. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 5 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 5

0
445

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 5

Perasaanlah Yang Membuat Kita Bersama

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Pada tubuh Widya atau lebih tepatnya di dalam rahimnya kini sudah terpasang sebuah benda yang tak kasat mata bentuk dan rupanya. Benda yang ia pasangkan memalui bantuan mbah Mitro dengan cara bersetubuh lalu di transferkan pada cairan putih kentalnya untuk bisa masuk ke dalamnya.

Widya melakukan hal tersebut akibat faktor keuangan yang memang sudah menjeratnya lebih dalam pada lilitan yang harus ia bayarkan sejak sepeninggal almarhum suaminya. Dirinya harus hidup dengan serba kesusahan.

Setelah melakukan jalan pintas yang ia ambil, dengan perlahan kehidupannya mulai berubah dengan sendirinya. Dengan perlahan semua hutang yang ia tanggung selama ini mulai habis tercicil, begitu juga dengan uang SPP Evan yang sudah tak ada masalah lagi. Widya sengaja tak menunjukkan secara langsung perubahan hidupnya itu supaya tak timbul kecurigaan dari para tetangganya ataupun dari orang tuannya sendiri. Menggunakan dalih pesanan kateringnya meningkat, Widya mulai memperbaiki rumahnya dan juga semua kehidupannya.

Rumahnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua hutang yang ia tanggung di tangan lembutnya sudah kian menghilang, bahkan dirinya sudah bisa membelikan Evan sebuah sepeda motor baru. Entah dari mana uang yang ia terima itu berasal, Widya pun sampai sekarang masih bingung.

Setelah mengikuti semua petunjuk yang mbah Mitro perintahkan, uang yang ia inginkan untuk merubah hidupnya datang dengan sendirinya. Setiap bulan sekali dirinya mengunjungi mbah Mitro untuk melakukan kewajibannya memberi makan benda yang tertanam di tubuhnya dengan sebelum pergi dirinya selalu menaruh beberapa sesajen di atas kasurnya dan saat dirinya pulang dari tempat mbah Mitro langsung terdapat uang yang terserak di bawah kasurnya itu.

Widya kini kembali beraktivitas seperti biasanya, membuat beberapa pesanan katering yang terus datang menghampiri dirinya dan sekarang dirinya telah mempunyai seseorang yang membantu dirinya untuk menyelesaikan setiap pesanan yang ada. Sudah satu tahun ini bisnis kateringnya tetap lancar tanpa ada gangguan walaupun dirinya sudah terbebas dari pelaris yang ia pakai dua tahun yang lalu.

Saat Widya memutuskan untuk mencabut pelaris tersebut tepat dua tahun yang lalu, mbah Mitro merasa keberatan karna dengan hal tersebut makan mbah Mitro tak bisa merasakan kembali tubuh Widya, tapi mbah Mitro tak bisa berbuat apa-apa karna itu memang sudah keputusan Widya sendiri. Untungnya selama dirinya bersetubuh dengan mbah Mitro, Widya tak menunjukkan atau hamil satu kali pun karna dirinya selalu meminum pil KB sebelum dirinya melakukan persetubuhan dengan mbah Mitro. Bukan hanya mbah Mitro, tapi di waktu tertentu Widya juga bersetubuh sekaligus dengan pak Kanto. Ada waktunya dia datang ke rumah mbah Mitro dan harus melayani ke dua pria tersebut.

“Kita sudah tak bisa merasakan kehangatan tubuh bu Widya lagi, To”
“iya, mbah. Saya masih belum puas semburin peju saya ke memek legit bu Widya”

Keduanya saling melontarkan perasaannya sambil melihat ranjang yang berantakan saat digunakan untuk menikmati tubuh seksi Widya untuk yang terakhir kalinya dengan gerakan buas dan sepuas mungkin menyodok memek Widya, sebelum sosok Widya yang menjadi pemuas nafsu mereka pergi meninggalkan keduanya.

EVAN DWI HARJONO (20 Tahun)

-Lelaki dengan aura yang kuat
-Ganteng serta memiliki tubuh yang proporsional
-Pacar dari wanita cantik bernama Alice

Setelah 6 tahun berlalu. Evan tumbuh menjadi pria yang mempunyai aura kuat dengan wajah yang bisa dibilang tampan serta memiliki postur tubuh yang tinggi. Ia kini telah lulus dari SMA nya dan merubah statusnya dari murid SMA menjadi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kotanya.

Sosok Evan yang polos dan keterbatasan pengetahuan akan hal seks yang dulu, kini bukanlah sosok dirinya lagi. Evan telah tumbuh sebagai mana seperti lelaki pada umumnya yang akan tau tentang apa itu seks secara utuh maupun juga apa yang dinamakan dengan maksud dari ketertarikan akan lawan jenis. Sosok tampan, kulit putih serta ditunjang oleh badan yang proporsional membuat dirinya mendapatkan hati di kalangan para wanita.

Evan mempunyai sosok perempuan yang disebut sebagai pacarnya bernama Alice. Evan berpacaran dengan Alice saat dirinya masih menginjak kelas 2 SMA. Berarti hubungan mereka sudah hampir menginjak 2 setengah tahun, waktu yang lumayan lama untuk bisa bertahan.

Alice Septiani (20 Tahun)

-Seorang Mahasiswi
-Mempunyai wajah yang cantik dengan kulit mulus
-Pacar dari Evan

Untuk Alice sendiri tak jauh berbeda dengan penggambaran yang ada pada diri Evan. Alice adalah sosok perempuan cantik yang bisa dikatakan sebagai sosok perempuan idaman dari berbagai sudut hal. Disini entah siapa yang merasa beruntung bisa mendapatkan satu sama lain. Karna keduanya memang tipe idaman bagi kaum wanita mau kaum pria.

Awal mereka mengenal satu sama lain terjadi seperti halnya cerita-cerita yang terjadi di dalam sebuah FTV. Mereka saling berselisih paham lantaran dari keduanya memang menjadi salah satu murid yang mendapat peringkat popularitas dari murid lainnya dalam hal fisik. Tapi memang seperti itulah yang terjadi di awal pertemuan mereka hingga menjadi sosok yang saling mengisi di masa mudanya.

Alice sendiri melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang sama dengan Evan, hanya berbeda dalam bidang jurusan yang mereka ambil. Ia tak mau jauh dengan lelakinya itu supaya ia juga bisa memantaunya jika nakal terhadap perempuan lain. Bukan karna terlalu posesif atau hal lainnya, Alice hanya ingin menjaga perasaan Evan terhadap dirinya dan untuk Alice sendiri jujur akan rasa takutnya jika harus hubungannya berakhir akibat orang ketiga diantara mereka. Alice sudah sangat terlanjur mencintai dan menyayangi lelaki mantan musuhnya saat di SMA itu.

Sekarang untuk masalah pada perubahan mamahnya sendiri, Evan bisa merasakan dengan jelas setelah kejadian 6 tahun yang lalu. Awalnya dirinya tak mengetahui perubahan yang terjadi pada mamahnya maupun perubahan hidup keluarganya yang bisa dengan cepat berubah, namun hak tersebut dengan perlahan bisa Evan sadari seiring pertumbuhannya. Saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Evan sesungguhnya merasa sangat marah dengan mamahnya, tapi dirinya sadar akan posisinya sebagai anak dan mamah melakukan hal tersebut juga bertujuan untuk kehidupan dirinya sebagai anak. Walau rasa marah masih sangat bisa Evan rasakan, ia hanya bisa menerima hal tersebut hingga dengan sendirinya Evan mengetahui bahwa mamahnya telah berhenti dari semua hal menyimpang tersebut dan Evan hanya bisa merasa lega menerimanya.

Pakaian yang mamahnya pakai kini telah berubah sedikit modis dari sebelumnya. Mamahnya yang kini berusia 38 tahun sama sekali tak terlihat akan usianya karna pakaian yang selalu dipakainya. Malah dengan apa yang mamahnya pakai membangkitkan aura mudanya sehingga terlihat seperti umur 28 tahunan.

Evan juga sesekali mengecek setiap postingan mamahnya di dalam aplikasi Instagram. Mamahnya bukan hanya memposting usaha kateringnya untuk promosi, tapi mamahnya juga memposting foto dirinya sendiri yang memang terlihat cantik dan seksi.

“Hahahaha”, Evan tertawa saat melihat mamahnya memposting foto dirinya berlepotan oleh tepung dan telur saat dirinya merayakan ulang tahun kemarin. Di dalam foto tersebut juga terlihat Alice yang ikut berpose di sebelahnya.

Ya, Widya sudah tau akan hubungan anaknya itu dengan Alice dan untungnya bagi Widya sendiri tak memikirkan soal pilihan yang anaknya ambil. Semua pilihan dan keputusan anaknya selalu Widya terima selama itu memang tak melenceng. Bahkan baik Widya maupun Alice mereka sangat akrab satu sama lain saat bersama dan hal itu membuat kebahagiaan sendiri untuk Evan karna bisa melihat mamahnya beserta pacarnya bisa cocok dalam kebersamaan.

Saat Evan sedang tertawa kecil melihat dirinya di dalam postingan Instagram mamahnya, Evan mencoba mengetikan komentarnya dan setelahnya ia melihat komentar-komentar yang masuk di postingan mamahnya tersebut. Apa yang Evan lihat seperti biasanya, dimana hampir setiap komentar yang masuk di dalam postingan mamahnya adalah para pria. Hampir setiap komentar yang masuk selalu membuat Evan panas. Dimana komentar yang masuk di tunjukan untuk mamahnya.

“Seperti biasa selalu bikin cenat-cenut”
“dibuka jasa memuaskan wanita. Hahaha”
“tante, jalan yuk. Tante mau minta berapa pun saya kasih. Bercanda tante. Hehehe”
“Itu yang cowok anaknya? Anak bu Widya sama istri saya saja, saya sama bu Widya. Hahaha… dijamin bu Widya puas. Puas ngobrol sama saya maksudnya”
“Itu cewek paling ujung cantik banget, mau dong jadi pacarnya”, kini salah satu komentar ditunjukkan kepada Alice disertai emot cium.

Isi komentar yang masuk benar-benar membuat Evan merasa kesal dan membuat wajah senangnya yang ditunjukkannya tadi menjadi redup. Dikepalkannya tangannya demgan erat seakan ingin memukul sesuatu, tapi apa yang bisa ia lakukan. Netizen memang seperti itu. Evan dengan kesalnya memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya.

“Cemberut aja. Bete ya nungguin aku?”, suara wanita terdengar di samping Evan dan duduk di sebelahnya. Alice sedikit menghadap ke arah Evan sambil merapikan sedikit rambut Evan yang berantakan.
“bukan kok. Lagi lapar aja. Hahaha”, balas Evan dengan mengacak-acak rambut Alice. Sementara yang punya rambut gantian cemberut.

Alice mengerucutkan bibirnya. Evan yang melihat tingkah cemberut Alice kembali tertawa. Sementara Alice kembali ditambah cemberut saat pacarnya itu malah tertawa melihatnya. Walaupun begitu di dalam hati Alice, Alice tersenyum dan bersyukur bisa kenal dan menjadi pacar dari sosok lelaki bernama Evan itu. Sosok lelaki yang mampu mengisi setiap harinya dengan kebahagiaan. Sosok lelaki yang selalu peduli dan selalu mengkhawatirkan dirinya disaat Alice tak ada kabar maupun terlihat murung oleh rasa kesalnya pada dosen.

“kok kelas kamu cepet banget selesainya?”, tanya Alice.
“Ga ada kelas sih sebenernya, aku masuk Cuma mau jemput pacarku ini yang cemebrutan”, ucap Evan sambil mencubit kedua pipi Alice dengan gemas.
“Iiihhhh sakit, yang…”, ujar Alice dengan mencubit kembali pipi Evan.

“tapi So Sweet banget sih pacarku ini. Takut ya kalo aku dikarungin sama cowok lain. Takut ya? Takut ya?”, goda Alice pada lelakinya itu.

“Hari ini kamu ke rumah ya. Mamah udah kangen lagi sama kamu katanya”, ucap Evan.
“Calon menantu idaman kaya gini mah emang selalu dikangeni sama calon mertua. Ga kaya anaknya yang ngeselin banget”, ucap Alice mencoba berlagak songong untuk mengusili Evan.
“Emang mau? Emang dah siap jadi istri dari seorang Evan Dwi Harjono yang paling ganteng ini? Jadi istri aku harus sabar loh, soalnya banyak wanita yang terus deketin aku walau dah nikah sama kamu sekalipun”, balas Evan menggoda Alice. Selalu saja Alice kalah oleh Evan.
“Kalo kamu mau mau deketin wanita lain terserah kamu”, ucap Alice berpura-pura mengambek.

Evan tersenyum usil melihat Alice.

“Bener nih? Yaudah, nanti aku cari wanita lain berarti ga papa nih?”
“Iiihhh…kok gitu sih? Jahat banget kamu”, Evan tertawa mendengar jawaban Alice dan mengelus rambut Alice.

Alice dan Evan kembali bercanda dan mengobrol di kantin kampus. Dari semua orang yang berada di dalam kantin hanya kedua pasangan ini yang paling heboh suaranya. Sehingga membuat orang-orang memperhatikan tingkah laku keduanya yang sama sekali tak sadar sedang di perhatikan banyak orang.

“Ga usah cemberut, nanti aku cemplungin kolam belakang gedung pertanian mau?”, Evan mengambil tangan Alice untuk di genggamnya.
“Bodo!”, Alice menyilangkan kedua tangannya di dada sambil memalingkan mukanya pada Evan.

“Makan yuk. Ntar aku beliin Dessert kesukaan kamu”, mengembanglah kembali senyum di wajah cantik Alice di hadapan Evan.
“Yeeeeeyyy. Seriusan, yang?”
“dasar kamu ini”, ucap Evan menanggapi tingkah lucu Alice. Alice yang merasa senang memeluk tubuh Evan dari samping. Seperti anak kecil saja Alice ini. Mungkin seperti itulah yang dipikirkan Evan, namun pastinya dengan tersenyum.

Evan dan Alice berjalan keluar mengarah ke tempat motornya di parkirkan sambil Alice memeluk tangan kanan Evan sepanjang jalan. Evan yang merasa malu akan ulah manja wanitanya itu sedikit menasihati untuk melepaskan pelukan tangannya karna sepanjang jalan mereka terus dipandangi oleh mahasiswa siswi lainnya, namun dijawab enteng oleh Alice, “biarin, pacar sendiri juga ini”.

Setelah pergi makan dan membawa kardus kecil di dalam kantung plastik berisi Dessert kesuakaan Alice di tangannya, Alice membuka pintu kosnya untuk masuk yang dikuti Evan dibelakangnya. Setibanya di dalam kamar, Evan bisa melihat kamar yang di dekor sedemikian rupa layaknya kamar wanita. Kamar yang bersih dan berbanding terbalik dengan kamarnya sendiri yang sedikit lebih berantakan. Evan merebahkan badannya di atas kasur empuk dan berbau harum milik Alice sambil memainkan ponselnya, sementara Alice mengganti pakaiannya di hadapan Evan tanpa rasa canggung sedikit pun.

“kamu mah kebiasaan. Ada kamar mandi itu fungsinya buat apa? Main ganti sembarangan aja, ada orang disini”, ucap Evan.
“Malas ke kamar mandi, yang. Lagian juga di depan pacar sendiri dan kamu juga udah sering liat tubuh telanjang aku, kamu. Bilang aja nanti kamu kepingin terus minta jatah keringat. Wlee…”, balas Alice sambil menjulurkan lidahnya.
“serah kamu lah mau ganti dimanapun. Asal jangan telanjang di depan lelaki lain aja, nanti aku lempar kamu ke kolam ikan”, ucap Evan.
“Cie, cie yang khawatir kalo aku telanjang sama lelaki lain, cie. Tenang yang, aku bukan wanita kaya gitu kok dan lagian lelaki yang aku cinta dan aku sayang Cuma kamu. Aku ga bakal nakal kok, yang harusnya khawatir sama takut itu aku. Kamu kan playboy kelas kakap”, ucap Alice menghampiri Evan lalu mencium bibirnya sejenak.

“Remote AC mana, yang? Panas ini”
“itu ada di atas rak”, Alice membalas sambil memilih baju yang akan ia pakai. Dasar perempuan, pilih baju aja pasti ribet.

Saat Evan bangun dari posisinya, ia bisa melihat bahwa pacarnya itu tengah berdiri sedikit menungging dengan bagian bawahnya sudah memakai hotpants. Evan yang sedang kepanasan lebih memilih berjalan mengambil remote AC.

“Laptop kamu dimana, yang?”, tanya Evan mencari laptop Alice.
“ngapain dicariin sih sayang. Itu laptop aku kan ada dibawah kamu, diatas meja”, jawab Alice menunjuk ke arah bawah rak tempat Evan mengambil remote AC. Sementara Evan hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
“Dasar kamu ini”, ucap Alice tersenyum sambil memakai Bra.

Evan membuka Laptop milik Alice yang tergeletak di meja kecil dan ia gunakan untuk membuka steam miliknya, berharap ada game baru yang ia membuatnya minat terpajang disana, namun setelah mencari ternyata tak ada game yang membuatnya tertarik. Hanya ada game-game mainstream yang mengajak untuk di update. Evan keluarkan bungkus rokok dari celananya dan satu batang rokok ia nyalakan.

“Eh, yang. Malam ini kamu pulang apa ga? Nginep sini ya. Ya, ya, ya…”, tanya Alice sambil memakai bajunya.
“Ga tau aku. Coba liat nanti aja deh. Lagian malam ini kakek datang dari kampung buat tengokin cucunya ini katanya. Ya masa mau tengok aku, akunya malah ga dirumah”
“Yah,,, padahal malam ini pengengnya kamu tidur sini. Besok aku ga ada jadwal kelas soalnya. Tapi kalo emang kakek kamu mau datang yaudah deh gapapa”, terdengar nada bicara Alice seperti kecewa.

“Gini aja, nanti kalo kakek aku jadi datang, kamu yang tidur dirumah aja gimana? Lagian kalo mamah tau calon menantunya mau Nginep pasti malah senang”
“Cie…calon menantu katanya nih. Siapa sih? Hahaha…”
“Siapa lagi kalo bukan…Resti anak Periklanan. Hahaha”, canda Evan dengan menyebut teman SMA nya yang bernama Resti. Mantan Evan juga sebelum sama Alice.
“NYEBELIN!!!”, kesal Alice sambil melempar celana dalamnya yang dipake ke kampus tadi ke arah Evan.

Karna sedari tadi tak ada game yang membuat minatnya muncul, akhirnya Evan hanya bermain sosial media menggunakan akun milik Alice. Tak ada yang spesial saat dirinya berselancar di internet, Evan mengambil Flashdisk milik Alice yang dimana terdapat video serta foto-foto kebersamaan mereka selama 2 setengah tahun ini. Saat melihat video dan foto-foto yang ada, Evan hanya tersenyum kecil saat mengingat kejadiannya.

“Rokok terus. Dah matiin dulu rokoknya, sekarang buka mulut kamu”, ucap Elis yang berdiri di sebelah Evan dengan sudah berpakaian lengkap sambil menyodorkan Dessert untuk disuapkannya pada Evan. Sebuah Dessert dengan bagian lainnya terdapat gigitan Alice.
“Lagi asyik nih. Nanti aja”, ucap Evan yang terfokus pada layar laptop di depannya.

“Udah ini, buka mulut kamu, yang. Aaaaaaa….”, tangan Alice langsung menyuapkan Dessert nya ke dalam mulut Evan dan langsung dikunyahnya dengan sebal.

Alice mengambil kursi didekatnya lalu ikut duduk di samping Evan dengan meletakan kepalanya di atas meja sambil melihat ke arah Evan yang tengah mengunyah Dessert yang ia suapkan. Menunggu komentar Evan tentang Dessert kesukaannya itu sambil tersenyum.

“Enak kan?”, tanya Alice menatap lekat wajah pria di depannya itu.
“Biasa aja rasanya. Ga terlalu enak-enak banget”, balas Evan berpura-pura sebal pada Alice karna dirinya diganggu saat menikmati rangkaian momen hubungan mereka di layar laptop.

Alice berdecap kesal, “Tsshh…” mendengar jawaban Evan. Alice yang merasa sedikit kesal merubah posisi duduknya sambil mendekatkan kepalanya ke depan Evan. Pandangan mereka bertemu sejenak sebelum bibir Elis menempel tepat pada bibir Evan dengan lembut. Bisa Evan rasakan bibir lembut dan halus milik pacarnya itu dan dari sela ciumannya, Evan memandang wajah Alice yang tengah terpejam matanya sambil bibir Alice terasa sedikit bergerak pada bibirnya. Ciuman bibir Alice tak lama terjadi dan terlepaslah kedua bibir mereka dengan pelan.

“Kalo yang itu enak ga?”, tanya Elis saat ciumannya terlepas dengan menyunggingkan senyum manisnya di depan Evan.
“Yeee…wajahnya langsung pasang tampang ngarep gitu. Hahaha….”, tawa Alice menggoda Evan.
“siapa juga yang ngarep. Kamu tuh kenapa tiba-tiba main sosor aja. Kaya Soang tau ga. Hahaha”, giliran Evan membuat Alice kesal.
“Biarin kaya Soang, yang penting kamu mau sama aku”

CUP!!!

Belum sempat Evan mengeluarkan suaranya, Alice kembali menempelkan bibirnya pada bibir Evan. Membungkam mulut Evan untuk tak membalas pertanyaannya menggunakan bibirnya. Kedua bibir mereka bertemu dan saling melumat dengan lembut secara perlahan lidah mereka saling membelit mengingat satu sama lain. Suara ludah mereka yang bertukar memberi nuansa baru di dalam kamar.

“Mmmpppfff…..mmmhhhh….” , Alice melenguh di tengah ciumannya saat lidahnya disedot oleh Evan dengan sedikit kuat.

Alice yang mulai merasa dirangsang oleh lumatan serta sedotan yang dilakukan oleh Evan mulai mengarahkan tangan Evan yang tadinya diatas keybord laptop ke arah gundukan payudaranya. Diatas payudara Alice tangan Evan disuruh untuk meremasnya dengan kode dari Alice yang meremas tangan Evan. Evan yang juga mulai terangsang mulai meremas pelan payudara Alice dari balik baju sambil terus melumat bibir Alice dengan panasnya.

Nafas masing-masing bisa dirasakan oleh keduanya yang sedang memburu. Remasan pelan yang dilakukan oleh Evan membuat nafas Alice tersengal menikmati perlakuan dari orang yang sangat ia cintai itu pada payudaranya. Evan mengarahkan satu tangannya lagi untuk ia letakan dibelakang kepala Alice. Ia remas tekan kepala Alice supaya masuk lebih dalam mengarah ke wajahnya, sesekali ia remas rambut Alice. Gerakan tangannya pada payudara Alice juga mulai berbeda, dari gerakan pelan kini mulai meremasnya dengan gemas.

“Ssshhhhh….sayanggg…mmmhhhh….”, desah pelan Alice karna remasan tangan Evan.
“Sshhhhh…buka ya…”, dengan tatapan matanya yang mulai sayu, Alice mengangguk menjawab permintaan Evan.

Dinaikkan baju yang dipakai Alice oleh tangan Evan hingga batas dada. Terlihat Bra hitam yang senada dengan warna baju yang tengah dipakainya. Diciumnya kain Bra itu oleh Evan dengan dengusan keras nafasnya dan tangannya masih bermain dibalik Bra. Karna Evan sendiri sudah merasa nafsunya mulai memuncak, ia dengan cepat angkat penutup payudara yang dipakai Alice hingga kedua buah bukit yang tak terlalu besar terpampang di depan matanya. Payudaranya sangat mengkel dan putingnya berwarna pink kecokelatan.

SLURP!!! SLURP!!!

Sejurus kemudian bibirnya berpindah ke atas payudara Alice dan di sedotnya dengan bernafsu kedua puting Alice yang mulai mengacung keras. Alice sendiri yang kini mendapat rangsangan keras di kedua putingnya hanya bisa mengerang pelan dalam nikmatnya dengan menjambak lembut rambut Evan.

“Aakkkhhhh…teruss sayang…sshhhh…gelliii…sshhhhh…”

Evan lumat kembali bibir Alice dengan kuat sambil melepaskan baju yang masih melekat di tubuh indah Alice beserta dengan Bra yang dipakainya hingga tubuh bagian atas terbuka memperlihatkan kulit tubuhnya yang mulus beserta dengan dua daging kenyal yang Alice miliki.

“celananya dibuka sekalian, sayang. Aku udah kangen”, ucap Evan mulai melucuti celana yang Alice pakai dan tanpa banyak buang waktu juga langsung dicopotnya celana dalam Alice.

Rambut kemaluan Alice yang tak terlalu lebat dan terurus membuat nafas Evan semakin berantakan dibuatnya. Terlihat selangkangkan Alice yang berwarna pink dan bersih menyulut nafsunya menjadi menggebu. Tangannya tak tahan untuk tak menjamah bagian bawah tersebut. Dengan perlahan tangannya mulai ia arahkan ke dalam selangkangan Alice sambil berciuman kembali.

Ia gosok bibir vagina Alice dengan perlahan bersamaan gerakan memainkan klitorisnya. Sangat bisa Evan rasakan bahwa pada bagian vaginanya sudah sangat basah oleh rangsangan yang ia berikan. Ia gunakan dua jarinya masuk ke dalam lubang surgawi Alice dan mengocoknya dengan perlahan. Suara Alice terdengar sangat nyaring di telinga Evan tak kala saat wanita tersebut mendesah keenakan.

“Udah basah banget, yang. Udah pengen ya”, goda Evan disela rangsangannya.

Alice yang sedang menahan nafsu digoda oleh Evan yang menambah warna merah pada wajahnya. Ia merasa sedikit malu akan ucapan Evan terhadapnya saat mengetahui bahwa selangkangannya telah sangat basah, tapi ia suka.

“Sayang…jangan goda aku terus. Sshhhhh….aku malu”, ucap Alice saat kedua kakinya tengah direnggangkan oleh Evan dan selangkangannya terbuka dengan bebas. Dari bawah sana Evan tersenyum.

Kemudian selangkangannya dimainkan dengan lidah Evan yang menari-nari di bibir vaginanya yang merekah serta pada titik klitorisnya.

Beberapa menit Evan memainkan vagina Alice hingga desahan berubah menjadi erangan yang menandakan bahwa Alice akan mencapai orgasme pertamanya. Mengetahui hal tersebut, Evan menghentikan kegiatannya dan mengangkat tubuh Alice dari posisi duduk ke pelukannya. Alice digendong depan oleh Evan dengan kedua kaki masih berposisi mengangkang di kedua lengan Evan. Selangkangannya yang basah tepat menempel di perut Evan yang bidang.

Diturunkannya tubuh Alice dari gendongan Evan diatas kasur. Alice terlentang pasrah ketika Evan berdiri di depannya tengah melucuti semua pakaiannya sendiri. Nafas Alice makin memburu, nafsunya makin meluap ketika benda besar dan tegak keluar dari balik celana dalam Evan.

Evan naik ke atas tempat tidur dan tangannya menuntun kepala Alice untuk mendekati selangkangkannya. Alice yang tau akan kemauan pacarnya itu langsung membuka mulutnya untuk memasukkan penis Evan yang sudah mengeras dalam ukuran besar. Dengan gerakan sedikit cepat Alice mengoral penis Evan sambil tangannya membantu mengocok penis Evan mencoba memuaskan lelaki yang sangat ia cintai itu dengan kemampuan yang ia bisa.

“Aaaakkkkhhh…ssshhh…terus sayang…terus. Jangan keras-keras, bisa keluar cepet nanti. Aakkkhhhh…ssshhhhh….”, racau Evan membelai rambut Alice yang tengah maju mundur di selangkangannya.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

Menggunakan mulutnya Alice mencoba sebisa mungkin memanjakan penis Evan dengan gerakan kepalanya yang terus keluar masuk mengulum dan menyedot. Beberapa kali berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang sebelum kembali membungkus penis Evan dengan rongga mulutnya yang hangat dan lembut. Sementara payudaranya tergantung bebas dibawah sana dalam posisi menungging. Perlahan penis Evan mulai terasa semakin mengeras dan membesar di dalam mulutnya yang terus bekerja mengocok batang tersebut.

Alice mengoral penis Evan dengan cepat dan mulai terlihat lihai. Sedotan yang di lakukan mulut Alice terasa sangat kuat oleh Evan sampai Evan sendiri memejamkan matanya karna kenikmatan yang diberikan oleh mulut Alice itu. Gerakan kepala Alice makin cepat di bawah sana, mengakibatkan Evan belingsatan karna rasa nikmat ulah pacarnya itu. Evan yang tak mau keluar dengan cepat langsung mencabut penisnya yang tertanam dan tengah dimanjakan di dalam mulut Alice

“Sayang…”, rajuk Alice saat kegiatannya dihentikan oleh Evan.

Evan menyuruh Alice untuk terlentang dan langsung membuka kedua kaki Alice kembali sambil memosisikan tubuhnya di tengah-tengah selangkangan Alice. Di pegangnya penisnya sendiri yang sudah sangat keras di depan bibir vagina Alice yang sudah siap melakukan pertempuran panas. Terlihat di atas sana wajah Alice menunggu dengan tegang akan penetrasi yang akan di lakukan oleh Evan. Ia cium terlebih dahulu paha bagian dalam milik Alice yang mulus beberapa kali.

“Ssshhh….”, Alice merasakan bibir vaginanya mulai terbuka saat ujung kepala penis Evan mulai masuk melakukan penetrasi membelah lubangnya.

“Aakkkhhhh…sshhhh….sempit, sayang. Sshhhhh”, ujar Evan merasakan sempitnya Vagina Alice saat mencoba melakukan penetrasi.

Perlahan penis Evan memasuki rongga vagina Alice. Setiap senti saat penis Evan yang mencoba masuk ke dalam membuat Alice mengerang pelan akan sensasi gesekan yang terjadi serta rasa sedikit sakit karna vaginanya dipaksa sedikit terbuka dari ukurannya. Evan lakukan penetrasi dengan perlahan karna Evan tau betul bahwa vagina Alice masihlah sangat sempit untuk bisa terbiasa dengan penisnya itu. Mereka memang sudah lama menjalin hubungan, hanya saja jarang melakukan hal berbau intim di ranjang. Hanya baru-baru ini mereka lumayan intens berhubungan badan.

Perlu diketahui juga bahwa Evan adalah pacar pertama yang dikasih tubuhnya secara utuh oleh Alice, atau dengan kata lain orang beruntung yang bisa merasakan pertama kali dan sekaligus orang yang pertama kali menjebol perawan Alice bukan lain adalah Evan. Selama beberapa kali berpacaran, Alice sama sekali tak pernah yang namanya berhubungan intim, paling nakal yang pernah Alice berikan pada pacar-pacar sebelumnya hanyalah sebatas bagian payudara dan mulutnya saja.

Kenapa saat dengan Evan ia mau? Mungkin inilah bentuk sayang dan cintanya Alice terhadap Evan. Supaya Evan bisa mengetahuinya sendiri bahwa dirinya memang serius ingin terus bersama. Walaupun risiko, risiko dalam artian Alice sendiri juga tak tau kedepannya hubungan mereka akan seperti apa, tapi ia hanya ingin membuktikan rasanya saja dengan cara merelakan tubuhnya.

BLES!!!

“Aaaakkkkhhh!!!”

Setelah masuk sepenuhnya, Evan tak langsung menggerakkan pantatnya untuk mulai menikmati setiap jengkal dinding vagina Alice, justru ia diamkan terlebih dahulu sambil memandi wajah Alice sambil menyunggingkan senyum. Alice yang sedang dipandangi oleh Evan sambil tersenyum kearahnya langsung membalas balik seperti yang Evan tengah tunjukkan terhadapnya.

“ssshhh……”

Saat tubuh Evan mencoba untuk lebih turun mendekati tubuh Alice, Alice sedikit mendesah akibat gerakan tubuh yang Evan lakukkan mengakibatkan penis yang berada di dalam sana bergerak menggesek dinding vaginanya. Alice sedikit merapatkan kedua pahanya menikmati sensasi pertama dati penetrasi yang Evan lakukan ke dalam vaginanya. Diusapnya secara pelan nan lembut pipi Alice serta membelai rambutnya sambil mengucapkan sesuatu di hadapan wajah Alice.

“Semua persetubuhan yang dilakukan dengan dorongan akan nafsu, tapi aku akan melakukannya atas dasar sayang. Bukan hanya sekedar nafsu belaka. Maaf kalo masih sakit”, ucap lembut Evan dan entah kenapa ucapan tersebut membuat Alice tersenyum hangat dan mulai menitikkan air mata.

Alice merasa terharu akan ucapan yang dilontarkan oleh Evan terhadapnya. Memang, memanglah selama Evan menyetubuhinya pasti Evan akan melakukannya dengan lembut tanpa ada gerakan kasar yang menghiasinya sebagai bumbu pemacu nafsu. Softcore. Ya, itu yang Evan berikan saat memperlakukan Alice sebagai pasangannya.

Bagi Evan sendiri. Dia bersetubuh dengan pasangannya, orang yang ia sayangi dan ia cintai. Orang yang mungkin saja akan menjadi pasangannya di masa depan hingga bisa mempunyai keluarga mereka sendiri. Maka dari itu apa yang ia berikan atas dasar perasaan sayang. Nafsu? Pasti, namanya juga bersetubuh. Evan bersetubuh dengan Alice, pacarnya dan bukan bersetubuh dengan pelacur yang bisa ia kasari saat mencoba meraih kepuasannya pribadi. Alice Pasangannya, bukan Pelacurnya.

Evan kecup kening Alice dengan lembut lalu tersenyum. “aku mulai ya”, Alice mengangguk tersenyum dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Evan yang mulai menggerakkan pantatnya dibawah sana menumbuk selangkangannya.

Dimulai dengan gerakan pelan yang dilakukan oleh Evan membuat Alice memberikan respon pada lubang vaginanya dengan meremas penis Evan. Serasa diremasnya penis Evan oleh dinding Vagina Alice membuatnya menahan rasa nikmat. Evan rapatkan giginya akibat rasa nikmat yang menjalar dari batang penisnya di bawah sana yang tengah di remas oleh dinding-dingin lembut dan hangat vagina Alice.

“Ssshhh…..sayang”, desah Evan yang kini memegangi kedua sisi perut Alice yang ramping.

“Enakgghhh?” ssshhh….”, tanya Alice dengan tatapan sayu sedangkan Evan hanya menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam.

Dengan posisi Evan memegang kedua sisi perut Alice, Evan kembali menggerakkan pantatnya menggasak pertahanan rongga vagina Alice. Bukan hanya Evan yang merasakan nikmat, begitu juga dengan Alice sendiri saat penis Evan mulai keluar masuk di vaginanya yang dimana menimbulkan rasa gatal pada vaginanya. Alice mencoba menetralisir rasa nikmatnya dengan meremas selimut dengan erat. Mulutnya terus mengeluarkan suara desahan saat Evan terus menggerakkan penisnya.

Setiap penis Evan yang keluar pada vagina Alice, Evan bisa melihat penisnya sendiri terlihat mengkilap oleh cairan kewanitaan Alice di dalam sana. Melihat payudara Alice yang menganggur tengah bergerak naik turun mengikuti irama pompaannya. Tangan Evan meraih payudara tersebut dan meremasnya sambil terus menggerakkan pantatnya dengan perlahan.

Mendapat rangsangan dari kedua titik tubuhnya membuat desahan Alice menjadi semakin keras. Pandangannya bisa melihat dari kaca riasnya yang tak terlalu besar, dimana dirinya tengah terlentang dengan posisi mengangkang dan terdapat sosok orang yang ia cintai tengah naim turun di atas selangkangannya menumbuk rongga Vaginanya. Kepala Alice di gerakan ke kanan dan kiri menikmati setiap rasa nikmat yang di berikan oleh gerakan pantat dan tangan Evan.

“teruss sayang. Sshhhhh…Aakkkhhhh…punya kamu bikin aku penuh…sshhhh…didalam vaginaku. Aakkkhhhh….”, Alice mendesah lalu membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri mencoba untuk tak terlalu keras mengeluarkan suaranya.
“Aakkkhhhh….kalo kaya gini. Sshhhh….aku bisa cepat keluar sayang…enak banget”, Evan merasa penisnya terlalu nikmat akibat remasan dan juga kini ditambah empotan yang diberikan oleh vagina Alice.
“Jangan… jangan keluar duluhhh sayang. Sshhhh….lagi enak. Aku diatas ya. Sshhhh….mau kan aku goyang? Aaaakkkkhhh…”

Evan mencabut penisnya dari vagina Alice saat Evan memundurkan tubuhnya dan Evan langsung memosisikan tubuhnya untuk tiduran disamping Alice, sedangkan Alice bangun dari posisinya lalu mengangkangi selangkangan Evan. Menggunakan tangannya yang lembut, Alice mencoba memasukkan kembali penis Evan ke dalam Vaginanya, tapi Alice merasa kesusahan karna posisinya yang sedikit sulit melihat ke arah bawah. Dibantunya tangan Alice oleh Evan untuk memasukkan penisnya dengan mengarahkan ujung kepala penisnya tepat di bawah bibir vagina Alice.

Dirasa ujung penis Evan telah tertempel di bibir vaginanya, Alice dengan gerakan perlahan mulai menurunkan tubuhnya. Seiring turunnya tubuh Alice membuat penis Evan dengan perlahan mulai masuk kembali menembus vagina Alice. Perlahan sampai semua batang penisnya tertelan oleh Vagina sempit itu.

BLES!!!

“sekarang turunin pantat kamu perlahan. Ya begitu. Sshhhh…. Terus sayang”, ucap Evan mengomandoi gerakan tubuh Alice.

“Aakkkhhhh!!!”, erang Alice dan Evan saat penis berhasil masuk memenuhi rongga vagina Alice.

“Aku goyang, ya. Tapi kamu jangan liatin aku. Aku malu, iiihhh….”, ucap Alice malu saat Evan melihat dirinya sedang telanjang bulat menduduki penisnya.

Sekilas Evan melihat wajah Alice yang tertunduk malu diatasnya sambil membuang muka ke samping ditambah lagi Alice meletakan jarinya di mulut dengan menggigitnya. Hal tersebut membuat nilai plus sendiri untuk suasana yang sedang terjadi di kamar tersebut. Ekspresi wajah yang Alice berikan sungguh membuat suasana semakin memanas.

Evan memejamkan matanya dan kemudian terasa batang penisnya mulai bergerak di dalam vagina Alice. Terasa bahwa Alice menaik turunkan tubuhnya serta membuat gerakan memutar di atas selangkangannya. Evan meletakan kedua tangannya di sisi masing-masing paha Alice yang tengah naik turun memuaskan penisnya. Dalam keadaan memejamkan mata, Evan menikmati setiap rasa nikmat yang ia dapatkan dan tangannya mengusap-usap kulit mulus paha Alice.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Tumbukan selangkangan dalam Alice dan Evan menggema mengisi kamar bercampur dengan suara desahan dari keduanya yang saling bersahutan satu sama lain. Udara dingin AC yang terpancar sedari tadi sudah tak dirasa lagi walau dengan temperatur yang telah di setel rendah sekalipun tubuh mereka berdua tetap mulai berkeringat. Hawa panas persetubuhan mengalahkan dinginnya AC.

Evan membuka matanya melihat sosok wanita cantik tengah naik turun diatas selangkangannya. Ia tatap lekat tubuh Alice yang mulai berkeringat serta di dahinya mulai terlihat basah akan rambut yang menempel. Dimana tubuh Alice tersebut menyulut nafsu Evan bertambah untuk terus merasakan kenikmatan yang diberikan oleh tubuh wanitanya itu. Wanita yang ia cintai tengah memberikan seluruh tubuhnya dengan suka rela tanpa paksaan terhadap Evan. Tubuh Alice tengah meliuk-liuk di atas tubuhnya dengan bebasnya.

Kedua tangannya ia angkat dari paha Alice dan ia daratkan pada kedua bukit payudara yang tengah bergerak itu. Evan remas payudara Alice, Alice sendiri dibuat semakin mempercepat gerakan naik turunnya. Desahan yang keluar dari mulut Alice kian sering terdengar setiap penisnya masuk lebih dalam vagina Alice. Evan mainkan juga kedua puting Alice yang sudah mengacung keras di hadapannya itu dengan lembut. Setiap permainan tangannya pada puting Alice, tubuh Alice terlihat melonjak dan bergetar dibuatnya.

“Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh….sayang….aku mau keluar…Aakkkhhhh…sayang…”, racau Alice kian tak terkontrol akan rasa orgasme yang sebentar lagi di raihnya.

Mengetahui Alice akan mencapai puncaknya, Evan membantu menggerakkan laju keluar masuk penisnya lebih cepat mengocok rongga vagina Alice. Ia letakan kedua tangannya pada pinggang Alice. Dicengkeramnya kedua pinggul Alice membantu tubuh wanitanya untuk naik turun diatas selangkangannya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Suara kecipak selangkangan Alice diatas tubuh Evan menggema. Suara kecipak yang diakibatkan karna vagina Alice sendiri sudah sangat basah tengah ditumbuk oleh penis Evan secara beratur keluar masuk di dalam vaginanya mengocok keluar isi dalamnya hingga Alice mengerang merasakan orgasme akan di capainya.

“KELUAR SAYANG. AKU KELUAR!!! AAAKKKHHH…..”, racau Alice tak terkontrol diatas selangkangannya.

Terlihat tubuh Alice mengejat seperti orang tersetrum aliran listrik. Tubuhnya bergetar dengan hebat dan pada penisnya sendiri terasa cairan hangat yang menyembur mengenai penisnya yang masih di dalam vagina Alice. Bukan hanya rasa cairan hangat, penisnya juga merasakan bahwa dinding vagina Alice meremas penisnya lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh Alice masih bergetar menikmati orgasme pertamanya sebelum dirinya ambruk ke atas tubuh Evan.

Hhaaahhhh….hhaaahhhh…

Alice sandarkan kepalanya di dada bidang Evan dengan punggungnya naik turun demgan kasar, hembusan nafasnya bisa dirasakan oleh dada Evan. Tubuh Alice yang ambruk di atas tubuh Evan setelah mengalami orgasmenya, tubuh Alice masih saja terasa bergetar menikmati sisa-sisa orgasmenya.

Evan memberikan kesempatan untuk Alice menikmati seluruh orgasmenya hanya mendiamkan penisnya di dalam vagina Alice sambil memeluk tubuh Alice yang masih tersengal sambil memperbaiki nafasnya.

Beberapa menit Alice terdiam dipelukan Evan dirinya menegakkan badannya lagi lalu mencium bibir Evan dengan lembut, ciuman yang penuh kasih sayang. Mereka berciuman cukup lama. Dari sela bibir Evan keluar air liur dirinya dan air liur Alice yang bercampur akibat lumatan mereka.

SLURP!!! SLURP!!!

PUAH!!!

“HHHAAAHHH….HHHAAHHHH…”

Alice memandang wajah Evan yang sama tengah memandang dirinya. Alice tersenyum manis.

“sampe keluar gini air liurnya. Hihihihi…”, ucap Alice tertawa kecil melihat air liur mereka mengalir keluar sambil menyeka dengan tangan halusnya.
“liur kamu tuh keluar banyak tadi ke mulutku. Lagi kasih makan aku sama air liur, bu?”, canda Evan di tengah suasana panasnya.
“aku masih muda tau! Nih kalo kamu ga percaya aku ini masih muda”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Alice langsung menaik turunkan badanya diatas selangkangan Evan kembali. Dirinya mendesah sambil tersenyum sambil sesekali tersenyum ke arah Evan. Pantatnya mengocok penis Evan yang berada di dalam vaginanya dan kedua tangannya berada di dada Evan sebagai tumpuan. Gerakan naik turun di kombinasikan dengan gerakan memutar pantatnya dilakukan Alice untuk gantian memuaskan Evan.

Evan merasa kaget saat gerakan yang Alice lakukan, namun gerakan Alice sekaligus membuatnya merasakan nikmat kembali yang lebih dari sebelumnya. Evan hanya tiduran diam di bawah tubuh Alice yang sedang bekerja naik turun serta memutar pantatnya mencoba memuaskan penis miliknya.

“kamu…ssshhh…belum keluar kan sayang? Aaaakkkkhhh…sekarang…giliran aku bikin kamu….keluar. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh…”

“Alice sayang banget…sama kamu, yang. Ssshhhhh…Alice cinta. Jangan tinggalin Alice….ssshhh…”
“Alice…Alice Cuma punya kamu…kamu yang selalu peduli dan…ssshhh…khawatir sama Alice. Alice mau sama kamu terus sayang…sshhhh….”

Disela rasa nikmat yang Evan rasakan. Evan melihat butiran air mata keluar dari mata Alice, Evan merasa kasihan terhadap pacarnya itu disela penisnya yang sedang dipuaskan. Evan menegakkan badannya dan sekarang posisi badan mereka saling berhadapan. Sambil terus pantat Alice bergerak di selangkangannya, Evan menarik kepala Alice untuk diciumnya. Kembali, disela desahan Alice, Alice menangis sambil tubuhnya di dekap erat oleh Evan.

Evan membalikkan badan Alice dan memosisikan untuk terlentang dibawahnya dan kembali Evan mengambil kendali penuh dalam persetubuhan yang terjadi. Sementara Alice kini hanya terlentang pasrah dengan kaki mengengkang dalam keadaan vaginanya sesak oleh penis Evan yang tengah keluar masuk dengan lancarnya akibat cairan Orgasme miliknya yang melumuri penis Evan sebagai pelicinnya.

“Maaf sayang…ssshhh…kalo aku sedikit kasar. Sshhhhh…aku mau keluar”, ucap Evan disela genjotannya pada vagina Alice.

Sementara Alice menggeleng, “ga, ssshhh…gapapa, yang…Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…gapapa, lanjutin sampe ke…Aakkkhhhh….keluar. sshhhh”, balas Alice merangkul leher Evan yang tengah fokus menggenjot vaginanya.

Tubuh keduanya sudah sangat berkeringat, bahkan cucuran keringat yang keluar dari wajah Evan menetes ke pipi Alice.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Bentar lagi. Ssshhh….bentar lagi sayang….”

Evan merasa orgasme akan menimpa dirinya, dengan menambah ritme genjotannya, Evan menggenjot tubuh Alice dengan gerakan lebih cepat yang membuat pemilik tubuh dibawahnya mengerang dan tubuhnya menggeliat setelah orgasme pertama yang ia rasakan.

Dengan sedikit tenaganya yang mulai terkuras saat menggenjot vagina Alice, Evan menurunkan wajahnya untuk melumat bibir Alice. Bukan ciuman kasar atau ciuman nafsu, melainkan ciuman sayang yang Evan berikan pada bibir Alice. Alice membalas ciuman lembut Evan dengan senang hati. Bibir keduanya kembali saling menempel. Tangan Alice memegang sisi kepala Evan saat ciuman keduanya berlangsung di tengah penis Evan yang sedang menggempur vagina Alice.

“Mmmppphhhh…mmmppphhhh…mmmppphhhh…”, suara lirih Alice disela ciuman.

“teruss sayang….terus…Aakkkhhhh…Aakkkhhhh”, desah Alice.

Lumatan Evan di bibir Alice berganti menurun ke bawah hingga di bagian payudaranya, dengan nafas yang berantakan, Evan melumat kedua puting Alice secara bergantian dibarengi dengan gerakan meremas payudaranya. Nafasnya kian tak beraturan disaat dirinya merasa akan segera mencapai orgasmenya. Dengan memosisikan tubuhnya kembali tegap, Evan memfokuskan dirinya menggenjot lubang vagina Alice untuk segera meraih kenikmatan tertingginya. Gerakan sodokan Evan pada Vagina Alice makin cepat, namun tak kasar dilakukan oleh Evan.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“ssshhhhh…Aaaakkkkhhh….aku keluar sayang….Aaaakkkkhhh….kelauaarr….”, erang Evan dan langsung mencabut penisnya dengan cepat dari vagina Alice.

Alice mengerang dan mendesah setiap batang penis Evan keluar masuk menggesek setiap dinding Vaginanya yang basah dan tanda-tanda orgasme kedua didapatkan oleh Alice. Ia remas sendiri payudaranya dengan remasan sedikit keras.

“Aku juga…mau keluarrrgghh…lagi, sayangghhh….Aaaakkkkhhh…bentar lagi… Bentar lagi….sssshhhhh….”, erang Alice disaat pompaan penis Evan semakin cepat pada vaginanya.

“AAAKKKKHHHH!!!! SSSHHHH!!!!”

PLOP!!!

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Sedari tadi berjuang menguras tenaga untuk mencapai suatu kenikmatan, akhirnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya Evan meraih apa yang sedang ia kejar sedari tadi. Beberapa semburan sperma ia tembakan diatas perut Alice hingga perut mulusnya terdapat ceceran sperma yang dalam jumlah lumayan banyak diatas sana.

Sementara Alice yang sebenarnya sedikit lagi akan mencapai orgasme keduanya hanya bisa mendesah menahan laju cairan kewanitaannya yang sudah diambang keluar.

Dirasakan oleh Alice diatas perutnya bahwa setiap semprotan sperma yang jatuh diatas perut mulusnya terasa panas. Rasa panas yang Alice rasakan dari semburan sperma Evan yang jatuh di perutnya mendorong dirinya untuk orgasme. Vaginanya merespon setiap jatuhnya sperma Evan dengan berdenyut dan…

SYYUUUURRRRR!!!

“AAKKKKHHHH….AKU KELUAR LAGI SAYANG….AAAKKKKHHH…SSHHHHH….”

Semburan orgasme Alice mengucur deras dengan bebas membasahi seprei dan kasurnya sendiri hingga tercetak besar area basah tersebut. Sementara Evan yang tengah menyemprotkan spermanya di atas perut Alice hanya bisa terus mengocok penisnya yang semakin banyak mengeluarkan isinya.

Evan yang telah selesai menyemprotkan spermanya ke atas perut Alice langsung ambruk ke sebelahnya dengan nafas yang tak beraturan, tubuhnya yang berkeringat sama sekali tak ia hiraukan karna rasa lemas yang bercampur puas setelah ia dapat mencapai orgasmenya. Keadaan tak beda jauh dengan Alice, kini Alice hanya terlentang dengan nafas yang sama tak beraturan juga dan kaki sebelah kirinya masih dalam posisi terbuka. Evan memiringkan badanya menghadap ke arah Alice dan mencium pipinya secara lembut.

“Makasih sayang”, ucap Evan menatap Alice yang tengah tersenyum memandangnya.
“Makasih juga, karna kamu hiduku bahagia dari sebelumnya yang terasa sepi”, Alice memeluk tubuh Evan yang berkeringat dengan memasukkan kepalanya ke dalam leher Evan.

Beberapa menit mereka berdua bertahan di posisi tersebut tanpa ada suara percakapan yang keluar dari mulut mereka. Hanya suara hembusan nafas puas setelah orgasme yang terdengar. Hawa panas yang mereka rasakan tak dihiraukan sama sekali. Tubuh yang berkeringat saking ditempelkan dalam pelukan.

“Semenjak mamah bercerai dengan papah, hidupku menjadi hampa selama bertahun-tahun. Setiap hari aku serasa hidup seorang diri tanpa ada yang melihatku ada. Tak ada yang peduli, tak ada yang merasa khawatir demgan anaknya, yang mereka pentingkan hanyalah pekerjaan dan pekerjaan. Setiap malam aku menangis seorang diri tanpa ada yang bisa aku ajak untuk meluapkan semua perasaanku. Aku…hiks…hiks…”,
“aku merasa beruntung karna bisa keluar dari masa itu setelah aku mengenal sosok pria yang aku anggap seorang pengganggu dan sok kecakepan merasa paling ganteng di sekolah dulu. Aku merasa beruntung bisa bertengkar dan berselisih paham dengannya dulu. Aku sangat bersyukur…”

Evan memeluk Alice lebih erat sambil mengelus rambutnya mencoba menenangkan dirinya yang menangis. Alice memang anak korban Broken Home. Orang tuanya berpisah saat dirinya SMP kelas 2. Saat orang tuannya memilih untuk berpisah, Alice ikut dengan papahnya tapi karna papahnya selalu bepergian untuk masalah kerjaan Alice menjadi sering ditinggal seorang diri di rumah. Di tinggal sampai berbulan-bulan dan tanpa papahnya itu menanyakan bagaimana kabar anaknya ataupun menanyakan hal lainnya. Alice hanya dikasih fasilitas yang mencukupi tanpa adanya kasih sayang dari orang tua.

Karna hal tersebut mamahnya menggugat hak asuh Alice, dengan beberapa sidang yang dilaksanakan hasil akhirnya sang mamah lah yang menang. Sejak hari itu Alice beralih ikut bersama mamahnya. Semua berjalan lancar, apa yang ia inginkan dari seorang tua dapat ia dapatkan. Hanya beberapa bulan saja dan setelahnya baik mamah maupun papahnya tetap saja sama. Mereka lebih mementingkan pekerjaan mereka tanpa melihat anak semata wayangnya yang dalam proses pertumbuhan. Alice memang besar di dalam keluarga yang berkecukupan, beda dengan Evan yang baru merasakan apa yang dinamakan berkecukupan itu beberapa tahun terakhir.

Kehidupan Alice serba terjamin, namun semua itu tak membuatnya bahagia atau merasakan senang dalam hidupnya, justru yang ia rasakan adalah kehampaan dan rasa sepi. Ia hanya membutuhkan rasa dimana dirinya merasa dipedulikan dan di khawatirkan. Hanya itu. Hal sepele yang tak Alice dapatkan.

Hal tersebut pernah ia dapatkan dari beberapa lelaki yang pernah menjadi pacarnya dulu, Cuma semua perhatian, rasa peduli dan khawatir hanya ia dapatkan saat masa pendekatan dan beberapa waktu setelah berpacaran. Setelah lewat dari 2 bulan semuanya hilang.

Sudah Tiga kali dirinya menjalin hubungan dengan seorang lelaki dan Evan adalah yang keempat kalinya. Dari semua pria yang pernah ia pacari hanya dengan Evanlah ia bisa mendapatkan hal yang ia inginkan selama bertahun-tahun. Evanlah yang membuat dirinya benar-benar terlepas dari masa kelamnya. Pria itulah yang mengubah pandangan hidupnya menjadi cerah kembali. Pria yang dulu ia hindari keberadaannya, kini malah sangat dinanti sosoknya untuk selalu ada bersama dengan Alice.

Pria yang mampu mengisi setiap harinya dengan senyum bahagia dan candaan garingnya selama dua setengah tahun ini dan pria tersebut kini ada bersamanya sedang memeluk erat tubuhnya yang rapuh.

“Hiks…hiks…aku sayang kamu, yang. Tetap bersama Alice”. Ucap Alice.

Evan merengkuh tubuh Alice untuk lebih dalam masuk dalam dekapannya dan h tersebut malah membuat tangisan Alice makin menjadi. Ini pertama kalinya mendengar Alice menangis sampai seperti itu. Evan berpikir apakah dirinya melakukan kesalahan? Apa tadi ia menyakiti Alice? Berbagai pertanyaan masuk ke dalam pikiran Evan yang sedang khawatir dan bingung.

“hhhuuuu…..hhhuuuu….hiks…hiks…”

Setiap kali Evan mencoba untuk menenangkan Alice justru tangisannya semakin menjadi keras. Evan yang bingung bercampur khawatir serta takut tak tau harus berbuat apa, ia akhirnya mendiamkan Alice untuk meluapkan semua emosinya. Hal tersebut ternyata berhasil, sekian menit menunggu Alice menangis, akhirnya Alice mulai reda.

Dengan sabar Evan mengelap lelehan air mata Alice yang kini hanya terdengar suara sesenggukan dan suara ingus khas dari tangisan.

“Makasih, yang. Hiks!”, lirih Alice dengan senyuman yang mulai ditunjukkan kembali dari kedua sudut bibirnya. Evan tersenyum hangat membalasnya.

Setelah air mata Alice selesai di lap. Evan bangkit dari posisinya dan meraih tas milik Alice lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah tisu. Evan ambil beberapa lembar tisu dan ia gunakan untuk membersihkan ceceran sperma miliknya yang ada di atas perut Alice. Ia lap seluruh ceceran spermanya dengan lembut sampai bersih. Walau pastinya masih meninggalkan bau sperma miliknya di perut mulus tersebut.

Perut Alice telah bersih kembali dari spermanya dan saat Evan melihat ke arah Alice, ternyata wanita tersebut tertidur dengan wajah puas serta senyum yang mengembang di bibirnya. Evan yang melihatnya ikut tersenyum memandang wajah sejuk wanitanya itu. Evan merangkak pelan ke sisi Alice dan ikut merebahkan tubuhnya.

Evan letakan kepala Alice diatas lengannya sebagai bantal dan setelahnya Evan ikut terlelap tidur menyusul Alice yang terlebih dahulu mengejar mimpinya.

TAK!!! TAK!!!

Suara benturan piring membangunkan Evan dari tidurnya. Ia lihat dirinya sendiri ternyata masih telanjang dengan selimut yang menutupinya. Pandangan Evan beralih ke samping tempat Alice tertidur sesaat setelah ia kembali tenang dari tangisnya. Tak ada sosok Alice di samping. Saat ia mencoba bangun ternyata wanita yang ia cari tengah berada di lantai dengan beberapa bungkus nasi di dekatnya.

“Lagi ngapain, yang?”, tanya Evan dengan nada khas orang bangun tidur.
“Lagi siapin makan buat kita. Tadi aku dah pesanin pake GoFood nasi padang kesukaan kamu nih. Kamu mandi dulu gih, habis itu baru makan”, ucap Alice menyiapkan makanan diatas piring.

Evan lihat jam tangannya menunjukkan pukul 19.28. “Cukup lama juga gue tertidur”, lirih Evan dan bangkit dari ranjang.

Dengan bertelanjang bulat Evan mendekati sosok Alice yang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka makan. Evan memeluk tubuh Alice dari belakang sambil mengecup lembut leher Alice yang membuatnya menjadi kegelian.

“Geli sayang. Jangan jorok ih, mandi dulu sanaaa…”, Ucap Alice sambil memandang Evan yang sudah melepaskan pelukannya dan tengah berdiri di belakangnya sambil bertelanjang bulat.

“ya ampun!!! Itu belalai kamu gerak kemana-mana, diumbar kaya ga punya dosa gitu. Buruan masuk kamar mandi terus pake baju kamu”, Alice bangkit dari posisi duduknya.
“ga ingat, biasanya juga kamu main ganti baju di depanku”
“Ga ingat, ga ingat aku. Hahaha…buruan masuk, yang”, ucap Alice.
“Ga mandi aku habisin jatah nasi kamu loh”, sambung Alice sambil mendorong tubuh Evan memasuki kamar mandi.

“Yang, handuk kamu mana?”, ucap Evan dari dalam kamar mandi.
“Handuknya basah tadi. Tunggu Bentar!!”, balas Alice bangkit ke arah lemarinya untuk mengambil handuk baru dan menyerahkannya ke Evan.

Alice mengetuk pintu kamar mandi dan tak lama pintunya terbuka yang memperlihatkan tubuh telanjang lelakinya itu serta Alice pun juga melihat bahwa penis Evan terlihat dalam keadaan setengah berdiri kembali. Saat Alice menyodorkan tangannya yang terdapat handuk pada Evan, Evan meraih tangan Alice untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi juga. Alice menggeleng sambil tersenyum mengerjai Evan yang tengah memasang wajah memelas bercampur nafsu.

“Ga mau, kamu kocok aja sendiri. Hihihihi…”, ucap Alice mendorong tubuh Evan masuk ke dalam kamar mandi.
“Bentar aja, yang. Plis, masa tega liat aku ke siksa begini”, melas Evan.
“Makanya tidur disini aja, nanti aku bantuin kamu buat lepasin dari siksaan kamu itu”, ucap Alice dan langsung membalikkan badan lalu berjalan menjauh.

Setelah mandi dan bersantap malam. Alice dan Evan merapikan tempat tidur yang berantakan akibat persetubuhannya siang tadi. Saling mengganti sarung bantal maupun guling yang basah oleh keringat mereka beserta dengan seprei yang basah oleh cairan orgasme Alice yang mengucur deras. Selesainya beberes, mereka duduk berdampingan kembali di atas ranjang sambil mengobrolkan hal-hal receh lainnya. Sementara Alice mengobrol dengan mengunyah cemilan dengan bungkus snack ditangannya.

“kamu mah, yang padahal makan belum lama tapi sekarang udah ngemil terus. Heran aku sama kamu, yang. Makan terus ngemil malam bukannya gemuk malah tetap aja ga ada bedanya”, heran Evan.
“ya kalo ga gemuk senggaknya ada rasa takut kaya wanita lainnya. Takut gemuk atau gimana gitu”, sambung Evan.

“heran kan? Aku sendiri juga heran kenapa bisa kaya gitu. Mungkin karna aku wanita spesial yang hanya ada beberapa di dunia yang suka ngemil di malam hari tapi ga gemuk. Hahaha…”
“semacam spesies langka dong. Hahahaa”, canda Evan menanggapi ucapan Alice.
“bukan gitu, iiihhh… Pacar cantik gini sukanya di dzolimin”, ucap Alice sambil memasang wajah melasnya yang terlihat menggemaskan bagi Evan pribadi.

“Tapi sebenarnya aku kepingin kaya badan ibu kamu yang ramping gitu loh. Cuma kalo emang mau kaya mamah kamu, aku harus sedikit berjuang deh, soal kayaknya susah buat dapetin badan ideal kaya gitu”

Saat Alice menyebut kata mamah, seketika Evan teringat akan satu hal dimana dirinya harus pulang ke rumah karna kakeknya malam ini akan datang. Dengan bergegas Evan bersiap untuk pulang karna jam sudah hampir jam 9 malam.

“aku lupa, yang. Malam ini aki disuruh buat jemput kakek di terminal. Aduh, mati aku kena omel”, panik Ervan sambil mengambil ponselnya.

Evan terlihat menelepon mamahnya yang ternyata Widya sudah ada di terminal dan dirinyalah yang yang akan menjemput kakek Ervan. Dengan rasa bersalah, Evan meminta maaf pada mamahnya karna dirinya lupa akan hal tersebut dan dibalas santai oleh Widya dari balik telepon. Karna Widya yang menjemput di terminal, Evan disuruh oleh Widya untuk menunggu di rumah saja. Saat telepon berakhir, Evan langsung bergegas.

“Kamu ikut ke rumah aja, kamu tidur di rumah. Mamah pasti udah nunggu dari tadi”, ucap Evan mengajak Alice.
“Iya. Tunggu dulu, aku mau pake jaket sama ganti celana”

Setelah semuanya siap dan telah berada di depan kos Alice yang terletak motornya, Evan dengan terburu menyalakan motor dengan Alice membonceng dibelakangnya dan langsung menancap gas menembus angin malam yang semakin terasa dingin menuju rumahnya berada.

Sementara itu di tempat lain di waktu yang hampir bersamaan.

WIDYA

Dirinya tengah berada di dalam terminal untuk menjemput ayah mertuanya atau ayah almarhum suaminya yang akan datang berkunjung. Sebenarnya tugas menjemput ayah mertuanya itu tugas anaknya, Evan. Cuma berhubung Evan susah dihubungi akhirnya Widya memutuskan untuk menjemputnya secara langsung ke terminal.

Dari posisinya Widya berdiri dengan 6 orang pria di dekatnya dan dirinya bisa melihat dari kejauhan ayah mertuanya sudah menunggu di ruang tunggu terminal. Bus yang mengantarkan ayah mertuanya sebenarnya sudah sampai dari setengah jam yang lalu, namun karna ada sesuatu yang terjadi dengan Widya sendiri, sang ayah mertua harus menunggu menantunya yang tak kunjung datang menjemputnya.

“iya, pak. Ini Widya udah di terminal kok. Widya lagi jalan ke ruang tunggu. Sebentar lagi Widya sampai, pak”

Panggilan antara Widya dengan ayah mertuanya terputus. Sementara setelah Widya selesai dengan panggilannya, keenam pria tersebut tertawa.

“Hahaha…bu Widya memang nakal. Mertuanya datang bukannya dijemput malah disuruh nunggu sampe setengah jam lebih buat ngentot dulu sama enam kontol. Hahahah…”
“Mertuanya nunggu lama sampe kehausan. Bu Widya malah kenyang makan kontol sama peju kita. Bu Widya ke terminal buat jemput mertuanya apa ke terminal mau nge’lonte sih? Hahaha…”

Tiba-tiba salah satu pria berujar ingin menemui ayah mertuanya dan berjalan, namun langsung Widya cegah dengan cepat.

“Bapak mau ngapain sih?”, tanya Widya kesal.

“udah, sekarang jemput mertua ibu itu sebelum kita ngaceng lagi terus gilir bu Widya sampe pagi. Kalo sampe kita gilir lagi juga jangan salahin kita kalo nanti bukan hanya 6 orang, bahkan bu Widya bisa digilir lebih banyak kontol lagi”, ucap salah satu pria sambil meremas kencang kedua payudaranya dari belakang.

“AAAKKKHHHH!!!”

“Makasih buat memeknya, bu Widya. Kalo lagi dekat terminal atau lewat depan terminal jangan lupa mampir. Nanti kita bikin bu Widya merasakan nikmat yang buat ibu melayang. Hahaha”

Widya mulai berjalan meninggalkan keenam pria tersebut menuju mertuanya yang sedang duduk menunggu sedari tadi di dalam ruang tunggu terminal. Sebelum dirinya berjalan terlaku jauh dari keenam pria tersebut, salah satu pria menampar keras pantat Widya dari balik celana yang dipakainya

PLAK!!!

“Bakal kangen gue sama ini pantat. Jaga baik-baik tubuh ibu jangan sampe sakit. Terutama toket, lubang pantat sama memek biar bisa kita garap bareng-bareng lagi”

“Semoga kontol kita bisa bertemu kembali dengan memekmu, bu Widya”

Widya rasanya ingin sekali menangis mendapatkan pelecehan sedemikian rupa kembali. Setelah dirinya benar-benar merasakan apa pelecehan itu. Semua lubangnya telah dipakai oleh 6 pria terminal. Dirinya sangat kesal, sangat benci. Tapi sebuah perasaan tak bisa berbohong bahwa dirinya menikmati setiap perlakuan kasar kontol mereka terhadap memeknya secara bergiliran hingga dirinya mendapatkan beberapa kali orgasme panjang yang sudah 2 tahun tak ia rasakan.

Widya marah, benci dan dirinya mengutuk para pria tersebut, tapi disisi lain ia menikmati setiap keluar masuknya kontol-kontol besar tersebut yang mengisi penuh lubang memeknya dengan kasar. Rasa merah, benci karna di anggap sebagai Pelacur oleh mereka pun juga membuat perasaan lain pada tubuhnya. Rasa menikmati saat dengan bergantian ataupun secara bersama menikmati lubangnya dengan kasar sambil dirinya diteriaki sebagai Pelacur, Lonte ataupun layaknya wanita murahan. Dirinya basah, dirinya bernafsu, dirinya terangsang dan dirinya orgasme menyemburkan cairan kewanitaannya.

“Apa yang terjadi dengan diriku ini? Ini pemerkosaan Widya, bahkan kamu dilecehkan dan di katai sebagai Lonte oleh mereka. Sadarlah Widya, sadar”, batin Widya mengatai dirinya sendiri sambil merasakan selangkangannya yang terisi penuh oleh cairan kental.

“tapi aku menikmatinya kembali”, lanjut Widya sambil terus berjalan ke arah ayah mertuanya.

Terasa pada saat jalan, bahwa pada bagian selangkangannya seperti penuh akan sesuatu yang tak lain adalah gumpalan peju yang memenuhi memeknya, menetes membasahi celana hitam yang ia pakai. Hanya saja waktu yang terjadi malam, sehingga hal tersebut tak menjadi perhatian orang-orang yang berada di dalam terminal. Namun, bisa dengan jelas setiap orang yang berpapasan dengannya bisa mencium dengan jelas aroma peju dari selangkangannya.

“Sshhhh….”, lirih Widya di sela jalannya.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part