. Suradi Adventure Part 61 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 61

0
179

Suradi Adventure Part 61

ANASTASIA MELINDA LIEM

(Catatan Sunyi)

Di ruang kerjanya yang luas dan sunyi, Melinda tidak pernah bisa bersembunyi dari luka yang dalam dan kehilangan yang sangat. Air matanya selalu menetes bila menatap foto selfie dirinya dan Suradi, dulu, waktu mereka berdua di sebuah VIP Room di Horison.

Pagi itu, Melinda merasa kesal karena Suradi seperti ogah-ogahan ketika dimintanya datang ke Jakarta.
“Mobil kaka lagi di bengkel sayang.”
“Gak mau, pengen kaka di sini, sekarang.”
“Jangan manja, dong. Masa Bu Komisaris Utama begitu… entar ketahuan para direktur utama gimana?”
“Bodo. Cepet pokoknya ke sini…. Radius juga kangen sama Papanya.”
“Ini Kaka lagi di bengkel, besok aja yah.”
“Gak mau besok! Sekarang!”
“Besok.”
“Sekarang!”
“Besok.”
“Sekarang!”
“Bes…”

Klik telpon ditutup.

Suradi kembali ke pekerjaannya bersama Usep dan Mang Uday, mereka tampak sibuk mengukur-ngukur lantai mobil di jok penumpang.
“Nah, potong kira-kira ukuran 55 cm X 55 cm.”
“Terus joknya gimana?” Kata Mang Uday sambil mengeluarkan gergaji besinya.
“Joknya sikat aja, kecuali sandarannya, jangan.”
“Masuk enggak Pak ukuran segitu?” Tanya Usep. “Kalau Usep sih pasti masuk.”
“Ya, masuklah. Perut Bapak masih rata koq.”

Mereka tidak mendengar ada suara Helikopter turun di tengah lapangan parkir di depan kost-kost-an.

Usep melirik ke arah debu yang berterbangan dan melihat Melinda turun dari heli.

“Katanya di bengkel.” Kata Melinda sambil menarik baju Suradi agar ke luar dari mobil.
“Hai, sayang. Memang nih, di sini jadi bengkel dadakan.” Kata Suradi. “Mana Radius?”
“Di rumah, sama Nanny dan Bi Ijah. Kata Papa kamu ke mana aja, koq enggak pernah datang ngejenguk?”
“Sibuk. Sama Usep, biasa ke bukit Kiara.”
“Papa kangen tuh, nanyain aja.”
“Mami yang kangen sama kamu. Cepat ke ruang manajer dulu, lapor apa kek. Entar Kaka nyusul.” Kata Suradi. “Mang Uday, berapa jam kira-kira melubangi lantai mobil ini?”
“2 sampai 3 jam lah, Pak. Perkiraan jam 11-an paling lambat, sudah selesai.”
“Tapi pintunya ditutup ya, Mang. Jangan kelihatan sama orang.”
“Siap, Pak.”
“Sep, sini.” Kata Suradi. “Semua peralatan sudah siap?”
“Sudah, Pak. Cuma… apa betul bapak yakin akan terjadi malam ini?”

Suradi tersenyum.
“Kamu sendiri sudah ngechek tutup got, panjang got dan diameternya?”
“Sudah 3 kali, Pak. Sama Pak Tono.” Kata Usep. “Diameternya Usep yakin cukup buat bapak, tapi baunya itu Pak, waduh. Luar biasa.”
“Kan pake baju selam. Berapa menit waktu tempuhnya?”
“Sampai di ujung, dengan kecepatan derek biasa, sekitar 3 menit.” Jawab Usep. “Bapak yakin pasti terjadi malam ini?”
“Siapkan semuanya, Sep, dengan sempurna. Nyawa bapak taruhannya.” Kata Suradi.
“Kalau bapak mati, Usep akan bunuh si Santoso bangsat itu.”
“Sudah. Bapak nemenin Bu Linda dulu, ya.”
“I ya, Pak.”
“Ingat, tutup pintunya. Jangan sampai ada orang yang melihat pekerjaan Mang Uday.”
“Siap, Pak.”

Mereka bercinta di ruang manajer kost, sementara sang manajer diajak tamasya dengan Heli mengelilingi Bandung oleh pilot.
“Masa kaka enggak bisa. Malam ini, mungpung jadwal Lin lin kosong.” Kata Melinda sambil mengenakan celana dalamnya. “Hoo hoo… brrrr… masih enak.” Katanya.
“Enggak bisa sayang. Kaka ada pertemuan Pengusaha Kontraktor Se Jawa Barat, acaranya cuma sebentar koq.”
“Sampai jam berapa?”
“Jam delapanlah, setelah itu Kaka langsung meluncur ke Jakarta. Paling 4 jam. Kamu belum tidur kan jam segituan?”
“Kalau nungguin Kaka, sampai subuh juga enggak akan tidur.”
“Maaf, ya, sayang. Sekali-kali, kaka juga boleh sibuk dong.”
“Huuu.”
“Huuu apa?”
“Pengen lagi, tapi takut Mami keburu pulang.”
“Entar malem, Kaka puasin kamu sampai muncrat-muncrat.” Bisik Suradi.
“Janji ya?”
“Janji.”
“Kalau ingkar?”
“Berarti kaka mati ditembak kamu.” Kata Suradi sambil tersenyum.

Malam itu Melinda terjaga sampai subuh. Hatinya marah dan gelisah. Kaka tidak pernah ingkar janji. Namun ketika Melinda melihat berita pagi, dia menjerit-jerit. Memanggil-manggil Kaka.

Jelas sekali mobil double cabin kaka yang meledak.

Melinda pingsan beberapa kali. Tapi akhirnya dia bisa menguasai dirinya sendiri.
“Aku harus kuat. Demi Radius dan Papa.” Katanya.

Beberapa minggu kemudian, ketika Melinda mendengar kematian Papa Handono dari petugas Lapas, hampir saja dia pingsan lagi. Tapi kali ini mentalnya lebih kuat dan bisa berpikir dengan lebih jernih.
“Aku harus bisa melindungi diri dan Radius.” Bisiknya. “Radius tidak boleh jauh dariku dan aku harus membawa pistol kecil itu ke mana pun.” Bisiknya. Dia lalu memanggil Bi Ijah dan Pak Tono.
“Bi, Pak, mulai saat ini, semua tamu, siapa pun tamunya tidak peduli, tidak boleh mendekati Radius. Tidak boleh. Cuma Bi Ijah dan Pak Tono yang boleh. Siap?”
“Siap, Bu.”
“Semua guru yang mengajar untuk sementara diberhentikan sampai batas waktu yang tak ditentukan. Paham?”
“Paham, Bu.”
“Radius tidak boleh terlihat dari luar. Kalian harus bisa menyembunyikan dia dengan rapat. Mengerti?”
“Mengerti, Bu.”
“Nyawa dia, sekarang tergantung sama kita bertiga.”

Kini Melinda tahu, harapannya untuk hidup bahagia dengan Suradi pupus sudah. Papa Handono juga sudah pergi. Seandainya dia tidak memliki Radius, maka segala kekayaan yang ada di tangannya hanyalah semu.

Ya. Semu.

“Dengarlah Linda.” Kata Top Eksekutif dunia itu di depan cermin. “Tubuhmu kini dingin seperti salju. Kau juga semakin tua dan keriput. Meskipun hatimu berkata bahwa lelaki yang kau cintai itu masih hidup, tapi kau tidak bisa menelpon dia lagi untuk datang secepatnya kepadamu. Bermanja-manja dan menjadi kolokan di dalam pelukannya.”
“Hapus airmatamu, jangan jadi perempuan lemah!” Kata Top Eksekutif dunia itu. “Kau tahu arti hidup setelah hidup itu berlalu. Dengar, bukankah kau masih memiliki kalung itu? Jika kau rindu, pejamkanlah matamu… dia akan datang dan mengecupmu dengan lembut, seperti kecupan saat pertama di pojok lantai 2 Kafe Fizzies. Ingat?”

Ya, tentu saja Melinda ingat. Tapi tetap saja dia melelehkan airmata.

Melinda mungkin top eksekutif terbaik dunia, memiliki puluhan properti strategis di tiap kota di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Tapi tetap saja dia seorang wanita.

Seorang wanita biasa yang ingin mendapatkan hadiah kecil di hari ulangtahunnya.
“Selamat ulang tahun Anastasia Melinda Liem, hari ini kamu persis 43. Pejamkan matamu, genggam kalungmu dan rasakan… dia datang kepadamu.” Bisiknya lembut di dalam hati.

Tetapi kali ini, hanya sunyi yang mengecup bibirnya.

Cup.

Bersambung

Daftar Part