. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 21 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 21

0
406

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 21

Pleasure

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Kondisi yang tengah di alami oleh Evan di dalam sekarang tak lain dan tak bukan sedang dalam keadaan nafsu berat dengan batang kontolnya yang kembali mengacung dengan tegak nan keras, padahal baru saja ia masturbasi dengan menyemprotkan isi buah zakarnya. Bahkan ceceran peju nya masih terserak di lantai belum sempat di bersihkan.

Evan masih duduk di kursi yang biasa ia duduki saat bermain komputer dengan keadaan bagian bawah telanjang total. Tangannya menggenggam batang kontolnya sambil memutar kembali video yang telah ia simpan tadi dan sudah ia salurkan ke dalam PC nya sehingga resolusi video yang ada terlihat lebih besar dan jelas.

Sebenarnya video apa yang tengah Evan tonton itu? Video yang tadi ia simpan di aplikasi live chat dewasanya, dimana video itu memperlihatkan seorang wanita yang tengah di siksa dengan sebuah kenikmatan yang datang secara bertubi-tubi. Terus??

Seperti sore tadi, sesudah munculnya seorang perempuan dengan full mask berbicara untuk menunggu pertunjukan selanjutnya yang tengah di siapkan, tak terlalu lama perempuan tersebut kembali di depan lensa kamera dengan membawa satu perempuan lainnya dan diikuti oleh beberapa perempuan lainnya. Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan ?

Perempuan yang terlihat dalam video tersebut semuanya terlihat biasa saja, maaf bukan semuanya. Ada satu perempuan yang menyita perhatian dan sudah dipastikan bahwa perempuan tersebut sepertinya memang karakter utama di video kali itu. Dimana perempuan itu yang juga memakai full mask hanya memakai pakaian dalam serta ada sebuah kalung kekang yang terlilit di lehernya. Kalung melingkar di lehernya dan perempuan tersebut juga di pakaikan semacam bando dengan corak hitam putih layaknya corak kulit sapi.

Tanpa Evan tahu siapa perempuan yang tengah ia tonton itu ternyata adalah mamahnya sendiri. Perempuan yang siap untuk di perintah sesuai keinginan tuan serta beberapa perempuan lainnya tak lain dan tak bukan adalah sosok Widya. Mamah kandungnya sendiri.

Widya dibimbing untuk berdiri di tengah frame kamera, setelahnya ia disuruh untuk berposisi menungging di lantai. Salah satu perempuan lebih mendekat ke arah kamera, “maaf sudah membuat Anda semua menunggu. Sekarang akan segera kita mulai”. Wanita yang tengah berbicara sosok bu Nonik.

Setelah bu Nonik mengatakan hal tersebut, terlihat para perempuan lainnya yang berjumlah 6 orang melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. Tapi ada yang aneh, semunya tiba-tiba memaki sebuah sabuk yang terdapat benda semacam Dildo karet.

PLAK!!! PLAK!!!

Di tamparnya beberapa kali kedua pantat Widya itu sampai berwarna agak merah dan satu perempuan datang sambil membawa sebuah ekor mainan lalu di sobeklah stoking putih beserta dengan celana dalamnya menggunakan sebuah gunting membentuk pola melingkar sehingga bagian lubang pantat serta memeknya kini terpampang dengan bebas. Setelahnya para perempuan itu menunangkan sebuah gel di atas bibir lubang anus Widya lalu…

“AAAKKKHHH!!!!”, lolos sudah sebuah erangan dari mulut Widya ketika ekor mainan itu di tekan masuk ke dalam lubang anusnya sampai tertancap penuh dan sekarang terlihat seperti mempunyai sebuah ekor asli.

“Lihatlah, sekarang wanita kita sudah seperti sapi yang siap di perah kan? Oke, sebelumnya kita lihat dulu hasil yang masuk, siapa yang memenangkan lelang kali ini. Ada apa tidak ya?”, ucap salah satu perempuan yang datang dari belakang bu Nonik, sebut saja dengan A. Si A terlihat mengecek layar laptop yang terdapat di sebelah kamera.

“wow, apa ini? Kita mendapatkan sebuah tuan disini. Sebuah jumlah yang fantastis untuk sapi ini dan selamat buat Anda yang sudah terpilih untuk menjadi tuannya secara sementara. Hihihihi…”

Tak lama kemudian terdengar sebuah suara audio yang masuk di dalam live chat tersebut. Suara pria yang diketahui selaku Tuan yang beruntung itu. Tanpa menghidupkan facecam nya, pria tersebut mulai bersuara untuk memerintah apa yang ia inginkan. Namun untuk permulaan pria tersebut terlebih dahulu menanyakan perihal apa yang membuatnya bertanya semenjak tadi.

“apakah hanya ada kalian disana?”, tanyanya pada perempuan yang menjadi host, bu Nonik.
“Ya, disini hanya ada kami”
“Baiklah kalau gitu. Saya mau lihat bagaimana wanita itu kalian permainkan sampai mengalami klimaks berkali-kali”
“seperti yang tuan minta”

Mengetahui apa yang diinginkan oleh pria tersebut, bu Nonik menyuruh yang lainnya untuk bersiap-siap dan tak lama berselang terlihat beberapa perempuan lainnya mulai menanggalkan seluruh pakaiannya dan mereka mulai memakai sebuah sabuk yang dimana sabuk tersebut terdapat benda yang mengacung, sabuk tersebut terdapat sebuah Dildo yang melekat.

Setelah terpasangnya sabuk tersebut mereka langsung mendekati Widya yang masih dalam posisi menunggingnya. Posisinya yang tengah menungging seakan sudah siap untuk memulai live show yang akan terjadi. Satu perempuan di belakang dan menggunakan sebuah gel, perempuan tersebut mengoleskannya pada Dildo nya lalu dengan perlahan ia dorong ke depan hingga suara desahan tertahan terdengar dari mulut Widya saat menerima Dildo itu memasuki lubang kewanitaanya.

“Aaakkkkkkhhhh….”

Untuk memudahkan supaya tak terlalu bingung, sebut saja perempuan yang sudah memasukkan sabut berdildonya itu dengan A. Sedangkan sekarang yang berada di sebelah kanan B dan kiri C, sementara perempuan lainnya duduk kembali untuk melihat. Sepertinya mereka menunggu giliran karna tak mungkin jika harus semuanya maju.

“ayo jeng buka mulutnya. Bayangkan ini kontol pria yang kamu idam idamkan selama ini. Tapi jangan kamu bayangkan jika ini kontol suamimu. Bayangkan saja kalo kamu sedang berselingkuh dengan para tetangga atau pria hidung belang”, ucap B.

Seperti sapi penurut, Widya langsung menuruti perintah B untuk membuka mulutnya. Membukanya mulut tersebut langsung di gunakan B untuk memasukkan dildonya ke dalam sana dan C menyodokkan dildonya di pipi Widya berulang kali.

“ayo hisap jeng, hisaplah seperti wanita jalang yang sangat menginginkan sebuah kenikmatan”, ucap B seolah-olah Dildo tersebut sebuah kontol asli miliknya.

Beberapa saat diam setelah masuknya kedua Dildo tersebut pada lubang memek serta mulutnya mereka mulai menggerakkannya dengan perlahan dan desahan yang bercampur suara meracau mulai terdengar dari mulut Widya akibat Dildo yang masuk ke dalam mulut atas serta mulut bawahnya mempunyai ukurannya yang cukup besar itu. C yang menganggur mulai membantu dengan cara memberi sebuah rangsangan dengan cara meremas kedua payudara Widya dengan gerakan yang mampu membuat suasana makin memanas oleh gelora nafsu.

“gimana jeng? Enak kontol saya ini?”, tanya A yang sedang memaju mundurkan pinggulnya untuk laju Dildonya itu menumbuk memek Widya. Widya yang memang tengah terisi penuh mulutnya oleh Dildo lain tak bisa mengeluarkan suara selain suara desahan yang tertahan.

C yang sedang merangsang kedua payudara Widya merasa ada yang kurang, ia beralih dari posisinya berjalan ke arah meja dan mengambil sesuatu dari tas besar itu. Seperti sebuah penjepit jemuran ia bawa.

Widya yang melihat C membawa penjepit itu mencoba melepaskan Dildo yang ada di mulutnya tapi langsung di tahan oleh B kepala Widya itu dan pinggulnya juga di tahan oleh A sehingga Widya tak bisa memberontak.

“Tak apa, jeng nanti juga bakal suka kok. Awalnya aja sakit tapi nanti juga bakal merasakan sensasi enak”, ucap C mulai menjepitkannya pada satu puting Widya.

“EEEGGGHHHHH!!!!”, erang Widya tertahan ketika puting satunya di jepit cukup kuat oleh penjepit tersebut.

Erangan Widya justru membuat semua perempuan yang ada disitu tertawa, seolah-olah mereka sedang sangat menikmati apa yang tengah di alami oleh Widya itu.

Satu putingnya sudah di jepit dengan terlihat sangat indah, tinggal satu putingnya lagi. Tanpa membuang terlalu banyak waktu, C memasangkannya dan tersengarlah kembali erangan dari mulut Widya. Namun untuk keduanya itu tak ada suara tawa yang mengiringi malah sebuah tamparan keras di bongkahan pantatnya yang Widya terima. A menampar keras pantat Widya sampai tubuhnya terlonjak karna kaget bercampur dengan rasa perih.

Tanpa berbicara A terus saja memompakan Dildonya itu, sodokan demi sodokan yang diberikan oleh A semakin cepat saja ritmenya sehingga membuat Widya dibuat kelojotan. Tanpa sadar ia mulai menikmati apa yang sedang terjadi.

Entah kenapa ucapan B soal Widya disuruh untuk membayangkan kontol itu adalah milik selingkuhan ataupun milik Hidung belang sukses menjadi sugesti untuk Widya sendiri. Ia sekarang tengah membayangkan bahwa Dildo yang ada di memek serta mulutnya itu adalah milik orang yang tak ia kenal. Widya membayangkan jika Dildo itu milik pria yang ia temui di jalan dan entah kenapa saat membayangkan hal tersebut dadanya bergemuruh dan nafsunya tertarik untuk keluar.

Sudah lewat sekitar 15 menit dan selama jarak tersebut Widya mengalami orgasme sebanyak 3 kali dan jika di rata-rata setiap 5 menit sekali Widya orgasme. Saat itu A merasa capek karna terus menggerakkan pantatnya maju mundur pun mencabut Dildonya, namun hal itu belumlah berakhir karna B langsung mengantikkannya dan cara itu terus berlanjut hingga semua perempuan yang ada disitu juga ikut mengerjai Widya sampai orgasme berkali-kali.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….”, bukan lagi erangan yang terdengar dari mulut Widya. Justru suara yang keluar dari mulutnya sudah berganti menjadi desahan nikmat.

Acara mempermainkan Widya dengan Dildo ternyata bukanlah hal pertama dan terakhir. Setelah berlangsung kurang lebih 45 menit dan Widya mengalami orgasme lebih dari 13 kali itu terkulai lemas di lantai bersama dengan cairan kewanitaannya yang menggenang.

Mereka mulai berganti pada tahap kedua. Semua perempuan mencopot sabuk Dildo yang mereka pakai dan selanjutnya mereka saling menggesekkan memeknya satu sama lain. Shemale. Tubuh Widya yang lemas akibat berulang kali Orgasme di tinggalkan terkapar di lantai dengan nafas yang masih berantakan. Sementara yang lainnya sibuk meraih kenikmatan mereka sendiri dengan memperlihatkannya pada para penonton live streaming nya.

Sampai pada tahap akan mengalami orgasme, perempuan-perempuan itu menghampiri Widya dan, CUURRRRRR!!! Di semburkannya cairan Squirt mereka pada tubuh Widya seolah-olah sedang memandikannya.

Live streaming chat panas tersebut berlangsung kurang lebih satu jam dan selama durasi itu Widya terbaring lemah di lantai setelah mengalami orgasme berkali-kali dan di semprot oleh keenam temannya beserta oleh si Host, bu Nonik. Berarti tujuh orang. Walau wajahnya tertutup tapi bisa dilihat bahwa dari wajah Widya terlihat ia sudah lemas dengan semua kenikmatan yang ia terima bertubi-tubi.

Saat rekaman selesai di tonton, Evan merasakan batang kontolnya sudah sangat keras akibat adegan yang ia lihat itu. Adegan dimana seorang perempuan di puaskan oleh perempuan lainnya dengan sedemikian rupa layaknya seperti buka lawan jenis. Dari video yang Evan tonton itu, ia akhirnya tau bahwa Channel LadiesFirst_02 itu adalah Channel berisikan rang dengan penyimpangan seksual. Bukan LGBT yang hanya tertarik dengan sesama jenis tapi semacam Biseksual yang mempunyai ketertarikan nafsu antara dua jenis gender sekaligus.

Evan yang tengah dalam keadaan nafsu berat itu tiba-tiba terlintas bayangan akan mamahnya, ya ia ingin menuntaskan hasratnya itu pada tubuh perempuan yang sudah melahirkan serta membesarkannya itu. Evan berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui mamahnya yang ada di dalam kamar.

Evan tau tadi mamahnya kelihatan capek, tapi mau bagaimana lagi dirinya sudah tak kuat menahan gejolak birahinya. Dengan langkah yang cepat Evan menuruni tangga dan setelah sampai di depan kamar mamahnya ia mengetuk beberapa kali sampai si pemilik membukakan pintunya. Terlihat jelas bahwa mamahnya telah berganti pakaian berupa baju tidur. Penampilannya itu membuat Evan semakin tersiksa tak kala dengan jelas bentuk payudara serta kemolekan tubuh mamahnya sangat jelas menggiurkan untuk di nikmati inci demi inci.

“Ada apa, nak?”

Tanpa menjawab pertanyaan mamahnya itu, Evan merengsek masuk ke dalam kamar sambil memeluk tubuh mamahnya dengan erat. Hubungan anak dan ibu ini memang sudah tak seperti hubungan ibu anak pada umumnya lagi setelah apa yang sudah pernah terjadi itu.

Widya yang kaget akan anaknya yang tiba-tiba memeluknya berusaha untuk melepaskan namun karna kuatnya pelukan tersebut membuat Widya tak kuasa lagi memberontak.

“Nak, jangan sekarang ya. Mamah benar-benar lagi capek banget”
“Bentar aja deh, mah”, sambil Evan meremas kedua bagian gundukan payudara.

Dalam posisi memeluk mamahnya dari belakang membuat Evan lumayan mudah untuk melakukannya. Ia mulai menurunkan celana kolornya sendiri dimana di dalam kolor tersebut ia sudah tak memakai apapun sehingga kontolnya langsung mengacung tegak menyundul bongkahan pantat mamahnya itu.

“Evan lagi kepingin banget mah”

Setelah berhasil melepaskan kejantanannya, tangan Evan mulai menelusuri karet celana tidur mamahnya dan mulai menurunkannya dengan gerakan sedikit tak sabar begitu juga dengan celana dalam putih yang di pakainya hingga sang mamah dalam keadaan telanjang bulat.

Evan yang dasarnya memang sudah tak sabar mulai memegang batang kontolnya, hanya memakai liurnya yang ia oleskan sebagai pelicin, Evan langsung memulai penetrasinya. Dalam tahap penetrasi itu entah kenapa Evan merasakan bahwa lubang memek mamahnya sedikit terasa berbeda dari biasanya. Masih sempit tapi sedikit longgar dari biasanya seperti baru saja dimasuki sesuatu.

“kok memek mamah agak longgar dikit ya, mah? Ga kaya biasanya. Ssshhhh….tapi masih seret banget. Evan suka mahh….ssshhhhh…”
“pelan-pelan aja, nak. Mamah masih ngilu”, ceplos Widya.
“masih ngilu? Memangnya mamah habis ngapain? Ssshhh…mamah ngentot sama siapa lagi?”
“Eeggghhhh….enngaa…enggak gitu”
“mamah ga usah bohong, mamah itu sekarang binal banget, Evan mulai ga percaya lagi kalo mamah ga main sama orang lain. Ssshhh….mamah itu sekarang udah berubah jadi sosok mamah yang suka kontol”
“ga, nak…ssshhh…mamah…mamah masih sama, mamah ga berubah. Aakkkhhhh….pelan aja, nak”
“Mamah udah berubah”, Evan mendorong masuk kontolnya hingga tertelan dengan sempurna di dalam lubang yang dulu menjadi tempat dirinya dilahirkan hingga mentok mengenai rahim.

“Aaaakkkkhhh….”, erang Widya terdengar bersamaan dengan tusukan keras anaknya itu.

“Evan sebenarnya kecewa dengan mamah tapi disisi lain Evan juga merasa beruntung karna bisa juga merasakan apa yang mereka rasakan”

Evan menghentikan gerakan pantatnya, sambil memeluk tubuh mamahnya Evan membelai lembut wajah cantik itu dengan tangannya dan berakhir pada kedua payudaranya lagi. Ia remas secara perlahan sambil menikmati betapa lembut dan kenyalnya aset yang dimiliki oleh mamahnya sembari bibirnya mencium punggung dan hidungnya menghirup aroma tubuhnya.

Puas menikmati momen itu jemari Evan mulai bergerak untuk membuka satu persatu kancing baju tidur mamahnya hingga semuanya terlepas memperlihatkan payudara yang masih terbungkus oleh Bra warna hitam. Perlu diketahui bahwa Evan memaksa mamahnya untuk berjalan ke arah meja rias yang terdapat sebuah cermin dan setelah sampai di depan meja itu Evan bisa melihat dirinya dengan mamahnya.

Sebuah pemandangan yang sangat membuat darah panas berdesir. Widya juga bisa melihat di cermin itu bagaimana payudaranya tengah di remas oleh kedua tangan anaknya dalam kondisi dimana kemaluan mereka tengah bersatu.

“lihat mah, mamah bilang mamah sekarang ga berubah? Lihat, mah….siapa yang dia di belakang mamah ini”, Widya menundukkan kepalanya.
“lihat m—“
“Sudah cepat lakuin kalo kamu memang sedang kepingin dan cepat entotin mamah…mamah juga kepingin, nak”, sela Widya cepat.
“Baik, Mah tanpa mamah suruh pun juga Evan bakal lakuin. Hehehe…”

Dimulailah lagi dimana Evan menggerakkan keluar masukkan kontolnya menumbuk lubang perankan mamahnya dengan tempo pelan namun terkesan kuat di setiap sodokan yang masuk ke dalam. Mungkin karna rangsangan yang diberikan oleh Evan terasa menyiksa, Widya ikut menggerakkan tubuhnya untuk maju mundur menyambut setiap tusukan yang diarahkan ke dalam lubangnya.

Dari situ terdengarlah suara yang sangat erotis dari keduanya memenuhi ruangan. Baju tidur yang Widya pakai pun juga sudah lolos dari tubuhnya. Sedangkan hanya tinggal Bra hitam yang masih melekat membungkus payudaranya dengan sempurna tapi itu tak berlangsung lama karna dengan giginya Evan mulai membuka pengait Bra tersebut hingga terlepas. BOING!!! Terlepas sudah kedua payudara Widya dengan bebas menggantung dan terombang-ambing seiring sodokan yang Evan lakukan.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“enak, mah? Kontol anakmu ini enak? Ssshhhh….”
“Aakkkhhhh….akkkkhhhh…ssshhh…”
“Jawab dong, mah. Sshhhh….enak ga kontol anakmu ini. Ssshhhh….”
“Iya enakkk…sshhhh…terus nak…ssshhh….”
“Memek mamah juga enak banget, ssshhh….Ooouuugghhh…sssshhhhh… Jepit banget ke kontol Evan, mah. Ssshhh…padahal mamah sudah sering di entotin orang tapi memeknya masih enak banget. Ssshhh…. Evan…Evan beruntung banget jadi anak mamah. Ssshhhh…”
“terusss, nak…terusss yang dalam…yang kuat…ssshhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dengan leluasa Evan menggerakkan maju mundur kontolnya di dalam mamah kandungnya sendiri. Ia pandangi wajah mamahnya yang terlihat sedang ikut menikmati juga rasa nikmat itu dari pantulan cermin. Melihat ekspresi yang di tunjukan eh mamahnya membuat Evan semakin bernafsu, ia tingkatkan ritme genjotannya sampai tubuh mamahnya ikut terlonjak ke depan, bahkan peralatan rias yang ada disana berjatuhan akibat terdorongnya tubuh mamahnya itu.

“aaakkkhh…Aaakkkhhhh…”, desahan nikmat dari mulut Widya terdengar sangat heboh.

Karena Evan merasa gemas dengan penampilan payudara mamahnya ia remas-remas dengan sangat kencang sampai rasanya payudara itu ingin keluar dari sela-sela jari Evan. Bukan hanya meremas, Evan juga memutar gerakan tangannya seperti sedang mencampur bahan adonan roti yang seperti mamahnya lakukan saat membuat pesanan katering. Namun berapa kali pun kedua payudara mamahnya mainkan seperti itu, bentuknya masih sangat menggairahkan bahkan malah semakin menantang, membulat kencang dan kenyal.

“Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….terus, nak. Ssshhhh….tapi…tapi sakiitt…ssshhh…”
“Sakit apa enak, mah? Ssshhhh…kalo Evan sih enak. Aakkkhhhh…ssshhh…enak banget, mah. Ssshhh…”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Jeritan dan rintihan Widya membuat Evan makin bersemangat menggempur memeknya. Ia terus menghentak-hentakan pinggulnya seolah ingin memberi tahukan siapa orang yang sedang menikmati lubangnya itu. Namun sepertinya percuma saja, mengingat bahwa Widya juga sudah terlanjur suka dengan rasa nikmat itu bahkan Widya juga sudah suka akan apa yang namanya bersetubuh, entah itu dengan anaknya maupun dengan orang lain. Widya yang memang mempunyai tubuh montok, membuat tubuh bagian bawahnya menjadi padat nan empuk untuk digenjot. Rasanya ingin sekali Evan tampar bongkahan pantat itu. Pantat mamah kandungnya sendiri.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!! Tepukan kulit keduanya membuat bekas memerah di sekitar paha dalam Widya. Hanya batang kontol Evan saja yang terlihat sangat keras tengah keluar masuk disana. Terlihat jelas bagaimana bibir memek Widya ikut tertarik saat kontol anaknya keluar dan ikut terbenam saat kontol itu masuk untuk menusuknya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dengan tempo genjotan seperti itu, tentu saja mampu menggesek-gesek dinding memeknya. Dinding selaput terasa mulai memanas akibat gesekan yang terjadi itu. Dinding lembut Widya berkontraksi berkedut-kedut menjepit batang kontol anaknya sendiri dengan kuat. Bahkan Widya juga melakukan empotan kuat.

“Naakksss…nakkhhhhsss….mamah…mamah mau keluar. Ssshhh….”
“keluarin, mah. Keluarin sepuas mamah. Ssshhh…Evan bakal kasih kenikmatan yang mamah inginkan ini”
“Yang cepat nak, yang dalam… Ssshhhh… Aaauugghhhsss….”

“CRRRRRRRRTTTT… CRRRT…. CRRRSSSSSH… CRUUUUSSSHH…”

“maahhhh….kontol Evan rasanya panas disiram. Aaakkkhhsssss…. keluarin terus, mah….yang banyak….ssshhhhh….”

Dalam kondisi mamahnya yang tengah orgasme Evan menghentikan sodokannya memberi waktu sekaligus merasakan sensasi kedutan memeknya yang mencengkeram kontol miliknya dengan lencang, rasanya seperti di pijit di dalam sana.

Sedangkan itu tubuh Widya berkejat-kejat dengan badan yang bergetar seolah sedang tersengat listrik sebelum akhirnya tergolek lemas demgan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Nafas Widya terangah-engah dengan dada naik turun dengan badan telanjangnya mulai dipenuhi oleh peluh keringat sampai-sampai seluruh tubuhnya terasa lengket saat menempel di lantai dingin itu. Namun ini semua belum selesai karna Evan masih belum mendapatkan apa yang ia inginkan. Segera saja Evan mengangkat mamahnya kembali untuk di posisikan menungging dengan kedua tangannya di suruh berpegangan pada meja rias.

“Aaakkkhhhh!!! bentar, nak mamah masih lemas…”, iba Widya yang masih merasa sensasi merinding menjalar di tubuhnya setelah orgasme hingga membuatnya memekik tertahan saat di tunggingkan.

Widya yang memang sedang kehabisan tenaga sehabis orgasme yang dialaminya hanya bisa pasrah saja saat ia merasakan kepala kontol anaknya menyentuh bibir memeknya dimana batang yang anaknya miliki itu berukuran besar dan panjang, bahkan ada sedikit uratnya yang bisa Widya rasakan.

“Evan mulai lagi ya, mah”
“pelan, nak…Aakkkhhhh…ssshhhhh….”

Kini kontol anak kandungnya kembali menggali masuk lebih dalam di lubang memeknya hingga terasa bahwa rongganya terisi penuh, sangat penuh. Untuk kali ini sedikit lebih mudah berkat terlumasi oleh cairan kewanitaan Widya yang ia keluarkan tadi, jauh lebih mudah dibanding awalnya. Kedua tangannya yang tadinya ia gunakan untuk berpegangan diatas meja tak dihiraukan lagi akibat rasa lemas yang ia alami, Widya akhirnya menjatuhkan atasnya untuk ambruk di atas meja rias menggencet kedua payudara ranumnya dengan sempurna. Terlihat dari sela pinggir tubuhnya bahwa payudaranya seakan ingin meloncat keluar.

Payudaranya tergencet, sedangkan bongkahan pantatnya terlihat membulat semakin menampak bahwa pantat tersebut tengah menantang untuk di tampar.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

Evan tampar kulit pantat putih mulus milik mamahnya itu dengan sangat gemas hingga meninggalkan warna memerah disana. Setiap tamparan yang diberikan membuat suara erangan keluar dari mulut manis Widya dengan indahnya menambah kesan erotis.

“pantat nakal!!! PLAK!!! Pantat Binal!!! PLAK!!!”
“Aaaakkkkhhh!!!! Jangan ditampar , nak. Ssshhh….”
“Sakit, mah?”
“Ga…soalnya enak”
“Dasar mamah Lonte! Terima ini….PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!! Rasain ini, mah. Rasain karna mamah udah binal banget!”

Beberapa kali Evan menampar pantat mamah kandungnya sampai merasa puas dan setelahnya tanpa memberi jeda langsung ia pompakan kontolnya dengan ritme yang sedikit keras. Bunyi tabrakan kulit terdengar sangat nyaring seakan menjadi lagu penyemangat untuk aktivitas Tabo yang sedang terjadi dimana seorang anak menyetubuhi mamahnya sendiri dengan cara seperti memperlakukannya seperti seorang perempuan yang bisa di bayar dengan lembaran kertas.

Untuk Widya sendiri rasanya ia sedang diterbangkan ke awan oleh kenikmatan yang tengah di dapatnya itu. Dalam pemikirannya Widya terlintas sebuah kalimat yang menggambarkan tentang dirinya saat ini…

“Ini enak banget. Semenjak mas Harjo meninggal aku merasa kehilangan… Apa yang aku rasa kehilangan itu adalah rasa hilang akan belaian sebuah kontol? Ooouuugghhh….sekarang aku sudah tak merasa seperti itu lagi. Aku sudah mendapatkan apa yang hilang itu. Bahkan sekarang ada kontol-kontol lain yang bisa membantuku. Aaakkkhh…inikah yang disebut surga dunia?”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!! Widya tersadar dari pemikirannya saat Evan menusukkan kontolnya dengan keras mengocok lubang memeknya.

“Aaakkkhhhh….enak banget, mah. Ssshhhh….Evan sayang sama mamah. Ooouuugghhh…ssshhhhh….”
“Mamah juga sayang sama kamu, nak. Aaakkkhhhh…ssshhhhh….”

“kalo mamah sayang sama Evan…Evan boleh ya hamilin mamah. Ssshhh…Evan pengen lihat kalo perut mamah mengandung anak Evan. Ssshhh…. Aakkkhhhh…Evan pengen bikin mamah hamil. Ssshhh…”
“iya, nak… Hamilin mamah…buntingin mamahmu ini, nak. Aakkkhhhh…ssshhh…terus, nak…teruussss….”
“Mamah mau hamil anak Evan?”, Widya mengangguk cepat.
“Mamah mau susuin anak Evan nanti sama susu mamah?”, kembali mengangguk.
“mamah mau, nak…mamah mau kalo itu anak kamu. Aakkkhhhh….ssshhh…”
“oke, mah Evan bakal buat mamah hamil anak Evan yang banyak. Ssshhhh….”

Bertahan selama beberapa menit pada posisi tersebut membuat Evan sedikit bosan, ia ubah posisi mamahnya supaya duduk diatas meja ria dengan meregangkan kedua kakinya memperlihatkan lubang memek yang mereka siap untuk di tusuknya kembali. Evan menurunkan badanya untuk berjongkok tepat di hadapan mamahnya. Kemudian yang ia lakukan adalah menjulurkan lidahnya untuk menyapu cairan kewanitaan mamahnya yang terlihat membasahi area nikmat itu.

“Aakkkhhhh…sshhhh….”, desah Widya permukaan memeknya di jilati oleh anaknya sendiri dan dengan sangat rakus lubangnya di sedot, bahkan ujung juluran lidah Evan di masukan ke dalam menambah sensasi geli yang bercampur nikmat.

SLURP!!! SLURP!!!

Evan sedot dan Evan lumat habis kewanitaan mamahnya itu. Wajahnya ia benamkan di dalam selangkangan lalu menduselkan nya, seolah sedang menduselkan pada sebuah bantal.

“sedap banget mah, pantas saja mereka sangat suka dan tergiur sama kenikmatan yang mamah berikan”, ucap Evan sambil membahas masalah pak Narto dan pak Herman.

Tanpa membuang waktu lama Evan berdiri dengan mengarahkan kembali kepala Kontolnya pada bibir memek mamahnya dan menekannya hingga masuk sempurna. Kenikmatan yang hakiki kembali di rasakan oleh keduanya. Evan yang merasakan kontolnya di remas oleh selaput lembut dan Widya yang merasakan memeknya terisi penuh siap untuk di gasak.

Dalam posisi saling berhadapan Evan mulai menggenjot kontolnya di dalam memek mamahnya secara bernafsu, tak cepat namun tak pelan. Di temasnya kedua payudara yang berada di depannya itu dengan gemas. Kedua putingnya di cubit lalau Evan betot secara pelan. Evan benar-benar memainkan payudara mamahnya dengan sedemikian rupa.

“Aakkkhhhh….jangan di tarik, nak. Sakiitt….”
“Biar imbang, mah… Ssshhh…yang atas sakit, tapi yang bawah keenakan. Ssshhh….susu mamah bikin gemas Evan”
“kamu…kamu dulu minum dari sini, nak…”, ucap Widya mengarah pada kedua payudaranya.
“Kalo gitu Evan boleh minum lagi kan dari sini”, sambil mencubit kedua putingnya.
“Aaakkkhhhh!!!! Iya, nak… Minum saja. Tapi belum keluar air susunya. Aaakkkhhhh…ssshhhhh…”
“makanya mah, Evan mau bikin mamah hamil biar air susunya keluar lagi kaya pas mamah hamil sama si bandot tua itu”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Widya mengalungkan tangannya pada leher Evan saat dirinya tengah di genjot. Seperti naluri yang ada, Widya sudah berciuman dengan anaknya sendiri, bukan sebuah ciuman biasa namun ciuman atas landasan gejolak nafsu antara lawan jenis yang sedang memaju birahinya.

CUP!!! SLURP!!!

“Bibir mamah memang sangat lembut. Ga heran kenapa kalo mamah sepong Kontol Evan rasanya enak banget”

Sambil terus menumbuk selangkangan mamahnya, Evan terus saja melumat mulut mamahnya dengan sangat nikmat serta tangannya masih memainkan kedua payudara dan putingnya. Mendapat serangan dari berbagai arah membuat Widya merasakan memeknya berkontraksi ingin mengeluarkan cairannya kembali. Evan yang merasakan hal itu melepaskan ciumannya dan memfokuskan dirinya untuk menggenjot kontolnya lebih cepat dan lebih dalam lagi. Beberapa sodokan keras akhirnya mampu membawa Widya pada klimaks keduanya.

Walau masih di sumbat oleh kontol Evan, namun cairan klimaksnya itu masih mampu merembes dari sela-sela kelamin mereka yang saling bersatu. Menetes membasahi pinggir meja rias.

“enak, mah?”, tanya Evan namun tak di bas oleh mamahnya, hanya suara nafas yang berantakan saja serta mata yang terpejam.

Evan mengangkat tubuh .amahnya tanpa melepaskan kontolnya. Ia membawa tubuh lemas telanjang mamahnya itu ke arah ranjang. Evan bantingkan tubuhnya serta tubuh mamahnya diatas kasur. Jatuhnya tubuh Evan menimpa tubuh Widya membuat Widya mengerang cukup keras karna batang kontol Evan masuk dengan keras, lebih masuk dari sebelumnya.

“masuk….dalam banget, nak”, erang Widya merasakan ujung kepala kontol anaknya menabrak keras dinding rahimnya.
“Aaakkkhhhh….kontol Evan ditelan memek mamah. Ssshhhh….”

Evan mulai kembali menggenjot lubang peranakan mamah kandungnya itu dengan ritme yang cepat karna memang Evan sudah tak tahan lagi untuk segera mengeluarkannya. Tubuh Widya yang berada di bawah hanya bisa pasrah dengan segala desahan serta erangan nikmatnya saat di genjot oleh anaknya sendiri. Ia pasrah saja saat anaknya sedang berusaha mendaki kenikmatan atas tubuhnya selaku mamah kandungnya terlihat jelas raut wajah Evan bahwa anak itu sedang sangat mengejar apa yang ia inginkan. Bahkan ritme genjotan yang dilakukan terlihat mulai condong ke arah kasar. Seperti yang sudah pernah di singgung, entah kenapa saat Widya di perlakukan kasar saat berhubungan badan dirinya merasa bisa ikut menikmati, bahkan dirinya merasa suka dengan hal tersebut. Sensasi saat orang menyetubuhinya kasar bak seorang Pelacur justru mampu membuat Widya klimaks berkali-kali.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan benar-benar sudah tak tahan dengan nafsunya itu, gerakannya semakin di percepat tiap sodokannya. Seperti sedang lomba maraton, nafas Evan semakin memburu berat demgan segala keringat yang mulai mengucur di tubuhnya.

“Aaakkkhhhh…Aaaakkkkhhh….maahhhh…ssshhh…Evan mau keluar. Ssshhhh…”
“keluarin, nak. Ssshhhh…keluarin saja….”
“Ini, mah….ini peju Evan….ini anak dari Evan. Aaarrggghhh!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Dalam sodokan terakhir yang kuat Evan menyemburkan semua isi zakarnya ke dalam rahim mamah kandungnya sendiri. Tak tau berapa semprotan yang masuk tapi yang jelas itu sangat banyak hingga Widya sendiri merasakan bahwa rahimnya terisi penuh oleh cairan kental hangat itu.

Walau semua peju nya sudah Evan semprotkan tapi kontolnya masih saja mengedut di dalam sana. Ia merasakan sangat puas bisa melepaskan nafsunya atas tubuh mamah kandungnya lagi setelah beberapa hari absen. Rasa puas itu di gambarkan oleh Evan dengan tak mencabut kontolnya, ia tetap saja membenamkannya seolah-olah tak mau kalau peju nya akan mengalir keluar. Ia benar-benar ingin membuat semua sel telurnya tetap berada di dalam sana hingga bisa membuahi.

“Banyak banget, nak rasanya yang masuk. Rahim mamah jadi penuh sama sperma kamu”
“Bukan sperma, mah. Itu peju Evan… Biarin aja di dalam biar mamah hamil anak Evan”
“kamu anak mamah, tapi malah mau jadi bapak juga. Hihihihi…”
“Soalnya mamah binal banget. Mamah kaya Lonte sih mau-maunya di entotin banyak kontol udah gitu sampai hamil lagi. Evan yang anaknya mamah sendiri kan jadi pengen hamilin juga”

“dasar anak naka…”
“Biarin, daripada mamah binal”
“awalnya mamah ga mau tau, tapi karna enak banget mamah jadi mau aja deh. Hihihihi…”
“Dasar mamah Lonte”
“Masa mamah sendiri dibilang Lonte? Kalo mamah Lonte mangnya kamu ga malu?”
“Ya jelas malu lah, mah. Siapa juga yang mau punya mamah yang kaya Lonte”

Setelah beberapa saat saling berkata kotor akhirnya Evan mencabut kontolnya dan merebahkan dirinya di samping mamahnya dan karna terlalu capek sehabis memacu birahi, keduanya tertidur dengan pulas.

Evan terbangun dari tidurnya dan saat matanya sudah terbuka dengan sempurna ia tak melihat sosok mamahnya. Saat ia lihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Evan beranjak dari ranjang yang masih terlihat sangat berantakan, lalu ia berjalan untuk pergi ke kamarnya.

CEKLEK!!!

“akkkkhhhh….Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….”

Baru saja ia membuka pintu kamar sedikit, Evan langsung disambut oleh suara desahan mamahnya yang terdengar sangat jelas itu. Jantung Evan rasanya berhenti berdetak beberapa detik sampai dirinya memutuskan untuk tetap keluar dan saat dirinya keluar dari kamar ternyata di ruang tengah mamahnya sedang dalam keadaan telanjang bulat tengah menungging dengan adanya pak Herman dibelakangnya yang sedang memaju mundurkan pantatnya.

Pak Herman yang menyadari kehadiran Evan hanya menengok sambil terus saja menyodokkan kontolnya dengan sangat bernafsu.

“Aakkkhhhh…udah bangun, Van? Aaakkkhh…ssshhhhh…”, ucap pak Herman.

Masih ingat kejadian saat sebelum Widya mengalami keguguran? Kejadian saat pak Herman meyetubuhi Widya secara langsung di lihat oleh Evan? Dan saat itu Widya bertanya apa hubungan anaknya dengan pak Herman itu? Semua sudah di ceritakan oleh Evan sendiri maupun oleh Pak Herman dan sejak saat itu Widya sudah tau semuanya. Walau begitu pagi ini adalah kali pertamanya pak Herman menyetubuhi mamahnya langsung di hadapannya, maksudnya langsung tanpa ada perantara apapun.

Evan berdiri diam dalam telanjangnya masih melihat ke arah pak Herman yang sedang menunggangi mamahnya.

“Maaf, Van…ssshhh…bapak udah kangen banget dan udah ga tahan lagi pengen nengokin memek mamah kamu. Sssshhhhh…. Mamah kamu bilang katanya semalam kamu dah ngentotin”
“Sekarang giliran bapak ya yang pake mamah kamu. Ssshhh…Ooouuugghhh….enak seperti bisa. Legit banget ini memek. Ssshhhh….”
“Tapi kalo kamu pengen lagi kamu boleh ikutan kok. Ssshhhh…kamu kan anaknya. Ssshhh….”

Evan tak marah akan kelakuan tetangganya itu, bahkan Evan sendirilah yang mengizinkan pak Herman untuk ikut menikmatinya setiap kali pria itu inginkan karna sejak rahasia mamahnya terungkap, ia merasa nikmat serta suka saat melihat mamahnya itu di entot oleh orang lain. Hal tersebut membuat dirinya terangsang hebat ketika melihatnya.

Pak Herman meremas payudara mamahnya yang tergantung bebas menantang untuk di permainkan. Evan bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan kasar tetangganya itu mencangkup payudara mamahnya dengan sekali tangkap dan bagaimana pria itu meremasnya. Gerakan pantatnya yang tengah maju mundur menggempur selangkangan mamahnya itu, sungguh terlihat jelas kalo pak Herman sangat menikmati saat menzinahi mamahnya.

Pemandangan selanjutnya yang Evan lihat sungguh seperti fantasinya, diaman pak Herman tiba-tiba meraih rambut mamahnya dan langsung menariknya ke belakang seolah-olah dia sedang menunggangi sebuah kuda. Ya, kuda itu adalah mamahnya, seekor kuda binal.

“Aaakkkhhhh….Aakkkhhhh….”, desah Widya.
“enak banget rasanya bu. Ooouuugghhh…sssshhhhh…maaf, Van kalo bapak kasar sama mamahmu. Ssshhhh…soalnya mamah kamu ga bisa kalo di lembutin, harus di entot kasar biar puas. Aaakkkhh…ssshhhhh….”, ucapnya sambil menjambak rambut mamahnya sampai-sampai tubuh indah mamahnya ikut terangkat, melengkung ke belakang sehingga membusungkan kedua payudara ranumnya.

Sambil terus menggenjot kontolnya, pak Herman kini memeluk tubuh mamahnya itu dengan erat.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Kalo mau gabung sini, Van. Ssshhhh….”, ajak pak Herman. Untuk normalnya perkataan pak Herman itu sudah sangat kelewatan batas dan hal itu tak bisa di diamkan, tapi mau bagaimana pun itu yang Evan mau. Dia ingin melihat mamahnya di nikmati oleh orang lain. Bukan berarti oleh banyak orang seperti sebelumnya, hanya oleh pak Herman. Evan mengizinkan pak Herman untuk menikmati mamahnya pun juga bukan semata-mata karna fantasinya, tapi karna ada niat lain yang ia inginkan.

“Entar aja deh, pak. Mau mandi dulu”
“Yaudah bapak duluan buat isi memek mamah kamu ya”, ucapnya sambil memaju mundurkan terus kontolnya.
“Terserah bapak aja”

Sekilas sebelum Evan menaiki anak tangga, ia melihat ke arah mamahnya yang dimana mamahnya juga melihat ke arah dirinya, namun dengan raut wajah yang sedang merasakan sebuah kenikmatan seperti semalam dengan kedua payudaranya yang bergerak maju mundur akibat tamparan selangkangan Pak Herman di pantatnya.

Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya, Evan menghentikan langkahnya untuk mendengar lebih lebih jelas lagi suara yang terjadi di bawah sana. Dimana suara desahan serta erangan mamahnya masih saling bersahutan dengan pak Herman, seolah-olah suara itu sedang memberi tahu bahwa mereka berdua sedang dalam kenikmatan yang sungguh nikmat.

“Aaakkkhhhh…Aaakkkhhhh…mmaassss…. Terus, mas….genjot Adek teruss….”
“siap Pelacurku. Aakkkhhhh…sssshhhhh…kontol ini siap buat puasin kamu terus… Ooouuugghhh….sssshhhhh…”

Saat Evan mendengar pak Herman menyebut mamahnya sebagai Pelacur dirinya tak merasakan marah, justru kata itu lah yang Evan tunggu saat mendengar orang lain menyetubuhi mamahnya. Terdengar sangat erotis dan sangat membuat birahi naik.

“Susu mu ini mantap banget ikut goyang pas aku genjot. Oouugghhhssss… Bukan susumu saja, bu…. Kedua bongkahan pantatmu juga terlihat sangat menggemaskan, rasanya nantangin banget. Aaakkkkhhhhss…. Sssshhhhh…”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan mencoba untuk melihat sekilas ke arah bawah dan ternyata mamahnya masih dalam posisi menungging namun kali itu posisi tubuh atasnya telah menempel di sofa dan kedua kaki pak Herman naik ke atas sofa sehingga terlihat mamahnya seperti sedang di naiki dalam posisi menungging. Kepalanya tertekan di sofa dan badanya yang terdorong ke arah sofa sedikit menekuk.

Karna Evan merasa panas akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan mandi meninggalkan mamahnya yang sedang di genjot oleh kontol tetangganya itu.

Evan tersadar dari tidurnya. Sehabis mandi tadi Evan rebahan di atas ranjang dan membayangkan hal kotor tentang mamahnya hingga ia tak sadar malah ketiduran dan saat ia bangun ternyata sudah hampir jam 1 siang. Ia yang sebelumnya meninggalkan mamahnya bersama pak Herman pun bangkit dari ranjangnya.

Keluar dari kamar sudah tak ada suara persetubuhan mereka dan Evan mencoba melihatnya dari atas. Terlihat tubuh telanjang mamahnya masih berada di sofa namun dalam kondisi mengangkang.

“Wah, ini mah kayaknya mamah habis di hajar habis-habisan sama pak Herman”

Evan turun untuk menemui mamahnya itu. Setelah sampai di samping mamahnya ia bisa melihat dengan jelas bahwa mamahnya seperti kecapean sehingga tertidur dalam posisi mengangkang.

Terlihat jelas ada cairan putih kental dalam jumlah lumayan banyak mengalir dari lubang memeknya. Evan juga melihat kalau mulut mamahnya di sumpal oleh celana dalamnya sendiri. Terdapat banyak juga cupangan di kulit payudara mamahnya itu.

Evan melihat pemandangan menggairahkan yang di suguhkan mamahnya itu membuat kontolnya kembali berdiri dengan sempurna dari balik celana. Lantas ia turunkan celananya dan langsung mengambil posisi di depan selangkangan. Kemudian ia arahkan ujung kepala kontolnya untuk masuk ke dalam memeknya.

BLES!!!!

Tanpa sebuah pemanasan berarti Evan langsung menggenjot mamahnya yang sedang tidur itu. Ia genjot dengan keras sehingga membuat mamahnya bangun. Namun ia tak melawan, justru mengeluarkan desahan ketika batang kontol Evan keluar masuk disana.

“Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….nak….aaakkkhhsssss….”
“Evan ngaceng berat lihat mamah habis di kontolin sama pak Herman. Aakkkhhhh…sssshhhhh…padahal baru di hajar pak Herman tapi memek mamah tetap enak banget. Aaakkkhhsssss…. Beruntung Evan punya mamah yang bisa di pake kaya mamah ini. Ssshhh…Ooouuugghhh…ssshhhhh….”

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

“tapi pelan aja, nak. Ssshhh…punya mamah masih ngilu. Aakkkhhhh…ssshhhhh…”

Evan mengocok terus lubang memek mamahnya menggunakan kontolnya dengan cepat layaknya sebuah piston yang sedang bekerja. Lama kelamaan Evan merasakan bahwa memek mamahnya semakin basah dari sebelumnya dan dindingnya mulai berkedut memijat seluruh batang kontolnya yang masuk itu.

Tak berapa lama akhirnya Widya keluar kembali merasakan orgasmenya yang untuk kesekian kalinya hari itu. Saat Widya mengalami Orgasme Evan mencabut kontolnya dengan cepat dan hal itu membuat Widya Squirt, cairan kewanitaannya menyembur dengan bebas membasahi sofa.

BLES!!!

Masih sedikit menyemprotkan cairannya, Evan langsung memasukkan kembali kontolnya sehingga mamahnya terlonjak kaget menahan rasa geli bercampur ngilu itu. Evan memompakan kontolnya lagi dengan ritme yang sama seperti tadi.

Widya benar-benar di buat kelabakan oleh gerakan anak kandungnya sendiri. Gerakan yang mampu membuat dirinya melayang menuju puncak kenikmatan yang selalu bisa membuat lupa akan siapa dirinya dan sekitar.

Genjotan yang dilakukan Evan membuat suara tumbukan kulit keduanya semakin terdengar jelas bercampur oleh suara per sofa yang bergerak. Bagaikan seekor kuda jantan, Evan menyodok-nyodok kontolnya di dalam memek memek mamahnya sendiri. Begitu pun juga dengan Widya yang berteriak-teriak bagaikan kuda binal yang dikawini. Keduanya tak peduli dengan status mereka sebagai ibu dan anak yang sedang memacu birahinya secara erotis. Masing-masing telah terbuai dengan kenikmatan dan ingin segera mencapai puncak.

Hari itu Widya kembali di Setubuhi oleh anak kandungnya sendiri sampai Evan mengalami orgasme beberapa kali, sedangkan Widya mengalaminya berkali-kali. Sekitar pukul 4 sore barulah Evan menyudahi aktivitas mesumnya bersama sang mamah.

Kondisi mamahnya sungguh sangat memuaskan dimana rambutnya berantakan dengan keadaan lubang memeknya yang mengalir banyak oleh cairan peju milik anaknya bercampur dengan milik pak Herman sebelumnya.

“Badan mamah lemas banget, rasanya kaya ga ada tulang tau ga”, ucap Widya kini dalam keadaan tiduran di atas meja kecil ruang tengah itu.
“ya maaf, mah namanya juga lagi nafsu”
“Bantuin mamah kalo gitu. Badan mamah rasanya lengket banget. Lengket oleh keringat, lengket juga oleh sperma kamu sama pak Herman”
“Bantuin gimana? Bangunin buat puasin mamah lagi pake kontol Evan”
“Ngeres mulu sama mamah sendiri kamu. Bantuin ke kamar”
“ke kamar buat ngentot mamah lagi? Hahaha…”
“Mandi, ih”

Evan memapah mamahnya pergi ke kamar dan juga ia sekalian memandikannya, hanya itu saja tanpa ada lagi yang namanya Evan minta jatah. Hari itu telah berakhir dan kembali pada hal yang normal lagi.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar part

Cerita Terpopuler