. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 20 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 20

0
432

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 20

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

~~

Dessert Rose, Why do You live alone
If You are sad, I’ll make You leave This Life
Are You White, blue or bloody red
All I can See is drowning in cold Grey sand

~~

Sepenggal lirik sebuah lagu berjudul Art of Life menggema di kamar seorang pemuda bernama Evan. Cuaca panas yang sedang terjadi rasnya sangat pas untuk bersantai menikmati waktu luang yang ada. Hanya dengan memakai celana pendek serta baju tanpa lengan, Evan

Saat dirinya tengah bersantai diatas ranjangnya yang empuk tiba-tib kegiatannya serasa terusik. Walau terdengar samar akibat suara musik, namun Evan masih bisa mendengarnya jika bel di rumahnya di tekan oleh seseorang di luar sana. Beberapa saat Evan mencoba untuk membiarkan siapa orang itu, namun dirinya semakin merasa terganggu karna bel terus saja di pencet berulang kali.

“Siapa sih?!”, kesal Evan bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari kamarnya turun menuju pintu utama.

Dibukanya pintu rumah dan ternyata dibalik pintu ada dua orang yang tengah berdiri menanti. Dua orang itu adalah ibu dan anak yang bukan lain tetangganya sendiri. Bu Nonik dan anak perempuannya yang bernama Nindi. Sudah sangat jarang sekali Evan melihat perempuan itu berkunjung ke rumahnya dan siang itu datang dengan anaknya.

“eh, tante Nonik. Ada Nindi juga”

Evan merubah posisinya untuk jongkok di hadapan anak kecil itu, “siang Nindi”, sapa Evan dan dibalas oleh anak itu dengan suara yang menggemaskan sambil meraih tangan Evan untuk di salimnya.

“siang juga kak Evan”, Evan tersenyum ramah.
“oh iya, tan tumben ke rumah. Ada yang perlu Evan bantu?”
“Gimana ya ngomongnya. Tante ga enak sebenernya”
“ngomong aja kali, tan kaya sama siapa”
“Ini…mas Herman kan lagi ke luar kota. Anu…tante boleh titip Nindi sebentar ga? Soalnya tante ada keperluan dan harus pergi”

Oh iya, perlu diketahui bahwa pak Herman memang sedang pergi ke luar kota karna ia mendapat sebuah pekerjaan mendadak untuk mengantarkan anggota keluarga temannya.

“oh gitu…yaudah Nindi sama say saja, tan kebetulan hari ini saya ga ada acara kok Cuma diam di rumah”
“tapi beneran ga ngerepotin nih?”
“ngerepotin itu kalo tante suruh saya buat ngepel jalanan Komplek, tan. Itu baru ngerepotin. Hehehe…”
“Makasih kalau begitu, Van. Oh iya, mamah kamu mana?”
“mamah…dia tadi pergi katanya mau arisan gitu sama ibu-ibu dari Komplek tetangga. Memangnya kenapa, tan?”
“Gapapa sih. Yaudah kalo gitu tante titip Nindi dulu ya, Van dan buat Nindi jangan nakal, jangan ngerepotin kak Evan ya”
“iya, mah…”

Bu Nonik (Istri Pak Herman)

Setelah pergi menghilang dari pandangan, Evan mengajak Nindi untuk masuk ke dalam rumah. Evan yang notabene tak mempunyai seorang adik karna anak tunggal menjadi tak tau caranya berhadapan dengan anak kecil. Ya walau ga kecil banget juga, orang udah SD. Terlihat Nindi berjalan di belakang Evan dengan matanya yang di sapu ke penjuru rumah melihat isinya.

“Nindi mau Ice Cream?”, tanya Evan mengingat bahwa di kulkas ada ember Ice Cream yang masih tersisa banyak.
“boleh?”, tanya balik Nindi dengan wajah yang lucu.
“Boleh lah. Nindi duduk dulu sambil nonton TV ya, kak Evan ambil Ice Cream nya”, Nindi mengangguk patuh.

Namun sebelum Evan mengambilkan Ice Cream itu, Evan naik ke kamarnya terlebih dahulu untuk mematikan musik serta mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Ia juga sekalian mengganti bajunya. Saat ia ambil ponselnya ternyata ada beberapa panggilan masuk tak terjawab dari Alice. Evan memutuskan untuk menghubungi balik Alice untuk memastikan ada apa menelepon.

“kamu kemana sih? Dari tadi aku telepon ga diangkat terus”, omel Alice.
“ya maaf tadi lagi ga pegang soalnya”
“kesini dong, aku bosen di kosan”
“yah… Ga bisa deh, yang. Ini aku lagi disuruh buat jagain anak tetanggaku. Kamu aja yang kesini gimana? “
“yaudah deh aku kesana sekarang”

Evan berjalan menuruni anak tangga dan me gambilkan ice cream yang sudah ia janjikan pada Nindi. Dimbilnya beberapa scop sendok ke dalam gelas lalu berjalan menghampiri anak itu. Terlihat Nindi duduk anteng dengan pandangannya mengarah ke layar Televisi yang sedang menampilkan kartun siang di salah satu chanel luar negri. Evan menempelkan gelas itu di pipi Nindi sehingga anak itu terlonjak kaget dengan posisi badanya sedikit menjauh.

“iiiihh….kak Evan bikin kaget Nindi aja deh”
“Anteng banget kakak liatin. Oh iya, ini Ice Cream nya di makan dulu ntar meleleh loh”

Nindi menerima gelas tersebut dan mulai mengambil suapan pertamanya di samping Evan. Keheningan terjadi beberapa waktu dan karna hal tersebut Evan hampir saja lupa saat dirinya akan mengeluarkan bungkus rokoknya. Untung saja dirinya teringat akan adanya Nindi di sebelahnya. Evan mengambil nafas lalu membuangnya secara perlahan.

Hampir 15 menit berlalu dan gelas yang tadinya penuh sudah terlihat kosong tergeletak di atas meja kaca. Merasa ada yang ingin keluar, Evan pamit pada Nindi untuk pergi ke kamar mandi. Namun saat dirinya akan berjalan, tiba-tiba suara bel kembali terdengar. Dengan perasaan dongkol menahan kencing Evan berjalan cepat ke arah pintu.

“Hai, sayang!”

BRUG!!!

Ternyata Alice dan ia langsung memeluk tubuh Evan dengan cepat. Dipeluk oleh cewek memang enak apalagi cewek cantik macam Alice, tapi keadaannya sedang berbeda. Di peluk dengan erat membuat Evan semakin tak tahan dengan air kencingnya yang sudah berada di ujung mendobrak untuk keluar sehingga dirinya dengan cepat pula melepaskan pelukan Alice dan berlari ke arah kamar mandi. Terlihat raut wajah kaget pada Alice.

Alice (Pacar Evan)

“maaf, yang…aku kebelet kencing!!!”, seru Evan dalam larinya. Alice malah tertawa.

Setibanya Alice di rung tengah, ia melihat tubuh kecil sedang duduk diam di sofa sambil menonton Televisi. Alice yang memang tadi sudah di beritahu oleh Evan bahwa sedang menjaga anak tetangganya pun bis menebak bahwa anak yang Evan maksud itu anak yang sedang duduk di sofa.

“Hallo adik cantik”, sapa Alice, Nindi menengok.

Puas sudah rasanya bisa membuang air kencingnya setelah di tahan tadi. Evan yang teringat membuatkan Alice Ice Cream juga. Lagian masih banyak dan Evan juga tak terlalu suka dengan cemilan dingin itu. Porsi yang Evan berikan lebih banyak dibanding saat memberikannya ke Nindi karna Evan tau betul bahwa pacarnya itu sangat suka dengan Ice Cream, apalagi rasnya juga rasa yang Alice suka.

Tibanya di ruang tamu, Evan memberikannya ke Alice dan langsung di terimanya dengan senang hati. Kedua sudut bibirnya di tarik membentuk senyuman yang sangat manis. Kedatangan Alice ternyata membuat suasana yang tadinya suram menjadi cerah karna Alice bisa menghadapi anak kecil.

“memangnya tadi mamah Nindi katanya mau kemana?”, tanya Alice.
“Mamah tadi bilang, katanya mamah mau Arisan gitu”

Seketika Evan teringat akan mamahnya sendiri yang juga sedang pergi untuk Arisan bersama ibu-ibu dari Komplek tetangga. Apa mungkin Bu Nonik dan mamahnya arisan di tempat yang sama? Secara tadi bu Nonik juga menanyakan perihal dimana mamahnya berada. Tapi jika memang benar satu tempat arisan, kenapa mereka tak berangkat bersama dan bu Nonik malah bertanya dimana mamahnya saat itu.

“Arisan mamahnya Nindi dimana?”, kali ini Evan yang bertanya.
‘kalo buat tempatnya, Nindi ga tau kak. Mamah ga bilang soalnya”. Evan hanya mangut-mangut.
“Ada apa emang?”, tanya Alice.
“Tadi mamah juga pergi katanya mau arisan”, Alice hanya ber’OH ria mendengar jawaban Evan itu. Kesel sih, tapi untungnya Evan sayang. Hahaha…

Sudah satu jam berlalu dan Nindi pun juga sudah tertidur di atas sofa. Sekarang hanya menyisihkan Alice dan Evan di ruangan itu yang masih mengobrol. Evan yang memang belum sempat meminta jatah kurang ajar pada mamahnya itu mulai memepetkan posisi duduknya pada Alice. Alice yang sadar akan keinginan pacarnya itu menggerakkan kedua tangannya menyuruh Evan untuk menjauh.

“Kamu mah, ada Nindi tau. Nanti kalo bangun terus lihat gimana”
“Kan kalo bangun. Dia masih tidur pulas tuh”
“Ga ah, ngaco kamu”

Tanpa mengidahkan omongan Alice, tangan Evan yang tadinya berada di atas paha mulus Alice mulai bergerak lebih atas lagi. Lebih tepatnya mengarah ke gundukan payudara. Walau mencoba menahan tangan Evan untuk tak melakukan hal tersebut, namun tenaganya tetap kalah. Mendapat serangan tapi pasti dari Evan membuat Alice mulai sedikit mengeluarkan desahannya dengan suara halus nan lembut.

Tubuh Alice di peluk oleh Evan dari samping sementara di sofa lain terdapat sosok tubuh kecil yang sedang terbaring dengan tidurannya yang pulas. Tangan Evan yang sedang bergerilya di payudaranya terkesan lembut, tapi gerakan itulah yang justru membuat Alice tak tahan untuk tidak mengeluarkan suara. Disisi lain Evan juga menyerang bagian lainya dimana area belakang telinganya dicium serta di endus oleh mulut Evan. Suaranya nafas yang keluar bisa Alice dengar dengan jelas bahwa Evan tengah sangat terangsang dengan dirinya.

“Eeggghhhh….jangan, yang”, lenguh Alice tertahan.
“Sebentar aja”, ucap Evan

Rangsangan yang diberikan oleh Evan membuat keseimbangan badan Alice jadi terganggu sehingga ia tak bisa mempertahankan posisinya. Sekarang dirinya tengah di tindih oleh Evan dengan payudaranya yang diremas pelan serta lehernya juga tak luput dari rangsangan Evan. Alice mencoba menahan perlukan Evan bukan karna dirinya menolak, Alice mau namun karna keberadaan tempat mereka kurang pas. Bagaimana jika Nindi bangun? Bagaimana jika anak itu melihat apa yang sedang mereka lakukan? Apa yang akan mereka jelaskan nantinya?

Seiring rangsangan yang dilancarkan oleh Evan membuat Alice mulai bisa terbawa oleh arus nafsu. Di remasnya rambut Evan dan sesekali menjambak pelan seakan sedang menahan aliran gelombang birahi yang tengah menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Sssshhhhh….Eeeeeggghhhh….”, lenguh Alice merasa kegelian oleh rangsangan Evan.
“Sayanggg…..Eeeeeggghhhh…..”, matnya terpejam menikmati perlakuan pacarnya itu sambil menggigit pelan bibir bawahnya sendiri.
“Cuuppp….ssllluuurrrppp…”

Sambil terus melancarkan serangannya, Evan menarik ujung kaos Alice dan menaikkannya hingga Bra putih yang dipaki terlihat dengan bagian atasnya yang mengekspos kulit halus dada Alice. Merasa kurang puas merasakan kulit halus tersebut, Evan menarik lepas kaos berwarna putih dengan motif gambar kepala Panda itu hingga lolos sepenuhnya.

Evan langsung menaruh wajahnya di tengah-tengah belahan dada Alice dan menduselkan nya disana seakan-akan sedang mengekspresikan rasa gemasnya pada payudara kekasihnya itu.

Beberapa saat bertahan dalam posisi seperti itu membuat kontol Evan makin berdiri dengan keras dari balik celananya. Disingkapnya cup Bra Alice ke bawah, setelah kedua payudara Alice keluar dengan memperlihatkan kedua putingnya yang indah itu Evan lantas langsung melahapnya dengan penuh nafsu. Di sedotnya dengan kuat kedua putingnya secara bergantian. Bukan hanya ia sedot, namun ia juga jilati seluruh permukaan kulit payudara Alice hingga terlihat mengkilap oleh liurnya.

“gemas banget ku tuh sama toket kamu, yang. Ga terlalu gede, ga kecil juga. Pas banget di tangan”, ucap Evan diselingi pujian.
“Dari sini nanti anak kita bakal kamu kasih makan. Anak kita belum ada jadi calon ayahnya dulu yang nikmatin. Hehehe….ssllluuurrrppp… Ssllluuurrrppp…”
“Eeggghhhh….sssshhhhh…sayang….ssshhhhh….jangan keras-kerassshhh…punyaku belum keluar ASI nya. Sssshhhhh….”
“mau dibikin keluar?”, sambil menatap wajah Alice yang sendu oleh nafsu.
“jangan…jangan dulu, sayang. Nanti saja kalo udah nikah”, jawab Alice dengan nafas yang tersengal.

Evan yang merasa gemas dengan tanggapan Alice langsung membungkam mulut manis itu dengan lumatannya. Alice yang belum siap tersentak kaget namun tak lama karna dirinya bisa dengan cepat masuk ke dalam permainan lagi. Kedua bibir mereka saling beradu sama lain sampai menimbulkan suara yang sangat khas. Mereka berdua rasanya seakan telah melupakan sosok gadis kecil yang sedang tertidur pulas tak jauh dari posisinya.

Sekarang lidah keduanya saling membelit. Evan menyuruh Alice untuk menjulurkan lidahnya. Saat Alice melakukannya, Evan langsung menggigit pelan dan menyedotnya dengan kuat. Hal tersebut juga bergantian dengan Alice yang menyedot habis lidah Evan. Rasanya dunia sedang mereka miliki berdua dengan sebuah kenikmatan yang menyertai. Entah sejak kapan Evan menarik lepas celana panjang yang di pakai oleh Alice. Saat sadar Alice sudah dalam keadaan tanpa memakai celananya lagi sehingga kini dirinya terbaring dengan celana dalam serta Bra nya saja. Sementara Evan masih terlihat lengkap belum ada satupun kain yang lolos dari tubuhnya.

Kedua ujung celana dalam Alice di pegang oleh Evan, Alice yang sudah mengerti apa yang diinginkan oleh Evan lantas mengangkat sedikit pinggulnya sehingga Evan bisa dengan gampang menarik lepas kain tersebut. Bagian bawah telah telanjang dengan sempurna memperlihatkan gundukan selangkangannya yang ditumbuhi rambut tipis itu. Evan yang sudah berhasil mencopot celana dalam Alice langsung membuang celana dalam itu ke sembarang arah.

“indah seperti biasa”, lirih Evan.

Di renggangkan kedua kaki Alice hingga memperlihatkan dengan jelas selangkangan Alice itu. Belahan memeknya yang terlihat sangat rapat seakan menantang Evan untuk dinikmati. Tapi sebelum hal itu terjadi, Evan menundukkan terlebih dahulu kepalanya masuk diantara kaki Alice.

SLURP!!? SLURP!!! SLURP!!!

“aaakkkkkkhhhh…ssshhhhh….sayanggg….ssshhhhh….”, desah Alice saat lubangnya tengah di jilat dan menyedot cairan kewanitaan Alice karna sudah mulai basah itu.

Evan terus saya memainkan libido Alice dengan lidahnya. Kedua tangannya menahan kaki Alice supaya tetap dalam keadaan mengangkang karna setiap rasa nikmat yang didapat, Alice selalu berusaha menutup kakinya sehingga kepala Evan di jepit.

Permainan lidah Evan juga dilakukan pada Klitoris, ia jilat serta ia cubit pelan dengan bibirnya yang menimbulkan rasa gelinjang yang teramat. Bagi Alice hal tersebut sangat membuat dirinya serasa di terbangkan oleh kenikmatan yang sungguh enak. Suara desahan yang keluar dari mulut Alice pun semakin jelas terdengar di telinga. Nafasnya sudah mulai tak karuan dan dadanya naik turun. Badanya bergetar setiap kali Evan berhasil berada di titik rangsangnya.

“Aaakkkhhhh…ssshhhhh….sayanggg…geli banget…ssshhh…”
“kamu cantik banget sayang kalo lagi kaya gini. Cantiknya tambah berkali lipat”, puji Evan mencium lembut bibir Alice dan dibalas ciuman itu oleh Alice yang membawa rasa hangat.

“Buka sayang”, pinta Alice setelah bibir mereka terlepas dan tangan halus Alice meraba tonjolan yang ada di celana Evan. Ia gosok dan ia remas pelan benda keras itu.

Evan tersenyum lalu menggerakkan tangannya untuk menyisipkan rambut Alice ke belakang telinga karna sedikit menutupi kecantikan Alice.

“katanya tadi ada Nindi?”
“Gapapa, Nindi tidurnya pulas juga. Buka ya, yang…aku ga tahan lagi”, rajuk Alice sambil meremas lengan Evan dengan gemas.

Evan tahu betul apa yang sedang diiraskan oleh Alice karna dirinya juga merasakan hal yang sama juga. Evan bangun dan mulai menurunkan celana pendeknya itu, namun hanya sampai batas itu saja. Evan membiarkan celana dalmny tetap menempel di tubuhnya sembari tersenyum menggoda Alice.

“Kamu yang buka dong”

Tanpa membuang waktu untuk berpikir, Alice ikut bangkit dari posisinya dan mulai melepas celana dalam Evan hingga Batang keras itu keluar dengan sangat kokoh menampar wajahnya. Sebuah pemandangan yang sngat erotis untuk dilihat dimana wajah wnita cantik itu di tampar oleh sebuah Batang kontol. Tak keras, tapi itu sudh sangat membuat nafsu naik.

Tanpa di suruh pula saat Alice mulai menggenggam batang itu menggunakan tangan halusnya itu lalu mulai mengocoknya pelan beberapa saat. Evan hanya melihat wajah Alice yang sedang fokus menatap kejantanannya itu. Evan sentuh pipi Alice, ia usap dengan lembut dan membimbingnya untuk melanjutkannya.

Alice menghentikan kocokkannya, ia buka mulutnya dan mulai menelan ujung kepala jamur kontol Evan. Sedikit demi sedikit, pelan namun pasti Alice mulai memasukkan kontol Evan ke dalam mulutnya dengan sempurna. Alice bermain terlebih dulu menggunakan lidahnya menyapu batang Evan yang tengah mengisi rongga mulutnya itu.

“aaakkkhhsssss…..”, sentak Evan merasa kegelian namun nikmat saat Lidah Alice bermain di dalam sana dengan kombinasi menyedot kecil.

Puas dengan pemanasannya, Alice menggerakkan kepalanya maju mundur mencoba menstimulasi ras nikmat pada kontol Evan untuk disalurkan ke seluruh tubuh kekasihnya itu.

Selang pengalam yang didapat oleh Alice, ia mulai belajar dan bisa untuk memuaskan Evan dengan perlakuannya. Entah itu menggunakan tangan ataupun mulut. Alice juga mulai belajar untuk bisa memuaskan Evan secara keseluruhan, namun dirinya masih belum bisa dan selalu dibuat KO terlebih dahulu.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Gerakan maju mundur kepala yang dilakukan Alice semakin intens. Air liurnya mulai terlihat menetes dari sela-sela bibirnya dan liurnya itu mulai berubah menjadi buih busa menggantung dengan indah di dagu dan jatuh di bagian kulit dadanya serta paha.

“Aakkkhhhh…ssshhhhh…enak sayang…terusss….Ooouuugghhh…sssshhhhh….”, racau Evan.

Sambil terus mengoral, Alice menatap wajah Evan dengan tatapan sayu penuh birahi yang terlukis jelas di raut wajahnya. Alice merasakan ujung kepala kontol Evan menabrak kerongkongannya. Gila ini pertama kalinya bagi Alice memasukkan benda itu sedalam itu. Biasanya tak sampai sedalam itu Alice sudah tak bisa menahannya karna merasa mual. Sepertinya Evan telah berhasil merubah Alice menjadi lebih pacar yang mulai nakal.

Melihat ekspresi wajah yang tengah di perlihatkan oleh Alice membuat Evan tak kuasa lagi menahan nafsunya untuk melakukan proses penyatuan yang lebih intim. Di pegangnya kedua bahu Alice dan di dorong untuk rebahan hingga batang kontolnya terlepas.

Di lebarkannya kedua kaki Alice. Evan mengambil posisi di tengah-tengah selangkangan Alice dan mulai menempelkan ujung kepala kontolnya di bibir memek Alice yang sudah basah siap untuk di nikmati. Evan gosokan ujung kontolnya itu di Klitoris Alice beberapa kali hingga wanita tersebut menggelinjang kenikmatan menahan geli.

“Aku masukin ya”, ucap Evan dengan suara bergetar. Dijawab sebuah anggukan kecil dan bibir yang digigit.

Serasa sudah di depan pintu masuknya, Evan mulai menekan masuk kontolnya secara perlahan. Tiap senti batang Evan masuk ke dalam memeknya membuat Alice mati-matian menahan rasa nikmat. Sedikit demi sedikit Alice merasakan bahwa bagian bawahnya itu mulai terasa penuh oleh benda keras yang sedang mencoba untuk masuki dirinya.

Perlahan namun pasti Evan melakukan penetrasinya sampai dari keduanya terdengar lenguhan, “aaakkkkkkhhhh….”. Menandakan bahwa tahap penyatuan kelamin merek berhasil dengan sempurna. Di lahap dan melahap.

“Pelan-pelan, sayang”, pinta Alice.

Evan langsung memulai aksinya dengan gerakan pelan. Seluruh batangnya serasa di pijit oleh dinding kewanitaan Alice yang berkedut-kedut di dalam sana. Aakkkhhhh…rasanya sungguh sangat nikmat di bagian itu.

“Aakkkhhhh….ssshhhhh…sempit sayang. Ssshhhh…”, desah Evan menikmati sempitnya lubang Alice.
“punya…punya kamu aja yang besar. Eeggghhhh…”
“Punyaku? Apanya?”
“kontol kamu, yang”. Alice sekarang pun sudah mulai berani untuk berbicara kotor. Rasanya saat sedang berada dalam posisi intim seperti itu berbicara kotor menjadi semacam doping untuk nafsunya sehingga bertambah nikmatnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Gerakan maju mundur yang dilakukan oleh Evan masih saja sama, ritmenya pelan namun dengan hentakkan yang cukup kuat sampai tubuh Alice terlonjak setiap menerima tusukan yang Evan berikan. Setiap tusukan itu juga ujung kepala kontol Evan selalu menyentuh dinding rahimnya. “dalam banget…”, batin Alice.

“Aakkkhhhh…akkkkhhhh….aaakkkhh…”, desah Evan.
“Sayang…nikmat bangettt…astagaa…..ssshhhhh….”, kali ini Alice.
“Eeggghhhh!!! Eeeeeggghhhh!!! Jangan keras-keras….Eeggghhhh!!!”, Alice benar-benar di buat kelimpungan oleh sodokan kuat yang dilakukan oleh Evan ke lubangnya.

Nikmat! Sungguh sangat nikmat rasanya surga dunia ini. Rasa geli yang bercampur sebuah rasa nikmat mengalir di tubuh keduanya. Walau belum terlalu lama sejak Evan menggenjot, tapi dari keduanya sudah mulai terasa peluh keringat keluar dengan hawa panas yang menyertai.

Pinggulnya bergerak terus menghajar selangkangan Alice dan kedua tangannya ia gunakan untuk meremas serta memilin puting payudara Alice yang terlihat sangat menggairahkan itu. Diremasnya dengan halus untuk memberi kesan yang dalam dan kedua putingnya ia mainkan dengan beberapa kali cubitan lembut.

Lekuk tubuhnya terlihat jelas lantaran mulai diselimuti oleh peluh, kulit mulusnya dan bentuk payudara yang ideal itu membuat Evan tak kuasa untuk terus melanjutkan aksinya menggenjot selangkangan Alice. Ritme tusukannya mulai ditambah sedikit, suara nafasnya yang terdengar berat menandakan bahwa Evan tengah berada di level birahi yang sedang on fire nya.

“sayanggg…ssshhhhh…aku mu pipis, yaaannnggg….”
“keluarin sayang. Keluarin jangan kamu tahan kenikmatan ini”, balas Evan dengan terus menggenjotnya dari atas.
“Ooouuugghhh… Terusss…teruuss…ssshhhhh…”, racau Alice mulai terdengar liar, terlupakan keberadaan anak kecil yang ada di dekatnya.
“ini sayang…ssshhhhh….keluarkan…keluarkan….sssshhhhh….”, desah Evan menyemangati.

Suara kulit punggung Alice yang mulai berkeringat terdengar bergesekkan dengan sofa disertai suara selangkangan mereka yang saling bertabrakan membuat suasana menjadi semakin panas. Desahan nikmat memenuhi telinga sebagai penyemangat dan ruang tengah itu menjadi saksi bisu arena pertarungan mereka.

Nindi, seakan-akan anak itu sedang di bimbing oleh mimpinya supaya tak terbangun oleh aktivitas kedua manusia itu yang tengah memacu birahinya. Suara desahan serta erangan yang keluar dari mulut Evan dan Alice seperti menjadi lagu Nina Bobo untuk Nindi sehingga tidurnya menjadi sangat lelap.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkhhsssss…..nikmat sayang…Aakkkhhhh…ssshhhhh…”, racau Evan.
“terus…terus…ssshhhhh….sebentar lagi, yang…lebih cepat…lebih lagi. Aaakkkhhsssss….”

Pada beberapa tusukan terakhir Evan mampu membawa Alice pada gelombang orgasmenya yang sangat nikmat. Dirasa bahwa batang kontolnya serasa diremas lebih keras dari sebelumnya.

“Sa…yaaannnggg….”, lolong panjang Alice dengan badan melengkung ke samping menahan nikmatnya orgasme.

Alice akhirnya mendapatkan orgasme pertamanya dengan sangat nikmat sambil di tindih oleh Evan. Evan yang memberi jeda pada permainannya itu hanya diam dengan memeluk tubuh Alice. Rasa lengket akibat keringat serasa tak dihiraukan oleh keduanya.

Hembusan nafas mereka bisa sangat jelas dirasa dan dirasakan satu sama lain. Sehabis gelombang orgasmenya selesai, Alice masih diam memeluk tubuh Evan dengan mengatur nafasnya yang serasa dikuras habis untuk membayar rasa nikmat yang ia dapatkan.

“Capek ya?”, tanya lirik Evan tepat di telinga Alice.
“he’em. Capek…”
“Istirahat bentar kalo gitu. Ga tega aku kalo lanjutin”
“Ga… Gapapa. Aku masih kuat kok. Kamu kan belum keluar. Aku ga mau egois, aku udah keluar sekarang giliran kamu, yang”
“istirahat bentar ya. Aku juga capek”, balas Evan mengeratkan pelukannya dan dibalas juga oleh Alice.

Saat mereka sedang diam dalam pelukannya, mata Alice tak sengaja menangkap sosok tubuh kecil yang masih tertidur pulas di sofa sebelahnya. Alice baru sadar jika dirinya bersama Evan memacu birahi di dekat Nindi. Ada rasa tak percaya jika dirinya melakukan hal tersebut namun entah kenapa malah sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.

“kamu sadar ga? Kita berhubungan sejak tadi di dekat Nindi”, lirih Alice disertai suara tawa kecil.

Evan mengalihkan pandangannya ke sofa lainnya. Saat ia melihat sosok Nindi, Evan juga baru tersadar apalagi mereka tadi melakukannya cukup heboh dan untungnya anak itu tak terbangun. Jika Nindi bangun mati sudah apa yang akan merek jelaskan nantinya dan apalagi mulut anak kecil itu antara ember dan polos. Bisa-bisa Nindi menceritakan ke bu Nonik.

“Kamu sih nafsuin banget jadinya ga ingat sama Nindi deh”, ucap Evan.
“kok aku? Kan kamunya yang mulai”
“iya aku yang mulai tapi tadi siapa yang heboh sendiri coba. Untungnya tuh anak g bangun gara-gara dengar desahan kamu itu yang heboh”

Wajah Alice yang sudah merah akibat orgasmenya bertambah memerah saat mengingat kejadian tadi dimana Alice akui bahwa ia cukup heboh dengan desahan serta erangannya.

Awalnya memang ingin memberi jeda pada permainannya lebih lama, namun Evan merasakan dinding memek Alice berkedut-kedut di dalam membuat kontolnya serasa di pijit kembali. Hal tersebut menjadikan nafsu Evan kembali pada titik teratasnya dengan perlahan.

“Ngajak buat di lanjut lagi?”, sambil menangkup kedua sisi pipi Alice dengan telapak tangannya.
“Apaan sih”, balasnya bersemu.

Tanpa menunggu jawaban Alice dan karna dirinya sudah tak tahan lagi, Evan mulai menggerakkan batang kontolnya keluar masuk di lubang memek Alice dengan tempo sedang. Evan menggenjot Alice masih dalam posisi yang sama yaitu Alice terlentang dengan kedua kakinya di renggangkan.

“Aakkkhhhh….ssshhhhh…habis keluar jadi tambah seret aja rasanya, yang. Ssshhhhh….”, ucap Evan tapi hanya ada diam pada Alice.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan mulai meningkatkan ritme genjotannya, ia sudah tak tahan lagi untuk segera berejakulasi. Rasanya benih yang ada di buah zakarnya sudah mulai naik untuk memaksa keluar dari tempatnya.

Permainan lanjutan birahi antara Evan dan Alice sudah berlangsung lebih dari delapan menitan. Evan sendiri sudah mulai menunjukkan bahwa dirinya akan segera mencapai klimaksnya yang sudah dinanti itu. Hanya dengan beberapa hentakkan keras dan bertenaga Evan akhirnya jebol juga.

Dicabutnya dengan cepat batang kontolnya itu lalu dirinya naik merangkak melewati payudara ranum Alice. Posisi akhir Evan mengangkangi wajah cantik Alice dan… CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Beberapa tembakan peju hangatnya jatuh tercecer ke seluruh kulit wajah Alice. Sementara sang pemilik wajah hanya bisa memejamkan matanya menerima setiap semprotan cairan hangat itu di wajahnya.

“Aaakkkhhhh…..”, selesai menyemprotkan semprotan terakhirnya Evan mengoleskan sedikit ujung kepala kontolnya di pipi Alice lalu dirinya yang masih bertelanjang bulat berjalan ke arah meja untuk mengambil berhelai-helai tisu untuk digunakan untuk membersihkan lelehan peju miliknya yang tercecer di wajah cantik Alice.

“Banyak banget tau ga”, ucap Alice memasang wajah cemberut saat Evan tengah menyeka lelehan cairan kental itu di wajahnya menggunakan tisu.
“Maaf lah, orang sekarang jarang di keluarin”
“Maunya…”

Evan membantu Alice untuk memaki pakaiannya kembali. Setelahnya ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci kontolnya yang serasa lengket karna telah disiram cairan orgasme Alice tadi.

Sekembalinya Evan dari kamar mandi ia melihat Alice sudah rapi dengan pakaiannya dan tengah menyisir rambutnya yang tadi sempat berantakan akibat permainan panas mereka. Saat ia lihat jam tangannya ternyata sudah lewat dari dua jam semenjak dirinya dititipkan Nindi oleh bu Nonik.

Sebelumnya Evan menawari Alice untuk mandi tau tidak dan dijawab sambil menggeleng, katanya tak usah cukup dengan cuci muka saja. Mendapat jawaban seperti itu Evan naik ke kamarnya untuk mandi karna lengket kan keringat.

Sehabis mandi Evan memutuskan untuk menelepon mamahnya perihal pulangnya akan ia jemput atau bagaimana karna memang sudah lewat dua setengah jam. Panggilannya tersambung ke ponsel mamahnya namun tak ada respon. Evan mencobanya sampai dua kali masih saja tak ada respon. Pada akhirnya kesempatan ketiga panggilnya mendapatkan sebuah respon.

“hallo, mah”, panggil Evan hanya ada suara ibu-ibu sedang tertawa.

Beberapa saat Evan menanti jawaban mamahnya. Selama menanti jawaban yang berlangsung sekitar 10 detik itu, Evan hanya mendengar suara tertawa dan suara obrolan yang tak jelas.

“hallo, Van”, jawab seseorang di balik sana.

“Lah kok suara bu Nonik? Jadi memang benar arisan bu Nonik sama mamah satu tempat”, batin Evan saat mendengar yang menjawab itu suara bu Nonik.

“Loh kok tante yang jawab sih?”
“oh iya, Van tadi tante ga bilang ya sama kamu kalo keperluan tante itu tadi buat hadir di acara arisan”
“jadi tante sama mamah arisannya satu tempat gitu?”
“iya Van, tante sama mamah kamu arisannya sama dan juga yang saranin mamah kamu buat ikutan juga itu tante yang ajak”

“Oh, oke kalo begitu jadi mamah ada temannya”, batin Evan.

“terus mamah tan, tan? Kok tante yang angkat telepon Evan?”
“mamah kamu ya…mamah kamu lagi di kamar kecil, Van. Mulas katanya”, jawab bu Nonik, namun jawabannya terlihat dipikir terlebih dahulu karna memang ada jeda waktu disana.
“gitu ya, tan. Yaudah kalo gitu tolong bilangin sama mamah, tan. Nanti mau Evan jemput apa ga dan kalo dijemput nanti jemput jam berapa”
“kayaknya ga usah di jemput deh, Van”
“loh kok gitu, tan. Memang mamah tadi udah ada rencana pulang sama Tante gitu?”
“iya, Van. Tadi tante sama mamah kamu udah janji buat pulang bareng pake Gr*b Car solnya”, ucap bu Nonik.
“Sama tante mau kasih tau, kayaknya nanti tante sama mamah kamu pulangnya agak telat soalnya ibu yang dapat giliran buat arisan lagi adain semacam pesta ulang tahun anaknya gitu, jadi sekalian mau bantu-bantu dulu”

“sebelumnya saya minta maaf, tan buknya saya keberatan atau bagaimana. Saya Cuma mau tanya saja kalo anak teman tante ada yang ulang tahun kenapa Nindi ga di ajak, malah di titipin sama saya, tan?”

Tak ada respon secepat sebelumnya dari bu Nonik. Lagi-lagi dia diam seperti sedang mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Evan itu.

“kan Nindi ga kenal sama anak teman tante ini, Van. Lagian Nindi juga sudah sempat tante ajak tapi Nindinya ga mau katanya ga kenal jadi malu”
“Oh… Eh, nanti pulangnya sekitar jam berapa ya, tan? Soalnya Alice kebetulan juga lagi main ke rumah”
“Perkiraan sih kayaknya selesai sebelum Maghrib, Van. Yaudah nanti tante sampaikan ke mamah kamu”

“Hahahaha…banjir”, sekilas terdengar suara perempuan sedang tertawa dengan mengatakan Banjir. Tak terlalu jelas, namun masih bisa ditangkap oleh telinga suara itu.

“Van, tante matikan dulu teleponnya ya. Ga enak di tunggu sama ibu-ibu yang lain kalo kelamaan”, ucap bu Nonik.
“Oh iya, tan Makasih sebelumnya”
“sama-sama, Van”, dan panggilan berakhir.

Evan memutuskan untuk turun menemui Alice yang ia tinggal tadi di rung tengah. Terlihat Nindi masih dalam posisi tidurnya. Evan sempat berpikir bahwa itu anak tidurnya sangat pulas. Apakah anak kecil kalo tidur sing selelap ini? Memang benar tak ada beban di hidup anak seusainya.

Di hampirinya sosok Alice yang tengah duduk di sofa sambil tangannya bermain di layar ponsel miliknya, entah apa yang sedang ia kerjakan namun terlihat sangat fokus.

“Udah mandinya?”, tanya Alice, Evan mengangguk.
“ini ibunya kapan bakal jemput memangnya? Kasihan lagi liatnya”
“Kayaknya sore baru di jemput deh soalnya tadi orangnya bilang sendiri. Ternyata tante Nonik lagi arisan sama mamah di Komplek sebelah”
“arisan doang kok pulangnya lama banget”
“Biasalah namanya juga ibu-ibu pasti sambil ngerumpi, lagian tadi tante Nonik juga bilang katanya mau bantu-bantu dulu buat siapin pesta ulang tahun temannya yang kebetulan juga orang yang rumahnya lagi kebagian jatah but dipake arisan”, Alice mangut-mangut menanggapi penjelasan Evan itu.

“Belum makan kan? Mau makan apa?”
“terserah kamu aja deh, yang”
“Yaudah kaya yang biasa aja yah”, Alice mengangguk.

Evan juga berbicara pada Alice soal makanan yang akan ia belikan juga untuk Nindi. Sudah jelas dia belum makan siang. Karna Alice perempuan yang lebih tau masalah anak kecil dan dia pun akan menjadi calon ibu nantinya, Alice menyarankan untuk membeli telur, ikan serta sayuran.

Hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit Evan telah kembali dengan kantung plastik putih berisi makanan. Dilihatnya juga Nindi sudah bangun dari tidur singnya yang terlihat sangat pulas itu. Akhirnya merek bertiga makan bersama. Untungnya saja Nindi tipe anak yang mudah untuk diatur sehingga untuk makanan pun tak terlalu pilih-pilih. Kenapa jadi ngomongin anak orang sih?

“Memangnya tadi mamah udah ngajak Nindi buat ikut?”, tanya Evan pada Nindi.
“ga kok, kak. Mamah ga ajak Nindi, mamah juga ga bilang kalo anak teman mamah itu hari ini ulang tahun”

Evan terlihat berpikir akan jawaban yang Nindi berikan. Tak etis juga rasanya jika anak seusainya berbohong. Lagian apa untungnya berbohong? Supaya dapat yang jajan yang lebih gitu? Ga lah…

“kenapa memangnya tanya kaya gitu, yang?”
“gapapa kok, lagi kepo aja aku”, balas Evan sambil memperlihatkan deretan giginya.

Kini sudah lewat sekitar setengah jam lebih setelah Evan menelepon mamahnya tadi. Evan beralasan pada Alice untuk pergi ke kamar kecil sebentar dan disana ia mencoba untuk menelepon nomor mamahnya lagi untuk kedua kalinya. Sama seperti pertama kalinya, panggilan Evan beberapa kali tak ada respon. Ia coba terus hingga masuk hitungan yang ketujuh kali baru diangkat.

“kenapa suara tante Nonik lagi sih yang angkat?”, batin Evan.

“hallo, tan. Kok tante lagi yang angkat? Mamah dimana? Evan mu ngomong sama mamah nih”
“Aduh gimana ya, Van… Mamah kamu kebetulan lagi ke kamar kecil, barusan malah”, jawab bu Nonik.

“Apalagi ini? Alasan macam apa? Setiap gue telepon masa ke kamar kecil dan tadi tante Nonik bilang barusan??? Lah kalo barusan kenapa daritadi teleponnya ga diangkat? Udah di telepon sampe enam kali, tujuh kali baru tante angkat loh. Ga logis nih alasannya. Kurang Pro”, batin Evan bingung bercampur rasa kesal, sedikit.

“mamah sakit perut kah, tan? Kok tiap saya telepon mamah selalu di kamar kecil dan perginya juga kaya memang di sengaja. Kebetulan kah?”, tanya Evan.
“kebetulan kayaknya sih. Mamah kamu memang lagi sakit perut soalnya mamah kamu tadi cobain sambal yang dibuat sama ibu A untuk acara makan-makan ulang tahun anaknya”

Speechless. Evan benar-benar tak habis pikir. “Acara ulang tahun anak-anak…ada acara makan-makannya tapi ada sambal? Saat sambal itu di cicip oleh mamahnya yang notabene sudah dewasa saja bisa sakit perut apalagi saat dimakan anak kecil? Mereka lagi adain acara ulang tahun apa acara ngeracunin anak orang?”. Rasnya Evan ingin tertawa mendengar hal tersebut namun disisi lain juga ia merasa kesal.

Untuk kali ini Evan tak mendengar suar lain selain suara bu Nonik seorang, tak seperti sebelumnya ia dapat mendengar suara ibu-ibu tertawa dan terdengar berbicara tak terlalu jelas. Kali ini benar-benar tak terdengar suara mereka.

“tan, nanti kalo mamah keluar dari kamar kecil suruh mamah buat telepon Evan langsung ya”
“oke, Van. Eh, anak tante gimana? Nakal ga? Bikin repot ga?”
“Ga kok, tan. Nindi anaknya baik, bukanya bikin repot tapi Nindi malah bikin senang. Soalnya Evan jadi ga ngerasa bosan di rumah”
“Syukur deh kalo gitu. Nindi mana?”
“Ada tuh di ruang tengah lagi main sama Alice”
“Makasih ya, Van udah mau dititipi Nindi. Sampaikan juga rasa Makasih tante ke Alice”
“Ga masalah kok, tan. Yaudah Evan tutup dulu teleponnya ya, tan”

Panggilan kembali berakhir. Evan menutup panggilan tersebut dengan banyak pertanyaan yang hinggap di pikirannya. Walau banyak hal yang tak bisa ia mengerti, namun Evan masih menaruh rasa hormat dan tak berpikir macam-macam pada bu Nonik.

Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul setengah empat sore dimana anak seusia Nindi sudah waktunya untuk mandi. Evan meminta bantuan pada Alice untuk membantu Nindi mandi. Ya walau usia segitu sudah bisa mandi sendiri tapi apa salahnya? Lagian Nindi cewek, Alice pun juga sama. Beda cerita kalo Evan yang memandikan. Jangan berpikir Evan juga seorang Pedo.

Evan mengantarkan Alice dan Nindi ke rumah bu Nonik karna sebelumnya Evan diberikan kunci rumah oleh pemiliknya sendiri. Alice yang tengah berada di kamar mandi bersama Nindi membuat Evan bosan dengan duduknya. Evan yang tengah duduk di ruang depan rumah bu Nonik pun memutuskan untuk menghilangkan rasa bosannya dengan membuka salah satu aplikasi dewasa berbasis Live Chat.

Aplikasi yang Evan buka itu bukan hasil download dari layanan resmi layaknya Play Store maupun App Store. Evan mendapatkan aplikasi itu dari situs ilegal. Ya karna memang di dalam aplikasi itu level dewasanya kebanyakan sudah menjerumus ke pornografi secara utuh. Untuk bisa mengakses Live Chat disana pun juga harus menjadi member terlebih dahulu secara bulanan.

Di dalam aplikasi tersebut juga ada fitur dimana fitur tersebut berfungsi layaknya sebuah lelang. Lelang yang dimaksud disini itu contohnya seperti seseorang sedang melakukan Live Stream dan orang itu akan melakukan semua perintah orang yang mau mendonasikan uangnya pada si Streamer itu dengan catatan donasi tertinggi itulah yang akan menjadi tuannya. Tuan yang bisa dengan bebas memerintahkan keinginannya. Walau begitu privasi maupun identitas di Streamer itu bisa dengan baik akan terjaga, ditambah lagi kebanyakan yang melakukan hal tersebut menggunakan face mask sehingga wajah nya tak bisa dikenali.

“Yeee…member bulanan gue belum di upgrade lagi”. Evan mengisi stok Diamondnya terlebih dahulu lalu baru ia perbarui status membernya.

“Anjir, masih sore padahal tapi udah lumayan banyak juga ya Live”

Jemarinya terus menscrool lama yang terdapat lumayan banyak Room live chat yang sedang berlangsung. Kebanyakan dihiasi oleh wajah-wajah muda yang memang sedang melakukan Live dengan cara Colmek ataupun hanya sekedar ngobrol jorok.

Dari beberapa room tersebut ada satu room yang mampu membuat Evan penasaran dimana room dengan nama akun “LadiesFirst_02” itu sedang merajai puncak trending sore itu dengan jumlah penonton yang bisa mengartikan sebuah kalimat “gila jam segini orang mesum udah berjibun”.

Saat Evan mencoba untuk ikut bergabung ke dalam room chat tersebut ternyata ada syarat yang harus di penuhi dan syarat tersebut diharuskan si pengunjung awal harus membayarkan sejumlah Diamond untuk bisa mengaksesnya. “duit lagi, duit lagi”, batin Evan.

Evan yang sudah terlanjur penasaran pun akhirnya mau memenuhi syarat tersebut. Saat syarat terpenuhi muncul sebuah tulisan yang berkata “bersainglah dengan yang lain untuk merebut posisi tertinggi sebagai pemilik”.

“wah ternyata lagi ada lelang nih. Mantap”, ucap Evan mulai antusias.

Saat room sudah bisa diakses ternyata kamera hanya menyorot lantai. Sebenarnya Evan menjadi kesal, namun ia coba untuk membaca komen yang sudah menumpuk itu. Dari komen yang ia baca, ia mendapatkan sebuah info jika si Streamer sedang melakukan permainan keduanya.

Sekilas juga terdengar beberapa suara perempuan yang sedang berbicara. Beberapa detik kemudian muncul seorang wanita dengan full face mask berdiri di depan kamera sambil berkata, “pemirsa sekalian dimohon untuk sabar menunggu. Sebentar lagi acara kedua akan kita mulai. Sekali lagi di mohon untuk bersabar”, ucapnya dengan hanya memakai pakaian dalam serta G-String yang melekat di kakinya. Setelah mengucapkan hal itu si wanita pergi kembali ke belakang kamera.

Saat itu juga Alice dan Nindi terlihat keluar dari kamar Nindi dan menghampiri Evan yang tengah duduk di sofa itu. “shit!!!”, kesal Evan.

Untungnya aplikasi tersebut bisa dibilang sangat kaya akan fiturnya. Di dalam sana ada fitur semacam rekam otomatis walau pengguna offline dan bisa melanjutkan tontonannya setelah acara telah selesai. Tapi fitur tersebut memerlukan biaya berupa Diamond yang cukup besar pula.

Karna rasa penasaran yang sudah sangat tinggi akan room tersebut, lagi-lagi Evan merelakan Diamondnya itu untuk dibuang. Setelah Evan menggunakan fitur tersebut, Evan menutup aplikasi tersebut dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

“Cantik banget…anak siapa sih ini? Kakak culik boleh?”, goda Evan pada Nindi.
“ga boleh. Nanti kalo kakak culik Nindi, kakak bakal diomeli sama mamah loh”

Evan dan Alice tertawa mendengar jawaban polos anak itu. Nindi yang sudah mandi dan wangi pun diajak kembali oleh Evan untuk menunggu bu Nonik di rumahnya saja.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 17.25 dan itu artinya sebentar lagi Maghrib datang, namun sosok mamahnya serta bu Nonik masih belum juga pulang padahal bu Nonik tadi bilang bahwa mereka akan pulang sebelum Maghrib.

“mungkin macet? Ga bakal lah!! Orang Cuma di Komplek sebelah, jarak juga paling beberapa kilo dong. Lagian jalan area Komplek perumahan gue sampai Komplek yang di tuju mamah lalu lintasnya tak pernah macet”, batin Evan.

Evan memilih untuk bersabar dan menunggu. Terlihat juga Alice sedang memangku Nindi sambil menonton acar televisi. Sungguh rasanya seperti sebuah keluarga kecil bagi Evan. Dirinya membayangkan bahwa Alice sudah menjadi istrinya dan nak yang sedang ia pangku itu adalah anak mereka.

“Aaarrggghhh, sial!!!”, rutuk Evan, namun dirinya tertawa geli di dalam hati.

Maghrib pun sudah terlewat dan jam dinding menunjukkan pukul tujuh kerang Lim Belas Menit saja dan saat itu suara mobil baru terdengar berhenti di depan rumahnya. Evan yang sudah bisa menebak bahwa itu mobil Gr*b yang membawa bu Nonik serta mamahnya pun langsung menghampirinya keluar.

Saat dilihat ternyata benar itu mamahnya Serta bu Nonik, namun yang dilihat Evan sedikit berbeda dimana mamahnya seperti terlihat lemas. Setelah berhadapan mamahnya menyapa Evan dengan senyumnya seperti biasa, entah kenapa Evan kembali merasa terangsang akan mamahnya itu. Rasanya ia ingin menerkam tubuh mamahnya untuk meminta jatah tapi hal itu tak mungkin karna masih ada bu Nonik dan ada Alice di dalam.

“mamah kenapa kok kaya lemas gitu?”, tanya Evan.
“Gapapa kok, Van mamahmu Cuma masih mulas akibat makan sambal tadi yang terlalu pedas”, pertanyaan Evan malah di jawab oleh bu Nonik.
“Iya gapapa kok, nak. Mamah Cuma mulas”, timpa mamahnya membenarkan ucapan bu Nonik.

Evan akhirnya memilih untuk percaya pada kedua wanita itu dan mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.

Saat diteliti seluruh pakaian hingga bagian tubuh mamahnya ternyata tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. “sepertinya mamah memang sedang mulas”, pikir Evan berjalan di belakang kedua wanita itu.

.
.
.

*Bersambung….

Mohon bersabar, ini ujian. Buat menceritakan konflik yang sedang terjadi akan di muat pada chapter selanjutnya. Terima kasih dan salam lengket buat Widya.

Bersambung

Daftar Part