. Suradi Adventure Part 63 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 63

0
186

Suradi Adventure Part 63

WARUNG KOPI

Lelaki berwajah bengis itu tertawa-tawa senang.
“Ha ha ha… akhirnya, kamu mati juga.” Katanya sambil menyeranaikan puluhan hasil cetak foto itu di meja kerjanya yang lebar. Foto-foto itu memperlihatkan detik-detik Suradi ke luar dari lobby hotel dan detik-detik ketika dia memasuki mobilnya.

Lalu, boom!
Mobil itu hancur berkeping. Sudah pasti orang yang berada di dalamnya mustahil selamat.

Ha ha ha.

“Sekarang tinggal si Linda… hm, harus kuapakan dia? Menebar teror dulu? Ho ho ho… tidak perlu. Tangkap dia. Perkosa dia. Siksa dia. Hancurkan fisik dan mentalnya. Anaknya juga. Gunakan anaknya untuk menyerahkan seluruh aset yang dimilikinya… he he he… emasku memang sudah dicuri oleh si Komar bangsat itu… tapi aku masih punya banyak berlian… ha ha ha… dan ratusan properti strategis di seluruh dunia milik si Linda… ha ha ha… aku akan kaya raya… aku akan bangun lagi pabrik farmasi narkoba jenis baru dari kecubung… ho ho ho… aku akan menguasai dunia.” Kata Santoso. Dia menari-nari bagai orang gila di ruang kerjanya yang luas dan mewah.
“Eh, tunggu. Apakah si Komar juga mencuri berlian-berlianku? Tidak, tidak, tidak boleh. Kalian harus aman berada di dalam sini.” Berkata begitu Santoso mendekati sebuah pintu besi yang menempel di dinding, memijit-mijit angka pada kotak panel yang juga menempel di dinding yang bentuknya mirip HP android jaman dulu. Santoso kemudian menempatkan wajahnya di depan screen panel, sebuah sinar inframerah pun bergerak menyorot sepasang matanya.

Beberapa saat kemudian… tuuuttt… tuuuttt… tuuuttt… lemari besi yang sangat tebal itu pun terbuka.
“Kalian masih aman di sini bayi-bayiku yang cantik… kalian aman… he he he…”

Tiba-tiba Santoso merasakan kesiur angin dingin di tengkuknya. Tiga kali gigitan semut terasa di belakang kepalanya dekat kuduk. Seketika seluruh tubuhnya menjadi lemas. Dia merasa janggal dan ketakutan.
“Penjaga!!!” Santoso berteriak, tapi suaranya tidak ke luar. Dia berteriak sekali lagi dengan lebih keras. “Penjagaaaaaa!!!!”

Tapi suaranya tetap tidak ke luar.

Seluruh tubuh Santoso terasa lemas tak bertenaga, seakan-akan tulang-tulangnya tak bersambungan dan tak bisa digerakkan. Namun, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya Santoso akhirnya bisa duduk menyandar ke dinding.

Sepasang matanya terbelalak melihat satu kotak langit-langit kamar kerjanya terbuka. Dari kotak yang terbuka itu, jatuh sebuah tambang yang sepertinya terbuat dari anyaman benang kasur. Kemudian seorang berpakaian hitam mirip baju penyelam, turun meluncur. Begitu kakinya menyentuh lantai, dia berpaling ke arah Santoso dan tersenyum.

Senyumnya sangat simpatik. Sepasang mata Santoso melotot dan seakan-akan ingin meloncat ke luar. Mulutnya bergerak-gerak meneriakkan sesuatu, tapi tak ada sesuatu suara pun yang ke luar.
“Aku sudah menembakmu dengan amfetamin di belakang kepala, percuma aja Pak Santoso bicara. Tidak akan ke luar suara apa pun.” Kata orang berbaju hitam itu. Dia menggendong ransel besar yang terlihat kempes, mendekati ke arah lemari besi itu dan membungkuk. “Nah, ini jarum-jarumnya… kecil ya?” Orang itu memungut tiga jarum kecil berwarna perak yang tergeletak di lantai. Memasukkannya ke dalam sebuah tabung kecil seukuran seperlima batang pensil utuh.
“Kata ayah, Cecep, kamu tidak boleh dendam sama Santoso, dia itu sahabatku.” Kata lelaki berbaju hitam itu. Dia menurunkan ransel besar itu, memasukkan tabung kecil itu ke dalam kantong di pinggir ransel dan mengambil sebuah jarum suntik berisi amfetamin di kantong ransel lainnya.
“Tidak, ayah, Cecep tidak dendam.” Kata Lelaki itu. “Eh, ini cuma jarum suntik biasa berisi amfetamin biasa yang bisa dibeli diapotek secara bebas. Saya suntikkan di pundak kiri dan kanan ya sedikit-sedikit… maksudnya, ya, maksudnya biar syaraf motorik dan sensorik yang menghubungkan ke dua lengan Pak Santoso dengan otaknya terputus, biar tangannya tidak bekerja. Pak Santoso sudah cape kan bekerja seumur hidup… ngumpulin emas sampai jumlahnya ada 2 ton, wah, banyak sekali emasnya.” Lelaki itu kemudian menusukkan jarum itu ke kedua pundak bagian depan Santoso.

Santoso semakin melotot dan mulutnya bergerak-gerak. Setelah lelaki itu menyuntik pundaknya, terasa ada sesuatu yang menjengkit seakan-akan kedua pundaknya ditusuk oleh ribuan tusukan belati. Saking sakitnya, Santoso melelehkan air mata menahannya.

“Cecep tidak pernah dendam sama Pak Santoso, cuma suntikan di kedua paha ini akan menyebabkan Pak Santoso tidak akan bisa berjalan. Tapi Pak Santoso masih bisa menikmati senggama… jika ada cewek yang mau. Maaf ya Pak, saya suntik dulu.”

Lelaki berbaju hitam itu sambil tersenyum menyuntik paha Santoso langsung menembus celana pantalonnya. “Nah, sudah.” Katanya. Dia lalu memasukkan suntikkan itu ke dalam kemasannya dan menyimpannya di kantong di pinggir ransel.

“Nah, sekarang, giliran mencari kelereng.” Katanya. “Wuih, banyak sekali kelereng Pak Santoso. Semuanya bagus-bagus. Giselle pasti pingsan deh lihat kelereng segini banyaknya.”

“Itu berlian, Anjing! Itu berlian! Pergi kau jangan ambil berlian-berlianku.” Santoso berteriak dengan kemarahan yang menggila, tapi mulutnya tak bisa mengeluarkan suara apa pun.

“Pak Santoso pasti keberatan jika semua kelereng ini Cecep ambil, ya kan?” Kata lelaki itu sambil meraup berlian-berlian itu dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Beberapa menit kemudian, seluruh berlian yang ada di dalam lemari besi itu sudah berpindah ke dalam tas ransel lelaki berbaju hitam itu. Kemudian, dengan kakinya, dia menutupkan pintu besi hingga menutup rapat dan otomatis terkunci seperti sedia kala.

“Terimakasih ya Pak atas semua kelereng-kelerengnya… oh, ya, amfetamin itu tidak akan merusak syaraf tangan, kaki dan syaraf suara Pak Santoso secara permanen. Tidak koq. Setelah satu bulan, Pak Santoso akan sembuh seperti sedia kala.” Kata lelaki itu sambil memanjat tambang itu hingga akhirnya dia mencapai langit-langit kamar kerja Santoso. Sebelum menutup kotak langit-langit itu, lelaki itu memberikan senyum yang manis kepada Santoso dan menggoyang-goyangkan tangannya sambil mengucapkan kata perpisahan.
“Dadah…”

Lelaki itu pun menghilang. Entah ke mana.

Beberapa anak buah Santoso mula-mula menyangka bosnya yang sedikit sakit jiwa itu sedang tidur di lantai. Mereka menemukan bosnya tengah duduk menyandar di dinding, lalu dengan takut-takut membangunkan bosnya. Wajah bosnya yang bengis itu seketika melotot dan mulutnya bergerak-gerak mengatakan sesuatu.

Mula-mula anak buahnya Santoso merasa takut. Mereka mundur. Lalu, lama-lama mereka merasa aneh. Ternyata bosnya tak berdaya. Diam saja di situ.

Seorang anak buahnya yang paling sering menjadi sasaran Santoso, mendekatinya. Dan menggoyang-goyangkannya. Tapi Santoso hanya bisa melotot dan menggerak-gerakkan mulutnya.
“Hey, teman-teman, bos kita terserang penyakit aneh. Ayo kita panggil dokter.” Kata salah seorang anak buahnya Santoso yang datang mendekati bosnya.
“Tunggu.” Kata salah seorang anakbuahnya yang sering menjadi sasaran Santoso jika marah itu. Dia menggampar pipi Santoso dengan keras sehingga Santoso mengucurkan darah di hidung. “Ha ha ha… dia lumpuh!”
“Ayo kita bawa ke dokter.”
“Jangan tolol!” Kata seorang anak buahnya yang lain. “Mungpung dia lumpuh, kita curi semua harta kekayaan yang ada di rumah ini, lalu kita kabur.”
“Setuju. Tapi aku penasaran ingin sekali-kali menghajar bos bangsat ini.” Kta seorang yang lain, lalu dia menonjok wajah Santoso dengan keras. Bug!
“Aku juga ingin menendangnya!”

Sepuluh orang anak buah Santoso yang memiliki tubuh kuat bergiliran menghajar Santoso.
“Sudah teman-teman, sekarang kita berburu harta karun. Ayo.”

Hanya dalam hitungan beberapa jam saja, anak buahnya Santoso serta para pembantu rumah tangganya, menggerayangi rumah itu dan mengangkut semua barang-barang berharga di dalamnya.

Mereka sangat ricuh. Ada yang berebut uang, lukisan, koleksi barang antik, bahkan ada juga yang berebutan mendapatkan stok narkoba.

Setelah itu, mereka kabur meninggalkan rumah mewah yang sangat besar itu yang terletak di kawasan Jakarta Pusat.

Selama berhari-hari Santoso hanya bisa duduk bersandar di dinding. Rasa lapar dan haus, rasa benci dan marah, menari-nari dalam kepalanya yang 100% masih sadar. Jiwanya yang sakit bertambah sakit oleh derita fisik dan mental yang tak tertahankan.

Akhirnya, setelah 3 minggu, Santoso mati secara perlahan-lahan. Sangat perlahan-lahan. Mayatnya ditemukan 6 bulan kemudian oleh seorang pencuri amatir, dalam keadaan sudah membusuk dan dipenuhi oleh belatung.

Pencuri amatir itu, setelah secara cermat menggerayangi seluruh isi rumah dan tak mendapatkan apa pun barang berharga di dalamnya, dia kemudian menemui seorang laki-laki berwajah kampungan.
“Enggak ada apa-apa lagi, semua barang berharga ludes.” Kata Pencuri amatir itu.
“Ya, sudah.” Kata laki-laki berwajah kampungan itu. “Nih, buat kamu satu juta.”
“Makasih ya bro.”
“Oke oke.”

Laki-laki berwajah kampungan itu kemudian menaiki motor dan menemui seorang lelaki setengah baya yang memiliki senyum simpatik. Lelaki setengah baya itu sedang bermain-main dengan anaknya.
“Ayo Darius, pukul ayah kalau bisa.” Katanya. Lelaki setengah baya itu menoleh ke arah lelaki berwajah kampungan itu. “Bagaimana, Sep?” Tanyanya.
“Semua benda-benda berharganya ludes, Pak.”
“Hm, itu pasti dirampok sama anakbuahnya sendiri. Mayatnya?”
“Mayatnya sudah dipenuhi belatung.”
“Carilah orang untuk memberitahu keamanan setempat, biar mereka yang lapor polisi.”
“Baik, Pak.”

Tidak ada seorang pun yang tahu, kematian gembong narkoba yang sangat licin dan tak tersentuh tangan hukum itu, demikian sangat mengenaskan. Tapi beritanya tidak pernah ada, baik di televisi, radio, media cetak maupun internet.

Tidak ada.

Santoso yang pernah jaya dan ditakuti oleh lawan maupun kawan, tiba-tiba saja raib. Menghilang dari dunia. Seolah-olah dia tidak pernah ada.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler