. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 25 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 25

0
473

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 25

Berpacu Dalam Birahi

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Sudah lewat dua minggu dari kegiatan Widya diajak oleh anaknya untuk bersambang ke tempat panti pijat dan disana ia mendapatkan sebuah kejutan yang tak ia duga. Sebuah kenikmatan yang bisa ia dapatkan kembali bersama dengan orang lain walau kenikmatan yang ia dapatkan rasanya tak bisa menyemai lagi dengan kenikmatan yang di berikan oleh anaknya. Mendapatkan dari orang lain yang baru ia kenal memang enak di rasa tapi di lubuk hatinya sekarang hanya anaknya lah yang mampu memberikan semuanya. Kenikmatan, kasih sayang, perhatian dan juga pelecehan.

Waktu yang sudah lewat dari tiga minggu ini akhirnya Nonik memberikan keputusannya untuk mengajukan gugatan cerai pada Herman. Sudah pasti saat itu pak Herman keberatan dengan keputusan sepihak yang diambil oleh istrinya, namun akhirnya ia hanya bisa menerima kepahitan dalam rumah tangganya itu dan faktornya memang karna dirinya sendiri yang membuat istrinya sudah tak tahan untuk hidup bersama.

Walau belum secara resmi bercerai tapi mereka sudah pisah ranjang dimana bu Nonik sekarang hanya tinggal di rumah bersama Nindi seorang sementara pak Herman entah ke rumah orang tuanya atau ke tempat lain tak ada yang tau karna saat ia pergi dari rumah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada istrinya. Yang diketahui pak Herman hanya berbicara pada Nindi dan pembicaraan apa itu tak pasti di ketahui oleh bu Nonik.

Terlepas dari rumah tangga orang lain, Widya kini mulai menikmati perannya lagi sebagai ibu rumah tangga seperti biasa dan peran sebagai ibu yang menjadi pemuas anaknya juga. Sejak pertama kali dirinya di gagahi oleh anak kandungnya sendiri, sampai sekarang entah sudah berapa kali Evan menikmati semua lubangnya dan juga mengisinya.

Seringnya di masuki oleh cairan benih anaknya tak memungkiri bagi Widya bahwa ia tak terkena efeknya. Walau sebenarnya kemungkinan kecil tapi nyatanya kesempatan kecil itu masih bisa Widya alami. Ya, Widya kini merasakan gejala-gejala yang dialami oleh orang hamil. Mulai dari mual, payudara merasa nyeri, nafsu makan yang di dapat semakin menurun, cepat merasa lelah sampai buang air kecil lebih sering dari biasanya.

Kehamilannya itu sudah ia uji dengan tespek dan sudah ada kepastian bahwa calon janin yang ada di dalam rahimnya itu sudah pasti benih milik Evan karna hanya Evanlah yang selalu memuntahkan benihnya di dalam rahimnya.

“Ga tau lagi deh, Wid”
“yang sabar aja ya, Nik. Aku sama Evan selalu ada kok buat kamu”
“Makasih ya, Wid. Oh iya gimana kondisi kamu?”
“ya gini deh, Wid kaya ibu-ibu hamil lainnya”
“benar-benar ga sangka aku kalo kamu bisa di hamilin sama anak kandung sendiri. Nakal banget kamu, Wid”

Di dalam kamar Widya terus saja berbincang dengan bu Nonik lewat panggilan telepon sampai sosok Evan datang menghampirinya dan pembicaraan pun di tutup. Terlihat Evan datang hanya dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana boxer berwarna putih. Evan dekati mamahnya yang tengah duduk di kursi meja riasnya.

Setelah berada pas di depan tubuh mamahnya yang masih duduk, Evan langsung menurunkan celana boxer nya hingga kontolnya yang setengah berdiri terkulai dengan bebas. Tau apa yang anaknya mau, Widya meraihnya lalu ia kocok secara perlahan. Seperti sudah sangat terlatih Widya menggerakkan kocokkannya tanpa melakukan kesalahan, bisa dilihat dari ekspresi wajah Evan yang langsung dibuat merem melek akibat gesekan lembut nan halus tangan mamahnya.

“Anak mamah makin hari, makin nakal aja sih sama mamah sendiri”, ujar Widya dengan mengocok kontol Evan.
“Habisnya mamah bikin nafsu Evan terus sih”
“kaya gini juga tetap mamah kamu kali”
“benar sih, tapi mamah yang bisa anaknya pake”
“Pake apaan?”
“Di pake dalam segala hal. Ngentot contohnya”
“Mulut kamu itu, nak”
“Aaakkkhhhh….kocok terus, mah. ssshhhhh…”

Sembari mengocok, Widya juga melakukan rangsangan dengan cara meremas pelan kantung zakar Evan sehingga membuat anak itu makin keenakan oleh perbuatannya itu. Wajah yang tengah di tunjukan eh anaknya membuat Widya tertawa kecil. Akibat kocokkan tangan yang Widya lakukan membuat kontol Evan secara perlahan mulai lebih tegang dan lebih lagi sampai batang yang tengah Widya kocok benar-benar berubah dalam keadaan tegang sempurna dan dari ujung lubang kencingnya mulai mengalir cairan percum.

Melihat itu Widya julurkan lidahnya ke arah lubang kencing anaknya, menggunakan lidahnya ia mainkan di area tersebut sambil menjilatinya sampai ujung kepala jamur basah oleh liurnya serta cairan percum yang dikeluarkan anaknya bersih.

“Enak, nak?”
“ssshhh…banget, mah. Oouugghhhssss….mah…Evan boleh ya panggil mamah pake nama aja dan mamah panggil Evan pake sebutan sayang. Ssshhhh….”
“masa panggil mamah sendiri pake namanya sih? Ga sopan tau”
“Mamah juga ga sopan sama Evan. Mamah udah jilatin kontol Evan tanpa minta izin dulu sama yang punya. Ga sopan, Widya. Ssshhh…..”

Sudah berkali-kali Widya berhadapan dengan lelaki dan dari rentetan kejadian yang merubah dirinya itu Widya tanpa sadar mulai dan bisa menguasai teknik untuk memanjakan batang yang di miliki lawanya. Ia kini masukan ke dalam mulut dan ia maju mundurkan kepalanya demgan ritme sedikit cepat sambil menyedot kuat kontol anaknya yang memenuhi rongga mulutnya. Tangganya juga ia gunakan untuk mengocok seakan apa yang mulut Widya lakukan membuat anaknya serasa di terbangkan oleh kenikmatan.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Evan tekan kepala mamahnya supaya lebih dalam lagi menelan semua batang kontolnya sampai mentok ke tenggorokan. Ia tahan kepala mamahnya supaya tetap berada di posisi tersebut selama beberapa detik sampai mamahnya terlihat mual dan akan muntah baru Evan lepaskan. Waktu singkat Evan berikan pada sang mamah untuk mengambil nafas dan ia masukan lagi batang kontolnya sedalam-dalamnya namun kali tak Evan tahan, Evan gerakan kepala mamahnya untuk maju mundur dengan cepat dan kasar sampai suara mulut mamahnya yang sedang terisi serta disodok kontolnya terdengar jelas.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

Rambut panjang hitam nan indah yang dimiliki oleh Widya di jambak keras oleh Evan sebagai alat untuk memaju mundurkan kepalanya ke arah selangkangkan. Sampai sedikit merasa puas menyiksa mulut mamahnya Evan menarik lepas lagi kontolnya. Ia pegang kedua pipi mulus itu sambil memandang nafsu matanya.

CUH!!! CUH!!! CUH!!!

Tiga kali Evan ludahi wajah cantik, mulus mamahnya lalu ia tamparkan kontol besarnya itu ke mulut dan mengusapkannya ke seluruh bagian wajahnya dengan masih menjambak rambut mamahnya supaya posisi wajahnya tetap mengadah ke aras untuk menerima semua perlakuan batang kontolnya yang ia berikan.

Di ajaknya Widya ke arah ranjang dan disana ia disuruh untuk terlentang namun dalam posisi dimana kepalanya terjuntai ke bawah. Setelah menuruti keinginan anaknya itu, Evan memasukkan kontolnya lagi ke dalam mukul dan dalam posisi seperti itu Evan mulai memperkosa mulutnya dengan cepat seperti sedang memperkosa lubang memeknya.

“Aaakkkhhsssss…..enak banget, mah. Mulutmu memang luar biasa, Widyaaa…sssshhhhh….”

Evan sangat menikmati momennya dimana ia sedang mengeluar masukan kontolnya di mulut mamahnya sendiri dengan tempo yang cepat sampai liur mamahnya yang ikut tertarik keluar akibat gerakan kontolnya menjadi berbuih dan mengalir ke wajah cantiknya melewati hidang, mata alu berakhir di batas rambut hitamnya.

Widya kembali di beri waktu lagi untuk bernafas dengan bebas sambil bibir serta wajahnya di tampar-tampar lagi oleh kontol anaknya beberapa kali sampai mulutnya harus kembali penuh oleh benda besar sedikit menonjolkan urat-uratnya.

“pewlan-pewlan aha, hayang. Glok…Glok…Glok…”, ucap Widya tak jelas oleh penuhnya mulutnya yang tersumpal serta sedang dihajar oleh kontol.
“Aakkkhhhh…enak banget si, mah. Sssshhhhh….”, Evan remas kedua payudara mamahnya yang masih terbungkus oleh Bra serta pakaiannya. Ia remas dengan gemas dan remasan nya itu menjadi sebuah rangsangan tambahan untuk mamahnya yang sedang megap-megap di genjot mulutnya.

Liur berbuih yang keluar dari mulut Widya mulai banyak menyelimuti wajahnya dan hal tersebut membuat dirinya semakin susah untuk bernafas karna ada sebagian yang mengalir ke arah lubang hidungnya serta di tambah lagi kantung zakar anaknya terus saja menampar hidungnya setiap kali batang kontolnya melesak masuk ke dalam. Dengan susah payah Widya mencoba mencari udara di sela genjotan kontol anaknya yang terasa semakin cepat saja untuk menggempur.

Karna saat itu Widya sedang memakai rok membuat Evan dengan mudah menyingkap bagian selangkangannya, dimana celana dalam putih yang ia pakai langsung di geserkan ke samping dan jemari anaknya menggosok klitoris serta beberapa kali menusukkan jarinya di lubang memeknya. Mulut terisi, payudara di rema dan selangkangannya juga di permainkan membuat Widya semakin megap-megap oleh nafas serta nafsunya.

CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!! Kocokkan jari Evan terdengar dengan indah seakan sedang ikut mengiringi dirinya yang sedang menikmati mulut mamahnya.

Mungkin sekitar hampir empat menit Evan menikmati mulut mamahnya sampai ia merasa gemasnya tak bisa ia tahan lebih lama lagi. Evan sudah sangat kebelet untuk bisa menyodokkan kembali kontolnya di memek sang mamah karna lubang itu terasa sangat enak dan legit di kontolnya.

Evan menarik lepas lagi batang ko tolnya dari mulut mamahnya dan ia membimbing agar merubah posisinya untuk menungging demgan menghadapkan rekahan memeknya ke arah Evan yang sudah sangat tak tahan melihat keseksian tubuh mamahnya itu. Namun sebelum ia lakukan penetrasi awal, terlebih dahulu Evan kocok lagi lubang memek mamahnya hingga bunyi kecipak sangat terdengar jelas bahkan sampai menciprat keluar membasahi tangan Evan.

“Udah becek banget, mah. Evan masukin sekarang ya”
“pelan-pelan dulu, sayang”
“Tergantung memek mamah jepit kontol Evan banget apa ga. Kalo jepitannya kuat ya jangan salahin Evan. Hehehe…siap, mah”

Evan mulai menempelkan ujung kepala jamurnya dan dengan perlahan ia mulai menekankan masuk sampai senti demi senti ia mulai merasakan bahwa kontol ya serasa terjepit dari ujung merambat ke bagian tengah dan, BLES!!! Akhirnya semua batang kontolnya terjepit sepenuhnya di dalam lubang peranakan dimana dia dulu di lahirkan.

“Aaaakkkkhhh….enak banget, mah memekmu. Sssshhhhh…ga ada matinya nikmatnya. Ssshhhh.. “
“memek…memek mamah….ssshhhhh…penuh banget, sayang”
“tapi enak kan, mah?”, Widya mengangguk pelan.
“Dasar binal kamu Widya. PLAK!!!”, Ditamparnya bongkahan pantat Widya sebelah kiri tak terlalu keras namun suara yang di timbulkan cukup nyaring terdengar.

“Jangan di tampar dong, sayang”
“soalnya Evan gemas banget sih lihat pantat mamah yang bikin ngacengin banget”

Dalam posisi memek mamahnya sudah terisi penuh serta tengah menungging di ranjang, Evan menangkap kedua payudara yang masih menggantung tertutup Bra serta baju. Mungkin karna Evan merasa kurang puas untuk mengeksplor payudara mamahnya, Evan dengan paksa menariknya hingga kancing baju yang mamahnya pakai semuanya terlepas kemudian Bra hitam yang masih menutupi kedua payudara indah itu Evan hanya singkap ke bawah sampai kedua payudara mamahnya melompat keluar dan tergantung dengan jelas tanpa melepaskan Bra nya.

Diremasnya dengan gemas kedua bukit kenyal itu. Evan remas dan ia pilin putingnya dengan lumayan keras membuat Widya mengaduh merasa nyeri dibuatnya, walau merasa nyeri tapi kedua putingnya mulai semakin mengeras dan bentuk payudaranya mulai terlihat lebih kencang karna nafsunya.

“aaakkkhhsssss…..sayang….sakiitt…”
“di gilir banyak orang aja ga sakit, masa Cuma diginiin udah sakit, mah?”, Ucap Evan yang sebenarnya sangat kurang ajar itu tapi bagi Widya ucapan anaknya itu terdengar seperti ucapan biasa.
“Aduh… Kontol Evan kok…mamah pijit gini sih? Udah ga sabar Evan sodok ya, mah?”
“iya, sayang. Cepat…mamah pengen kamu”
“mamah bilang dulu siapa mamah dan siapa Evan nanti baru Evan mulai sodok”

Widya yang juga sudah dalam keadaan in fire itu tak bisa kalau harus menahannya lebih lama, dengan nafsunya Widya menanggapi pancingan dari anaknya itu.

“Widya ini mamah kamu….kamu itu anak mamah. Ssshhhh…ayo dong, sayang”
“Masa sekarang mamah suruh anaknya buat sodokin memeknya sih? Mamah ini memang benar-benar mamah Evan apa Lonte Evan sih?”
“Mamah kamu tapi Lonte kamu juga, sayang. Mamah pengen kontol anak mamah ini buat garukin memek mamah yang gatal. Tolong sayang. Ssshhhh….mamah ga tahan lagi”
“hehehehe….mamah memang mamah idaman banget deh”, sambil Evan mulai menggerakkan pinggulnya namun langsung dalam ritme sedikit cepat untuk memainkan nafsu mamahnya.

“Aaakkkhhsssss….pelan-pelan, sayang. Ssshhh….”, Pinta Widya sambil terus merasakan dorongan kasar batang kontol anak kandungnya sendiri yang setiap masuk ke dalam selalu mengenai rahimnya. Bahkan setiap gerakan keluar masuk kontol Evan terasa membuat bibir memeknya ikut terdorong dan tertarik serta klitorisnya tergesek oleh laju keluar masuknya kontol besar itu.

“Ooouuugghhh…sssssshhhh….memek mamah rasanya penuh sama kontol kamu, sayang. Ssshhhh…”, jerit nikmat Widya ketika ia merasakan setiap rongga memeknya terisi penuh oleh batang kontol Evan.

Widya menarik nafas panjang, sodokan kontol besar itu membuat Widya ingin berteriak mengekspresikan rasa nikmat yang sedang ia dapatkan, namun kesadaran membuat dirinya memikirkan akibatnya. Lendir yang sebelumnya keluar akibat kocokkan jari Evan membuat laju keluar masuk kontol Evan lancar tak ada masalah.

Yang tadinya Widya rasakan sangat penuh, sedikit-demi sedikit mulut dan rongga memeknya mulai terbiasa lagi untuk berusaha menyesuaikan diri dengan benda besar tersebut. Walau bukan pertama kalinya tapi entah kenapa Widya merasa harus membiasakan ukuran kontol anaknya saat memasuki tubuhnya, seakan-akan rongga memek Widya memang selalu kembali ke bentuknya semula seperti karet yang sangat elastis, akan mengembang menyesuaikan besarnya benda yang masuk dan akan kembali lagi saat benda di keluarkan.

“Ooouuugghhh…sssssshhhh…enak banget, sayang. Ssshhhh…tapi pelan-pelan aja, mamah masih perlu waktu buat sesuaikan”, Desah Widya sambil menggigit bibir bawahnya menekan rasa nikmat yang merambat di selangkangannya. Menahan rasa nikmat yang menyiksa seperti itu Widya hanya bisa merintih dan mendesah.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Pantat mamah montok banget. Sssshhhhh….Aakkkhhhh….”, Puji Evan sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur serta mengelus kulit pantat mamahnya yang halus dan mulus itu.
“Gimana kabar pak Narto sama pak Bambang ya, mah. Oouuggghhhhh…sssshhhhh…mainan mereka sekarang udah jadi mainan Evan. Sssshhhhh….Evan udah bisa entotin mamah juga kapanpun Evan mau. Hehehe…ssshhhhh…”
“Berhentiii, sayanggg….sssshhhhh….”, balas Widya sambil menggelengkan kepalanya.

Evan menghentikan gerakan pinggulnya maju mundur.

“Maksud mamah berhenti jangan bicarakan mereka lagi. Mamah milik kamu dan untuk kamu sekarang”, ucapnya sambil melihat ke belakang dan Evan tersenyum penuh kemenangan.
“Evan kira berhenti buat genjotin memek mamah”
“Makasih, mah karna udah kasih tubuh serta pijatan memek mamah buat Evan seorang. Jadi makin sayang deh sama mamah”
“Sayang apa nafsu?”, goda Widya namun dengan menampilkan wajah dibuat seperti sedikit sinis.
“Karna saking sayangnya itu Evan jadi nafsu sama mamah. Evan sampai titip anak loh di rahim mamah. Kurang sayang apalagi coba Evan sebagai anak. Hehehe…”

Mungkin karna Widya merasa tak tahan karna Evan masih saja mendiamkan batang kontolnya mulai melakukan goyangan pantat kecil untuk mengaduk kontol yang tengah bersarang di dalam memeknya. Widya juga berusaha melakukan gerakan empotan untuk mengajak kontol besar itu kembali mengajak memeknya bermain.

“Evan sayang banget sama mamah”, ucapnya sambil menarik kepala mamahnya untuk mendekat dan ia cium bibirnya dengan penuh kelembutan seakan-akan rasa sayang yang Evan punya ia salurkan lewat ciuman itu.

Beberapa saat berciuman membuat keduanya tersenyum dan saling pandang dan selanjutnya giliran Widya yang menarik kepala anaknya untuk mencium bibirnya. Mereka kembali berciuman dengan lembut layaknya sebuah pasangan yang sedang dimabuk oleh cinta. Dari ciuman dengan perlahan mulai berubah menjadi sebuah lumatan dimana nafsu keduanya mulai mendominasi lagi.

Di dalam lumayan itu Widya memberikan ludahnya untuk Evan dan di telan olehnya, begitu juga sebaliknya sampai mereka berdua merasa ludah yang mereka punya semakin menipis. Bahkan ludah anaknya yang mengalir di dagunya ia usap menggunakan jari lalu ia masukan ke dalam mulutnya.

“Evan terusin lagi, mah?”, Dan Widya mengangguk demgan tatapan sayu.
“apanya yang dimasukkan dan kemana, mah?”, goda Evan.
“Masukkan….masukkan kontol kamu ke memek mamah lagi, sayang”
“mamah memang nakal ya”
“iya sayang, mamah memang nakal. Hukum mamah pakai kontolmu itu, sayang. Sodok dan tampar rahim mamah dengan keras”
“mamah lagi hamil, loh”
“biarin…biarin anak yang mamah kandung ini tau siapa ayahnya”

“Evan sodok lagi nih, mah memekmu ini. Aaakkkhhhh…..akkkkhhhh…ssshhhhh….”, sambil memaju mundurkan pinggulnya lagi.
“Serius , mah… Memek mamah masih Peret banget rasanya…sssssshhhh….padahal sebelumnya sudah banyak yang kontolin. Ssshhhh….Aaakkkhhhh….”
“soalnya punya kamu yang paling besar, sayang. Aaakkkhhsssss….terus, sayang…terus Setubuhi mamahmu ini”, jerit nikmat Widya yang tak tertahankan. Kenikmatan akan persetubuhan terlarang itu membuat dirinya benar-benar lupa daratan.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dengan kekuatan penuh Evan menyodokkan kontolnya kuat-kuat menumbuk selangkangan mamahnya yang terasa sangat nikmat itu hingga membuat tubuh mamahnya ikut terdorong-dorong ke depan dan membuat kedua payudaranya terumbang-ambing seperti kapal di tengah badai.

“Ooouuugghhh… Memekmu sempit sekali, Widya… Pantatmu juga buat kontol anakmu ini semangat buat sodokin terusshhhh… oouuggghhhhh…enak banget”, racau Evan mencengkeram pinggul mamahnya dengan tumpuan untuk membantu menggerakkan pantat mamahnya maju mundur menyambut setiap sodokan kontolnya.
“iya, sayanggg… ooohhhh…”, balas Widya tak mau kalah. Dengan tubuh yang ditunggingkan, Widya membuka pahanya lebar-lebar supaya kontol besar milik anaknya bisa masuk lebih dalam serta bisa memompa memeknya lebih cepat lagi.
“Aakkkhhhh….akkkkhhhh….sodok yang keras.. Sodok memek mamah, sayaanng”

Tiap genjotan yang Evan lancarkan sangat bertenaga sampai-sampai suara kulit mereka yang bertabrakan terdengar sangat nyaring. Di gempur seperti itu membuat tubuh Widya makin menegang dan suaranya seperti tengah menahan sesuatu sambil meremas payudaranya sendiri secara bergantian.

Tubuhnya semakin menegang dan bahkan remasan tangannya sendiri semakin kencang saya sampai terlihat payudaranya seperti meluber keluar lewat sela-sela jarinya.

“Aaakkkhhhh….ssayyyannggg….”

CRET!!! CRET!!! CRET!!!

Evan merasakan seluruh batang kontolnya yang di telan habis oleh memek mamahnya di sembur oleh cairan hangat yang sangat banyak. Karna tersumbat oleh kontol besar Evan, cairan orgasme tersebut sampai menyemprot keluar lewat celah-celah genjotan kontol Evan.

Sensasi hangat yang di hasilkan dari orgasme mamahnya membuat Evan semakin tak tahan lagi untuk menjemput kenikmatannya. Tanpa memberi kesempatan bagi mamahnya yang sedang di terpa gelombang orgasmenya, Evan terus saja menggerakkan pinggulnya maju mundur menggesek dengan cepat membuat memek mamahnya semakin terasa lebih panas.

Genjotannya terus saja menjadi cepat dan racauannya makin tak jelas dan dalam beberapa hentakkan keras Evan mengerang dengan sangat nikmat.

“Aaarrggghhh…..keluar, mah!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Evan tembakan semua cairan peju nya di dalam memek mamahnya dan sudah pasti mengisi setiap rongga rahimnya dengan sangat banyak. Setiap tembakan yang ia keluarkan di rasa sangat nikmat sampai dirinya mencengkeram erat kedua sisi pinggul mamahnya itu. Mamahnya hanya bisa merintih bercampur desahan di sertai tubuh yang menggelinjang dengan hebat.

Setelah menembakkan semuanya, Evan ambruk menimpa tubuh mamahnya dan mengimpitnya di atas ranjang dengan nafas keduanya yang megap-megap setelah persetubuhan terlarang itu terjadi. Peluh mengucur deras dari keduanya yang menambahkan kesan bagaimana liarnya persetubuhan yang baru saja terjadi.

“Makasih, mah. Enak banget”, bisik Evan di telinga mamahnya dan ia cium serta ia jilat bagian lehernya yang berkeringat.

Di dalam suara gemercik kamar mandi yang terdengar mengalir. Sepasang wanita dan laki-laki tengah memacu birahinya untuk kedua kalinya. Suara air yang mengucur saling bersahutan dengan suara rintihan serta desahan yang keluar dari mereka seakan-akan tengah memberi gambaran bagaimana nikmatnya yang sedang mereka lakukan.

Evan dan Widya kembali melakukan persetubuhan mereka yang kedua di dalam kamar mandi setelah sebelumnya merek saling mendaki kenikmatannya di ranjang. Setelah persetubuhan itu Widya merasa badanya sangat lengket sehingga ia berniat untuk mandi sementara Evan masih diam di atas kasur dan air mulia di nyalakan untuk mengguyur tubuhnya.

Mungkin karna terhipnotis oleh suara gemercik air, nafsu Evan kembali bangkit sehingga ia menghampirinya dan tanpa banyak bicara dirinya ditunggingkan lalu kontol Evan yang sudah sangat tegang ia arahkan ke liang memeknya. Dalam sekali sentakan kontol tersebut berhasil menyumpal lubang sempit itu kembali.

“Aaaakkkkhhh…Aaaakkkkhhh….oouugghhhssss… ampun sayanggg.. aampuunn…ssshhhhh…”, jerit Widya karna kenikmatan yang ia dapatkan.
“Aaakkkhhsssss… Memek mamah memang gila banget. Sssssshhhh….padahal baru Evan genjot tapi tetap seret. Pantas saja mamah suka di gilir. Mamah kepingin memeknya di buat longgar ya? Sssshhhhh….tapi bukannya longgar malah tetap seret aja. Sssshhhhh….gila enak banget, mah”, racau nikmat Evan sambil terus menerus menusukkan kontolnya dalam-dalam ke dalam lubang memek mamahnya.

Evan menggenjot cukup keras, memaksakan batang kontolnya untuk dapat terbenam seluruhnya ke dalam liang segama mamahnya sampai kepala mamahnya ikut terlonjak-lonjak menerima setiap tusukan yang Evan berikan. Supaya tetap berada di keseimbangannya, Evan menyuruh kedua tangan mamahnya untuk berpegangan pada bibir bak mandi.

Dalam posisi telanjang bulat dan menungging bak anjing betina, Widya memejamkan matanya dan menggigit bibir meresapi rasa nikmat yang menjalar sambil berusaha menggerakkan otot-otot memeknya. Dimana hak itu membuat Evan makin belingsatan oleh perlakuan nikmat memeknya.

Kedua payudaranya yang terumbar dengan bebas basah bergoyang kesana kemari mengikuti alunan kontol Evan yang tengah merogoh bagian intimnya dengan bertenaga. Racauan serta desahan tak terhindarkan lagi sampai mulutnya menganga sehingga membuat kucuran air ada yang masuk ke dalam mulutnya dan tersedak.

Tersedaknya sang mamah membuat Evan semakin bernafsu dan ia jambak rambut basahnya itu sebagai tali kekang supaya posisi wajah mamahnya tetap mengadah ke arah guyuran air dan membuat sang mamah kesulitan untuk bernafas. Di Setubuhi dalam keadaan yang cukup sulit itu ternyata mampu membuat Widya mengalami orgasmenya kembali dengan menembakkan cairannya sangat banyak menyiram batang kontol yang tengah keluar masuk di memeknya itu.

SPLOK!!! SPLOK!!! SPLOK!!!

“Oouuggghhhhh….hangat banget, mah. Ssshhhhh.. Sembur terus, keluarin yang banyak, mah. Aaakkkkhhhhss…siram kontol Evan pake air kotormu itu. Aakkkhhhh …akkkkhhhh…”

SPLOK!!! SPLOK!!! SPLOK!!! Bunyi benturan kulit mereka terdengar sangat nikmat di telinga.

“akkkkhhhh….Aakkkhhhh….”
“Enak, mah? Enak?! Rasakan kontol Evan ini, mah. Rasakan kontol anakmu ini yang kau lahirkan dari memek yang sedang aku kontolin ini. Sssshhhhh…”
“Berhenti dulu, sayanggg….mamah ngilu. Aaakkkkkkhhhh….aaakkkhh….sayanggg….”
“kontol Evan juga ngilu, mah di remas sama memek mamah”, dengan kini meraih kedua payudara menggantung itu dan ia remas secara gemas sambil terus saja menggerakkan pinggulnya maju mundur Menumbuk area selangkangan.

Widya merasakan sebuah kenikmatan yang membuat dirinya terlena akan anaknya sendiri. Kenikmatan, sensasi bisa ia dapatkan secara bersamaan. Walau belum lama dirinya baru saja, tapi Widya mulai merasakan lagi bahwa gelombang orgasmenya akan segera menjemputnya. Tubuhnya mulai menegang lagi dengan racauan makin tersengar intens, tak Widya pikirkan saat dirinya meracau banyak air yang masuk ke dalam mulutnya sehingga racauan yang ia keluarkan tak terlalu jelas untuk di dengar.

Rongga memeknya semakin berkedut memberikan reaksi yang dimana reaksi itu mampu membuat Evan keenakan karna batang kontolnya serasa sangat dimanjakan di dalam sana.

“Mamah ngomong apa ga jelassshhh…”, Lalu Evan melepas jambakan rambunya sehingga mulut yang tadinya penuh oleh air bisa ia keluarkan.

“Mau…mau keluar lagi, sayanggg….sssshhhhh….mamah mau pipis lagi….”
“Masukin terus yang dalam… sodok kontolmu sampe mentok, sayanggg…. Memek mamah gatal banget pengen keluar lagi”
“binal sekali kamu, mah. Memang kaya Lonte banget betina ini. Lonte kau Widya. Aaakkkhhsssss….ini aku kasih kontol anakmu ini. Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…”

SPLOK!!! SPLOK!!!

Sentakan demi sentakan pinggul Evan begitu keras menghajar memek mamahnya untuk membantu menghantarkan gelombang kenikmatan kepada sang mamah yang sudah tak sabar lagi karna sudah semakin mendekat. Evan juga rasakan bukan hanya memek mamahnya saja yang panas tapi batang kontolnya oun juga terasa semakin memanas akibat gesekan cepat yang ia lakukan sedari tadi.

Rasa panas itu membuat sensasi semakin terasa dimana dengan gemasnya Evan kembali memainkan kedua payudara mamahnya dengan remasan yang kini cenderung keras dan ia juga mencubit kedua putingnya sampai suara lolongan terdengar sangat erotis baginya.

Seperti anjing betina yang tengah di gagahi oleh pejantannya, Widya hanya bisa merintih, mendesah dalam kondisi menungging dengan batang kontol anaknya yang terus saja membombardir liang memeknya secara cepat.

“memek enak. Ssshhhhh…ini kontol buatmu, Widya. Ssshhhh….”, kata Evan menghajar liang memek mungil milik mamahnya secara keras dan cepat dengan batang kontol besarnya yang keluar masuk secara terus menerus.
“Oouuggghhhhh…ampun, sayang. Aampuunn….akkkkhhhh…akkkkhhhh…”
“Ampun tapi mamah keenakan. Dasar betina binal!!!”
“mamah….mamah mau keluar, sayanggg….”

Gelombang orgasme yang memang sudah sangat dekat itu membuat otot-otot memek Widya terasa berkontraksi dan panasnya terasa menjalar hingga ke dalam rahim membuat sensasi geli yang teramat. Mungkin saja jika tubuhnya tak terguyur oleh air, bisa dilihat dengan jelas tubuhnya sudah mengkilap dan basah oleh keringat.

Tubuh polosnya mulai kelojotan dengan hebat dibawah guyuran air. Tubuhnya mengejang, hingga terlonjak ke depan, mengarah pada dinding kamar mandi sehingga kedua payudara nya terhimpit tubuhnya sendiri. Karna hal itu sontak saja batang kontol Evan langsung terlepas saat majunya tubuh Widya itu menabrak dinding.

Saat kontol Evan terlepas langsung saja Widya menyemburkan cairannya demgan amat banyak. Menyemprot dengan bebas seperti hal yang sedang kencing .

CCUUUURRR!!!

Dengan batang kontolnya yang sudah terlepas dan dalam keadaan mengacung dengan gagahnya, Evan melihat mamahnya yang mengalami Squirt tertawa senang. Kontolnya merespon dengan mengangguk berulang kali seperti sudah tak sabar ingin menikmati lubang sempit itu lagi tapi harus ia tunda terlebih dulu memberi kesempatan bagai mamahnya merasakan kenikmatannya.

Bahkan saat mamahnya masih mengucurkan cairan orgasmenya, Evan dekatkan kontolnya di bawah siraman cairan mamahnya untuk mencuci kontolnya yang lengket oleh lendir persetubuhan mereka.

“wah, banyak banget keluarnya, mah”, takjub Evan menikmati hangatnya cairan tersebut.

Walau Evan memberikan kesempatan untuk mamahnya menikmati momennya itu, tapi ia tak memberikannya secara lama karna dengan tak sabarannya Evan kembali melesakkan batang kontolnya di memek mamahnya yang masih sedikit menyemburkan cairannya dan masih terlihat jelas berkedut-kedut.

SLEP!!! Masuk sudah kontol Evan untuk ke sekian kalinya dan ia langsung tancap ritmenya dengan bernafsu.

“Ampuun, sayyannnng… berhenti dullluu… mamah…mamah masih ngilu banget. Aaakkkhhhh….akkkkhhhh….”, pinta Widya merasakan geli, ngilu dan nikmatnya lagi secara bersamaan. Merasakan ketiganya membuat tubuhnya menggelinjang dengan hebat seperti cacing kepanasan. Badanya meliuk-liuk dengan sangat indah.

Seperti ingin menyiksa mamahnya dalam kenikmatan, Evan terus saja menggerakkan pinggulnya maju mundur menggempur lubang sempit itu dengan enaknya sambil ia remas kedua bongkahan pantat mulus mamahnya yang sangat menggiurkan birahi. Ia remas demgan kuat meninggalkan jejak warna memerah disana.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!! Bahkan Evan juga menamparnya, tapi ia melakukannya tak keras. Walau tak keras tapi bekas remasan Evan membuat tamparan itu tetap terasa perih.

Widya baru saja orgasme dimana hal itu membuat batang kontol Evan semakin terasa sangat licin di dalam sana. Rasa licin itu tak ayal menjadi pelicin sekaligus perangsang rasa geli yang kontolnya terima. Evan kocok memek sempit mamahnya hingga membentuk cairan orgasme yang dikeluarkan tadi berubah menjadi berbuih.

Evan kembali melakukan gerakan menarik dengan tangannya, namun bukan rambut yang ia taruk kembali melainkan kedua payudara mamahnya yang tergantung dengan bebas itu. Menjadikan kedua payudara mamahnya sebagai tali pengendali dalam pacuan kuda yang sedang berlomba dalam perlombaan birahi yang sangat menggairahkan.

“Terus, nak…terusss sayanggg…Aakkkhhhh…akkkkhhhh…”
“lebih cepat lagiiiiihhhh….akkkkhhhh…”, lolong panjang Widya diikuti dengan susulan orgasmenya lagi.

CRET!!! CRET!!! CRET!!! Padahal belum lama Widya di genjot kembali setelah dirinya Orgasme tapi ia bisa mencapai rasa itu lagi. Bahkan orgasme yang ia alami terasa lebih nikmat dari sebelumnya. Badannya mulai menggigil bukan kran guyuran air melainkan menggigil karna lemas karna mendapat kenikmatan yang terus ia dapatkan.

Hal seperti itulah yang membuat Widya mau di Setubuhi oleh anaknya sendiri karna dia bisa mendapatkan kenikmatan yang berlipat dari pria-pria yang sebelumnya pernah menikmati tubuhnya juga.

Karna kenikmatan yang ia dapatkan bergulir secara terus menerus membuat rasa lelah dan capeknya tak tertahankan lagi. Di tambah lutunya sudah bergetar dan akibatnya ia tak bisa mempertahankan lagi keseimbangannya lalu tubuhnya ambruk ke lantai dengan posisi bersimpuh sambil bersandar ke arah dinding. Dadanya naik turun tanda kekurangan udara.

“hhaaahhhh….hhaaahhhh….mamah lemes, sayang….”
“padahal kontol Evan belum mamah bikin lemas loh, tapi yaudah deh”

Evan memberi kesempatan bagi mamahnya untuk sedikit bernafas dengan bebas. Ia lumat bibirnya secara singkat lalu berpindah ke bagian payudaranya dan seperti bayi, Evan menyusu di kedua puting cokelat kemerahan itu secara bergantian. Berharap bahwa air susunya sudah keluar taoci nyatanya belum sama sekali karna kandungan mamahnya masih sangatlah seumur jagung.

Dari memainkan bagian payudara, Evan beranjak dengan memainkan kontolnya sendiri untuk disapukan ke seluruh wajah mamahnya dan ia lakukan juga dengan menampar-namparkan kecil kontolnya di bibir serta wajah cantik mamahnya yang masih sedikit mengatur nafasnya. Merasa cukup dengan waktu yang Evan berikan, ia bersuara untuk meminta melanjutkan permainannya.

“coba mamah telentang di lantai terus buka sedikit kakinya”

Tanpa mengelus Widya langsung merebahkan dirinya dilantai dengan menampakkan seluruh tubuh bagian depannya yang polos di hadapan Evan yang berdiri dengan kontol yang mengacung tegak. Kakinya ia buka dan lantas saja Widya memperlihatkan lubang memeknya yang merekah siap untuk di gagahi kembali oleh pejantannya.

“benarkah, mah dulu Evan lahir dari lubang ini?”, tanya Evan yang sudah berjongkok.
“Iya kamu lahir dari situ tapi sekarang malah kamu sodok-sodok”
“Evan kan Cuma mau bantu mamah buat gunain lubang ini sesuai fungsinya”, sambil mengorek bagian dalam menggunakan jarinya.
“eeegggghhhhhh….”, lenguh Widya saat jari Evan bermain di dalam lubang peranakannya.

Lalu Evan sapu seluruh permukaan memek serta pintu masuknya menggunakan lidahnya. Permainan lidah Evan mampu membuat Widya kembali menggelinjang geli dibuatnya dan karna rasa geli bercampur nikmat itu Widya tekan kepala Evan untuk lebih masuk ke dalam selangkangannya.

Sekitar dua menit Evan memainkan lidahnya, ia sadar bahwa ekspresi wajah yang tengah di tunjukan oleh mamahnya sungguh sanggat menggairahkan. Tatapannya sayu, nafasnya tersengal dan mulut sedikit terbuka mengeluarkan suara erotis untuk di dengar. Merasa bahwa permainan selanjutnya sudah bisa ia mulai kembali, Evan memegang batang kontolnya lalu ia dekatkan kepala kontolnya tepat di bibir memek. Di renggangkan lebih lebar lagi, Evan mendorongkan pinggulnya maju dan melesakkan batang kontolnya yang masih sangat keras meminta untuk dipuaskan.

BLES!!!

“OOOUUGGHHHHH!!!”, Erang keduanya saat penyatuan berhasil.

“Mamah sudah siapa Evan bikin kelojotan lagi?”, Widya mengangguk lemah.
“baiklah, terima sodokan kontol anakmu ini, Widya. Sekarang giliranmu buat memuaskan”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan langsung saja berada di ritme yang cepat, dimana suara persetubuhan mereka terdengar sangat nyaring menggema di area kamar mandi. Air yang sedari tadi hidup sudah dimatikan sehingga panas tubuh mereka bisa dirasakan dan langai kamar mandi yang tadinya dingin menjadi serasa memanas.

Dalam posisi tiduran dan kedua kaki yang mengangkang, selangkangannya di hajar habis oleh kontol anaknya sendiri yang tengah memompa keluar masuk di dalam lubang memeknya yang sudah sangat licin oleh cairannya sendiri.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dari gerakan maju mundur pinggulnya sudah terlihat jelas bahwa Evan ingin segera mencapai puncak kenikmatannya. Berkali-kali ia hujamkan batang kontolnya sedalam-dalamnya hingga membuat tubuh mamahnya ikut-ikutan terguncang seiring sodokan pinggulnya. Tak lupa, ia juga berkali-kali mengulum puting payudaranya yang mengacung tinggi serta meremasnya dengan gemas dan mencucupnya sehingga meninggalkan bekas tanda-tanda merah hasil cupangan serta remasanya di sana.

“Aaakkkkkkhhhh….akkkkhhhh….sedot teruss, sayanggg…beri tanda yang banyak biar mamah memang jadi milik kamu seutuhnya. Teruuss, sayanggg”, Racau Widya sambil mengusap kepala Evan sambil sesekali meremas serta menjambaknya.
“Sssssshhhh….oouuggghhhhh….enaknya memekmu, mah. Sssshhhhh….”

Perlahan, seiring genjotan yang ia lancarkan pada selangkangan mamahnya membuat gelombang kenikmatan yang Evan harapkan itupun muncul. Rasa hangat nikmat yang selalu terasa ketika orgasme sudah mulai terkumpul di pangkal kontolnya yang terjepit di dalam sana. Kedutan demi kedutan yang diberikan oleh dinding memek mamahnya memberi rangsangan tambahan seakan-akan memek mamahnya sudah menanti untuk diisi oleh benihnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Oouuggghhhhh, mmaahhh…..sshhhh….Evan mau kkeluaarrrr….”
“Hebat kamu, nak. Mamah…mamah juga mau keluar lagiihhh…..”
“Memang Lonte kamu, Widya. Aaakkkkhhhhss…..di genjot anak sendiri sampai dapat berkali-kali. Sssshhhhh….memek sialan”

Gerakan pinggul Evan menstimulasi batang kontolnya agar tetap keluar masuk dengan cepat membuatnya merem melek karna ia akan mencapai puncaknya setelah sekian lama bekerja dan hanya mamahnya saja yang di puaskan sejak tadi.

“maahhhh…Evan sembur anak kita ya”
“Evan mau kasih tau kalo ibunya ini bisa dipake dan kaya Lonte banget”

SPLOK!!! SPLOK!!! SPLOK!!!

“Aaaakkkkhhh…Aaaakkkkhhh….terserah…terserah kamu aja, sayang. Kamu buang dimanapun bakalan mamah terima. Aaakkkhhsssss….terus, sayanggg…terusss…Ooouuugghhh…ssshhhhh…”

Hujaman demi Hujaman batang kontolnya yang mendobrak rahim mamahnya semakin keras, cepat dan bertenaga di setiap hentakkan nya. Bunyi tumbukkan kulit mereka terdengar keras dan sangat khas mengiringi persetubuhan ibu dan anak yang tengah terjadi dengan liarnya dan panasnya.

Kedua kaki Widya di sampirkan pada pundak Evan sehingga kedua lututnya tertekan oleh lututnya sendiri dan di posisi itu Evan terus saja membombardir memek Widya seperti tanpa memberinya ampun. Desahan, erangan dan rintihan nikmat saling bergantian keluar dari mulut Widya. Kulut pantatnya terlihat membal ketika menerima setiap sodokan kuat yang Evan hujamkan ke dalam lubang memeknya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Bukan hanya Evan saja yang memang sudah sangat tak sabar untuk menyambut kenikmatan tapi Widya oun juga sama, semakin Evan menggenjot dirinya dengan cepat, gelombang orgasme kian ikut mendekat. Widya menyemangati anaknya dengan cara meracau dan juga ia mainkan kedua puting anaknya walau dirinya sendiri merasa sangat tersiksa dengan kenikmatan juga, tapi ia harus tahan dan ia harus jangan egois. Mau bagaimanapun Evan juga harus mendapatkan apa yang ia dapatkan.

“Sayanggg…mamah mau keluar lagi, sayang…”
“mamah…mamah cepat banget keluarnya. Evan satu kali aja belum, mamah udah keluar berkali-kali. Dasar memek gatal memekmu, mah. Sssssshhhh….”
“Maafin mamah, sayanggg…mamah ga tahan kalo di genjot sama kamu. Aakkkhhhh…akkkkhhhh…kontol kamu enak banggeeettthhhh…..sssshhhhh…”

Meluapkan rasa gemasnya, Evan memasukkan jarinya ke dalam mulut mamahnya dan ia korek mulut itu dengan jarinya. Dimasukkan untuk menyentuh tenggorokan sehingga membuat mamahnya merasa mual ingin muntah dan saat mamahnya akan muntah ia tarik jarinya. Setelahnya ia lakukan lagi seperti itu beberapa kali sampai mata mamahnya berair dan wajahnya memerah.

Saat Widya mual dan akan muntah otomatis mulutnya terbuka dan hal itu digunakan oleh Evan untuk meludahi mulut mamahnya beberapa kali lalu menyuruhnya untuk menelan habis semuanya. Setelah ludahnya tertelan habis, Evan kembali mengorek mulut mamahnya dengan jarinya dan saat mual Evan ludahi lagi mulutnya.

“enak, mah ludah Evan?”
“Iyaaahhh….enak, sayanggg…”
“kotor banget mulutmu, mah….Evan kencingi baru tau rasa”, Walau Evan berkata seperti itu ia tak akan memperlakukan mamahnya lebih jauh lagi karna di dalam hatinya ia tak tega jadi ia keluarkan kata-kata merendahkan itu hanya untuk memacu sensasi semata.

“mulut….mulut mamah bukan toilet, sayaanng…ssshhhhh…mulut mamah lebih suka buat nampung peju sama kontol kamu saja. Aaakkkkhhhhss….Ooouuugghhh….”

“Beruntung banget Evan punya mamah cantik…semok…toket gede. Sssshhhhh….bisa di kontolin sampe bunting lagi. Aaakkkhhsssss….Evan bahagia banget, maahhhh…”

Maju-mundur, keluar masuk terus Evan lancarkan ke arah selangkangan mamahnya yang mempunyai sejuta kenikmatan dunia itu. Seolah-olah lubang sempit mamahnya tak ada matinya untuk dinikmati setiap saat, dimanapun serta kapanpun Evan mau menggunakannya sebagai pemuasnya. Lubang yang dulu menjadi tempat dirinya dilahirkan sekarang hanya sekedar sarung kontol dan tempat dirinya memuaskan birahi serta tempat untuk menampung peju nya.

“daripada di buang di toilet, mubazir mending gue buang di memek mamah. Udah enak berguna lagi, berguna bisa bikin bunting”, batin Evan bersuara di sela genjotannya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Genjotan dan juga perlakuan Evan membuat Widya makin terangsang dengan nafsunya sehingga tanpa ia sadari dinding memeknya meremas dengan kuat bayang kontol Evan yang masih setia keluar masuk menggesek dinding memeknya yang sempit itu. Evan yang me dapatkan remasan di kontolnya merasa merinding dalam nikmatnya.

“oouuggghhhhh…memek mamah remas kontol Evan banget. Sssshhhhh…”
“remas terus seperti ini, mah biar Evan bisa cepet semprotin peju Evan di memek mamah. Remas terus, mah sedikit lagi ini…”
“kalo hal itu bisa buat kamu….cepat keluar. Ssshhh….mamah bakal remas terus kontol kamu, sayang”

Sesuai perkataannya, Widya menggerakkan dinding memeknya secara terus menerus, ia juga mencoba untuk melakukan gerakan empotan. Benar saja, Evan menjadi merem melek dengan keringat yang sudah membanjiri tubuh serta wajahnya. Bulir-bulir keringat Evan jatuh menetes di perut dan juga kedua payudaranya yang bergoyang.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Suara tumbukan batang kontol Evan ke arah memek basah mamahnya terdengar begitu jelas dan keras memenuhi ruangan. Dalam keadaan birahi tinggi karna akan mencapai klimaksnya, keduanya sampai sama sekali tak menghiraukan kegaduhan yang ditimbulkan oleh gerakan kelamin mereka. Yang ada di kepala mereka bagaikan caranya agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, sebuah orgasme.

“Ssayyyannggg…mamah kkeluaarrrr….Ooooouuuuggggggghhhhh..”, lolong Widya dengan lantang sambil sambil mengalungkan kedua kakinya pada pinggul Evan supaya batang kontolnya menekan sedalam mungkin ke dalam memeknya hingga ke rahim.

Widya mendapatkan gelombang orgasmenya dan di saat kedua kaki mamahnya mengalung di pinggangnya yang mengakibatkan kontolnya terbenam masuk lebih dalam, Evan juga melepaskan muatannya. Ia orgasme bersamaan dengan mamahnya saat itu.

“oouuggghhhhh…..Widya, Lonteku….Pelacurku….gue keluar…peju ini buat lu, Widyaaa!!!”, erangnya menggema dengan kedua tangganya meremas kencang payudara mamahnya sambil ia semburkan semua cairan peju nya di dalam rahim sang mamah dalam jumlah yang banyak.

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Saat masing-masing selesai dengan orgasmenya, mereka berdua terkulai lemas dimana Evan menindih tubuh mamahnya di atas lantai kamar mandi dan nafas mereka terdengar sangat kasar memantul di ruangan kamar mandi. Dalam diam hanya suara nafas, Evan mendiamkan batang kontolnya untuk tetap berada di dalam memek mamahnya untuk menikmati sisa-sisa kedutan yang mamahnya berikan sebagai bonus servis pada kontolnya.

Dalam posisi itu mereka berdua benar-benar tak ada percakapan yang keluar karna saking lelah dan juga puasnya setelah persetubuhan berakhir.

Baru sekitar lima menit berselang, Evan menarik lepas batang kontolnya yang sudah mulai layu di dalam sana. Seperti biasa karna banyaknya peju yang Evan keluarkan membuat mulut bawah mamahnya memuntahkan cairan peju nya dengan banyak. Mengalir seiring tercabutnya batang kontolnya itu dan jatuh menggenang di langai keramik kamar mandi. Evan pandang dengan takjub ke arah lubang seggama mamahnya yang terawat dan bentuknya serta warnanya bagus bisa menampung kontolnya selama ini bahkan Evan masih belum mengerti bagaimana memek mamahnya bisa selalu kembali menyempit seperti tak pernah di pakai saja.

Evan maju mengangkangi wajah mamahnya dan mengarahkan ujung kepala jamurnya untuk di bersihkan menggunakan mulut manis mamahnya sampai benar-benar bersih dari lendir mereka berdua. Sudah seperti prosesi bagi Evan setelah menyetubuhi mamahnya, ia pasti akan memukulkan batang kontolnya di wajah cantik tersebut beberapa kali.

“Kontol Evan selalu buat mamah”, ucapnya sambil memukulkan kontol setengah tegangnya di wajah sang mamah.

PLAK!!! PLAK!!! Evan menampar payudara mamahnya pelan dan ia melakukannya satu kali pada masing-masing sisi.

“mubazir nih, mah kalo harus di ke buang”, ucap Evan melihat genangan peju nya yang tak mampu di tampung oleh memek mamahnya.

Menggunakan telapak tangannya, Evan ambil dan ia datakan di wajah mamahnya. Karna cairan yang menggenang cukup banyak Evan melakukannya tiga kali lagi dan ketiganya ia suruh mamahnya untuk menjilat bersih telapak tangannya.

“mamah pintar banget deh…mulutnya bisa bersihin peju. Hehehe…”, sambil mengelap tangannya yang basah oleh liur mamahnya di kedua payudara.

Cukup beristirahat untuk mengembalikan sedikit tenaga mereka, Evan bangkit dari duduknya dan ia memandikan mamahnya secara normal. Ia sabuni seluruh badannya dan ia basuh hingga bersih. Evan juga menyabuni dan memandikan badannya sendiri. Saat selesai Evan juga mengeringkan badan sang mamah dengan handuk.

Proses mandi yang bercampur persetubuhan liar selesai, Widya diajak anaknya untuk langsung tiduran di ranjang dan Widya di suruh untuk tak usah memakai pakaian apapun alias mereka tetap dalam kondisi telanjang bulat.

Evan memeluk tubuh mamahnya di dalam selimut dan akhirnya mereka tertidur karena kelelahan dengan membawa sejuta kenikmatan ke dalam mimpinya.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler