. Suradi Adventure Part 59 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 59

0
183

Suradi Adventure Part 59

HANDOKO HALIM 1

Di dalam bilik penjara yang sunyi, setiap pagi, siang dan malam Handono menangis.
“Mengapa baru sekarang aku tahu dia benar-benar anakku.” Katanya dengan sesal yang tak putus. “Mengapa sekarang?”

Suradi. Kamu adalah anakku.

Winardi menjenguk Handono sore itu dan mengabarkan bahwa dia terkena HIV AIDS.
“Terus?”
“Maafkan saya, Papa.”
“Tak perlu.”
“Papa, bisakah Papa bantu saya untuk biaya pengobatan.”
“Papa sudah tak punya apa-apa lagi. Semua sudah Papa berikan buat Radius, cucu Papa.”
“Dia bukan cucu Papa, dia bukan darah daging Papa.”
“Radius itu darah daging Papa.”
“Dia anak Suradi!”
“Suradi itu anak Papa. Darah daging Papa.”
“Papa bohong!”

Handono hanya mendengus. Dan tak peduli.
“Sudahlah anak cengeng. Kamu terima saja akibat perbuatanmu sendiri. Pergilah. Jangan ke sini lagi.”

Melalui fasilitas Lapas yang harus dibayar mahal, Handono menelpon Melinda dan meminta Bi Ijah agar diajak untuk menjenguk.
“Ada apa memangnya, Papa?”
“Bawa aja ke sini. Papa mau ngobrol sebentar.”
“Baik, Papa. Tapi Bi Ijah selalu sakit-sakitan sejak Kaka meninggal. Saya sudah larang dia bekerja tapi Bi Ijah Bandel masih suka bersih-bersih rumah.”
“Bawa ke sini, Linda sayang. Dia akan menjelaskan siapa Kaka Suradimu yang sesungguhnya.”

“Ijah, jelaskan hubungan kamu sama Maimunah, Ibunya Suradi.” Kata Handono dengan tatapan lembut.
“Dia… dia, kakak saya Tuan, eh, Pak.” Kata Ijah.
“Kamu dan Maimunah pernah kerja jadi pembantu di rumahnya Maria, pacar saya dulu. Betul tidak?”
“I i ya, Pak, pernah.”
“Apa betul dia hamil?”
“Be… betul, Pak.” Kata Ijah. “Non Maria meninggal waktu melahirkan. Papi dan Mami Maria merasa malu dan membuang bayi tak berdosa itu ke tempat sampah. Kami memungutnya dan merawatnya. Tapi kemudian kami diusir oleh Papi dan Maminya Maria.” Kata Ijah. “Selama kehamilannya non Maria selalu memanggil-manggil nama kekasihnya yang bernama Han han.”

Tiba-tiba Handono meneteskan air mata.
“Itu panggilan sayang dia kepada saya, Ijah. Waktu itu saya sedang berada di Jerman untuk melanjutkan kuliah.” Kata Handono sambil terisak. “Ketika saya kembali lagi ke Jakarta, Papi dan Maminya Maria sudah pindah ke Bekasi. Saya kehilangan jejak mereka.”
“Jadi, Kak Suradi adalah anak Papa?” Kata Melinda dengan gemetar.

Handono mengangguk. “Pasti. Seandainya Maria masih hidup, saya tidak akan pernah menikahi Leoni. Ibunya Suzi dan Win.”

Melinda segera mencabut HPnya dan menelpon Siauw Ling, direktur keuangannya.
“I ya Bu. Ada apa?”
“Batalkan bantuan biaya untuk Winardi. Biarkan dia mampus dan ke neraka.” Katanya dengan nada getas. “Papa tahu, saya bertahan dengan Winardi selama ini karena Radius. Karena mempertahankan permintaan Papa. Sekarang, setelah Papa tahu Radius adalah darah daging Papa sendiri, biarkan saya mengajari Suzie untuk hidup sederhana.”
“Maksudmu? Kamu akan menendang Suzie dari PT Surabaya Halim City?”
“Ya. Dia tidak becus. Kerjaannya cuma berfoya-foya tapi g*bl*k.”

Handono terdiam.
“Win dan Suzie sifatnya mirip Leoni. Ya, sudah. Terserah kamu. Kamu yang pegang kendali.”

Handono terkejut ketika tiba-tiba Santoso datang menjenguknya. Sahabat berhati dua itu tersenyum sinis.
“Anak emasmu, Melinda, berhasil mengalahkanku. PT Global Cipta Mandiri dan PT Priangan Halim Bandung, berhasil dia rebut kembali… he he he… tapi itu tidak akan lama.”
“Kau sudah memukulku dengan sandiwara 5 Triliunmu, lalu kau bunuh Suradi. Kurang apalagi, San? Kau akan membunuhku?”
“Kau tak perlu tersinggung, Suradi cuma anak kuli bangunan. He he he… anak buahku yang memasang bom di mobilnya… memang, aku selalu merasa sedih jika kau hidup sengsara seperti ini, di penjara… ha ha ha… aku cuma kasian sama kamu, Han. Setelah kamu mati, giliran Melinda. Dan si Radius yang ganteng itu, he he he… akan kujejali dia dengan narkoba ha ha ha…”

Handono diam. Rahangnya mengatup.
“Aku ini sahabatmu. Bahkan kita telah mengangkat saudara… mengapa kamu lakukan ini, San. mengapa?” Kata Handono dengan suara gemetar.

Santoso tertawa.

“Kau tidak punya salah apa pun sebenarnya, Han. Aku tidak membencimu. Tapi baiklah, aku akan memberitahu apa alasan yang sebenarnya mengapa aku ingin membunuhmu dari dulu.” Berkata demikian, Santoso yang duduk bertumpang kaki, melepaskan hak sepatunya. Di dalam hak sepatu itu ada pistol seukuran jempol. Dia mengarahkan pistol kecil berbentuk silinder itu dan mengarahkannya persis ke dada Handono. Santoso kemudian memijit tombolnya.

Des! Des! Dua peluru menembus dada Handono.

“Alasan yang pertama, kau telah membuat Maria jatuh cinta kepadamu dan menghamilinya. Kedua, kau selalu lebih baik dariku, dalam segala hal. Itulah alasannya. Kau dengar Han? Oh, kau tak bisa mendengar. Kau sudah mati rupanya.”

Ke luar dari ruang khusus itu, Santoso berjalan sambil tertawa-tawa.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler