. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 22 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 22

0
426

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 22

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Widya telah selesai dari tugas rumahnya dan dengan peluh yang ada, ia duduk di sofa ruang tengah menonton acara televisi yang sedang menampilkan sebuah gosip bersama segelas minuman dingin. Dalam suasana hening itu membuat pikiran Widya terbang mengingat runtutan kejadian yang ada di hidupnya. Dari merelakan tubuhnya untuk di nikmati seorang dukun dan tukang ojek lalu berlanjut pada sebuah pemerkosaan yang menimpa dirinya di dalam bus dan Rest area sampai pada tahap dirinya dinikmati oleh Pak Herman, pak Narto. Belum berakhir karna anak kandungnya juga ikut andil alih atas tubuhnya.

Dalam benaknya terlintas sebuah kalimat “mengapa hal itu bisa terjadi?”, tapi disisi lain semuanya mulai ia nikmati bahkan tanpa sadar sekarang tangannya sendiri sudah mengelus memeknya dari balik celana yang dipakai.

Runtutan kejadian yang tak diinginkan pada perempuan pada umunya tapi karna pengalaman itu membuat dirinya merasakan apa yang namanya kepuasan batin secara menyeluruh. Kepuasan yang memang tak pernah ia dapat dan tak pernah ia rasakan selama hidupnya membina rumah tangga bersama almarhum suaminya.

Saat sedang melamunkan apa yang terjadi pada hidupnya, bel rumah terdengar di pencet dari luar dan dengan bergegas Widya berjalan untuk melihat siapa tamu tersebut. Terlihat sosok Nonik di depan pintu dengan senyumnya yang mengembang sambil membawa tupperware berisi makanan. Melihat kedatangan Nonik ke rumahnya membuat Widya teringat akan kejadian yang baru saja ia alami. Kejadian dimana dirinya di undang sebagai tamu arisan yang Nonik ikuti itu.

Ternyata Nonik baru saja membuat makanan yang memang ia berniat untuk membaginya pada para tetangga dan salah satunya pada Widya. Sementara Widya yang mendapat niat baik dari Nonik pun mengajaknya untuk masuk dan berbincang. Walau dalam perbincangan itu sesekali Nonik menyinggung tentang kejadian saat arisan dan terlihat Widya menanggapinya biasa saja karna memang pada akhirnya ia ikut menikmati.

Sedikit penjelasan tentang insiden arisan. Saat itu Nonik mengajak Widya sebagai tamu di perkumpulan arisannya dan awalnya Widya menolak karna ia tak kenal dengan anggota yang ada tapi karna bujuk rayuan yang Nonik berikan akhirnya Widya mau juga mengikuti ajakan Nonik tersebut. Beberapa hari sebelum hari kejadian, Nonik mengajak Widya untuk bertemu dengan anggota arisan yang lain di salah satu Cafe, di pertemuan itu secara perlahan Widya mulai kenal dengan seluruh anggota arisan dan bahkan mulai akrab.

Setelah hari pertemuan itu tibalah dimana Widya datang ke acara arisan sebagai tamu undangan, bukan sebagai anggota tetap dimana sesampainya ia di tempat arisan Widya benar-benar di perlakukan dengan baik layaknya seorang tamu tanpa di sadari minuman yang ia minum telah di campur dengan obat perangsang hingga sebuah kejadian dimana ia di permalukan secara utuh di depan banyak orang yang sedang menyaksikan live streaming yang telah di siapkan oleh tuan rumah.

Disini mungkin banyak yang mikir kalo penjelasan yang saya kasih kurang detail dan terkesan terburu-buru. Oke saya kasih tau, untuk scene arisan ini sudah saya bilang bahwa di cerita ini tak akan saya eksplore karna suatu alasan? Alasannya…. karna salah satu anggota arisan disini ada sosok Yuli. Tau dia siapa?

Scene arisan ini akan di singgung pada ceritanya Yuli. Disana akan di ceritakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi. Jadi sabar aja kalo memang menunggu scene arisan ini. Ga tau juga sih udah pernah bilang atau belum kalo Widya ini sedikit terhubung dengan karakter Yuli.

Jam tangan dilihat sudah menunjukkan pukul 13.50 dimana Evan baru saja selesai mengikuti kelas siangnya. Sambil mengeluarkan nafas malasnya ia berjalan ke arah kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Setibanya dirinya di kantin, sosok Deni sedang duduk di salah satu bangku dengan kaki satunya uang ia angkat bak sedang nongkrong di warung kopi.

Hari ini Evan tak ada kegiatan bersama Alice karna wanita itu tengah pergi ke luar kota menemui ibunya. Dulu Evan merasa belingsatan saat Alice pergi untuk beberapa hari karna tak bisa melepaskan hasratnya, tapi untuk sekarang ia tak terlalu memusingkan soalnya sudah ada tempat lain yang bisa melepaskan kebutuhan seksualnya itu, yaitu pada sang mamah.

“ngapain lu disini sendirian? Bukanya masuk kelas malah ngebatu di kantin. Nunggu pacar?”, sapa Evan sembari duduk di kursi depannya Deni.
“Sialan lu! Kalo gue dah punya pacar, gue ga bakal coli terus njing”, balas Deni dengan sewot saat disinggung soal pacar. Perlu di ketahui bahwa Deni itu masih jomblo yang hobinya kencan bareng sabun.

“Resti nganggur tuh, sikat aja. Lagian gue jamin kalo lu jadian sama dia pasti lu bakal dibikin puas”
“Ogah gue, Resti bukan tipe gue. Lagian dia mantan lu”
“yaelah jadi cowok jomblo aja pilih-pilih soal cewek. Tipe lu kaya apa sih sebenarnya? Gue yang mau bantu lu buat cariin juga jadi bingung”
“tipe gue? Kaya mamah lu. Cantik, bodi semok udah gitu depan belakang beris lagi. Mantap lah model kaya mamah lu itu”

Evan teringat akan fantasinya yang memang dia ingin mendengar penilaian orang lain tentang tubuh mamahnya sendiri sehingga ia pancing Deni untuk berbicara lebih banyak lagi terhadap dirinya.

“Emang mamah gue kaya gitu? Kok gue biasa aja ya?”
“itu mah lu nya aja yang bego. Orang punya mamah cantik, bodi yahud kaya gitu lu anggurin”
“Maksudnya?”
“maaf nih ya, kalo gue sih pasti udah gue manfaatin tubuhnya buat kepuasan pribadi, ya minimal buat bacol lah”
“Mana ada gue mamah sendiri dijadiin bacol”
“Eh bentar, kalo lu mikir gitu tentang mamah gue…berarti ku juga suka bacolin mamah gue dong”, Deni meringis.
“ya maaf-maaf aja nih, Van. Gue cowok normal kali dan gue akui juga kalo gue ga jarang pake foto mamah lu yang udah gue download dari Instagram buat gue jadiin bacol”

Evan merasakan darahnya berdesir merasakan sensasi yang nikmat menjalar tubuhnya saat mendengar penjelasan Deni bahwa mamahnya sering di gunakan sebagai obyek fantasinya. Terasa juga bahwa batang kontolnya mulai ikut berdiri saat temannya berbicara mesum tentang mamahnya.

“Lu kalo bacol itu biasanya bayangin apa tentang mamah gue?”
“normal aja sih, palingan gue bayangin kalo gue lagi ngentotin mamah lu gitu. Kalo ga ya gue bayangin kalo tubuh mamah lu itu lagi di gangbang orang. Kadang gue juga bayangin kalo gue jadi anaknya dan saat itu mamah gue itu di entotin orang di belakang gue”

Evan tak menyangka jika temannya itu ternyata punya fantasi tentang mamahnya sendiri dan fantasi yang temannya punya itu terdengar sangat liar dan menggairahkan. Walau sebenarnya fantasi yang Deni punya juga sama dengan fantasi Evan.

Mendengar pengakuan mesum Deni membuat Evan merasakan nafsu yang tiba-tiba hinggap di dirinya. Ia ingin sekali langsung pergi menemui mamahnya di rumah dan melampiaskannya sampai puas. Tanpa berbicara lebih lama lagi Evan bangkit dari duduknya dan pamit untuk pulang tapi sebelum benar-benar pergi Evan mendengar bahwa Deni mengatakan, “mau bacolin mamah sendiri lu?”. Evan terus berjalan ke arah parkiran motor tanpa menghiraukan ucapan temannya itu.

Evan mengendarai sepeda motornya dalam kondisi yang tengah terangsang hebat m, bahkan sampai di lalu lintas yang tengah berwarna merah ada salah satu pengendara yang sepertinya melihat ketegangan di celananya itu, tapi Evan tak hiraukan dan menampilkan wajah cuek di balik helm full face nya. Yang Evan pikirkan hanyalah sosok tubuh mamah ya yang sudah membuatnya selalu bernafsu terhadapnya. Ia tahan terus rasa ngilu di kontolnya itu sampai tiba di depan rumah.

Lekas saja Evan turun dari motor dan melihat sendal wanita yang sepertinya bukan punya mamahnya karna tak mempunyai model sendal seperti itu. Dalam hatinya Evan merutuk kesal karna ia ingin menuntaskan hasratnya malah mamahnya sedang ada tamu.

Dengan mencoba bersabar karna kesalnya Evan masuk melalui pintu utama. Masuknya Evan tak ada orang di ruang tamu dan bukankah ada tamu? Ia langkahkan kakinya lebih dalam sampai dirinya mendengar suara yang tak asing lagi di telinga. Suara desahan terdengar dari arah ruang tengah dan saat ia lihat betapa kagetnya karna ada dua sosok wanita dalam keadaan telanjang bulat dan kedua wanita itu mamahnya beserta dengan bu Nonik. Hal yang lebih membuat Evan kaget sekaligus takjub adalah disaat Evan melihat bahwa bu Nonik tengah menjilati memek mamahnya dengan sangat lahap seperti menjilat ice cream.

Ssllluurrpll….ssllluuurrrppp…

“Aaakkkhhhh…sssshhhhh….ssshhh….”

Bu Nonik

Evan berdiri terpaku melihat pemandangan panas yang tak lazim itu dimana ada seorang wanita tengah memuaskan wanita lainnya. Mungkin karna sadar dari rasa nikmatnya, Widya melihat sosok Evan yang tengah berdiri melihat ke arahnya. Sontak saja ia membenarkan posisinya yang tengah duduk mengangkang di sofa dan memeknya tengah di jilati oleh bu Nonik. Sementara bu Nonik yang belum mengetahui posisinya terlihat bingung saat Widya menghentikan kegiatannya.

“nak, mamah bisa jelasin!”, Suara celat Widya menyadarkan bu Nonik akan kehadiran Evan di belakangnya itu. Wajahnya terlihat langsung pucat pasi, Nonik merasa takut jika Evan marah sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan menyilangkan tangannya.

Evan yang tak menjawab ucapan mamahnya langsung bergegas naik ke kamarnya meninggalkan dua perempuan telanjang itu yang dimana melihat dengan tatapan yang campur aduk. Perginya Evan membuat Widya dan Nonik bergegas memungut pakaiannya kembali dan secara terburu-buru mengenakannya kembali, namun sebelum semuanya terpakai Evan kembali lagi dari kamarnya dengan membawa sebuah laptop di tangannya.

“Bajunya ga usah di pakai lagi!”, ucap Evan dengan nada sedikit membentak. Reflek saja keduanya berhenti memakai baju dan hanya berdiri diam mewanti apa yang akan dikatakan oleh Evan selanjutnya. Nonik baru saja berhasil memakai Celana dalam serta Bra nya, sedangkan Widya baru celana dalamnya.

Evan meletakan laptopnya diatas meja dan duduk. Jemarinya langsung mengotak-atik papan keyboard tersebut beberapa saat hingga ia membalikkan layarnya ke hadapan mamahnya serta bu Nonik.

Bahwasanya pada layar tersebut memperlihatkan rekaman di rumah. Di mulai dari Nonik pertama kali masuk untuk bertamu, sampai tahap bu Nonik mencumbu mamahnya hingga tahap yang Evan lihat secara langsung. Bu Nonik menatap Evan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, antara tatapan yang masih menunjukkan sebuah nafsu dan tatapan bingung.

“Lihat”, tunjuk Evan pada beberapa pojok atas ruangan dimana ada kamera yang terpasang dengan ekspresi datar.

“Rekaman ini bisa gue sebar loh sama tetangga ataupun gue unggah di situs dewasa”, sambung Evan.
“jangan, Van! Di rekaman ini juga menampilkan jelas juga mamah kamu”
“Mamah kan Lonte, biar aja sekalian orang-orang tau biar lebih banyak orang yang ngentotin dia. Lagian mamah pasti suka kalo banyak kontol yang bisa puasin”, balasnya masih dengan tatapan datar. Ucapan Evan berhasil memojokkan Nonik dimana ia langsung bergerak ke arah Evan dan memegang maki Evan.
“jangan, Van. Tante mohon jangan kamu sebarin. Tante ga mau kalo orang-orang yang kenal tante ataupun keluarga tau tentang hal ini tante mohon, Van”

Evan meraih kembali laptopnya. Tangannya membuka salah satu file lainnya dimana file yang Evan buka itu membuat mata mamahnya melotot kaget. Saat itu Widya menggelengkan kepala pada Evan seolah-olah menyuruh anaknya supaya tak memperlihatkan video itu pada Nonik tapi tak diidahkan.

“sekarang tante lihat ini juga”

Bu Nonik melihat ke layar laptop milik Evan untuk kedua kalinya dan video yang ia lihat tengah menunjukkan sebuah persetubuhan yang terjadi antara suaminya dengan Widya, mamahnya. Badan bu Nonik serasa kaku tak bisa bergerak melihat video tersebut. Terlihat jelas bahwa suaminya tengah memaju memundurkan kontolnya dengan buas di memek temanya sendiri.

“Aaakkkhhhh….Aakkkhhhh….enak banget memekmu bu, aaakkkhhsssss….. “

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Tanpa Nonik sadar air matanya mengalir dari sela matanya. Ekspresi wajah yang tengah di gambarkan juga terlihat kacau. Rasa kecewa, marah, sakit hati bercampur menjadi satu dimana lelaki yang hidup bersama dalam membangun rumah tangga terlihat sedang mencari kepuasan dengan wanita lain dan wanita itu tetangga sekaligus temannya sendiri.

“akhirnya ini waktu gue buat balas semua perbuatan lu bajingan!”, batin Evan sebagai permulaan dirinya untuk menghancurkan kehidupan damai pak Herman, walau sebenarnya caranya saat itu tak sesuai dengan rencana aksinya tapi yang jelas dengan cara itupun dirinya juga bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.

Bu Nonik di paksa oleh Evan untuk menonton Video tersebut sampai selesai dan setelahnya Evan menceritakan apa saja yang diperbuat oleh suaminya pada mamahnya. Sebagian besar memang benar, tapi ada beberapa fakta yang ia manipulasi untuk memperlancar rencananya itu. Tak ada salahnya membalas hal busuk dengan cara busuk juga.

“kalian suami istri sama busuknya!”, umpat Evan.
“suamimu dengan leluasa memainkan tubuh mamah gue dan sekarang….tante memainkan tubuh mamah juga?!”

Bu Nonik kembali memegang kedua kaki Evan dengan tangisan yang sudah pecah itu. Sementara Widya hanya berdiri diam menyimak apa yang tengah terjadi di depannya itu. Kalo misalkan Widya boleh berbicara jujur, sebenarnya Widya memang merasakan sangat senang tapi di lain sisi dirinya juga merasa sedikit ada yang hilang dimana pak Herman pasti akan pergi dari hidupnya.

Berulang kali bu Nonik mengutarakan permintaan maafnya itu pada Evan dan cukup lama pula bu Nonik menangis dalam posisi tersebut sampai Evan melihat ke arah mamahnya dimana sang mamah menganggukkan kepalanya pelan memberi tahu untuk memaafkan saja. Evan yang memang melakukan pembalasan itu semata-mata demi mamahnya pun mengambil nafas serta membuangnya dengan kasar.

“apa yang tante harapkan dari suami bejat seperti Herman itu?!”, bu Nonik menggeleng, gelengan itu membuat Evan dan Widya kurang mengerti maksudnya.

“sebenarnya…sebenarnya tante udah lama pendam perasaan ini, Van. Tante udah lama ada niatan buat….buat pisah sama mas Herman”. Sebuah jawaban dilontarkan bu Nonik yang sama sekali tak disangka. Ternyata bu Nonik ini memang sudah lama ingin bercerai dengan suaminya tapi dengan alasan apa? Bukankah keluarga mereka terlihat hangat dan adem ayem.

“Mungkin kamu kira kalo tante bilang kaya gini supaya kamu kira tante memihak kamu kan? Sama sekali ga, Van. Tante benar-benar ingin bercerai dengan mas Herman semenjak ia berhenti bekerja”

Mungkin sudah tau jika pak Herman sehari-harinya hanya bersantai dan tak bekerja bukan? Alasan itulah kenapa bu Nonik menjadi guru les karna untuk mempertahankan perekonomiannya yang setiap hari terus saja berkurang. Jangan bilang kalo bu Nonik tak setia dan ingin meninggalkan suminya di kala susah. Jika berbicara maslah setia, dalam maslah yang sedang terjadi siap sebenarnya yang tak setia? Pak Herman bermain belakang atas tubuh Widya, sementara bu Nonik? Tak pernah sekalipun ia bermain dengan lelaki lain, ia hanya bermain dengan perempuan anggota arisan dan itupun sangat jarang ikut.

Terlepas dari kata SETIA, selanjutnya masalah ekonomi. Hey, wanita mana yang tak tahan jika suaminya hanya bersantai di rumah sedangkan istrinya banting tulang mencari uang untuk membiayai kehidupan keluarga serta sekolah anaknya? Wanita mana?! Secinta apapun dia lambat laur akan merasakan yang namanya jenuh dalam hidupnya.

Bu Nonik kembali melanjutkan ceritanya sambil terus terisak. Evan merasakan sebuah rasa iba pada wanita di depannya itu tapi entah kenapa saat melihat tampilan awal video yang ada di laptopnya amarahnya kembali bangkit. Layar laptopnya menampilkan gambar mamahnya tengah di doggy oleh pak Herman.

“tante pendam sampai sekarang karna tante masih ragu-ragu untuk melakukannya dan tante tak mau jika Nindi menjadi korbannya nanti tapi setelah mengetahui kebenarannya… Tante sudah yakin untuk bercerai dari lelaki keparat itu!”

“jadi tante mohon jangan sebarin video ini, Van karna tante ga mau imbasnya kena ke Nindi juga. Tante mohon banget sama kamu”
“gue bakal tetap sebarin ini video dan masalah mamah saya ralat, wajah mamah bisa gue blur”
“tante mohon, Van…. Tolong….”, ucapnya dengan tangsi kembali pecah, namun tangisan bu Nonik terdengar sangat nikmat di telinga dimana ia bisa mendengar tangisan putus asa dari salah satu orang yang ada hubungannya dengan pak Herman.

“Tante lihat ada yang berdiri disini?”, tunjuk Evan pada selangkangannya.
“Kalo tante suruh gue buat amanain itu video, tante sudah tau pastinya apa yang gue maksud”

Bu Nonik terlihat sangat kaget dengan perkataan Evan itu. Perkataannya cukup membuat kupingnya rasanya ingin menampar keras anak itu, tapi tubuhnya serasa mati rasa tak mau untuk di gerakan. Perkataan Evan itu sudah sangat cukup merendahkan dirinya, walau bu Nonik sadar akan kelakuannya selama ini dan bahkan ia sadar betul bagaimana dirinya mempermalukan dan merendahkan harga diri Widya di acara arisan. Mungkinkah ini sebuah karma?

“ga mau! Tante ga mau, Van. Tolong yang lain saja”

Tanpa memedulikan ucapan bu Nonik Evan sibuk dengan dirinya sendiri yang tengah mengelus kontolnya dari balik celana seakan-akan sedang kasih tau kalo bagian itu tengah mengacung dengan tegak.

Nafsu yang memang sedang ia daki bersama Widya tadi harus tertahan akibat datangnya Evan, tapi nafsu itu kembali muncul menjalar keseluruhan tubuhnya. Terasa sangat jelas juga bahwa bagian selangkangan bu Nonik terasa gatal, bahkan rasa gatal yang ia rasakan jauh lebih menyiksa dari sebelumnya.

Nafsu yang lambat laur menguasai bu Nonik kembali membuatnya mulai buta akan sekitarnya. Bu Nonik yang menolak tawaran Evan taci entah kenapa rasanya mulai ia inginkan sendiri. Dengan dorongan nafsu bu Nonik memutuskan pilihannya dan sebuah kalimat pernyataan keluar dari mulutnya dalam keadaan sadar dan tau tentang apa yang ia katakan itu.

“Tante…tante bakal lakuin apapun buat kamu. Apapun yang kamu minta tante bakal mau. Kamu sudah dewasa, apa kamu menginginkan tubuh Tante? Jika benar, tante siap!”, tanpa Evan yang bicara, bu Nonik malah bilang sendiri. Sebuah keberuntungan kah? Walau begitu Evan bersikap berlawanan, ia tak mau langsung mengiyakan.
“tubuh tante? Buat apa? Evan sudah punya mamah”, terlihat jelas ekspresi kaget di wajah bu Nonik.

Sementara bu Nonik menampilkan wajah tak percaya, Evan menyuruh mamahnya untuk mendekat ke arah dirinya. Dengan patuh Widya berjalan menghampiri Evan dan tanpa di komando ia duduk bersimpuh di sebelah kakinya. Bu Nonik masih melihat lekat sosok temannya itu masih tak percaya jika ibu dan anak itu ada hubungan diluar kewajaran.

“mah, kontol Evan kok rasanya ngilu ya, mah? Coba deh mamah keluarkan terus mamah periksa pake mulut mamah”
“Tapi, nak—“
“udah gapapa, mah”

Perlahan Widya membuka kancing pengait celana Jeans anaknya serta resleting nya. Selanjutnya ia tarik celana panjang itu beserta dengan celana dalamnya. TUING!!! Terlihat sudah batang kontol Evan yang mempunyai ukuran tergolong besar itu sudah sangat tegang sembari terlihat beberapa ulir uratnya yang menonjol. Dalam benak Widya merasakan nafsunya kembali tergugah saat melihat kontol anaknya itu.

“Ayo, mah coba mulai di periksa. Mamah kan jago kalo obati masalah beginian”

Nafsu yang mulai baik membuat Widya terlena dan dengan cepat ia pegang kontol anaknya itu serta ia masukan ke dalam mulutnya. Tanpa melalukan permulaan terlebih dahulu dengan cara menjilat atau mengulum ujungnya, Widya langsung memasukkannya sampai pangkal dan kepalanya ia naik turunkan dengan celat, di kombinasikan dengan gerakan tangan yang mengocok.

“Aaakkkhhhh….sssshhhhh….terus, mah…sepongan mamah memang yang terenak. Ssshhh….terusss…”, desah Evan membelai rambut panjang mamahnya dengan kepala yang ia dongakan ke atas meresapi rasa nikmat yang sedang menjalar di seluruh batang Kontolnya.

Bu Nonik yang masih diam dalam posisinya melihat betul bagaimana Widya melahap kontol tersebut dengan sangat nikmatnya. Entah kenapa kewanitaannya bangkit dan rasanya ia ingin ikut menikmati benda besar panjang itu.

Evan sadar apa yang dirasakan oleh bu Ninik tapi ia bersikap sok acuh tak menyadarinya. Ia gunakan cara untuk memanas-manasi tetangganya itu dengan cara memegang kepala mamahnya dan menggerakkan kepala itu untuk lebih cepat lagi memasukkan serta mengeluarkan kontolnya.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“Aaakkkhhsssss….enak banget mulutmu, mah. Ssshhhh….”
“eemmppffff… Eemmppffff….Nakkhhhh….”

Seperti yang Evan harapkan. Bu Nonik yang sudah gak bisa menahan nafsunya mendorong kepala Widya dan langsung melahap kontol Evan ke dalam mulutnya. Gerakannya juga tak kalah dengan Widya. Akhirnya Evan merasa berhasil karna sudah menjinakkan bu Nonik itu sehingga pemuasnya kini telah bertambah.

“kenapa tante masukin kontol Evan ke mulut tante?!”, tanya Evan berpura-pura kaget.
“Tolong, nak….tante ga tahan lagi lihat penis kontol kamu”, bu Nonik memasukkan kembali ke dalam mulutnya tapi kepalanya di tahan.
“mamah aja yang kulum kontol Evan”, langsung saja Widya memasukkan kembali kontol anaknya itu ke dalam mulut, sementara bu Nonik terlihat meminta penjelasan pada Evan.

“Evan ga mau kalo harus di puaskan oleh tante. Tante itu bukan siapa-siapa Evan”

Bu Nonik terlihat berpikir untuk tindakan yang akan ia putuskan itu. Walau harus menerima segala risiko yang ada.

“kalo begitu tolong jadikan Tante budakmu, Van. Tante ga tahan lagi”
“tante serius? Kalo tante kulum kontol Evan sekali lagi itu artinya tante bakal jadi pemuas Evan loh, Lonte Evan…. Lihatlah mamah Evan ini, terlihat seperti Lonte kan, padahal kontol anak sendiri loh tapi mau-maunya masukin ke mulut”
“iya, tante mau. Terserah mau kamu anggap Lonte, Pelacur atau apapun itu. Tante mau….”

Evan menarik lepas kontolnya dari kuluman mamahnya dan langsung mengangkat bu Nonik serta memosisikannya untuk tiduran di sofa, namun posisi kepalanya tergantung ke bawah. Evan ingin me’deeptrhoat mulut tetangganya itu.

“Buka mulutnya, tan”, dengan patuh bu Nonik membuka mulutnya dan langsung di sumpal oleh kontol Evan.

Dalam posisi itu Evan menyerang mulut bu Nonik dengan cepat seakan sedang menikmati lubang memeknya. Ia lakukan gerakan keluar masuk dengan cepat, tak jarang juga ia masukan hingga mengok ke pangkal tenggorokan bu Nonik. Sementara bu Nonik yang baru pertama kalinya menerima pengalaman itu merasa mual dan selalu ingin tersedak.

Sementara Widya yang menganggur di suruh anaknya untuk naik ke atas sofa dan disuruh dan menduduki payudara bu Nonik untuk menyodorkan kedua payudaranya dimana langsung melumat habis kedua putingnya secara bergantian. Desahan keluar kembali dari mulut Widya saat kedua payudaranya tengah di sedot putingnya secara bergantian dan di remas kencang oleh tangan anaknya itu.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“ssllluuurrrppp…ssllluuurrrppp…enak banget ternyata….mulut tante….ssshhhhh….ga kalah sama mulut mamah. Ssllluuurrrppp…ssllluuurrrppp…”, racau Evan sambil terus menikmati kedua payudara mamahnya.

Cukup puas menikmati mulut tetangganya, Evan memosisikan tubuh bu Nonik untuk tidur terlentang secara luruh diatas sofa. Setelahnya ia tarik celana dalam putihnya dan ia buang ke sembarang arah. Evan terperangah dengan aset yang disembunyikan oleh bu Nonik selama ini. Bentuk memeknya terlihat sangat menggairahkan walau masih bagusan punya mamahnya, mungkin akibat faktor dia suami pak Herman yang notabene tukang ngentot.

CUIH!!! CUIH!!!

Evan ludahi kontolnya sendiri dan bibir memek bu Nonik sebagai pelumas. Dirasa sudah cukup basah Evan mulai menempelkan ujung kepala kontolnya dan, BLES!!! Masuk dengan sempurna. Saat proses penetrasi itu Evan tak terlalu menerima halangan rasanya langsung amblas saja, beda sekali dengan saat dirinya merasakan memek mamahnya sendiri. Walau begitu jepitan memek bu Nonik masih terasa.

“udah longgar aja memeknya, tan? Mamah aja yang sudah di entotin banyak kontol masih aja seret. Ssshhhh…. “, bu Nonik tak menjawab, ia hanya menggigit bibir bawahnya menikmati sensasi masuknya kontol asli pertama selain punya suaminya.

Seperti yang dibilang bahwa bu Nonik hanya melayani pak Herman tapi tanpa Evan ketahui rasa lumayan longgar itu diakibatkan oleh aktivitas bu Nonik di dalam arisan itu. Dimana setiap bersenang-senang dengan para anggotanya, Dildo yang dipakai ukurannya jumbo. Hal tersebut sudah jelas menggambarkan bagaimana bisa memeknya bu Nonik tak selegit punya mamahnya. Walau begitu masih tetap terasa enak bagi Evan.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan mulai menggenjot liang memek bu Nonik dengan cepat karna dirinya merasa sedikit kecewa. Ekspektasi awalnya Evan mengira bahwa memek tetangganya itu jauh lebih sempit di banding milik mamahnya, tapi nyatanya malah kebalikan. Justru memek tetangganya terasa seperti pelacur asli yang sudah di masuki banyak kontol.

Widya hanya bisa melihat diam bagaimana anaknya itu tengah menikmati tubuh temannya. Walau sebenarnya ia juga sangat menginginkan hal tersebut tapi mau bagaimana lagi dan pada akhirnya hanya bisa menonton sambil berharap anaknya kembali datang padanya untuk memberikan kenikmatan tersebut.

“Aaakkhhhhhssss….ssshhhhh….gimana rasanya, tan? Sssshhhhh…gimana kontol Evan ini….ssshhh….”
“enakkk…..terusss, Van. Teruussss…aaakkkkhhhhss….oouugghhhssss…enakk….”
“ga usah ditanya enakkan mana sama punya pak Herman…. Soalnya gue sudah lihat sendiri bagaimana punya dia. Sssshhhhh….dan gue udah tau jawabannya dari manah langsung…kalo enakkan kontol gue daripada kontol suami bajingan lu itu, tan. Sssshhhhh…”
“mas Herman memanggss…pria bajingan, Van… Karna itu tante mau cerai sama dia. Aaakkkhhsssss… Genjot terus, Van… Ooouuugghhh…enaknya…ssshhh…”

Dalam tempo genjotan yang Evan lakukan ternyata bu Nonik orgasme tanpa permisi. Terasa jelas saat batang kontolnya di siram oleh cairan hangat dalam jumlah yang banyak. Merasakan kesal, Evan menampar payudara bu Nonik beberapa kali, tapi tamparan yang diberikan malah membuat bu Nonik mengalami Multi orgasme.

“Dasar Lonte ga tau diri! Ngecrot ga bilang, dikasari malah dapat lagi”
“AAKKKHHHH!!!”, erang bu Nonik karna satu payudaranya di remas kuat oleh Evan.

Evan merubah posisinya dengan tiduran di belakang bu Nonik dengan posisi menyamping itu Evan kembali mengeluar masukan batang kontolnya dengan cepat sampai badanya ikut terguncang. Desahan bercampur erangan nikmat terdengar sangat menggairahkan dari mulut bu Nonik. Setiap suara yang keluar menambah kesan panas dan obat pacu bagi Evan.

“Lumayan…juga toketmu, tan. Ssshhhh….”, Evan meremas kedua buah payudara bu Nonik dengan gemas.
“lebih dalamm….lebih dalam lagi, Van…ssshhh….enak banget…oouugghhhssss…”
“Ssshhh….apa jadinya kalo Nindi tau…ternyata ibunya minta di sodok kontol. Ssshhhh….”
“Ga peduli….ssshhhhh…..tante lebih peduli sama kenikmatan dari kontol kamu ini. Aaakkkhhsssss….”

Evan yang terbakar api birahi melepaskan batang kontolnya dan langsung mengambil posisi kepalanya di depan memek bu Nonik yang merekah basah itu. Menggunakan lidahnya Evan melumat habis cairan itu sampai bu Nonik tak kuasa menahan sensasi yang diberikan oleh Evan. Badanya menggeliat bak cacing kepanasan di buatnya. Bulir-bulir keringat mulai terlihat jelas keluar dari pori-pori kulit mulut hu Nonik jatuh membasahi sofa.

Dalam posisi tengah di jilati memeknya oleh Evan membuat bu Nonik makin blingsatan. Ia remas rambut Evan dengan kuat dan menekannya untuk lebih masuk lagi kepala tersebut di selangkangannya.

“yang dalam, Van…Aaauugghhhsss…. Ooouuugghhh…..sssshhhhh….”
“enak, tan? Ssllluuurrrppp…ssllurrrpp….”
“banggeeettthhhh…ssshhhhh… “

Sambil terus menyedot cairan beserta memainkan klitoris bu Nonik menggunakan lidahnya, Evan memainkan juga kedua puting bu Nonik dengan menariknya keras sehingga terdengar suara erangan yang sangat nyaring di telinga. Walau Evan tau bahwa wanita tersebut tersiksa dengan perlakuannya tapi Evan tetap melakukan hal tersebut beberapa kali. Dari cubitan dan betotan keras di kedua putingnya, bu Nonik juga harus menerima remasan kuat yang membuat payudaranya memerah.

“Aaaakkkkhhh… Jangan di mainin gitu, Van. Sssshhhhh….sakit?”
“Enak?”, tanya Evan masih mempermainkan kedua puting bu Nonik.
“Ssaakkkiittt….ssshhhhh….”
“Enak?!”
“Aduuhhh….sssshhhhh….saakkittt, Van….”
“hey, Betina!!! Enak tidak?!”
“Aaakkhhhhhssss…..iya-iya, enakkk….Aaakkkhhhh…..ssshhhhh…”

Puas menjilati cairan kewanitaan bu Nonik, Evan menyuruhnya untuk berposisi menungging sambil berpegangan pada mamahnya dan menyuruh keduanya untuk saling melumat. Evan yang memang sudah tak sabar lagi memosisikan kepala kontolnya tepat di bibir memek bu Nonik.

“Dorong badan tante ke belakang”, perintah Evan. Bu Nonik mendorongkan badanya ke belakang hingga suara desahan tersengar di sela lumatannya pada bibir sang mamah. Saat itu lubang peranakan bu Nonik kembali terisi sempurna oleh batang kejantanan milik Evan yang sudah siap memompanya dengan nikmat.

Ssllluuurrrppp….ssllluuurrrppp…

Sementara itu terdengar suara antara bu Nonik dan mamahnya yang sedang saling melumat dengan liarnya. Keduanya saling menyedot air lirnya dan menelan habis. Evan yang mendengar dan melihat pemandangan itu merasakan sebuah kesenangan yang sangat. Lalu ia ungkapkan rasa senangnya itu dengan menggenjot memek bu Nonik dengan cepat dan bertenaga.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkhhhh…..sssshhhhh…memek sialan….memek lonte…aaakkkhhsssss….lihat ini pak…Lihat!!! Bapak berkali-kali sodok memek mamah. Ssshhhh….sekarang gantian Evan sodok memek istrimu ini. Aaakkkkhhhhss…. tapi sayangnya….memek istrimu ini agak longgar kaya memek pelacur. Aakkkhhhh…sssshhhhh….”, batin Evan.

“Maaaaa….”, sedang asyik-asyiknya mendaki puncak kenikmatan tiba-tiba terdengar suara lembut dari anak kecil. Mereka bertiga tak sadar jika Nindi masuk dan hadir di dekat mereka.

Nindi bisa tau bahwa mamahnya ada di rumah Evan karna sebelum pergi tadi bu Nonik berpesan pada anaknya bahwa ia akan mengantarkan makanan ke rumah Evan. Tapi karna terlalu lama akhirnya Nindi berniat ingin menjemput mamahnya yang memang sedang dalam keadaan telanjang bulat dan tengah di sodok oleh kontol Evan. Perlu di ketahui bahwa pak Herman tengah berkunjung ke rumah ibunya, jadi di rumah memang hanya ada bu Nonik dan Nindi saja.

Bu Nonik yang sadar ada anaknya berniat menghentikan genjotan Evan tapi oleh Evan tak di gubris dan tetap memaju mundurkan pantatnya menumbuk selangkangannya. Sementara Widya yang merasa kaget dan sama seperti bu Nonik, ia menghentikan lumatannya. Widya kini diam tak tau mesti harus bagaimana.

“Ayo pulang, ma…”, Nindi yang memang masih kelas 2 SD dan polos belum terlalu mengerti apa yang sedang dilakukan Evan dan mamanya.

“Mama kamu lagi kakak entotin, dek. Aaakkkkhhhhss….”, ucap Evan asal, pantatnya terus maju mundur dengan cepat.
“EVAN!!! AAKKKHHHH….SSSHHHH….”, terdengar Evan hanya tertawa.

“Wid…Aakkkhhhh…Aakkkhhhh…to…ssshhh ..tolong anterin Nindi pullaanggghhhh….ssshhhhh…tidurin dia ya. Aakkkhhhh….ssshhh….”, bisik bu Nonik pada Widya. Sekilas Widya meminta izin pada Evan yang tengah sibuk memajuh birahinya.
“gapapa, mah…. Ssshhh….udah tidurin Nindi dulu. Tapi jangan kelamaan. Ssshhh…”

Lekas Widya memungut pakaiannya dan memakainya kembali dari Bra, celana sampai bajunya hingga terpasang secara utuh. Barulah ia mengajak Nindi untuk pulang ke rumah.

“Nindi sayang, pulang yuk. Mama kamu lagi ada urusan sama kak Evan sebentar”
“Lama kok, ga sebentar”, jawab Nindi.
“iya-iya… Nanti kalo Nindi mau nurut sama tante, mama katanya bakal kasih kamu hadiah. Mau ga?”
“mau dong, tante”
“yaudah, kita pulang ya terus tidur siang”
“Tapi kan ini udah mau sore, tan”
“kalo gitu tidur sore yuk. Tante bikinin susu sebelum tidur”

Akhirnya Nindi pergi bersama Widya untuk diajak pulang ke rumah dan sementara itu Evan kembali menggenjot bu Nonik dengan lebih leluasa. Untuk bu Nonik sendiri pun kembali bisa melepaskan desahan nikmatnya tanpa harus merasa bersalah dengan di tonton langsung oleh putri semata wayangnya itu.

Ritme genjotan yang Evan lancarkan seperti tak pernah mengendur. Bahkan dirasa lebih kuat dan lebih dalam kontol tersebut menyodok lubang memeknya sampai terasa sangat menabrak dinding rahim.

Evan tarik rambut bu Nonik dan ia jambak lumayan keras sampai badanya melengkung ke belakang serta wajahnya menghadap atas dengan kondisi mulut yang terbuka mengeluarkan desahan nikmat yang tengah di berikan oleh kontol Evan itu.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

Ditamparnya beberapa kali bongkahan pantat bu Nonik yang bergetar akibat sodokan pantat Evan sampai berwarna merah. Sensasi persetubuhan kasar itu pada akhirnya mengantarkan bu Nonik pada gelombang orgasmenya untuk kedua kalinya. Selaput memeknya berkontraksi m dengan meremas keras batang kontol Evan yang sedang keluar masuk dengan cepat. Gesekan keluar masuk itu membuat memeknya terasa panas dan sangat gatal.

Evan mengetahui bahwa bu Nonik akan mengalami orgasme keduanya langsung mendorong tubuh indah itu sampai menabrak sofa dan otomatis kontol Evan terlepas dengan cepatnya.

Bu Nonik yang memang sudah diujung kenikmatan langsung gagal diraihnya. Ia pandangi tubuh Evan menggunakan tatapan sayu. Rasa tanggung itu membuat bu Nonik hilang akal dan dengan kedua lututnya ia berjalan pelan ke arah batang kontol Evan yang masih mengacung sangat tegak. Bu Nonik tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang menjadi sangat nakal, binal dan tergila-gila akan kejantanan lelaki itu. Terlebih lagi kontol yang ia kejar itu milik pemuda berumur 20 tahun, anak tetangganya, anak temannya sendiri.

“tante mau apa?”, tanya Evan santai tengah mempermainkan istri dari pria yang telah menikmati mamahnya itu.
“Kontol. Tante mau kontol kamu, Van”
“Memangnya kontol Evan buat apa, tan? Kok tante butuh?”
“iya tante butuh kontol kamu buat… Buat sodok memek tante. Tante mau di sodok kaya tadi lagi, Van”. Evan tertawa puas.

“rasakan lu Herman. Istrimu sekarang jinak sama gue. Kalau lu lihat istrimu ini gue entotin lu jangan marah. Soalnya lu pikir gue ga marah pas lu entotin mamah gue juga?!”, batin Evan.

Evan duduk bersandar di sofa, sambil mengurut pelan kontolnya Evan berucap bahwa ia menginginkannya maka ia harus naik di pangkuannya dan masukan sendiri.

Lantas saja hal itu langsung dilaksanakan oleh bu Nonik dimana ia naik dan mengangkangi kontol Evan lalu dengan tangannya ia genggam untuk diarahkan tepat di depan bibir memeknya. Setelah pas, bu Nonik mulai menekan tubuhnya ke bawah sampai keseluruhan batang itu kembali mengisi lubang bawahnya sampai penuh.

“Aaaakkkkhhh…..”, lenguh bu Nonik setelah masuknya kontol Evan di dalam tubuhnya.

Tanpa disuruh bu Nonik yang memang sudah menginginkan hal tersebut langsung menaik turunkan tubuhnya sendiri hingga kedua payudaranya ikut bergoyang naik turun dengan indah. Merasa gemas Evan memegang kedua payudara itu dan meremasnya dengan kencang. Dari remasan sampai ia putar seperti tombol analog pada stik Playstation.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Suara benturan kulit mereka berdua menggema di penjuru ruangan. Keringat terlihat sudah membasahi kedua insan itu. Bu Nonik yang memang sudah mengambil alih beberapa menit merasa mulai lemas dengan menjatuhkan tubuhnya, menempel di tubuh Evan tapi pantatnya masih berusaha untuk bergerak naik turun seakan-akan tak rela jika kontol tersebut berhenti bermain di dalam lubang memeknya.

“sssshhhhh….Aakkkhhhh….tante…tante capek, Van…ssshhhhh…”

Di baliknya tubuh bu Nonik hingga posisinya sekarang telah di tindih oleh Evan. Bibirnya yang sedikit terbuka itu di lumat habis olehnya. Lidahnya Evan masukan untuk mengajak menari Lidah bu Nonik. Dalam keadaan lemas itu bu Nonik mencoba untuk membalas serangan lidah beserta bibir Evan.

Ssllluuurrrppp….ssllluuurrrppp….

“Bibir tante lembut banget kaya memeknya. Ssllluuurrrppp….Aahhhh….ssllluuurrrppp….”
“eemmppffff…..eemmppffff….”

Bibirnya di gigit pelan oleh Evan kemudian di lumatnya lagi dengan beringas sampai air liur keduanya mengalir dari sela bibir bu Nonik. Puas dengan bibir Evan beralih pada leher putihnya. Pada bagian tubuh itu Evan menjilatinya sebelum ia memberikan sebuah cupangan beberapa kali.

CUP!!! CUP!!? CUP!!!

Evan pandangi hasil karyanya itu yang ia ciptakan bukan di sebuah kanvas melainkan pada leher jenjang bu Nonik yang mulus itu.

Disuruhnya kembali bu Nonik untuk menyepong kontol Evan itu. Rasanya sungguh tak terlukiskan enaknya saat mulut wanita cantik itu tengah memanjakan kejantanannya itu. Evan belai rambutnya perlahan untuk menciptakan kesan romantis dan hal tersebut nyatanya mampu membuat bu Nonik makin cepat mengoral kontolnya.

SLOP!!! SLOP!!! SLOP!!!

“oouuggghhhhh…enak banget, tan….ssshhhhh… lebih enak dari yang pertama. Kayaknya tante mulai belajar dengan cepat bagaimana memuaskan kontol pria. Aaakkkhhhh….sssshhhhh…Ooouuugghhh….enak banget pelacurku. Sssshhhhh….”, resap Evan merasakan kenikmatan yang diberikan mulut bu Nonik.
“Oh iya, tan…sssshhhhh….tante kan mengalami masalah ekonomi karna suami pecundang tante itu ga kerja. Sssshhhhh….kenapa tante ga cari duit dari tubuh tante aja? Gue yakin kalo tante jadi Pelacur bakalan laku keras deh. Hahaha…. Ssshhhh….”

Mendengar ucapan Evan itu membuat bu Nonik melepaskan kuluman pada kontol Evan dan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya.

“tante ga bakal jual tubuh tante hanya demi uang”
“Terus apa bedanya dengan sekarang? Tante puasin kontol saya, tapi gratis lagi. Mending jadi Pelacur aja, tan. Enak….dibayar lagi”
“Tante cukup jadi pelacur kamu, tante ga mau sama yang lain”

Jawaban yang tak disangka keluar lagi dari mulut manis tetangganya itu. Evan yang mendengarnya pun langsung memuji kepatuhan bu Nonik dengan melumat bibirnya demgan sangat manis.

“Ga salah Evan dapat Pelacur kaya tante. Ssllluuurrrppp….ssllluuurrrppp…”

Keduanya saling melumat kembali dalam gelora api nafsu yang membara, namun saat bu Nonik mencoba memegang pipi Evan untuk melumat lebih dalam, Evan merasakan dingin akibat benda yang terpasang di salah satu jari bu Nonik. Itu adalah cincin pernikahannya dengan pak Herman.

Dengan lembut Evan meminta agar bu Nonik melepaskan cincin tersebut dan tanpa terlalu bertanya untuk apa, bu Nonik melepaskannya lalu memberikan cincin tersebut kepada Evan.

Evan gunakan cincin itu untuk dioleskan pada batang kontolnya serta pada cairan percum yang keluar dari lubang kencingnya itu. Evan bahkan campurkan dengan cairan kewanitaan bu Nonik yang membasahi memeknya. Puas menodai cincin pernikahan itu, Evan meletakannya di atas meja dan dirinya langsung mengarahkan kembali kontolnya untuk masuk ke dalam lubang memek bu Nonik.

“Ooouuugghhh….yaaa…teruussss…aaakkkhhsssss….genjot terus pejantanku. Aaakkhhhhhssss….sodok yang dalam…”
“seperti ini?! Seperti ini yang tante mau?!”
“Iya…aaakkkhhsssss….tampar terus rahim tante ini. Sssshhhhh….gesek terus memek binal ini, sayang…sssshhhhh….ya teruss…oouuggghhhhh….”
“rasakan ini Betina binal. Rasakan…..sssshhhhh…..”

Rasanya Evan sudah tak mampu lagi menahan kenikmatan yang sedari tadi ia coba tahan supaya bisa lebih lama menikmati tubuh tetangganya itu. Kontolnya sudah terasa sangat panas, ukurannya semakin membesar dan mulai berkedut ingin memberi tahukan bahwa klimaks sudah di ujung.

Bu Nonik yang bukan lagi anak bau kencur pun tau apa yang terjadi pada Evan sehingga bantu sebisa mungkin untuk mendapatkan klimaksnya dengan cara menggerakkan badannya naik turun diatas sofa sembari membantunya dengan suara desahan.

“tannnn….sssshhhhh….Evan mau keluar….Aaakkkhhhh…Evan keluarin di dalam ya. Biar pak Herman tau kalo istrinya hamil sama peju orang lain. Ssshhhh…tannnn…”

Disaat puncak akan di dapat oleh Evan dan gerakan pantatnya makin cepat, terlihat mamahnya telah kembali dari mengantarkan Nindi. Lekas saja Evan menyuruh mamahnya untuk membuka celananya dengan cepat karna peju nya sudah di ujung siap untuk disemburkan.

Widya yang bingung karna baru datang langsung disuruh melepaskan celananya hanya bisa menurut. Setelah bagian bawahnya telah telanjang, Evan mencabut kontolnya demgan cepat dari memek bu Nonik dan menghampiri mamahnya. Disuruhnya sang mamah untuk menungging sambil berpegangan pada lemari kaca diletakannya piring serta gelas koleksi.

“Nak…aaakkkkkkhhhh!!! Pelan-pelan aja, kontol kamu gede. Aaakkkhhhh….sssshhhhh…”
“Maaf, mah Evan udah ga tahan pengen ngecrot”

PLOK!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkhhhh…Aaakkkhhhh….kamu ini…mainnya sama tante Nonik. Ssshhh….tapi buangnya ke mamah. Aaakkkhhsssss…”
“gapapa, maahhhh….lagian Evan pengen hamilin mamahhhhssss….”
“kamu ini, mamah sendiri….mau dibikin hamil….Aakkkhhhh….terus, nak….teruussss….”

Dalam beberapa sodokan terakhir Evan lakukan dengan keras hingga, CROT!!! CROT!!! CROT!!! Beberapa kali semburan peju nya ia keluarkan di dalam rahim mamah kandungnya itu sampai Widya sendiri merasa bahwa rahimnya penuh oleh peju anaknya.

“enakkk…bangggeettt mmaahhh…sssshhhhh….memek mamah emang yang terbaik”, ucap Evan menikmati sisa orgasmenya sambil menikmati sempitnya lubang memek mamahnya itu dengan memeluknya serta kedua tangannya meremas keras payudara mamahnya itu.

“sampai kapan kamu mau peluk mamah? Kalo mau peluk mamah sambil gerakin dong kontolnya, mamah juga kepingin tau”, ucap Widya dengan menggerakkan pelan pantatnya supaya kontol anaknya itu bergerak di dalam memek.
“ntar, mah. Evan istirahat dulu ya, habis itu giliran mamah yang bakal Evan hajar pake kontol memeknya”, balas Evan masih memeluk mamahnya dengan nafas yang tersengal.

Saat Widya lihat ke arah sofa ternyata Nonik telah terkapar dengan raut wajah yang menunjukkan sebuah keluasan yang teramat sangat. Melihat wajahnya saja Widya sudah bisa merasakan seperti apa nikmat yang baru temanya dapat itu karna Widya juga sudah beberapa kali dibuat seperti itu oleh anaknya sendiri.

Masih dalam posisi memeluk mamahnya, Evan mengajak mamahnya itu untuk tiduran di sofa. Akhirnya Evan tiduran di belakang mamahnya dengan keadaan kontolnya masih tertancap di dalam memek.

“Janji ya habis ini giliran mamah”
“iya, mah. Mamah siap-siap aja habis istirahat sebentar .amah pasti bakal Evan tampar pake Kontol sampe keenakan”, balasnya dari balik punggung Widya.
“sama mamah sendiri kok ngomongnya gitu sih? Udah nakal, mesum lagi”
“Biarin aja. Lagian orang tua mana yang bolehin buat anaknya pejuin memeknya, udah gitu boleh ngentotin lagi. Orang tua mana, mah?”
“Emang ada orang tua yang kaya gitu?”
“Ada lah….orang tua itu kan mamah. Mamah ku yang Lonte, mamah ku yang Pelacur banget”

.
.
.

*Bersambung….

Daftar part

Cerita Terpopuler