. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 19 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 19

0
558
KAMU CANTIK HARI INI

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 19

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Entah sudah berapa lama Widya tertidur, namun sepertinya belum terlalu lama. Widya bangun karna ia merasakan ada seseorang yang mengangkat dan membuka kedua kakinya. Setelahnya ia merasa ada sebuah benda besar yang memasuki lubang kelaminnya. Perlahan Widya mulai membuka matanya dan tersadar saat sosok pak Narto berada di antara kakinya tengah berusaha melakukan penetrasi ke dalam lubang memeknya.

Widya sudah menduga hal tersebut akan terjadi, makanya ia diam tak melawan. Pak Narto yang sadar bahwa Widya bangun dari tidurnya hanya tersenyum mesum ke arahnya dan kembali mencoba melakukan penetrasi. Inci demi inci kontol kedua pada hari itu mulai masuk ke dalam lubang memeknya hingga masuk sepenuhnya.

BLES!!!

“aaakkkkkkhhhh….”, lenguh pelan Widya.
“Sssshhhhh….habis digenjot sama pak Herman masih sama aja rapatnya”, kicau pak Narto setelah berhasil melakukan penetrasi sepenuhnya.

Pak Narto mendiamkan beberapa saat untuk memberi kesempatan bagi Widya untuk menyesuaikan batang keduanya yang masuk, walau ukurannya lebih besar sedikit punya pak Herman sebenarnya, namun dari segi panjang lebih unggul punya pak Narto.

Disaat dirinya tengah menerima kedutan dari dinding selaput memek Widya, pak Narto mengarahkan pandangannya pada pak Herman dimana pria tersebut hanya duduk menonton sambil mengocok kontolnya.

“Ga langsung ikutan gabung aja, pak? Dua lubang nganggur ini. Mulut? Pantat?”, ujar pak Narto.
“Udah kamu dulu aja, To. Capek, pengen liat”. Tumben kata itulah yang terlintas di benak pak Narto maupun dari Widya sendiri.
“Yaudah saya genjot sendiri dulu ya, pak”, pak Herman mengangguk.

Pak Narto sedikit memosisikan kedua kaki Widya mencari posisi lebih nyaman lalu memandangnya dengan tatapan mesum. “Sekarang giliran saya yang dilayani, bu. Hehehe….siap-siap saya buat kelojotan. Nanti teriaknya jangan keras-keras takutnya tetangga pada tau kalo bu Widya lagi saya entotin. Hehehe…”

Kedua tangannya mencengkeram kedua sisi pinggang Widya dan dimulailah gerakan pada pinggul pria tua itu untuk menumbuk selangkangan Widya yang sebelumnya telah di hajar oleh pak Herman. Gerakan yang dilakukan oleh pak Narto sama seperti biasanya dimana ia langsung memasang ritme yang cepat. Sudah menjadi kebiasaannya saat menikmati tubuh Widya.

Saat rutin menyetubuhi Widya saja ia selalu melakukannya dengan kasar ditambah lagi sudah beberapa hari ini ia tak menjamah Widya sejengkal pun, sudah pasti pria tua itu sangat bernafsu untuk menuntaskannya. Meluapkan semua hasratnya yang sudah ia tahan berhari-hari pada tubuh Widya.

“Aaakkkkkkhhhh….akkkkhhhh…pelaann….pelan, pak….aaakkkkkkhhhh”, suara yang dikeluarkan Widya samar antara suara desahan nikmat atau suara ngilu.
“ssshhhhh….ga bisa, bu. Saya sudah berhari-hari tahan kangen sama tubuh bu Widya ini. Sssshhhhh…”, ucapnya seenak jidat.
“saya pengen nengokin anak saya di dalam rahim bu Widya ini. Ssshhhhh….Aakkkhhhh….nakkk…bapak datang nengokin kamu yang di dalam. Sssshhhhh…ini kontol bapak…..ssshhhhh….”, racau pak Narto.

Selang beberpa menit setelah Widya tengah di pompa kasar oleh pak Narto, tiba-tiba pak Herman bangkit dari duduknya berjalan ke arah mereka berdua dengan tangannya mengurut belalai yang ada di selangkangannya itu. Ia berseru pada pak Narto untuk berbagi lubang dengannya. Pak Herman berniat ingin melakukan penetrasinya lagi di dalam lubang memek Widya, sementara pak Narto diminta untuk mengisi lubang belakangnya.

Tanpa merasa keberatan sama sekali pak Narto menuruti keinginan pak Herman tersebut. Lantas pak Narto menarik lepas kontolnya dan membantu tubuh Widya untuk menyingkir terlebih dahulu.

Pak Herman memosisikan dirinya tidur terlentang di kursi panjang tersebut dan setelahnya Widya di tuntun untuk naik di atasnya. Setelah ujung kepala jamurnya tepat berada di lubang, Widya di turunkan sedikit demi sedikit oleh pak Herman sendiri dan dibantu pak Narto hingga batang tersebut tertelan habis oleh lubang peranakan.

Dalam posisi tersebut membuat pantat padat yang dimiliki oleh Widya terlihat sangat menggairahkan di depan mata pak Narto. Ditamparnya pantat tersebut beberapa kali hingga kembali meninggalkan warna merah disana sebelum melakukan proses penetrasi.

“pelan, pak”, ucap Widya menengok ke arah belakang.

CUIH!!! CUIH!!!

Beberapa kali air ludah meluncur dari mulut pria tua tersebut telat di lubang pembuangan Widya. Setelah ludah yang diberikan dirasa cukup, pak Narto menempelkan ujung kepala jamurnya dan mulai menekan masuk. Proses penetrasi pada lubang tersebut membuat Widya mengerang.

“Eeeeeggghhhh!!!!”

“Sssshhhhh….sial! Baru ujungnya aja udah berasa kaya di remas kuat, apalagi masuk semua”

“Sakit, paakkk… Tolong pake memek saya saja. Ssshhhhh….”
“Pake memek? Bu Widya mau satu lubang diisi dua kontol gitu? Siap robek itu memek?”, ucap pak Narto.
“Bukan…sssshhhhh….bukan gitu. Gantian sama mas Herman. Ssshhhh….saakkittt…”
“Halah kaya ini lubang masih perawan aja, bu. Udah ga usah melawan, rileks aja biar ga terlalu sakit. Nanti juga ini lubang terbiasa lagi dan ibu juga pasti bakal keenakan sampe ngecrot terus”

PLAK!!! Gemas pak Narto dengan menampar kembali sebelah kanan pantat Widya.

“Aaakkkkkkhhhh! Jangan ditampar paakkk…ssshhhhh….”
“kenapa? Sakit?

Widya menggeleng, “enakkk….Ooouuugghhh…sshhhhh…”

“Dasar pelacur”, ucap pak Narto dan melanjutkan proses penetrasinya.

Memang bukan kali pertama lubang belakang Widya di pakai, namun karna jarangnya lubang tersebut di jelajahi membuat rongganya kembali menyempit seperti semula. Butuh usaha untuk menjebol kembali pertahanan pada bagian tersebut dan usaha yang di lakukan pak Narto akhirnya membuahkan hasil setelah beberapa kali mencoba menekan masuk. Setiap usaha pula dari mulut Widya selalu mengeluarkan suara rintihan.

“Ooouuugghhh….masuk juga akhirnya, bu. Sempitnya minta ampun. Bodoh sekali almarhum suamimu, lubang sempit dan seenak ini tak pernah di rasakan. Sssshhhhh…malah di jebol sama orang lain”
“Istrimu udah jadi Lacur, Harjo. Sekarang kamu liat aja dari atas istrimu ini bakal dihajar lagi sama dua kontol sekaligus”, lanjut pak Narto.
“Bisa kita mulai, pak?”, tanya pak Narto pada pak Herman yang mungkin sudah menunggu dari tadi.

Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, pak Herman mulai menyentakkan pinggulnya ke atas membuat Widya mengerang. Sementara kontol pak Narto yang berada di lubang lainnya juga tak mau kalah.

“Aaakkkhhhh….Aaaakkkkhhh….pellannnn….ssshhhhh…”, tubuhnya di peluk pak Herman dengan erat.

Untuk kali keduanya pak Herman menikmati Widya tak banyak mengeluarkan komentar, hanya sebuah suara kenikmatan yang meluncur. Berbeda dengan pak Narto yang selalu meracau kasar tak jelas. Ya memang seperti itulah pria tua itu jika sedang berada dalam urusan ranjang, apalagi pemuasnya seorang Widya.

Dari sudut pandang yang berbeda bisa terlihat dengan jelas sosok ibu hamil bersama dua pria lain yang bukan suaminya dan ketiganya tengah telanjang bulat. Ibu hamil tersebut diapit oleh dua pria tersebut dengan keadaan kedua lubangnya tengah di genjot. Terlihat pula dua kontol tersebut keluar masuk secara bergantian seakan akan tengah menstimulasi kenikmatan yang terus menerus pada si perempuan.

“Lihat ini, Harjo. Lihat istrimu!!! Memek sama boolnya lagi di kontolin sekaligusssshhhh… Kau nikahi dan nafkahi wanita jalang ini dengan keringatmu. Kau mati dia malah tukar harga dirinya sama kontol. Sssshhhhh….lihat istrimu ini, Harjo!”, ucap pak Narto mengolok.

Pak Narto sedikit membungkukkan badannya untuk condong ke depan, hal tersebut membuat perut hamil Widya sedikit tertekan diatas perut pak Herman. Ia berbicara lirih di telinga Widya. “Sapa suamimu diatas sana dan bilang seperti apa kelakuanmu kamu sekarang”, lalu menjilat daun telinga atasnya.

Widya menggeleng lemah. Pak Narto merasa kesal akan jawaban yang Widya berikan. Ia tegapkan kembali badannya dan tanpa aba-aba ia naikkan tempo genjotannya sehingga Widya tak bisa lagi menahan suaranya untuk merintih. Rintihan yang bercampur dengan rasa kenikmatan.

“Aaaakkkkhhh….Aaakkkhhhh…ppaakkkg…tolooonngg pellannnn… Ssshhhh… Ooouuugghhh…ssshhhhh….”
“cepat ngomong, bu”, kali ini sambil menjambak rambut Widya sehingga dirinya terlepas dari pelukan pak Herman.
“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh… Iya…iyaa….Aaaakkkkhhh….”

“Mass…apa kabar kamu….Adek disini baik-baik saja. Masss…mmaassss ga usah khawatir… Adek disini bahagia, mas… Adek selalu bahagia karna kontol-kontol merekaa…ssshhhhh…. Adekk… Aaakkkkkkhhhh….”, di genjotnya dengan lumayan cepat oleh pak Narto.
“Adekkk sekarang punya kerjaan baru, maaass…maafin Adek…dulu mas larang Adek buat kerja kan? Ssshhhhh…Adekk ga nurut sama maaass…”
“Kerja apa kamu?”, sela pak Narto.
“Adekkk…kerja buat puasin nafsu lelaki….jadi Lonte….Pelacur, mmaassss…. Adek sekarang budak lelaki. Ssshhhh…maaafff, maaass…”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Kedua kontol tersebut secara kompak mengeluar masukan lajunya dengan tempo yang sama, namun secara bergantian. Sungguh, sungguh Widya dibuat sangat tersiksa akan kenikmatan yang diberikan itu. Rasanya ia ingin berteriak dengan keras untuk mengekspresikan pada dunia bahwa yang sedang ia rasakan itu sangat, sangat dan sangatlah nikmat.

“Aampuunn…ampun… Ssshhhhh….Aaaakkkkhhh….tolong jangan siksa saya dengan kenikmatan ini. Aaakkkhhsssss….aampuunn….”, erang Widya dengan kepala menggeleng menahan nikmat, bahkan nikmatnya itu membuat Widya mencengkeram bahu pak Herman dengan keras. Tanpa sadar kuku jarinya membuat kulit bahu pak Herman lecet.

Cukup lama Widya di himpit oleh keduanya dalam posisi tersebut sampai pak Herman akhirnya ingin mencapai klimaksnya. Mengetahui rekannya sudah dekat dengan klimaksnya, pak Narto mencabut kontolnya untuk memberi ruang pada pak Herman. Sambil memeluk erat tubuh Widya, pak Herman menghentak-hentakan kontolnya dengan kuat pada selangkangan Widya.

“Aaakkkkkkhhhh….akkkkhhhh… Kkeluaarrrr!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Entah berapa kali cairan peju yang masuk ke dalam rahimnya yang jelas Widya hanya bisa terengah di atas tubuh pak Herman. Tubuhnya yang lunglai di pegangi pak Narto dan pak Herman menyingkir dari posisinya dengan batang kontol yang sudah mulai menyusut.

Setelah selesai menuntaskan hasratnya untuk kedua kalinya, pak Herman lekas memakai kembali celana kolornya dan pergi ke dalam rumah untuk mengambil bajunya. Tak membutuhkan waktu yang lama kemudian ia terlihat keluar lagi bersama baju yang sudah pakai.

“saya mau jemput istri dulu, pak”, pamit pak Herman.
“Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh…iya….ssshhhhh….silahkan, pak”, jawab pak Narto yang sudah mengambil alih lubang memek Widya dan fokus menggenjot.
“Maasssshhhh….”, panggil lirih Widya sambil memandang ke arah pak Herman dengan tatapan sayu.

“Nanti mas balik lagi”

Pak Herman mulai melangkah meninggalkan pak Narto yang tengah menggarap tubuh Widya dengan semangatnya. Dirinya sudah sampai di depan rumah Widya, namun suara desahan dan racauan keduanya jika di dengar dengan jeli masih bisa terdengar, walau samar dan sangat pelan untuk ditangkap telinga.

Pak Herman memang akan menjemput istrinya, Nonik yang sedang menemani anaknya yang tengah mengikuti lomba untuk perwakilan sekolahannya dalam bidang bahasa inggris. Namun, pak Herman meninggalkan mereka berdua juga dengan sebuah makna yang tersembunyi.

Sebelum dirinya benar-benar pergi dari rumah Widya, pak Herman mengetikan barisan abjad di layar ponselnya, “bapak sudah kasih dan ternyata diminum sama mamah kamu”. Seperti itulah isi pesan yang dikirimkan ke Evan. Dengan tersenyum miring pak Herman akhirnya meninggalkan kediaman Widya untuk kembali ke rumah mengambil mobilnya.

POV Pak Herman

“siang-siang udah sodok aja, jadi ngantuk rasanya”, batinku melihat sekitar gedung.

Setelah menunggu sekitar satu jam akhirnya anak serta istri keluar juga dari aula di adakannya lomba tingkat kabupaten itu bersama dengan para peserta lainnya. Selama aku menunggu pun pikiranku terbagi pada tetanggaku yang sedang digarap oleh satpam Komplek. Tak ada panggilan masuk dari pak Narto berarti efek obat yang diberi oleh Evan belum bereaksi.

Istriku sudah berada tepat dihadapkanku dengan buah hati kami yang tersenyum bahagia. Bukan sebuah dusta, aku ikut tersenyum melihat keluargaku ini tersenyum seperti itu. Ku rendahkan posisi tubuhku sejajar dengan putri kesayanganku.

“Gimana lombanya?”
“berat banget, yah. Lawan Nindi pada pintar-pintar, tapi….”, ucap anakku terhenti dengan wajah tertunduk. Aku sebagai ayah menghargai apapun hasilnya dan mencoba menghiburnya, namun…
“TADA!!! NINDI JUARA 2, YAH!!”, raut wajah sedih yang sebelumnya menghiasi wajah malaikat kecilku berubah drastis menjadi wajah bahagia. Begitu pun juga denganku. Rasanya aku sangat bangga memiliki seorang putri layaknya Nindi ini.

Aku yang ikut bahagia langsung merengkuh tubuh kecilnya ke dalam dekapanku. Ku peluk tubuh kecil itu dengan perasaan hangat. Ku usapkan telapak tanganku di rambutnya yang terurai panjang.

“Anak ayah pintar banget. Siapa sih ayah mamahnya?”
“Nindi anak ayah. Nindi anak mamah”, ucapnya sambil menarik tangan Nonik untuk ikut dipeluknya. Sekarang kami bertiga saling berpelukan dengan Nindi di tengah.
“buat anak ayah yang pintar ini, Nindi mau ayah belikan apa?”

Anakku menjentikkan jarinya di pelipis seakan-akan ia sedang memikirkan apa yang ia inginkan. Mumpung aku ayahnya mau membelikan.

“Boneka Teddy Bear, tapi yang besaarrrr….”. Permintaan anakku ini sangat sederhana, namun hal tersebut membuatku bersyukur kembali mempunyai anak seperti Nindi ini. Disaat yang lain sudah mahir dan sibuk dengan ponsel, walau mereka masih SD tapi Nindi tak terpengaruh akan lingkungannya.
“oke, kalo begitu kita langsung tancap gas buat bawa pulang Teddy Bear nya. Ayooo…”, ucapku layaknya orang tua. Sungguh berbeda sifatku saat bersama keluarga dan saat bersama tetanggaku.
“YEEAAHHHH!!!”, seru anakku dengan semangat.

Aku dengan istri dan anak akhirnya memacu mobil yang ku kendarai mengarah ke salah satu pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat diselenggarakannya lomba anakku tadi. Sampainya disana aku langsung mengajak Nindi ke salah satu toko yang menjual beraneka macam bentuk dan model boneka. Bagi anakku mungkin ini surganya. Hahaha… Saat di sana pun juga ternyata bukan hanya boneka Teddy saja yang di beli, ada beberapa boneka lainnya. Ya namanya juga anak kecil.

Setelah tanganku berhasil mengangkut barang belanjaan berupa boneka, aku membimbing mereka ke salah satu tempat cepat saji untuk mengisi perut. Setelah kenyang kami tak kemana-mana lagi dan langsung tancap gas mobil menuju rumah.

Saat aku sampai di rumah dan setelah memasukkan semua barang yang dibeli anakku, aku melihat jam tangan yang ternyata sudah menunjukkan pukul 16.45 itu berarti aku telah pergi meninggalkan pak Narto dan Widya selama kurang lebih hampir 3 jam lamanya. Aku yang sadar sudah terlalu lama pergi pun mencari alasan pada istri serta anakku kalo sedang ditunggu oleh salah satu temanku.

Setelah mendapatkan izin aku langsung bergegas pergi, namun karna alasan yang aku buat, aku ikut serta membawa mobil supaya tak dicurigai dan mobil yang ku bawa ini aku parkirkan di lahan kosong samping rumah Widya.

Aku tiba di depan rumah tetangga binalku dan jantungku terasa di pacu dengan kencang serta nafas mulai berat akan pikiranku yang sedang menebak apa yang sedang di lakukan pak Narto. Apakah pria itu telah selesai atau masih menggali kenikmatan di tubuh Widya. Kubuka gerbang rumah tersebut dan ke dalam teras. Saat aku mencoba membuka pintu depan ternyata masih terkunci, hal tersebut membuat adrenalin ku bertambah.

“Masa belum ada reaksi dari obat itu? Kata Evan efek akan terasa dengan selang waktu yang tak terlalu lama”, batinku.
“Maaf, bu”

Aku membuka ponsel ku untuk mengecek isi chat dari anak itu. Ternyata aku salah baca. Efek dari obat tersebut memang memerlukan waktu, namun kemanjurannya besar.

Ku langkahkan kakiku secara perlahan ke arah samping rumah dan ternyata benar telingaku mendengar sebuah desahan dan erangan yang samar dari arah tempat yang ku tinggalkan tadi. Saat aku mencoba mengintip ternyata pak Narto masih memacu birahinya pada tubuh Widya. Pria itu benar-benar menghajar habis selangkangan Widya seorang diri selama berjam-jam. Gila.

“Aaakkkhhhh….aaakkkkkkhhhh….sudah, pak…Aaakkkhhhh…saya sudah lemasssshhh….oouugghhhssss….”, desah Widya yang terdengar lirih.
“Belum, bu. Sssshhhhh….saya masih belum puas. Memek bu Widya nagih banget soalnya. Aaaakkkkhhh… Ssshhhh….”, ucap pak Narto dengan pantatnya yang naik turun menghantamkan kontolnya ke dalam lubang memek Widya.

Posisi Widya tengah terlentang diatas rumput dengan selimut yang mungkin di ambil oleh pak Narto untuk alas untuk menyetubuhi Widya. Terlihat kondisi tetanggaku itu sudah lemas, tapi masih saja di genjot dengan semangat oleh pak Narto. Sebenarnya aku sudah tau seperti apa cara pak Narto menikmati tubuh Widya, namun kali ini mampu membuatku lumayan terkejut. Dimana di leher Widya ada sebuah sabuk yang melingkar dan ujung sabuknya di pegang oleh pak Narto seperti sebuah tali pengendali.

“ssshhhhh…..aaakkkkkkhhhh….aaakkkkkkhhhh…”, desah nikmat pak Narto.

Cukup, pak Herman akhirnya beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri dua insan tersebut. Kedatangan pak Herman tak menyurutkan nafsu pak Narto. Pria itu hanya melihat sekilas dan kembali fokus memompa memek Widya menggunakan kontolnya yang tak tau sudah berapa kali kontol itu menembakkan peju nya ke dalam rahim tetangganya.

“aaakkkhhsssss… Mau gabung lagi, pak? Ssshhhh….dari tadi sudah saya sembur ini memek tapi tetap bikin nagih. Ini memek emang ga cukup dua kali, tiga kali di genjot. Sssshhhhh….”, racau pak Narto sambil meremas payudara Widya dan kulihat payudara tersebut terlihat memerah.
“Aaakkkhhhh….akkkkhhhh….ssshhhhh….ampun, paakkgghhh…ssshhhhh….”, desah Widya.

Belum sampai diriku berjalan lebih cepat, Widya terdengar mengaduh jika dirinya akan mencapai orgasmenya. Hal tersebut juga terjadi pada pak Narto dimana dia tak mau kalah ingin menyemprotkan isi buah zakarnya yang tak tau untuk ke berapa kalinya.

“Kkeluaarrrr…paakkgghhh….”, tubuh Widya menekuk ke depan dan akibatnya perut hamilnya tertekan oleh tubuhnya sendiri.
“Aaaakkkkhhh…..keluar bapak!!!”, dengan sekali sentak aku bisa melihat bahwa pak Narto membenamkan sangat dalam batang kontolnya seperti ingin mengisi penuh rahim Widya.

Beberapa kali pak Narto mengedutkan pantatnya untuk menyemburkan benih-benih anaknya mengisi rahim Widya. Dalam hal ini jujur aku mulai merasa kasihan terhadap Widya. Tengah hamil dan kehamilannya bukan oleh suami sahnya, menjadi pemuas nafsu dan sekarang di hajar habis-habisan oleh pejantannya. Ya, aku sadar bahwa aku juga ikut andil alih dan peranku disini juga besar. Tapi yang sedang aku bicarakan sekarang perasaanku ini melihat apa yang sedang terjadi di depanku.

Memang benar niatku pergi ke rumah ini untuk mengecek efek obat tersebut dan juga berniat ingin ikut menikmati tubuh tetanggaku itu lagi, namun apa yang aku rasakan sekarang membuat nafsuku seperti menghilang. Dari nafsu berubah menjadi rasa iba.

Pandanganku kembali fokus pada tubuh Widya dimana aku melihat sebuah keanehan disana. Sudah lewat beberapa menit tapi tubuh Widya tetap gemetar. Apakah itu Multi orgasme? Tidak. Itu beda karna yang kulihat Widya memegangi perutnya dan ekspresi wajahnya bukan menggambarkan bahwa ia sedang mengalami orgasme panjang yang nikmat, melainkan sebuah ekspresi seperti menahan sakit.

Kudekati tubuh Widya sementara pak Narto masih merem dengan kontolnya masih menancap di dalam memek Widya menikmati sisa-sisa kenikmatannya.

Tanpa sengaja tanganku malah mengarah ke keningnya dan saat ku sentuh ternyata panas kemudian terdengar pula suara lirih yang keluar dari mulutnya.

“Ss…saakkittt…perut aku…Sakiitt…mass”, lirih Widya.

Aku yang mendengarnya terasa amat bersalah setelah apa yang aku lakukan. Setelah aku ikut memperbudak perempuan di depanku ini, aku juga mencampur obat yang bisa menggugurkan kandungan lewat susu ibu hamil yang kubuat siang tadi.

Tubuhku serasa bergerak sendiri dan langsung ku dorong dengan keras pak Narto hingga terjungkal ke belakang dan kontolnya terlepas. Terlihat tatapan bingung darinya, namun tak aku pedulikan. Kondisi memeknya sama seperti tadi siang sehabis ku pakai, sedikit terbuka dan mengeluarkan banyak cairan peju milik pak Narto. Bukan hanya cairan putih kental itu, namun sebuah cairan berwarna merah ikut meleleh keluar.

“g*blok!!! Lu ngentot ga kira-kira!! Lu kira lagi ngentotin sapi?!!!”, hardikku pada pak Narto karna entah kenapa aku merasa emosi. Sementara pak Narto diam memandangi tubuh yang berulang kali ia nikmati hari itu.
“Lu harus tanggung jawab!!!”

Setelah perkataan tersebut aku membopong tubuh lemas seperti tak ada tulang milik Widya untuk aku bawa ke rumah sakit. Untung saja alasanku tadi membuat keberuntungan sendiri karna aku bisa langsung membawa Widya menggunakan mobilku. Ku tancap gas dengan cepat keluar dari Komplek menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku berteriak memanggil perawat untuk menangani tetanggaku ini dan tak membutuhkan waktu lama beberapa perawat datang dengan ranjang dorongnya. Widya lantas dibawa ke ruang UGD.

Di kursi depan ruangan UGD aku menunggu layaknya seperti orang yang ada di dalam sana adalah istriku sendiri. Pikiranku kacau.

Sekitar satu jam aku menunggu akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka dan memperlihatkan pria berpakaian hijau. Aku bangkit dari posisi duduk dan menanyakan perihal kondisi Widya.

“apakah bapak suaminya?”, tanyanya. Aku bingung untuk menjawab apa. Masa bodolah!
“bukan dok, saya tetangganya. Suami perempuan yang ada di dalam tengah bertugas di laut”, bohongku.
“apakah bapak bisa menyampaikan pesan ini pada suami pasien?”, aku mengangguk.
“kita bicarakan di ruangan saya saja”

Aku mengikuti dokter tersebut masuk ke dalam ruangannya. Disana dokter tersebut bertanya padaku perihal kejadian apa yang menimpa Widya. Saat itu aku menjawab bahwa Widya telah di perkosa oleh beberapa orang.

“Pantas saja saat saya periksa tadi saya sempat terkejut soalnya kemaluan pasien terdapat banyak cairan sperma”, aku menyimak.
“Pasien mengalami kejang otot yang berlangsung secara terus menerus dan sebelumnya saya minta maaf, sepertinya kejang otot itu diakibatkan karna pasien yang secara intens mendapatkan orgasme sehingga ototnya kejang. Pasien juga kelelahan dan mungkin pasien di perkosa dengan kasar sehingga kondisi janin di dalamnya mengalami hal fatal dan karna hal itu janin yang sedang dikandung tak bisa di selamatkan lagi”, jelas sang dokter panjang lebar.

“namun ada hal lain juga yang saya ketahui bahwa pasien sepertinya di paksa untuk meminum semacam obat untuk menggugurkan kandungan”, lanjutnya.
“Tapi kondisi untuk pasiennya sendiri bagaimana, dok?”, tanyaku.
“untuk pasien sendiri kondisinya sudah membaik dan tak ada yang perlu di khawatirkan. Pada kemaluan pasien juga tak terjadi masalah. Untuk kesembuhan mungkin pasien akan di rawat disini selama beberapa hari di ruangan yang steril supaya pasien cepat sembuh”
“tapi pasien benar-benar tak kenapa-napa kan, dok?”
“bapak….bapak ga usah khawatir kondisi pasien sudah normal kembali. Sebenarnya lusa juga sudah bisa pulang dan beraktivitas ringan, namun untuk hal lain lebih baik pasien di rawat dulu di sini”, balas sang dokter.
“kalau begitu saya sudah boleh liat kondisi pasien kan, dok?”

Pak Herman POV End

Hari itu menjadi hari yang bisa dibilang terakhir kalinya pak Narto bisa mencicipi tubuh Widya dengan leluasa, karna pada keesokan siangnya ia dihampiri beberapa anggota aparat kepolisian saat sedang berada di dalam pos jaganya.

Pak Narto sempat mengelak dari kesalahannya, namun semua berubah ketika pak Herman ikut hadir di sana dengan mengungkapkan semua kesalahan yang di perbuat oleh pria tua tersebut dan ia pun juga mengajukan argumennya jika pak Herman ikut andil alih dalam masalah tersebut. Pak Narto ingin menyeret pak Herman juga. Tapi, tanpa di ketahui oleh pak Narto sebenarnya dua petugas tersebut bukanlah seorang aparat resmi, melainkan hanya orang biasa yang berperan sebagai polisi.

Dua pria yang berseragam polisi itu orang yang pak Herman bayar. Pak Herman tak sebodoh yang dikira dimana ia akan membawa masalah tersebut ke jalur hukum, sama saja ia bunuh diri namanya.

Niat awal pak Herman memang bukanlah memenjarakan pak Narto, melainkan hanya mengancamnya. Di siang itu pak Herman berpura-\pura menawarkan sebuah perjanjian dimana pak Narto memilih untuk pergi dari kehidupan Widya dan keluar dari pekerjaannya atau memilih untuk di masukkan ke dalam jeruju besi.

Pak Narto yang memang pada dasarnya orang kampung tanpa pengetahuan yang luas bisa dengan gampangnya terpengaruh oleh rencana pak Herman. Pria tua tersebut lebih memilih menjauh dan pergi dari kehidupan Widya. Di hari itupun juga pak Narto mengutarakan niatnya untuk keluar dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halaman.

“Apa? Dendam? Mau balas dendam?”, itulah yang dikatakan oleh pak Herman ketika tatapan mata pak Narto menggambarkan sorot mata yang sangat dalam. Namun karna nyali yang ia punya tak sebesar apa yang ia inginkan, pak Narto akhirnya pergi meninggalkan kompleks dan kota. Rencana untuk menyingkirkan pak Narto telah tercapai.

Memang klimaks yang terjadi tak memuaskan dan tak sebanding dengan kesalahan yang di perbuat namun kembali lagi, karna baik pak Herman maupun Evan sendiri tak mau juga jika orang-orang tau kebenaran aslinya jika hal tersebut di bawa ke jalur hukum yang resmi.

Untuk masalah Widya masuk rumah sakit, pak Herman menceritakan pada sang istri ataupun pada tetangga lainnya bahwa Widya mengalami sakit biasa. Saat istri serta beberapa tetangga lainnya berniat menjenguk Widya di rumah sakit di cegah oleh pak Herman dimana ia beralasan bahwa keadaan Widya baik-baik saja dan akan segera pulang.

Widya di rawat selama kurun waktu 4 hari di sana sampai keadaannya benar-benar pulih seperti sedia kala. Untung saja nyawanya tak sampai terancam, hanya saja ia kehilangan janin yang sedang ia kandung. Janin dari benih yang ditaburkan oleh pak Narto. Widya sejujurnya merasa kurang kehilangan atas bayi tersebut, namun untuk masalah pak Narto ia sama sekali tak merasa kehilangan.

Kehidupan Widya kembali seperti semula, menjadi seorang ibu rumah tangga. Semenjak kejadian hari itu pak Herman sudah jarang menyentuh dirinya, bahkan saat berjumpa atau berkunjung ke rumahnya pun lebih banyak hanya dihabiskan dengan obrolan biasa tanpa ada hal mesum yang mengikuti.

Tapi lain lagi dengan Evan. Evan? Ya dua hari setelah kepulangannya, anak itu kembali bermain dengan tubuhnya jika sedang berada di rumah. Walau semenjak kepulangan Widya sampai hari itu Evan hanya bermain tanpa menikmatinya secara utuh. Mungkin Evan juga masih memikirkan akan kondisi mamahnya itu. Contohnya seperti menyuruh mamahnya untuk memakai pakaian yang ia inginkan atau hanya memakai dalaman saja lalu Evan mengocok kontolnya di hadapan tubuh mamahnya sendiri sampai klimaks dan cairan kentalnya di tembakkan secara acak. Kadang diatas payudara lalu diratakan disana, di wajah ataupun di dalam mulut dan menyuruh untuk menelannya.

Memang benar sekarang Evan sudah sangat kurang ajar terhadap mamahnya sendiri, namun Widya sendiri juga mulai menikmati apa yang diperlakukan oleh anaknya itu. Terlihat bukan lagi seperti hubungan anak dan ibu.

Seperti siang ini, Tepat 4 minggu setelah kesembuhan total Widya, waktu itu dikala Evan baru saja selesai mengikuti kelasnya, ia yang sedang tak ada janji dengan Alice langsung bergegas pulang menuju ke rumahnya dengan perasaan senang karna dari kabar Alice bahwa papahnya telah mengakui secara resmi hubungan mereka itu setelah beberapa waktu dipandang sebelah mata.

Evan yang baru saja masuk ke dalam rumah langsung disambut oleh sosok mamahnya yang sudah berpakaian rapi seperti akan pergi ke suatu tempat. Mengenakan sebuah pakaian dress berwarna hitam dan senada dengan rambutnya yang panjang.

“Mamah mau kemana?”
“mamah kan udah cerita sama kamu kalo mamah mengikuti arisan bareng ibu-ibu Komplek sebelah dan hari ini hari pertama mamah datang”
“perlu Evan anterin ga, mah?”
“ga usah deh, nanti mamah juga di jemput kok sama ibu-ibu yang lain”

“mah…”, Widya menatap anaknya dan saat itu juga bibirnya langsung disetang dengan lumatan.

“Hhhmmmppfff…sssshhhhh….Mmmpppfff…naakk….lipstik mamah…jadi rusak… Mmmpppfff…”

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Bibir Widya benar-benar di hajar habis oleh lumatan anaknya sendiri. Suara sedotan Evan pada lidah Widya terdengar sangat jelas dan tangannya meremas gemas sebelah payudaranya dari balik baju. Sementara tangan satunya lagi berusaha melepaskan resleting celananya dan mengeluarkan batang kontolnya yang memang sudah mulai berdiri dengan keras.

Kedua ibu dan anak itu saling bergantian menyedot lidahnya. Saling bertukar air liur dan menyalurkan hasratnya satu sama lain. Mungkin karna Widya memakai Lipstik sehingga rasa yang di dapat oleh Evan kurang maksimal sehingga sedotannya terus di perkuat, bahkan sedotan yang dilakukan oleh anaknya itu sesekali membuat Widya mengerang merasa sedikit sakit. Namun karna dua-duanya juga sudah bernafsu, hal tersebut tak dipikirkan mereka terus saja melancarkan aksinya.

PUAH!!!

“Mah, emut kontol Evan, mah….”, tanpa membuang waktu lama Widya berlutut di depan selangkangan anaknya dan saat kontol Evan berada tepat di depan mulutnya langsung ia lahap. Kepalanya bergerak maju mundur dengan kombinasi kocokkan tangan.

“Sslluurrrppp…ssslllluurrppp….glookkk..gllookkk…eeggghhhh….ssshhh….”
“aaakkkkkkhhhh….sssshhhhh…..sssshhhhh…terusss, mmaahhh…ssshhhhh….”

Saat mulut Widya tengah penuh oleh kontol anaknya tiba-tiba sebuah mobil warna putih berhenti di depan rumahnya. Widya sudah bisa menebak mobil siapa itu.

“Mmaahhh…itu teman-teman arisannn…mamahhh…??”, tanya Evan masih dengan kedua tangannya memegang kepala mamahnya dan menggerakkannya maju mundur ke dalam selangkangannya. Widya sedikit melirik ke arah jendela karna posisi merek saat itu memang di ruang depan.

“Hheeegghhh….”, balas Widya tertahan oleh laju keluar masuk kontol anaknya itu.

Terlihat beberapa ibu-ibu keluar dari dalam mobil dan memencet bel yang terdapat di pintu gerbang. Suara bel yang terdengar tak membuat Evan menghentikan aksinya. Ia terus saja menyuruh mamahnya untuk me’deeptrhoat kontolnya.

“Biarin ajahhh, maahhhh…sssshhhhh….jangan buka pintu sebelum mamah bikin Evan keluar. Sssshhhhh….”, dari bawah terasa Widya mengangguk.

Merasa bel yang ditekan beberapa kali tak mendapat respon, salah satunya mengeluarkan ponselnya dan menelepon Widya dan benar saya ponsel Widya di dalam tas terdengar bunyi. Awalnya Widya tak memedulikan dan terus melakukan gerakan maju mundur kepalanya sendiri, namun oleh Evan di suruh untuk mengangkatnya, namun harus sambil mengemut dan menjilati kontolnya.

“Saya sama yang lain udah ada di depan rumah kamu, jeng”
“sebentar, jeng saya…lagi di kamar mandi dulu…. Maaf tunggu sebentar”, jawab Widya sambil diselingi memasukkan kembali kontol Evan ke dalam mulutnya terus dikeluarkan lalu dijilatnya.
“Ooohhh..yaudah kalo gitu kita tunggu di dalam mobil aja ya, jeng”
“iya, jeng”

Setelah panggilan berakhir Evan menggiring mamahnya itu untuk lebih mendekat ke arah jendela dan disana posisi Widya membelakangi arah luar, badanya jongkok bersandar pada pinggir pembatas jendela. Dalam posisi tersebut Evan lebih leluasa memaju mundurkan pinggulnya ke arah wajah mamahnya.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“Aaakkkkhhhh….dalam banget rasanya, mah…ssshhh….kontol Evan masuk ke tenggorokkan mamah…ssshhhhhh….enaakkk banggeettt….”, Racau Evan menikmati setiap sodokannya.

“Mulut mamah enak bangeettt…aaakkkhhhsss….”
“Hhhmmmpppfff…hhmmmpppffff…glookkk…gllookkk…gglllookkk…”

Genjotan pinggul Evan di dalam mulut mamahnya semakin di percepat dan di perkuat. Benar-benar Evan sedang me’deeptrhoat mulut mamahnya sendiri

Tanpa ibu-ibu itu ketahui bahwa orang yang sedang mereka tunggu kini berada di balik jendela dan mulutnya tengah terisi benda besar dan keras yang tengah keluar masuk ke dalamnya. Sebuah batang milik anaknya sendiri.

“Aaaakkkhhhsss……ssshhhh….”

Sensasi saat menikmati tubuh mamahnya seperti itu membuat nafsu dan adrenalin Evan benar-benar di pompa keluar sehingga nafsunya dengan ceoat mencapai pubcak klimaks. Dengan sekali sentak Evan membenamkan batang jo toknya itu sedalam mungkin ke dalam mukut mamahnya sendiri hingga kepala jamurnya masuk menyentuh kerongkongan.

“Hhuuueeggghhhh….”, dalam tahap itu Widya tak kuat rasanya ingin muntah karna dalamnya tusukan kontol anaknya itu.

Widya dioaksa untuk menahan nafasnya beberapa saat dikala anaknya melakukan tusukkan keras itu.

“Aaakkkhhhh!!!! Keluar, mah…keluaarr… Ssshhh…telan, mah…telan semuanya!!! Aakkkhhhssss….”

Beberapa kali semprotan cairan putih kental menghajar habis keringkongan Widya sampai dirinya ingin mutah rasanya. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Dengan sisa nafasnya Widya menelan setiap semprotan cairan itu yang diberikan oleh anaknya hingga sempritan terakhir.

UHUK!!! UHUK!!! UHUK!!!

Widya terbatuk selepasnya batang itu dari mulut serta kerongkongannya. Paru-parunya kembali bisa menghirup udara dengan bebas. Air mata terlihat meleleh dari matanya, namun bukan air mata karna menangis melainkan air mata yang disebabkan dirinya kehabisan nafas. Kondisi lipstik yang ada di bibirnya pun acak-acakan.

Evan lekas mengambil beberapa helai tisu yang gak jauh darinya dan membersihkan air wajah mamahnya itu dan juga beberapa lipstik yang hancur.

“Ambilkan tas mamah, nak”

Widya mengambil lipstik dan bedak untuk memperbaiki dandanannya itu yang hancur oleh perbuatan anaknya. Setelah dirasa cukup, Widya bangkit dari posisinya dan berpamitan.

“Mamah pergi dulu ya”, Evan mengangguk dengan kondisi kontolnya masih menjulur dari celananya.

Dari balik jendela Evan bisa melihat mamahnya itu bertemu dengan para ibu-ibu yang dari tadi menunggunya. Dilihatnya mereka melakukan cipika cipiki dan tak lama mamahnya masuk ke dalam mobil dan menghilang menjauh dari depan rumahnya.

Evan sendiri tak tau siapa nama semua ibu-ibu itu, tapi Evan ada beberapa yang sering ia lihat.

Setelah perginya sang mamah, Evan mengambil beberapa lembar tisu kembali untuk membersihkan lantai yang sedikit basah oleh air liur mamahnya yang jatuh saat men’deepthroatnya tadi.

Kejadian apa lagi yang bakal terjadi nantinya?

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler