. Wanita Idaman Part 19 | Kisah Malam

Wanita Idaman Part 19

0
162

Wanita Idaman Part 19

MENIKMATI PRODUK IMPOR

“Uhhhh shhhhhh” aku melenguh keenakan

Dengan posisi berdiri seperti ini, di bawah sana, seorang wanita asing yang sudah kecoklatan kulitnya sedang menjelajahi penisku.

Kusandarkan tubuhku pada meja dapur. Aku tak bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana kenikmatan yang sedang kudapatkan. Ini yang terbaik. Permainan lidahnya bak penari striptease yang meliuk-liuk di besi panjang lalu perlahan menghampiri sasarannya. Sial. Aku bisa orgasme kalau begini. Tak tahu berapa lama lagi, tapi aku tak janji bertahan dalam waktu yang panjang. Jam terbangnya terjawab dengan aksinya.

“Shhhh” aku masih melenguh

Kubelai rambutnya yang pirang bergelombang. Joyce fokus pada penisku, juga buah zakarku. Takut akan orgasme lebih cepat dari biasanya, kuangkat kepalanya, Ia mendongak, tubuhnya beranjak berdiri.

“Youre so amazing, Joyce,” Aku memujinya, wajahnya belepotan dengan air liurnya sendiri

“I know. I start to love your cock” Dia munyukai penisku

Aku tak tahu ini sekadar dirty talk saat bercinta atau memang jujur dari hati. Tapi ku akui aku nelayang mendengarnya. Jadi makin semangat menggagahi bule satu ini.

Kami berciuman. Tanganku tak bisa diam. Kutambahkan lagi deskripsi tentang Joyce, Ia cukup tinggi mungkin 170an senti, dengan kulit yang mulai kecoklatan dan rambut pirang, wajah dan tubuhnya terlihat seksi dan menggoda. Tubuhnya cenderung kurus dengan payudara kecil. Paling kecil mungkin diantara wanita yang ada di ini. Tapi itu justru menambah sex appealnya, dengan wajah yang membikin nafsu, Joyce adalah perpaduan sempurna rekan senggama. Aku yakin ia memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Kami berciuman. Dengan badan yang lebih tinggi, Joyce agak menunduk. Tanganku sudah kemana-mana. Outer yang Ia pakai sudah tanggal, tersisa bra yang tak seberapa dan celana dalam seksi berenda. Aku curiga Ia seorang model. Bentuk tubuhnya cenderung begitu. Tapi siapa peduli, yang jelas Ia sudah berada di sini dan sedang kugauli.

Kunaikkan tubuhnya ke meja dapur. Waktunya beraksi, pikirku. Ia mengambil posisi, aku juga. Kakinya menjuntai, kubelai pahanya, tanganku merayap menuju bongkahan yang cukup menggoda. Ia menggeliat. Posisi kakinya berubah, aku mengikuti. Jari-jarinya sampai pada bongkahan yang masih tertutup kain tipis berenda itu. Kubelai pelan, kucari di mana lubangnya. Ia kembali menggeliat. Kini kudekatkan wajahku. Kuendus pelan, sepelan mungkin. Aku ingin memainkan tempo lambat. Tangannya jatuh di kepalaku, Ia membelai rambutku lembut. Aku yakin Ia mulai terbawa.

Jariku masuk dari pintu samping, sengaja tak kubuka memang. Aku mulai bermain di sana. Pelan, pelan, pelan. Bibirku masih mencari-cari. Meninggalkan jejak di sekitar gundukan yang masih terbungkus meski tak serapat tadi.

“Uuuhhhhh” Joyce melenguh

Aku makin semangat. Jariku menemukan lubangnya. Basah. Dia terangsang. Aku berhasil menjangkau tahap pertama.

Joyce terus melenguh. Sementara jariku sudah menjelajah gundukan bergaris itu. Pelan-pelan aku menemukan di mana letak klitorisnya.

“You got it uhhhh” Ia tahu aku menemukannya

Aku terus memainkan mutiara kecil itu. Gosok pelan sesuai ritme. Sambil lidahku berusaha mengambil peran. Kombinasi jari-jari dan lidah membuat Joyce keenakan. Kakinya menjepit kepalaku untuk terus menjelajah vaginanya. Asli, vaginanya menyenangkan. Baunya segar, teksturnya lembut, serta ada beberapa rambut yang tertata rapi. Idaman. Meski aku sebenarnya lebih suka wanita berbulu vagina agak lebat tapi melihat pusaka milik Joyce jelas lain soal. Ini mendekati sempurna.

“Give me more pleaseeee uuuhhhhh” Ia sedikit meraung

Nampaknya wanita ini tipe berisik. Meski belum seberapa, Ia sudah mengeluarkan kata-kata kotor penghias bercinta. Aku mulai menikmati. Dan kalian pasti tahu, mensiasati kemampuan seksku yang tak seberapa, aku harus menang foreplay, minimal akan ada yang kubanggakan.

Jariku kini mulai masuk ke liang senggamanya. Ia melenguh. Mendesis. Kadang meraung. Suaranya sensual sekali. Pikiranku melayang menuju film biru yang pernah kutonton. Aku masih tak percaya ini nyata.

Joyce mengangkat kepalaku, padahal aku yakin sebentar lagi aku membuatnya orgasme. Ia tahu itu, maka ia menyudahinya. Ternyata Ia tak mau kalah juga. Kami berciuman. Tanganku memainkan putingnya. Bra masih ia kenakan meski awut-awutan. Aku naik ke meja, kami siap mamulai pertempuran.

Kami memilih posisi missionary. Dengan wajah binal, Joyce nampak seperti menantangku untuk memuaskannya. Ia benar-benar bikin nafsu. Tapi aku tak ingin terbawa, aku juga ingin menang. Kuteku kakinya ke atas hingga paha menempel ke perutnya, Si Johny sudah siap pada posisinya.

Gesek perlahan. Aku masih bermain di labia mayora. Ingin kusesuaikan dulu agar penisku tak kaget pada pengalaman pertama menikmati vagina bule. Joyce sudah tak tahan.

Sleeebbb. Uhhhhh.

Kami sama-sama melenguh. Ini luar biasa. Seperti ada gelombang yang berusaha menelan Si Johny. Vaginanya tak terlalu sempit tapi menelan penisku dengan sempurna. Aku belum pernah merasakan yang begini. Entah teknik apa yang sedang Ia pakai.

“Ohhhh myyy uhhhh more than my expectation uhh” Ia memujiku

Aku hanya fokus mengalihkan pikiranku agar tak terbawa suasana. Persetubuhan kali ini benar-benar membuatku melayang. Masih terus mengayun, kucari titik lemah dari bule satu ini.

“Ohhhh Galaaang youve got me ohhhh fuckkk ssshhh”

Aku menemukannya. Klitorisnya kena. Kuserang terus, sambil memainkan payudaranya. Aku mencoba multitasking agar perhatianku terus teralihkan. Aku tak ingin bersuara meski sebenarnya aku ingin teriak karena nikmat yang luar biasa.

“Harder pleaseee dont stopppp ohhhhh oohhhh” Ia meracau kian keras

Aku makin semangat. Putingnya jadi sasaran beringasku. Selain kujilat, ia juga kugigiti. Meski kecil, aku gemas sekali dengan benda ini. Joyce makin kacau. Ia nampak akan mendapatkan orgasme pertamanya.

“I wanna comee ohhh godd harder ohhh I wanna come babyyy ohhhh”

Aku menaikkan kecepatan. Aku tak peduli kalau aku ternyata orgasme juga. Aku ingin membuatnya teriak.

“Oh shittt ohhhh dont stop ohhh”

Aku masih memompa. Kecepatan tinggi. Keringatku sudah tak karuan. Aku terus menggenjot. Cepat. Cepat. Cepat.

“OHHHH GOOOODD OHHHH”

Ia squirt. Di percobaan pertama. Aku menghindar. Kulepaskan Si Johny. Cairan itu muncrat dari vaginanya. Wajahku jadi korban. Kami ngos-ngosan. Dan, aku berhasil bertahan. Satu kosong.

Kami berpandangan. Ia tersenyum, aku juga. Ia masih tak percaya aku berhasil melakukan ini.

“I just say I start to love your dick” Ia berkata sambil memainkan vaginanya, menikmati sisa-sisa orgasme dan squirt yang baru dialami

Aku hanya membalas dengan senyuman, dan mendekatinya untuk kembali berciuman. Ia tahu aku belum tuntas, tangannya sudah mendarat di penisku. Dengan kondisi masih basah terkena cairannya, Joyce memainkan penisku telaten. Tubuh kami sudah tak karuan kondisinya, keri gat dan cairan vagina milik Joyce bercampur jadi satu.

Joyce mengajakku turun dari meja dapur. Ia memintaku untuk duduk di kursi makan. Dan tentu kalian menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berdiri, dengan kaki jenjangnya, mudah saja Ia mengambil posisi menindihku.

Sleeebbbbb.

Aku keenakan. Joyce kini mengambil kendali. Dua kakinya masih berada di lantai, bokongnya naik turun mengaduk penisku. Aku jadi merem melek keenakan. Bayangkan saya, dengan posisi missionary tadi vaginanya begitu mengaduk-aduk, apalagi posisi begini dimana Ia yang mengatur ritme.

Tubuhnya terus naik turun tanpa jeda. Aku yang berusaha mengalihkan perhatian mencoba memainkan payudaranya. Kuhajar sebisa mungkin, sesekali kutampar bokongnya. Aku sedang berusaha. Semoga berhasil.

“Uhhhh Ohhhh Shhhh” Joyce mulai meracau

Ia tiba-tiba menaikkan kedua kakinya di sisi kursi. Lalu genjot lagi dengan kecepatan tinggi. Aku makin was-was, sebentar lagi bisa ambruk pertahananku.

“I want your cum Galaang ohhhhhh plesaseee quick pleaseeee”

Ia terus bergoyang, naik turun, berputar, sesekali kami berciuman. Kepalaku sudah pusing. Penisku apalagi, rasanya sperma sudah di ujung.

Aku mencoba berperan dengan menggoyangkan penisku. Ia diam sejenak, aku yang bermain. Lalu kemudian gantian, aku diam Ia bergoyang. Begitu berkali-kali sampai aku tak tahan lagi.

“I wanna cum beib ohhh quicker pleaseee” aku benar-benar sudah tak tahan

Joyce makin semangat. Ia tak ingat lagi bagaimana posisi kami. Tubuhnya makin cepat mengayun. Aku dibikin pusing. Penisku seperti diaduk, diputar-putar, lalu ditelan sekuat-kuatnya. Gila. Ini gila. Ini seks terbaik sih. Aku mulai meracau, mengeluarkan apa saja yang ingin kukatakan. Tanganku memegang bokongnya, kutampar berkali-kali sambil kugerakkan penisku mengimbangi.

“DAMN GOOOD OHHHHHHH”

“JOYCEEE OOHHHHHH”

Kami orgasme. Bersamaan. Aku menumpahkan sperma di vaginanya. Tanpa kondom. Rasanya? Tak ada kata selain luar biasa.

Joyce ambruk di tubuhku. Kami masih terengah-engah. Aku jadi tersadar bahwa kami tak hanya berdua di sini. Di lantai atas masih ada delapan orang lain yang mungkin sedang menjelajah birahi masing-masing.

“Aku benar-benar nggak nyangka kamu bisa begini” Joyce akhirnya ngomong dalam bahasa indonesia

“Kamu kira bagaimana?” aku sedikit membanggakan diri

“Kamu dapat tempat khusus di tubuhku. Whenever you come, I’ll give you mine” Ia bilang dengan nada meyakinkan

Kami berciuman. Penisku mulai mengecil dan keluar sendirinya dari vagina Joyce. Kami bangkit, Ia mengambilkanku air minum.

“Gimana? Enak?” Kok teriakannya sampai kayak gitu” tiba-tiba Tante Maya muncul entah dari mana

“Tante bisa aja. Di atas gimana?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan

“Ampun Tante sama Temanmu, Joyce” Ia geleng-geleng kepala

“Dia memang tak ada capeknya Tan,” Joyce mengamini kalimat Tante Maya

“Galang gimana Joyce? Asyik ya?” Tente Maya menatap genit padaku

“Melebihi ekspektasi. Kecil-kecil cabe rawit kalau kata orang sini” mereka tertawa, aku dibuatnya malu

“Kamu pikir Tante nggak teriak-teriak tadi? Its my firts time too with Galang,” Tante Maya berusaha bercerita

“Really? He is man of the match I think” Joyce menciumku lagi, Tante Maya mendekat

Sialan. Staminaku belum pulih benar. Jangan bilang mereka mau mengerjaiku berdua. Bisa pingsan kalau begini.

Aku yang masih telanjang mendapat hadiah sebuah ciuman dari Tante Maya.

“Tenang aja, Tante nggak akan mainin kamu kok. Punya Tante masih ngilu dihajar Si Gerald” Tante Maya malah curhat setelah menciumku

Kami tertawa. Kupikir tak ada kata lelah dalam kamus Tante Maya soal bercinta. Ternyata bisa mengeluh juga selain melenguh. Akhirnya kami istirahat bertiga. Di atas, kata Tante Maya, Gerald dan Ketut sedang semangat-semangatnya mengerjai para wanita. Aku jadi ingin tahu bagaimana keempat wanita teriak-teriak keenakan. Sementara dua laki-laki sedang mengambil jeda, setidaknya begitu ketika Tante Maya mulai turun tadi.

Tiba-tiba, datang menuju ke arah kami Tante Lusi dan Mas Wira. Mereka dalam keadaan telanjang. Aku melirik payudara Tante Lusi. Gila. Besar juga. Apalagi tubuhnya lebih ramping dari Tante Maya. Jangan dibandingkan dengan Joyce, jelas beda kelas.

“Di atas penuh teriakan wanita-wabjta muda penuh birahi” Tante Lusi berkata sambil mukanya menggemaskan

“Gerald dan Ketut masih menguasai?” balas Tante Maya

“Jelas dong. Mereka baru datang. Agil sudah nyerah. Wira malah ikut aku kesini” Mas Wira memasang muka kelelahan

“Joyce? Are you get what you want?” Tante Lusi menanyai Joyce

“You must try him. Trust me!” Joyce menunjuk penisku

“Owww” Tante Lusi memasang wajah penasaran

Aku hanya bisa senyum. Tapi jelas aku tak mampu. Aku butuh waktu pemulihan. Tante Maya berhasil kutolak, entah wanita satu ini. Tenagaku belum pulih benar.

“And Joyce you have to try Wira. He’s so Auww” Tante Lusi kembali memancing birahi, apalagi tubuhnya telanjang begini

Kami lalu saling berbincang. Bercerita hal-hal ringan tentang keseharian. Mereka masih tak percaya kalau aku pemula di dunia ini. Tak apalah, buat apa juga ngotot menjelaskan yang penting aku puas dan mereka juga puas.

“Setelah merasakan Joyce, kamu lebih suka lokal atau internasional nih?” Tante Lusi memancingku

“Kalau internasionalnya kayak Joyce sih ya nggak mungkin nolak lah Tan” kami tertawa, Joyce nampak malu-malu

“Sayangnya si londo ini nggak mau nikah Lang, maunya kawin aja” kami kembali tertawa, kini lebih keras

Sudah kuduga, wanita seperti Joyce adalah tipe petualang. Ia tak akan puas dengan satu lelaki. Dan komitmen tampaknya hal yang Ia hindari.

“Tapi tenang, nanti aku carikan kalau kamu mau dengan yang bule bule begini,” aku terkejut dengan tawaran Tante Lusi, tapi berharap juga di lubuk hati terdalam

“Jangan salah, Lang. Bule-bule disini banyak suka kok sama cowok lokal. Mereka pengertian, nggak grusa-grusu. Ya nggak Joyce?” Tante Maya berusaha ikut berbicara

“1000% correct!” Joyce mantap menjawab

Kami kembali tertawa. Pembicaraan yang cukup renyah. Rasanya, aku seperti sudah lama kenal dengan mereka. Padahal baru beberapa saat lalu kami bertatap muka. Dan ada satu yang paling menarik di perbincangan kali ini. Tawaran Tante Lusi. Entah benar atau tidak, aku cukup tertarik. Setelah merasakan tubuh Joyce, aku seperti makin penasaran dengan tubuh wanita bule. Mudah-mudahan ini jalan berikutnya. Siapa tahu.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler