. The Best Employee Part 21 | Kisah Malam

The Best Employee Part 21

0
363

The Best Employee Part 21

Reward On The Way

Baru kali aku melihat kemampuan pemuda seperti Galang. Dia tangguh, cerdas, dan yang satu ini aku tak menyangkalanya, dia sangat licik. Aku tahu dia bukan seorang pengkhianat. Tapi aku harus tetap waspada dengannya.

Setelah membuat babak bekur para anggota the Blackskull. Galang membawaku ke sebuah gubuk daerah puncak.

“Galang lo gila apa bawa gue ke tempat kea gini!!” celotehku.

“Gua ngantuk. Butuh hiburan setengah jam aja agar strong kembali.” balasnya.

Sungguh orang ini selalu sukses membuatku emosi. Aku tak tahu jalan pikiran orang aneh ini. Ternyata gubuk ini adalah tempat karaoke remang-remang. Tak jarang kutemui orang yang sedang bercumbu di bawah cahaya lampu disko.

“Pagi-pagi gini tempat karaoke sudah buka?” gumamku lirih.

Galang berjalan menggandeng tanganku. Untung tadi aku sudah berganti pakaian. Nggak lucu kan saat ke pom bensin pakai baju ala superhero.

“Sandra. Kita nggak sedang karaoke. Aku cuma ingin mengobati rasa kantuku setengah jam saja.” ucapnya lalu membuka sebuah pintu ruangan.

“Maksud lo apa sih! Gak jelas!!!” dengusku kesal.

Ruangan apa ini. Ruangan ini sangat kontras dengan dengan tempat karaoke pada umumnya. Ini seperti ruang seniman. Banyak kutemui lukisan-lukisan dan beberapa alatblukis di atas meja. Dan ada sebuah sofa panjang yang sangat mencolok mengahadap ke jendela.

“Well. Setengah jam tolong bantu gue.” ucapnya lalu duduk di atas sofa panjang tersebut.

“Mau lo apa sih!!”

“Lo buka semua baju lo. Gua mah lukis lo. Karena dengan melukis gua bisa segar kembali. Lo udah janji kan. Lo mau kasih reward untuk gue. Sekarang gue tagih reward tersebut. Cepetan waktu kita nggak banyak.”

“Hah??” tanyaku heran setelah mengatahui alasan mengapa dia membawaku ke tempat ini.”Ini nggak lucu Galang!!”

“Aku tidak sedang melucu. Cepatlah atau aku sendiri yang membukakannya.” balasnya semakin membuatku geram. Dia lalu berjalan memdekatiku.

“Berhenti. Jangan mendekat!! Biar aku sendiri yang melakukannya.” kataku.

Sungguh kurang ajar kelakuan orang ini. Terpaksa aku melepas kancing bajuku. Baru kali ini aku dilecehkan dengan cara seperti ini. Aku harus tetap waspada, aku tak ingin hal yang tak diinginkan terjadi.

“Semuanya!” katanya

Kali ini kamu menang. Tunggu pembalasanku. Kamu telah mempermalukanku. Aku telah melucuti semua pakaianku. Aku telanjang bulat di depan orang ini. Entah mengapa darahku tiba-tiba berdesir. Aku harus tetap berpikiran positif.

“Puas kau!!” kataku

“Sekarang kamu tiduran di atas sofa. Aku bisa menggambar lebih cepat dari Jack Titanic. Asal kamu tak cerewet.” ucapnya lalu mengambil kertas kanvas dan alat lukis.

Galang segera melukis tubuhku. Aku bagaikan patung yang tak boleh bergerak. Kulihat dia mulai menggoreskan kuasnya dengan cepat. Dia tak bersuara dan fokus menatap tubuhku.

“Selesai.” Dia berdiri lalu menunjukkan hasil lukisannya kepadaku.

Aku takjub. Bagaimana mungkin dia jisa melukis secepat itu. Padahal belum ada 10 menit dia melukis tubuhku. Kulihat lukisannya pun tak kalah dengan lukisan-lukisan ternama di negeri ini. Mirip.

“Bagus ngga?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Dia lalu duduk di sebelahku.

“Ehh . Bagus kok.” jawabku agak menggeserkan tubuhku agar tak bersentuhan dengannya.

“Bagus bukan… seperti tubuhmu ini.” imbuhnya langsung mendekap tubuhku. Dia juga meremas payudaraku. ” Tenang saja, aku tak ambil itu. Tapi ijinkan aku memuaskanmu. Aku tahu kamu sedaei tadi menahan nafsu.” bisiknya ditelingaku.

“Galang..” ucapku lirih. Sebisa mungkin aku menyingkirkan tanganya yang kini malah memilin putingku. “Pliss jangan Lang!!” kudorong Galang menjauh.

Aku segera mengambil pakaianku tapi tangan Galang lebih cepat. Dia lalu membuang pakaianku ke luar jendela. Aku geram lalu memukul pundaknya.

“Kok dibuang sih. Plis, kita sudah ditunggu. Aku sekarang pake apa nih.”

“Makanya ijinkan aku bermain sebentar. Masih ada sisa waktu 15 menit. Nanti akan kucarikan pakaian untukmu.” ucapnya bagaikan skak mat untukku.

“Emmm.. lo mau apa?” tanyaku ragu. Jujur aku tak ingin keluar ruangan ini dengan tubuh telanjang. Lagi pula keselamatan mereka lebih penting dari sekedar keegoanku. Maafkan aku Reza. Aku janji tak akan memberikan virginku untuk orang ini.

“Aku mau ini. Aku gemes lihat payudara kamu. Meski aku juga ingin yang ada dibawah sana tapi aku tak akan menghianti sahabatku, Reza.” ucapnya langsung mencaplok payudaraku.

“Ahhh… ” aku mendesah lirih. Wajar bagian yang disentuhnya adalah bagian paling sensitiveku. Galang bagai seorang bayi nenen di puting. Aku menggelinjang sampe mundur dan terjatuh ke sofa.

“Empuk, indah, gedhe lagi. Reza benar-benar beruntung. Ouhhhmm.” Galang terlihat sangat puas. Dengan pakaian yang masih lengkap dia terus mencumbuiku. Jujur aku birahiku mulai menaik. Aku terangsang. Entah mengapa aku ingin melihat seberapa besar kemaluannya. Ahh.. jangan. Ga boleh Sandra.

“Srrruuuuuuppphh…” Galang mengecup leherku. Aku semakin enak dibuatnya. Dia juga terlihat sangat menikmati. Lidah Galang menyetrika seluruh kulit dada hingga ke leher. Dan bahkan ia mulai menjilatu ketiaku. Aku kegelian dan mencoba menyingkirkan lidahnya. Tapi tubuhku seperti kesetrum ketika jarinya mengelus ujung vaginaku. Ahhh… Kurasakan kemaluanku ini mulai lembab.

“Kamu cantik, Sandra.”

Cup,

Aku terdiam ketika dia mengecup bibirku yang tertutup rapat. Entah kemana akal sehatku. Aku justru membuka bibirku lalu melumat bibirnya. Kumasukkan lidahku ke mulutnya. Aku terangsang hebat. Tanganku pun mulai berinisiatif melucuti seluruh pakaiannya.

“Astaga, gedhe banget!!” jeritku

“Tenang. Aku tak menggunakannya di dalam. Tapi ijinkan aku menyelipkan di kedua payudaramu.” pintanya lalu mengarahkan penisnya ke dadaku.

Belum hilang rasa takjubku. Penis Galang lebih besar dari penis Reza. Kulihat ujung penis itu sangat dekat. Aku penasaran bagaiman rasanya. Ya ampun… Mengapa aku jadi sange beneran. Ahh.. penis itu terasa keras sekali. Ujungnya yang mirip jamur itu terlihat memerah.

“Ohhhh… Kenyal sekali susumu ini. Jika ada asi mungkin bisa buat stock puluhan tahun nih.. mantul bener Sandra…” racaunya bikin aku tertawa.

“Hahaha.. ngaco lo!! Dasar mesum!!” kusentil ujung penisnya dengan jariku.

“AHHHHHHH .. JAHAAAAT. SAKIT SANDRA” Galang meloncat mudur kesakitan. Aku baru tahu kelemahan orang ini di kemaluannya. Hihi..

“Maaf… ” aku berjalan mendekatinya lalu mengelus ujung penisnya. Tiba-tiba aku jadi pengen mengulum penis di tanganku ini. “Oooh.. ahmmmmm.”

Sruuuuppph

Sruuuuppph

Sruuuuppph

“Ohhh… Enak sayang. Jangan lama-lama entar muncrat.” ucapnya.

Dia mencabut penisnya dari mulutku lalu menarik tanganku berdiri. Dia memeluk tubuhku. Tiba-tiba kurasakan bibirnya mengecup telingaku. Ahhh… Rasa nikmat apa lagi ini. Darahku berdesir. Ya Tuhan.. ini enak banget. Kurasakan basah di telinga dan antingku. Dia mengulum telingaku sementara jarinya memilin kedua putingku. Aku tak tahan ingin rasanya aku disodok penisnya ini. Tapi..

“Pernah di giniin belum sama Reza??” tanya Galang sembari memijit gundukan payudaraku memutar.

“Ahhh … Belum. Udahan yuk. Aku jadi sange beneran ini.”

“Bagus dong. Keluarin aja sih.” balasnya kembali mengecup telingaku yang masih kering. Dia jilatin hingga basah. Sungguh aku merinding. Kurakakan putingku sangat keras.

“Lang… Enak.. ahh…”

“Hahaha.. enak kan. Aku suka lehermu. Srruuuuupppphh.” Galang kembali menuju leherku. Dia membuat tanda di sana. Kurang ajar sekali orang ini. Ouuuhh… Dia terus menghisap leherku. Aku merasa ingin kebelet pipis. Ouuhh.. tidak. Aku tidak boleh ngompol disini. Aku ingin itu. Penis Galang bergelantungan tapi terlihat keras sekali. Bagaimana jika benda itu masuk ke dalam vaginaku. Ouuhh.. Dia terus membuatku keenakan. Aku tak tahan lagi. Aku mau ngentot!!!

“Masukin Lang. Ayo cepet. Aku rela!!!” kataku lantang tak peduli jika Reza nanti akan kecewa padaku. Aku butuh kenikmatan ini.

“No. Aku akan puasin kamu tanpa memasukkan punyaku ini.” balasnya masih bersikukuh dengan pendiriannya.

“Galang.. makasih. Hiks.” aku jadi terharu. Dia mulai meraba pantatku lalu meremasnya. Kemudia dia mengangkat tubuhku kembali ke sofa. Dia membuka lebar kedua kakiku lalu kepamya terbenam di antara kedua pahaku.

“Ahhhhhh… Sayang enaaaak banget!!!” jeritku

Galang menjilati sekitaran kemaluanku. Sesekali dia menghisapnya. Rasanya sungguh nikmat sekali. Di saat seperti itu dia juga masih sempat memainkan kedua payudaraku.

“Aku pengen Galang!!” aku sungguh egois. Jujur aku menginginkannya. Tapi dia terus menyiksaku dengan cumbuannya yang tak berhenti-henti.

“Jika mau keluar nanti aku kasih sesuatu yang spesial.” Galang mendekat ke wajahku. Kami lalu berciuman. Tangannya masih di atas vaginaku. Sungguh rasa nikmat ini berkali-kali lipat.

“Ahhh… Iyaaa.. enak.” dia kembali menyusu di payudaraku. Tangannya pun semakin cepat mengelus vaginaku.

Sruuupphhhh

Sruuupphhhh

Galang kembali membenamkan kepalanya kali ini dia memasukan lidahnya di anusku. Sungguh ini pertama kalinya kurasakan darahku berdesir hebat. Jarinya dimasukkan sedikit ke vaginaku. Ohh.. aku pengen itu…

“Ooooooohhh. Aku mau keluar.” tiba-tiba Galang menggesekkan penisnya ke vaginaku. Ujungnya tepat di lubang vaginaku. Tapi dia hanya menggesekkanya. Sungguh aku ingin memajukkan tubuhku tapi kedua tangannya menahan pinggulku.

“Galaaaaanng.. aku keluaaaaar!!!” Ini adalah orgasmeku yang paling nikmat. Galang kemudian mengocok penisnya dan memuncratkannya di payudaraku.

30 MENIT KEMUDIAN,

Aku hanya tersenyum sekaligus malu. Pria yang sedang menyetir ini sungguh beruntung dan licik. Dengan segala kemampuannya dia hampir berhasil membuatku jadi wanita unvirgin. Sungguh aku menyesal. Tapi aku juga menikmatinya. Aku juga respect kepadanya. Karena dia tak mengingkari janjinya.

Sambil jalan Galang berkali-kali menekan sesuatu di telinganya. Mungin dia lagi berkomunikasi dengan ayah atau mungkin saja anggota Flower. Aku tak fokus dengan apa yang dibicarakannya. Justru aku masih sange membayangkan yang tadi. Ohh.. dasar Sandra. Pokonya aku harus segera minta dinikahin Reza agar aku tidak khilaf seperti tadi.

“Ngelamunin apa sih Neng. Selain reward tadi tujuanku ke tempat itu adalah mengambil beberapa senjata. Kamu bisa pake senjata?”

“Aku duku atlet panahan. Berikan aku arrow. Aku mau jadi Miya.”

“Miya? Miyabi??”

“Bukan ihh.. Miya ML!!”

“Iya kan bener. Miyabi juga jago ML.”

“Mobile Legend Galang!!!!”

Sumpah nyebelin banget mirip banget sama Reza. Aku ngobrol dan ketawa sendiri dengan kekoyolannya selama di jalan. Ohh.. aku kok jadi dilema. Cukup satu aja Sandra. Jangan binal deh. Huhuhu..

Galang memberhentikan mobilnya di sebuah rumah lalu dia menyuruhku untuk keluar.

“Ayo masuk ke rumah itu. Ayahmu sudah menunggu.”

Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian ala detektif keluar dari rumah itu.

“Ayah??”

“Sandra.”

Aku memeluk ayahku. Sungguh aku sangat rindu kepadanya.

BERSAMBUNG

Daftar Part