. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 26 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 26

0
477

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 26

Gara – gara Katering 1

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Siang yang terik tak menyurutkan bagi kedua manusia yang sedang di landa oleh birahinya. Evan dan bu Ninik tengah memaju birahi antara satu sama lain di ruang keluarga milik bu Nonik sendiri. Nindi kebetulan sedang mengikuti kegiatan untuk menyiapkan lomba selanjutnya karna memang anak itu berbakat, sementara sudah beberapa minggu ini bu Nonik telah pisah ranjang dengan pak Herman sehingga bu Nonik kini hanya tinggal bersama Nindi.

Niatnya Evan dimintai tolong oleh bu Nonik untuk menjemput Nindi di sekolah karna sebentar lagi akan pukang tapi karna saat Evan melihat tubuh bu Nonik, ia malah tergiur untuk mencicipinya. Awalnya bu Nonik menolak dengan alasan karna Evan harus menjemput Nindi terlebih dahulu tapi oleh Evan di sanggah dengan alasan hanya beberapa kali tusukan dan Evan juga akan melakukannya dengan cepat yang pada akhirnya bu Nonik mau untuk melayaninya.

Hanya dengan bertelanjang bagian bawahnya, bu Nonik langsung di genjot oleh Evan dengan cepat, awalnya mereka bertempur di ruang tamu, karna kurang bebas untuk berekspresi, secara perlahan Evan menyuruh bu Nonik untuk berjalan masuk ke ruang tengah dengan posisi dirinya tengah di doggy serta terus saja di genjot oleh Evan.

“Sini, tan….”, ajak pak Evan pada bu Nonik yang sedang ia daki kehikmatannya siang itu untuk berganti tempat menuju sofa.

Evan yang sudah terlebih dahulu memosisikan dirinya duduk di sofa, bu Nonik tanpa di suruh langsung naik mengangkangi selangkangan Evan. Tangannya memegang batang kontol kerasa tersebut lalu ia arahkan tepat ke pintu masuk peranakannya. Dalam gerakan menurunkan badan secara perlahan, akhirnya “BLESSS!!!”.

“AAKKKHHHH” Seluruh batang kontol Evan masuk seutuhnya tertelan di dalamnya.

Masuknya kontol Evan langsung di mulai untuk bergerak naik turun, namun apa yang terjadi? baru saja beberapa kali keluar masuk, Evan menghentikan gerakan tubuh bu Nonik yang sedang naik turun di atas selangkangannya. Terdapat raut wajah bingung bercampur nafsu yang terpancar dari raut wajah bu Nonik.

Bingung di tambah bingung lagi ketika Evan memilih untuk mencabut lepas batang kontolnya sehingga bagi bu Nonik sendiri sangat berasa jelas hawa kekosongan yang tadinya sempat memenuhi rongga memeknya. Namun rasa bingung itu tak terlalu bertahan lama karna bu Nonik menyadari apa yang akan terjadi kepada dirinya. Memang sudah pernah dan beberapa kali melakukan, tapi karna bu Nonik masih belum terlalu terbiasa makanya ia sempat akan menolak di saat Evan menempelkan ujung batang kontolnya tepat di lubang anus bu Nonik.

“Tante belum terlalu terbiasa, Van. Lagian punya kamu masih terlalu besar buat tante”
“bukannya sudah beberapa kali gue entotin anus lu ini”
“Iya, tapi tetap saja punya kamu masih terlalu besar buat masuk ke situ. Jangan ya, pake memek tante aja dulu”, bujuk bu Nonik sambil memegang batang kontol Evan untuk diarahkannya kembali tepat ke lubang memeknya.

“tante berisik, ah. Heboh banget kaya Lonte aja. Eh, tapi emang beneran Lonte kan ya. Hehehehe…”, ucap Evan dengan nada kesal yang disebabkan oleh rasa birahi dimana rasa birahi itu tak bisa di salurkan karna mamahnya di saat sedang dibutuhkan malah tak ada di rumah. Saat Evan bangun dari tidurnya, ia tak mendapati keberadaan mamahnya di berbagai sudut rumah. Yang Evan temukan hanya secarik kertas yang di letakkan di meja meja makan dengan bertuliskan “mamah lagi antar pesanan katering”

Memang benar jika mamahnya hari ini ada pesanan yang harus mamahnya antarkan, jumlahnya tqk terlalu banyak, hanya beberapa pesanan Box katering.

Dibaliknya dengan cepat posisi bu Nonik dengan gaya menungging dengan payudaranya yang menempel erat di senderan sofa. Setelahnya, Evan langsung memasukkan dengan sedikit memaksa kontolnya itu di lubang sempit milik bu Nonik. Walau tak sesakit saat pertama kali merasakan batang kontol Evan masuk ke anusnya, tapi tetap saja terlihat jelas saat proses penetrasi terjadi mata bu Nonik sampai membelalak karna rasa perih seperti sobek dialami oleh anusnya serta air matanya sedikit mulai keluar.

“Aaakkkhhhh!!! Mantap banget pantatmu ini, tan”
“Aaakkkhhhh…ssshhhhh…enaknya, tan. Sssshhhhh….”

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!! Evan tampar lumayan keras kedua kulit pantat bu Nonik sehingga terdengar erangan kecil.

“Aaakkkhhhh! Sakit, Van”

Sebelumnya…

Walau sudah hampir jam sebelas siang tapi Evan masih saja belum keluar dari kamarnya dan sudah pasti juga belum tidur sehingga membuat Widya yang sudah rapi akan mengantarkan pesanan katering hari ini terpaksa harus pergi tanpa berpamitan langsung pada anaknya itu. Ia hanya menuliskan pesan singkat perihal dimana ia pergi jika saja Evan bingung karna dirinya tak ada di rumah.

Dengan menggunakan baju yang tertutup, Widya akan mengantarkan pesanan katering yang ada dengan memakai baju gamis lengkap dengan jilbabnya yang terlihat sangat serasi di tubuh maupun di kepalanya. Walau memakai baju gamis yang notabene tertutup tapi bukan berarti aura keseksian Widya ikut tertutup pula. Justru dengan memakai pakaian seperti itu malah menambah kesan pada mata lelaki sendiri yang melihatnya.

Semuanya telah siap, Widya mulai bergegas untuk mulai berjalan. Ia menggunakan jasa transportasi berbasis Online. Barang uang dibawanya memanglah tak terlalu banyak, tapi jika di bawa sendiri tetap saja akan menimbulkan rasa sulit. Karna alasan itulah dirinya lebih memilih kendaraan tersebut dan untungnya sang sopir juga membantu dirinya untuk memasukkan semua barang bawaan.

Perjalanan memakan waktu kurang lebih hampir dua puluh menit dan setelah sampai di tempat yang dituju, pengorbanan waktu yang Widya lakukan hasilnya tak sesuai dengan rencana dimana si pemesan malah tak menerima bungkusan katering uang sudah Widya bawa. Si pemesan juga sebenarnya tak enak melakukan hal tersebut tapi mau bagaimana lagi, awalnya orang tersebut memesan makan pada Widya untuk acara makan-makan santai di rumah, tapi acara di undur.

Karna Widya sudah terlanjur menyelesaikan dan membawa pesanannya, akhirnya orang tersebut dengan tak enak hati tetap membayar semua total tagihan yang dia pesan tapi untuk makanannya tak ia terima dan malah di berikan pada Widya lagi. Jelas saja Widya tak mau, sudah dapat uang, makanan yang ia buat juga kembali lagi ke tangannya.

Walau Widya juga sebenarnya bingung mau di apakan makanan tersebut. Apakah akan kembali di bawa pulang atau bagaimana. Jika di bawa pulang memang akan di makan tapi hanya beberapa kotak saja, sisanya pasti akan mubazir. Dalam bingungnya, orang yang memesan tadi akhirnya memberikan usul untuk di berikan saja kepada anak jalanan, pengemis ataupun orang yang membutuhkan lainnya. Dengan usulan tersebut akhirnya Widya telah menentukan untuk di kemanakan semua makanannya.

“Maaf ya, bu”, selorohnya tak enak.
“Gapapa, pak saya jadi ga enak kaya gini. Udah di bayar tapi makanannya malah saya bawa lagi”

Saat bercakap dengan Widya sebenarnya mata orang tersebut tak pernah lepas untuk memandang tubuh Widya terutama pada bagian payudaranya yang tertutup oleh baju gamis namun masih menonjolkan seperti apa ukurannya. Tapi karna orang tersebut juga tengah ada urusan akhirnya dengan terpaksa ia pamit untuk masuk ke dalam rumah kembali meninggalkan Widya yang masih berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya menenteng keresek berisi makanan kateringnya.

Karna keputusan yang Widya buat akan memberikannya kepada para pengemis maupun anak jalanan, Widya berjalan keluar dari arah perumahan dan menelusuri jalanan berharap menemukan orang-orang tersebut. Jujur saja bagi Widya tangannya merasa pegal karna harus menenteng kedua plastik tersebut tapi mau dikata apalagi, Widya belum menemukan satupun dari mereka.

“Aduh, capek juga ya jalan sambil bawa ginian”, keluh Widya lalu memutuskan duduk di salah satu halte bus. .

Widya mengistirahatkan tubuhnya sejenak dari panas matahari yang terasa semakin menyengat kulit dengan berteduh di bawah atap halte bus yang sudah usang. Terdapat banyak bekas pamflet dan juga coretan-coretan dari pilox. Sudah berjalan cukup jauh tapi dirinya masih saja belum menemukan orang yang di maksud.

Tak lama dirinya duduk di halte tersebut, terlihat sebuah bus kota yang datang dan berhenti di depannya. Mungkin sang sopir mengira bahwa Widya tengah menunggu bus untuk dinaiki, tapi ternyata bukan. Bus tersebut berhenti karna memang ada beberapa orang yang turun dan dua diantaranya adalah pengamen yang membawa ukulele kusam di tangan salah satunya. Pengamen tanggung dengan umur sekitar 18 tahunan.

Merasa tak ada keperluan, mereka berdua langsung berjalan pergi dari area halte, namun sebelum cukup banyak mengambil langkah, Widya memanggil mereka dan mereka yang merasa terpanggil membalikkan badannya dengan tatapan bingung.

“Ada apa, bu?”
“Kalian udah makan belum?”, geleng mereka berdua.
“mau makanan ga?”
“Wah, mama bu? Mau dong”

Kedua pengamen tersebut langsung menghampiri Widya dengan semangat karna akan di berikan makanan secara gratis. Saat itu Widya ingin tertawa rasanya melihat reaksi mereka yang terlihat sangat senang saat akan di beri makanan. Ingin tertawa tapi dirinya juga merasakan sebuah rasa iba pada keduanya untung saja keputusan Widya tepat untuk di berikan kepada mereka. Jika saja mungkin makanan yang bagi orang-orang seperti mereka itu sangat berharga akan Widya buang.

“Iya ini, sabar-sabar makanan masih banyak kok”, sambil memberikan bungkusan makanan.
“oh iya, biasanya teman-teman kalian atau pengemis pada dimana ya? Soalnya ibu cari daritadi ga ketemu satupun, baru ketemu sama kalian”
“Lah, ibu memangnya ada keperluan apa cari orang-orang kaya kita?”
“ibu kan punya banyak makanan, mah daripada mubazir ibu mau kasih ke orang aja”

“Kalo temen-temen sih jam segini biasanya lagi pada pencar semuanya, bu. Paling kalo ibu mau pengemis, biasanya ada di fly over, tapi kalo memang cari yang banyak di perkampungan dekat sungai itu”, sambil menunjuk ke arah perkampungan kumuh yang tak lumayan jauh dari posisi Widya.
“kalo gitu kalian bisa anterin ibu kesana ga? Ibu mau bagi-bagi makanan ini”

Terlihat mereka berdua saling pandang dan dari tatapan mereka seperti sedang berkomunikasi. Setelahnya mereka sama-sama tersenyum dan mau mengantarkan Widya ke perkampungan.

Dari percakapan singkat yang terjadi, Widya mengetahui kedua pengamen terebut dimana anak yang membawa ukulele bernama Juned, sementara satunya lagi bernama Ahmad. Penampilan keduanya tak jauh beda seperti pengamen pada biasanya yang terlihat dekil dengan keringat yang membasahi tubuh. Bukan maksud Widya untuk mendiskriminasi, tapi bau badan mereka memang menyengat. Bau keringat dan bau polusi kendaraan bercampur menjadi sebuah keharmonisan bau yang….tak membuat nyaman.

Sesuai dengan namanya “perkampungan kumuh”, tempat yang Widya lihat memang seperti itu adanya. Becek, banyak sampah dan serba semrawut dimana-mana dengan pola rumah yang tak beraturan. Tapi bagi Widya sendiri tak terlalu diambil pusing karna tujuannya ke tempat tersebut bukan untuk berwisata, melainkan untuk memberikan apa yang ia punya sebagai rasa kepedulian terhadap sesama. Walau tak sampai di kondisi seperti itu tapi setidaknya Widya pernah mengalami masalah hidup sangat sulit tentang perekonomian sehingga hatinya masih punya rasa kepedulian yang cukup besar.

Sesampainya disana saat Widya berjalan mengikuti langkah Juned dan Ahmad banyak penghuni disana yang menatap dirinya. Selain karna terkesima dengan Widya sendiri, mungkin mereka memang heran karna ada wanita dengan penampilan bersih nan cantik bersambang ke tempat kumuh.

Setiap lorong sempit dan juga panas yang Widya lalui selalu saja banyak pasang mata yang menatap dirinya. Awalnya memang biasa saja tapi lama kelamaan tatapan mereka dirasa seperti tatapan yang tengah menelanjangi. Bahkan tak sedikit pula dari mereka yang bersiul sambil menggoda di kala Widya lewat. Widya mencoba untuk bersikap biasa saja dan ramah dengan cara tersenyum untuk menyapa tapi senyuman Widya malah membuat para lelaki itu bersorak ria. Rasanya memang tak nyaman di perlakukan seperti itu tapi Widya harus menahannya.

“Mampir ke rumah abang dong, neng!”
“Ngeri! Ada wanita cantik kesini. Mantap juga lu berdua bisa ajak perempuan model gitu kesini”
“mau lu apain di ajak kesini? Jangan di bawa bungkus sendiri, bagi kita juga dong”
“hati-hati, neng jalanannya licin ntar jatuh pantat sama teteknya bisa sakit loh”
“Bener banget tuh neng, daripada sakit karna jatuh mending sama kita, ga sakit kok malahan enak nanti. Hahahaha…”

Walau kebanyakan dari mereka menggoda dengan ucapan-ucapan menjijikkan tapi ada beberapa juga yang memilih untuk diam tapi matanya masih sama menatap dirinya dengan lapar. Terlepas dari tempat seperti itu bisa saja sangat dan mungkin juga tak ada wanita seperti Widya yang berkunjung sehingga datangnya Widya serasa seperti sebuah daging enak untuk di santap.

Ahmad dan Juned membawa Widya masuk lumayan dalam ke dalam perkampungan. Mereka berhenti tepat di ujung perkampungan dimana di sana bersebelahan langsung dengan rel kereta api, hanya di pisahkan oleh tembok pembatas. Di tempat tersebut juga lumayan luas dan sepertinya tempat tersebut memang menjadi penampung atau pengepul rongsok.

Tempat tersebut juga terlihat sekitar empat orang yang sedang bekerja memilah barang-barang yang ada. Mendapati kehadiran Juned dan Ahmad serta Widya juga, salah satu dari mereka bertanya tentang sosok perempuan yang mereka bawa. Juned menjelaskan siapa dan apa niat Widya ke perkampungan.

“tadi saya dengar dari si Juned katanya ibu mau bagikan makanan?”
“iya, pak….”
“maaf tangan saya kotor, bu. Nama saya Oman”
“Gapapa, pak. Saya Widya”
“oh iya bu Widya silahkan duduk dulu pasti jalan dari depan kesini capek”, tawar Oman kepada Widya untuk duduk diatas kursi yang terbuat dari bekas karet ban.

“OI, LU PADA! KUMPUL SINI ADA YANG MAU KASIH MAKANAN FAKIR KAYA LU!”, teriak Oman pada taman-temannya yang sedang bekerja.

Terlihat ketiga orang yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya kini sudah berbaris di depan Widya dengan penampilan mereka yang lusuh dengan baju yang kotor dan juga baunya hampir sama seperti bau badan Juned serta Ahmad.

Dengan berbaris seperti anak SD yang tengah mengantre di beri permen, mereka berjejer dengan rapi menerima kotak makanan. Jumlah orang dengan semua makanan sudah pasti tak imbang dengan begitu Widya meminta tolong pada Juned dan Ahmad untuk membagikannya ke orang-orang yang lain sampai habis. Mereka berdua menyanggupi dan langsung pergi berlalu. Perginya kedua pengamen itu, kini Widya ditinggal bersama dengan Omar dan juga ketiga temannya. Entah siapa nama mereka karna mereka tak mengebalkan diri dan lagian tak terlalu penting juga.

“Tempatnya mungkin sangat tak layak buat ibu, tapi jika bu Widya berkenan, duduk disini aja dulu. Lagian masih capek kan dan juga lihat tuh, cuaca masih panas banget”, ucap Omar sambil menunjuk ke arah langit.
“memangnya ga ganggu, pak?”
“kalo misalkan bu Widya ganggu sudah saya usir kali, bu. Hehehe…”

Dengan menerima niat baik pak Omar yang mengizinkan untuk berisrihat sejenak, Widya memosisikan duduknya di atas kursi dari bahan ban bekas itu senyaman mungkin karna untuk pertama kalinya Widya duduk di kursi seperti membuat pantatnya merasa sedikit sakit oleh bahannya, ya walau seperti sedikit ada peer nya karna memang karet lentur tapi tetap saja.

“biasnya yang bapak tampung rongsok dari apa saja, pak?”, tanya Widya mencoba untuk lebih ramah dan juga mempercair suasana.
“Paling banyak botol-botol plastik sih, bu tapi kadang kalo emang ada besi juga kita terima”
“Botol kac— EH!!”

BRUG!!! Mungkin karna sudah usang dan di taruh di luar terkena hujan dan panas membuat karet kursi tersebut tak kuat menahan tubuh Widya yang tak bisa diam karna terus-terusan mencari posisi yang nyaman dan pada akhirnya putus mengakibatkan pantat Widya jatuh, masuk terjerembap ke dalam.

Oman dan ketiga temannya uang mengetahui langsung menghampiri Widya guna untuk menolongnya namun karna pantat dan juga setengah badan Widya masuk membuatnya susah untuk di keluarkan. Karna jatuhnya itu kedua kakinya terangkat ke atas sampai lututnya ikut menyentuh di kedua payudaranya dan membuat kaki jenjang Widya yang mulus bisa mereka lihat dengan jelas sampai batas lutut.

“aduh, gimana ini pak?”
“Tenang aja, bu. Maaf sebelumnya, ibu boleh saya angkat badannya ga?”
“Yaudah deh, pak yang penting saya bisa keluar”

Sikap biasa yang di tunjukan oleh pak Oman sedari tadi sebenernya ia sedang menyembunyikan rasa ketertarikannya terhadap Widya, dimana birahi yang ia punya keluar saat melihat kedatangan Widya pas di bawa oleh Juned dan Ahmad. Mau bagaimanapun Pak Oman juga pria normal dan ia juga di besarkan dari ekonomi rendah sehingga berhubungan dengan perempuan bukan hak baru lagi bagi dirinya, bahkan pak Oman juga sering menyewa Pelacur yang biasanya mangkal di dekat perkampungan.

Karna insiden kursi jebol itu memberikan sebuah kesempatan bagi pak Oman untuk memegang tubuh Widya yang telah menarik keluar birahinya. Saat mencoba menarik kaki Widya awalnya memegang pada pergelangan kaki dan dengan alasan susah, pak Oman menaikkan lagi pegangnya dan begitu seterusnya hingga tangannya memegang bagian paha.

Terasa lembut dan padat berisi paha Widya di tangan pak Oman. Bukan sebuah alasan, tubuh Widya memang sulit untuk di tarik keluar sehingga pak Oman memberikan saran lagi yaitu dengan membalik posisi Widya supaya seperti tengah menungging. Nantinya salah satu temannya akan menarik kedua tangan Widya sementara dirinya berada di belakang Widya menarik kursinya. Tapi itu hanya muslihat dari pak Oman karna ia ingin melihat bentuk pantat Widya yang terjebak itu dengan jelas.

Posisi Widya kini sudah di balik oleh mereka berempat dengan sekarang pantatnya tersembul jelas menampilkan bentuknya di depan pak Oman sementara bagian atasnya menyatu dengan kedua kakinya hanya bisa diam. Ia tatap dengan takjub bentuk pantat Widya uang sangat membuatnya tergoda itu, rasanya ingin ia tampar dengan keras bulatan pantat tersebut. Batang kontolnya yang tersembunyi di balik celana kolor yang tak memakai celana dalam itu kini terlihat jelas mengacung, hanya saja Widya tak bisa melihat karna posisinya itu.

“gimana, pak?”, tanya Widya menyadarkan pak Oman yang hanya diam berdiri di belakangnya menikmati bulatan pantat yang tersaji di depannya itu.
“Eh, iya bu”, pak Maman mulai menarik kedua sisi kursi tapi tak di lakukan secara serius karna pak Maman ingin Widya tetap di posisi tersebut.

Lama kelamaan karna terus di setang oleh birahi, pak Maman memberi isyarat pada ketiga temannya dan salah satu dari mereka beranjak dari tempatnya untuk mengambil gunting yang tadinya di gunakan untuk bekerja memotong botol plastik.

Temannya sudah menuruti instruksinya sekarang giliran dia. Pak Oman menyuruh dua temannya lagi yang masih memegangi kedua tangan Widya lalu secara serentak pak Oman dan kedua temannya mengangkat tubuh Widya untuk mereka bawa ke belakang rumah. Widya yang merasa tak beres dengan perilaku mereka yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya mencoba memberontak tapi karna posisinya sehingga Widya tak bisa maksimal untuk bergerak.

“Apa-apaan ini, pak? Saya mau dibawa kemana? Lepasin saya dulu, sakit kalo di angkat kaya gini, pak”
“tenang aja bu Widya. Kita bantu ibu kok buat keluarin”
“yaudah keluarin disini aja, kenapa harus pindah tempat, pak?”
“soalnya kalo disini bisa dilihat orang ,bu dan lagian saya bukan hanya mau keluarin ibu dari kursi, tapi mau keluarin yang lain”, sambil mengangkat Widya ke belakang, pak Oman meremas pantat Widya.
“maksudnya apa ini, pak?!”
“Hehehe…pantat ibu memang mantap banget. Kita senang-senang dulu, bu. Saya ga pernah ngerasain perempuan kaya ibu soalnya. Hehehe…”
“Lepasin saya, pak!! Kalo bapak-bapak ga lepasin saya, saya bakal teriak!”
“teriak aja, bu. Teriak yang keras! Apakah ibu tadi pas jalan kesini banyak yang goda ibu? Kalo iya silahkan saja teriak tapi jangan menyesal kalo mereka nantinya juga bakal minta jatah sama ibu. Bu Widya teriak berarti ibu harus terima kalo orang-orang di sekitar sini bakal gilir ibu. Hahahaha….”

Apa yang pak Oman bilang ternyata ada benarnya juga karna selama perjalanan masuk, Widya selalu mendapatkan tatapan menelanjangi dan juga di goda dengan kata-kata yang sangat kurang ajar. Berteriak sama saja Widya mengundang lebih banyak pria yang bakal menikmati tubuhnya. Entah itu berapa orang tapi yang jelas jumlahnya bisa banyak. Membayangkan di gilir sebanyak itu saja sudah membuat Widya pusing, jika memang terjadi sudah pasti dirinya akan berulang kali pingsan.

Di saat sedang memikirkan konsekuensinya akan di terima saat Widya berteriak, ia disadarkan saat kain gamis di bagian pantatnya serasa di sobek dengan gunting. Widya juga baru sadar ternyata sudah berada di belakang rumah dimana disana tempatnya tertutup oleh tembok pembatas antara rel kereta apa, sedangkan bagian samping kanan dan kiri tertutup oleh tembok seng.

Pak Oman telah menggunting kain gamis yang Widya pakai pada bagian pantatnya dengan pola lingkaran besar. Bukan hanya kain gamisnya tapi celana dalam putih yang Widya pakai juga sudah di gunting sehingga lubang pantat dan memeknya sudah terbuka jelas, terpampang di depan pak Oman dan satu tamannya lagi yang tadi mengambil gunting. Mereka berdua benar-benar terkesima dengan pemandangan yang mereka lihat dimana lubang pantat Widya terlihat mulus serta warna dan bentuk memek Widya yang tak kalah menggairahkan.

PUK!!! PUK!!! PUK!!!

Pak Oman menepuk memek Widya beberapa kali sehingga menimbulkan bunyi yang cukup menggairahkan. Ia juga meremas kedua bongkahan pantat Widya dengan gemas dan mungkin lebih condong ke remasan keras. Mendapat perlakuan seperti itu tam ayal membuat Widya merintih merasakan perih di pantatnya.

“pantatnya mantap, memeknya jauh lebih manta, bu. Kayaknya saya harus ucapin terima kasih ke Juned sama Ahmad karna udah bawa barang bagus kaya gini”
“eh, kayaknya nanti saya beri mereka izin buat main sama bu Widya juga ya. Ibu juga harus ucapin terima kasih ke mereka karna udah bawa ibu kesini, soalnya di sini bakal ada kontol yang mau puasin ibu. Hehehe….”, ucap pak Oman sambil berjalan memutar dan memosisikan tubuhnya berdiri dengan lutut di depan kepala Widya. Setelahnya, pak Oman langsung mengeluarkan batang kontolnya yang sudah sangat tegang itu dan saat kolornya di turunkan, kontolnya langsung menampar keras wajah Widya.

Posisi Widya benar-benar tak bisa berbuat apapun. Bagian bawahnya terjebak di kursi sementara kedua tangannya di pegangi oleh kedua teman pak Oman. Dalam kondisi seperti itu membuat Widya merasakan sakit di punggungnya karna kedua kakinya harus menekan payudaranya sehingga seperti duduk selonjoran tapi kepalanya seakan sedang mencoba untuk di tempelkan di lutut.

“buka mulutnya, bu. Ini ada sosis enak buat ibu nikmati. Hehehe….”, sambil menyodok-sodokan ujung kontolnya di bibir Widya, tapi Widya tak bergeming sehingga membuat pak Oman kesal. Untuk memaksa Widya membuka mulutnya, pak Oman memencet hidung Widya supaya ia tak bisa bernafas dan nantinya akan mengambil udara dari mulutnya.
“ayo buka mulutnya, bu”, kali ini sambil mengusapkan batang kontolnya ke seluruh wajah seakan sedang memperkenalkan bahwa kontol tersebut yang nantinya akan menggenjotnya.

Manusia rata-rata hanya bisa menahan nafas selama 1 sampai 2 menit saja, ada yang lebih bahkan sampai 11 menit itupun juga orang-orang tertentu yang bisa. Berbeda dari Widya yang memang tak pernah menahan nafasnya lebih dari 30 detik sehingga baru saja sekitar 15 detik, Widya sudah merasa tersiksa untuk lebih lama menahannya lagi sehingga karna mulai kehabisan nafas, mau tak mau Widya membuka mulutnya untuk menelan udara. Tapi saat mulutnya terbuka, bukan udaralah yang ia telan melainkan kontol pak Oman karna saat terbukanya mulut Widya, pak Oman langsung memasukkan batang kontolnya itu.

Alih-alih memperoleh udara segar, Widya malah harus menerima serangan kontol pak Oman. Memang Widya masih bisa bernafas karna ukuran kontol pak yang masuk kategori standar itu membuat mulut Widya tak terlalu penuh. Bahkan kontol pak Herman lebih besar dari pada milik pak Oman ini. Satu-satunya yang membuat pak Oman menang dari pak Herman hanya uratnya. Ya, pak Oman memiliki tonjolan urat di kontolnya yang terasa jelas.

Berhasil memasukkan batang kontolnya, pak Oman tak menyia-nyiakan kesempatannya itu. Ia langsung menggerakkan pinggulnya untuk menstimulasi batang kontolnya bergerak keluar masuk merogoh mulut Widya yang terasa hangat, lembut dan sangat nikmat itu.

“Aakkkkhhhhssssss…..enak banget mulutmu, bu. Sssshhhhh….Sering makan kontol ya? Sssshhhhh….”, racaunya sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur dan juga kedua tangannya memegang kepala Widya yang di lapisi oleh kerudung.

Entah kenapa pelecehan yang terjadi sekarang pada dirinya membuat Widya kurang suka. Sejak dirinya mulai menjadi pemuas anaknya dan juga mulai jatuh cinta pada anaknya sendiri, Widya mulai tak terlalu menginginkan keluasan dari orang lain selain dari anaknya sendiri. Seperti saat ini, apa yang Widya rasakan rasanya sama seperti dirinya pada saat di perkosa untuk pertama kali.

Rasa tak suka yang Widya rasakan membuat dirinya tak sadar menggigit batang kontol pak Oman yang tengah menjejali mulutnya dan keluar masuk disana. Walau Widya melakukannya tak kuat tapi tetap saja akibat gigitannya itu pak Oman mengerang sakit dan beberapa detik kemudian sebuah tamparan melayang, mendarat di pipi Widya cukup keras. PLAK!!! Terlihat amarah tersirat jelas di wajah pak Oman.

PLAK!!! PLAK!!! Beberapa tamparan susulan harus Widya terima lagi, bahkan pak Oman menampar kedua pipinya. Rasa panas merambat melalu pipi hingga wajah.

“DASAR LONTE!!!”, umpat pak Oman.
“LU HARUSNYABPUASIN KONTOL GUE, BUKANNYA DIGIGIT. DASAR BETINA GA GUNA!!!”, umpatnya benar-benar dengan emosi sambil menjambak Widya dari luar jilbab yang ia pakai.

CUIH!!! CUIH!!! Di ludahinya wajah Widya beberapa kali hingga wajah cantiknya itu mengalir ludah pak Oman yang bau.

“kalo bu Widya ga mau saya kasar, bu Widya hanya perlu turutin aja apa mau saya”, ia usap lembur pipi yang tadi sempat ia tampar seolah-olah emosi pak Oman memang selalu bisa berubah secara drastis.
“Sekarang buka lagi mulutmu, bu”, karna takut akan di tampar lagi nantinya, Widya hanya bisa menurut dengan membuka mulutnya lagi secara perlahan.

Kontol pak Oman kembali masuk ke dalam mulut Widya dan ia kembali melakukan gerakan maju dengan sesukanya seakan mulut Widya memang hanya sekedar alat pembersih kontolnya. Gerakan maju mundurnya yang langsung di ritme cukup cepat membuat Widya kewalahan dan beberapa kali terlihat mual dengan mata yang berkaca-kaca tapi pak Oman serasa tak melihat penderitaan Widya itu, ia tetap saja memorak-porandakan seisi mulut Widya dengan cepat dan dengan kenikmatannya.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“tak pernah bapak nemu mulut yang bisa terima sodokan kontol ini, akhirnya kontol bapak nemu yang pas, bu dan mulut itu punya bu Widya. Aaakkkkhhhhss….jadilah pembersih kontol saya ini, bu nanti saya bayar pake peju. Sssshhhhh…nikmatnyaaaa…”

Terlihat jelas bahwa pak Oman menikmati momen tersebut dimana kontolnya bisa keluar masuk di mulut Widya dengan leluasa mengorek kenikmatan yang di sediakan. Sementara itu ketiga teman pak Oman yang ternyata bawahannya hanya bisa menonton apa yang sedang bos mereka lakukan terhadap mulut perempuan cantik yang tak berdaya itu. Dua diantaranya masih memegangi tangan Widya dan satunya lagi masih berdiri di posisinya melihat pantat serta lubang memek Widya yang terpampang jelas.

Sebenarnya ketiga bawahnya itu sangat ingin merasakan apa yang sedang bosnya lakukan tapi mereka tak berani dan menunggu untuk mendapat izin serta giliran mereka, walau harus bersabar sambil merasakan kurang nyaman akibat batang kontol mereka yang juga sudah sangat tegang di balik celananya.

“Pakkgghh tolonghh lepasin Sawya ulu….bahdan Sawya sahitt”, pinta Widya di sela genjotan kontol pak Oman di mulutnya karna kaki serta punggungnya sudah sangat pegal dan juga sakit akibat posisi menekuk seperti itu.
“Saya lepasin, tapi bu Widya jangan coba-coba buat berontak apa lagi kabur. Jika ibu sampai kabur, saya bakal suruh orang-orang dingin buat gilir ibu seharian penuh. Kalo perlu bu Widya bakal kita sekap disini buat kita gilir sampai puas. Jika hal utu terjadi, bu Widya hanya akan bisa bermimpi untuk keluar dari sini dan pastinya Bu Widya bakal di gilir tiap harinya”, Widya menggeleng bahwa dirinya tak akan kabur.
“Baik kalo gitu”, ucap pak Oman sambil menarik lepas batang kontolnya uang sudah sangat basah oleh liur Widya.

“lu bertiga, lepasin tubuh bu Widya dari kursi ini”

Mendapat perintah dari bosnya itu, ketiganya langsung menuruti dan sebisa mungkin mereka mencoba cara untuk melepaskan tubuh Widya. Dengan beberapa cara, akhirnya Widya terlepas juga dari penderitaannya. Ia bisa meregangkan otot-otot tubuhnya dengan bebas lagi setelah keluar dari kursi sialan itu dan jika tak ada insiden kursi jebol, mungkin Widya tak akan sampai mendapatkan perlakuan seperti itu dari pak Oman.

Setelah tubuh Widya terlepas dari kursi, pak Oman menyuruh pada Widya untuk terlentang di tanah sambil mengangkangkan kedua kakinya dengan baju gamisnya yang di singkap sampai sebatas perut. Lubang memeknya yang merekah itu menjadi santapan lezat bagi mata keempatnya, termasuk pak Iman sendiri dimana ia langsung memosisikan kepalanya di selangkangan Widya.

Apa yang akan di lakukan oleh pak Oman sudah bisa dengan jelas di tebak bahwa ia akan mengoral memek Widya dengan mulut serta juga dengan lidahnya. Menikmati tekstur serta rasa dari memek Widya itu sendiri.

“Indah banget, bu memeknya. Udah ngelahirin berapa anak?”
“S…satu, pak”
“pantas saja kelihatan masih sangat bagus kaya gini. Kalo gitu saya tambahin satu lagi ya, bu. Bu Widya bakal saya buntingin”
“Pasti enak banget rasanya bisa tanam benih di sini dan nantinya pasti anak saya bakalan ganteng banget soalnya pas dia di keluarin dari memek seindah ini sih”

Posisi mulutnya kini hanya berjarak beberapa senti saja dari mulut memek Widya. Pak Oman mulai menjulurkan lidahnya untuk menyentuh bibir memek Widya. Menggunakan lidahnya ia mulai jilat secara lembut bagian tersebut dan berpindah pada klitorisnya. Lidah pak Oman yang menari tengah memainkan klitoris membuat Widya mulai merasakan geli dan tubuhnya secara perlahan mulai menggelinjang.

SLURP!!! SLURP!!!

Menggunakan bantuan jarinya, pak Oman mengorek memek Widya untuk mengeluarkan lendir yang sudah mulai terlihat membasahi ke area luar. Ia sedot dengan sangat menikmati seolah-olah sedang menikmati sebuah sup yang di letakan di atas piring menggunakan mulutnya langsung tanpa bantuan sendok.

Pak Oman korek secara dalam jarinya ke dalam memek Widya sampai satu jarinya masuk sepenuhnya. Merasakan hangat dan kedutan-kedutan kecil yang di terima oleh jarinya membuat pak Oman semakin gemas pada Widya sehingga ia menambahkan satu harinya lagi dan ia kocok dengan ritme sampai cairan Widya keluar dengan cara muncrat ke keluar membasahi semua jari dan juga lengan pak Oman, bahkan cairan kewanitaan Widya sampai membasahi tanah.

“wah keluar banyak banget, bu. Sange ya? Hahaha….atau pengen cepet-cepet saya kontolin? Hahahaha”, ejek pak Oman sambil tertawa dan ketiga bawahannya juga tertawa menanggapi ejekan bosnya itu.
“pake jari aja udah ngucur deras kaya gini apalagi saya kocok pake kontol, bu. Banjir yang ada. Hahahaha….”

SLURP!!!! SLURP!!!! SLURP!!!!

Pak Oman kembali menyedot cairan yang kini sudah keluar banyak membasahi memek Widya. Ia jilat dan ia sedot sampai habis karna rasa asin bercampur gurihnya itu membuat pak Oman sangat ketagihan dengan cairan kewanitaan Widya tersebut. Sampai-sampai pak Oman menjilati juga jari serta lengannya yang basah terkena semprotan cairan milik Widya tadi.

“Sedap banget, bu. Gurih”
“Memek ibu sudah basah, sekarang waktunya buat kontol saya masuk buat genjotin ibu. Hehehe…”, ucapnya sambil memegangi batang kontolnya yang masih sangat tegang mengacung dengan gagahnya???

“p…pelan-pelan , pak”, pinta Widya.

Sebenarnya ia ucapkan karna khawatir akan kandungannya, dimana janin yang sedang ia emban adalah benih dari anaknya sendiri. Widya takut jika pak Oman terlalu kasar menyetubuhi dirinya bisa membuat janinya mengalami masalah. Widya tak mau jika janin yang ada di perutnya sampai terkena imbasnya karna ia ingat bahwa anaknya, Evan sangat menginginkan untuk dirinya bisa hamil anaknya.

“enakkan ngentotin Lonte pake cara yang kasar, bu”
“jangan, pak. Saya…..saya lagi hamil soalnya”, terlihat raut wajah terkejut dari pak Oman maupun ketiga bawahannya.
“seriusan, bu?”, Widya mengangguk.
“wah keberuntungan macam apa lagi ini? Bisa genjotin bini orang terus bini orang yang kaya Lonte ini juga lagu bunting? Gila beruntung banget saya”
“laki mu tau ga kalo kamu tadi bagiin makanan?”
“tau, pak”, bohong Widya seolah-olah dirinya masih memiliki sosok suami di hidupnya karna ia tak mungkin bilang jika suaminya telah meninggal dan pastinya nanti pak Oman akan menanyakan perihal dirinya bisa hamil darimana.
“terus laki lu sekarang dimana? Jangan bilang kalo dia lagi nunggu di luar kampung”
“ga, pak. Suami saya lagi kerja sekarang”
“wah-wah….lakinya kerja nyari duit, bininya malah ikutan kerja, tapi Kerjaanya nge’lonte nyari kontol. Hahaha….dasar istri ga tau diri kamu, bu. Istri Lonte. Dah punya suami, anak mau dua tapi kelakuannya malah kaya Pelacur. CUIH!!!!”, leceh pak Oman dengan meludahi Widya lagi tepat di wajah, memek dan juga di baju gamis Widya pas di perutnya.

“kamu kalo dah lahir nanti harus tau, kalo ibumu pas kandung kamu itu sukanya nyari kontol. Ibumu bawa kamu diperut sambil nge’lonte. Hahahaha…”

Pak Oman yang sudah tak tahan lagi membentangkan kedua kaki Widya ke kanan dan kiri lalu ia memosisikan tubuhnya di tengah-tengah selangkangan Widya. Sambil memegang kontolnya, pak Oman mengarahkan ke bibir memek Widya dan secara perlahan ia mulai menjejalkan masuk bagang kontolnya itu. Rasa hangat, lembut, kenyal langsung menyerang kontol pak Oman secara sedikit demi sedikit melalui proses penetrasinya itu.

Perlahan namun pasti bahwa kontol pak Oman semakin lebih masuk ke dalam sampai pada satu sentakan terakhir yang dilakukan cukup keras membuat seluruh batang kontolnya tertelan habis oleh memek Widya dengan sempurnya. Sentakan keras itu juga membuat tubuh Widya terlonjak.

Seluruh batang kontolnya terasa sepeti sedang di manjakan oleh pijatan-pijatan kecil serta bercampur rasa hangat dari memek Widya membuat pak Oman terlena seperti sedang merasakan berada di surga. Memang benar kata orang, jika surga dunia bagi pria adalah terletak di wanita dan itu memang benar adanya.

Pak Oman mendiamkan sejenak batang kontolnya itu untuk meresapi rasa nikmat yang sedang menjalar ke tubuhnya. Setelah hampir satu menit batulah ia mulai menggerakkan pinggulnya untuk menggenjot selangkangan Widya dengan perlahan.

“aaakkkkhhhhss…..enak banget memekmu ini, bu. Seret, gila. Kontol saya kaya di remas sama memekmu. Aaakkkhhsssss….. Sssshhhhh….”
“Pasti kontol lakimu kecil ya jadinya masih sempit kaya gini walau mau anak dua”, sebenarnya Widya ingin menjawab bahwa kontol pak Oman lebih kecil dibanding milik almarhum suaminya dan juga kalah jauh dari kontol milik Evan.

Walau pak Oman melakukan genjotan pelan, tapi itu hanya diawalnya saja karna kini pak Oman mulai meningkatkan genjotan kontolnya pada memek Widya sedikit lebih cepat dan bertenaga lagi sehingga tubuh sintalnya yang terbaring tak berdaya di atas tanah ikut terlinjak maju mundur seirama dengan genjotan kontol pak Oman. Bunyi khas kedua kelamin saling bertabrakan mulai terdengar dengan jelas.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Baru saja lewat dari tiga menit pak Oman menikmati sempitnya jepitan memek Widya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah depan. Suara langkah kaki itu bukan milik satu orang tapi lebih.

Pak Oman yang menyadari langkah kaki tersebut yang kian mendekat menghentikan genjotan di memek Widya dan Widya oun sekarang menjadi takut jika orang tersebut adalah tetangga atau penghuni perkampungan yang lainnya. Pak Oman menyuruh ketiga anak buahnya itu untuk melihat serta menahan siapa yang datang itu dengan masih menancapkan kontolnya di memek Widya.

Masih dalam proses penyatuan dimana Widya terlentang di tanah dengan kedua kakinya terbuka lebar sementara pak Oman masih menjejalkan kontolnya di lubang peranakan Widya. Mereka berdua menunggu kabar tentang siapa orang yang masuk ke rumahnya.

Salah satu dari ketiga anak buah pak Oman datang lagi sambil memberitahukan siapa orang-orang tersebut. Dari suara berbisik yang Widya dengar, Widya menangkap bahwa mereka adalah mahasiswa yang akan melakukan tugas pengamatan di perkampungan tersebut dan yang mereka incar untuk membantu menyelesaikan tugas, mereka memilih tempat serta pekerjaan pak Oman sebagai bahannya.

“yaudah suruh mereka kesini”, Widya sangat kaget mendengar ucapan pak Oman dimana pria tersebut menyuruh mahasiswa itu untuk ke belakang rumah dan itu artinya mereka akan melihat dirinya yang sedang mengangkang di jejali oleh kontol pak Oman.
“bapak apa-apaan sih? Jangan lakuin itu, pak”
“bu Widya tenang aja”

Saat Widya tengah berdebat dengan pak Oman, ketiga bawahan pak Oman muncul lagi namun bertambah dengan dua orang mahasiswa di belakangnya. Sudah pasti dua mahasiswa itu sangat kaget saat melihat pak Oman tengah menyatukan kelaminya dengan Widya.

Raut wajah mereka yang kaget malah di tanggapi oleh pak Oman dengan santai dan pak Oman malah menggerakkan batang kontolnya dengan pelan menggesek dinding memek dalam Widya. Sambil menggerakkan batang kontolnya, pak Oman mengenalkan pada Widya siapa dua orang mahasiswa tersebut. Benar-benar gila pria itu. Karna kegilaan pak Oman itu, Widya menutupi wajahnya dengan ujung jilbab yang masih ia pakai.

Walau begitu Widya masih tetap mendengar karna telinganya masih berfungsi dengan normal dan dari pengebalan pak Oman itu, Widya dibuat menjadi kaget beserta bertanya-tanya dalam dirinya. Soalnya dari pengenalan pak Iman itu bahwa kedua mahasiswa tersebut berasal serta jurusannya sama dengan Evan. Widya juga teringat bahwa Evan beberapa hari lalu pernah bercerita tentang kegiatan kampusnya itu, dimana ia dan Deni akan survei tempat yang sudah di rencanakan namun gagal dan karna hal itulah Evan serta anggota kelompoknya harus mencari tempat lain lagi.

“tapi kayaknya bukan, soalnya diantara mereka tak ada Deni sedangkan kelompok Evan dengan Deni. Mereka memang satu jurusan dan juga satu tingkat dengan anakku, tapi mungkin saja mereka berbeda kelompok dan aku juga belum pernah bertemu dengan mereka”, batin Widya.

Widya masih bisa bernafas lega karna itu bukan kelompok anaknya. Tapi itu hanya berlangsung sesaat sebelum Widya kembali harus dibuat tak percaya untuk ke sekian kalinya. Apa yang ditanyakan oleh pak Oman kepada dua mahasiswa itu sukses membuat Widya merasakan lemas.

“itu….temen kalian yang dua lagi mana? Sssshhhhh….enak banget ini memek”, tanya pak Oman kepada dua mahasiswa tersebut sambil menggenjot pelan Widya.

“Oh, itu Deni sama Evan katanya ga bisa ikut. Deni lagi ke rumah saudaranya di luar kota sedangkan Evan ga jelas tuh alasannya pak. Oh iya, pak….ngomong-ngomong….”, ucap salah satu mahasiswa sambil mengarah ke Widya yang tengah di genjot oleh pak Oman.

“Ini tadi nemu pelacur yang memeknya gatal katanya mau di garuk pake kontol makanya saya bantuin. Ini Lonte lagi bunting”, jawab pak Oman melecehkan Widya.
“wah bisa dong pak kita ikut icip-icip?”
“Boleh aja”
“Serius, pak?!”, tanya mereka dengan sangat semangat.
“tapi harus bayar 500 kalo mau”
“yaelah kirain gratis, pak. Tapi segitu kemahalan lah, pak”

Hohoho….tanpa pak Oman sadari bahwa perempuan yang sedang ia genjot ternyata ibu dari anak yang dia tanyakan tadi dan kedua mahasiswa itu tak tahu jika perempuan yang akan mereka bayar adalah ibu nya Evan. Apakah Evan nantinya akan tau? Apakah Deni juga akan ikut di lain kesempatan?

.
.

*Bersambung….

Daftar Part

Cerita Terpopuler