. Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 13 | Kisah Malam

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 13

0
462

Widya, Kisah Seorang Ibu Rumah Tangga Part 13

Ternyata

Widya Ayu Ningrum (38 Tahun)

-Seorang Janda
-Mempunyai satu orang anak bernama Evan
-Memiliki tubuh yang membuat para lelaki ingin menjamahnya

.
.

SLURP!!! SLURP!!! SLURP!!!

“Aaakkkhhhh….kontol nikmat. Ssshhhh…aku mau kontol ini masuk ke dalam memekku. Ssshhhh….slluurrpplp…slluurrpplp ..”

Baru beberapa menit Widya mengulum batang kontol tersebut, rahangnya sudah merasakan pegal dan dia ingin sekali batang tersebut cepat-celat memasuki lubang memeknya yang sudah sangat becek itu dengan memandang pria tersebut. Namun apa yang dia mendongak ke atas? Pria tersebut sudah tak memakai penutup kepalanya lagi dan hal tersebut membuat Widya mengetahui siapa gerangan pria misterius itu.

DEG!!!

Jantungnya serasa berhenti berdetak dan apa yang ia lihat sungguh tak bisa ia percayai. Matanya membulat dan gerakan kepalanya saat mengulum kontol tersebut terhenti di waktu itu juga.

“ini mimpi….”, batin Widya yang sangat merasa shock.

Pria tersebut menatap wajah Widya yang tengah menunjukkan ekspresi terkejutkannya dengan mulut terpenuhi oleh batang kontolnya. Beberapa saat Widya bertahan pada diamnya serta gerakan mulutnya yang sebelumnya tengah mengulum kontol pria tersebut masih belum bergerak.

Lantas siapa pria tersebut? Pria yang dilihat oleh mata kepala Widya sendiri dengan sangat jelas adalah wajah dari tetangganya sendiri, pak Herman. Sosok suami dari bu Nonik. Widya sangat tak menduga bahwa identitas dari pria tersebut adalah pak Herman sendiri. Walau Widya sudah tau sejak lama bahwa pak Herman itu suka mencuri pandang terhadap dirinya saat berjumpa, namun untuk sejauh ini Widya sangat tak bisa menebaknya.

Nafsu yang sudah tak bisa ditahan oleh pak Herman membuat dirinya tak bisa berlama-lama menunggu. Pak Herman memegang kepala Widya dan dengan kedua tangannya ia memaksa kepala Widya untuk bergerak maju mundur pada selangkangannya. Hal tersebut membuat batang kontolnya yang sudah sangat tegang kembali diselimuti liur dan merasakan kembali hangat nan lembutnya rongga mulut Widya.

Sementara Widya? Ia hanya bisa melakukan perlawanan kecil. Matanya ia pejamkan saat mulutnya mulai di deepthroat dengan gerakan yang perlahan mulai kasar akibat nafsu. Rambutnya yang halus di remas sebagai sebagai pegangan untuk lebih leluasa menggerakkan maju mundur kepala Widya. Bahkan beberapa kali pak Herman tahan kepala Widya untuk tetap masuk ke dalam selangkangannya, melahap semua batang kontolnya hingga rongga tenggorokan.

GLOK!!! GLOK!!! GLOK!!!

“ssshhhhh…..ssshhhhh…. Mulutnya enak banget, bu. Aaakkkhhhh….ssshhhhh…hangat, lembut. Ssshhhh….”, racau pak Herman.
“Makanlah kontolku ini. Ssshhhh….makan semuanya”, sambil menekan kepala Widya ke arah selangkangannya.

Beberapa saat pak Herman menahan kepala Widya dalam posisi demikian, hingga Widya merasa nafasnya mulai hampir mencoba memukul paha pak Herman berharap untuk di lepaskannya.

PUAH!!!

UHUK!!! UHUK!!! UHUK!!!

Widya terbatuk setelah kepalanya terlepas dari selangkangan pak Herman dan mulutnya bisa meraih udara dengan bebas. Sementara Widya yang sedang terbatuk, pak Herman malah mengeluarkan suara tertawanya seakan ia telah berhasil merasakan apa yang ia inginkan selama ini.

Sepertinya pak Herman masih belum puas dengan sekali lagi di gulungnya rambut Widya dan ditariknya ke arah ujung kontolnya yang masih tegang. Widya yang sudah tau akan kemauan pak Herman hanya membuka mulutnya dan sepersekian detik saat Widya membuka mulutnya, pak Herman menancapkan kembali kontolnya ke dalam mulut Widya. Bergerak maju mundur seakan tengah menyetubuhi lubang memeknya.

“Sshhhhh…..sshhhh…..”, suara desahan kian terdengar intens dari mulut pak Herman yang tengah menikmati setiap jengkal batang kontolnya di kocok di dalam mulut Widya.

“Hhhmmmmmm….hhhmmmmmm…..”, Widya mengeluarkan suara yang tertahan sambil menatap wajah pak Herman.
“Ada apa, bu?”, tanya pak Herman dengan memperlihatkan senyumnya.

Pak Herman menghentikan gerakkannya dan mencabut kontolnya dari mulut Widya dengan posisi tubuhnya yang ia turunkan hingga sejajar dengan posisi Widya.

“Ada apa, bu?”, tanyanya lagi kini sambil mengusap pipi Widya.
“Kenapa bapak lakukan ini sama saya?”, lirih Widya.

Pak Herman tersenyum kembali mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Widya.

“Sebenarnya jawaban untuk pertanyaan bu Widya sangatlah simpel—“
“Karna saya mencintai dan menginginkan ibu”

Sebuah jawaban tak terduga diucapkan oleh pak Herman, namun entah kenapa Widya tak terlalu merasa terkejut akan hal tersebut. Widya baru tahu fakta bahwa pak Herman memendam perasaan terhadapnya, tapi Widya merasa bahwa ia sudah tahu fakta tersebut seakan sudah sejak lama.

“sudah lama saya mempunyai rasa ini, bu. Selama ini saya hanya bisa memendam semuanya tanpa bisa mengutarakannya langsung karna memang pada dasarnya bu Widya sudah menjadi seorang istri dari pria lain”
“dilain sisi saya juga sudah mempunyai seorang istri dan hal tersebut tak mungkin buat saya memiliki bu Widya. Terlepas dari hal tersebut, dimana saya tak bisa memiliki ibu dengan ikatan pernikahan, maka saya berniat akan memiliki ibu dengan cara lain”
“Apa yang bapak lakukan sebelumnya termasuk cara bapak buat memiliki saya?”, tanya Widya yang menuju kejadian pada penelepon misterius.
“benar, bu. Saya tak bisa menikahi ibu, tapi saya akan memiliki tubuh ibu”
“Saya sangat mencintai ibu dan apa yang saya lakukan itu adalah bentuk cinta saya pada bu Widya. Saya ingin memiliki semua yang dikiliki oleh ibu. Saya ingin menjadi sosok pengganti suamimu”

Widya masih memandang pak Herman yang tengah memandangnya juga dengan telapak tangan masih berasa di pipi sebelahnya. Pandangan keduanya saling beradu dengan amat lekat. Apa yang Widya rasakan sebuah kehangatan yang menjalar.

“apakah aku akan jatuh ke pelukan lelaki lain lagi di pekarangan rumahku sendiri untuk kedua kalinya?”, batin Widya mengingat kejadian saat dirinya juga ditaklukkan oleh pak Narto di pekarangan samping rumahnya itu.
“kenapa aku menjadi gampang bisa terhanyut oleh lelaki? Ada apa dengan diriku ini?”

“Saya sudah tau bahwa ibu sebenarnya juga membutuhkan sosok lelaki yang mampu memuaskan hasrat ibu tanpa disadari juga dan ibu juga pasti sudah tau bahwa semua rahasia ibu dengan pak Narto sudah saya ketahui. Walau saya sudah tau hubungan ibu dengan pak Narto dan saya juga punya sebuah rekaman video, namun saya sama sekali tak berniat untuk menjadikan semuanya sebagai alat untuk mengancam ibu agar mau menuruti keinginan saya”, ucap pak Herman.

“Tapi—“, ucapan Widya dipotong cepat.
“Saya tau. Ucapan yang saya gunakan saat menjadi sosok yang belum diketahui memang sempat memakai sebuah ancaman, namun tak sepenuhnya benar. Jika ibu sebelumnya menolak pun saya tak akan membocorkan kepada siapapun. Saya melakukannya tak serius, kembali lagi karna saya memang cinta dengan bu Widya”

“Dengan begini ibu sudah tau walau ibu menolak pun saya tak akan membocorkan pada siapapun. Sekarang saya akan melakukannya tanpa ada paksaan. Semua ibu yang memilihnya sendiri”

CUP!!!

Pak Herman mengecup bibir lembut Widya. Hanya sebuah tempelan bibir biasa tanpa lumatan. Widya hanya diam dan matanya tetap menatap mata pak Herman yang kini tengah tertutup.

Perasaan hangat yang Widya rasakan dari seorang pria mulai mengalir di dalam darahnya kembali setelah beberapa tahun terakhir dirinya telah ditinggal oleh sang suami dan rasa itu terasa dari sosok pak Herman. Widya tak dapat menyembunyikan hal tersebut dan dengan sadarnya ia mengalungkan kedua tangannya pada leher pria tersebut sambil terhanyut oleh suasanya yang sedang dibangun oleh lawannya.

“Muuaacchhh…..mmmhhhh…”, awal yang pasif mulai diputar balik dengan memberi balasan terhadap bibir pak Herman.

Widya perlahan mulai membalas setiap sentuhan bibir tersebut dengan lumatan lembut dan dari situ gerakan keduanya mulai berubah menjadi sebuah lumatan yang berbalut oleh rasa nafsu yang menyertai.

Diraihnya tengkuk leher Widya oleh pak Herman. “mmmhhhh…..mmmhhhh…”. suara diantaranya saling terdengar berbaur pada dinginnya udara malam.

“Setubuhi aku, mas”, pinta Widya setelah bibirnya terlepas dan panggilannya ia ganti dengan sebutan Mas.
“Di dalam ada Evan sama temannya kan?”, tanya pak Herman memandang manik Widya.
“Tak apa, kita diluar dan mereka di dalam”, balas Widya yang seolah-olah sangat membutuhkan hal tersebut serta dengan gampangnya bisa hasut perasaannya.
“kita ada di pekarangan rumah, apa bu Widya tak takut jika ada orang yang bisa melihat kita?”, pancing pak Herman pada nafsu Widya.
“Tolong, mas…”

Di dalam hati pak Herman tersenyum sangat puas bahwa wanita yang ia incar sudah masuk ke dalam genggamannya dengan gampang.

“nafsu janda memang sangat mudah untuk dinaikkan”, batin pak Herman memandang tubuh Widya.

Kedua tangan pak Herman menangkap bahu Widya dan dengan gerakan cepat langsung membalikkan tubuh Widya. Dalam posisi Widya membelakangi pak Herman, pak Herman memeluk tubuh Widya dari belakang dan ia melakukan gerakan mencumbu tengkuk leher Widya serta kedua tangannya meremas gemas buah dada Widya dari balik baju tipis yang dipakainya.

“Ssshhhhh….ssshhhhh….akkkkhhhh….”, desahan mulut Widya.

Di pelorotkan baju Widya hingga memperlihatkan kedua buah dadanya yang sudah tak terbungkus oleh apapun. Terlihat kedua buah daging kenyal itu sangat menantang akibat nafsu yang sedang menyerang. Terasa mengeras sedikit dan terlihat lebih bulat.

“Nungging, bu. Saya sudah ga kuat pengen sodok memeknya”, pinta pak Herman dan di patuhi oleh Widya dengan langsung menungging memperlihatkan selangkangannya yang merekah sudah siap untuk menerima setiap gempuran dari kejantanan seorang pria dewasa.

CUIH!!! CUIH!!!

Diludahinya batang kontolnya sendiri serta pak Herman ludahi juga tangannya sendiri untuk membasahi lubang memek Widya. Setelah serasa cukup basah, pak Herman mulai mengarahkan ujung kepala kontolnya tepat di lubang peranakan Widya.

BLES!!!!

Tak ada hal yang cukup menyusahkan saat pak Herman mencoba penetrasi pertamanya, mungkin karna memang Widya sebelumnya sudah merasa sangat basah pada selangkangannya akibat perbuatan teman anaknya itu untuk melakukan blowjob.

“Aaakkkhhhh!!!!”, Lenguh keduanya saat kelamin mereka saling bersatu.

“Baru masuk saya sudah merasakan nikmat yang sangat, bu. Ssshhhh… Kayaknya saya bakal ketagihan terus sama memek ibu ini. Ssshhhh….”, ucap pak Herman disertai mulai melakukan gerakan maju mundur dengan sangat pelan.
“Gerakin lebih cepat lagi, mas”
“Hehehe…apanya yang lebih cepat, bu?”
“Kontolnya lebih cepat lagi sodok memeknya, mas”

Sesuai permintaan Widya, pak Herman mulai meningkatkan ritme maju mundurnya. Semakin ditambah kecepatannya semakin pula terdengar suara desahan Widya. Memang benar adanya sepertinya Widya sudah dikuasai oleh nafsunya untuk disetubuhi oleh seorang pria dan apalagi pria tersebut pak Herman. Widya memang tak punya perasaan terhadap pak Herman, namun dari sudut pandang seorang wanita pak Herman memanglah bisa dibilang tampan dengan perawakan yang kekar ditunjang lagi oleh umurnya yang lebih muda 3 tingkat dari Widya, yaitu 35 tahun.

Bukan hanya dari segi penampilan luarnya yang membuat Widya semakin terbakar oleh nafsunya. Dimana pak Herman adalah orang pertama selain mendiang suaminya yang bisa dikatakan enak untuk dipandang, orang pertama yang menyetubuhi Widya. Bukan hanya dari penampilan luar, namun dari ukuran kelamin pak Herman. Ukuran yang sama dengan milik pak Narto.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkhhhhhssss…enak banget, bu. Sshhhhh… Pantas saja pak Narto kelihatan puas banget pas sodok ibu”
“bahkan memek Nonik kalah jauh sama memek bu Widya ini. Ssshhhh….”

“Aaaakkkkhhh…Aakkkhhhh….masss….terus, mas”

Bertumpu pada dinding rumah dalam kondisi menungging sambil disodok dari belakang oleh pak Herman, Widya mendesah menikmati setiap tusukan yang ia dapatkan. Nafas keduanya memburu panas di tengah udara dingin. Tak menghiraukan bahwa posisi mereka yang sedang saling memacu birahinya di pekarangan rumah. Hanya ada pemikiran bagaimana bisa menyalurkan hasrat masing-masing.

Sudah lewat beberapa menit saat pak Herman memompa lubang memek Widya dengan ritmenya sendiri yang kadang naik turun. Widya sendiri juga sangat menikmati setiap ini rongga memeknya yang digesek oleh kontol pak Herman.

“Ssshh….ssshhh….mas”
“Bagaimana rasa kontol saya, bu? Ga kalah sama punya pak Narto kan? Ssshhhh….”

Pak Herman yang bisa menggerakkan laju keluar masuk kontolnya tanpa hambatan itu terus saja memompa Widya dengan leluasa. Gerakan maju mundur dengan kombinasi tamparan kecil di kedua sisi pantat Widya secara bergantian menimbulkan sebuah sensasi tersendiri. Hal tersebut membuat nilai plus bagi Widya, karna perlakuan yang pak Herman berikan membawa nikmat, menyalurkan ke seluruh tubuhnya hingga dirinya merasa akan mencapai orgasme pertamanya dengan waktu yang lumayan cepat. Orgasme akibat perlakuan kasar saat berhubungan badan.

Widya sudah mulai terbiasa akan hal tersebut karna memang hampir semua orang yang pernah menikmati tubuhnya rata-rata melakukannya dengan cara yang kasar.

“Aku suka….aku suka dikasari. Aaaakkkkhhh….ssshhhhh….enakkk….”, batin Widya.

“Aaaakkkkhhh. Keluar mas…Aakkkhhhh”, erang Widya saat orgasme pertama di dapatnya.

Saat gelombang orgasme pertama Widya jebol, terlihat bahwa cairan kewanitaan yang Widya semburkan keluar membasahi kedua paha serta kakinya dan menetes juga diatas rerumputan. Cairan yang keluar demgan bebas dari lubang memek Widya sungguh hangat di rasa oleh pak Herman. Sambil tersenyum puas karna wanitanya berhasil dibuat orgasme sampai terkencing-kencing.

Pak Herman mencoba memberi kesempatan pada Widya untuk menikmati gelombang orgasme yang tengah dialaminya dengan memberhentikan gerakan keluar masuk kontolnya. Baik pak Herman sendiri saat diam menunggu selesainya orgasme yang Widya alami, ia merasakan betul bahwa batang kontolnya serasa di pijat dari dalam pantat Widya yang tengah berkedut menikmati orgasmenya. Sambil meremas kedua payudara Widya yang menggantung dengan bebas, pak Herman mencium punggung Widya yang sudah mulai basah oleh butiran keringat, badannya juga terasa lebih panas dari sebelumnya.

“kenyalnya ini benda”, racau pak Herman menikmati payudara Widya.

“Kalo keluar air susunya pasti bakal lebih nikmat ini ssshhhhh….”, diremasnya payudara Widya dengan amat gemas oleh pak Herman sambil bibirnya menciumi serta lidahnya menjilati keringat yang ada di punggung Widya.

Gerakan tangannya pada payudara Widya benar-benar gemas dan beberapa kali memainkan putingnya saat menunggu Widya yang siap untuk di genjot kembali.

“Hhaaaaaahhh….hhaaahhhh….”, deru nafas Widya.

Beberapa saat akhirnya gelombang orgasme Widya telah surut, dengan gerakan yang perlahan pak Herman mulai menggerakkan kembali kontolnya keluar masuk di dalam lubang sempit milik Widya yang sudah mulai terbiasa menampung batang pria di dalam lubang yang pernah digunakan untuk melahirkan anaknya itu.

“Aaaakkkkhhh…enak banget memeknya, bu. Ssshhh…bu Widya mau ya jadi istri simpanan saya. Aakkkhhhh…. Bu Widya bakal saya nafkahi layaknya istri sah dan….ssshhhhh….pastinya bu Widya bakal saya nafkahi kontol juga. Aakkkhhhh…ssshhhhh…”
“teruuss mass…teruss…lebih kencang lagi. Ssshhh….oowwsshhhh… Enak…”, racau Widya di tengah nafsunya yang mulai bangkit kembali oleh sodokan nikmat.

“enak, bu?”, tanya pak Herman disela genjotannya. Di tanya seperti itu Widya hanya bisa mengangguk jujur dengan apa yang tengah ia rasakan.
“Bu Widya mau saya bikin lebih enak lagi, ga? Aakkkhhhh…sempitnya, bu…”
“Aakkkhhhh…Aakkkhhhh….gimana…mas saja…sshhhh….saya mau….Aakkkhhhh….”

Masih dalam posisi kontolnya dilubang Widya, pak Herman menurunkan sedikit tubuhnya mengambil sesuatu dibawah. Ia mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna pink serta mempunyai kabel.

“Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh…apa itu….masss?”, tanya Widya.
“Ini yang saya maksud, bu. Ini memang kecil, tapi bisa menambah rasa nikmat yang ibu rasakan”

Tanpa terlalu berlama-lama pak Herman langsung memasukkan vibrator kecil berwarna pink itu ke dalam lubang pantat Widya dimana Widya dibuat kaget.

“Mas!!! Kenapa dimasukkan disitu? Sssshhhhh….”
“Nurut saja, bu pasti bakal enak. Lagian saya juga sudah tau kalo pantat bu Widya ini sudah tak perawan kan? Pak Narto sudah pernah pakai lubang ini. Tenang saja”

Setelah masuk, pak Herman menyalakan alat tersebut hingga menimbulkan tubuh Widya bergetar karenanya. Sementara vibrator itu bekerja di lubang pantat Widya, pak Herman menggerakkan kontolnya menggenjot memek Widya lebih bersemangat lagi. Tubuh Widya yang bergetar membuat juga rongga dalam memek Widya semakin mencengkeram dan memijat habis batang kontolnya. Hal tersebut dirasa pak Herman dengan memejamkan mata.

“enak banget, bu. Memek janda rasa memek perawan. Ssshhhh….”
“rahasianya apa bu? Sssshhhhh….udah sering dipake orang tapi masih aja bisa seret kaya gini? Gila enak banget. Ssshhhh….”, racau pak Herman.

“oowwsshhhh….masss…eennnaakkkk…ssshhh…terus, terusss….Aakkkhhhh…”
“Hahaha…ssshhh….siap, bu. Saya bakal buat bu Widya puas alami orgasme terus. Ssshhhhh….nikmat betul ini memek. Ssshhhhh….”, racau pak Herman fokus menggerakkan maju mundur pantat serta tangannya di lubang milik Widya yang tengah dimainkan olehnya itu.

“apa hanya pak Narto yang pernah nikmatin tubuh ibu dan teman anakmu saja yang pernah nikmati mulutmu, bu?”, tanya pak Herman.

Widya menggeleng dalam nikmatnya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Herman.

“wah…wah….seriusan, bu? Berapa orang? Aaakkkkhhhhss….”
“sudah berapa pria yang pake memek ibu, hah?! Ssshhh….Aaaakkkkhhh….”, gemas pak Herman melihat jawaban Widya dengan menggenjot keras.

“AAAKKKHHH!!!! AAKKKHHHH!!!!”
“AAAKKKKHHHH….AMMPUUNN MAASSSHHHH…ENAK BANGEETTT….SSHHHHHH…”

PLAK!!! PLAK!!!

Mendengar Widya hanya mengerang, pak Herman makin dibuat gemas dengan aset yang Widya miliki dengan meremas kencang payudaranya dan menampar pantatnya, sehingga beberapa tamparan yang mendarat di pantat Widya sampai menimbulkan warna memerah.

“Aaaakkkkhhh…iyaaa…iyaa….sshhhhh…saya ga hitung mas. Sshhhhh… Aaaakkkkhhh…”
“3? 4? 5? 6? 7?”, selidik pak Herman.

Widya menggeleng, “saya ga tau, mas. Ssshhhh….mungkin lebih dari delapan. Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh…”

“saya pernah telepon bu Widya dulu pas saya mau pesan katering dan saya mendengar dari ucapan ibu ada yang aneh. Apa itu juga masuk hitungan jika saat itu ibu menerima telepon saya sedang dientot orang?”, tanya pak Herman. Widya mengangguk.

“Lonte juga kamu, bu. Aakkkhhhh…tapi saya suka model janda nakal kaya bu Widya ini. Ssshhhhh…jadi saya ga usah takut kalo bu Widy saya buat hamil. Lagian sudah banyak yang keluar masuk memek ibu ini. Ssshhhhh….”
“Saya sedang…..sedang hamil, mas”

Pada pengakuan Widya, pak Herman dibuat kaget namun tak lama pak Herman kembali tersenyum nakal. Pak Herman tak percaya bahwa Widya sudah pernah dipakai oleh banyak orang dan terlepas lagi sampai mengandung seorang anak yang sudah bisa dipastikan Widya sendiri tak tau peju siapa yang berhasil membuahi rahimnya.

“bu Widya sampai hamil sekarang? Ibu benar-benar jadi wanita nakal ya setelah jadi janda. Ssshhhh….apa semua yang pernah nikmatin memek ibu ini dilakukan secara gratis?”
“Iyaaahhh, massshhh….ssshhhhh….”
“Kok murahan ya, bu?”, ucap pak Herman mencoba melecehkan Widya dengan perkataannya.

“Saya ga murahan, mas. Saya kalo dijual juga bakal banyak yang mau bayar saya mahal”, balas Widya mencoba binal.
“berarti ibu mau kalo dijual buat jadi pelacur dong”
“Ga juga, maasssshhhh….sampai sekarang saya Cuma dipakai oleh pak Narto saja, mas. Aaakkkhhhh….”
“beruntung juga itu bandit tua bisa buat bu Widya bertekuk lutut. Kalo pak Narto bisa, apa saya juga bisa ikut nikmatin tubuh bu Widya ini?”
“Iyaaahhh….ssshhhhh…mas Herman boleh miliki tubuh saya ini. Semuanya. Sssshhhhh….”

Genjotan kontol pak Herman makin bertenaga. Kedua buah payudaranya yang tergantung bebas tak luput bergerak akibat sodokan tersebut. Saat Widya tengah mendesah dan mengerang, rambutnya dijambak dari belakang sebagai tali kekangnya saat menikmati sempitnya lubang Widya. Ia tarik lumayan keras rambut Widya hingga kini posisinya sejajar dengan tubuh pak Herman. Sementara satu tangannya meremas keras payudara Widya. Dalam keadaan setengah berdiri itu, tubuh Widya terlonjak ke depan mengikuti setiap dorongan pinggul pak Herman pada pantatnya.

“Aaakkkhhhh…..Aaaakkkkhhh….rasakan kontolku juga, bum ssshhhhh….rasakan ini….aaakkkkhhhhss….”, erang pak Herman.
“Aaakkkhhhh….Aaaakkkkhhh….”, desah Widya.

Puas dalam posisi tersebut, pak Herman melepas kembali jambakan pada rambut Widya dan mencabut kontolnya dari memek Widya hingga terlepas sepenuhnya. Kemudian vibrator kecil berwarna pink yang tertancap di dalam lubang pantat Widya juga ikut dicabutnya dengan cepat.

Diperhatikannya memek Widya yang mulus tanpa bulu terlihat sangat basah itu. Menggunakan kedua buah jarinya pak Herman mengocok lubang memek Widya dengan ritme yang cepat sehingga menimbulkan suara kecipak yang sangat khas.

CLOK!!! CLOK!!! CLOK!!!

“Aaaakkkkhhh….akkkkhhhh…akkkkhhhh….”, desah Widya di tengah kocokkan jari pak Herman di dalam memeknya.

Keadaan selangkangan yang sudah sangat basah dan kocokkan cepat jari pak Herman membuat cairan kewanitaan Widya tercecer keluar dengan deras, bahkan ia dapat meraih orgasme keduanya dalam keadaan menungging. Tangan pak Herman basah tersiram oleh cucuran cairan orgasme yang Widya dapatkan.

“Saatnya buat kontol saya bekerja lagi, bu”, ucap pak Herman mencabut jarinya dan bersiap mengarahkan ujung kepala kontolnya dilubang Widya.

BLES!!!

Untuk kedua kalinya batang kontol pak Herman kembali menembus masuk liang seggama milik Widya yang sangat membuat ketagihan oleh para pria itu. Lubang yang entah bagaimana caranya selalu bisa menutup dengan rapat meski sudah di pakai oleh banyak orang. Jika di dalam game mungkin bisa dibilang Widya ini adalah item langka yang sulit untuk didapatkan.

“Saya lemas, mas. Istirahat dulu”, pinta Widya.
“masa sudah lemas, bu? Katanya sudah pernah di entotin banyak kontol? Masa baru satu kontol udah lemas gitu. Saya mulai ya, bu”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!!

Kembali pak Herman menggenjot memek Widya dengan ritme yang sedang tanpa menggubris permintaan Widya untuk beristirahat sejenak mengembalikan tenaganya yang sempat hilang akibat terbuang untuk 2 kali orgasmenya.

“Aaakkkhhhh….Aaakkkhhhh….”, Widya hanya bisa mengerang dan mendesah kecil sambil menggelengkan kepalanya merasakan nikmat bercampur rasa lemasnya.

“Hahahaa….sssshhhhh… coba ibu bayangkan kalo saat ini ibu yang sedang saya entotin ini lagi ditonton oleh Evan sama temannya itu”
“anggap saja bu Widya sedang melakukan seks edukasi untuk anakmu lewat praktik langsung ini. sshhhh… bayangkan jika Evan sedang menonton kita. Dimana ibunya ini sedang keenakan sama kontol saya ini. Dimana ibunya sedang mendesah kaya pelacur murahan. Coba bayangkan, bu. Bayangkan semuanya. Aaakkkkhhhhss….”
“Evan pasti bakal marah. Aaakkkhhhh….ssshhhhh…”, ucap Widya menatap ke belakang.

“Evan tak akan marah, bu. Kan saya tadi sudah bilang kalo ini seks edukasi. Sssshhhhh… Lagian bukan nyata, hanya membayangkan saja dan coba rasakan sensasinya bu. Aaakkkhhhh….sssshhhhh… Nikmatnya ini lubang. Ssshhhh….”

Beberapa saat Widya hanya mendesah dan pak Herman hanya diam menyodokkan kontolnya. Hingga Widya berhasil mengambil keputusannya untuk mencoba membayangkan apa yang diperintahkan oleh pak Herman. Dimana saat di Setubuhi oleh pak Herman, dia membayangkan anaknya tengah melihatnya secara langsung.

“Anak saya sedang melihat kita, mas. Aaakkkhhhh…ssshhhhh” ,ucap Widya yang disambut senyum kemenangan oleh pak Herman.
“tak apa, bu. Kita kasih seks edukasi buat Evan biar tau cara memuaskan seorang wanita pas menikah nanti”, balas pak Herman mengikuti imajinasi yang sedang di bangun.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Evan….lihatlah ibumu ini. Sssshhhhh… Ibumu sedang bapak entotin. Ssshhhh…bapak sama ibu kamu mau lasi kamu pelajaran seks yang akan berguna buat kamu nantinya”, sambil meremas kencang payudara Widya.
“Pertama-tama apa yang sedang bapak lakukan ini pasti kamu sudah tau kan? Ssshhhh….ini namanya ngentot. Aaaakkkkhhh….memek ibumu ini sedang bapak sodok pakai kontol besar bapak ini makanya ibu kamu ini mendesah keenakan kaya Lonte begini. Aaakkkhhhh….ssshhhhh….”
“Aaakkkhhhh…..ssshhhhh…apa yang mau kamu tanyakan, Evan?”, tanya pak Herman seolah-olah sedang bertanya pada Evan.
“apa ngentot itu enak, om?”, ucap pak Herman menjawab sebagai Evan.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Aaakkkhhsssss….kamu dengar kan suara sodokan kontol bapak? Kamu sudah tau kan seberapa enak dan nikmatnya ngentot. Aakkkhhhh….apalagi ngentotin memek ibu kamu ini. Ssshhhh… Enak pake banget”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“Memek ibu kamu enak banget, Evan. Ssshhhh… Dulu kamu lahir dari lubang yang sedang bapak kontolin ini kan? Ssshhhh…. Lubang yang dulu buat lahirin kamu ini nikmat luar biasa. Ssshhhh….kamu juga boleh kalo mau coba rasain lubang tempat keluar kamu ini. Aakkkhhhh….iya kan, bu?”, tanya pak Herman.
“Iyaaahhh bbolehhh…ssshhhhh…akkkkhhhh…enak…”, racau Widya.
“apa lagi yang mau kamu tanyakan, Evan?”, tanya pak Herman.
“Ga ada, om. Evan mau nonton aja”, ucap pak Herman menjadi Evan.
“Yaudah, kamu diam disitu terus liatin aja ibu kamu bapak entotin sama puas”, ucap pak Herman.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Ritme sodokkan yang dilancarkan oleh pak Herman semakin celat dan bertenaga sehingga membuat Widya makin tambah tak karuan dibuatnya. Badanya bergetar serta butiran keringat mulai terlihat semakin banyak dan membasahi badan keduanya. Widya yang sudah orgasme dua kali dibuat tak bisa berbuat apapun, dia hanya membulatkan mulutnya menahan setip rangsangan nikmat yang mengalir pada tubuhnya.

PLAK!!!

Ditamparnya bongkahan pantat Widya oleh pak Herman akibat rasa gemas dan nafsu yang membara. Satu tangan Widya di tarik ke belalang dan terlihat pula pada bagian batang kontol pak Herman yang sedang keluar masuk dengan cepat di dalam lubang memek Widya bahwa cairan putih dari kewanitaan Widya menyelimuti kelamin keduanya.

“Oowwsshhhh….mass…terus, lebih keras lagi. Sshhhhh…ya seperti itu. Teruss….aakkhh…”, racau Widya makin liar.
“ibu suka dientot kontol besar? Ibu suka dikasari kaya gini?”
“Iya…iya saya suka mas. Saya terlihat seperti pelacur yang dibayar untuk dikasari. Ssshhh…teruussss….”
“tapi bu Widya bukan dibayar dengan uang, tapi cukup dibayar pakai kontol sama peju doang. Aaaakkkkhhh….memang Pelacur idaman bu Widya ini. Aakkkhhhh…ssshhhhh…”
“soalnya bayi yang sedang…..saya kandung ini sedang ngidam, mas. Aakkkhhhh….sshhhh….ngidam kontol sama peju. Aaakkkkhhhhss….terus, mas….enak banget kontolmu ini. Aaaakkkkhhh….”
“Mantap sekali ngidam anakmu, bu. Calon anaknya ini kayaknya sudah tau kelakuan ibunya kaya Lonte. Ssshhhh….pasti kalo udah besar nanti bu Widya bakal dientotin juga sama kontol anaknya ini. Aakkkhhhh….”, Racau pak Herman semakin bersemangat menyetubuhi dan melecehkan Widya. Lagian apa salahnya, Widya juga menikmati hal tersebut.

Makin liat saja pak Herman menyetubuhi Widya. Seakan lupa bahwa wanita di depannya itu sedang dalam keadaan mengandung seorang jabang bayi. Walau umurnya masih muda. Walau dalam keadaan muda pun juga bisa menjadi sebuah risiko jika berhubungan badan dengan cara terlalu kasar.

“Bu Widya jadi istri saya saja. Biar memeknya Cuma saya yang nikmatin. Ssshhhh…..”, ucap pak Herman.
“Iya, mas. Anggap saja saya istri mas Herman yang kedua. Ssshhh…saya istri selingkuhan, mas…silahkan nikmati memek saya ini, mas…saya istrimu…. Saya suka….Aakkkhhhh….”
“Aaakkkhhhh….nakal kamu, bu. Ssshhhh….bu Widya ini….mau jadi istri saya atau mau jadi Lonte saya, bu? Ssshhhhh….tingkahnya binal banget”

Widya melengoskan kepalanya menghadap ke belakang dimana pak Herman tengah berdiri sambil menyodokkan kontolnya. Setelahnya di tarik tangan pak Herman sehingga kepala pak Herman mendekat ke arahnya dan langsung saja Widya lumat penuh nafsu bibir pria tersebut.

MMMHHHH!!!! MMMHHH!!!!!

Pak Herman yang mendapat serangan liar dari Widya tak mau diam, ia membalas lumatan kasar yang dilancarkan oleh Widya terhadap bibirnya. Keduanya saling lumat dengan nafsu sambil pak Herman terus menggerakkan pinggulnya maju mundur menumbuk selangkangan Widya.

“saya istrimu mas, tapi saya juga mau jadi Lontemu. CUP!!! Ssllurrrpp….”, ucap sayu Widya di tengah lumatannya.

“jatuh juga kamu bu sama kontolku ini”, batin pak Herman.

Pak Herman melepaskan keluar kontolnya dan membimbing tangan Widya untuk mengikutinya. Setelah sampai di tempat jemuran, pak Herman mengambil salah satu selimut tebal yang belum diangkat dari jemuran. Pak Herman menggunakan selimut tersebut sebagai alas diatas rerumputan yang akan dipakainya sebagai media menyetubuhi Widya kembali.

Direbahkannya Widya dan beberapa kali dilumatnya terlebih dahulu bibir tipis tersebut. Dari bibir mulutnya turun tepat di selangkangan Widya yang sudah sangat basah. Tanpa merasakan jijik atau risih akibat cairan kewanitaan milik Widya, pak Herman melumat habis selangkangan Widya.

SLURP!!! SLURP!!!

“Rasanya gurih banget, bu”, ucap pak Herman memandang ke arah wajah Widya dimana tangannya sedang meremas payudaranya sendiri.
“Udah gatal pengen di sodom pake kontol saya lagi ya, bu?”, Tanya pak Herman dan dijawab anggukan oleh Widya.
“Hehehe….sabar, bu”

Di renggangkannya kedua paha Widya dan pak Herman memosisikan tubuhnya tepat di tengah selangkangan Widya. Ujung kepala kontolnya yang kokoh siap membobol lubang sempit memek Widya untuk ke sekian kalinya.

“Ini kon…tol buat memekmu, bu!!!”

BLES!!!!

“AAAKKKKKHHHHH!!!!”, Lenguhan puas keduanya karna bisa bersatu kembali.

Di pompanya kembali memek Widya oleh pak Herman, kini dengan ritme sedikit cepat mungkin karna memang pria tersebut sudah sangat ingin memuntahkan lahar panasnya di dalam tubuh Widya yang ia idamkan. Widya hanya bisa diam menikmati setiap sodokkan nikmat yang tengah diberikan kepadanya. Terlihat pula kedua payudaranya sedikit memerah akibat remasan kasar yang pak Herman lakukan sebelumnya. Beberapa tandan cupangan juga ada disana.

Seakan kurang puas dengan cupangan yang ada di payudara Widya. Pak Herman kembali membuat tanda merah di kedua paha mulus Widya.

“Aaakkkhhhh….akkkkhhhh….masss…”, desah Widya.

PLAK!!! PLAK!!! PLAK!!!

“AAKKKKHHHHH!!!!”

Ditamparnya payudara Widya secara bergantian beberapa kali. Widya yang mendapatkan tamparan di payudaranya hanya mengerang. Rasa kombinasi yang sangat nikmat diterima oleh Widya. Rasa sakit akibat tamparan di payudaranya, namun di sisi lain juga merasa nikmat di selangkangannya akibat sodokkan kontol pak Herman. Sakit, tapi enak dan Widya mau hal itu lagi.

“Tampar lagi, mas. Ssshhhhh….tampar lagi payudaraku ini”, pinta Widya.
“Ketagihan kamu bu saya kasarin kaya gini?”, Widy mengangguk.
“bu Widya memang Lonte. Terima ini. PLAK!!! Terima ini…PLAK!!! TERIMA INI KAU, LONTE!!!! PLAK!!! PLAK!!!”

Apa yang dilakukan oleh pak Herman ternyata menghantarkan Widya kembali pada orgasmenya. Tepat pada saat pak Herman menampar payudara Widya dan selangkangannya terus di genjot, Widya mengerang nikmat dengan panjangnya.

“kellluaarrggghhhh….keluar, masss….akkkkhhhh….”, lolong panjang Widya.

Cairan kewanitaannya keluar membasahi batang konyol pak Herman yang tengah menyumpal penuh lubang memeknya itu. Rasanya sungguh sangat terasa sangat oleh pak Herman sendiri. Dilihatnya juga badan Widya bergetar dengan hebat, kedua tangannya meremas keras seprei yang digunakan untuk alas. Kalinya mengacung lurus dan mulutnya mengangga. Bukan hanya itu, matanya juga ikut mengisyaratkan bagaimana nikmat yang sedang Widya rasakan. Matanya hanya memperlihatkan area putihnya saja.

“aaakkkkkkhhhh…..maaass……aaakkkkkkhhhh….”, orgasme panjang menerpa Widya.

Sementara pak Herman hanya terdiam melihat pemandangan di depannya tak kala hal tersebut adalah pertama kalinya ia melihat seorang wanita mengalami orgasme sehebat itu. Gerakan kontolnya yang sedari tadi terus keluar masuk memompa memek Widya kini berhenti total.

Hanya pijatan dan rasa hangat yang bisa pak Herman rasakan pada batang konyolnya itu. Bulir keringat terlihat keluar banyak dari tubuh Widya. Terasa licin oleh keringat.

“Masss…tolooonngg….aaakkkhhsssss….ini nikmat banget, mas….akkkkhhhh…..ssshhhhh….”, erang Widya begitu merasakan nikmatnya orgasme miliknya malam itu.

“OOORRRGGGHHHH….NIIKKMAATTTGGGHHHH…SAYA KELUAR….AAAKKKHHHH!! SAYA KENCING BANYAK, MASSS…AAAKKKKHHHH”

Beberapa menit Widya mengalami orgasme beruntun dan selama itu juga pak Herman hanya diam melihat bagaimana Widya menggerakkan tubuhnya bak cacing yang sedang kepanasan. Pak Herman melihat dengan tatapan terpukau namun dirinya juga masih dalam keadaan nafsu yang makin bertambah besar akibat tontonan di depannya itu.

Akhirnya gelombang orgasme panjang yang Widya rasakan mulai reda dengan perlahan dan menyisakan tubuh lemas Widya yang sedang kehabisan nafas. Dadanya naik turun, tubuhnya masih sesekali bergetar.

“hebat sekali, bu. Baru kali ini saya lihat wanita orgasme sampai sebegitunya”, ucap pak Herman membuka suara.
“saya mulai lagi, bu”, lanjutnya.
“jangan! Jangan dulu, mas. Saya lemas banget. Tolong kasih saya waktu sebentar”, mohon Widya untuk memulihkan tenaganya.
“jangan bercanda, bu. Daritadi bu Widya keenakan dan saya hanya bisa menahan nafsu saya. Sekarang saya harus nunggu ibu buat istirahat? Ga tau diri sekali ibu Widya ini. Saya mulai!!!”

PLAK!!! PLAK!!!

Pak Herman kembali menampar Payudara Widya berulang kali hingga kulit mulus dada Widya yang awalnya sudah merah bertambah merah. Tanpa memberi jeda saat Widya beristirahat, pak Herman mulai menggenjot kontolnya kembali pada lubang memek Widya yang tadi sempat terhenti. Kini ritme kecepatannya ditambah sehingga Widya kembali mengerang lebih liar dibuatnya setelah orgasme panjangnya.

“AAAKKKKHHHH…LINU, MAS!!! AAAKKKKHHH…TAPI INI ENAK BANGET….AAAKKKKHHH….TERUSSS….TERUS….AAKKKHHH…”, racau Widya dengan ucapan semakin menunjukkan sisi Binalnya. Sedangkan pak Herman tambah semangat membuat Widya menderita dalam rasa nikmatnya.
“bu Widya ini memang sangat Binal sebenarnya ya. Ssshhhhh… mengerang, mendesah terus pas di sodok kontol tetangganya….kaya pelacur kamu, bu. Oowwsshhhh…nikmatnya”, racau pak Herman.
“SAYA KAYA PELACUR….YANG PENTING JADI PELACUR KAMU, MAS. AAKKKKHHHH….SSHHHH….”, balas Widya.

Diremasnya kedua payudara Widya yang ikut bergerak naik turun seiring sodokkan kontol pak Herman. Kontolnya masih keluar masuk menumbuk liang seggama Widya dengan keras sambil memejamkan mata menikmati keluasan yang ia dapatkan dari janda teman istrinya itu yang sedang ia tunggangi layaknya istrinya sendiri. Bahkan bagi pak Herman bu Nonik, istrinya pun kalah binalnya dengan Widya.

HHHHAAAHHHH!!! HHHAAAHHHHH!!!

Merasa sedikit memedulikan kondisi Widya, pak Herman perlahan mulai mengurangi tempo pompaannya dan perlahan pak Herman malah melepaskan keluar kontolnya yang masih sangat tegang, siap untuk menyemprotkan bibit-bibit anaknya.

PLOP!!!

“Aaaakkkkhhh….”, lenguh Widya saat kontol pak Herman terlepas.

Lubang milik Widya memang sempit dalam usianya itu, namun sesempit apapun jika baru saja di masuki oleh benda besar pasti juga bakal meninggalkan jejaknya. Seperti saat kontol pak Herman terlepas dari lubang memek Widya, dimana lubang memek Widya terlihat terbuka. Tapi anehnya milik Widya ini spesial. Bisa dengan cepat menutup rapat kembali seakan-akan selaput rongga memek Widya karet yang tak gampang menjadi kendur walau di tarik panjang.

Widya terlentang dengan kedua kaki masih terbuka memperlihatkan selangkangannya yang sudah basah kuyup oleh cairan orgasmenya sendiri.

Sementara pak Herman tengah berdiri melihat Widya yang tengah kelelahan sambil mengocok batang kontolnya sendiri. Ia pandangi setip inci wanita tak bersuami itu dalam keadaan hamil muda dan telanjang bulat tengah mengangkang di depannya.

Pak Herman beranjak dari posisinya dan menghampiri Widya. Ia elus pipi Widya dengan lembut serta memainkan bibir manis Widya menggunakan jemarinya.

“bu Widya cantik sekali. Dalam kondisi habis orgasme seperti ini ibu terlihat lebih merangsang berkali lipat dari sebelumnya”, ucap pak Herman.

CUP!!!

SLURP!!! SLURP!!!

Dicium dan sedot puting Widya yang mengacung tegang oleh pak Herman dengan buas secara bergantian. Dapat pak Herman rasakan bahwa kulit payudara Widya terasa sedikit panas, mungkin akibat tamparan yang ia berikan berulang kali pada daging kenyal itu.

Dari payudara, mulutnya turun le arah perut Widya yang berisi calon bayi di dalam sana. Diusapnya permukaan perut Widya dan diciumnya.

“kalo kamu sudah lahir nanti jangan bikin susah ibumu ya. Soalnya ibumu saat mengandungmu juga sudah kesusahan buat cari tau siapa bapakmu. Hehehe…”, Ucap pak Herman.
“bapakmu siapa, ga ada yang tau….soalnya banyak yang ikut sumbang peju nya”
“kamu di dalam sana jangan rewel. Jadilah anak baik, nanti om kasih makan peju yang banyak buat kamu”

Setelah selesai dengan omongan ngelantur nya, pak Herman menggeser tubuhnya di depan selangkangan Widya kembali sambil memegang batang kontolnya yang sudah siap membombardir memek Widya kembali.

“istirahatnya sudah kan, bu? Saya sodok lagi ya memeknya”

BLES!!!

“EEEGGGHHHHH!!!!”, lenguh Widya.

“Pelan-pelan dulu, mas. Masih ngilu rasanya”
“kalo pelan kapan selesainya, bu? Bisa-bisa sampai pagi bu Widya saya genjot terus. Ibu mau?”. Widya diam.
“saya sudah tak bisa menahan lagi, bu. Saya sudah ga tahan pengen pejuhin memekmu ini”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pak Herman langsung mengambil ritme menggenjot memek Widya dengan cepat dan bertenaga sehingga mau tak mau Widya harus menutup mulutnya supaya suaranya tak terlalu keras keluar. Gempuran di selangkangannya sungguh membuatnya tersiksa dalam nikmat, rasanya Widya ingin berteriak dalam desahannya tapi hal itu tak bisa dilakukan olehnya mengingat siapa yang tengah menyetubuhinya dan dimana mereka melakukannya. Bisa dengar para tetangga, orang lewat bahkan anaknya sendiri dengan apa yang sedang ia lakukan bersama pak Herman fi pekarangan rumah.

“ga tahan saya lihat Tete mantap kaya gini”

Tangan pak Herman tak tinggal diam saja, ia arahkan kedua tangannya meremas bukit mengkel milik Widya. Dimainkan kedua putingnya sambil sesekali ia sentil puting itu sehingga tubuh Widya melonjak dalam menahan suaranya.

Respon yang Widya berikan saat di sentil putingnya membuat pak Herman berpikir lebih nakal. Kali ini di cubitnya kedua puting Widya dan menariknya perlahan. Hal tersebut sudah pasti membuat Widya ingin berteriak. Untungnya bisa ditahan menggunakan kedua tangannya.

“masss….tolong jangan ditarik. Ssshhhh….sakit… Aakkkhhhh…akkkkhhhh….”

Tangan kanannya dilepas dari payudara Widya dan didaratkan pada selangkangan dimana pak Herman memainkan klitoris Widya dengan gemas sambil terus menyodokkan kontolnya.

Desahan kini mulai terdengar kembali dari mulut Widya yang dari tadi tertahan oleh tangannya sendiri. Desahannya berubah menjadi racauan dikala gerakan kontol pak Herman keluar masuk dengan cepat dan bertenaga sambil di kombinasikan dengan permainan di klitorisnya sehingga tubuhnya ikut tersentak- sentak nikmat.

Payudaranya yang sedang diremas juga tak luput dari goyangan yang di timbulkan oleh sodokan kuat kontol pak Herman pada memeknya. Racauan liar Widya menggambarkan betapa nikmatnya persetubuhan yang ia terima itu. Rasa nikmat dari kontol seorang pria yang ia kenal sebagai suami dari teman tetangganya itu.

Mencoba menahan rasa nikmat yang menyerangnya kembali, Widya meremas payudaranya sendiri dengan keras. Badanya menggeliat dan nafasnya mulai tak bisa ia kontrol.

“akkkkhhhh…..aakkhh….tolong…tolong mamah, nak. Ssshhhh….aaakkkhh….tolong mamah dari rasa nikmat kontol perkasa pak Herman ini, nak. Aaakkkkhhhhss…..”, racau Widya.
“Aakkkhhhh….iya terus, mas….teruuss….ssshhhhh….enak…enak bangettt…ssshhhhh…”
“tolong mamah, nak. Mamah rasanya mau keluar lagi. Aakkkhhhh….Aakkkhhhh….kontol pak Herman jahat banget bikin mamah tersiksa….dalam kenikmatan. Ssshhhhh….”

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“terus, bu. Sshhhhh….terus utarakan rasa nikmat yang ibu rasakan pada Evan. Terus, bu. Aaakkkkhhhhss…. Gila enak banget ini lubang”, racau pak Herman.

Tubuhnya dan kenikmatannya sudah dikuasai sepenuhnya oleh kenikmatan yang diberikan oleh pak Herman secara kesadaran yang penuh. Widya benar-benar sudah jatuh dalam pelukan tetangganya itu.

Remasan di payudaranya sendiri sampai mengakibatkan kulit mulus payudaranya makin memerah. Kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri mencoba meresapi rasa nikmat yang dia dapatkan. Sebuah rasa nikmat yang terus-terusan ia dapatkan dari kontol besar tetangga yang sedang menyetubuhinya dengan buas.

“Aaaakkkkhhh….enak kan, bu. Enak?! Ssshhhhh”, tanya pak Herman disela genjotan cepatnya di dalam memek Widya.
“Iyaaahhh…enakkk…ssshhh…teruss genjot, mas. Terus sodok memek Widya…Aakkkhhhh…enakkk….buat Widya sampai lemas nikmat”, racau Widya.
“Bakal saya buat bu Widya tak bisa berjalan buat seharian nanti. Aakkkhhhh…sshhhh….”

Pak Herman menempatkan kedua kaki jenjang Widya pada pundaknya sehingga posisinya kini menggempur memek Widya dari atas. Mata pak Herman menatap lekat wajah Widya yang tengah mengerang kenikmatan di bawahnya.

PLAK!!!

Ditamparnya pipi Widya lumayan keras. Widya terus mendesah dan mengerang, tetapi matanya mengeluarkan air mata yang mengalir ke pelipisnya. Bahkan hal yang tak terduga diperlihatkan oleh Widya, dimana Widya malah terlihat sedikit tersenyum dalam rasa ingin menangisnya dan rasa nikmatnya.

“Rasakan kontol ini, bu. Rasakan kontolku Pelacur. Aakkkhhhh….ssshhhhh….”, umpat pak Herman yang juga merasa kenikmatan saat menyetubuhi Widya dengan kasar layaknya wanita yang bisa ia bayar dengan uang.
“Aaaakkkkhhh…ssllurrrpp…Aakkkhhhh…saya…saya memang pelacurmu, masss”

“Istri simpananku….Pelacurku…”, oceh pak Herman.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Gerakan pantat pak Herman pada memek Widya semakin buas dan cepat mencoba mencapai kepuasaan yang di cari dari memek dan tubuh Widya yang ia kejar sedari tadi. Di tumbuknya memek Widya dengan kuat sampai menimbulkan suara benturan kulit dan suara becek memek Widya lebih keras dari sebelumnya.

Sembari memeknya di genjot dengan cepat dan kuat, mulut Widya di lumat bernafsu oleh mulut pak Herman. Dijilatnya wajah Widya dengan buas serta keringatnya jatuh menetes dengan deras ke arah dada, leher bahkan wajah wanita cantik tersebut.

Badan Widya dan pak Herman tengah bersatu dalam telanjang telah banjir oleh keringat persetubuhan panas mereka. Selimut yang di pakai untuk alas persetubuhan mereka sudah mulai basah oleh keringat keduanya. Dalam lumatan dan jilatan pada wajahnya, Widya kehabisan nafas. Mulutnya yang membuka mencoba mencari udara untuk masuk ke paru-parunya malah disumpal oleh mulut mbah Mitro sambil lidahnya bermain di dalam mulut Widya.

“Aaaakkkkhhh….Aaaakkkkhhh….Aakkkhhhh….”, desah pak Herman di sela lumatannya.

“Ampun, masss…Aakkkhhhh…aampuunn….Aakkkhhhh….ini terlalu nikmat…ssshhh….”

“SAYAAA…KELUAARRR LAGI, MASSS!!!! AAAKKKHHHH!!!”, lolong keras Widya saat orgasme kembali menerpa dirinya dengan hebat.

Sementara itu pak Herman yang sebentar lagi juga akan mencapai orgasmenya terus memompa memek Widya tanpa mengurangi ritme pompaannya. Dengan nafas kasar pak Herman terus menumbuk memek Widya dengan cepat dan bertenaga. Dibawahnya tubuh wanita yang tengah bergetar hebat merasakan gelombang orgasme tak di pedulikan. Ia terus saja memfokuskan gerakannya untuk memompa keluar peju nya mengisi rahim Widya.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

“KELUARRRR…..KELUUARR….WIDYA SAYANG….”

Dengan menghentakkan pantatnya dengan keras ke arah selangkangan Widya, pak Herman memuntahkan bermili-mili peju nya mengisi rahim Widya dengan keras menabrak dinding rahim tersebut. Seiring kedutan pantat yang pak Herman lakukan, ia menembakkan peju nya.

“AAKKKHHH!!! INI PEJU PERTAMAKU, BU. TERIMA SEMUA DI RAHIMMU. SAYA MAU IKUT SUMBANG PEJU BUAT BAYIMU INI. TERIMA SEMUANYA, WIDYA SAYANG!!! AAAKKKHHHH!!!!”

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

“MAKAN!!! TELAN SEMUA PEJU OM INI, NAK!!!”, erang pak Herman menembakkan laharnya ke dalam rahim Widya sambil seolah-olah menyuruh anak yang ada di dalam perut Widya untuk memakan habis semua peju nya.

“AAAKKKHHHH!!!”, Lenguh Widya karna kuatnya semburan peju pak Herman menghantam dinding rahimnya.

CRUT!!! CRUT!!! CRUT!!! Pak Herman menyemburkan sisa-sisa peju nya.

Dengan masih membiarkan kontolnya di dalam memek Widya, pak Herman ambruk mendekap tubuh Widya dengan kuat. Diciumnya aroma keringat persetubuhan mereka. Persetubuhan yang Widya alami telah berakhir, Widya dengan lega menikmati sisa gelombang orgasmenya sambil sesekali masih merasakan kontol pak Herman berkedut di dalam memeknya. Ia ambil nafasnya yang kacau dibawah tindihan tubuh pak Herman.

“Terima kasih, bu. Akhirnya saya bisa mencicipi lubangnya”, lembut pak Herman menindih tubuh polos berkeringat Widya.

Sekitar 3 menit mereka berdua bertahan dalam posisi seperti itu. Hanya suara angin malam dan deru nafas kasar. Pak Herman bangkit dari posisinya dan kembali mengenakan celananya.

“saya bantu berdiri, bu”, ucap pak Herman setelah selesai memakai kembali celananya membantu Widya untuk berdiri dan memakaikan kembali pakaiannya. Namun di cegah oleh Widya, ia lebih memilih untuk menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang digunakan untuk alas persetubuhan mereka.

“Yaudah, saya papah ke depan”

Widya di papah oleh pak Herman berjalan ke arah depan rumahnya dengan kondisi tubuh telanjangnya hanya dibalut selimut. Karna memang pintu depan saja yang bisa digunakan, sementara pintu samping dikunci dari dalam.

“nyeri?”, tanya pak Herman.
“Lumayan, mas tapi ga terlalu”, jawab pelan Widya.

Dirangkulnya Widya untuk membantunya berjalan. Saat melewati persimpangan tembok pekarangan mereka dikagetkan oleh sosok pria tua duduk di kursi teras rumah Widya. Widya dibuat kaget oleh kehadiran pak Narto di teras rumahnya, namun tidak untuk pak Herman. Ia terlihat biasa saja.

Ada dua point yang membuat Widya kaget. Pertama, ia takut apa yang baru saja terjadi dengan pak Herman akan disebarkan oleh pak Narto. Point kedua Widya kaget karna pria tua tersebut duduk di kursi terasnya dengan mengeluarkan batang kontolnya dan tengah mengocoknya dengan cepat.

Widya yang sedang dalam keadaan kaget disuruh untuk melanjutkan jalannya oleh pak Herman. Saat mereka berdua tiba di dekat pak Narto…

“Ngentotnya lama banget, pak? Keenakan pasti. Ssshhhh….ssshhhhh….”, ucap pak Narto.
“banget malahan. Hahahaha…”, jawab pak Herman.

“Apa yang sebenarnya terjadi disini?”, bingung Widya dalam hati mencoba menebak apa mereka sudah merencanakan hal ini.

Saat Widya mencoba menebak keadaan membingungkan yang sedang terjadi, tiba-tiba pak Narto bangkit dari duduknya dan dengan cepat membalikkan tubuh Widya serta tubuhnya disuruh untuk sedikit menungging.

“pak!!! Apa yang bapak lakukan?!”, tegas Widya.
“Sudah tak apa, bum nanti kita jelaskan. Bapak sudah ga tahan lagi….sshhhh….ini peju bapak mau keluar”

Kuatnya tenaga pak Narto tak dapat dilawan oleh Widya sehingga dirinya kini sedikit menungging dan dibelakangnya pak Narto mengarahkan batang kontolnya dan, BLES!!!! Pak Narto memasukkan seluruhnya batang kontolnya ke dalam memek Widya yang sudah sangat basah oleh orgasme nya beserta basah oleh cairan peju yang pak Herman semburkan sebelumnya di dalam.

PLOK!!! PLOK!!! PLOK!!!

Pak Narto langsung menggenjot memek Widya dengan cepat sementara pak Herman hanya berdiri melihat Widya di Setubuhi untuk kedua kalinya.

“Aaakkkhhhh….Aakkkhhhh….aaakkkhh….”, desah Widya.
“Bapak mau keluar Widya. Aaakkkkhhhhss….KELUARRRR!!!!”, erang pak Narto tertahan.

CROT!!! CROT!!! CROT!!!

“Ini peju buat memek ibu lagi malam ini. Aaakkkkhhhhss….nikmatnya ini lubang, ga pernah bikin bosan”, ucap pak Narto sambil mengoleskan ujung kontolnya di kulit pantat mulus Widya yang tengah berdiri setengah menungging.

“ibu malam ini sudah menampung 2 peju dari 2 kontol yang berbeda”, ujar pak Herman membuka suara.
“Istirahatlah, besok bakal kita jelaskan. Sekarang bu Widya masuk dan tidur”, lanjutnya.
“Makasih, bu. Enak banget memeknya walau hanya beberapa kali sodokan yang penting saya sudah buang di dalam”, ucap pak Narto mengenakan celananya.

“Kita balik, bu”, pamit keduanya dan Widya hanya memandang perginya kedua lelaki tersebut. Setelah tak terlihat oleh pandangan matanya, Widya menarik kembali selimut yang terjatuh di lantai dan masuk ke dalam rumah dengan sebelumnya melihat tak ada yang melihatnya.

.
.
.

*Bersambung….

Daftar Part

Cerita Terpopuler