. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 18 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 18

0
511

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 18

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Sebuah dilema dalam hidup selalu sukses membuat perasanya menjadi kebingungan untuk memilih langkah hidup yang akan dipilihnya. Mengikuti alur ataupun mengambil langkah lain pun sama-sama memiliki risiko tersendiri. Seperti apa yang tengah dialami pada sosok ibu rumah tangga bernama Widya. Dimana dirinya dibingungkan akan kehamilan yang sedang ia emban dan ia masih samar akan langkah yang akan ia ambil selanjutnya. Langkah mengutus sampai kelahiran janin tersebut yang awalnya akan ia ambil memiliki sebuah masalah karna sang anak sendiri telah mengajukan rasa kurang setujunya serta menyarankan dirinya untuk menggugurkan.

Widya sendiri merasa kurang setuju dengan apa yang disarankan oleh anaknya karna bagaimanapun janin yang sedang ia kandung bukan lain adalah darah dagingnya sendiri, namun disisi lain ada hal yang memberatkan dirinya jika tetap mempertahankannya, terlepas dari statusnya sebagai seorang janda tanpa ada pria yang mempunyai ikatan hubungan yang resmi. Sejak hari dimana anaknya menyatakan sarannya itu, Widya belum memberi jawaban yang pasti.

Dalam masalah ini juga sosok Alice telah mengetahuinya setelah secara perlahan di ceritakan dan hal tersebut pun juga di bantu oleh Widya sendiri. Namun Evan menceritakan dengan bumbu manipulasi yang ia sisipkan, dimana Evan mengungkapkan bahwa kehamilan mamahnya serta merta akibat dari insiden pemerkosaan dari orang yang tak di kenal.

Bisa diterima mentah oleh Alice? Tidak. Widya memang bukan orang tua kandung Alice, namun ia juga seorang perempuan disaat dirinya mendapat pelecehan seksual apalagi sampai ada sebuah benih yang membuahi rahimnya pasti akan sangat tak terima dan pastinya akan membawa hal tersebut ke ranah yang lebih tinggi untuk mendapat sebuah keadilan atas kejadian yang ditimpa.

Widya bersama Evan, anaknya sudah terlebih membicarakan hal tersebut, dimana Widya akan menyanggah jika hal tersebut tak mau ia bawa ke jalur hukum. Cukup susah meyakinkan Alice, namun usaha ibu dan anak tersebut berhasil menipu sosok perempuan jelita itu.

Sudah 1 bulan berlalu dan usia janin hang tengah di kandung oleh perut Widya sudah memasuki bulan ke-4. Sudah terlihat perbedaan perut wanita normal dan perut yang sedang mengandung. Intensitas Widya keluar dari rumah pun semakin terbatas untuk menjaga rahasia gelapnya tak diketahui para tetangga. Sebaik apapun disembunyikan juga dengan sendirinya bisa terlihat. Itulah yang Widya takutkan selama beberapa bulan ini. Hidupnya serasa terpenjara, tak bebas akan aktivitas.

“Apa yang harus aku lakukan?”, ucap Widya sambil mengelus lembut perutnya.

Lagi dan lagi waktu Widya lebih sering berada di dalam rumah, keluar terkena sinar matahari pun hanya bisa ia rasakan di halaman samping rumah karna memang hanya tempat terbuka itulah yang bisa ia singgahi dengan bebas tanpa terlalu merasa khawatir akan orang yang melihatnya.

Hari itu tak ada Evan di rumah, anak itu tengah pergi bersama teman-temannya ke luar pulang untuk Traveling di salah satu pulau yang terkenal akan lautnya yang menawan. Evan berangkat sore kemarin dan akan pergi selama beberapa hari ke depan.

Sebuah langkah kaki terdengar dari arah belakang tepat di belakang posisi Widya duduk di kursi panjang yang biasa untuk tiduran santai.

“susunya diminum dulu” , suara berat terdengar sambil tangannya mengulurkan segelas susu ibu hamil.

Widya memandang beberapa saat pada pria tersebut sebelum menerimanya. Siapa juga yang tak merasa tak risih dimana ada seorang pria yang bukan suaminya mendekat hanya memakai kolor dan situasi cuma ada mereka berdua di rumah tersebut.

Widya tak langsung meminum susu tersebut, ia menaruhnya di meja kecil yang berada di sampingnya. Sementara pak Herman menurunkan celana kolornya yang ternyata tak memakai apapun lagi sehingga batang kontolnya yang setengah tegak terkulai dengan bebas di samping tubuh Widya. Widya hanya diam saat mengetahui hal tersebut.

“Saya sudah buatkan ibu susu, sekarang saya mau minta ongkosnya”, ucapnya mula mengurut pelan kontolnya sambil sesekali mengusapkan ujung kepala jamurnya di pipi Widya dan rambutnya.
“Buka mulutnya, bu”, suruh pak Herman sambil membimbing kepala Widya untuk menghadap ke arah selangkangkannya dan memasukkan batang kontol ya ke dalam mulut.

“aaakkkkkkhhhh….mulut tatanga memang terasa lebih enak daripada mulut istri sendiri”, lenguh nikmat mulai keluar dari mulu pak Herman.

Widya yang mulai terbiasa melakukan aktivitas mesum itu tak langsung menggerakkan kepalanya. Ia keluarkan kembali kontol pak Herman dan menggunakan lidahnya ia jilat batang setengah berdiri itu perlahan hingga menunjukkan kekerasan yang mulai terasa kokoh.

“Udah pintar sekarang ya, bu. Ga heran pak Narto sampe bikin ibu hamil”, ucapnya sambil membelai rambut Widya yang orangnya masih menyapukan lidahnya bermain di permukaan batang tersebut.

“Walau Evan lagi ga ada dirumah bukan berarti nanti mas Herman sering samperin saya. Ingat, mas Herman ada bu Nonik”, ucap Widya di sela aktivitasnya.
“kan sudah saya bilang, bu. Dia baru pulang sore, jadi ga usah khawatir kalo saya punya waktu banyak untuk menemani disini”, kini tangannya meraih gundukan kenyal payudara Widya dan meremasnya pelan.
“Jika sedang bareng dia, saya suaminya. Tapi saat saya bareng ibu, saya suamimu dan kamu istriku”

“Eeggghhhh….”, lenguh Widya saat remasan tangan pak Herman sedikit di kencangkan.

Widya melepaskan genggaman tangannya pada kontol pak Herman disaat pria tersebut merubah posisinya. Baju yang dipakai Widya di singkap sampai batas leher lalu memperlihatkan kedua bukit indahnya yang masih terbungkus Bra. Diemasnya kembali dengan kedua tangan benda kenyal itu lebih keras dan gemas.

“Makin besar aja ini tetek jadi makin ngacengin aja”. Remasan yang di lakukan oleh pak Herman ternyata cukup membuat air ASI Widya sedikit keluar. Terlihat jelas dari cup bra depan Widya yang mulai sedikit basah. Walau normalnya masih 5 bulan lagi untuk melahirkan, namun payudara Widya sudah siap dengan ASI yang sudah mulai di tampung.

Pak Herman merubah posisinya kembali dengan memosisikan tubuhnya tepat di tengah-tengah selangkangan Widya. Dalam posisi tersebut pak Herman bisa dengan leluasa menikmati benda kenyal itu. Cukup sedikit bermain, pak Herman menarik keluar kedua payudara Widya hingga terpampang bebas di depannya.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!!

“ssshhhhh….ssshhhhh….”, lenguh pelan Widya mendapat rangsangan di kedua titik putingnya secara bergantian.

“Sebelum anak pak Narto mengambil alih, saya bakal sedot duluan ini toket”

Sedotan kuat yang dilancarkan oleh mulut pak Herman berhasil membuat semburan kecil ASI yang keluar dari puting Widya masuk ke dalam mulutnya dan cairan tersebut di telan olehnya. Menggunakan deretan giginya, pak Herman menggigit pelan puting itu dan beberapa kali menariknya sehingga Widya mengaduh antara nikmat dan sedikit sakit.

“Aaaakkkkhhh…Eeggghhhh….jangan…jangan digigit, masss…”

Pak Herman tak mengidahkan ucapan Widya, ia terus saja melakukan hal tersebut beberapa kali. Setelah puas memainkannya ia lepas dan terlihatlah kedua puting Widya mengkilap oleh liur pak Herman.

Pak Herman bangkit dan mengangkang di atas payudara Widya dan menekan-nekan ujung kepala jamurnya di kedua puting Widya. Setelahnya ia menyuruh Widya untuk menjepit batang kontolnya dengan payudaranya. Pak Herman ingin menikmati sensasi nikmat lebih bebas.

“Jepit kontol saya pake toket kamu, bu”
“Aakkkhhhh….makin ga tahan rasanya pengen keluar. Lembut banget ini toket”, racaunya saat memaju mundurkan pinggulnya diatas Widya yang tengah menjepit kontolnya dengan payudara.

Walau hanya menggunakan payudara namun pak Herman nyatanya sampai dibuat merem melek akan sensasi yang ia terima di ko tolnya itu. Lembut, kenyal, halus menyelimuti batangnya yang tengah maju mundur di tengah-tengah jepitan payudara Widya.

“Eeggghhhh…Eeggghhhh….mass….mass”
“Aaaakkkkhhh…ssshhhhh…ada apa, bu?”, tanya pak Herman sambil terus menikmati payudara Widya.

“Evan…Menyuruh saya buat gugurin janin ini, mas…”
“HAH?!”, pak Herman menghentikan gerakan pinggulnya berpura-pura kaget.

Widya belum tau kalau anaknya sudah tau dan kerja sama dengan pak Herman. Pak Herman juga berpura-pura tak tau apa yang sudah Evan lakukan terhadap Widya itu.

“maksud bu Widya gimana? Evan tau sudah tau kalo kamu lagi hamil?”
“Perut saya sudah makin besar dan saya mau sembunyikan nuga percuma, jadi saya kasih tau kondisi saya sama Evan”
“Bagaimana caranya kasih tau Evan?”
“Saya…saya bilang kalo saya di perkosa sama orang dan hamil. Saya ga kasih tau dia karna saya takut”. Widya berbohong, tapi pak Herman juga tau kalo omongan Widya memang dusta.
“terus sekarang gimana? Mau digugurin?”

Widya menggeleng pelan, “belum tau. Saya belum bisa memutuskan”

Pak Herman mendekatkan kepalanya secara perlahan dan melumat bibir Widya yang menggoda itu beberapa saat sampai perempuan tersebut terasa mulai tenang kembali setelah tadi terlihat bingung dan khawatir.

“Sudahlah yang penting Evan tak marah lagi”, ucap pak Herman lembut.
“Jadi Evan taunya kamu di perkosa, bukan hamil karna dientot sama kontol satpam kompleks kan?”, Widya mengangguk pelan.

Pak Herman kembali melumat bibir Widya dan Widya pun mulai membalas setiap gerakan bibir pak Herman. Kedua lidah mereka sudah saling bergelut di dalam mencari kenikmatannya satu sama lain selama beberapa menit, sampai liur keduanya menetes dari sela lumatan.

Dibangunkannya Widya dari posisi tidurannya di kursi panjang itu dan digantikan oleh pak Herman. Widya berada duduk di bawah, tepat di depan selangkangan pak Herman uang memperlihatkan kontol kokoh yang sudah tegang.

“Sebelum saya bantu bu Widya buat keluarin semua beban di kepala, sepong lagi kontol saya dan nanti baru saya sodok memeknya pake kontol ini supaya ibu melupakan masalah ibu dengan kepuasan”

Tanpa suara Widya menangkap kontol pak Herman dan kepalanya menduduk untuk memasukkan batang tersebut ke dalam mulutnya. Tanpa pemanasan seperti tadi, Widya langsung melakukan gerakan naik turun kepalanya dengan sedotan keras. Sementara pak Herman menikmati servis yang dilakukan oleh mulut tetangganya itu.

“Ooohhhhhsss…terusss….makin jago aja sepongnya, bu. Ssshhhhh…..”

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

“Aakkkhhhh…..ssshhhhh….sedot terus, bu. Ssshhhh….benda seperti itulah yang buat bu Widya jadi kaya Pelacur. Sssshhhhh….”
“Sawya…bugahh…pelaggurrhh…maahhgg…”ucap Widya tak jelas karna sibuk dengan batang milik pak Herman yang memenuhi rongga mulutnya.
“Ya, kamu bukan Pelacur tapi wanita murahan yang dengan gampangnya bisa dijinakkan sama kontol besar. Aaaakkkkhhh….sedot terus, bu. Ssshhhh….”

Berbapa menit Widya terus melakukan servisnya terhadap pak Herman menggunakan mulutnya. Ternyata hal tersebut membuat pak Herman sudah ingin menyemburkan isi zakarnya. Sangat terasa bagi pak Herman jika Widya mulai mahir memainkan mulutnya.

“Aaakkkhhhh….sial saya mau keluar. Ssshhhh… “

Pak Herman demgan cekatan merubah posisinya dan berdiri di hadapan Widya. Beberapa kali kocokkan cepat dilakukan hingga sebuah semburan ketas dan banyak menampar wajah cantik Widya. Sekitar 8 semprotan di keluarkan oleh pak Herman membuat wajah Widya berlepotan dengan cairan putih kental miliknya.

Setelah selesai menyemprotkan yang terakhir, pak Herman tersenyum memandang ke arah wajah Widya sudah berhasil ia nodai lagi. Pak Herma tersenyum melihat hasil sempritannya yang merata.

Melihat hasil karyanya di atas wajah Widya membuat tangan pak Herma gatal jika tidak memanfaatkannya. Ia ambil lelehan peju miliknya sendiri menggunakan telapak tangan dan ia oleskan pada kedua payudara Widya. Kini pak Herman tertawa menanggapi saat melihat peju yang tadinya hanya berada di wajah Widya telah berada juga di kedua payudara. Wajah dan payudara Widya terlihat mengkilap oleh peju miliknya itu.

Baru saja mendapat klimaksnya bukan berarti menjadi lemas. Terlihat batang kontol tersebut masih saja berdiri dengan kokoh seperti meminta ingin dipuaskan kembali. Widya yang masih memejamkan mata akibat wajahnya basah oleh peju pak Herman hanya menurut saat dirinya diposisikan untuk menungging. Widya sudah tau apa yang akan tetangganya itu lakukan selanjutnya.

“sekarang giliran memek bu Widya yang saya sodok pake kontol biar ga murahan lagi”

Dalam posisi menunggingnya dan celana yang sudah di lepas oleh pak Herman, Widya bisa merasakan dengan jelas bahwa ujung kepala kontol pak Herman menyentuh bibir memeknya.

“Wah, ternyata memek bu Widya udah becek banget. Udah ga sabar buat di kontolin ya, bu?”, Widya diam tak membalas.
“siap ya, bu”

Desahan kecil keluar dari mulut Widya ketika kontol pak Herman mulai menekan masuk untuk menembus memeknya. Walau sudah menjadi mainan pak Herman dan pria lainnya, ditambah lagi sebelum Evan berangkat dirinya sudah di Setubuhi habis-habisan, namun memek Widya masih terasa sempit dan memerlukan beberapa kali usaha saat pak Herman mencoba menekan masuk kontolnya.

“Udah sempit lagi ini memek. Sssshhhhh….gila”, racau pak Herman dengan menekan masuk kontolnya secara perlahan.

Denyutan yang di akibatkan oleh kontraksi otot-otot rongga memek Widya sungguh sangat terasa seperti memijat setia inci kontol pak Herman yang tengah masuk memenuhinya. Bahkan pak Herman sengaja mendiamkan posisinya tanpa memulai gerakannya semata-mata hanya ingin merasakan sensasi tersebut. Hitung-hitung juga sebagai kesempatan untuk lubang milik Widya untuk membiasakan diri kembali setelah beberapa waktu tak di bajak oleh kontol miliknya.

Pak Herman tertawa saat Widya hanya diam tanpa suara, namun tiba-tiba pinggulnya sedikit bergerak seakan sudah sangat menanti untuk dimulai karna sudah hampir 2 menit pak Herman tetap diam dalam posisinya.

“udah gatal, bu?”, Widya masih diam dengan pandangan yang diarahkan ke samping.

“Eeggghhhh….”, lenguh Widya saat pak Herman menarik setengah kontolnya dan menyentakannya sekali. Ia ingin memainkan nafsu Widya terlebih dahulu sebelum mengeksekusinya secara penuh.

Secara beberapa kali pak Herman melakukan hal tersebut dengan selang waktu yang membuat Widya makin tak karuan. Merasa nafsunya sedang di permainkan oleh pak Herman, Widya mengaduh dengan suara yang membuat terangsang. “mas…gerakiiinnn…”

“apanya yang digerakin?”
“…kontol….ya…kontolnya di gerakin, mas”, balas Widya yang sudah tak tahan.
“Kontolnya di gerakin gimana? Mas ga tau”
“Gerakin kontolnya….sodok memek saya, mas”
“Yang berhak atas memek kamu kan Cuma suamimu, bu. Kenapa minta sama saya?”

Widya dibuat kesal karna nafsunya yang terus ditahan, “masss…iya-iya…aku istri kamu, mas. Tolong sodok memek adek”

“EEEGGGHHHH!!!!”

Payudara Widya di cengkeram keras oleh pak Herman lalu meremasnya hingga terlihat beberapa pancutan air ASI yang keluar dari putingnya. Sambil terus mencengkeram dan meremas, pak Herman kembali melanjutkan kalimatnya yang bagi perempuan pada normalnya akan di buat panas kupingnya.

“masa kontol saya disuruh buat sodok memek Pelacur sih? Ga mau”
“ssshhhhh….tolong jangan permainkan Adek lagi dong, mas. Adek udah ga tahan…iya Adek memang Pelacur, tapi Adek Cuma Pelacurnya, Mas Herman aja”, balas Widya mulai di luar akalnya akibat nafsu.
“Kata siapa Cuma saya? Bu Widya itu udah jadi Pelacur banyak orang. Ga sadar memeknya udah di entotin berapa kontol?”.

Pak Herman benar-benar menjatuhkan harga diri Widya sebagai seorang perempuan. Seakan-akan Widya lah yang sangat menginginkan hal tersebut, padahal dalam hal sama pak Herman juga menginginkannya. Tapi apa daya, nafsu memang bisa membuat semua orang terlena dan menghilangkan akal sehatnya.

Widya masih terdiam belum menjawab ucapan pak Herman terhadapnya. Beberapa detik kemudian Widya dibuat kaget saat tiba-tiba pak Herman malah mencabut kontolnya hingga terlepas dan beranjak pergi meninggalkan Widya. Pria tersebut berjalan ke arah kursi lainnya dan duduk.

Widya yang sudah tak tahan akan nafsunya bangkit dari posisi ia terlentang dan berjalan mendekat ke arah pak Herma duduk. Sementara pria tersebut melihat Widya dengan senyum yang mengembang. Belum sempat Widya sampai padanya, pak Herman menyuruh Widya untuk berhenti.

“Kalo bu Widya mau kontol saya…merangkak kesini dan jilati dulu kontol saya, habis itu saya baru mau sodok memeknya”

Widya yang berdiri langsung menuruti ucapan pak Herman. Dengan baju yang tersingkap sampai leher dan Bra yang masih di pakai namun kedua payudaranya sudah dikeluarkan, Widya mulai berjalan merangkak ke arah duduknya pak Herman. Sekarang terlihatlah seorang perempuan hamil dengan perut semakin membesar dan bagian bawah sudah telanjang tengah merangkak menghampiri seorang pria telanjang bulat dengan kontol besarnya sudah berdiri tegak.

“Hahaha…kaya Sapi betina kamu, bu”, ucap pak Herman mengomentari Widya yang tengah merangkak ke arahnya.

Setelah sampai di selangkangan pak Herman, Widya meraih kontol tersebut. Dijilatnya dan dilumatnya seperti makan ice krim. Suara khas pun terdengar sangat erotis.

“kalo sudah puas, bu Widya sudah boleh masukan”

Mendengar ucapan tersebut, Widya bangkit dan mengangkangi selangkangkan pak Herman. Dipegangnya kontol pak Herman dengan ujung kepala jamurnya diarahkan pada bibir memeknya yang sudah sangat basah siap untuk di puaskan. Setelah dirasa pas posisinya, Widya mulai menurunkan tubuhnya sendiri secara perlahan hingga semua batang tersebut masuk sepenuhnya memenuhi rongga memeknya. Bahkan Widya tekan lebih dalam sampai ujung kepala jamurnya menyunduk keras rahimnya.

“AAAKKKKHHHHH!!!”, desah Widya merasa lega karna mendapat apa yang daritadi ia inginkan.

Tanpa membuang waktu terlalu banyak lagi Widya mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan memutar seperti sedang menghaluskan cabai di dalam cobek. Pak Herman masih saja diam, ia ingin melihat sejauh mana nafsu akan membawa Widya.

“Aaakkkhhhh….aaakkkkkkhhhh…aaakkkhh…”, desah Widya terdengar mulai intens disela gerakannya yang mulai dikombinasikan dengan gerakan naik turun sehingga kedua payudaranya ikut bergoyang dan pemandangan plusnya, pak Herman bisa melihat seorang perempuan dengan perut membuncit tengah memacu birahi di selangkangannya.

Widya tengah memacu birahinya secara sepihak, pak Herman malah meraih bungkus rokok yang ia letakan di meja kecil lalu menyalakan satu batang. Sambil menikmati jepitan dan remasan dinding memek Widya, pak Herman menikmati batang tembakaunya. Terlihat pasti seperti Widyalah yang seakan-akan menginginkan persetubuhan tersebut seperti perempuan murahan yang haus akan kepuasan.

“ssshhhhh…Aaaakkkkhhh….”, desah Widya dengan tubuh mulai berkeringat. Sudah beberapa menit berlalu dan Widya mulai merasakan capek. Karna dirinya juga dalam keadaan hamil membuat Widya tak mempunyai banyak tenaga yang bisa ia gunakan.

“Mass….Adek capek”, lapor Widya.
“Terus?”, balas pak Herman dengan entengnya.
“Tolong gerakin…Adek udah capek rasanya”, ucap Widya dengan kedua tangan telah bertumpu pada dada pak Herman.
“dasar…yaudah ini habisin dulu, mubazir”, ucap pak Herman sembari memberikan rokok yang ia hisap. Entah apa yang dipikirkan oleh pak Herman. Ia memberikan rokok pada seorang perempuan hamil?

“makin binal aja”, batin pak Herman meneliti tingkah Widya.

Widya menghisap rokok tersebut perlahan sampai hampir mencapai area gabusnya. Setelah selesai pak Herman tanpa aba-aba langsung menggerakkan pinggulnya naik turun memompa memek Widya menggunakan kontolnya dengan tempo sedikit cepat. Badan Widya yang makin berat karna hamil membuat setiap tusukan kontol pak Herman selalu menghantam rahimnya. Hal tersebut membuat Widya mendesah dengan suara penuh kenikmatan.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“aaakkkkkkhhhh….Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh…masss…terus, mass…”, racau Widya penuh nikmat. Keadaan bahwa dirinya sedang mengandung dilupakan oleh rasa nikmat yang tengah datang menyelimuti sekujur tubuhnya.
“Aaaakkkkhhh…sssshhhhh….memang benar ini memek sudah di pake banyak orang. Ssshhhh….tapi masih aja sempit. Sssshhhhh… Yang kaya gini memang kualitas super. Ssshhhhh….dimasuki berapa kontol pun, tapi bisa rapat kali. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh…”, racau pak Herman.

“Enak? Ssshhh…”, tanya pak Herman sambil terus memompakan kontolnya keluar masuk di dalam rongga memek Widya. Kedua tangannya mencengkeram erat kedua sisi pinggul Widya.
“Aakkkhhhh…Aaaakkkkhhh…enak…eennnaakkkk…sssshhhhh….”
“Dulu aja jual mahal, sekarang malah minta sendiri”, cibir pak Herman memandang tubuh hamil Widya yang tersentak naik turun akibat sodokan kontolnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkkkkhhhh….aaakkkkkkhhhh….”
“sssshhhhh….gila…ssshhhhh….”, racau pak Herman.

Untung saja sebelah tempat mereka memacu birahi adalah tanah kosong dan tembok yang mengelilingi rumah bagian samping dan belakang tinggi sehingga tetangga belakang rumahnya tak bisa melihat ke arahnya. Suara desahan dan suara kedua kelamin yang saling bertabrakan terdengar jelas di halaman samping itu. Cuaca panas bertambah panas oleh kegiatan mereka berdua yang tengah memacu birahinya.

“AAAKKKKHHHH!!!”, erang Widya saat kedua putingnya dijepit dan di betot oleh pak Herman. Ia sangat gemas melihat tubuh Widya.
“Aaaakkkkhhh….ja…jangan…ssshhhhh…ditarik, masss….Sakiitt…Aaaakkkkhhh…akkkkhhhh…”
“Begini?”

Bukannya berhenti, pak Herman malah semakin menjadi memainkan kedua puting Widya sampai-sampai perlakuan pak Herman itu mengantarkan Widya pada orgasme pertamanya. Dengan suara tertahannya Widya menyemburkan cairan klimaksnya di dalam posisinya yang masih dan terus di pompa oleh pak Herman.

“Rasain ini, bu….rasain!!! Ngecrot ga bilang-bilang”, geram pak Herman memompa terus kontolnya tak mau memberi kesempatan bagi Widya untuk meresapi setiap kedutan klimaksnya.
“ga kuaattthhhh….sssshhhhh….”
“Aaakkkhhhh….aaakkkhh…ampun, mas…ampun….ssshhhhh…ber….henti, dullu….sssshhhhh…”, ibanya dengan tubuh menekuk ke depan dan bergetar.

Wajah Widya terlihat memerah dan tubuhnya makin berkeringat akibat menahan rasa nikmat pada klimaksnya yang dipaksa untuk terus di keluarkan tanpa ada jeda untuk menikmatinya dengan bebas.

Beberapa menit kemudian barulah pak Herman berhenti memompa memek Widya dan dengan bernafsu pak Herman melepas kain yang masih melekat di tubuh Widya. Bajunya ia lempar dengan sembarang dan Bra hitam yang masih melilit di tarik hingga bagian tengahnya putus.

Nafasnya yang tak karuan terdengar sangat jelas memburu seperti lari dari kejaran orang. Dada dan perut hamilnya kembang kempis seraya mencari udara untuk masuk ke dalam rongga paru-parunya

Disuruhnya tubuh Widya untuk turun dari atas pak Herman. Tubuh hamil Widya yang sudah telanjang bulat tanpa benang sedikit pun disuruh tangannya untuk bertumpu pada meja kecil. Dalam kondisi menungging tersebut perut serta payudara Widya terlihat menggantung sangat indah dan…

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

“Ja…jangan….ssshhhhh…ditampar, masss….ooouuuggghhhhssshhh….”

Beberapa kali pak Herman menampar cukup keras kulit pantat Widya hingga berwarna kemerahan lalu dengan tak sabarannya pak Herman mengarahkan ujung kontolnya di depan bibir memek Widya. Dalam sekali hentakkan kontol pak Herman menusuk masuk dengan lancar.

“akkkkhhhh….Aaakkkhhhh….dallaammm…ssshhhhh….sampaaiii mentok rasanya, maasssshhhh….”, desah Widya dibuat melayang.

Setelah rehat beberapa hari tak menggarap tubuh Widya membuat pak Herman sangat bernafsu dan cenderung nafsunya memperlakukan Widya dengan kasar dan merendahkan secara terus menerus, tak seperti biasanya. Biasanya yang memperlakukan Widya seperti itu hanya pak Narto.

“Aaaakkkkhhh….sssshhhhh…nagih banget ini memek. Ssshhhhh…”, racau pak Herman menikmati setiap tusukannya.
“Ga rugi punya tetangga model kaya kamu, bu. Ssshhhh….cantik, montok….bisa di pake pula. Aaakkkhhsssss….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Di sodok dalam posisi menungging membuat Widya makin belingsatan. Kedua payudaranya terlempar kesan kemari setiap sodokkan yang diberikan oleh pak Herman. Cengkeraman pak Herman yang awalnya mencengkeram kuat pinggul Widya mulai menelusur naik dengan memegangi perut buncit Widya.

“Kamu bisa rasakan? Ibumu sedang bapak entotin, nih. Aaakkkhhhh…ssshhhhh….”, ucap pak Herman sambil mengusap perut hamil Widya.
“kamu lahir dan besar nanti….ssshhhhh…bakal bapak ceritakan betapa Lacurnya mamahmu ini. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh….bakal bapak ceritakan kalo mamahmu ini….pelampiasan banyak kontol. Aaakkkkkkhhhh….”, racau kasar pak Herman.

Seiring berjalannya waktu, seiring seringnya Widya dinikmati lelaki. Widya mulai terbiasa dengan ucapan maupun perlakuan kasar yang dilontarkan oleh lelaki. Bahkan Widya cenderung mulai bisa menikmati setiap perlakuan tersebut, buktinya setiap dirinya mendapat ucapan yang merendahkan maupun perlakuan kasar membuat dirinya semakin bernafsu dan bisa dengan cepat meraih orgasmenya.

“Aaaakkkkhhh…mamahmu sudah melakukan banyak zinah. Ssshhhh….bahkan anaknya sendiri….kakak mu juga sudah ikut ngentotin”, ceplos pak Herman tanpa sadar.

Widya mendengar hal tersebut menjadi kaget. “Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh…apa….apa maksudnya, maaass….ssshhhhh…”

Pak Herman sebenarnya merutuki keceplosannya itu, namun mau bagaimanapun hal tersebut sudah terlanjur meluncur dari mulutnya sehingga mau di tutupi juga percuma.

“saya tau kalo Evan sudah pake kamu juga. Ssshhhh….anak sendiri aja di embat. Aaaakkkkhhh….”
“Maksud…mas apaahhh…ssshhhhh…”
“Sudahlah tak usah berpura-pura lagi, bu. Ssshhh….saya tau semuanya…. Aaaakkkkhhh….nanti saya ceritakan”

Kepalang tanggung bagi pak Herman dan karna hal tersebut pula dirinya merasa semakin bersemangat untuk menikmati setiap jengkal tubuh Widya.

Entah itu sebuah kebetulan atau apa namanya. Setelah kejadian pak Herman keceplosan akan rahasianya dengan anak dari perempuan yang tengah ia nikmati lubangnya tiba-tiba ponsel Widya berdering dan saat dilihat pada layarnya terdapat nama Evan. Pak Herman menyuruh Widya untuk mengangkat telepon tersebut dan me-loudspeaker nya. Dengan perasaan ragu Widya menuruti.

“Hallo, mah..”
“i…iya, nakk….ada apahh….”
“ga ada apa-apa sih Cuma mau nanya kabar mamah aja. Mamah lagi apa? Kok kaya mendesah gitu? Lagi masturbasi pake Dildo ya?”, ucapan Evan membuat Widya tersentak kaget dan alasannya sudah jelas bukan karna apa. Sementara pak Herman yang mendengar semakin keras menyodokkan kontolnya sambil tersenyum puas. Belum sempat Widya menjawab pertanyaan anaknya, pak Herman mengeluarkan suaranya.

“mamah kamu bukan lagi main sama Dildo, tapi sama kontol punya bapak. Sssshhhhh….memek mamahmu ini memang bikin nagih, Van. Ssshhhhh…..”
“maksudnya apa? Ini siapa?!”, tanya Evan sedikit menaikkan nadanya.

“Aaaakkkkhhh….aaakkkkkkhhhh…tenang aja. Ssshhhh…mamahmu lagi keenakan sama kontol babak ini. Pak Herman. Ssshhhh….nikmatnya ngentot sambil di dengar langsung sama anaknya. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh….”
“Ssshhhhh….kamu senang-senang aja dulu disana. Mamahmu disini biar senang-senang sama kontol bapak. Aakkkhhhh….ssshhhhh….tenang, nanti….bapak ceritakan…”

Tak terdengar balasan suara dari Evan beberapa detik, namun bisa terdengar jelas suara langkah seperti berlari dan suara terbuka lalu tertutupnya sebuah pintu.

“Bapak punya hutang cerita sama saya”, ucap Evan dengan penekanan.
“Iya, bapak bakal ceritain. Tenang saja. Ssshhhhh….”
”yaudah, bapak mau lanjutin bikin mamah kamu kelojotan. Bapak matikan—“, sambung pak Herman, namun langsung dipotong oleh Evan.
“Jangan, pak!!! Jangan dimatikan duku, Evan mau dengar”
“Hahaha….kamu mau dengar mamahmu di entotin bapak sambil ngocok?”, namun pertanyaan pak Herman tak dijawab oleh Evan.

Pak Herman menghentikan genjotan kontolnya pada memek Widya dan mengambil alih ponsel Widya yang tengah di pegang oleh pemiliknya itu.

“gini aja. Ini telepon bapak matikan terus kamu telepon lagi pake video call. Daripada dengar suaranya doang, mending kamu sambil liat langsung mamahmu bapak entotin. Gimana?”, ucap pak Herman. Tanpa berkata apapun tiba-tiba Evan mengakhiri panggilan suaranya dan selang sedetik kemudian sebuah panggilan video call masuk ke ponsel Widya. Pak Herman tersenyum menang.

Saat tombol hijau pada layar digeser, terlihat wajah Evan dan kamera kemudian diarahkan pada selangkangan oleh anak itu. Sebuah benda yang disebut kontol terlihat jelas pada layar dan kamera diganti pada kamera belakang sehingga hanya memperlihatkan tembok.

“Hahahaa….ternyata benar kamu mau coli”

PLOP!!!

Pak Herman menarik lepas kontolnya dan sontak saja Widya merasa kehampaan pada lubang memeknya. Pak Herman meletakan ponsel Widya di atas meja kecil dengan kamera mengarah ke arah tubuh telanjang Widya.

“sekarang kamu bisa melihat dengan jelas bagaimana mamahmu ini bapak entotin”. Setelah berbicara singkat itu pak Herman menghampiri Widya. Masih dalam keadaan menungging pak Herman menampar kembali bongkahan pantat Widya cukup keras dan, BLES!!!

“Aaakkkkkkhhhh….”, lenguh keduanya terdengar.

Evan hanya diam melihat, namun tangannya mulai bergerak mengocok kontolnya melihat pada layar ponselnya. Dimana di dilayar tersebut Evan bisa melihat secara langsung mamahnya tengah di zinahi oleh tetangganya sendiri dalam keadaan menungging dan yang lebih membuat nafsunya pak Herman menyetubuhi mamahnya ternyata di halaman samping rumah.

Pak Herman menangkap kedua buah payudara Widya dan meremasnya dengan remasan lumayan kuat. Pantatnya mulai bergerak maju mundur menubruk selangkangan Widya dan dalam posisi seperti itu membuat lebih leluasa menikmati tubuh Widya. Mulutnya mencium dan menjilat punggung mulus Widya yang berkeringat.

“Ayo, bu kita perlihatkan bagaimana cara ngentot yang benar pada anakmu, biar saat dia ngentotin kamu nanti bisa tau cara dan tekniknya memperlakukan seorang Pelacur itu gimana”
“jangan kaya gitu, mas. Anak saya lagi liatin”
“Maka dari itu, bu. Karna anakmu sedang liat langsung, saya mau ajarin dia dan mau kasih liat juga kalo mamahnya ini maniak kontol”

Evan bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang mamah serta tetangganya lakukan. Evan merasakan bahwa kontolnya sangat keras dan dirinya merasa bernafsu sampai-sampai rasanya ia ingin pulang juga saat itu dan langsung ikut menikmati mamahnya sendiri. Pikirannya secara seketika menangkap banyak fantasi yang terlintas akan mamahnya dan ia kembali fokus menonton dan mengocok kontolnya.

Terlihat kini pak Herman semakin gencar membombardir selangkangan Widya, dimana perempuan tersebut hanya bisa mendesah dan mengerang menerima setiap sodokan yang diberikan pejantannya hingga mentok menabrak keras rahimnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkhhhh….mamah….kamu Lacur banget”, desis Evan pelan menikmati live streaming mamahnya yang sedang di Setubuhi oleh pak Herman, tetangganya.

Pak Herman menarik rambut Widya sehingga posisinya setengah berdiri akibat tarikan tersebut. Wajahnya menghadap ke atas dengan mulut terbuka mengeluarkan desahan serta erangan nikmat. Dua bukit kenyalnya ikut tertarik sehingga terlihat membusung dan sangat menantang untuk di nikmati.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh….nikmati saja, bu. Sssshhhhh….”

Kedua tangan Widya yang awalnya hanya memegangi ujung kursi kini digunakan untuk meremas kedua payudaranya sendiri. Mencoba meredam rasa nikmat yang sedang ia terima dan juga menstimulasi dirinya sendiri agar orgasme cepat ia capai.

“Aaaakkkkhhh…..masss…Adek mau keluar lagiihhh….ssshhhhh….”, remasan tangan pada payudaranya sendiri kian kuat.
“Keluarkan, bu. Sssshhhhh….keluarkan…..”
“Teruss, masss…Aaaakkkkhhh….teruussss….mau sampeegghhhh….”, racau Widya.
“Baik, bu. Sssshhhhh….ini saya cepetin buat kamu. Aakkkhhhh….ssshhhhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!! Pak Herman makin menaikkan ritme genjotannya.

“AAAAKKKKHHHHH……”, lolong Widya mendapatkan klimaks keduanya.

SYUURRRR!!!!

Cairan kewanitaan Widya menyiram habis kontol pak Herman yang tengah keluar masuk seperti piston di dalam lubang peranakannya. Klimaks keduanya terasa lebih nikmat dan lebih panjang. Akibat pak Herman yang terus menggerakkan pinggulnya membuat cairan klimaks Widya sampai terciprat keluar dari sela-sela kelamin mereka yang tengah bersatu. Seperti wadah yang tak mampu lagi menampung air di dalamnya.

Tubuh Widya hampir jatuh akibat lemas setelah klimaks keduanya, namun dengan sigap dipeluk oleh pak Herman dari belakang. Saat memeluk tubuh Widya penciuman pak Herman menangkap aroma keringat yang membuatnya makin bernafsu. Aroma khas persetubuhan.

Masih dalam keadaan kontol pak Herman menancap kokoh di dalam lubang memek Widya. Ia membimbing Widya secara perlahan untuk rebahan di atas kursi panjang. Disana Widya ditelentangkan dengan kedua kaki dibuka lebar.

Sebelum memulai kembali, pak Herman melumat bibir Widya dengan bernafsu dan melumat kedua piting Widya sembari memerah Asinya. Terakhir pak Herman memainkan kembali kedua puting Widya dengan menyentil pelan dan membetotnya sehingga terdengar lenguhan lumayan keras.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkhhhh….ga pernah bosan saya sama ini lubang. Ssshhhh….sempitnya kaya anak perawan….ga sangka ada janda serapat ini. Sssshhhhh….sssshhhhh….”
“enak mana sama punya mantan suamimu, Harjo?”
“Aaakkhhhhhssss….jangan bawa-bawa….almarhum suamiihhh sayaa, maasssshhhh…”

Widya yang lemas hanya bisa pasrah setiap tusukan yang ia terima di selangkangannya. Kedua payudaranya bergoyang, begitu pun juga dengan perutnya. Keringat mulai menetes dari wajah dan tubuh pak Herman jatuh ke atas payudara serta perut Widya yang tengah mengangkang berada di bawahnya.

“Aaaakkkkhhh…Aaakkkhhhh….masss…”
“enak? Ssshhhh….”
“Iyaaahhh…ssshhhhh…eennnaakkkk….”

Pak Herman meraih Bra hitam Widya yang telah putus tengahnya dan digunakan untuk mengelap keringatnya lalu Bra yang sudah terselimuti keringat itu disumpalkan pada mulut Widya.

“jangan berisik, bu. Ssshhhhh….nanti kedengaran orang”
“Aaaakkkkhhh…enaknya berkali lipat daripada memek Nonik. Ssshhhh….nikmatnya….”

Sementara Evan mengalami klimaksnya saat melihat mulut mamahnya di sumpal Bra yang sudah digunakan untuk mengelap keringat pak Herman. Evan klimaks dengan rasa nikmat yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Bisa terlihat dari semburan dan banyaknya peju yang ia semburkan di kamar mandi yang ia gunakan untuk beronani sambil melihat live streaming kebinalan mamahnya sendiri.

“aaakkkkkkhhhh…..mamah….ssshhhhh….”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Sekitar 8 kali semburan peju ia keluarkan, bahkan jarak sempritannya cukup jauh hingga mengenai dinding kamar mandi.

Setelah Evan mengalami puncak klimaksnya tib-tiba panggilan berakhir dengan sendirinya. Evan mencoba memanggil nomor mamahnya namun malah tak aktif. Evan yang masih bernafsu menjadi belingsatan akibat nomor mamahnya tak aktif lagi, sementara Widya dan pak Herman tak sadar bahwa video call dengan Evan berhenti akibat baterai ponsel Widya habis. Jelas mereka tak sadar karna sedang sibuk memacu birahinya.

Kontol Evan masih tegak berdiri dan dirinya masih ingin mengeluarkan peju nya. Tak ada cara lain lagi, ia membuka galeri nya dan memilah foto mamahnya dan menggunakan foto tersebut untuk menuntaskan hasratnya.

“kenapa mamah sekarang buat Evan terangsang terus? Aaaauugghhh….sssshhhhh… Beruntungnya gue punya mamah kaya gini. Ssshhhhh….”, racaunya sambil mengocok melihat foto mamahnya.

Sementara itu pak Herman masih sibuk menunggangi tubuh Widya untuk mencari kepuasannya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pak Herman terus saja menggembur liang Widya tanpa henti dan ritme genjotannya yang tak pernah mengendur malah sedikit demi sedikit ritmenya dinaikkan.

Terlihat di sela-sela dua kelamin mereka yang tengah bersatu terdapat cairan putih dan berbusa akibat sodokan pak Herman yang tak henti layaknya piston di selangkangan Widya.

Dalam genjotannya yang masih intens, pak Herman merasakan bahwa aliran peju nya sudah sangat dekat dengan ujung kontolnya siap untuk disemburkan ke dalam rahim perempuannya. Gerakan pak Herman semakin cepat dan hak tersebut membuat Widya dengan cepat akan mengalami orgasmenya lagi untuk ke-3 kalinya.

“mau keluar saya, bu. Aaakkkhhhh…ssshhhhh….ssshhhhh…”, Bra yang mengumpal mulut Widya dilepaskan oleh pak Herman.
“keluar lagiihhh, mmaassss….sssshhhhh….”
“bareng, bu! Bareenngg…..Aaaakkkkhhh…anjing ini memekkk….sssshhhhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“AAAKKKKHHHH….WIDYAAA…BUAT KAMU….AAAKKKHHHHH!!!”, Erang pak Herman menekan masuk sedalam dalamnya kontol miliknya sampai ujung kepala jamurnya mentok di rahim Widya.
“KELUAAARRRR!!!!”, Widya tak mau kalah.

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

SYYUURRRR!!!

Entah beberapa kali semburan yang pak Herman lancarkan, namun sudah jelas bahwa jumlahnya sangat banyak hingga bisa memenuhi rahim Widya, ditambah lagi cairan klimaks milik Widya yang membuat memeknya tak bisa lagi menampung cairan yang masuk.

Dan saat pak Herman menarik keluar kontolnya dengan cepat cairan putih kental bercampur cairan benih keluar dengan banyaknya dari kubang memek Widya yang sedikit terbuka akibat disumpal kontol pak Herman sedari tadi.

“Aaakkkhhhh….nikmat banget”, aura kepuasan terlihat dari raut wajah pak Herman. Ia duduk menghadap selangkangan Widya dimana sedang mengeluarkan cairan dengan banyak sampai menggenang di kursi.

“Lihat, bu sampe ga bisa nampung peju saya gini”, ucapnya sambil membuka bibir memek Widya dengan jarinya.

Hanya suara nafas yang tak beraturan dan sisa-sisa desahan yang keluar dari mulut Widya. Tubuhnya benar-benar lemas setelah dihajar habis oleh pak Herman, tetangganya sendiri dalam kondisi perut mulai membesar dengan jelas.

Cukup mengatur nafasnya, pak Herman bangkit berjalan ke arah baju Widya yang ia buang tadi. Di lapnya keringat di sekujur tubuh Widya menggunakan baju tersebut dengan telaten. Namun saat berada di selangkangan Widya, pak Herman menggunakan tangannya untuk mengambil semua ceceran cairan cinta itu dan ia menyuruh Widya untuk membuka mulutnya.

Dengan tenaganya yang masih tersisa Widya dipaksa untuk menjilat tangan pak Herman hingga bersih dan menelannya.

Pak Herman merasakan rasa lengket yang menyelimuti batang kontolnya, ia melihat gelas susu ibu hamil yang tadinya ia buatkan untuk Widya, namun sudah dingin. Ia raih gelas tersebut dan ia celupkan kontolnya ke dalam air susu itu untuk mencuci kontolnya hingga bersih.

Selesai membersihkan kontolnya, pak Herman tak sengaja melihat selangkangan Widya yang masih mengeluarkan cairan peju nya yang bercampur dengan cairan kewanitaan Widya.

Ia kembali mengambil celana yang tadi dipakai Widya lalu selangkangan tersebut di lap hingga bersih, bahkan jemari pak Herman mengorek ke dalam lubang memek Widya, hingga sang pemilik kembali mendesah pelan akibat korekan jari pak Herman.

Masih cukup banyak yang bisa pak Herman korek keluar dan ia lap lagi dengan celana tersebut hingga dari memek Widya tak mengeluarkan cairan kembali dan terlihat pula lubang yang tadinya sedikit terbuka akibat gempuran kontolnya kini sudah mulai menutup rapat lagi.

“Luar biasa”, batin pak Herman mengomentari lubang peranakan Widya.

Pak Herman bangkit dan berniat berjalan ke arah dapur, namun pergelangan tangannya di pegang oleh Widya.

“mass,,, tenggorokan kering banget, haus”, pelan Widya.
“yaudah, mas ambilin minum duku di dapur”. Widya menggeleng.
“Pake susu yang mas buatkan tadi saja, udah ga tahan keringnya”

Widya tak tau bahwa gelas susu tersebut sudah dipakai pak Herman untuk mencuci kontolnya.

“tapi gelas ini sudah mas gunaka—“, ucapan pak Herman di potong oleh Widya.

Widya memperlihatkan ekspresi orang yang benar-benar kelelahan dan sepertinya memang sangat kehausan. Sebenarnya pak Herman merasa tak tega jika memberikan air hasil mencuci kontolnya, namun….”yaudah lah, lagian pengen tau gimana rasanya”

Di angkatnya kepala Widya oleh pak Herman dan menyodorkan gelas tersebut ke mulut Widya dan langsung saja gelas berisi susu ibu hamil itu sukses berpindah ke dalam lambung Widya.

“Kok rasanya kaya asin, mas?”, tanya Widya merasa ada yang aneh dengan susunya.
“tadi mas mau bilang tapi kamunya maksa buat minum ini susu”, ucap pak Herman.
“memangnya kenapa?”
“susu yang kamu minum itu tadi udah mas gunain buat cuci kontol, mas”

Cepat Widya memukul lengan pak Herman berulang kali seperti anak kecil yang sedang marah. Pak Herman hanya tertawa seperti tak ada dosa, ya karna memang itu tak sepenuhnya salah pak Herman. Dalam hati pak Herman tertawa puas karna rencana yang diberikan oleh Evan telah berhasil, walau belum sepenuhnya bisa menyimpulkan hasil.

Pak Herman teringat akan Evan, ia meraih ponsel Widya dan saat dilihat ia baru sadar ternyata batarinya sudah habis dan pak Herman terbayang bagaimana konaknya itu anak saat panggilan video call terhenti.

Setelahnya pak Herman beranjak meninggalkan Widya untuk masuk ke dalam dapur mengambil minum sekalian ia kebetulan tiba-tiba merasa mulas. Ia berjalan masuk tanpa mengenakan kembali kolornya dengan kata lain pak Herman berjalan masuk ke dalam rumah dengan telanjang bukat dan kontolnya yang sudah setengah keras terombang-ambing mengikuti gerakan kakinya.

“Sebenarnya ada hubungan apa Evan sama mas Herman?”, batin Widya lalu memejamkan matanya.

Sekitar dua menit berlalu dan sebuah telapak tangan menutup mata Widya lalu dilumatnya bibir manisnya itu. Puas dengan bibir, Widya merasakan kedua kakinya dibuka dengan lebar dan sebuah benda yang tak asing lagi bagi Widya mulai menempel di bibir memeknya.

Dengan perlahan kontol tersebut mulai masuk ke dalam lubang peranakannya lagi. Tanpa membuang waktu Widya digenjot lagi dengan tempo sedang namun sentakannya sedikit kasar.

“aaakkkkkkhhhh….Aakkkhhhh….mas, Adek masih lemes…”, ucap Widya saat selangkangannya di mulai pompa pelan.

“Keluar dari kamar mandi dengar suara desahan, saya kira bu Widya lagi di perkosa orang. Ternyata kamu, To”, ucap pak Herman dari pintu dapur.

“hah?”, bingung Widya dan telapak tangan yang menutupi matanya dilepas. Terpampang jelas di hadapan Widya siapa yang tengah mengeluar masukan batang kontol di memeknya saat itu. Pak Narto.

Pak Narto tersenyum mesum melihat Widya yang masih sedikit bingung dan pria tua itu menatap ke arah pak Herman yang datang dari kamar mandi masih dalam keadaan telanjang bulat. Namun saat Widya mencoba melihat ke arah pak Herman ternyata pria yang sudah membuahinya terlebih dahulu terlihat tegak lagi batang kontolnya.

“Bakal dihajar lagi aku”, batin Widya pasrah.

“Hehehe…tadi iseng mau mampir sebentar. Pintu depan di kunci pas lewat samping malah liat bu Widya lagi telanjang kontol saya langsung ngaceng pak pengen sodok memeknya. Hehehe…”
“kasih bu Widya istirahat dulu, To. Kasihan, tadi udah saya genjot soalnya”
“Ntar aja deh, pak. Nanggung banget udah masuk gini. Bu Widya juga kepingin di sodok lagi. Iya ga, bu?”

Widya diam tak menanggapi ucapan dari pak Narto, sementara selangkangannya yang sudah terisi batang kontol pak Narto terasa mulai menyundul di dalam sana. Tanpa sadar Widya mengeluarkan lenguhan kecil akibat kedutan-kedutan yang di kasih oleh batang tersebut.

Tiba-tiba pak Herman mendekat dan berdiri di samping Widya. Dapat dengan jelas Widya melihat batang kontol yang sebelumnya telah membuatnya orgasme tiga kali itu sudah mengacung tegak kembali.

Pak Herman menatap tajam ke arah pak Narto dan dari fakta ini ternyata pak Narto takut terhadap pak Herman sehingga ia dengan terpaksa mencabut kontolnya yang sudah dipastikan sangat bernafsu untuk menyetubuhi Widya.

“aaakkkkkkhhhh….”, lenguh Widya ngilu saat benda tersebut di cabut dengan cepat meninggalkan rasa kosong yang jelas terasa.

Disampingnya, “pakai ini dulu, ntar sakit”, ucap pak Herman menyerahkan handuk untuk menutupi tubuh telanjang Widya.

Tubuh Widya tertutup alakadarnya karna memang handuk tersebut tak cukup untuk menutupi semuanya. Hanya bagian dada dan selangkangan. Pada bagian selangkangan pun sangatlah tipis, gerakan sedikit saja memeknya bisa terlihat jelas. Dilain sisi kedua pria tersebut duduk tak jauh dari posisinya dan mengobrol mesum tentang kemolekan tubuh Widya.

Di tempatnya Widya seperti cacing tergeletak di atas tanah yang terpapar sinar matahari. Tubuhnya tak bisa tenang dan desahan serta lenguhan kecil terdengar.

“ssshhhhh….ssshhhhh….”, kedua pahanya digesekkan satu sama lain.

Sebelum pak Herman dan pak Narto menyingkir dari hadapan Widya, pak Herman membenamkan Dildo gerak di dalam memek Widya. Karna hal tersebut Widya seperti cacing kepanasan dan obrolan yang terjadi antara dua pria tersebut tak lain sedang mengomentari Widya.

“si bapak bikin saya nambah pengen ngentotin aja”, komentar pak Narto melihat Widya meliuk-liuk.
“sabar aja, pak nanti juga bisa”, balas pak Herman.
“Jangan terlalu keras pakainya, lagi hamil dia. Lagian anak yang ada di perutnya anak kamu juga kan”, lanjut pak Herman menyalakan rokoknya.
“Ga janji sih, pak namanya juga nafsu. Apalagi model bu Widya, siapa juga yang nafsunya ga berkobar-kobar. Pasti kalo ngentotin juga lebih enak dikasari. Hahaha…”, ujar pak Narto masih melihat Widya dengan tangannya menggenggam kontol dan mengocoknya.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler