. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 15 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 15

0
430

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 15

Perubahan Kian Terasa

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Siang itu Widya hanya duduk menonton televisi dan melakukan beberapa pekerjaan rumah. Lambat laur dirinya merasakan bosan akibat tak ada aktivitas yang berarti, kebetulan juga hati itu sedang tak ada pesanan yang masuk. Hal tersebutlah yang membuat dirinya merasa ada yang kurang dalam kesehariannya. Sementara anaknya, Evan juga hari itu tak ada kelas sehingga pekerjaannya hanya tidur sampai sore. Biasanya….

Namun akhir-akhir ini Widy perhatikan jika anaknya sedang tak ada kelas, Evan siang hari sudah bangun dari tidurnya dan kadang ikut membantunya juga dalam menyelesaikan pesanan. Ya walau tak terlalu banyak membantu tapi sudah cukup membuat Widya sebagai seorang ibu senang.

Dalam lamunannya Widya mendengar derap langkah dari lantai atas, saat di tengok ternyata sang anak telah keluar dari kamarnya berjalan menuruni anak tangga. Evan terlihat sudah mandi dan memakai pakaian rumahan berupa celana pendek dan kaos oblong biasa. Ia mendekati Widya yang tengah duduk di depan televisi.

“Siang, mah”, sapa Evan.
“Siang juga anak mamah. Nah gitu doang jangan tidur terus”
“Hari ini mamah ga ada pesanan gitu?”
“ga ada. Mamah bosan dirumah”, balas Widya mencoba memancing anaknya, siapa tau diajak jalan kemana gitu buat lepasin rasa bosan.
“Bilang aja mamah mau diajak keluar, ga usah pake kode-kode segala deh”
“udah lama juga kan mamah ga keluar bareng anak mamah ini”, ucap Widya.
“Tapi enaknya kemana ya?”, sambungnya.
“Emang aku mau di ajak jalan, mah?”, ucap Evan mencoba bercanda.

Evan mendapatkan pandamgan tajam dari mamahnya.

“Sama mamah sendiri gitu. Nanti uang jajan ga mamah kasih loh”
“Jangan, mah! Iya-iya Evan Cuma bercanda kok. Mama mau kemana emang?”
“itu yang lagi mamah pikirin. Kamu ada ide ga?”
“siang-siang kaya gini kemana yang enak itu susah, mah. Rasanya mager karna panas, paling pilihannya ya Cuma ke mall siapa tau mamah mau belanja apa gitu. Baju Atau apa lah”

“Oh iya Bener! Mamah mau beli beberapa pakaian sama keperluan katering juga. Temenin mamah ya”, Evan hanya mengangguk.

Widya beranjak dari duduknya pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian, begitu juga dengan Evan yang naik kembali. Beberapa menit berlalu ibu dan dan anak itu telah berganti pakaian serta telah siap untuk berangkat ke mall yang di tuju menggunakan angkutan Online.

Mobil yang ditunggu telah sampai di depan gerbang rumah, Evan mengunci pintu rumahnya dan ikut bergabung masuk ke dalam mobil. Sosok pria yang ditaksir berumur 30’an itu berada di posisi kemudinya menyapa dengan ramah.

“Tujuan sesuai dengan aplikasi ya, bu”, ucapnya.
“tapi nanti boleh mampir ke ATM bentar ga, pak”, tanya Widya.

Keduanya tiba di tempat tujuan dimana Evan akan menemani mamahnya untuk belanja keperluan yang diinginkan. Sepanjang perjalanan tadi Evan tak hentinya memperhatikan driver yang mengantarkan dirinya beserta mamahnya itu. Karna Evan sering menangkap basah si driver mencuri pandangan terhadap mamahnya lewat kaca spion tengah.

Evan sudah paham akan kelakuan driver tersebut padahal pakaian yang mamahnya pakai juga biasa saja, namun hal tersebut masih saja memancing tatapan menerkam dari para pria. Ya, Evan juga merasakan hal yang sama dengan driver tersebut. Mau mengenakan pakaian apapun mamahnya akan tetap terlihat menarik di mata pria.

Sebuah anugerah mempunyai seorang ibu layaknya Widya, namun hal tersebut bisa juga berbalik menjadi sebuah musibah karna tubuhnya bisa mendatangkan hal yang tak diinginkan.

Evan berjalan mengekori tiap langkah kaki mamahnya ketika sudah masuk ke dalam mall. Tujuan awal yang Widya sambangi adalah tempat yang menjual pakaian dalam. Sementara Evan yang sedari tadi hanya fokus mengikuti, ditahan oleh Widya.

“Kamu disini dulu ya”, ucap Widya, Evan mengangguk paham. Kurang etis saja jika dilihat ada lelaki yang ikutan masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita dilain sisi juga mereka adalah anak dan ibu.

Evan berdiri di pembatas pinggir lantai, dari posisinya berdiri Evan masih bisa melihat ke arah mamahnya karna memang toko tersebut menggunakan kaca sebagai dindingnya. Dilihatnya mamahnya itu tengah sibuk memilih yang cocok dengan seleranya. Beberapa karyawati juga membantu mamahnya untuk memilihkan karna memang keadaan toko saat itu hanya ada mamahnya saja.

“Memang siapapun itu kalo perempuan yang belanja pasti bakal lama”, gerutu Evan masih setia menunggu mamahnya yang belum menemukan apa yang diinginkan.

Salah satu karyawati meninggalkan .amahnya pergi ke dalam dan kemudian datang kembali bersama dengan seorang pria tua sedikit gemuk dengan penampilan menunjukkan bahwa orang itu sudah pasti bos nya. Walaupun dia seorang pemilik dari tempat tersebut juga tak pantas juga ikut memilihkan pakaian dalam untuk pengunjungnya. Evan sedikit merasa jengkel terhadap pria tersebut, apalagi pria itu beberapa kali mengambilkan pakaian dalam yang bisa dibilang seksi.

“ck!!! Cari kesempatan aja itu orang”, kesal Evan.

Saat dalam rasa kesalnya Evan mengalihkan pandangannya menatap ke bawah dan saat itu juga matanya menangkap sosok Alice tengah turun ke lantai 2.

“Alice”, batin Evan. Menemukan pacar tercintanya di tempat yang sama membuat Evan menjadi semangat. Dia bergegas masuk ke dalam toko yang sedang disambangi oleh mamahnya untuk meminta izin sebentar.

Evan dengan sedikit berlari menuju tangga eskalator mengejar Alice. Setelah satu lantai dengannya Evan bisa melihat bahwa Alice tak sendirian, ternyata Alice datang bersama teman-temannya. Sudah terlanjur, Evan tetap menghampiri sosok pacarnya itu.

“eh, hai sayang”, kaget Alice ketika melihat siapa yang memegang pundaknya.
“Ngapain kamu disini?”, sambungnya.
“lagi nemenin mamah belanja. Kebetulan tadi aku liat kamu, makanya langsung aku samperin”
“mamah Widya disini juga. Di mana? Pengen ketemu, kangen tau”

Evan memberi kode dimana mamahnya berada dengan tangannya menunjuk ke atas tanpa berbicara.

“Oh iya, yang. Ini kenalin teman-teman aku. Yang ini namanya—“

Beginilah jika sedang dimabuk cinta. Bakal lupa dengan sekelilingnya. Alice yang datang dengan teman-temannya malah asyik bermesraan dengan Evan, sementara Evan malah lupa kalau dirinya sedang menemani mamahnya belanja. Ya walau baru lewat 15 menit yang lalu sih, namun mereka hampir lupa sekelilingnya.

“Oh iya, hampir kelupaan aku. Yang, aku ke mamah dulu ya”, ucap Evan berpamitan.

Evan bergegas menaiki tangga eskalator kembali meninggalkan Alice berserta teman-temanya. Tangga eskalator naik berada di seberang tempat dimana toko yang mamahnya kunjungi berada. Saat dirinya tiba di lantai sebelumnya, Evan bisa melihat sekilas dari eskalator bahwa mamahnya keluar dari ruang ganti, namun jantungnya kembali berdegup kencang saat sosok pria pemilik toko tersebut ikut keluar dari dalam bilik ruang ganti juga.

Terlihat mamahnya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan juga merapikan posisi tali Branya yang sedikit kurang pas pada tempatnya.

Evan yang memang sekarang selalu memandang mamahnya dengan tatapan berbeda mulai berpikir hal yang aneh terhadap apa yang sebenarnya dilakukan oleh mamahnya dan pria itu di dalam bilik ruang ganti. Dilihat juga setalah merapikan rambut serta tali Branya, Widya celingukan mencari keberadaan Evan yang tak terlihat.

Evan yang sadar sedang dicari oleh mamahnya berjalan ke arah depan toko tersebut dan Evan melambaikan tangannya.

“Udah selesai, mah”, tanya Evan saat mamahnya sudah keluar dari dalam toko.
“Lama ya? Kamu darimana, kok mama cari tadi ga kelihatan”, tanya Widya.
“Tadi pas lagi nunggu mamah, Evan ga sengaja liat Alice terus Evan samperin deh”
“terus sekarang Alice nya mana?”
“Kayaknya dah pulang deh, mah. Soalnya tadi Alice bareng sama teman-temannya”, Widya mangut-mangut mendengar penjelasan anakannya.

Mata Evan menangkap sebuah cairan putih yang melekat di rambut samping mamahnya itu. Cairan putih yang sudah bisa ditebak apa itu. Ternyata apa yang dipikirkan Evan tadi memang benar adanya kalau mamahnya dengan pria tersebut telah melakukan sesuatu.

Disaat itu juga Evan memikirkan bagaimana caranya membuang cairan tersebut dari rambut mamahnya karna jika dibiarkan mungkin orang-orang bisa melihat hak tersebut dengan jelas. Evan mendapatkan sebuah ide dimana dirinya sedang memakai topi dan melepaskan topi itu untuk dipakaikan di kepala mamahnya.

“mamah coba pake topi deh”, alasan Evan supaya bisa memegang rambut mamahnya.
“Malu tau, nak. Dilihatin orang-orang tuh”, ucap Widya melepaskan topi milik Evan karna memang mereka menjadi perhatian beberapa pengunjung mall lainnya.

Para pemgunjung lain menganggap bahwa Evan dan mamahnya adalah sebuah pasangan yang tak terlalu terpaut jauh umurnya. Seperti yang Evan pernah bilang bahwa mamahnya terlihat seperti umur 27’an.

“Padahal kalo mamah pakai topi jadi kelihatan kaya ABG loh. Hahaha….”, canda Evan sambil matanya terus memperhatikan rambut mamahnya dimana cairan putih itu sudah hilang. Mungkin terapi oleh topinya saat disingkirkan.
“ngaco kamu”, sahut Widya mengomentari candaan anaknya itu.

WIDYA

Dirinya bingung akan mengambil pakaian dalam yang mana. Banyak yang membuatnya tertarik, namun dirinya tak bisa membeli semuanya lagian untuk apa beli banyak-banyak. Bahkan beberapa pegawai di toko tersebut ikutan dibuat bingung akan pilihan Widya yang masih belum menemukan mana yang akan di pilih.

“Bentar, bu. Saya bakal coba membantu rasa bingung ibu dengan orang yang lebih tepat”, ucap pegawai tersebut meninggalkan Widya. Widya yang tak terlalu menghiraukan hanya mengangguk sambil terus memilah pakaian yang tergantung rapi.

Saat dirinya masih asyik dalam memilih tiba-tiba muncul sosok pria berbadan tambun yang berdiri di depan Widya sambil memperlihatkan senyumannya. Widya sempat heran dengan pria tersebut yang masuk ke dalam toko pakaian dalam perempuan. Pria tersebut yang sadar akan tatapan heran dan bingung Widya mulai bersuara.

“Maaf sebelumnya, bu. Perkenalkan saya yang punya tempat ini dan dari penjelasan pegawai saya bahwa ibu sedang kesulitan memilih pakaian mana yang cocok dengan ibu. Boleh saya bantu untuk memilihkan?”, tanyanya dengan sopan dan ramah layaknya menghadapi customer. Panggil saja pemilik toko tersebut dengan A.
“saya tau kalo tawaran saya kurang ajar, tapi terlepas dari hal tersebut saya disini sebagai pemilik jadi saya akan membantu pembeli saya”, sambungnya.

Widya sekilas menatap ke arah Evan yang masih berdiri di depan sana.

“Saya sedang memilih pakaian yang cocok, tapi dari tadi yang yang temukan hanya rasa bingung soalnya kebanyakan memang saya suka”, ucap Widya mencoba menepis pikiran negatif. Widya juga merasa malu karna dibantu seorang pria yang tak ia kenal untuk memilihkannya pakaian dalam. Aduh Widya…

Beberapa kali A memberikan saran pakaian dalam yang bisa dibilang seksi pada Widya, tetapi selalu Widya tolak dengan halus. Namun hal tersebut tak berhenti dimana A malah kembali menawarkan pakaian dalam yang jauh lebih seksi pada Widya dengan tersenyum penuh arti. Dilihatnya Evan juga sudah tak ada di tempatnya setelah meminta izin pergi sebentar, entah kemana. “pergi kemana kamu, nak?”, batin Widya.

Disaat Widya memikirkan dimana Evan, tangannya terasa disentuh oleh A. Widya kaget dan sempat menepis, namun A kembali memegang tangannya dengan kali itu cengkeramannya lebih diperkuat sehingga Widya tak bisa melepaskan tangan pria itu.

“Bapak jangan kurang ajar. Saya pembeli disini, tolong hargai saya”, tegas Widya.
“saya hargai ibu, karna itu saya mau ibu pakai yang ini”, sambil memperlihatkan satu seat pakaian dalam model thong.
“saya ga mau yang itu, pak!”
“jangan gitu, bu. Saya dari tadi kasih saran tapi ibu selalu tolak, apa mau saya bantu pakaikan?”

Setelahnya Widya ditarik oleh A untuk masuk ke dalam bilik ruang ganti. Gorden ditutup rapat oleh A.

“jika ibu teriak bukan hanya saya yang bakal kena dampaknya, tapi ibu sendiri juga akan kena dimana anak ibu akan mendapatkan rasa malu akibat ibunya telah dilecehkan di tempat umum. Mau teriak?”, Widya Diam.

“bagus kalo ibu lebih memilih untuk diam. Ibu cukup lakukan apa yang saya perintahkan maka hal ini akan dengan cepat selesai. Setuju?”, Widya dalam kesunyiannya. A menunggu jawaban Widya yang lumayan memakan waktu dan diakhiri anggukan pelan oleh Widya.
“Saya mau bantu ibu buat memakaikan dalaman ini”, walau Widya sudah bisa menebak keinginan mesum itu, tapi Widya masih merasakan kaget.

Dengan perlahan tangan besar A meraba tubuh Widya dan mulai melepaskan satu pakaian yang Widya kenakan. Dari baju, celana panjang dan berhenti saat Widya hanya mengenakan Bra serta celana dalamnya saja. Dipandangnya tubuh Widya itu oleh A cukup lama seolah-olah sedang mengagumi indahnya lekuk tubuh Widya.

“badan ibu ternyata lebih bagus dari apa yang saya bayangkan dari tadi. Sungguh sangat menggiurkan”, ucapnya sambil meremas payudara Widya dari balik Bra. Dari payudara tangan A beralih mulai turun ke area selangkangan Widya. Diusapnya beberapa kali selangkangan Widya dan jarinya menekan masuk ke dalam lubang kewanitaan.

“Ssshhhhh….”, lirih Widya.

A kembali melucuti pakaian dalam Widya hingga terpampang jelas tubuh telanjang Widya di hadapannya. A menelan ludahnya dengan susah payah melihat pemandangan indah di hadapannya itu. Tangannya mencoba membenarkan letak batang kontolnya yang kian membesar ingin meronta untuk di keluarkan dari sangkarnya.

Diremasnya kembali daging kembar kenyal milik Widya oleh tangan besar si A. Sambil tangan yang lain mencoba menurunkan resleting celananya sampai batang keras dibaliknya keluar dengan gagah mengacung dengan tegaknya di depan ketelanjangan Widya.

“Saya kasih pilihan untuk ibu. Saya pakai memeknya terus keluar di luar atau saya pakai mulut ibu tapi saya keluarkan di dalam mulut?”
“harus pilih, bu. Kalo ibu ga mau saya perkosa dengan paksa di sini”

Widya kembali berpikir, “di…dalam mulut saja, pak”, ucap Widya tanpa memandang pria itu.

“Hehehe…ternya ibu lebih pilih telan peju saya ya. Bagus-bagus daripada saya buat hamil mending telan peju saja”

A langsung melumat bibir Widya dan tangannya kembali bergerilya di kedua buah payudara Widya. Suara air liur yang disedot menggema di dalam bilik ganti itu. Untung saja pembeli yang datang berkunjung siang itu hanya ada Widy seorang dan di luar bilik sana hanya ada beberapa pegawainya yang kembali pada posisinya masing-masing.

“sekarang mulai kulum kontol saya , bu. Saya janji bakal melakukannya dengan cepat”, Widya disuruh untuk bersimpuh di depan selangkangan pria tambun itu dengan kejantanan sang pria mengacung demgan kokoh di depan wajahnya.
“langsung saja dimulai, bu biar ga terlalu lama”

Perlahan Widy mulai meraih batang kontol tersebut yang ukurannya tak terlalu besar, malah bisa dikatakan kecil dan panjangnya juga kalah jauh dari panjang milik almarhum suminya.

Widya menjilati terlebih dahulu batang milik A beberapa saat supaya pria tersebut lebih terangsang dan dengan begitu akan dengan cepat keluarnya. Dari jilatan, Widya mulai memasukkan batang kontol kecil itu ke dalam mulutnya. Kombinasi sedotan kuat dan gerakan maju mundur kepalanya membuat A merem melek dibuatnya.

Tanpa Widya sadar dirinya telah bisa memuaskan pria lewat mulutnya itu sejalan dengan dirinya yang masih suka dipakai oleh pak Narto dan dari hal saat dirinya diperkosa dulu.

“akkkkhhhh….ssshhhhh….ibu ini ternyata jago banget sepong kontol. Udah sering puasin kontol ya, bu? Sssshhhhh….bisa cepet keluar kalo gini rasanya. Aaaakkkkhhh….sshhhh…”

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

“Aaakkhhhhhssss….sial, berhenti dulu, bu. Aakkkhhhh…..ssshhhhh….berhenti”, ucap A menyuruh Widya untuk berhenti karna dirinya dengan cepat akan keluar.

Berbeda dari A yang meminta Widya agar berhenti terlebih dahulu, Widya malah tetap melanjutkan gerakannya tanpa menggubris ucapan pria tersebut karna niat Widya memang ingin membuat A mendapatkan klimaksnya dengan cepat agar bisa selesai dan pergi. Bahkan gerakan maju mundur kepala Widy makin cepat dan sedotannya makin kuat.

“Aaakkkhhhh….gila ini mulut pintar banget. Ssshhhh….”, racau A.

Kedu tangan mencengkeram rambut Widya dan akhirnya memuncratkan cairan panasnya di dalam mulut Widy dengan banyaknya. Sehingga mau tak mau sesuai perjanjian Widya harus menelan habis semuanya cairan peju pria tersebut.

“Aakkkhhhh….keluar!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Beberapa kali A mengedutkan cairan peju nya masuk ke dalam rongga mulut Widya dan Widya dari posisinya hanya diam menerima tiap pancutan peju yang dikeluarkan di dalam mulutnya hingga terkumpul banyak di sana.

Si A melepas narik batang kontolnya yang sudah klimaks itu, namun ternyata masih ada sisa peju yang di semprotkan hingga mengenai rambut Widya. A hanya tersenyum melihat kontolnya masih mengeluarkan sisa peju nya mengenai rambut Widya.

“Maaf, bu saya kira tadi udah keluar ternyata kontol saya kepingin pejuhin rambutnya juga. Hehehe…”, Widya hanya menatap kesal ke arah si A.

“sesuai janji, saya mau lihat. Buka mulutnya, bu”, Widya membuka mulutnya dimana tertampung cairan peju milik A yang tertampung banyak di sana.
“Banyak juga ternyata. Oke, sekarang boleh ibu telan habis peju saya itu. Hitung-hitung sebagai bayaran saya karna sudah diizinkan buat rasain mulutnya. Hahahaha…”

GLEK!!! GLEK!!! GLEK!!!

Susah payah Widya menelan cairan kental yang tertampung banyak di mulutnya itu dengan perasaan kesal. “dasar lemah”, batin Widya.

“Terima kasih, bu. Sekarang ibu pakai kembili semuanya dan keluarlah terlebih dahulu”

Setelah semuanya kain telah terpasang kembali di tubuhnya, Widya keluar dari dalam bilik rung ganti tersebut dan sepersekian detik kemudian giliran si A yang ikut keluar. Widya mencoba merapikan rambutnya yang rasanya sedikit berantakan akibat cengkeraman si A saat akan klimaksnya tadi. Widya juga merasakan bahwa tali Branya sedikit menyelip akibat dirinya buru-buru saat memakainya.

WIDYA END

Di dalam kamar mandinya Widya terduduk di lantai dengan kedua kakinya terbuka dengan lebar dan tengah mengeluar masukan sebuah Dildo yang dikasih oleh pak Herman saat tempo hari diperintahkan untuk bermasturbasi di ambang gerbang rumah. Widya nafsunya naik setelah kejadian yang menimpa dirinya di dalam bilik ruang ganti. Bahkan nafsunya sudah ia rasakan sejak di dalam perjalanan pulang. Widya mati-matian menahan nafsunya yang muncul di samping Evan.

Sepanjang perjalanan pulang juga Widya terus-terusan diajak bicara oleh anaknya yang mana hal tersebut membuat Widya makin tersiksa. Dilain dirinya menahan nafsu tapi harus terus bersikap normal sambil menjawab setiap pembicaraan yang terjadi. Tanpa anaknya ketahui, puting Widya sudah sangat mengeras dari balik baju dan Branya. Sesekali juga Widya memanfaatkan goyangan mobil akibat jalan berlubang untuk menggesekkan kedua pahanya mencoba meredam rasa gatal di selangkangannya itu.

Setibanya di rumah Widya langsung berlari ke arah kamarnya dan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Dirinya mencari sebuah Dildo di dalam lemarinya untuk menyalurkan hasratnya. Sementara Evan tak ikut turun dari mobil karna melanjutkan jalan untuk bertemu dengan Alice.

Di dalam kamar mandi Widya mengocok cepat Dildo karet itu. Nafasnya terengah meluapkan nafsu yang sudah ia tahan lama itu. Tangannya yang lain meremas payudaranya sendiri dengan keras dan mulutnya mengeluarkan desahan yang sangat erotis.

“Ssshhhhh….ssshhhhh….sejak kapan…ssshhhhh…aku mudah terangsang begini? Aakkkhhhh….ssshhhhh…..”, sambil terus mengocok memeknya sendiri menggunakan Dildo.
“Ssshhhh….puaskan aku, mas. Ssshhhh…..aku kangen kamu. Aakkkhhhh….sshhhhh….

CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!!

Suara becek mengiringi kocokkan cepat Dildo tersebut pada memeknya sendiri sambil membayangkan bahwa Dildo yang ia mainkan adalah batang kejantanan milik almarhum suaminya. Walau milik Harjo tak sebesar milik pria-pria yang sudah pernah menikmati tubuhnya, namun Widya merasa kangen akan punya suaminya itu.

Sejauh ini batang besar yang pernah mengisi liang kewanitaannya adalah milik pak Herman, kedua milik Deni, teman anaknya sendiri dan ketiga milik pak Narto. Sedangkan batang-batang sang pemerkosa dulu dan milik mbah Mitro sudah tak ingat lagi sebesar apa ukurannya. Apakah lebih besar dari para prianya sekarang apa masih kalah besar.

TING TONG!!! TING TONG!!!

“Aaaakkkkhhh….Aaakkkhhhh….Adek mau keluar masss….lebih cepat lagi. Ssshhhh….”, desah Widya memenuhi kamar mandinya.

TING TONG!!! TING TONG!!!

Orgasme yang akan Widya capai langsung kembali menjauh akibat sadar akan suara bel rumahnya yang bunyi. Dengan keadaan tubuh lemas akibat orgasme yang gagal sementara nafsunya masih memburu membuat Widya malas untuk beranjak dari posisinya. Namun ia harus melihat siapa tamu tersebut.

Widya berjalan ke arah lemari pakaiannya dan mengambil sekenanya piama tidur miliknya yang berbahan tipis itu tanpa memakai apapun lagi dibaliknya. Sehingga tercetak dengan jelas kedua putingnya yang mengeras dan bentuk payudaranya yang sekal itu.

Saat pintu dibuka ternyata sosok pak Narto berdiri di luar rumahnya sambil tersenyum mesum seperti biasanya. Widya yang memang sedang dalam keadaan birahi membuat nafasnya memburu dan hal tersebut bisa dilihat jelas oleh pak Narto, namun pak Narto sengaja berpura-pura tak menyadari hal tersebut hingga Widya sendiri nantinya yang akan meminta.

Bukan hanya pak Narto yang datang, ternyata dari gerbang rumah yang terbuka memperlihatkan sosok pak Herman disana sambil melambaikan tangannya. Saat pak Herman mendekat, pak Narto membisikkan sesuatu padanya yang tak bisa di dengar oleh Widya. Pak Herman tersenyum dan mengangguk.

“Masa ada tamu ga disuruh masuk, bu?”, ucap pak Herman.
“Eeggghhhh….iya, masuk pak biar enak”, balas Widya.
“masuk emang lebih enak, bu daripada dianggurin”, timpal pak Narto.

Ketiganya masuk ke dalam rumah dengan tuan rumahnya berada di depan dan kedua tamunya mengekor di belakangnya. Widya menyuruh pak Herman dan pak Narto untuk duduk di sofa ruang tamu, tak lupa juga Widya bertindak layaknya tuan rumah menawarkan minuman sebelum bertanya ada keperluan apa, walau Widya juga sudah tau alasan besarnya kedua pria itu datang.

Kedatangan kedua pria tersebut membuat Widya merasakan senang, namun disisi lain dirinya juga masih ada rasa malu untuk memintanya terlebih dahulu, jadi Widya menunggu dimana dirinya pasrah untuk di terkam oleh pemangsanya.

“Tak usah repot-repot ambilin kita minum ke belakang, bu. Orang minuman kita ada dibalik baju bu Widya itu aja udah cukup”, pancing mesum pak Narto.

Pak Herman menepuk sofa memberi isyarat pada Widya untuk duduk di tengah mereka. Dengan mencoba mengatur nafasnya yang semakin memburu, Widya duduk diantara kedua pria tersebut. Posisinya di apit oleh pria-pria mesum dalam keadaan dirinya hanya memakai piama tanpa dalaman satupun yang ia kenakan.

“ssshhhhh…..”, desis Widya kala pahanya di elus lembut oleh tangan pak Herman.

“Hari ini Nonik pergi menginap di rumah ibunya bareng sama Nindi dan hari ini pak Narto juga kebetulan sedang libur dari kerjanya, kita berencana akan pergi jalan-jalan. Nah tujuan kita kesini mau ajak bu Widy untuk ikut”, jelas pak Herman.
“Lagian bu Widya juga tak ada kerjaan kan? Evan juga tak ada di rumah. Gimana, bu ikut kita ya…”, sambungnya.

(Nindi: anak pak Herman dan bu Nonik. Masih sekolah dasar)

Tak memerlukan waktu untuk berpikir bagi Widya langsung mengiyakan ajakan mereka berdua untuk ikut jalan-jalan entah kemana itu. Widya tertunduk saat lehernya dicumbu pelan oleh pak Herman dari arah samping kanannya. Sementara pak Narto masih diam memperhatikan.

Di cangkupnya pipi Widya oleh pak Herman untuk membantu cumbuannya lebih dalam lagi karna sekarang bagian bibir. Lumatan demi lumatan diberikan dengan beruntun oleh pak Herman pada bibir lembut Widya. Korban pun hanya bisa membalas setiap sedotan bibir yang nikmat itu. Widya mulai terlena oleh rangsangan yang dikasih oleh pak Herman pada bibirnya ditambah kedua payudaranya dirangsang pula oleh remasan tangan pak Narto.

“eeegggghhhh….Eeggghhhh…”, lenguh Widya tertahan.

3 menit berlalu saat kedua pria tersebut merangsang tubuh Widya dengan intensnya, bahkan karna rangsangan yang diberikan sempat membuat Widya menggerakkan tangannya mengelus tonjolan keras di balik celana pak Herman dan pak Narto menggunakan tangan lembutnya itu, namun karna memang mereka berdua berniat mempermainkan nafsu Widya jadinya mereka langsung menghentikan aktivitasnya saat merangsang tubuh Widya.

“Pak…”, lirih Widya menatap keduanya.

“Hahahaha…bu Widya sudah ga tahan lagi ya? Hahaha…. Kalo ibu mau kita lanjutkan, sekarang bu Widy ganti pakaiannya dan kita segera pergi”, ucap pak Herman.
”tapi untuk pakaian yang akan bu Widya pakai biar kami yang memilih”, sambung pak Narto menimpali.

Dituntun oleh kedua prianya Widya berjalan masuk dengan langkah pelan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar Widya membuka lemari pakaiannya dan saat itu juga pak Herman dan pak Narto memilah pakaian yang cocok untuk di kenakan.

Pakaian simpel, namun terlihat seksi akibat bahan bajunya yang tipis dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sedangkan untuk bagian celana juga hampir sama dengan menonjolkan bongkahan pantat Widya yang menggiurkan itu.

Widya berdiri di depan kaca besar yang ada di kamarnya, disuruh untuk memperhatikan penampilannya sendiri oleh pak Herman. Sebenarnya baik pak Herman maupun pak Narto sudah merasa tak tahan jika tak menikmati tubuh Widya, namun sebisa mungkin mereka tahan dulu. Seperti halnya pak Herman saat melihat lekuk tubuh Widya rasnya dirinya ingin meremas dan menampar nikmat payudara dan pantat Widya.

“Sudah, kita langsung berangkat saja. Pakai mobil saya”, ucap pak Herman mengambil tangan Widya pada genggaman tangannya.
“Kita mau kemana, mas?”, tanya Widya pada pak Herman.
“Kita akan mengajak bu Widya merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya”, jawab pak Herman yang samar maksudnya bagi Widya itu.
“ini bakal jadi pengalaman pertama juga buat bapak kan?”, tanyanya pada pak Narto.
“Iya, pak. Soalnya saya ga pernah ajak istri buat lakuin hal yang kaya gitu”
“ini jadi kesempatan bapak juga buat merasakannya dengan bu Widya. Oke, langsung saja”, pak Herman menarik lembut tangan Widya untuk segera berangkat.

“Sebentar, mas saya mau kunci pintu rumah dulu”, sergah Widya.
“Biarin aja, bu. Nanti kalau rumahnya di acak-acak pencuri biar jadi tanggung jawabnya pak Narto, lagian apa artinya sebuah harta, orang tubuh ibu aja udah di acak-acak orang juga bu Widya ga masalah kok. Hehehe…”

“kenapa tanggung jawab saya, pak? Saya kan lagi libur”, protes pak Narto.
“sini kuncinya, bu biar saya saja yang kunci”, sambung pak Narto.

Widya masuk ke dalam mobil keluarga milik pak Herma dan dirinya duduk di depan, sementara pak Narto masuk duduk di bangku tengah. Tanpa membuang banyak waktu pak Herman menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke tempat yang sudah direncanakan.

Selama di dalam mobil Widya terus bertanya-tanya sebenarnya dirinya akan dibawa kemana dan apa yang direncanakan oleh pak Herman dan pak Narto terhadap dirinya. Entah kenapa Widya semakin sering bisa merasakan nafsu nya cepat naik dan cepat terangsang akan sesuatu hal. Semuanya mulai berubah menjadi seperti itu ketika tubuhnya mulai sering dinikmati oleh pak Narto dan kian bertambah saat masuknya pak Herman ke dalam lingkaran nafsu yang sedang terjadi di hidupnya.

Tak ada sentuhan mesum yang terjadi pada Widya selama perjalanan menuju tempat tujuan. Mereka berdua hanya berbicara biasa seperti tak pernah ada rahasia yang ada pernah terjadi. Karna hal tersebutlah nafsu yang sebelumnya Widya rasakan tengah meledak-ledak perlahan mulai reda demgan sendirinya akibat suasana santai yang ada.

“Coba sekarang bu Widya belikan saya rokok di warung itu, bu”, tunjuk pak Herman ke arah warung yang dipenuhi driver Online yang sedang nongkrong menunggu orderan.
“rokok yang ini ya, bu dan ini uangnya”

Widya merasa tak ada yang aneh dengan dirinya maupun penampilannya sehingga tanpa masalah ia terima permintaan pak Herman untuk membelikannya rokok di warung tersebut.

“Maaf, bu tolong rokok yang ini”, ucap Widya.
“Sebentar ya, mbak ini saya lagi layanin pembeli yang ini dulu”, balas penjual.

Widya harus menunggu pembeli yang terlebih duku itu selesai dan saat itu Widya baru saja merasakan hal aneh pada dirinya karna tatapan para pria yang ada disana sering mencuri pandang atas tubuhnya. Widya sedikit berpikir sambil sesekali merapikan pakaiannya, mengamati apa ada yang salah?

Ternyata Widy sadar bahwa pakaian yang ia gunakan lumayan tembus pandang dimana Bra hitamnya terlihat dari luar. Widya mulai sedikit panik akan hal tersebut, apalagi pembeli di depannya masih belum selesai.

“Aduh, kenapa aku baru sadar sih kalo pak Herman tadi pilih baju ini buat aku pakai. Cepetan dong selesai…”

“Ga dingin mbak pakai baju tipis kaya gitu sampe Branya kelihatan jelas loh dari balik baju”
“itu juga emang ga kesempitan, mbak baju sama celananya?”, ucap yang lainnya.

Sementara itu pak Herman dan pak Narto melihat dari dalam mobil dengan tertawa puas karna berhasil mengerjai Widya. Dilihatnya sekarang beberapa pria berdiri di sekitar Widya, entah apa yang mereka bicarakan, yang bisa dilihat dari dalam mobil hanya ada salah satu tangan yang meremas pantat Widya dan hal tersebut langsung membuat pak Herman melajukan mobilnya mendekat ke arah warung.

TIN!!! TIN!!!

“udah belum, mah?”, tanya pak Herman memanggil Widya sebagai istrinya. Para pria yang tertipu bahwa wanita yang ada di depannya itu sudah ada bersuami langsung menghindar.

“Bapak kenapa ga bilang kalo baju yang saya pakai sangat tipis?”, kesal Widya pada pak Herman sesaat setelah sampai di parkiran basemen salah satu pusat perbelanjaan.
“Lah saya kira bu Widya sudah tau. Lagian tadi bu Widya kan melihat oenampilan sendiri di depan cermin. Masa bisa-bisanya ibu malah baru sadar”

Mereka turun dari mobil dari naik meninggalkan parkiran. Hari itu memang sedang hari libur dimana perbelanjaan yang Widya kunjungi ramai dengan pengunjung. Pak Narto yang memang tampang mesum sering jelalatan matanya melihat para pengunjung wanita yang ia lihat disana.

“udah ada bu Widya masih aja jelalatan matanya, pak”, pak Narto hanya cengengesan.

“sekarang kita makan aja dulu. Bu Widya mau makan apa?”, tawar pak Herman.
“Terserah bapak aja, saya ngikut”

Setelah pesanan datang mereka langsung menyantapnya. Namun hal iseng dilakukan oleh pak Herman dimana saat Widya tengah makan dia mengeluarkan sebuah remote kecil dari saku jaketnya dan memencet tombol ON. “Dddrrrrttttttt….” Tiba-tiba tubuh Widya terlihat menegang dan tangannya mengepal keras di atas meja. Mulutnya terkatup rapat mencoba menahan suaranya supaya tak terdengar keluar.

Ya, sebelum keluar dari dalam mobil tadi pak Herman memasangkan sebuah Vibrator elektrik di dalam selangkangan Widya dan vibrator tersebut dikendalikan oleh sebuah remot.

“Eeggghhhh….”, Widya memejamkan matanya karna getaran di selangkangannya itu, lalu menatap tajam ke arah pak Herman.

Selama di dalam pusat perbelanjaan tersebut banyak mata yang memandang ke arah Widya karna cara berjalannya yang aneh dan terlihat lemas akibat pak Herman selalu menyalakan vibrator yang tertanam di dalam memek Widya. Widya di rangkul oleh pak Herman karna Widya tak bisa mengontrol tubuhnya yang lemas. Badannya sering bergetar dan payudaranya terlihat semakin membusung karna birahi.

Bahkan pak Herman sampai memakaikan jaket yang ia pakai di pinggang Widya karena celana Widya basah akibat orgasme yang keluar di tempat umum beberapa kali.

Cukup lama Widya dipermainkan dan dipaksa untuk bertindak Eksib oleh pak Herman. Pak Narto yang tak terlalu tau akan benda-benda seperti vibrator hanya diam menikmati tiap tubuh Widya bergetar melepaskan cairan kenikmatannya di tempat umum itu.

Mereka tiba di rumah Widya tepat sehabis Isya. Dengan tubuh yang lemas akibat orgasme berkali-kali dan celananya yang sudah sangat basah oleh cairannya sendiri, Widya dipapah masuk oleh kedua pria tersebut. Sesampainya di dalam rumah pak Herman langsung mencumbu bibir Widya dengan kasar dan tangannya meremas-remas payudara yang sedari sore menggodanya.

“Eeggghhhh….Eeggghhhh….”
“ssllurrrpp….ssllluuurrrppp…”

Pak Herman mengangkat tubuh Widya untuk digendong depan olehnya dan membawanya ke dalam kamar. Di dalam sana bibir Widya kembali menjadi sasaran dan satu persatu pakaian Widya dilepaskan oleh pak Herman sampai tak menyisihkan satupun, alias telanjang bulat.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Di sedotnya puting payudara Widya secara bergantian sambil meremas gemas. Puas dengan payudara, tangan pak Herman meraba selangkangan Widya dan menarik lepas vibrator kecil yang tertanam di dalamnya. Selanjutnya 3 haru pak Herman mengocok cepat memek Widya hingga cairan kewanitaannya keluar dengan derasnya membasahi lengan pak Herman.

“saya sudah ga tahan lagi pengen sodok memek ibu lagi”, ucap pak Herman bergetar menahan nafsu.
“Terima kontol saya ini, bu”

BLES!!!

“AAAKKKKHHHH!!!!!”

Gerakan keluar masuk kontol pak Herman langsung berada di tingkat yang cepat. Dirinya sudah sangat ingin menuntaskan hasratnya pada tubuh tetangganya itu. Pak Herman melakukan gerakan maju mundur menumbukkan kontolnya pada memek Widya dalam posisi berdiri saling berhadapan, hanya saja satu kaki Widya diangkat olehnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“aaakkkkkkhhhh…..ssshhh…memek ibu memang juara. Ssshhhhh…beruntung banget saya punya tetangga kaya bu Widya ini. Ssshhhh….selain seksi, cantik. Sssshhhhh….bisa dipakai pula. Aakkkhhhh….ssshhhhh….”, racau kotor pak Herman.
“tolong pelan, masss….Aaakkhhhhhssss….punya saya ngilu…ssshhhhh….”, mohon Widya akibat orgasme berkali-kali.
“udah nikmati aja kontol saya ini, bu. Ssshhhh….nikmati saja”

Pak Narto? Dia mendekat ke arah Widya dengan batang kontolnya yang tak kalah keras juga. Ia berdiri tepat dibelakang Widya, dengan melumasi batang tersebut dengan ludahnya sendiri pak Narto menurunkan sedikit tubuhnya dan mengarahkannya pada lubang pantat Widya.

“AAAKKKHHHH!!!”, Widya memekik kaget saat batang lain menyentak masuk dengan perlahan ke dalam lubang pantatnya hingga masuk sempurna.

“Aaakkkhhhh….kangen sama sama pantat bu Widya ini”, seru pak Narto berhasil memasuki lubang belang Widya kembali setelah lama tak ia rasakan.
“kita hajar lubangnya bareng-bareng, pak”, tambahnya pada pak Herman.
“Terserah kamu aja, pak yang jelas saya sudah ga tahan sama bu Widya ini. Ssshhhhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Kedua batang pria tersebut bergerak secara bergantian layaknya piston pada kendaraan. Widya yang diserang dari dua lubangnya mengerang dan mendesah kenikmatan dibuatnya. Tubuhnya lunglai diantara tubuh kedua prianya. Selangkangan Widya yang sudah basah semakin menjadi basah, cairan putih yang menetes dari sela gesekan kian berubah mencari cairan putih kewanitaannya.

“Aaakkkhhsssss….ssshhhhh…paaaakkkk…mmmaass….ssshhhh….”, Widya dibuat melayang.
“gimana rasnya, bu di genjot dua lubangnya sekaligus lagi? Aakkkhhhh….asli ini enak banget. Sssshhhhh….”, racau pak Narto.

Tubuh Widya bergetar. Dalam keadaan tengah di double penetrasi itu Widy kembali mengalami orgasmenya yang sudah tak terhitung berapa kali untuk hari itu.

“Bu Widya keluar lagi? Mantap betul memang perempuan satu ini”, ucap pak Herman merasakan batang kontolnya disemprot cairan hangat.

Pak Herman menarik lepas kontolnya sehingga banyak cairan orgasme Widya yang mengucur keluar membasahi lantai kamarnya. Pak Herman menyuruh pak Narto untuk bergantian menikmati tubuh Widya dengan di suruhnya Widya untuk berdiri setengah badan. Kedua kakinya di lantai dan setengah tubuhnya tergelatak lemas di atas kasur. Pak Herman mencoba untuk me-doggy Widya.

BLES!!!

Kembali lubang memeknya di sodok oleh kontol pak Herman. Tubuhnya yang sudah lemas hanya bisa mengeluarkan desahan nikmat dari mulutnya. Pak Narto yang menonton mengocok pelan kontolnya dan pergi beranjak ke dapur untuk mengambil minum.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pantat putih mulusnya terus saja digampar oleh kulit selangkang pak Herman sampai menimbulkan suara yang sangat nyaring menggema di ruangan tersebut. Widya sudah terlihat layaknya gumpalan daging tanpa tulang yang hanya bisa menerima setiap tusukan nikmat dari pejantannya itu.

Pak Herman menggoyangkan pinggulnya menghunjamkan kemaluannya ke arah memek Widya dengan cepat. Tanpa membutuhkan waktu yang lama karena mungkin Widya sudah dibuat mayang akan kenikmatan dan juga sudah berkali-kali orgasme sehingga Widya mendesah dengan keras seakan ingin mencapai puncak orgasme nya kembali langsung.

“Ooogghhh…. Aaakkkkkkhhhh…. Aaakkkhhhh…. sssshhhhh……..”, desis Widya.

Pak Herman menurunkan sedikit badannya dan bertanya tepat di telinga Widya, “enak kan, bu?”. Widya mengangguk lemah sambil tubuhnya terus berguncang akibat sodokan pak Herman.

“sssshhhhh…. Ooohhhhhsss…. Sssshhhhh…“

“AHHHHH… SSSHHHH…. IYAAAHHH IYAHHHHH….TERUSSS MAASSS….“, kali ini ketika Widya berada di puncak seperti itu, Pak Herman melepaskan senjatanya dari dalam memek Widya sehingga Widya mengadu kesal untuk dimasukkan kembali.

“JANGANNN DICABUT DONG, MASSS!!! AKU MOHONNNNNNNNNN!!!”, Pak Herman diam menatap.

Widya yang tengah terengah-engah melangkah turun dari posisi menunggingnya berbalik ke arah batang kontol Pak Herman dan langsung menggenggamnya untuk dikulumnya, namun Pak Herman menepisnya. Pak Herman malah membalikkan kembali Widya untuk berposisi menungging kembali dan tanpa banyak bicara pak Herman mengarahkan ujung kontolnya di depan memek Widya.

BLES!!!

Di telan masuk batang kontol tersebut hingga masuk seutuhnya kembali menyumbat penuh lubang rahim milik Widya. Di hujamkannya senjata itu secara bertubi-tubi ke dalam kemaluan Widya tanpa ada tempo yang mengendur.

Sementara pak Narto yang sudah kembali dari dapur langsung ikut bergabung sambil mengarahkan senjatanya ke depan mulut Widya. Cepat saja oleh Widya langsung dilahap masuk hingga pangkal. Tubuhnya yang tengah bergerak maju mundur mengikuti ritme genjotan pak Herman membuat Widya sedikit terbantu saat mengulum batang kontol pak Narto di dalam mulutnya itu.

Sambil terus berusaha berkonsentrasi menghisap senjata pak Narto, Widya mendesis kenikmatan yang memang sudah berkali-kali membuatnya melayang jauh. Dalam posisi seperti itu berlangsung cukup lama dimana Widya tengah diserang dari dua arah. Pertahanan Widya juga berhasil dikalahkan oleh keduanya saat orgasmenya jebol untuk ke sekian kalinya.

Rintihan demi rintihan terdengar keluar dari mulut Widya, “hhhmmppphhhh…. huffhfhhh…. sshhhmmm….. sshhhmmm…. hmppffhh…”

Karena mulutnya yang tengah di jejali kontol milik pak Narto membuat Widya sangat sulit untuk merintih secara bebas. Dirasa oleh Widy darahnya berdesir, jantungnya berdegup kencang sekali dan nafsunya meningkat secara drastis dari sebelumnya karena rasa puncak orgasmenya akan segera ia capai kembali. Kepalanya menggeleng kencang tak tahan dengan rasa nikmat yang sungguh sangat menyiksanya itu rasanya Widya ingin berteriak dengan sangat keras meluapkan semua nikmatnya.

Batang kontol milik pak Narto kini telah terlepas dari mulut Widya dan kini tangan Widya sibuk mengocok batang pak Narto dimana orangnya sendiri hanya diam menikmati servis yang diberikan oleh janda anak satu itu.

“enak sekali kocokkanmu, bu….sssshhhhh….tangan ibu rasanya sangat lembut. Kocok terus, sayang. Ssshhhh….”, puji pak Narto.
“Bu Widya….ssshhhhh….terlihat sangat seksi sekali di posisi ini….aaakkkkkkhhhh….ssshhhhh….”, imbuh pak Herman yang tengah menikmati sempitnya memek Widya.

Widya nampak semakin membara nafsunya setelah dipuji seperti itu oleh mereka berulang-ulang. Bahkan pujian dengan kata-kata kotor pun bisa diterima oleh Widya seakan pujian yang masuk itu sebagai bahan bakar untuk memacu nafsunya lebih naik dan dengan artian Widya tengah tak bisa membedakan mana pujian serta mana yang namanya pelecehan.

“Ooouuugghhh…. Manntaapppp…. ennnakkkk… terusshhhh…. ssshhhhh…. ugggghhhh…. Aakkkhhhh…. Ssshhhh…… enakkk…. terusss….. lagi….”

“Kita keluar bareng, bu. Ssshhhh….saya….saya juga udah mau keluar. Ssshhhh….”, racau pak Herman mengentak-entakkan pinggulnya.

Terlihat Widya semakin tak fokus saat mengocok senjata pak Narto ditangannya karna orgasme yang akan jebol kembali. Mengerti akan kondisi Widya yang akan mencapai kenikmatannya, pak Narto membantu Widya dengan meremas gemas kedua payudara Widya yang tergantung bebas dibayang sana bergoyang mengikuti sodokan kontol pak Herman.

“AAAKKKKHHHH…..SAYA KELUAR, MAAASS!!!”, erang Widya mengeluarkan semua cairan orgasmenya.

“SAYA JUGA KELUAR, WIDYA KUUUHHHH….AAKKKKKHHHH….SSSHHHHH….”

SYUURRRR!!!!

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Pak Herman terlihat beberapa kali menghentakkan masuk dengan keras kontolnya mencoba memasukkan semua peju nya sedalam mungkin mengisi rahim Widya. Rahim yang sedang mengandung seorang jabang bayi di dalamnya, entah benih siapa yang berhasil membuahi, namun yang jelas janin tersebut tetaplah darah daging Widya.

Tubuh pak Herman ambruk menimpa tubuh telanjang Widya dan sontak saja batang kontol pak Narto terlepas dari genggaman Widya. Suara nafas yang tak beraturan terdengar dari keduanya. Rasa lengket akibat keringat tak dihiraukan oleh keduanya.

“Sekarang giliran, pak Narto”, ucap pak Herman sambil menarik lepas kontolnya yang sudah dalam keadaan setengah tegak.

Tanpa merubah posisi Widya yang masih tengkurap di atas ranjang, pak Narto memosisikan tubuhnya diatas bongkahan pantat Widya dan, BLES!!! Lubang memek Widya kembali diisi oleh batang keduanya yang sudah siap menyemprotkan muatannya ke dalam rahim.

PLAK!!! PLAK!!!

Ditamparnya beberapa kali kulit pantat Widya hingga memerah membuat pemiliknya memekik merasakan perih pada permukaan kulitnya. Pak Narto mulai menggenjot selangkangan Widya, mengeluar masukkan batangnya dibawah sana. Rasa perih yang di dapat Widya saat di tampar oleh pak Narto berubah dengan cepat menjadi sebuah rasa nikmat.

“Aaaakkkkhhh…..akkkkhhhh….ssshhhhh…baru di sodok sama kontol pak Herman, tapi memekmu masih saja terasa sempit begini, bu. Aaakkkhhhh….ssshhhhh….memang hebat bu Widya ini. Ssshhhh….”

Pak Narto mengecup ujung kepala Widya dengan pinggulnya terus naik turun diatas bongkahan pantat Widya. “Kita selesaikan ini dengan cepat, bu. Nanti malah anakmu lihat ibunya lagi digenjot kontol. Sssshhhhh….”, Widya mengangguk kecil.

Pak Narto menaikkan ritme genjotannya. Suara derit kasur busa yang dipakai untuk pergumulan mereka terdengar keras. Keringat menetes deras dari dahi pak Narto.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“memek ibu memang yang terbaik. Aaakkkhhhh….ssshhhhh…”
“cepat, pak. Saya….saya sudah ga kuat. Aaakkkhhhh….akkkkhhhh….Evan…Evan bentar lagi pulang. Ssshhhhh….aaakkkkkkhhhh…”
“Memangnya kenapa kalo Evan pulang? Ssshhhhh…..”, pancing pak Narto.
“Saya…aaakkkkkkhhhh….saya ga mau Evan liat mamahnya lagi dientotin orang. Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….”, jawab Widya.
“memangnya ibu sedang ngentot sekarang?”
“Iya…Iyaaahhh….saya lagi dientotin sama kontol pak Narto. Ssshhhhh….kontol mas Herman jugaaahh….ssshhhhh….akkkkhhhh….”

Sebelumnya telah mendapatkan servis dari mulut Widya membuat pak Narto merasakan bahwa dirinya akan segera keluar. Genjotan pinggulnya makin di percepat dengan sebelumnya posisi Widya dibalik untuk terlentang mengangkang tanpa melepas batang kontolnya dari dalam memek Widya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkkkkhhhh….pengen keluar. Ssshhhh….sialan ini memek janda…kenapa bisa enak banget. Aaakkkkkkhhhh….ssshhhhh….”
“Aaakkkhhhh….akkkkhhhh…..akkkkhhhh…..”, desah Widya di tengah genjotan pak Narto.

Satu tangan pak Narto meremas kencang payudara Widya saat sedang mengejar kenikmatannya yang akan dia raih. Ritme keluar masuk kontol pak Narto di dalam memek Widya semakin cepat dan terlihat pula dari kelamin mereka yang tenaga saling memuaskan sebuah buih busa yang terbentuk dari sisa peju milik pak Herman sebelumnya dengan cairan orgasme Widya yang tertumbuk oleh senjata pak Narto. Akhirnya dalam sekali sentakkan keras, pak Narto menembakkan benih-benih anaknya ke dalam rahim Widya dengan banyaknya.

“AAAKKKKHHHH!!!! KELUAR PEKUKU….LONTEKU SAYANG….AAAKKKHHHSSS……”, erang pak Narto menikmati orgasmenya. Pantatnya mengedut keras menabrak masuk ke dalam selangkangan Widya.
“EEGGGHHHH!!!!”, Pekik kaget Widya saat betapa kuatnya semburan peju milik pak Narto yang tengah mengisi penuh rahimnya sampai-sampai Widya terbelalak.

Sekitar satu menit pak Narto membiarkan kontolnya tetap bersarang didalam memek Widya hingga dirasa puas menikmati kedutan lubang sempit itu, pak Narto menarik keluar menyisakan lubang peranakan yang mengalir cairan putih kental dengan banyak.

“Tolong dibersihkan kontol saya ini, bu”, ucap pak Narto mendekatkan batangnya di depan bibir Widya dengan sebelumnya pak Narto terlebih dahulu menepuk-tepukan batangnya itu di sekujur wajah Widya. Dahi, kedua mata, pipi dan bibir.

SLURP!!! SLURP!!!

PLOP!!!

“akkkkhhhh….puas banget saya, bu”

Pak Herman keluar dari arah kamar mandi sambil membawa sebuah Dildo milik Widya yang siang tadi tertinggal di dalam. Pak Herman membuka kembali kedua kaki Widya dan, BLES!!! Pak Herman memasukkan penuh Dildo karet tersebut ke dalam memek Widya.

CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!! Dikocoknya juga memek Widya dengan benda tersebut sehingga cairan peju yang sudah memenuhi rahimnya itu terpompa keluar hingga meleleh membasahi seprei kasurnya.

Pak Herman mengecup lembut bibir dan dahi Widya dengan lembut. Pak Narto mencium kedua puting Widya dan mengemutnya sebentar. Naik ke atas lalu memberikan sebuah cupangan di leher putih Widya.

Setelahnya pak Herman membenarkan posisi Widya dan menutupi tubuh telanjangnya menggunakan selimut.

Pak Herman menatap wajah Widya yang sudah tertidur pulas akibat kecapean setelah dipaksa untuk orgasme berulang kali. Pak Herman dan pak Narto pergi meninggalkan kamar dan rumah Widya tanpa mencabut Dildo yang masih berada di memek Widya itu.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part