. Suradi Adventure Part 8 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 8

0
288

Suradi Adventure Part 8

HATI SEORANG BIDUAN 1

1

Acara Grand Launching sekaligus peresmian Cireundeu Town Square dilangsungkan di lounge resto hotel Priangan, milik Handono Halim group. Suradi mendapat undangan khusus dari Melinda di meja utama dekat panggung acara. Suradi datang awal dan suasana resto masih sepi. Namun sejumlah penyanyi pembuka telah membawakan beberapa lagu untuk menghiasi suasana resto yang terasa hening.

Meja yang ditempati Suradi adalah meja couple. Undangan Melinda tidak dikhususkan untuk dirinya tetapi juga untuk istrinya. Tapi Iis menolak. Alasannya, dia akan mengadakan rapat mengenai tahun ajaran baru dan itu akan menyita waktu sampai malam.

Peresmian itu direncanakan akan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat dan akan dihadiri Walikota Cimahi, Walikota Bandung serta Bupati Bandung Barat. Namun sampai dengan jam 8 lebih 5 menit, para pejabat itu tidak datang. Bahkan ketika para undangan sudah memenuhi semua meja, para pejabat itu belum muncul juga. Akhirnya MC mengumumkan bahwa Gubernur, Walikota dan Bupati tak bisa hadir. Acara yang disiagakan dimulai persis pukul 8, molor 20 menit dan dibuka oleh staf Gubenur yaitu Asisten Administrasi Pembangunan, Bapak Dr. H. Beben Sugriwa, SH. MH. Dalam sambutannya, Beben mengharapkan Cireundeu Towns Square (CITOS) bisa menjadi pusat perdagangan dan perkantoran serta meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Cimahi, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Usai peresmian oleh asisten, Winardi Gilbert Halim, CEO CITOS yang juga suami Melinda Liem, menyerahkan secara simbolis kunci Toko kepada salah seorang penyewa, yang diikuti dengan tepuk tangan riuh dari para hadirin. Pada penghujung acara, seorang penyanyi terkenal, menghibur hadirin dan tamu undangan dengan lagu-lagu hitnya.

Suradi sepertinya pernah melihat penyanyi itu di televisi. Lagu-lagu yang dibawakannya juga pernah dia dengar. Tapi entahlah. Suradi menonton TV hanya sekilas, hanya sebagai teman kesunyian ketika dia bekerja. Suradi juga tidak begitu suka dengan lagu-lagu pop. Bila dia ingin mendengarkan musik, maka dia akan menyalalakan lagu-lagu jazz dan blues tahun 60-70an yang di telinga istrinya terdengar aneh. Tapi kata Reyhan, lagu-lagu Papah berat.

Meski pun demikian, Suradi merasa terhibur juga dengan penampilan Rosadewi Puspa. Suaranya merdu, goyangan badannya lembut serasi dan interaksi dengan penonton baik, sangat komunikatif, menghibur.

Bakat menyanyi Rosadewi Puspa, ditemukan dalam sebuah ajang pencarian bakat di sebuah televisi swasta, 10 tahun lalu. Walau tidak menjadi juara, tapi dia masuk 4 besar “Idola Indonesia” dan langsung mendapat tawaran kontrak menyanyi selama 2 tahun bersama “Galang Adiansyah Production”. Sejak itu, sedikit demi sedikit dia mendapatkan popularitas menjadi salah satu dari sekian banyak penyanyi papan atas nasional.

Namun kalau menyimak acara gosip di berbagai stasiun TV swasta, kehidupan cinta Rosadewi kelihatannya tidak semulus karir menyanyinya. Berkali-kali pacaran selalu kandas. Akhirnya dia menikah dengan seorang pengusaha di Jakarta, namun kandas juga. 3 Tahun yang lalu Rosadewi bercerai.

Salah satu lagu hitnya adalah “aku, engkau dan dia”, yang mengisahkan tentang seorang gadis yang terjebak dalam dua asmara. Ketika lagu itu dinyanyikan, serentak seluruh hadirin dan tamu undangan ikut menyanyi.

Kecuali Suradi.

Di atas panggung, Rosadewi demikian anggun. Mengenakan gaun malam tanpa tali, dia mengajak penonton ikut bernyanyi. Ketika turun panggung, dia sangat mempesona. Beberapa penonton yang menempati meja utama menjadi sasaran interaktifnya saat membawakan reffrain lagu hitnya itu.

Hadirin menjadi riuh dan ikut bersenandung.

Tapi Suradi di mejanya bercucuran keringat dingin.
“Jangan ke sini.. jangan ke sini…” Harapnya saat Rosadewi menyusuri meja satu ke meja sebelahnya.

Tiba-tiba saja penyanyi itu sudah berada di dekatnya, mendekati mejanya.
“Aku sayang kamu juga dia..
aku cinta kamu… juga…” Rosadewi menyorongkan mikropon ke wajah Suradi.

“Juga dia.” Jawab Suradi dengan nada yang sangat fals.

Seluruh hadirin tertawa. Dari sorot kamera yang ditayangkan di sebuah layar besar, terlihat jelas bagaimana seorang lelaki tidak sanggup menutupi kegugupannya.

Melinda yang duduk tidak jauh darinya ikut tersenyum. Winardi juga merasa geli.
“Kelihatannya dia baik.” Kata Win.
“Dia bukan baik, Win, dia hebat.” Kata Linda.
“Elu selalu tepat kalau menilai orang. Dia yang ngerjain proyek kertajati itu ya?”
“I ya, Win. Lu tau, gua lagi nyari cara biar dia masuk ke grup kita. Dia solid dan bisa diandalkan.”
“Gua terserah elu, pokoknya urusan Bandung dan sekitarnya elu yang ngurus. Gua di pusat. Papa bilang, sejauh ini urusan di sini berjalan baik.”
“Udah ini elu mau ke dago resort dulu atau balik lagi ke Jakarta?”
“Ke jakartalah, urusan gua banyak.”
“I ya, gua juga tau elu sibuk. Tapi lu harus nyari waktu. Kapan lu bisa ngentotin gua sampai bunting? Biar Papa seneng.”
“Bulan kemaren kan udah. Peju gua muncrat banyak. Elu aja yang susah bunting.”

Melinda terdiam. Dia menyembunyikan kekecewaannya dengan bertepuk tangan.

Terdengar suara MC. “Hadirin sekalian, usai sudah acara utama kita malam ini… sesuai dengan harapan kita semua.. semoga Cireundeu Town Square bisa berjaya di masa kini dan yang akan datang… Selamat malam dan sampai Jumpa!”

Bersambung

Daftar Part