. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 14 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 14

0
444

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 14

Lingkaran Nafsu Manusia

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

Dijelaskan dengan rinci oleh pak Herman di rumah tetangganya itu dimana sang istri, Nonik sedang tak ada di rumah mengenai apa hubungan pria tersebut dengan pak Narto saat terlihat sudah merencanakan sesuatu terhadap dirinya. Bahwa pak Herman siang hari setelah kejadian malam dimana pak Herman memergoki Widya tengah disetubuhi oleh pak Narto, pak Herman menghampiri satpam tua tersebut di pos jaganya.

Pak Herman mengancam akan menyebar luaskan rekaman saat bermain bersama Widya jika tak mau untuk diajak bekerja sama. Pak Narto yang dijelaskan rencana kerja sama yang dibicarakan oleh pak Herman tak terlalu keberatan dimana pak Herman hanya mengajaknya untuk bisa membagi tubuh Widya terhadapnya.

“Jika keinginan pak Herman seperti itu seharusnya tak harus mengancam. Bilang saja dan saya juga tak akan melarangnya”. Seperti itulah jawaban pak Narto pada pak Herman di dalam pos jaganya.

Tanpa diketahui oleh pak Narto sebenarnya ada satu hal penting yang sama sekali tak diungkapkan oleh pak Herman siang itu. Sebuah fakta dimana ia telah bekerja sama dengan orang lain juga. Bekerja sama dan dengan siapa itulah yang tak di umbar olehnya. Terlepas dari pak Herman jika memberi tahu pak Narto maka urusannya dengan orang rahasianya itu akan terbongkar dan rencana yang sudah disusun akan gagal.

Pak Herman 1 diantara 1 orang lainnya yang digunakan oleh orang rahasia itu sebagai bidak caturnya.

Penjelasan yang dikasih oleh pak Herman lumayan panjang dan Widya pun akhirnya mengerti akan situasi yang membingungkan baginya itu. Dari penjelasan yang ia terima bisa disimpulkan berarti Widya harus siap untuk memuaskan nafsu kedua pria tersebut karna memang sudah sangat pasti mereka berdua akan memintanya.

Namun bukan berarti Widya juga akan menyerahkan tubuhnya begitu saja. Di hari itupun juga Widya mengajukan salah satu syarat yang ia layangkan kepada kedua pria tersebut untuk membantu urusannya. Saat Widya mengucapkan syarat yang ia keluarkan tak ayal membuat pak Narto kaget dengan rencana Widya. Rasa kaget juga juga dirasakan oleh pak Herman dimana dia baru mengetahui rahasia yang baru ia dengar dari wanita yang ia idamkan itu. Apakah itu?

“ibu serius?”, tanya pak Narto dan dibalas dengan anggukan kepala yang mantap oleh Widya.
“Baiklah, bu jika itu yang bu Widya inginkan….saya akan ikut membantu asalkan saya dikasih jatah rutin. Hehehe…”, timpal pak Herman. Secara tak langsung dalam kesepakatan tersebut Widya telah menjual tubuhnya pada kedua pria tersebut demi niat rencana yang ia harapkan untuk memperlancarnya.

“Kapan kita harus memulainya dan dengan cara apa, bu?”, tanya pak Narto.
“secepatnya dan untuk caranya akan saya berikan nanti”
“kalau begitu mumpung Nonik sedang hadir di pertemuan wali murid di sekolah… Saya pengen satu atau dua ronde dulu, bu”, ucap pak Herman yang langsung bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh Widya dari belakang. Tangannya meremas kedua buah daging kenyal yang menggairahkan. Widya mendesah saat mendapatkan serangan kejutan itu.

“Ssshhhh….paaaakkkk”

“Tongkat saya udah sakit, bu dari tadi ngaceng terus liat susu bu Widya ini”, pak Herman meremas gemas payudara Widya dengan jemarinya mengusap mencari titik puting Widya yang masih terbalut Bra dan baju. Mulutnya mencumbu leher jenjang putih Widya.
“Kalo gitu juga saya ikutan gabung, bu. Mumpung shift jaga saya hari ini masuk siang jadi masih banyak waktu buat olahraga pagi yang enak”, sahut pak Narto berjongkok di depan selangkangan Widya yang terbuka dan mengelus area tersebut dari balik celana yang masih melekat.

Diserang atas bawah oleh kedua orang membuat Widya makin belingsatan. Desahan terdengar dari mulut Widya yang kini dibungkam oleh lumatan pak Herman. Tubuhnya mulai memanas karna nafsu yang dipaksa untuk naik secara perlahan oleh perlakuan kedua prianya itu.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

Suara yang ditimbulkan saat mulut pak Herman dan Widya saling melumat dalam buaian kenikmatannya. Begitu juga suara yang ditimbulkan saat mulut mulut pak Narti menyedot kuat selangkangan Widya setelah pakaian bawahnya telah dilepas habis.

Sementara itu di waktu yang jauh sebelumnya, disaat pak Herman masih belum terlibat langsung dalam lingkaran kenikmatan pada tubuh Widya dan waktu dimana selang beberapa hari setelah kepulangan pak Kasno ke kampungnya halamannya kembali.

EVAN

Malam itu Evan berniat berburu tugas kuliahnya di rumah teman kelasnya dan tak akan pulang malam itu. Saat dirinya tiduran di atas kasur dengan matanya fokus di depan layar laptopnya mencari bahan dan yang lain juga fokus dengan tugasnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka memperlihatkan sosok wanita paruh baya dan memberi kode kepada sang anak untuk berbicara empat mata.

Tak lama temannya itu kembali, “Sorry nih. Tugasnya kita tunda dulu ya, gue ada urusan mendadak”. Dan saat pun juga Evan beserta temannya yang lain memutuskan untuk pulang.

Saat Evan sampai di depan gerbang rumahnya ternyata pintu gerbang sudah di kunci dan kebetulan malam itu Evan tak membawa kunci lainnya. Alhasil Evan seperti maling di rumahnya sendiri dengan memanjat pagar. Dilihatnya satu pasang sepatu hitam tergeletak diatas keset terasnya.

“Ruang tamu kan di depan kenapa ada tamu lampunya mati?”, pikir Evan tak memikirkan hal lain.
“ck!!! Kunci rumah juga lupa bawa”, berdecap kesal sambil merogoh saku celananya.

Evan memutuskan untuk mengambil jalan memutar lewat halaman samping dimana pintu belakang yang tak terkunci akibat rusak dan belum sempat di perbaiki.

CEKLEK!!!

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Masuknya Evan langsung disambut suara aneh dari arah dalam rumahnya. Evan yang lagi-lagi tak terlintas pikiran aneh hanya menangkap suara tersebut sebagai suara mamahnya tengah membuat adonan kue.

“ada pesanan kue juga kah? Kenapa di kerjakan malam-malam begini sih, mah”

Evan melangkahkan kakinya masuk untuk menemui mamahnya di dapur. Sementara jika ke dapur dari arah belakang harus melewati ruang makan, dimana ruang makan tersebut terhubung langsung dengan ruang tengah dan apa yang Evan lihat membuatnya menelan ludah serta tatapan terkejut.

Dilihatnya dengan jelas sang mamahnya tengah ditunggangi oleh pria tua yang ia kenal sebagai satpam Komplek. Pak Narto tengah mendoggy mamahnya dengan gerakan kasar. Sementara mamahnya mendesah dibuatnya dengan kedua tangan bertumpu di atas meja kecil.

“Ssshhhh….sshhhh….paaaakkkk….”, suara mamahnya kian terdengar jelas diantara langkah kakinya yang di dekatkan ke arah riang makan.

Saat batang besar milik pak Narto bergerak makin bertenaga bisa di saksikan dengan jelas oleh Evan saat mamahnya sendiri tengah di Setubuhi itu. Kedua buah payudaranya yang tergantung bebas terlihat sangat menggairahkan bergoyang mengikuti tiap sodokan keras dari pinggul pria tua tersebut. Evan yang sedang terdiam melihat pemandangan buah dada mamahnya sendiri yang tengah terumbang ambing kemudian diremasnya oleh pak Narto.

Saat mamahnya tengah mendesah dan mengerang, rambutnya panjangnya kala itu dijambak dari belakang oleh pak Narto sebagai tali kekangnya. Kejadian yang hanya Evan lihat di dalam video porno, kini di depan matanya ia bisa melihatnya secara langsung di dunianya dan bahkan perempuan yang diperlakukan seperti itu bukan lain sosok mamahnya sendiri. Marah, kecewa namun Evan juga pria biasa seperti umumnya. Walau tetap salah, namun apa yang ia rasakan tak bisa dihindari. Rasa ikut terangsang melihat adegan intim itu.

Tubuh sang mamah yang telanjang bulat dalam keadaan tengah memaju birahinya bersama pria yang bukan ayahnya sendiri mengingatkan Evan pada kejadian beberapa tahun silam saat dirinya masih kecil. Kejadian saat untuk pertama kalinya sang mamah di sentuh keseluruhannya oleh pria tua di suatu desa, pak Mitro.

“Badan mamah tak berubah dari pertama kali gue lihat pas kecil dulu”, batin Evan sedikit terlena dengan pemandangan yang ia lihat.

Kini pak Narto satu tangannya terlihat meremas keras payudara Widya. Dalam keadaan setengah berdiri diatas sofa ruang tengahnya. Tubuhnya terlonjak ke depan mengikuti setiap dorongan pantat pak Narto di pantatnya yang menantang untuk di tampar.

“Ssshhhhh….enak banget memekmu, bu. Aaakkksssshhhhh….ketagihan saya kalau begini enaknya dan sempitnya. Aaakkkhhhh…sshhhhh….kaya memek perawan….”, desah pak Narto yang bisa di dengar oleh Evan, tak terlalu keras.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dari suara benturan kulit dan gerakan tiap sodokan sangat terlihat oleh Evan bahwa pria tua tersebut sangat menikmati momennya saat Setubuhi tubuh mamahnya itu. Rasanya ingin pergi melabrak kedua manusia itu yang tengah bersatu, namun Evan mengambil keputusannya secara sadar penuh agar tetap diam melihat. Evan ingin mengamati seberapa jauh tindakan pak Narto terhadap mamah Widyanya itu.

“Aku ga sangka, mah. Evan sangat kecewa dengan apa yang mamah lakukan di hadapan mata kepala Evan ini”, batin Evan tetap diam melihat di tempatnya.

Puas dalam posisi tersebut, pak Narto melepas kembali jambakan pada rambut Widya dan mencabut batang kontolnya yang sudah sangat basah di lumuri oleh cairan kewanitaan Widya. Namun tak menunggu waktu yang lama, pal Narto memberi sebuah kejutan dimana pak Narto demgan cepat menusukkan kembali batang kontolnya masuk ke dalam lubang memek Widya dengan sekali sentak.

“AAKKKKHHHHH!!!!”, erang Widya merasa sedikit nyeri akibat serangan keras pak Narto.
“pak!!!”, sambung tegas Widya, namun pak Narto langsung menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Widya yang seperti tak dikasih waktu untuk bernafas dengan bebas karna langsung digenjot kembali oleh pak Narto hanya bisa mengerang serta mendesah nikmat dari tiap sodokan kontol yang diberikan secara penuh oleh pak Narto.

Apa yang pernah di lakukan oleh Evan saat kecil kembali akan terulang dimana dirinya sudah sangat terangsang oleh tubuh mamahnya itu dengan menarik turun resleting celananya dan mengeluarkan batang kontolnya yang sudah sangat tengah di dalamannya sejak tadi. Evan kembali beronani sambil melihat tubuh mamahnya sendiri, namun kali ini berbeda. Beronani bukan saat mamahnya mandi, melainkan saat mamahnya di Setubuhi dengan kasar oleh pria yang seukuran dengan kakeknya itu.

“Mamah udah bikin Evan kecewa. Sekarang Evan juga bakal buat mamah kecewa sama Evan. Ssshhhh… Evan kocok kontol Evan sambil liatin mamah yang lagi di entotin sama pak Narto. Ssshhhh….ssshhhhh….”, dari tempatnya mengintip mata Evan fokus menatap ke arah mamahnya sambil tangannya bermain di selangkangannya.

“Oowwsshhhh….pak…terus pak, lebih keras lagi. Sshhhhh…ya seperti itu, pak. Teruss….aakkhh…”, racau Widya makin liar.
“ibu suka dientot kontol besar? Ibu suka dikasari kaya gini?”
“Iya…iya saya suka pak. Terus pak. Ssshhh…teruussss….”

Untuk pertama kalinya juga Evan melihat mamahnya bertindak sangat liar seperti apa yang ia lihat dan ia dengar. Evan tak bisa menyembunyikan laju nafasnya yang kian memburu dengan apa yang dilihatnya itu.

“mah….sssshhhhh….binal juga kamu ternyata, mah. Ssshhhh….Evan sama sekali ga sangka mamah suka kontol. Aaakkkhhhh….ssshhhhh…”, racau Evan.

Evan tetap fokus memperhatikan mamahnya dengan pak narto dan akhirnya tersengar demgan sangat jelas kembali di telinga Evan.

“Iya, pak. Anggap saja saya ini istri kedua bapak. Ssshhh…silahkan entot saya yang kasar, pak. Puaskan saya dengan kejantananmu itu. Saya suka….Aakkkhhhh….”, racau Widya makin liar.

“Hebat, mah. Hebat kamu, mamah binal. Ssshhhh….”, rasa kecewa Evan dilampiaskan sambil mengocok kontolnya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Apa bu Widya siap saya bikin hamil? Bapak pengen hamilin perut ibu ini. Ssshhhhh….nanti pas bu Widya hamil saya bakal bapak tampar perutnya pake kontol besar ini. Aakkkhhhh…sshhhhh…”
“iya, pak…buat Widya hamil, hamilin Widya. Aakkkhhhh…tampar terus memek Widya pake kontol bapak. Aakkkhhhh…enakkk, pakk…ssshhh…”

Pak Narto membalikkan tubuh mamahnya untuk berbaring mengangkang di atas sofa. Setelahnya dengan bernafsu pak Narto menjilati memek mamahnya yang sudah sangat basah itu dengan lahap. Dibukanya bibir memek mamahnya oleh jari pak Narto dan lidahnya masuk menari, menyapu seluruh permukaan selangkangan. Lidahnya dimasukkan dan di dalam sana menyedot cairan kewanitaan Widya menimbulkan suara, “ssllurrrpp….ssllurrrpp….”.

Sementara tangannya satunya tengah di kulum jari-jarinya oleh mulut mamahnya. Sedotan mulut pak Narto pada selangkangan milik mamahnya terlihat makin beringas, bahkan sesekali wajahnya di uselkan ke dalam hingga wajahnya basah oleh air ludahnya sendiri yang bercampur dengan sisa cairan kewanitaan milik mamahnya saat pak Narto mengangkat kembali wajahnya menatap nanar tubuh mamahnya yang sangat menggairahkan birahi pria.

Pak Narto tersenyum mesum, “sudah siap saya sodok lagi, bu? Lihatlah kontol saya sudah siap menggaruk memek ibu lagi yang gatal sama kontol itu. Hehehe…”

“Saya coblos memeknya lagi ya, bu”, ucap pak Narto menyudahi aktivitasnya dan mengambil posisi diantara kedua kaki mamahnya dengan kontolnya yang besar bersiap menggenjot kembali. Ditangkapnya reaksi mamahnya hanya mengangguk lemas menatap sayu wajah pak Narto.

BLES!!!

Hanya dalam satu sentakan keras, kontol pak Narto kembali memenuhi lubang dimana dirinya dulu di lahirkan. Dimana lubang tersebut sudah sangat siap dan menanti kembali untuk menerima tiap gempuran benda besar tersebut.

“AAKKKHHH!!!”, lenguhan keras baik dari pak Narto maupun dari mamahnya saat kedua kelamin mereka kembali bersatu secara sempurna.

Dilumatnya bibir mamahnya dengan bernafsu sambil pak Narto menggerakkan pantatnya naik turun menumbuk keras selangkangan. Mamahnya membalas tiap lumatan yang pak Narto berikan, bahkan lidah keduanya saling membelit satu sama lain. Posisi dimana mamahnya yang mengangkang tengah ditindih oleh pak Narto dengan pantatnya bergerak naik turun menumbuk selangkangannya, mamahnya mulai membantu melepaskan seragam satpam yang di pakai oleh pak Narto sambil bibir mereka terus bekerja melumat, saling bertukar air liurnya.

Sementara pak Narto mencoba melepaskan sendiri celana yang sudah turun sedari tadi di kedua mata kakinya itu. Pak Narto merasa gerakannya menikmati tiap inci tubuh wanita didepanya kurang leluasa.

Terlihatlah kini tubuh telanjang pak Narto yang tengah menindih tubuh mamahnya dibawahnya dalam keadaan pasrah dalam kenikmatan yang di berikan setiap sodokan enak kontol pak Narto.

“bapak bakal bikin bu Widya puas sama kontol ini. Bu Widya dijamin sampe muncrat berkali-kali”, ucap pak Narto sambil menatap wajah nafsu Widya.

Melihat kedua payudara yang menganggur, tangan pak Narto memainkan dengan meremas keras dan juga memainkan kedua putingnya. Dari sekedar remasan, kini mulut pak Narto melumat kedua payudara mamahnya secara bergantian. Disedot kedua puting tersebut dengan kuat berharap kuatnya sedotan pak Narto bisa membuat payudara tersebut mengeluarkan air asinya. Namun hal itu tak mungkin, ia harus membuatnya hamil terlebih dahulu jika ingin payudara tersebut bisa mengeluarkan asinya.

“Ssshhh….kayaknya enak banget tua bangka itu genjotin memek mamah. Ssshhhh… Evan juga jadi pengen ikut genjot memek kamu, mah. Sssshhhhh….anakmu….pengen ngentotin mamahnya yang binal. Aaakkkkkkhhhh….ssshhhhh…”, desah Evan.

“Aakkkhhhh…nikmat banget memekmu, bu. Saya bisa ketagihan kalo begini caranya. Sshhhh….”, ucap pak Narto di tengah genjotannya.
“nikmati….sepuasnya tubuh saya ini, paaaakkkk…ssshhhhh…”
“sudah pasti, bu. Ssshhhh…. Malam ini mumpung anakmu tak pulang….bapak bakal genjot terus memek legit ini, sayang….sssshhhhh….”

Cukup lama pak Narto bertahan di posisi tersebut saat menyetubuhinya hingga merasa mulai bosan dan ingin mencoba variasi yang lain. Pak Narto mengangkat tubuh mamahnya dan merengkuhnya ke dalam pelukan dengan masih tertancapnya batang kontol tersebut di memek Widya dengan kokohnya.

“Sial pak Narto bawa mamah ke arah sini”, panik Evan saat melihat tubuh mamahnya yang tengah digendong depan oleh pak Narto menuju ke arah ruang makan. Perlahan Evan mundur ke arah belakang dimana ruangan tersebut gelap karna lampu dimatikan.

“Pak….”, lirih mamahnya dalam dekapan tubuh pak Narto.

Pak Narto menaruh tubuh telanjang mamahnya yang lemas diatas meja makan dengan kondisi selangkangannya mengangkang. Dalam kondisi seperti itu tangan pak Narto menarik teko air dan meminumnya. Sehabis rasa hausnya hilang, pak Narto kembali menatap nanar tubuh telanjang mamahnya itu dan kedua tangannya jatuh kembali di bukit kembar yang kenyal lalu meremasnya dengan gerakan lembut, namun cengkeraman yang lumayan keras.

“disini tempat bu Widya makan sama anak serta mendiang suamimu kan?”, seru pak Narto.
“sekarang bukan hanya tempat makan, tapi di meja ini juga bakal jadi tempat bapak entotin ibu Widya juga”, sambungnya serta merta menggerakkan pinggulnya maju mundur kembali menggasak liang kenikmatannya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Sangat jelas dari jarak yang hanya terpaut beberapa meter, Evan bisa melihat bagaimana kontol pak Narto menikmati tiap gerakan keluar masuk di dalam memek mamahnya, tanpa keduanya tau bahwa ada seseorang yang tengah melihatnya dari balik ruangan gelap disebelah nya.

“Kenapa mamah doyan kontol sekarang?”, batin Evan masih berusaha mencapai klimaksnya.
“dan kenapa juga harus dengan pria tua bangka itu? Sebegitu membuat terbang kah rasa kontol pak Narto buatmu, mah? Ssshhhhh….”

Mamahnya hanya bisa terkulai lemas dengan tubuh terlonjak menerima tiap gempuran selangkangan pak Narto. Suara halus dari pinta suaranya mamahnya sangat terdengar sangat nyaring di pendengaran Evan. Apalagi suara tersebut berupa suara desahan dan erangan yang nikmat membuat pendengarnya dibuat tak tahan.

“aaakkkkkkhhhh….Aakkkhhhh …sshhhhh….paakkk… saya mau keluar, paakkk…ssshhhhh….”, desah mamahnya dengan suara sayu.
“Bareng, bu. Bapak bentar lagi juga mau keluar. Kita sama-sama. Ssshhhh….ssshhhhh….”, sahut pak Narto menggenjot selangkangan mamahnya dengan cepat.

Kurang lebih 3 menit berlalu, Evan sudah mulai merasakan tingkat klimaksnya akan mencapai batas. Tangannya digerakkan dengan cepat mengocok batang kontolnya yang kian terasa panas dan mengeras melihat tontonan panas yang tersaji jelas di hadapannya. Adegan video porno secara langsung dengan mamahnya sendiri sebagai modelnya.

“Aaakkkhhsssss…Evan mau keluar, mah. Ssshhhh….Aaakkkhhhh….mamahku yang binal….anakmu kkeluaarrrr…aaakkkkkkhhhh….ssshhhhh…”, racau Evan dalam batinnya.

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

Semburan peju nya melaju deras menabrak dinding tempat mengintip Evan. Saking nikmatnya cairan kental panas yang keluar dati batang kontolnya sangat banyak dan dirasa panjang.

Setelah Evan mencapai klimaknhmya, pak Narto juga terdengar mulai mengeram berat menandakan pria tersebut akan mencapai klimaksnya juga.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Dengan gerakan cepat yang kian terlihat semakin tak beraturan itu pak Narto terus-terusan menghajar selangkangan mamahnya dengan kasar. Erangan nikmat dari keduanya terdengar makin keras. Di pegangnya kedua pinggul mamahnya oleh pak Narto untuk membantu menyambut sodokan selangkangannya.

“Aaakkkhhhh!!!! Keluar, bu….bapak keluar. Ssshhhhh….”, erang pak Narto.
“Sayaa…..juga, paakkk….Aaaakkkkhhh…”, sahut mamahnya.
“Terima peju ku ini, bu. Terima benih anakku. Aaakkkhhhh….ssshhhhh….”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!!

SYUURRRRR!!!

Keduanya saling melepaskan cairan kenikmatannya secara bersamaan di dalam kelamin mereka yang menyatu dengan sempurna. Beberapa kali pak Narto mengedutkan pantatnya dengan hentakkan keras ke dalam selangkangan mamahnya, mencoba melepaskan semua isi buah Zakarnya mengisi tempat dulu dirinya berada dan dilahirkan.

“aaakkkkkkhhhh….gillaaa….mantap banget memekmu, bu. Sssshhhhh…. Peju saya rasanya disedot keluar semua. Sssshhhhh…..”, ucap pak Narto mendiamkan batang kontolnya di dalam memek mamahnya.

Mamahnya hanya diam dengan suara nafas yang kacau dan tubuhnya masih bergetar mencoba menikmati sis orgasmenya yang tersisa.

Keringat terlihat sangat jelas di kulit tubuh keduanya, apalagi pada pak Narto dimana keringat pri tua itu sangatlah banyak hingga menetes jatuh membasahi tubuh mamahnya yang sudah basah semakin di tambah basah. Tubuh pak Narto ambruk memeluk tubuh mamahnya yang sudah kalah dari awal oleh kejantanan lawan mainnya itu.

CUP!!! CUP!!!

Tak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya, hanya suara kecupan pak Narto berusaha memberi tanda cupangan di leher dan dada atas kulit mamahnya itu.

Evan memutuskan pergi dengan perlahan lewat pintu belakang yang ia gunakan. Untung saja pintu tersebut jika dibuka ataupun ditutup tak menimbulkan suara, sehingga kepergiannya tak disadari oleh keduanya.

Evan pergi meninggalkan mamahnya yang telanjang bulat saling berpelukan dengan pak Narto di dalam rumah keluarganya itu demgan perasaan campur aduk. Berada di depan sepeda motornya pun Evan tak tau harus kemana malam itu yang jelas dirinya jangan pulang terlebih dahulu hingga pagi menjelang.

Menggunakan sepeda motornya Evan pergi menelusuri jalan utama. Walau fokus mengendarai kuda besinya, namun pikirannya juga dibagi oleh kejadian di rumahnya itu dimana sang mamah yang tak pernah akan ia duga bisa di Setubuhi kasar oleh satpam kompleknya sendiri.

“kenapa, mah? Kenapa mamah jadi seperti itu? Apa mamah juga butuh sosok pendamping? Kalo mamah ingin menikah lagi, menikahlah dengan orang yang layak. Jangan main seperti ini, mah. Evan sayang sama mamah, tapi mamah juga udah buat Evan kecewa”, batinnya saat berada di lampu lalu lintas berwarna merah.
“Apakah se-ingin itukah mama menginginkan kembali apa yang disebut dengan kepuasan? Kalo hal itu yang mamah inginkan….Evan akan kasih itu, mah”
“ya….Evan akan ikuti alur yang mamah buat sendiri…jangan salahkan Evan karna itu yang mamah inginkan”, sambil menjalankan kembali sepeda motornya.

Di tengah perjalanannya yang tak jelas, ternyata bensin motornya menginginkan untuk di kasih tenaga dengan Evan membelokkan laju sepeda motornya memasuki sebuah SPBU 24 jam yang kebetulan ia lewati.

“Full tank”, ucap Evan pada petugas SPBU.

Saat dirinya sedang menunggu tangki bahan bakarnya diisi penuh, pandangan Evan tak sengaja menangkap sosok wanita beranak satu dengan suaminya berada di jalur sebelahnya. Hal tersebut membuat Evan kembali teringat akan mamahnya, namun sejak kejadian beberapa waktu lalu, tiap kali Evan teringat mamahnya selalu membuat dirinya terangsang.

Karna hal tersebutlah setelah selesai mengisi tangki bensinnya, Evan memarkirkan sepeda motornya dan beranjak masuk ke dalam toilet umum yang di sediakan oleh pihak SPBU.

Disna Evan membuka galeri fotonya yang terdapat foto mamahnya sendiri dengan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya dan langsung melepas keluarkan batang kontolnya yang sudah tegang maksimal kembali. Di dalam toilet umum itu Evan menggunakan foto mamahnya sebagai pendorong dirinya beronani kembali. Tak membutuhkan waktu yang lama Evan bisa mengeluarkan cairan kental kenikmatannya dengan deras.

“maaf, mah kalo Evan sekarang gampang terangsang dengan tubuh mamah. Kayaknya Evan bakal jadiin mamah bahan onani Evan saat ingin disalurkan tanpa adanya Alice”, batin Evan sambil melihat foto mamahnya itu.

Malam itu Evan pergi ke tempat-tempat yang tak jelas hanya untuk membuang waktu. Nongkrong di Cafe, duduk di taman kota hanya merokok dan akhirnya pilihan akhir Evan jatuhkan untuk masuk ke salah satu tempat game Online.

Matanya terasa kering kering karna berjam-jam telah berlalu saat Evan mulai bermain game. Sementara saat dirinya melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Dirasa waktunya sudah tepat untuk beranjak pulang, akhirnya Evan pergi dari tempat itu menaiki motornya kembali ke arah rumah.

Tak membutuhkan waktu yang lama hingga dirinya sampai di depan kediamannya dengan sebelumnya di pos jaga pintu masuk menjumpai sosok pak Narto dengan raut wajah seperti kelelahan. Pria tua itu sempat menyapa Evan, namun hanya dijawab sekenanya.

Evan kembali memanjat pagar rumahnya dan mencoba mengetuk pintu depan, namun beberapa kali Evan coba ternyata tak ada sahutan dari dalam. Dengan terpaksa Evan kembali masuk lewat pintu belakang.

“semalam bukan mimpi kan gue lihat mamah lagi hubungan badan sama pak Narto”, batin Evan saat akan memasuki rumahnya.

Masuknya Evan ke dalam rumah tak mendapati sosok mamahnya sedang beraktivitas. Dirinya hanya melihat di meja makan yang sering ia gunakan untuk makan bersama terdapat genangan peju yang banyak. Bukan hanya di atas meja makan, namun pandangan Evan juga menemukan ceceran peju dimana-mana. Dapur, sofa ruang tengah, di lantai dan di karpet depan televisi.

“ternyata bukan sebuah mimpi. Semalam memang kenyataan”, batin Evan.

“pantas saja tua bangka itu kaya kelelahan, pasti karna memang semalaman sudah menikmati tubuh mamah dan kenapa mamah jam segini belum kelihatan, di panggil juga tak dengar mungkin karna mamah juga dibuat lemas oleh si tua itu”

Evan berjalan menyisir tiap ruang bawah. Tak ada serpihan baju mamah, hanya ceceran peju dimana-mana. Dengan langkahnya Evan pergi menuju kamar mamahnya yang kebetulan tak terkunci. Dilihatnya tubuh mamahnya yang masih telanjang bulat tertidur dengan sangat lelap di atas ranjangnya dengan posisi menyamping menghadap pintu.

Dilihatnya kulit putih mamahnya banyak terdapat cupangan dan pantatnya sedikit masih terlihat warna merah akibat semalaman di tabrak kulit selangkangan pak Narto. Rambutnya acak-acakan dan dari sela memeknya terlihat cairan putih kental yang keluar. Tempat tidur mamahnya .asih terlihat rapi, berarti pak Narto menyetubuhi mamahnya hanya di luar kamar.

“berapa kali tu bangka itu menggauli mamah?”, pikir Evan dan tanpa melakukan apapun Evan keluar dari kamar mamahnya naik ke kamarnya sendiri karna rasa kantuk yang tak bisa ditahan lebih lama lagi dengan sebelumnya mengambil kunci untuk memasukkan motornya.

EVAN END

Alice (20 Tahun)

Masih ingat dimana disinggung saat Evan jarang ketemu sama Alice dengan alasan Alice tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya bersama teman-temannya? Hal tersebut tak sepenuhnya benar, namun tak sepenuhnya salah juga.

Sejatinya hubungan mereka berdua kala itu sedang ada masalah yang bisa dikatakan serius dimana ayahnya Alice, pak Arto mengetahui hubungan mereka dan pria paruh baya itu juga kurang menyetujui hubungan mereka karna merasa kurang pas untuk anaknya dan dilain sisi karna Evan berasal dari keluarga yang kurang jelas akibat masih minimnya informasi yang bisa di dapatkan oleh pak Arto.

Tapi itu kesimpulan saat pak Arto hanya memiliki sedikit informasi tentang Evan. Pikirannya mulai berubah ketika pak Arto mulai tau banyak tentang keluarga dari pria yang anaknya cintai itu.

Dimulai saat Alice di suruh oleh sang ayah untuk datang menemuinya. Alice memohon pada Evan untuk menemaninya kesana sekaligus untuk mengenalkannya pada sang ayah. Walau kehidupan Alice saat tinggal dengan orang tuanya sangat jarang mendapatkan perhatian, namun Alice berperan layaknya seorang anak pada umumnya. Ia tetap menghormati dan sopan terhadapnya.

Sebagai informasi saja, ibu Alice yang bernama Neta sudah menikah lagi setahun silam dengan salah satu mantan rekan kerja bisnisnya. Sementara sang ayah sampai sekarang masih menggendong status Duda. Walau kedua orang tuanya telah bercerai lama, namun kehidupannya yang sekarang masih belum lepas dari kedua orang tuanya. Seperti yang pernah dibilang, Alice tak pernah kurang akan kepuasan materi dari kedua orang tuanya, namun hanya kasih sayang dan perhatian saja yang sangat jarang di terimanya.

Siang itu Evan beserta dengan Alice tengah berada di rumah ayahnya Alice. Evan hanya menyimak apa yang dilontarkan oleh ayah pacarnya itu. Alice memberikan penjelasan dan meyakinkan ayahnya tentang hubungan dirinya bersama Evan. Awalnya memang sempat terjadi suasana tegang disana dimana seorang anak perempuan tengah berdebat dengan ayahnya sendiri. Evan yang masih berstatus pacar hanya bisa menyimak tanpa berani berbicara terlalu banyak untuk ikut masuk ke dalam topik serius itu.

“sekarang Alice sudah besar, yah. Alice bisa pilih jalan hidup dan pasangan Alice sendiri tanpa harus menuruti lagi semua keinginan ayah”, ucap Alice.
“Dari dulu Alice selalu nurut dan Alice selalu mencoba untuk jadi anak yang seperti ayah inginkan. Namun kali ini berbeda, yah. Kasih sayang, perhatian, cinta….semua bisa Alice rasakan dari lelaki yang sekarang jadi pacar Alice ini….bukan dari orang tua Alice sendiri”

Terlihat raut wajah kaget dari ayah Alice saat putrinya mengucapkan hal tersebut. Ucapan putrinya serasa menusuk keras tepat di jantungnya. Pak Arto baru tersadar bahwa bukan uanglah yang bisa membahagiakan putri satu-satunya itu, namun sebuah rasa hangat dari keluargalah yang selama ini putrinya impikan dan hal tersebut tak diberikan olehnya.

Pak Arto menjadi karakter yang diam setelah mendengar ucapan putrinya itu. Ia paham akan kesalahan yang ia buat bersama dengan mantan istrinya.

Butuh waktu yang lama untuk mencairkan suasana tegang itu, hingga dimana waktunya pak Arto mulai memberi kebebasan akan putrinya untuk menebus kesalahan fatal yang pernah ia lakukan dengan melepas putrinya untuk dijaga oleh Evan.

“saya belum sepenuhnya percaya sama kamu, tapi….demi putri kesayangan saya ini, saya akan mencoba untuk menaruh harapan dan kepercayaan buat kamu. Jangan pernah membuat kesempatan yang saya beri ini kamu nodai, jika kamu tak ingin menerima akibatnya”, ucap pak Arto serius pada Evan.
“Saya akan penuhi dan saya akan menjaga putri bapak sebisa saya. Terima kasih untuk kesempatan yang bapak kasih ini”, balas Evan.

Suasana tegang berupah menjadi suasana haru ketika Alice menangis di pelukan ayahnya meluapkan rasa terima kasih yang besar disana. Evan hanya melihat demgan senyum lega yang mengembang. Rasanya sungguh sangat bahagia ketika sebuah hubungan yang awalnya tak direstui berubah menjadi angin segar yang menerpa.

Kini hubungan Evan dengan Alice kembali berjalan seperti semula. Bahkan Alice semakin lengket dengan Evan. Evan yang sebelumnya dibuat bingung dengan tingkah Alice seperti pada saat jadian dulu hanya bisa menggeleng senang.

“rasanya pas pertama kali gue pacaran sama Alice kaya terulang kembali”, batin Evan mengembang senyum.

“Manjanya keluar”, singkat Evan menoleh hidung Alice yang tengah bergelayutan di legannya.
“Isshhh!!! Biarin lah”, jawabnya malah makin mengeratkan pelukannya di lengan Evan.

“shit!”, batin Evan karna tingkah Alice itu membuat lengannya merasakan benda kenyal yang tengah menekan membuat pikiran Evan menjadi uring-uringan.

“Jangan kaya gitu, ah. Itu aset kenyalnya nekan lengan aku tau”, ucap Evan, namun bukannya dilepas Alice malah semakin mengeratkan pelukannya seakan-akan sengaja tengah mengerjai pacarnya itu.
“aku minta jatah baru tau tasa kamu”
“coba aja kalo berani”, tantang Alice dengan mengerlingkan matanya mencoba memprovokasi nafsu Evan untuk keluar.
“Jangan minta tolong buat di gendong ke kamar mandi ya kalau kamu kecapean”, ucap Evan dengan mendorong tubuh Alice ke ranjang dan menindihnya.

“KYA!!!”, jerit Alice saat di tindih tubuh Evan.

“siap berkeringat tuan putri?”, tanya mesum Evan.
“Siapa takut?”, tantang Alice dengan tersenyum.

Evan memulai dengan mencumbu bibir Alice dan mereka berdua langsung saling melumat dalam rasa sayang yang besar. Ya malam itu mereka kembali melakukannya setelah beberapa saat berada di dalam kondisi yang kurang baik. Karna untuk pertama kalinya lagi mereka bisa melakukannya tanpa beban, mereka saling bergelut di atas tempat tidur milik Alice dengan sangat nikmat.

Malam itu Evan benar-benar membuat tulang-tulang di sekujur tubuh Alice serasa dilolosi. Evan menuntaskan semua hasratnya pada tubuh Alice semaksimal mungkin dengan perasaan nafsu, namun dengan rasa sayang dan cinta yang jauh lebih besar dari sekedar kata nafsu.

Hari-hari yang pernah hilang beberapa saat bisa dirasakan kembali oleh keduanya. Tak ada lagi yang menjadi penghalang di dalam hubungan yang sedang terjalin.

Alice memainkan jarinya menggambar abstrak di dada bidang Evan setelah pertempuran mereka berakhir. Masih dalam kondisi keduanya bertelanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang melekat si balik selimut tebal yang mereka pakai untuk menutupi. Evan mengecup lembut ujung kepala Alice cukup lama hingga mata keduanya kembali bersatu.

“I Love You, sayang”, lirih Alice menatap lekat manik Evan dengan lelehan cairan bening mulai meleleh dari sela matanya.
“youuu too…”, balas Evan merengkuh kedua pipi Alice dan mengecup lembut bibir manisnya.

“Aku sayang kamu”, batin Alice pada sosok pria yang ia cintai itu sambil menikmati ciuman lembut bibir Evan sambil menangis bahagia.

Siang itu Evan tengah berada di halaman samping rumahnya menikmati suasana siang sambil menahan rokok dan secangkir kopi panas di siang hari. Dirinya lebih memilih berada disana dibandingkan di dalam rumah karna mamahnya sedang ada tamu arisannya. Padahal baru saja selesai membuat pesanan katering, namun rasa lelah mamahnya seperti hilang saat sudah berkumpul dengan ibu-ibu lainnya. Tau sendiri lah ibu-ibu arisan. Mereka memang sedang Arisan tapi sudah pasti tak akan lengkap dengan yang namanya gosip.

FIUUHHHH!!!, asap rokok terlihat jelas keluar dari mulut Evan.

Dilihat Evan seperti duduk biasa tanpa memikirkan hal apapun, namun dalam diamnya justru Evan sedang sibuk berpikir akan suatu hal yang sedang mengganggu ketenangan siangnya itu. Pikirannya sedang tertuju pada Bra putih milik mamahnya yang sedang dijemur bersama beberapa pakaian lainnya.

Sejak kejadian malam itu dimana dirinya memergoki mamahnya tengah bermain dengan pak Narto. Pandangan Evan terhadap mamahnya mulai berubah. Tiap kali ia melihat atau bahkan hanya memikirkan mamahnya saja pasti akan selalu terangsang. Sama halnya dengan saat Evan melihat Bra milik mamahnya yang sedang dijemur itu membuat batang kontolnya mengeras dari balik celana Boxer yang ia pakai.

Pikiran kotornya kembali merasuki isi kepalnya. “mamah lagi sibuk sama teman-temannya….”, pikir Evan.

“Aaaakkkkhhh!!!! Ga tahan gue”, Evan bangkit dari duduknya dan dengan cepat mengambil Bra putih tersebut lalu membawanya ke kamar mandi belakang.

Di dalam kamar mandi itu sudah bisa ditebak apa yang akan dilakukan oleh Evan. Disana Evan langsung mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang lalu mengocoknya dengan cepat. Ujung kepala kontolnya di usapkan pada cup bra mamahnya itu. Perlahan cairan percum yang keluar dari lubang kencing kontolnya membuat tanda basah di cup bra yang digunakan untuk menampung payudara mamahnya.

“Kulum terus kontol Evan ini, mah. Sssshhhhh….”, membayangkan bahwa Bra tersebut adalah mulut mamahnya dan dirinya sedang dioral.
“mamah dulu sering kasih Evan Ice cream. Ssshhhh….sekarang Evan kasih mamah Ice Cream milik Evan juga. Nikmati ice cream milik Evan ini, mah. Ooouuugghhh….ssshhhhh….”

Kocokkan nafsu pada kontolnya membuat Evan tak memerlukan waktu yang lama untuk memompa keluar isi buah Zakarnya. CROT!!! CROT!!! CROT!!! Beberapa kali pancutan peju milik Evan di keluarkan pada kedua sisi cup bra bagian dalam milik mamahnya itu dan diratakannya semua cairan peju nya itu ke semua bagian dalam penyangga payudara berwarna putih tersebut.

“Sssshhhhh…..maaf, mah….Bra nya Evan buat kotor”, sambil memandangi Bra putih tersebut yang sudah basah oleh cairan putih kentalnya.

Setelah apa yang ia inginkan selesai, Evan memasukkan kembali batang kontolnya yang sudah mulai lemas ke dalam celana pendeknya dan pergi ke tempat semula untuk menaruh kembali Bra tersebut di jemuran seperti semula.

Setengah jam telah berlalu saat Evan tengah asyik membalas pesan dari Alice, mamahnya datang menghampiri dirinya di samping rumah.

“Udah pada pulang, mah?”, tanya Evan.
“udah kok barusan. Lagi apa?” tanya balik Widya.
“oh ini, mah lagi chattingan sama Alice”
“aduh, mamah jadi pengen muda lagi deh”
“Mamah apaan sih. Lagian mamah sekarang juga kelihatan masih muda loh”, puji Evan jujur.
“Bisa aja sindir mamahnya. Orang udah punya anak satu umur 20 tahun begini masih dibilang muda”
“serius, mah. Mamah itu kalo dilihat kaya umur 27’an tau”
“Iyadeh syukur kalo mamah kelihatan umur segitu. Eh, kamu masuk gih, tolong jagain rumah mamah mau mandi dulu soalnya. Takut ada tamu kamu ga tau kalo disini”, ucap Widya.

Evan berdeham mengiyakan ucapan mamahnya itu, namun Evan bisa melihat mamahnya berjalan ke arah jemuran dan mengambil bra yang sebelumnya telah ia pakai untuk onani dan bra tersebut juga sudah ia olesi dengan cairan peju nya. Hal tersebut membuat detak jantung Evan seperti dipacu dengan cepat dan dirinya dipaksa untuk menelan ludah.

“mamah bakal pakai bra yang sudah di olesi peju gue. Beruntungnya gue”, pikirnya dan melihat mamahnya kembali masuk ke dalam rumah membawa Bra putih tersebut.

Di dalam ruang keluarga sambil menonton televisi pun perasaan Evan sama sekali tak bisa tenang akibat rasa terangsangnya yang kembali muncul saat mengingat mamahnya akan memakai bra yang sudah ia nodai.

Evan duduk di sofa menunggu mamahnya selesai mandi di kamar mandi kamarnya sendiri itu. Sampai dirasa mamahnya telah selesai, Evan mendekati kamar mamahnya dan menaiki lemari kecil yang berada tepat di samping depan kamar mamahnya.

Memang benar saat Evan mengintip dari lubang ventilasi atas pintu mamahnya telah selesai dati kegiatan mandinya dan tengah menghanduki tubuhnya yang basah. Lagi-lagi Evan harus menelan ludahnya melihat pemandangan yang tersaji dengan jelas di hadapannya itu.

Dimana tubuh mamahnya terekspose dengan jelas memperlihatkan gundukan daging kenyal yang sangat menantang dan bongkahan pantat yang sangat pas untuk di tabok manja itu.

“tubuh mamah memang sangat bagus, pantas saja pak Narto genjot mamah semalaman penuh sampai peju nya tercecer dimana-mana”, batin Evan.

Apa yang ditunggu sedari tadi akhirnya terjadi saat mamahnya mulai memakai bra putih yang sebelumnya telah ia gunakan untuk menampung semburan peju nya dan mengoleskannya semuanya di bra itu. Untung saja jarak waktu Evan melakukan onani dan kedatangan mamahnya mengambil bra miliknya itu terpaut setengah jam jadi cairan peju miliknya yang banyak itu bisa kering dan tak terlihat.

Seakan-akan Evan melihat mamahnya itu saat memakai Branya dengan gerakan slow lotion hingga kedua bukit kenyal mamahnya itu tertutup oleh Bra-nya dan selanjutnya memakai celana dalam serta baju daster tipis rumahan.

“Rasanya gimana mah pakai bra yang sudah Evan lumuri pakai peju Evan itu?”, pikir nakal Evan pada mamahnya sambil turun dari tempat mengintipnya.

Evan kembali duduk di sofa ruang tengah berpura-pura masih menonton acara televisi yang sedang berlangsung. Tak lama mamahnya keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah lengkap menghampiri Evan lalu duduk di sebelahnya. Aromanya….aroma shampo dan khas orang mandi tercium jelas di hidung. Di dalam batinnya Evan sama sekali tak bisa fokus dengan pikirannya.

“kamu belum makan kan?”, ucap Widya.
“eh,,, nanti aja deh, mah lagian Evan baru selesai ngopi”, balas Evan sambil melihat ke arah mamahnya dimana sang mamah sedang ada masalah dengan pakaiannya.

“kenapa, mah?”, tanya Evan saat Widya seperti sedang membenarkan posisi Branya dati balik daster.
“ini, Bra mamah kok kayak agak keras gitu”, balas Widya.
“maaf, mah. Tadi pas dijemur juga kayaknya Evan baru lihat Bra itu deh. Baru?”
“iya ini mamah beli baru. Mamah beli langsung di cuci terus ini baru mamah pakai”
“nah mungkin karna baru juga mah makanya gitu”
“mungkin juga ya. Tapi setau mamah juga ga ngaruh. Eh?! Kenapa malah ngomongin Bra mamah sih”, sadar Widya akan topiknya dengan anaknya sendiri.
“Mamah yang mulai”, elak Evan.

“maaf, mah. itung-itung itu hukuman kecil buat mamah yang sudah binal itu”, batin Evan melihat payudara Widya yang membusung dengan sekalnya.

.
.
.

*Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler