berganti dari leher ke tubuhnya yang dipeluk. Sambil memeluk, pak Narto menekan masuk kembali kontolnya dengan sedikit memaksa.

“AAAKKKHHHH……PELAANNNN…..AAAKKKKHHHH!!!”, erang Widya di tengah proses penetrasi secara paksa oleh pak Narto pada lubang pantatnya.

“jangan tegang, bu. Lemasin badan ibu supaya enak. Lemas dan jangan coba buat dilawan kalo ibu ga mau terlalu merasa sakit”, ucap pak Narto mencoba memberi arahan.
“nah iya kaya gitu, bu. Lemasin aja”, sambungnya.

Secara perlahan kontol pak Narto masuk menembus sempitnya lubang pantat Widya yang sebenarnya sudah tak perawan lagi. Demgan gerakan terakhir, pak Narto menekan masuk kontolnya dengan keras hingga masuk seluruhnya dan hal tersebut membuat Widya menjerit keras, sementara pak Narto hanya tersenyum puas karna berhasil menjebol lubang pantat Widya yang ia kira masih perawan itu. Dirinya merasa bangga karna bisa memerawani pantat Widya yang berisi itu.

Dengan cara menampar pantat Widya pak Narto mencoba mengekspresikan rasa puas serta rasa semangnya karna bisa menikmati pantat Widya. Lagi-lagi Widya hanya bisa menjerit oleh perlakuan yang diberikan oleh pak Narto terhadap tubuh montoknya itu.

“Akhirnya masuk juga, bu. Ternyata enak banget pantat bu Widya ini, kontol saya rasanya di remas dengan keras sama pantat ibu”, ucap pak Narto.
“ss…saakkittt, paakkk…ssshhhhh…”
“Hanya sebentar, bu. Tahan, nanti juga bu Widya bakal keenakan”
“Saya mulai gerakin ya, bu”, lanjut pak Narto.

Hanya gerakan kecil pantat pak Narto saja membuat Widya mengerang, tapi pak Narto yang sudah sangat bernafsu tetap melanjutkan gerakan kontolnya keluar masuk mengocok lubang pantat Widya. Setiap gerakan yang dilakukan menimbulkan rasa nikmat yang sangat hebat, sebaliknya dengan apa yang Widya rasakan hanya rasa sakit yang menyerang.

Sudah lewat beberapa menit saat pak Narto memompa lubang pantat Widya dengan ritmenya sendiri yang kadang naik turun. Widya mulai bisa ikut menikmati persetubuhan yang terjadi terhadapnya itu. Widya mulai mengeluarkan desahan nikmat dan bukan lagi sebuah erangan sakit yang sedari tadi ia keluarkan. Dengan perlahan Widya mulai menunjukkan balasan atas gerakan pak Narto dengan cara ikut menggerakkan pantatnya maju mundur menyambut setiap pompaan kontol pak Narto yang menabrak kulit pantatnya.

“Ssshh….ssshhh….pak”
“Udah mulai enak sekarang kan, bu? Ini baru permulaan, saya bakal buat ibu puas”

Pak Narto yang sekarang bisa menggerakkan laju keluar masuk kontolnya tanpa hambatan terus saja memompa pantat Widya dengan leluasa. Gerakan maju mundur dengan kombinasi tamparan kecil di kedua sisi pantat Widya secara bergantian. Hal tersebut membuat nilai plus bagi Widya sendiri, karna perlakuan yang pak Narto berikan membawa nikmat yang menyalurkan ke seluruh tubuhnya, hingga dirinya merasa akan mencapai orgasme pertamanya dengan waktu yang lumayan cepat.

“Aaaakkkkhhh. Keluar pakk…Aakkkhhhh”, erang Widya saat orgasme pertama di dapatnya.

Saat gelombang orgasme pertama Widya jebol, terlihat oleh pak Narto bahwa cairan kewanitaan Widya menyembur keluar membasahi kedua paha serta kakinya yang jatuh juga ke atas karpet sampai mencetak lumayan besar tanda basah disana. Cairan yang keluar demgan bebas dari lubang memek Widya sungguh hangat di rasa oleh pak Narto.

Pak Narto untungnya memberi kesempatan pada Widya untuk menikmati gelombang orgasme yang tengah dialaminya dengan memberhentikan gerakan keluar masuk kontolnya. Baik pak Narto sendiri saat diam menunggu selesainya orgasme yang Widya alami, pak Narto merasakan betul bahwa batang kontolnya serasa di pijat dari dalam pantat Widya yang tengah berkedut menikmati orgasmenya. Sambil meremas kedua payudara Widya yang menggantung dengan bebas, pak Narto mencium punggung Widya yang masih mengenakan baju tidur tipisnya. Gerakan tangannya pada payudara Widya benar-benar gemas dan beberapa kali memainkan putingnya saat menunggu Widya yang siap untuk di genjot kembali.

Beberapa saat akhirnya gelombang orgasme Widya telah surut, dengan gerakan yang perlahan pak Narto mulai menggerakkan kembali kontolnya keluar masuk di dalam lubang sempit milik Widya yang sudah mulai terbiasa menampung batang besar itu di dalam lubang pantatnya Tanpa ada halangan yang terlalu berarti, kini kontol pak Narto bisa dengan leluasa masuk dan keluar memompa Widya.

“Aaaakkkkhhh…enak banget memeknya, bu. Ssshhh…saya mau kalo disuruh buat nikahin bu Widya. Aakkkhhhh…”
“teruuss pak…teruss…lebih kencang lagi. Ssshhh….oowwsshhhh… Enak, paakkk…”, racau Widya di tengah nafsunya yang mulai bangkit kembali oleh sodokan nikmat kontol pak paakkk

“enak, bu?”, tanya pak Narto disela genjotannya pada pantat Widya. Di tanya seperti itu Widya hanya bisa mengangguk dengan apa yang tengah ia rasakan.
“Bu Widya mau saya bikin lebih enak lagi, ga? Aakkkhhhh…sempitnya, bu…”
“Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….gimana…pak…sshhhh….saya mau….Aakkkhhhh….”

Pak Narto mengambil sesuatu dari celana yang masih dipakai olehnya. Ternyata tongkat satpam yang biasa ia bawa kemana-mana saat bertugas. Sementara Widya tak tau apa yang sedang dipegang oleh pak Narto dan juga tak tau apa yang akan dilakukan oleh pria tersebut terhadap dirinya.

Dengan sedikit menurunkan ritme genjotannya, pak Narto mengarahkan ujung tongkat tersebut ke arah bibir memek Widya yang sudah basah kuyup oleh cairan kewanitaannya sendiri. Widya yang sudah terlalu larut dengan kenikmatan yang tersaji untuknya tak sadar bahwa dibelakang sana, tepat di depan bibir memeknya sudah ada tongkat satpam yang siap untuk menyumpal memeknya.

Saat tongkat tersebut tertempel di bibir memek Widya, Widya baru menyadari hal tersebut karna rasa dingin dari tongkat tersebut. Dengan bertanya bingung dan khawatir Widya mencoba untuk memberontak, tapi lagi-lagi Widya bisa di taklukan dengan mudah oleh ulah yang pak Narto berikan.

Saat Widya mencoba untuk memberontak dalam posisi menunggingnya, pak Narto dengan cepat mendorong masuk tongkat satpamnya hingga terbenam sepenuhnya menyumpal memek Widya yang menganggur. Sekilas terdengar erangan panjang dari mulut Widya saat tongkat tersebut telah masuk. Sambil tersenyum menang pak Narto menggerakkan tongkat tersebut yang terdapat seperti tonjolan-tonjolan keluar masuk menggesek setiap dinding memek Widya. Pak Narto bukan hanya menggerakkan tongkat tersebut di memek Widya, namun dirinya juga menggerakkan kontolnya yang terlebih dahulu mengisi lubang pantat Widya dan dengan begitu kini Widya telah diserang dari dua arah lubangnya. Lubang memek terdapat tongkat, sementara lubang pantatnya terdapat kontol pak Narto.

“oowwsshhhh….paakkk…eennnaakkkk…ssshhh…terus pak, terusss….Aakkkhhhh…”
“Hahaha…ssshhh….siap, bu. Bapak bakal buat bu Widya kelojotan malam ini. Bu Widya harus layani saya. Ssshhhhh….nikmat betul ini memek. Ssshhhhh….”, racau pak Narto fokus menggerakkan maju mundur pantat serta tangannya di kedua lubang milik Widya yang tengah dimainkan olehnya itu.
“bu Widya baru pertama kali kan dua lubangnya penuh begini? Bu Widya beruntung bisa merasakan nikmat seperti ini, bu. Ssshhh…”

“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh…enggak ..enggak, pak…sayahhh sudahh pernagghhh…Aakkkhhhh…”, ujar Widya dengan memberi tahu bahwa hal tersebut bukan pertama kalinya dirasakan karna memang sebelumnya sudah beberapa kali dipakai secara bersamaan kedua lubangnya, malah bukan dua, pernah tiga lubang sekaligus.

Jawaban yang Widya berikan membuat pak Narto kaget karna dirinya tak menyangka bahwa sosok Widya yang ia tau sebagai wanita baik-baik ternyata sudah pernah di pakai kedua lubangnya secara sekaligus. Mendengar fakta tersebut membuat pak Narto makin bernafsu pada Widya. Ditongkatkannya ritme genjotan pada pantat Widya dan kocokkan tongkat pada memek Widya dihentikan. Tongkat tersebut dibiarkan oleh pak Narto tetap tertancap diam disana. Sedangkan pak Narto lebih memilih menggenjot pantat Widya yang sudah membuatnya bertambah nafsu.

“bu Widya sudah pernah ngentot sama orang lain? Aakkkhhhh….sama siapa, bu?”, tanya pak Narto disela genjotannya.

“sama…Aaaakkkkhhh…sama sopir bus, kernet bus sama beberapa…ssshhh….penumpangnya juga. Aakkkhhhh…”, balas Widya jujur karna tak bisa berpikir jernih akibat nafsu dan rasa nikmat yang tengah melandanya.
“Bu Widya nakal ternyata. Saya taunya ibu orang baik-baik, ssshhh….ternyata bu Widya Lonte juga yang bisa dipakai”
“sudah berapa pria yang pake memek ibu, hah?! Ssshhh….Aaaakkkkhhh….”, gemas pak Narto demgan menggenjot keras pantat Widya.

“AAAKKKHHH!!!! AAKKKHHHH!!!!”

PLAK!!! PLAK!!!

Mendengar Widya hanya mengerang, pak Narto menjadi semakin gemas demgan Widya sehingga beberapa tamparan kembali mendarat di pantat Widya sampai memerah.

“Aaaakkkkhhh…iyaaa…iyaa….sshhhhh…tujuh orang. Sshhhhh… Delapan sama bapak. Aaaakkkkhhh…”
“Lonte kamu, bu. Aakkkhhhh…tapi saya suka kalo ibu nakal seperti itu. Ssshhhhh…jadi saya ga harus keluar duit buat bayar Lonte di luar sana. Aakkkhhhh…saya tinggal pake memek bu Widya ini yang gratis. Aakkkhhhh…ssshhh…enak banget, bu. Sshhhhh…”
“Saya dipaksa, pak. Ssshhhhh… Saya bulan Lonte kaya yang bapak pikirkan. Aakkkhhhh…”, ucap Widya di tengah genjotan keras kontol pak Narto sambil menggelengkan kepala.

“apa bedanya dengan sekarang, bu? Bu Widya juga saya paksa kan? Tapi sekarang ibu malah menikmati. Berarti sebelumnya ibu juga menikmati. Itu tandanya bu Widya memang Lonte. Ssshhhhh…Aakkkhhhh….”
“bukan, pak. Aakkkhhhh…ssshhhhh…”
“Munafik kamu, bu. Rasakan kontol saya ini. Ssshhh….rasakan, bu!!!”

Genjotan kontol pak Narto makin bertenaga pada pantat Widya. Kedua buah payudaranya yang tergantung bebas tak luput bergerak akibat sodokan tersebut. Saat Widya tengah mendesah dan mengerang, rambutnya panjangnya dijambak dari belakang oleh pak Narto sebagai tali kekangnya saat menikmati sempitnya lubang pantat Widya. Ia tarik lumayan keras rambut Widya hingga kini posisinya sejajar dengan tubuh pak Narto. Sementara satu tangannya meremas keras payudara Widya. Dalam keadaan setengah berdiri diatas sofa, tubuh Widya terlonjak ke depan mengikuti setiap dorongan pantat pak Narto pada pantatnya.

Puas dalam posisi tersebut, pak Narto melepas kembali jambakan pada rambut Widya dan mencabut kontolnya dari lubang pantat Widya. Kemudian tongkat satpam miliknya yang masih tertancap kokoh di dalam lubang memek Widya dicabut dengan cepat yang langsung digantikan dengan dorongan keras kontolnya memasuki memek Widya yang sudah sangat basah itu. Tanpa ada ancang-ancang, pak Narto kembali menggenjot Widya dengan ritme yang cepat dan bertenaga.

Sementara Widya yang seperti tak dikasih waktu untuk bernafas dengan bebas karna langsung digenjot kembali oleh pak Narto, Widya hanya bisa mengerang serta mendesah nikmat dari sodokan kontol pak Narto yang kini berganti di dalam lubang memeknya.

“Oowwsshhhh….pak…terus pak, lebih keras lagi. Sshhhhh…ya seperti itu, pak. Teruss….aakkhh…”, racau Widya makin liar.
“ibu suka dientot kontol besar? Ibu suka dikasari kaya gini?”
“Iya…iya saya suka pak. Terus pak. Ssshhh…teruussss….”
“istri bapak ga pernah mau di entot kasar kaya gini, akhirnya bapak bisa juga ngentot kasar. Ternyata nikmat banget, bu. Sshhhh….”
“Iya, pak. Anggap saja untuk sekarang saya istri bapak yang kedua. Ssshhh…saya istri selingkuhan bapak…silahkan entot saya yang kasar, pak. Saya suka….Aakkkhhhh….”
“bapak juga pengen ngentotin istri yang lagi hamil, bu. Sshhhhh…apa bu Widya siap saya bikin hamil, terus pas….pas bu Widya hamil saya bakal bapak tampar perutnya pake kontol besar bapak ini. Aakkkhhhh…sshhhhh…”
“iya, pak…buat Widya hamil, hamilin Widya. Aakkkhhhh…tampar Widya pake kontol bapak. Aakkkhhhh…enakkk, pakk…ssshhh…”

Pak Narto membalikkan tubuh Widya untuk berbaring mengangkang di atas sofa. Dengan nafsunya pak Narto menjilati memek Widya yang sudah sangat basah itu dengan lahap. Bibir memek Widya dibuka oleh jari pak Narto dan lidahnya masuk bermain di dalam sana menyedot cairan kewanitaan Widya. Sementara tangannya satunya tengah di kulum jari-jarinya oleh mulut Widya. Sedotan mulut pak Narto pada memek Widya makin beringas, bahkan sesekali wajahnya ia uselkan ke dalam memek Widya hingga wajahnya basar oleh air ludahnya sendiri yang bercampur dengan sisa cairan kewanitaan Widya.

Mungkin karna sudah dua tahun pak Narto tak merasakan tubuh perempuan makanya dia saat diberi kesempatan untuk menikmati setiap inci tubuh Widya, ia manfaatkan dengan sebaik mungkin dan semua nafsunya yang ia tahan selama ini, ia lampiaskan pada Widya. Wanita cantik dengan tubuh yang menggairahkan dan seorang ibu rumah tangga yang dikenal baik dan ramah tengah memacu birahi bersama pria tua yang lebih tepat seperti ayahnya sendiri. Dengan pasrah dan menikmati, Widya memberikan tubuhnya untuk di nikmati oleh pria tersebut.

“Saya coblos memeknya lagi ya, bu”, ucap pak Narto menyudahi aktivitasnya dan mengambil posisi diantara kedua kaki Widya dengan kontolnya yang besar bersiap menggenjot memek Widya kembali. Widya hanya mengangguk lemas dalam tatapan sayu.

BLES!!!

Hanya dalam satu sentakan keras, kontol pak Narto kembali memenuhi lubang memek Widya yang sudah sangat siap untuk menerima gempuran benda besar tersebut.

“AAKKKHHH!!!”, lenguhan keras baik dari pak Narto maupun Widya saat kedua kelamin mereka kembali bersatu secara utuh.

Dilumatnya bibir Widya dengan bernafsu sambil menggerakkan pantatnya naik turun menumbuk keras selangkangan Widya. Widya membalas setiap lumatan yang pak Narto berikan, bahkan lidah keduanya saling membelit satu sama lain. Posisi Widya yang mengangkang tengah ditindih oleh pak Narto dengan pantatnya bergerak naik turun menumbuk selangkangannya, Widya mulai membantu melepaskan seragam satpam yang di pakai oleh pak Narto sambil bibir mereka terus melumat. Sementara pak Narto mencoba melepaskan sendiri celana yang masih dipakainya itu karna ia juga tau bahwa resleting celananya pasti membuat Widya sedikit sakit.

Terlihatlah kini tubuh telanjang seorang pria tua yang tengah menindih seorang wanita dibawahnya yang tengah pasrah menerima setiap sodokan yang diberikan.

“bapak bakal bikin bu Widya puas sama kontol ini. Bu Widya dijamin sampe muncrat berkali-kali”, ucap pak Narto sambil menatap wajah nafsu Widya.

Melihat kedua payudara yang menganggur, tangan pak Narto langsung memainkan dengan meremas keras dan juga memainkan kedua putingnya. Dari sekedar remasan, kini mulut pak Narto melumat kedua payudara Widya secara bergantian. Disedot kedua puting tersebut dengan kuat berharap kuatnya sedotan pak Narto bisa membuat payudara tersebut mengeluarkan air asinya. Namun hal itu tak mungkin, ia harus membuat Widya hamik terlebih dahulu jika ingin payudara tersebut bisa mengeluarkan asinya.

“Aakkkhhhh…nikmat banget memekmu, bu. Saya bisa ketagihan kalo begini caranya. Sshhhh….”, ucap pak Narto di tengah genjotannya.
“penis bapak juga enak. Saya… Saya sukahh…”
“kontol, bu namanya bukan penis. Coba katakan, bu apa namanya terus bu Widya lagi apa sekarang. Kalo bu Widya ga mau, saya bakal hentikan”

“jangan, pak. Aakkkhhhh….iya, namanya kontol. Ssshhh…memek…memek saya lagi di genjot sama kontol besar pak Narto. Kontolnya enak banget di dalam memek saya. Ssshhhhh….terus pak…terus entot saya yang keras. Aakkkhhhh….Aaaakkkkhhh….”
“Bagus istriku. Bagguuss…ssshhhhh…tenang saja, bapak bakal entotin bu Widya terus. Oowwsshhhh…..sshhhhh….”
“Iyaaahhh…. Widya istri pak Narto. Aaaakkkkhhh….puaskan istrimu ini, pak. Puaskanlah….sshhhh….”

Cukup lama pak Narto bertahan di posisi tersebut saat menyetubuhi Widya. Hingga dirinya merasa bosan dan ingin mencoba variasi yang kain. Pak Narto mengangkat tubuh Widya ke dalam pelukannya dengan masih tertancapnya kontol tersebut di memek Widya.

Dalam posisinya menggendong depan Widya, pak Narto berjalan ke arah dapur dan mengambil kain yang biasa untuk mengelap piring basah. Di dudukannya Widya di diatas wastafel tempat cuci piring dan kain yang diambilnya tadi, pak Narto gunakan untuk menutup mulut Widya. Setelah mulutnya sudah rapat di tutup menggunakan kain tersebut, pak Narto mengangkat kembali tubuh Widya ke dalam gendongannya.

Kala itu Widya sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh pak Narto terhadapnya karna Widya selalu bisa menikmati setiap perlakuan yang pak Narto berikan kepadanya.

“Saya pengen ngentotin ibu di halaman samping rumah”, ucap pak Narto sambil membuka pintu yang ada di dapur, sebuah pintu yang menghubungkan langsung pada halaman samping rumah tempat biasa Widya menjemur pakaian.

Di letakanlah tubuh Widya yang masih menggunakan baju dan Bra, ya walau bajunya telah terbuka semua kancingnya dan Branya pun tak lagi menutupi kedua payudaranya. Diatas rumput tersebut tubuh Widya di baringkan dengan posisi kedua kakinya mengangkang dengan lebar. Sementara pak Narto memandangi sosok Widya dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa fantasinya selama ini untuk bersetubuh dengan istrinya di tempat terbuka bakal terwujud dan walau bukan istri sahnya, melainkan sosok Widya yang dianggapnya sebagai istri tersebut.

“lihat, bu. Sekarang kita ada di halaman samping rumah ibu. Apa kata tetangga kalo mereka lihat bu Widya tengah melayani pria tua seperti saya”, ucap pak Narto mencoba menambah panas suasana yang dimana posisi mereka terhalang oleh dinding tinggi, namun yang patut di waspadai adalah dari arah depan. Karna posisi mereka langsung mengarah ke jalan, hanya tertutup oleh tembok tak terlalu tinggi dan di tembok tersebut terdapat banyak lubang khas perumahan.

“Udah gapapa, bu. Biar kalo ada yang lihat, sekalian saya mau kasih tau kalo bu Widya sekarang istri saya yang siap melayani saya kapanpun”, ucap pak Narto menjawab kekhawatiran yang ditunjukkan oleh wajah Widya, ya karna mulut Widya di tutup menggunakan kain sehingga Widya tak bisa bersuara.

SLURP!!! SLURP!!!

Pak Narto langsung melumat puting Widya dengan bernafsu sambil meremas kuat kedua payudaranya. Beberapa saat, pak Narto mulai menggerakkan naik turun kembali pantatnya pada selangkangan Widya. Gerakan pak Narto langsung berada di kecepatan tinggi sehingga tubuh Widya langsung ikut terlonjak kesana kemari setiap sodokan keras yang pak Narto berikan pada selangkangkannya.

“Aaaakkkkhhh….nikmat banget, bu ngentot di tempat terbuka kaya gini. Ssshhh….apalagi ngentotnya sama janda kaya bu Widya ini”, racau pak Narto dengan nada suara yang tak terlalu keras.

Baru beberapa saat setelah pak Narto mulai menggenjot Widya kembali. Ternyata Widya mulai merasakan bahwa dirinya akan segera mendapat orgasme untuk yang kedua kalinya dengan memberi tanda lewat dinding memeknya yang mulai meremas kontol pak Narto dengan keras. Pak Narto yang mengetahui hal tersebut tetap menggenjot memek Widya dengan cepat membantu wanitanya itu untuk meraih kehikmatannya kembali.

Beberapa sodokan keras yang pak Narto berikan mampu mengantarkan Widya pada puncak orgasme keduanya itu. Di balik kain uang menutup mulutnya, Widya melolong dengan panjang menikmati orgasme yang terasa sangat nikmat itu. Tubuhnya bergetar hebat serta tangannya meremas kedua payudaranya sendiri dengan keras sehingga mengakibatkan warna kemerahan disana. Rasa nikmat yang membuatnya melayang bisa di rasakan kembali lewat pak Narto. Setelah sebelumnya rasa nikmat tersebut hanya bisa di dapatkan saat dirinya digilir saat perjalanan di bus malam dulu.

Merasa bahwa pak Narto juga akan mencapai orgasmenya, ia sama sekali tak menghentikan genjotan kontolnya di dalam memek Widya yang masih mengalami orgasmenya. Dengan cepat dan bertenaga pak Narto terus menumbuk selangkangan Widya dengan bernafsu. Nafasnya memburu dan keringat mengucur deras dari pori-pori kulitnya.

Dipeluknya kedua kaki Widya yang masih bergetar dan ditenggangkan kembali, terus di peluknya lagi, di renggangkan kembali. Beberapa kali pak Narto terus mengulang hal tersebut, sampai akhirnya dirinya menindih tubuh Widya yang sudah lemas di atas rumput.

“Aakkkhhhh….dikit lagi bapak keluar, bu. Ssshhhhh… Aaaakkkkhhh….memekkk….ssshhhhh….”

Di dekapnya tubuh Widya sambil pantatnya terus memompa memek Widya dengan kontol besarnya yang sudah siap menyemburkan muatannya dari dalam. Merasa posisinya kurang enak, pak Narto membalikkan tubuh Widya dengan kasar dan menyuruhnya untuk berposisi menungging. Dengan nafsunya yang sudah berada di puncak. Pak Narto menarik paksa baju tidur yang masih melekat di tubuh Widya dan melemparnya secara sembarang, begitu juga dengan Bra milik Widya yang sudah putus bagian depannya.

Pak Narto menempelkan ujung kontolnya di bibir memek Widya dan dalam satu sentakan kontol besar tersebut membelah masuk memenuhi lubang memek Widya kembali. Gerakan yang pak Narto lakukan langsung mengambil ritme cepat. Di cengkeramnya kedua pinggul Widya untuk membantu mengocok kontol pak Narto yang berada di dalam memeknya lebih cepat.

“Aakkkhhhh….saya hajar memeknya, bu. Ssshhh….memek binal yang sudah pernah dikontolin sama banyak pria. Memek gatal. Ssshhhhh….”, racau pak Narto mulai mengatai Widya.

Dicopotnya kain yang menutup mulut Widya oleh pak Narto, sehingga kini terdengar kembali dengan jelas suara desahan serta erangan Widya saat kontol pak Narto menyentak masuk ke dalam rahimnya. Dengan gerakan cepat dan kuat sambil sesekali menampar pantat Widya, pak Narto juga meremas keras kedua payudara Widya yang kini sudah terlihat jelas dari arah belakang dengan keadaan menggantung dan bergerak mengikuti irama sodokan kontolnya.

Sudah tiga menit Widya di Setubuhi dalam posisi menungging di atas rumput. Widya sungguh sangat merasa nikmat yang tiada tara saat kontol besar pak Narto menggasak dinding memeknya dan kepala kontolnya menghantam keras rahimnya. Dalam posisi menungging mulut Widya menganga merasakan nikmat dengan suara desahan dan erangan yang keluar dari mulut tersebut. Bukan hanya hal itu saja, karna rasa nikmat yang diterima oleh Widya sungguh hebat, air liur Widya sampai ikut menetes keluar.

“Aakkkhhhh….Aaaakkkkhhh….memek Widya enak, pak…ssshhhhh….nikmat banget kontol bapak. Aakkkhhhh”, rau Widya di tengah kenikmatannya.

“sudah ketagihan kamu sama kontol bapak. Hahahaha…Aaaakkkkhhh…bu Widya bakal bapak jadiin Lonte pribadi bapak di kompleks ini. Ssshhh…tiap bapak pengen, bapak tinggal minta bu Widya buat puasin….kontol saya. Aaaakkkkhhh….anjing enak banget ini memek. Ssshhhhh….”

Disaat pak Narto tengah menggenjot keras memek Widya dan tengah mengatai Widya dengan perkataan kasar, ternyata Widya diam-diam mengalami orgasmenya yang ketiga kalinya. Hal tersebut membuat pak Narto merasa lebih ingin lagi mengucapkan kata-kata kasar untuk Widya.

“udah ngecrot lagi kamu Lonte. Aakkkhhhh…ssshhh…sadar posisi kamu sekarang lagi dientot satpam kompleks tua, malah ngecrot. Sekalinya Lonte, tetap aja Lonte!!”

“AAAKKKHHHH!!!!”, erang Widya saat pak Narto menyodokkan kontolnya dengan keras mengenai sampai rahimnya dan juga karna remasan keras yang dilakukan pada kedua payudaranya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pak Narto menggenjot memek Widya semakin cepat dan gerakannya kini mulai tak beraturan. Nafasnya mulai terdengar berat yang menandakan bahwa pria tua tersebut akan segera mencapai klimaksnya saat menyetubuhi Widya.

“Aaaakkkkhhh….keluar…bapak keluar, buuu…ssshhhhh….”
“Bakal bapak buat memekmu penuh sama peju bapak. Aakkkhhhh….terima…terima peju bapak, bu Widyaaa…. Aakkkhhhh!!!”

Bagi Widya sendiri semprotan peju yang dikeluarkan oleh kontol pak Narto sangat lah kuat dan dapat Widya rasakan juga jumlah peju yang masuk ke dalam memeknya sangatlah banyak sampai masuk juga le dalam rahimnya. Mungkin karna memang sudah dua tahun pak Narto sama sekali tak bersetubuh dengan istrinya sehingga saat dikeluarkan untuk pertama kalinya kembali, jumlahnya sangat banyak memenuhi memeknya.

Beberapa kali setelah puncak klimaksnya, pak Narto masih saya mengedutkan kontolnya mengeluarkan sisa-sisa peju nya ke dalam lubang peranakan Widya yang sempit itu. Di di diamkannya beberapa detik sebelum tubuh Widya di dorong ke depan hingga terjerembap lemas diatas rerumputan dengan peju miliknya yang mengalir banyak dari sela memek Widya.

Widya merasakan lemas yang teramat dan juga rasa nikmat secara bersamaan. Tergeletak diatas rerumputan, Widya mencoba mengatur nafasnya kembali yang berantakan. Sementara pak Narto tengah membersihkan kontolnya yang diselimuti cairan kewanitaan Widya bercampur dengan peju nya sendiri di kran air.

“Ini bajunya, bu”, ucap pak Narto sambil melempar baju tidur Widya yang kancingnya sudah hilang semua beserta dengan Bra miliknya yang juga dalam keadaan putus.

Dalam keadaan masih telanjang bukat, pak Narto berjongkok di depan Widya. Ia turunkan kepalanya dan melumat bibir Widya sambil tangannya memainkan payudara Widya. Sebelum pergi, pak Narto mencubit puting Widya cukup keras dan juga menampar pelan memek Widya yang mengalir peju nya itu.

PLAK!!! PLAK!!!

“Aaaakkkkhhh…”, Lenguh pelan Widya karna lemas.

“dasar memek Lonte!!? Dasar memek gatal!!!”, maki pak Narto sambil menampar pelan memek Widya.

“Makasih, bu buat kenikmatan memeknya malam ini. Kapan-kapan kalo saya kepingin lagi, saya bakal kesini lagi. Hehehe”, ucap pak Narto bangkit dari posisi jongkoknya.

Baru beberapa langkah berjalan, pak Narto menoleh ke belakang dan menghampiri Widya kembali yang masih tergolek lemas di atas rerumputan.

“Masa bapak mau pergi, bu Widya diam saja?”, ucap pak Narto.

Dengan suara lemasnya Widya membalas, “terima kasih juga pak, saya puas dengan kontol bapak”, balas Widya dengan tersenyum lemas.

Setelah mendengar jawaban dari Widya, pak Narto mengecup lembut kening Widya dan meninggalkan begitu saja tubuh Widya yang terbaring lemas di atas rumput tersebut. Setelah perginya pak Narto, Widya mencoba menggerakkan tangannya dan diarahkan pada memeknya yang tengah mengalir cairan peju. Dengan menggosok pelan memeknya dan mengangkat kembali tangannya, Widya menjilati tangannya sendiri yang terlumuri peju milik pak Narto.

“sshhhhh…enak”, ucap Widya dengan mengulangi kembali jarinya untuk diolesi peju milik pak Narto dan menjilat bersih lagi.

Ternyata Widya benar-benar sudah takluk oleh pak Narto dan dirinya juga telah ketagihan dengan rasa kontol pak Narto saat menyetubuhinya. Dengan memungut baju serta Branya yang putus, Widya masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler