. Suradi Adventure Part 64 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 64

0
228

Suradi Adventure Part 64

AKHIR CERITA

(END)

Di sebuah rumah kecil di kawasan Jakarta Selatan, Suradi sedang bermain dengan anaknya yang berumur 3 tahun.
“Kamu sudah bisa meloncat, ganteng. Sekarang coba loncat ke ayah… ah, bagus.”
“Ayah abak… ayah abak.”
“Boleh kalau kamu bisa. Ayo tabrak!”

Ha ha ha… Suradi tertawa terpingkal-pingkal melihat anaknya menirukan gaya seekor banteng dengan menggaruk-garukkan satu kakinya ke tanah, lalu berlari menabrak Suradi.

Suradi merasa bahagia. Dia memeluk anak itu dan berbisik di telinganya, “Kamu berbakat ganteng, kamu berbakat.”

“Ayang (ayah sayang), kita kasih kanopi di sini ya biar enggak panas.” Kata Shanti yang datang dari arah dapur.
“Kita tidak akan lama di sini, cantik.” Jawab Suradi. “Di sini cuma sementara.”

Darius melepaskan diri dari pelukan Suradi. Dia menggerakan tangannya yang kecil mencoba memukul wajah Suradi, tapi pukulannya tidak ada yang kena.
“Ayo Darius, pukul ayah kalau bisa.” Kata Suradi. Pada saat itu sebuah sepeda motor masuk ke dalam halaman halaman belakang.
“Bagaimana, Sep?” Tanya Suradi.
“Semua benda-benda berharganya ludes, Pak.”
“Hm, itu pasti dirampok sama anakbuahnya sendiri. Mayatnya?”
“Mayatnya sudah dipenuhi belatung.”
“Carilah orang untuk memberitahu keamanan setempat, biar mereka yang lapor polisi.”
“Baik, Pak.”
“Bagaimana perkembangan Pak Tono?”
“Bu Linda tidak mengizinkan Pak Tono pensiun dengan alasan apa pun.” Kata Usep. “Bahkan, seluruh anak dan menantu serta cucu-cucunya akan diboyong ke Kemang untuk mencegah agar Pak Tono tidak pergi.”

Suradi manggut-manggut.
“Apakah Bapak khawatir Pak Tono membongkar rahasia kematian bapak?” Tanya Usep.
“Saya tidak pernah mengkhawatirkan itu, Sep, yang saya khawatirkan Pak Tono di sana merasa bosan.”

Usep tertawa.
“Kasihan.” Katanya. “Kapan kita berangkat, Pak?”
“Tunggu satu atau dua hari lagi.” Kata Suradi. “Ada kemungkinan Pak Tono maksa minta pensiun.”
“Saya sudah siapkan semua kendaraannya.” Kata Usep. “Pokoknya pesan Papa Handono jangan terlalu lama.”
“Bi Ijah gimana?”
“Bi Ijah sama Mami di Kemang, mereka enggak mau meninggalkan Bu Linda.”
“Baik. Itu bagus.”

Siang itu, Tania bersama Gugun, pergi ke warung kopi milik adiknya di pertigaan jalan. Tapi dia heran warung kopi itu kosong seperti kena dijarah orang. Shanti dan anaknya serta kakek dan neneknya juga ikut hilang.
“Kemana mereka?” Pikirnya.

Seminggu kemudian, Tania menerima sebuah paket yang membuatnya hampir terkena serangan jantung. Paket itu berisi uang Rp. 250 juta dan 2 buah emas batangan seberat 2 kg. Dalam paket tersebut ada sebuah catatan kecil.

Warung kopi dan semua isinya buat Kak Tania saja
Kami di sini serba cukup dan merasa bahagia.

Ttd,
Shanti.

AKHIR CERITA

Usep dan Pak Tono duduk di atas sebuah batu yang datar, mereka sedang menonton Suradi mengajarkan gerakan dasar tehnik kesejajaran antara gerak tubuh dan aliran udara pernafasan dalam tubuh kepada Papa Handono, Shanti dan Darius.
“Tehnik dasar ini sangat sulit tapi kelihatannya Darius bisa menguasainya dengan baik.” Kata Pak Tono.
“Padahal dia baru berumur 5 tahun. Dia sangat berbakat.” Kata Usep.
“Suatu saat, Darius mungkin akan menjadi petualang seperti ayahnya.” Kata Pak Tono.
“Ya, mungkin.” Kata Usep.
“Kamu mungkin masih ada umur untuk ikut berpetualang dengan Darius… ” Pak Tono menarik nafas berat. “Aku sudah cukup melihat dunia dengan Pak Suradi. Aku akan mengikuti beliau jadi pertapa di tempat yang terpencil ini.” Katanya.

Pak Tono menengadahkan kepalanya ke langit. “Tadinya aku meminta Pak Suradi untuk memakai baju selam lengkap dengan masker udara pada kepala, lalu memegang tali baja yang terikat pada papan luncur, lalu kamu menjalankan roda derek dan menariknya… itu pasti sangat menyenangkan.” Kata Pak Tono dengan nada sedikit menyesal.
“Dan bau.” Kata Usep.
“Sayang Pak Suradi tidak mengizinkan dan malah menyuruh kamu untuk melakukannya.”
“Karena Pak Suradi tahu, Usep lebih muda dan lebih gesit.”
“Bukan itu alasannya, Sep.” Kata Pak Tono. “Karena Pak Suradi tahu, aku sering panik kalau melihat tikus.”

Usep tertawa keras.
“Di sana memang banyak sekali tikus, Pak.” Kata Usep. “Tapi begitu kita meluncur, mereka blingsatan pergi.”

Pak Tono nyengir dan menyalakan rokok kreteknya.

Senja mulai redup ketika Handono dan Suradi duduk di atas balai-balai bambu menghadapi cangkir kopinya masing-masing.
“Papa heran mengapa kamu membawa Papa dan semuanya ke tempat terpencil ini.” Kata Handono. Dia menyesap kopinya. Dia menatap anak kandung yang dibanggakannya itu dengan tatapan lembut.

Suradi tersenyum.
“Apakah keheranan Papa sama dengan dulu ketika saya memaksa Papa untuk selalu memakai rompi anti peluru jika menerima tamu di lapas?” Tanya Suradi. Senyumnya merekah.

Handono terbelalak. Lalu tertawa.

“Kamu selalu tahu yang terbaik, anakku.” Katanya. “Kapan kamu akan menemui Linda? Papa kangen sama Radius.”
“Jika waktunya tiba, saya pasti akan menemuinya.” Jawab Suradi.
“Shanti tahu?”
“Saya tidak pernah membohonginya, Papa. Shanti tahu semuanya.”
“Dari semua hal dalam hidup Papa, kamu adalah satu-satunya yang terbaik.” Kata Handono.

Suradi menatap Papanya dengan lembut.
“Bukan, Pa. Bukan satu-satunya. Ada satu lagi yang terbaik buat Papa.”
“Apa?” Tanya Handono.
“Ini.” Kata Suradi sambil memberikan sebuah buku kecil yang sudah sangat lusuh.
“Buku apa ini?”
“Baca aja, Pa. Saya mau latihan malam sama Darius. Permisi Papa sayang.” Kata Suradi sambil mencium kening Handono yang berkeriput.

Handono tertegun menatap buku itu. Matanya menyipit dan menjadi satu garis. Dari ujung-ujung matanya, menetes butiran air mata. Itu adalah buku Diary Maria.

TAMAT

Catatan:

Khusus buat warga di mari, para semproters yang berbahagia, terimakasih atas like, cendol, love, wow, ha ha, sad dllnya serta komen-komennya. Selamet Tahun baru 2020, sampai ketemu dengan karya ane yang lainnya.

Peace.

Daftar Part

Cerita Terpopuler