. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 16 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 16

0
416

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 16

Rahasia Dibalik Rahasia

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Dapur yang digunakan untuk meracik berbagai bumbu makanan dan identik dengan bunyi peralatan dapur saat digunakan untuk fungsinya serasa aneh di kala siang itu. Bukan hanya suara khas alat penggorengan yang saling beradu, namun suara dua kulit yang saling bertabrakan satu sama lain juga terdengar menghiasi. Desahan dan erangan terdengar menjadi penghias siang hari dengan cuaca cerah yang terlihat di langit luar.

Seorang wanita paruh baya dengan perut hamilnya yang kian membesar, menggunakan pakaian rumahannya tengah berdiri sedikit membungkuk dan pakaian bawahnya diangkat sampai sebatas pinggul memperlihatkan kulit pantatnya yang mulus tengah ditambar kulit selangkangan seorang pria dibelakangnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“aaakkkkkkhhhh…..akkkkhhhh…..ssshhhhh….aaakkkkkkhhhh….”, desah perempuan.
“wanita hamil memang gampang banget dibikin gatal. Ssshhhhh….akkkkhhhh….”, ucap lawannya.
“Ga malu sama itu perut? Ssshhhhh….Perempuan Binal, sialan”, sambungnya sambil terus menghentakkan pinggulnya maju mundur.
“aaakkkkkkhhhh….akkkkhhhh….”, hanya desahan yang terdengar dari mulut si perempuan.
“Ooouuugghhh….ssshhhhh….pelan…pelan…ssshhhhh….”
“Kenapa harus pelan? Bukannya suka?”
“lagi hamil…ssshhhhh…”, jawab si perempuan.
“hamil ga tau siapa bapaknya. Ssshhhh….”, balas si pria.

EVAN dan ALICE

Di dalam kamar bernuansa serba warna pink beserta dengan segala aksesoris berbau feminim, tubuh Evan tergolek di atas ranjang dalam keadaan posisi mata terpejam. Tidur yang tengah dilakukan oleh Evan perlahan mulai terganggu akibat suara gemerusuk dari kantung plastik dan beberapa gerakan yang menggoyangkan tubuhnya tanpa disengaja. Secara tak langsung Evan harus dipaksa untuk bangun dari tidurnya dan saat kedua matanya perlahan dibuka, pandangan kaburnya menangkap sosok perempuan tengah duduk bersila tepat di sampingnya menatap layar Laptop yang menyala. Alice….

Kedua sudut Evan ditarik membentuk senyuman kecil melihatnya. Kemudian tangan kananya ia lingkarkan di pinggul ramping Alice. Sementara Alice yang tengah fokus pada kegiatannya dibuat sedikit memekik kaget atas ulah pacarnya itu. Namun Alice memberi respon dengan mengelus tangan pacarnya yang sedang melingkar di pinggulnya dengan lembut.

“Jam berapa, sayang?”, tanya Evan dengan suara serak khas bangun tidur.
“Baru juga jam 4 pagi, tidur lagi aja”, balas Alice beserta senyuman manisnya yang mengembang menyambut bangunnya Evan.
“kamu belum tidur dari semalam?”, sementara orang yang di tanya hanya memperlihatkan deretan giginya.

Evan menghela nafas pelan, “taruh Laptopnya, terus baring sini”

Alice menurut apa yang dikatakan oleh pacarnya itu. Ia matikan benda pipih tersebut dengan sebelumnya ia Save terlebih dahulu file yang sedang ia kerjakan dan meletakannya diatas nakas kecil di samping ranjang.

Alice menyesuaikan posisi rebahnya di samping Evan. “Kenapa?”, tanya Alice lembut sambil jemari lentiknya mengusap pipi Evan.

Evan tersenyum akan perlakuan hangat pagi dari sang putri. Ya walau sebenarnya terbalik, namun apa salahnya? Lagian hitung-hitung gantian. Evan menangkap jemari Alice dan menggenggamnya lembut, sesekali ia usap atasnya.

“gapapa, bingung aja bangun tidur ada makhluk Khayangan duduk di samping aku. Aku kira tadi udah ada di surga”, gombal receh Evan, namun sereceh apapun gombalan yang Evan berikan efeknya tetap sangat terasa bagi Alice, dimana Alice dibuat Blusshing.
“udah berapa tahun pacaran, masih aja suka malu. Pipinya merah loh, neng kaya udah rebus”, seloroh Evan menggoda Alice.
“Receh!”
“Receh aja kamu Blusshing gitu, apalagi yang Elitan dikit gombalnya. Pingsan yang ada”, sambil mencubit lembut ujung hidung.
“Isshhh!! Sakit tau”

“eh kamu ga merasa kalo kita bau?”, ucap Evan langsung ditanggapi serius oleh Alice.
“Eh? Seriusan? Kok aku ga sadar ya?”, sambil menghirup badannya sendiri dan badan Evan juga.
“menurut aku ga ada yang bau kok. Kok bau sih? Apa hidung aku yang lagi masalah jadi ga bisa cium baunya?”, Evan sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi panik Alice yang malah terlihat menggemaskan itu.
“bukan bau badan yang aku maksud, tapi kita bau Bucin”

Alice memukul pelan lengan Evan dengan sebal. “bodo, ah!”, sambil membalikkan badan memunggungi Evan.

Masih dengan raut wajah yang puas telah berhasil menggoda pacarnya, Evan mendekatkan tubuhnya merapat pada tubuh Alice dan tangannya bergerak memeluk tubuh Alice dari belakang. Hangat Evan rasakan.

Selanjutnya yang mereka berdua lakukan hanya membuka obrolan ringan. Selalu saja mereka berdua bisa mendapatkan topik untuk saling berinteraksi saat berduaan. Hal semacam politik yang notabene topik sensitif pun bisa mereka bicarakan dengan sebuah tawa. Bukan mengejek yang mereka lakukan, hanya saja argumen keduanya yang saling tak masuk diakal jika sedang mendebatkan sesuatu hal berbau politik.

“Hahaha… ga gitu juga”, tawa Alice.

Satu jam telah berlalu, menunjukkan jam 5 pagi dan terlihat Alice telah terlelap dalam tidurnya. Wajar saja dia belum tidur dari semalam.

Evan beranjak dari tempat tidur dan meraih ponselnya membuka salah satu aplikasi di dalamnya. Dipandangnya wajah damai perempuannya itu dengan tatapan yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata. Lalu tubuhnya berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Evan telah selesai dengan kegiatannya dan telah rapi. Di atas nakas kecil samping ranjang juga sudah ada plastik berisi makanan yang ia pesan tadi untuk sarapan Alice sebangunnya nanti.

Kembali ia pandangi wajah lelap Alice dan mendekatkan kepalanya. Beberapa saat Evan cium kening Alice, rasanya ia juga ingin mendaratkan bibirnya pada bibir manis Alice, namun Evan urungkan karna takut tidurnya terganggu.

“aku sayang banget sama kamu”, pelan Evan setelah kecupan lembut pada dahi Alice terlepas.
“Aku pulang dulu”, sambungnya.

Mengendarai sepeda motor di pagi hari itu tak enak, dingin. Ya walau di waktu tersebut lalu lintas masih jauh dari kata padat. Menembus jalanan pagi dengan tunggangannya.

Setelah memasukkan motornya ke halaman rumah Evan merogoh tas selempangnya mencari kunci rumah. Ia juga kembali mengecek pesan masuk yang ada di dalam ponselnya beberapa jam lalu. Sudah ia baca berulang kali, namun perasaannya masih saja dibuat dag dig dug.

Saat dirinya masuk ke dalam rumah kembali suasana sepi menyambutnya. Belum ada tanda-tanda akan aktivitas mamahnya di pagi hari. Evan sudah menebaknya semenjak masih di kosan Alice akan suasana saat dirinya sampai dirumah. Evan kembali membuka ponselnya, membacanya kembali pesan masuk dari tetangganya itu, pak Herman.

“bapak sudah selesai. Bapak juga udah buat situasi dimana nantinya kamu seolah-olah tak sengaja memergoki ibumu. Ibumu tidur lelap, kayaknya kecapean pas main sama bapak”

Begitulah isi pesan beberapa jam lalu yang masuk ke dalam ponsel Evan.

©©©

Sejak kapan Evan dan pak Herman….???

Putar kembali pas waktu dimana pak Narto tengah menyetubuhi Widya dengan kasar di dalam kamarnya dan dimana malam itu juga untuk pertama kalinya pak Herman tak sengaja melihat pemandangan Widya tengah di gagahi oleh pria tua bernama Narto itu.

Saat dimana pak Herman menonton sambil mengocok batangnya serta merekam kejadian yang sedang di suguhkan oleh keduanya di atas ranjang dengan nafsu keduanya yang tengah menggebu.

Setelah pak Herman mencapai klimaksnya dengan menyemprotkan cairan kental putihnya di tembok luar kamar Widya, pak Herman menutup rekaman yang sedang berjalan di ponselnya dan pergi dari sana. Saat pak Herman meninggalkan pak Narto dan Widya yang tengah bersatu untuk saling mencari kepuasan, pak Herman melewati pagar gerbang rumah Widya dengan cara memanjat, namun saat dirinya terkejut akan berdirinya anak dari perempuan yang tengah memacu birahi di dalam kamar tadi. Itu Evan.

Saat itu pak Herman berasa seperti seorang maling yang tengah tertangkap basah sudah menjarah isi rumah dan di pergoki langsung oleh sang pemilik rumah.

“eh, nak Evan….darimana kok jam segini baru pulang?”, tanya pak Herman dengan perasaan campur aduk. Sementara anak yang ditanya hanya diam menatapnya tanpa ekspresi berarti. Ekspresi marah, kecewa yang tergambar samar di wajah Evan. Namun sekali lagi pak Herman tak bisa menebak jika memang rasa marah dan kecewa itu ditunjukkan pada siapa.
“Maaf tadi bapak masuk pekarangan rumah kamu tanpa permisi, bapak tiba-tiba pengen makan mangga jam segini”, alasan pak Herman tak masuk diakal karna memang dirinya tengah terpojok.

Evan mendekat dengan langkah pelan ke arah pak Herman, “bantu saya, pak”

“HAH???”

Tanpa pak Herman ketahui bahwa Evan telah melihat sendiri apa yang sedang Widya lakukan dengan pak Narto dan Evan juga mengetahui apa yang pak Herman lakukan di pekarangannya sambil menonton ke dalam kamar. Dari sana Evan meminta pak Herman bekerja sama dengannya untuk mengorek informasi dari pak Narto tentang apa saja yang di sembunyikan oleh mamahnya itu.

“Saya tau bahwa bapak juga tertarik dengan mamah, jangan pikir selama ini saya tak memperhatikan tingkah laku bapak saat menatap mamah”, ucap Evan masih dengan wajah yang sama.
“Saya ajak kerja sama juga ga cuma-cuma. Keuntungan ada di dua belah pihak. Saya bisa mendapatkan informasi yang valid tentang rahasia mamah yang bapak korek dari pak Narto karna saya yakin betul mamah dan tua bangka itu ada rahasia lainnya. Keuntungan yang saya kasih juga akan sangat menguntungkan untuk pak Herman sendiri”
“Maksudnya?”
“di proses pencarian informasi terhadap pak Narto, pak Herman saya izinkan jika bapak ikut ke dalamnya. Maksud saya dengan informasi yang bapak tahu sekarang, pak Herman bisa mengancam pak Narto dan bapak bisa gunakan itu untuk ikut….ikut menikmati tubuh mamah”
“kamu bercanda? Itu mamah kamu sendiri loh”
“saya tau ini salah besar dan bukan begini caranya, tapi Evan sudah terlanjut marah sama kecewa sama mamah. Saya sudah pernah bilang kalo mamah untuk menikah lagi, tapi mamah selalu menolak dengan alasan yang tak jelas. Mamah disuruh buat nikah lagi tak mau, tapi malah lebih pilih buat buat hubungan menyimpang di belakang”, jelas Evan.
“Karna itu saya pengen buat pelajaran sama mamah”

Keadaan jalanan yang sepi akibat masih dini hari digunakan oleh Evan dan pak Herman membahas hal tersebut lumayan lama hingga sebuah kesepakatan terjadi di depan gerbang. Dimana pak Herman bersedia membantu mengorek informasi yang tengah disembunyikan Widya dengan syarat pak Herman di beri izin untuk menikmati pula tubuh Widya sebagai imbalannya.

Kejadian saat penelepon misterius yang menyerang Widya juga ada hubungannya dengan anaknya sendiri, Evan. Dimana saat Widya di suruh pak Herman untuk masturbasi di batas gerbang rumah menggunakan Dildo karet yang ia berikan, Widya sempat bilang bahwa dirinya takut ketahuan eh orang, namun dijawab enteng oleh pak Herman. “tenang saja, bu. Tak akan ada orang yang bakal lihat. Kalo ada orang ataupun teman anakmu datang saya bakal lihat dan kasih tau”

Pak Herman bisa bilang sangat yakin seperti itu karna bantuan dari Evan. Dimana Evan mengamati mamahnya dari kamarnya yang berada di langai dua. Dari kamarnya Evan, Evan bisa melihat dengan jelas jalanan kompleks.

Namun satu fakta dimalam itu yang sama sekali belum Evan tahu hingga sekarang bahwa temannya sendiri sudah menodai mulut mamahnya untuk mengoral batangnya. Hanya pak Herman yang tau akan hal tersebut, namun belum disampaikan pada Evan.

Semenjak itu apapun aktivitas yang dilakukan oleh Widya diketahui oleh Evan lewat informasi yang diberikan oleh pak Herman. Entah saat dimana Widya tengah disetubuhi pak Narto bersama pak Herman itu sendiri. Seperti yang tertera di pesan masuk ponsel Evan dari pak Herman.

Hal itu sudah pernah disinggung bahwa pak Herman tengah bekerja sama dengan seseorang yang tak diberitahukan pada pak Narto. Yaitu bekerja sama dengan Evan. Dengan kata lain pak Narto sama sekali tak tau akan hal tersebut.

Sejauh ini Evan sudah mengetahui rahasia yang diberikan oleh pak Herman bahwa mamahnya pernah beberapa kali di perkosa saat menjemput kakeknya di terminal dan rahasia dimana sang kakek juga meluapkan fantasinya lewat mamahnya sendiri.

“Bajingan juga ternyata kamu, kek”, batin Evan saat pertama kali tahu rahasia tersebut.

©©©

Evan berjalan ke arah kamar mamahnya berada, dimana pintu kamar tersebut terbuka dengan lebar dan saat Evan di hadapan kamar, Evan bisa melihat mamahnya tengah tertidur dengan sangat pulas.

Disingkapnya selimut yang menutupi tubuh mamahnya. Saat itu juga terampang tubuh telanjang mamahnya yang terdapat banyak cupangan di payudara serta lehernya. Bukan hanya itu, sebuah Dildo karet terlihat masih tertanam kokoh di dalam lubang memeknya yang meninggalkan lelehan peju.

GLEK!!!! Susah payah Evan menelan air liurnya saat mendapati sosok mamahnya yang tergolek di atas ranjang tempat tidur tanpa sehelai baju pun.

Perlu diketahui pertama Evan sama sekali tak ada niat menyimpang terhadap mamahnya, hanya sebuah tau apa saja rahasia yang disembunyikan oleh mamahnya itu, namun lambat laur seiring berjalannya waktu niat awalnya kian bergeser menjadi keinginan untuk mencicipi tubuh mamahnya sendiri. Dimana Evan selalu merasa birahinya naik tiap membayangkan ataupun hanya melihat mamahnya saja.

Perlahan kelopak matanya terbuka semakin lebar melihat langit-langit kamar berwarna putih. Beberapa kali Widya mencoba mengerjapkan matanya dan mengedarkannya ke sekeliling. Setelahnya ia baru sadar bahwa pintu kamarnya masih terbuka. Bangun tidur pagi itu perasaan Widya sontak menjadi campur aduk antara gelisah dan takut.

Pintu kamar terbuka sebenarnya tak terlalu menjadi masalah, tapi lain cerita dengan kondisi Widya di pagi ini, dimana pintu kamar terbuka namun tubuhnya dalam kondisi telanjang bulat dengan kaki masih mengangkang terdapat sebuah Dildo karet masih tertanam kokoh di selangkangannya. Sebuah cairan putih yang sudah mulai mengering terlihat pernah meleleh disana.

Orang yang pertama kali muncul di kepala Widya asalah anaknya, Evan. Ya siapa lagi? Widya hanya hidup di rumah tersebut dengan anaknya saja.

“aduh gimana nih? Bagaimana kalo Evan udah lihat?”, cemas Widya.

Hanya menggunakan piama tidur tipisnya, Widya berjalan cepat naik ke kamar anaknya dan saat dirinya membuka pintu kamar secara perlahan nafasnya sedikit bisa menjadi lega karna anaknya tak ada di kamarnya dan terlihat pula ranjang tersebut masih dalam keadaan rapi. “Evan belum pulang”, batin Widya.

Rasa leganya tak bertahan lama, Widya tak sengaja melihat tas selempang kecil yang biasa dipakai anaknya tergantung di atas kursi depan meja komputer.

“Motor”

Widya berjalan kembali menuruni anak tangga ke arah luar untuk mengecek motor anaknya ada di bagasi atau tidak. Belum sempat Widya membuka pintu, dirinya melihat wujud anaknya dari balik tirai jendela yang sedikit terbuka jika anaknya tengah mencuci motornya. Hancur sudah harapan Widya.

“Evan pasti belum tau. Ya, semoga saja belum lihat aku”, terlihat bagi Widya raut wajah Evan seperti biasanya, tanpa ada perubahan. Bahkan terdengar pelan bahwa anaknya tengah bersenandung sambil kedua tangannya membersihkan tiap sela bagian motornya.

Menit demi menit telah berlalu, Widya telah selesai membersihkan tempat tidur dan juga tubuhnya sendiri. Dirinya juga tadi mendapat pesanan katering dari salah satu kenalannya, walau tak banyak. Widya keluar dari kamar untuk pergi ke pasar membeli bahan-bahan yang diperlukan. Tubuhnya menjadi kaku tatkala dirinya berpapasan dengan Evan. Widya berdiri mematung begitu juga dengan Evan.

“Mamah mau kemana?”, tanya Evan biasa.
“Eh?”, batin Widya kaget dengan ekspresi anaknya. Apakah benar kalo Evan tak lihat?

“eh, ini…mamah mau ke pasar beli bahan-bahan katering. Ada pesanan”
“Yaudah Evan anterin”. Widya tak bisa menolak walau perasaannya sedang dilanda kekacauan.

Sepulangnya membeli bahan-bahan makanan, Widya langsung memulai aktivitasnya. Sejak mulai berangkat hingga kembali ke rumah lagi, Evan sama sekali tak terlihat adanya perbedaan akan dirinya. Anaknya masih terlihat biasa. Tingkah, cara bicara semua terlihat normal. Hal tersebut justru malah membuat Widya makin kacau akibat rasa bingungnya. Seperti sekarang tubuh Widya kembali menegang saat datangnya Evan.

“mah, Evan mau ngomong serius sama mamah”
“iya, mau ngomong apa, nak?”, Widya mencoba senormal mungkin menjawab anaknya.

Evan terlihat membuang nafas panjangnya, “rahasia apa yang sedang mamah sembunyikan dari Evan?”, terasa disambar petir Widya mendengar pertanyaan anaknya.

“Maksud kamu apa, nak?”
“rahasia yang mamah sembunyikan dari Evan itu apa?” Tolong, mah…Evan anak mamah kan?”
“kamu ngomong apa sih? Udah jelas kamu anak mamah”
“Tolong jelaskan kenapa mamah telanjang dengan kondisi seperti itu?”

Mati sudah bagi Widya. Dunia rasanya runtuh. Anaknya sudah melihatnya dan sekarang anaknya itu tengah menuntut penjelasan dari dirinya. “inikah akhirnya? Akhir dari perbuatanku dan akhirnya karma akan aku terima?”, batin Widya.

Widya menjelaskan perlahan pada anaknya apa yang sebenarnya terjadi, namun bagi Evan tak semudah itu menerima tiap ucapan yang dilontarkan oleh mamahnya. Kenapa? Ada bagian-bagian dimana apa yang dijelaskan eh mamahnya tak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan kata lain Widya masih belum bisa jujur sepenuhnya. Walau begitu Evan tak kurang akal, tiap ucapan Widya yang melenceng akan selalu di pojokkan oleh Evan sehingga Widya menyerah dan menjelaskan yang sebenarnya.

Widya benar-benar tak berkutik lagi di hadapan anaknya atas semua perbuatan dan kesalahannya yang ia nikmati. Widya sudah menyerah dan pasrah, namun ada satu yang Widya sangat harapkan dari anaknya. Kenyataan bahwa anaknya tak akan membenci dirinya sebagai seorang ibu yang gagal dimata anaknya. Widya tak mau Evan membencinya.

“mamah mau Evan ga benci sama mamah? Mamah minta Evan buat maafin mamah? Jangan bercanda, mah? Orang normal pasti tak akan terima dengan hal itu dan pastinya akan membencinya…”. Terlihat jelas bahwa Wajah Widya berderai air mata.

“Itu untuk orang normal….tapi sayangnya gara-gara perbuatan mamah yang sudah bikin Evan kecewa, Evan bukan lagi orang yang normal”. Dengan wajah penuh air mata Widya menatap bingung anaknya.
“mamah mau Evan maafin? Mamah mau Evan ga benci mamah? Bisa”

Evan mendekati Widya yang bersimpuh lemah diatas lantai dengan air mata. Evan berdiri tegap persis di depan Widya.

“Mamah lepas celana Evan dan keluarkan kontol Evan”. Widya kaget tak percaya dengan ucapan anaknya itu.
“Nak…apa mamah ga salah dengar? Sadar, nak…mamah ini mamah kamu”
“Evan sudah bulang kan tadi, mah. Evan itu bukan lagi orang yang normal. Tergantung keputusan mamah, Evan ga akan paksa. Pilih Evan benci sama mamah terus keluar dari rumah atau mamah turutin kemauan Evan? Sekali lagi Evan ga maksa mamah buat lakuin. Keputusan ada pada mamah”

Widya tak tau apa yang harus ia lakukan pada masalah ini. Perannya sebagai seorang ibu sudah hancur di depan anaknya dan karna hal itu Widya sudah tak bisa berbicara layaknya seorang ibu yang baik. Widya berpikir keras mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang terjadi. Namun seberapa keras Widya berpikir, ia sama sekali tak bisa menemukannya.

Di pandangnya wajah anak satu-satunya itu sesaat. Mengumpulkan udara untuk masuk ke dalam rongga paru-parunya dan menghembuskan keluar sambil memejamkan mata.

KLOTAK!!! KLOTAK!!!

Suara ikat pinggang mulai dibuka saat kedua tangan Widya bergerak. Perlahan tangan Widya lentik Widya berhasil membuka ikat pinggang yang dipakai oleh anaknya serta menurunkan celananya. Di hadapannya sekarang hanya tinggal celana dalam warna hitam yang masih melekat dan Widya berhenti.

“terserah mamah mau pilih yang mana”, ucap Evan mengingatkan kembali, namun ucapan Evan justru membuat Widya makin tertekan. Ya, karna memang itu tujuan Evan mengucapkan kalimat itu.

SRET!!!

“Oke, mamah lebih pilih menuruti kemauan Evan”, ucap Evan setelah Widya mengeluarkan batang kejantanannya untuk mengacung bebas di hadapan wajah perempuan yang ia sebut sebagai mamahnya.

Widya terdiam saat celana dalam Evan sudah diturunkan memperlihatkan benda panjang besar mengacung tegak di hadapannya.

“Kocok pake tangan mamah dulu, sampai tegang maksimal”, sambil menuntun tangan kanan Widya menggenggam kontolnya.

Darah Evan berdesir sangat kencang saat untuk pertama kalinya kontolnya di genggam eh tangan halus mamahnya sendiri. Evan sudah berkali-kali merasakan tangan Alice, namun kali ini rasanya sungguh sangat berbeda. Adrenalin yang ia dapatkan menciptakan rasa nikmat yang sangat. Walau hanya sebuah sentuhan.

“Ssshhhh…”, desah pelan Evan saat tangan Widya mulai bergerak maju mundur mengocok dengan perlahan.

Gerakan tangan yang diberikan oleh Widya perlahan membuat batang kontol Evan kian menjadi semakin keras. Dirasanya juga gerakan tangan Widya makin terasa semakin kencang dibanding pertama Evan rasakan.

“ssshhhhh….ssshhhhh…berhenti dulu, mah. Sshhhh….”
“sekarang masukkan ke mulut mamah, Evan pengen ngerasain hangatnya mulut mamah”
“Tapi, nak—“

“Mah…mereka berdua aja mamah izinkan buat menikmati setiap inci tubuh mamah, Evan yang anak mamah sendiri ga boleh? Mamah itu sayang sama Evan apa ga sih sebenarnya”, pancing Evan.
“Mamah sayang, nak. Mamah sayang banget sama kamu….yaudah….mamah masukin”

Widya membuka mulutnya dan dengan perlahan ia masukkan kontol anaknya sendiri mengisi rongga mulutnya hingga masuk setengahnya. Mungkin karna Evan merasa gemas, Evan meraih kepala Widya dan menarik masuk sampai kontolnya masuk sepenuhnya di dalam mulut.

“Aaakkkhhhh….ssshhhhh….hangat….lembut mulut mamah. Ssshhhh…”, nikmat Evan saat kontolnya berada diam didalam sana.

Beberapa detik Evan menahan kepala mamahnya hingga pahanya merasa dipukul-pukul. Evan yang terlalu terlena dengan rasa serta sensasi yang baru pertama kali ia rasakan tanpa sadar telah membuat mamahnya sendiri kesusahan untuk bernafas.

“Maaf, mah…”, terlihat Widya terbatuk, tapi momen tersebut tak lama karna Evan kembali menyodorkan batangnya dan dengan mengambil nafas Widya melahap masuk kembali hingga sepenuhnya seperti kemauan anaknya itu.

Evan berucap bahwa kepala mamahnya itu harus bergerak maju mundur seperti yang biasa dilakukan saat bersama pak Narto. Dengan perasaan masih ragu Widya menuruti kemauan anaknya untuk menggerakkan kepalanya.

Lama kelamaan gerakan kepala Widya mulai terlihat terbiasa di selangkangan Evan. Keluar masuk batang kejantanan tersebut kian lancar seraya air liur yang sudah membasahi. Busa liur mulai menetes keluar dari sela bibir Widya yang tengah bekerja mengeluar masukan batang Evan.

Sementara Evan sendiri terlihat sangat menikmati momen tersebut saat dirinya tengah dipuaskan oleh mulut mamahnya sendiri. Kedua matanya ia pejamkan dan tangannya mengelus lembut, kadang meremas pelan rambut mamahnya.

“ssshhhhh…..ssshhhhh….enak, mah. Ssshhhh….”

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Widya merasakan rahangnya mulai pegal sementara dirinya tak bisa menghentikan kegiatannya karena kedua tangan Evan menangkap kokok kepala Widya untuk terus bergerak maju mundur, sering pula sampai hidunya mentok mengenai rambut kemaluan anaknya sendiri.

Beberapa kali Widya mencoba pada Evan untuk melepaskannya walau hanya sebentar, namun gerakan tangannya untuk menarik keluar kepalanya terasa percuma. Malah Evan semakin mempercepat gerakannya.

Nafas terengah terdengar sangat jelas saat Widya berhasil terlepas yang dibarengi dengan terbatuk.

Dari sela sudut matanya Widya melihat bahwa anaknya sekarang tengah mengocok cepat batang kontolnya di hadapan wajahnya itu. Nafasnya masih belum teratur, namun dirinya dibuat tersentak.

“akkkkhhhh….mmaahhh….ssshhhhh….Evan….Evan keluar… Ssshhhh…”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Terpaan cairan kental hangat menampar wajah Widya dengan sangat banyak. Widya yang tak siap dibuat gelagapan akan aksi kurang ajar anaknya itu. Menghindar? Tak bisa, lagi-lagi dengan satu tangannya Evan menahan agar kepala Widya tetap diam di tempat sehingga Evan bisa menyemburkannya tepat pada sasaran.

Harga dirinya dijauh hari berulang kali dilempar jauh, kali ini Widya harus merasakan kembali bahwa harga dirinya seperti tak ada artinya lagi di hadapan anaknya sendiri. Walau semua karna kesalahannya sendiri.

“ssshhhhh…..”, sambil terus mengurut pelan batangnya, seakan-akan sedang menguras hampir cairan kental panas itu hingga tetes terakhir di atas wajah Widya.

Masih duduk tertunduk di tempat yang sama, Widya mulai menangis menguarkan air matanya kesalahan yang sudah ia buat. Widya tak terlalu menyalangkan perbuatan anaknya karna bagaimanapun juga Evan melakukannya karna apa Widy sendiri.

Evan memegang kedua bahu Widya, “sudah, mah. Sekarang bersihkan wajah mamah”, ucapnya.

Widya mencoba berdiri dan dengan perlahan berjalan ke arah kamarnya, sempat menatap juga wajah Evan dimana tengah memakai kembali celananya tanpa melihat ke arah dirinya. Di dalam kamar mandi Widya menatap wajahnya yang berlumur cairan kental milik anaknya sendiri di depan cermin sebelum membersihkannya.

“Jika ini cara agar kamu ga benci sama mamah, nak. Mamah akan terima”

Jam dinding rumah menunjukkan jarum jam di angka 10.02. Widya tengah berkutat di dapur setelah merenungi semua kesalahannya dan menerima hukuman yang diberikan oleh anaknya, Evan. Hari ini ia mendapat pesanan katering dalam jumlah yang tak terlalu banyak itu dan harus di antar jam 7 malam. Tubuhnya yang hanya berbalut pakaian rumahan yang tipis terlihat sangat menarik perhatian. Lekuk tubuhnya tercipta dengan sempurna lewat baju terusan yang ia kenakan.

Widya sempat berada lumayan lama di dalam kamar mandi. Kejadian baru yang menimpanya membuat ingatan Widya serasa ditarik mundur sangat jauh. Ingatan akan dirinya pertama kali mendapat pelecehan seksual di dalam bus serta di empat Rest area. Dimana saat itu dirinya untuk pertama kalinya menyerahkan kehormatannya pada para lelaki yang tak ia kenal secara bergilir.

Bukan hanya ingatan itu, namun ingatan dimana dirinya dinikmati oleh mbah Mitro serta temannya secara rutin tiap sebulan sekali. Hingga ingatan dirinya di perkosa oleh pak Narto di rumahnya sendiri dan pemerkosaan yang dilakukan oleh pak Narto itulah yang menjadi awal perubahan besar dirinya akan pandangan sebuah seks. Widya mulai mengenal apa itu yang namanya kenikmatan dalam bersetubuh yang sesungguhnya dan mulai menikmati perlakuan dari lelaki yang sebenarnya adalah sebuah pelecehan seksual.

Walau terdapat rasa canggung saat anaknya masuk ke dapur, tapi Widya mencoba untuk tetap berbicara seperti biasanya. Evan tak jauh dari posisi Widya berada, dimana Evan tengah mengambil minum di dalam kulkas dapur.

“Makan dulu, nak”, ucap Widya.
“nanti aja deh, mah. Evan belum lapar”, balasnya menenggak air.
“kateringnya emang banyak, mah? Kalo bayak biar Evan bantuin”, lanjutnya.
“ga usah, nak. Pesanannya Cuma dikit kok, yang pesan ibu-ibu dari Komplek sebelah”. Terdengar Evan meletakan kembali botol air dingin ke dalam kulkas.

Tiba-tiba Evan memeluk tubuh mamahnya itu dari belakang, sontak Widya yang merasakan pelukan Evan merasa kaget walau Widya tak mencoba untuk melepaskannya karna Widya tau tak akan semudah itu dan pastinya Evan sudah punya pandangan berbeda terhadap dirinya. Walau merasa risih akan kelakuan Evan, Widya mencoba untuk menahan.

“Kalo Evan bantuin yang lain boleh ga, mah?”, tanya Evan dengan maksud tak jelas, namun posisi Evan cukup menjelaskan kemana arah pertanyaan itu.

Widya merasakan tubuh Evan semakin erat memeluk tubuhnya, apalagi pada bagian bawah dimana bingkahan pantat Widya bisa merasakan dengan jelas tonjolan keras di balik selangkangan anaknya itu yang semakin menempel dan menekan pada area tersebut. Apa yang dilakukan Evan ternyata semakin kurang ajar dengan gerakan pelan menggerakkan selangkangan miliknya dan menggesek pantat Widya.

“mah….”, panggil lembut Evan di belakang daun telinga Widya.
“Eeggghhhh….”, lenguh Widya merasa geli.
“kenapa mamah mau sama pak Narto?”

Widya terdiam bingung akan menjawab apa pertanyaan anaknya itu.

“apa karna pak Narto bisa puasin mamah? Apa karna hal itu, mah? Kenapa mamah ga nikah lagi seperti yang Evan pernah sarankan? Kenapa mamah selalu menolak jika pilih untuk menikah lagi, sedangkan mamah malah dengan maunya menerima pak Narto?”, cerca Evan. Widy masih terdiam tak bisa membalas semua omongan.
“Saat Evan masih SD, mamah ajak Evan pergi ke salah satu desa yang terpencil dan kenapa semenjak dari sana mamah perlahan terlihat berubah?”
“mamah ga berubah sama sekali, nak…”, ucap Widya cepat.

Evan tersenyum, “mah…apa sekarang mamah masih belum sadar kalo Evan juga udah tau apa yang sebenarnya terjadi sama mamah di desa itu? Bukankah tadi sudah Evan beritahu?”
“Mamah ga bisa jawab kan? Sudah pasti, karna mamah memang salah”
“dulu mamah hampir setiap bulan selalu tinggalin Evan dengan alasan ada urusan dan saat itu mamah selalu titipin Evan di rumah nenek dan mamah sering telat dari janji yang mamah kasih. Sebelum pergi mamah bilang akan pergi 3 hari saja, tapi biasanya mamah sampe 5 hari perginya”
“Evan juga masih sangat ingat dimana sat bulan berikutnya mamah pergi 5 hari lagi. Mamah tau saat itu Evan hang masih SD sampe pengen nangis, tapi karna Evan waktu itu sadar kalo Evan laki-laki makanya Evan tahan. Mungkin karna nenek merasa khawatir pas liat Evan susah diajak makan, akhirnya nenek telepon mamah. Mamah masih ingat?”, Widya masih bertahan dalam bungkamnya.
“Evan rasanya senang banget bisa dengar suara mamah lagi setelah beberapa hari ga dengar, tapi saat itu suara mamah berbeda dari biasanya. Dulu Evan ga paham mamah sedang ngapain, tapi sekarang Evan sudah tau, mah….”

“Maafin mamah, na—“, ucapan Widya terpotong.

“Evan selalu nunggu mamah di rumah nenek dengan perasaan kangen dan khawatir, tapi kenapa orang yang Evan tunggu malah sedang keenakan diluar sana. Kenapa Evan nunggu sampai rasanya malas untuk bergerak, malah orang yang Evan tunggu sedang bergerak liar di kuar sana? Kenapa Evan tak nafsu makan saat nungguin mamah? Sementara mamah di sana malah sedang kenyang akan kontol-kontol perkasa yang siap dan selalu buat memek mamah puas? Kenapa mah?!”, ucap Evan mulai tak bisa ditahan lagi emosinya sambil melepas pelukannya terhadap tubuh mamahnya, Widya. Bahkan emosinya mendorong Evan untuk mengeluarkan kata-kata kasar.

Widya menatap sendu wajah Evan seakan ingin meraih tubuh anak semata wayangnya itu ke dalam pelukannya untuk ditenangkan. Widya baru merasa sangat menyesal akan pilihan yang ia ambil di masa lalu itu. Baru???

“Maafin mamah, nak. Mamah lakuin itu semua buat kamu…. Demi kamu, nak”, bela Widya, air mata mulai terlihat mengalir membasahi pipi.
“alasan basi, mah. Mamah bilang buat Evan? Demi Evan? Hahahaha…. Salah, mah. Mungkin maksud mamah demi memuaskan nafsu mamah yang tak bisa diterima lagi dari ayah. Bilang saja semuanya demi memek mamah yang sangat haus akan belaian kontol!!”, balas Evan dengan nada sedikit meninggi, namun tak terlalu keras.
“jangan bilang seperti itu, nak… Tolong…Hiks..hiks…”

“harta yang dimiliki dan rumah ini hasil pesugihan kan?!”
“bukan pesugihan, nak. Mamah tak pernah melakukan itu, mamah hanya—“
“Memakai pelaris? Sama saja, mah!!!”
“baik, mamah memang mengaku salah, sangat salah malahan, tapi jujur mamah melakukan itu semua untuk kamu, nak. Mamah melakukan supaya kamu tak usah merasakan pertumbuhan yang sulit, mamah ingin kamu selalu bahagia”, ucap Widya.
“tapi mamah merelakan harga diri serta kehormatan mamah untuk dukun keparat itu. Sama saja mamah menjual tubuh mamah Cuma demi sebuah benda kertas yang tak ada harga dibanding sebuah harga diri. Mamah melakukannya….. Mamah sama aja menjadi Pelacur untuk si tua itu!!!”, lagi-lagi rasanya Widya tertampar oleh ucapan anaknya sendiri. Evan benar dan Widya tak bisa membalasnya lagi.

Evan berdiri menatap pada sosok mamahnya itu dengan dada yang bergemuruh menahan emosi yang sedari tadi ditahan supaya tak terlalu dikeluarkan. Sementara Widya berdiri dengan kedua telapak tangan menutupi tangisnya.

Evan memang sangat emosi dan kecewa, namun dirinya juga merasa kasihan. Evan maju mendekat dan meraih tubuh mamahnya lalu membalikkannya dengan cepat.

“Nak…nak, apa yang mau kamu lakukan? Nak?!”

Dikarenakan Evan hanya mengenakan celana boxer, Evan dengan mudah bisa menurunkan celananya dan keluarkan batang kontolnya yang ternyata sudah tegang sedari tadi sambil menahan emosi. Widya yang memakai baju terusan pun langsung disingkapnya bagian bawah itu hingga batas pinggul. Sambil menahan gerakan mamahnya, Evan mencoba menurunkan celana dalam putih yang dipakai oleh mamahnya itu.

“mamah memang salah, tapi jangan kaya gini juga, nak. Maafin, mamah…”
“Mamah saja bisa dengan gampangnya memberi kehormatan mamah untuk dinikmati orang lain, kenapa Evan yang anak mamah sendiri ga boleh? Evan ga mau terlalu banyak mendapat bagian sisa dari mereka. Evan juga mau mamah…”

BLES!!! Walau awalnya sedikit merasakan susah saat Evan melakukan penetrasi awalnya, namun akhirnya ia bisa lesakkan juga batang miliknya itu memasuki lubang tempat ia dilahirkan dulu.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan seperti tak memikirkan kondisi mamahnya, dimana tanpa pemanasan terlebih dahulu langsung di pompa dengan ritme sedikit cepat dan terlepas dari hal tersebut kondisi mamahnya juga tengah mengandung.

“aaakkkkkkhhhh….akkkkhhhh…nak…akkkkhhhh…”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Bukan hal pertama Evan merasakan apa yang namanya dengan bersetubuh, namun apa yang tengah ia rasakan rasanya sungguh sangat berbeda pada saat melakukannya dengan Alice. Nafsu, Adrenalin bisa dengan jelas Evan terima. Tak pernah sedikit pun Evan terpikirkan untuk melakukan hal intim seperti itu dengan mamahnya sendiri. Namun kenyataan yang semakin masuk pada dirinya membuat Evan mempunyai pemikiran tersendiri.

Akibat guncangan tubuh yang dihasilkan dari pompaan Evan, Widy tak punya pilihan lain dengan menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu pada meja dapur yang biasanya digunakan untuk meracik bumbu masakan. Dalam kondisi bertumpu membuat Widya berdiri pada posisi menungging.

“akkkkhhhh….akkkkhhhh….nak, pelan-pelan…mamah….lagi hamil”
“anak siapa, mah?! Anak pak Narto? Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh….”, Widya diam dalam desahnya yang lirih.
“aaakkkhh…ssshhhhh….pantas saja pak Narto selalu minta jatah sama mamah. Ssshhhh… Memek mamah enak banget. Aaakkkhhhh…..Aakkkhhhh….”
“jangan…bilang seperti itu, nak….mamah ini mamah kamu….Eeggghhhh….”
“Evan ga gini juga mamah pasti di entotin terus sama pak Narto. Ssshhhh….”

Kurang merasa puas hanya dengan menikmati pompaannya, Evan meraih gundukan bukit kenyal yang menggantung tengah terombang-ambing akibat gerakan maju mundurnya. Di remasnya dengan gemas benda kenyal yang dulu sebagai tempat botol minum asinya. Walau masih terbungkus baju serta Bra, namun Evan bisa merasakan betapa kenyalnya buah dada mamahnya itu. Sambil terus menggerakkan pinggulnya, Evan menikmati remasnya.

“Kenyal banget, mah. Sssshhhhh…. Ini susu mamah udah keluar asinya belum? Mamah kan lagi hamil. Ssshhhh….akkkkhhhh….enak, mah…. Ssshhhh….”
“be….belum, nak… Aakkkhhhh….asi mamah belum keluar…Eeggghhhh….ssshhhhh….”

Evan mengarahkan mamahnya untuk berjalan ke arah dekat kulkas, disana sambil masih mengentak-entakkan pinggulnya tangan kanan Evan membuka salah satu rak yang terdapat botol madu. Setelah dipegangnya botol madu itu, Evan mencabut kontolnya dan menyuruh Widya untuk berbaring di atas meja.

Model baju terusan yang Widya pakai terdapat 4 kancing diatas, hampir mirip seperti baju daster, namun lebih ketat. Keempat kancing telah dibuka oleh Evan dan kemudian ia keluarkan kedua bukit kenyal itu dari dalam wadahnya.

Apa yang dilakukan Evan? Widya juga sempat bingung dengan apa yang akan anaknya itu perbuat. Ternyata Evan melumuri kedua buah payudara Widya dengan madu tersebut. Serasa cukup banyak, Evan kembali memasukkan kontolnya dan menggenjot kembali lubang mamahnya itu dengan cepat.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

“Aakkkhhhh….ssshhhhh…enak…manis…”, racau Evan menjilati seluruh permukaan kulit payudara dan mencaplok juga kedua putingnya secara bergantian sesekali juga sambil melakukan remasan.
“aaakkkkkkhhhh….sssshhhhh….sshhhh….”, Widya juga perempuan normal, walau yang sedang melakukan bukan lain adalah anaknya sendiri, namun Widya masih bisa merasakan nikmat yang sedikit demi sedikit mulai menyerang dirinya.
“enak, mah?”, tanya Evan sambil menatap wajah mamahnya, sedangkan mulutnya berada tepat di depan puting sebelah kanan.

Widya diam tak menjawab, hanya suara desahan lirih yang terdengar dan hal tersebut sudah cukup untuk menjawab pertanyaan yang Evan lontarkan.

“Evan juga bisa buat mamah puas. Evan bakal buat mamah Cuma jadi milik Evan sendiri. Evan bakal rebut dan singkirkan mereka yang mencoba ingin memiliki mamah juga”

“Termasuk juka kamu, pak Herman”, Batin Evan

Puas dengan posisi seperti itu, Evan mengganti posisinya kembali dengan menyuruh mamahnya untuk menungging sambil berpegangan pada pinggiran tempat memasak. Sebelumnya Evan mencelupkan tangannya pada botol madu itu dan membalurkannya di batang kontolnya serta di sekitar selangkangan mamahnya untuk menjadi pelumas.

“bentar dulu, na—AAKKKHHHH!!!!”, Erang Widya saat batang kejantanan anaknya kembali masuk ke dalam asetnya.

BLES!!!

“Enak banget, mah. Aaakkkhhhh….”, Evan mendiamkan sejenak kontolnya untuk merasakan kedutan yang diberikan dinding selaput memek mamahnya itu.

Tak lama Evan mulai menggerakkan kembali pinggulnya memompa selangkangan Widya dengan sedikit celat dari sebelumnya. Dalam desahan lirihnya Widya mencoba menahan rasa nikmat yang mulai menyerang di area selangkangannya itu. Widya kan merasa sangat malu jika anaknya tau bahwa dirinya mulai menikmati apa yang sedang ia perbuat itu.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“aaakkkkkkhhhh…..akkkkhhhh…..ssshhhhh….aaakkkkkkhhhh….”, desah lirih Widya.
“wanita hamil memang gampang banget dibikin gatal. Ssshhhhh….akkkkhhhh….Evan tau, mamah pasti mulai merasa nikmat”, ucap Evan.
“Ga malu sama perutnya, mah? Ssshhhhh….anaknya di dalam kandungan sementara mamahnya lagi dientotin sama anaknya sendiri. Aakkkhhhh…ssshhhhh….Perempuan Binal kamu, mah”, sambungnya sambil terus menghentakkan pinggulnya maju mundur.

“Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….”, pertahanan Widya mulai tak bisa ditahan sehingga desahan yang ia keluarkan mulai keras.

“ini…Eeggghhhh…Aaaakkkkhhh….adik kamu, nak. Eeggghhhh….Eeggghhhh…kamu jangan ngomong kaya gitu. Aakkkhhhh….”
“apa mamah bilang? Adik Evan? Memangnya yang bikin mamah hamil ayah Evan? Ayah Harjo? Ga mungkin lah, mah. Kalo anak pak Narto baru itu mungkin. Aakkkhhhh…ssshhhhh…pak Narto kan sering pakai mamah dan sering keluarin juga peju nya di dalam berkali-kali. Iya kan, mah? Ssshhhh….ssshhhhh….”

“Anak yang sedang mamah kandung itu anak oak Narto kan, mah?”, tanya Evan sambil terus menyodokkan kontolnya.

Widya menggeleng, “Eeggghhhh….Eeggghhhh…ga tau…mamah ga tau, nak. Aakkkhhhh…sssshhhhh…”

PLAK!!!

Ditamparnya tak terlalu keras kulit pantat Widya oleh Evan. Walau tak terlalu keras namun tamparan itu membuat bongkahan pantat Widya bergoyang.

PLAK!!! Ditamparnya kembali membuat tubuh Widya sedikit terlonjak akibat kaget.

“Ampun, nak… Aaakkkhhhh…jangan siksa mamah kaya gitu. Aakkkhhhh….”
“mamah mau nurut sama Evan?”

PLAK!!!

“IYA-IYA, MAMAH BAKAL NURUT SAMA KAMU, NAK. MAMAH NURUT. AAKKKHHHHH…..SSSHHHH…..AAAKKKHHHHH….”

PLAK!!!

“enak, mah?”, Widya hanya mendesah dan mengerang.

PLAK!!! PLAK!!!

“jawab, mah. Enak apa ga diginiin? “
“Enak, nak”, jawab Widya namun suaranya pelan.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

“JAWAB, MAH!”
“IYA, SAYANG ENAK!!”

“aaakkkkkkhhhh….akkkkhhhh….”
“Ooouuugghhh….ssshhhhh….pelan…pelan…ssshhhhh….”
“Kenapa harus pelan? Bukannya mamah suka dan mamah juga sering dikasari kalo ngentot sama pak Narto. Kenapa pas sama Evan mamah ga mau kasar?”
“lagi hamil…ssshhhhh…mamah lagi hamil, nak…”, jawab Widya.
“hamil ga tau siapa bapaknya juga. Ssshhhh….”, balas Evan dengan menaikkan ritme genjotannya dengan cepat membuat Widya belingsatan.

TING!!! TONG!!! TING!!! TING!!! Ponsel Widya yang ditaruh diatas meja terdengar bunyi. Sebenarnya Evan ingin membiarkan hal tersebut, namun saat dirinya mendengar permohonan mamahnya untuk mengangkatnya, entah kenapa Evan menurut. Rasa peduli dan masih memandang Widya sebagai sosok ibu baginya ternyata masih ada pada diri Evan, namun tertutup oleh emosi dan hawa nafsu.

Dalam keadaan diam serta kontolnya masih bersarang di dalam memek mamahnya, Evan menyimak pembicaraan yang sedang terjadi. Ternyata orang yang sedang berbicara dengan Widya lewat telepon adalah orang yang memesan katering. Evan tersenyum. Pikirannya kembali tertutup nafsu.

“EEEGGGHHHH!!!”, lenguh Widya saat Evan menyentakkan masuk batang kontolnya dengan keras. Widya memandang.

Widya dibuat kaget kembali oleh aksi anaknya itu, diaman Evan tiba-tiba mengambil ponsel tersebut dan mengganti suaranya pada mode loudspeaker.

P : Ibu-ibu yang pesan katering
W: Widya

Percakapan Telepon:

P : nanti sambalnya dikasih banyakan ya, jeng.
W: Eeggghhhh….iya, jeng. Gampang itu. Aasssshhhh…
P: kenapa, jeng?
W: ga…gapapa, jeng. Ssshhhh…ini saya…saya lagi cobain sambalnya
P: harus pedas loh. Hehehe… Oh iya, jeng nanti bisa kan diantar tepat jam 7?
W: bisa, jeng. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh….ini saya juga sudah mulai dibuaaaattt….
P: awas jeng cobain sambalnya jangan banyak-banyak nanti perutnya mules loh
W: Aaaakkkkhhh …sssshhhhh….ini…saya juga mules….sssshhhhh….pengen keluar
P: apanya yang pengen keluar, jeng? Cepetan ke kamar mandi, jeng

Tak lama panggilan berakhir dan dengan sembarang Widya menyingkirkan ponselnya yang sudah terputus panggilannya itu. Sementara Evan yang masih bergerak menyodokkan batang kontolnya terlihat tersenyum puas telah mengerjai mamahnya sendiri dengan nakal.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Evan yang sedari tadi menunggu saat mamahnya menerima panggilan terpaksa harus sedikit menahan laju gerakannya supaya tak terlalu menimbulkan suara mencurigakan. Setelah panggilan berakhir Evan tak lagi menahannya, langsung saja di gempur cepat lubang peranakan mamahnya itu.

Tangan Widya mengepal keras sambil mencoba meraih sesuatu yang bisa ia remas untuk meredam rasa nikmat yang sedang ia rasakan itu.

“EEGGGGHHHHHH!!!!!”, suara tertahan terdengar dari pita suara Widya. Wajahnya memerah seperti sedang menahan sesuatu.

Dalam hal tersebut bukannya Evan tak tahu ataupun tak merasakannya. Evan tahu dan merasakannya karna sangat terasa jelas batang kontolnya disiram oleh cairan hangat dan remasan dinding selaput mamahnya juga lebih terasa menjepit. Evan tau itu, Evan tau mamahnya mengalami orgasme tapi Evan juga tak memberi kesempatan untuk mamahnya bernafas menikmati orgasmenya itu karna Evan sendiri juga sudah tak sabar ingin mendapatkan klimaksnya juga.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Bagaikan tak dikasih nafas oleh anaknya sendiri, Widya terus digempur oleh sodokan-sodokan keras dan cepat di selangkangannya. Tanpa diduga karna gerakan itu, Widya dengan sangat cepatnya menyambung kenikmatan. Orgasmenya kembali melanda dengan hebat. Tetesan cairan kewanitaan Widya sampai keluar lewat batang kontol anaknya, jatuh membasahi lantai dapur.

“Aaaakkkkhhh….Aaaahhhhh….Evan juga keluar, mah. Aakkkhhhh….aaakkkkkkhhhh….”, erang Evan dengan gerakan mulai terlihat kasar. Tak lama lalu Evan mencabut kontolnya serta membalikkan tubuh Widya dan….

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Semburan cairan kental nan panas itu menyemprot deras di permukaan perut Widya yang sudah mulai membesar akan kehamilannya itu. Banyak. Ya, dalam jumlah banyak Evan menyemprotkan isi buah zakarnya di atas perut mamahnya itu.

Widya bersender pada tempat ia memasak dengan kedua tangan menopang tubuhnya supaya dalam keadaan tetap berdiri. Evan yang didepanya masih mengurut kontolnya untuk mengeluarkan sisa peju nya untuk dikeluarkan. Nafasnya tak beraturan setelah di hajar habis oleh anaknya sendiri.

Semua peju sudah di keluarkan, lantas Evan meratakan semua cairan kental itu keseluruhan perut hamil mamahnya menggunakan batang kontolnya langsung.

Terlihat terbalur dengar rata hingga perutnya terlihat mengkilap. Tanpa mengeluarkan suara Evan meraih tengkuk leher mamahnya dan melumat bibir lembut tersebut dengan sisa nafsunya. Reaksi tak terduga diperlihatkan ketika Widya membalas lumatan anaknya itu. Mereka saling melumat dan lidah mereka bergelut saling bertukar air liur.

PUAH!!!

“Makasih, mah…”, ucap Evan dengan nafas terengah.

Widya menatap anaknya, “jangan benci mamah, nak”. Evan membalas dengan anggukan dan mereka kembali saling melumat.

(Gambaran kehamilan Widya)

.
.
.

*Bersambung….

Daftar Part

Cerita Terpopuler