. Suradi Adventure Part 60 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 60

0
190

Suradi Adventure Part 60

SUGIRI

(Maut dalam Pelukan)

Suradi sedang membuat sketsa ketika Pak Tono datang dan mengatakan Pak Sugiri terbatuk-batuk terus ketika memimpin pembangunan proyek gedung SD.
“Saya tak tega melihatnya, tapi juga tak bisa menghentikannya.” Kata Pak Tono dengan wajah khawatir.
“Terima kasih, Pak Tono. Saya segera menemui Ayah.” Jawab Suradi.

Sambil berisiul-siul Suradi mendekati ayahnya yang merupakan mandor senior di perusahaan kontraktornya.
“Ayah, temenin Cecep makan yuk.” Kata Suradi. Dia tak pernah dipanggil nama oleh ayahnya. Selalu dipanggil Cecep. Suradi juga selalu bembahasakan dirinya Cecep kepada ayahnya.
“Aku lagi sibuk, Cep.” Kata ayah sambil terbatuk-batuk.
“Sebentar saja, Ayah. Kerjaan mah gampang. Tinggalkan saja dulu.”
“Nanti kamu rugi, Cep.”

Suradi tertawa.
“Enggak, enggak rugi.”
“Aku belum lapar, ini baru jam setengah sebelas siang. Nanti saja jam setengah satu.” Kata Pak Sugiri.

Suradi tersenyum. Dia melihat ayahnya sudah sangat tua.
“Sebentar saja, ayah.”
“I ya, tunggu… hoeks…hoeks…” Tiba-tiba saja Pak Sugiri memuntahkan darah segar dari mulutnya. Suradi segera merangkulnya dan membiarkan muntahan darah menyembur ke pundak dan punggungnya.
“Ayaah…” Suara Suradi gemetar.
“Aku baik-baik saja… hoeks… hoeeeekkkssss…”
“Pak Tono, siapkan mobil kita ke rumah sakit!” Teriak Suradi.
“Baik, Pak.”
“Aku baik-baik saja, Cep.”
“Ya, ayah. Ayah baik-baik saja. Cecep tahu. Kita ke rumah sakit buat refreshing.” Kata Suradi, senyumnya yang lebar sia-sia saja menutupi wajahnya yang khawatir.
“Cep, aku bukan ayahmu. Tapi aku menyayangimu lebih dari anakku sendiri.”
“Jangan ngelantur, Ayah. Yuk, ke mobil.”
“Ayah rasa ini sudah tiba waktunya… hoeeeks… dengarkan, Cep… ibu kandungmu bernama Maria, ayahmu bernama Han-han… dia tinggal di Jerman… hoeks… jangan dendam sama Santoso, aku tahu dia telah menodai kesucian persahabatan… hoeks… semua jurus yang aku ajarkan padamu…. hoeks… hoeks… harus kau wariskan pada anak lelakimu kelak… ilmu ini tidak boleh sirna… hoeks… dengarkan cep, anakku sayang… ayah… ”
“Ayaahhh…”
“Kau… harus…cariii… waktu… untukkk… melatih… semua… juruss… ”

Suradi memeluk Sugiri, erat. Tubuh itu tiba-tiba terasa kaku dan dingin. Ayah sudah meninggal.

Sampai kapanpun Suradi mustahil melupakan peristiwa itu, walau pun itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu.

Bersambung

Daftar Part