. Suradi Adventure Part 57 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 57

0
216

Suradi Adventure Part 57

RAHASIA SEORANG SAHABAT

The End

At the end of a rainbow, you’ll find a pot of gold
At the end of a story, you’ll find it’s all been told
But our love has a treasure our hearts can always spend
And it has a story without any end

At the end of a river, the water stops its flow
At the end of a highway, there’s no place you can go
But just tell me you love me and you are only mine
And our love will go on ’til the end of time

‘Til the end of time

Earl Grant

Di ujung pelangi, kau akan menemukan segentong emas
di ujung cerita, kau akan menemukan seluruh kisahnya
tetapi cinta kita adalah harta karun hati kita, yang selalu dapat kita habiskan
dan kisah cinta kita, adalah tanpa ujung.

di ujung sungai, air berhenti mengalir
di ujung jalan, tak ada lagi tempat di mana kau bisa pergi
namun katakan padaku kau mencintaiku, dan kau hanya milikku
dan cinta kita akan terus berlanjut, hingga di ujung waktu.

hingga di ujung waktu.

(terjemahan bebas by @Sumandono )

1
KOMAR

Pertama kali Suradi mengenal Komar ketika kelas 1 (sekarang kelas 10) semester 2 di STM (Sekolah Tehnik Mesin) Citarum, Bandung. Sekarang STM diganti namanya menjadi SMK (Sekolah menengah kejuruan).

Orangnya kurus dan pendek, hidungnya pesek dengan kening agak lebar serta menonjol. Orang Sunda mengatakan kening seperti itu namanya Nong nong. Ada juga yang mengatakan kening jenis seperti itu namanya Nonong. Konon, orang yang memiliki kening nonong seperti itu katanya cerdas, penuh percaya diri, riang dan banyak akal.

Tetapi yang paling diingat Suradi adalah rambut lurusnya yang tipis dan jarang, warnanya pirang. Gara-gara rambut itulah Komar yang terkenal dengan julukan si Nongnong, dipanggil Bu Fira ke ruang BP (Bimbingan dan Penyuluhan).
“Kamu, kenapa rambutmu dicat pirang?” Kata Bu Fira. Orang yang ditegur itu malah cengar-cengir. “Jangan cengengesan, jawab yang bener!”
“Ini bu, bukan dicat. Tapi pirang karena kepanasan.”
“Bohong kamu!”
“Silahkan sama ibu periksa sendiri.”

Bu Fira kemudian memegangi kepala Komar dan memeriksa rambutnya. Ternyata Komar terbukti dengan ucapannya.
“Ya, sudah. Sana kembali ke kelas. Kamu, Suradi! Sudah berapa bulan kamu belum bayar SPP?”
“Empat bulan, Bu.”
“Kenapa? Kamu tilep ya duit SPPnya!”
“Tidak, bu. Bapak sakit, sudah 3 bulan tidak bekerja.”
“Jangan bohong kamu.”
“Saya tidak bohong, bu.”
“Sudah, saya tidak akan beri toleransi, Jika bulan depan kamu belum bayar SPP juga, kamu akan diskor.”

Suradi terdiam.
“Sudah, sana pergi.”

Di ruang BP itulah Suradi pertama kali melihat Komar.

Komar kemudian membual kepada teman-temannya, bagaimana dia di ruang BP itu dielus-elus oleh Bu Fira, sedangkan seluruh siswa STM yang notabene adalah laki-laki semua, tahu bahwa Bu Fira sudah 10 tahun menjanda.
“Kalau enggak ada orang sudah kucipok itu bibirnya yang menggemaskan.” Kata Komar dalam bahasa Sunda.

Tentu saja teman-teman sekelasnya tidak ada yang percaya. Bahkan ada yang mentertawakannya. Tapi Ginanjar merah mukanya karena cemburu.

Komar memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi, dia tahu dia berbohong, tetapi dia tetap mencari pembenaran terhadap ceritanya. Dia meminta dukungan kepada beberapa orang, namun teman-teman sekelasnya tidak ada yang mau mendukungnya. Akhirnya Komar meminta dukungan kepada Suradi, orang yang berada di ruang BP dan yang menyaksikannya dielus-elus oleh Bu Fira. Saat itulah mereka berkenalan.

Kelas Komar dan kelas Suradi bersebelahan.

Komar menunggu Suradi di pintu kelas ketika bel istirahat berdering. Komar lalu mengajak Suradi ke kumpulan teman-temannya.
“Nh, saksinya. Dia melihat kepalaku dielus-elus Bu Fira. Bener enggak, bro?” Katanya sambil menoleh ke arah Suradi.

Sambil tersenyum Suradi mengangguk.

“Taik lu.” Kata salah seorang teman Komar. Dia tiba-tiba merasa marah. Dia mendekati Suradi dan mencekik leher bajunya. “Gua jotos baru tau rasa lu.” Katanya.
“Hey, Gin. Gak perlu pake sewot biasa aja kenapa?” Kata seorang teman lainnya.
“Saya melihat Bu Fira mengelus-elus rambut Komar.” Kata Suradi, suaranya tenang.

Teman sekelas Komar yang dipanggil Gin itu nama lengkapnya Ginanjar, tingginya 185 cm dengan berat badan mencapai sedikitnya 100 kg. Tangannya yang besar dan kuat itu mencekik Suradi dan menekan siswa yang sangat pendiam itu ke dinding kelas dengan keras dan marah.
“Anjing, siah!” Katanya. “Ngawaduk sakali deui ditonjok kuaing!” (Berbohong sekali lagi aku pukul) Ancam Ginanjar dengan wajah merah.
“Jangan marah, saya lihat koq. Dia bener.” Kata Suradi, masih dengan sikap yang tenang.

Ketenangan Suradi mengejutkan semua orang yang berkerumun di selasar kelas. Bagaimana pun alasan dan penyebabnya, mereka melihat Suradi bukanlah lawan yang seimbang untuk Ginanjar. Hampir semuanya merasa miris akan nasib Suradi yang tak gentar menghadapi Ginanjar yang tinggi besar itu.

“Sudah, Gin, sudah.” Kata temannya yang lain. “Kamu jangan pukul dia, kasihan. Dia enggak bersalah.”
“Yang salah si Nongnong, mana dia orangnya?” Kata seseorang.

Di antara kerumunan siswa yang semakin banyak mengelilingi Suradi dan Ginanjar, ternyata Komar menghilang entah ke mana.

“Bener lu lihat Bu Fira ngelus-elus kepalanya si nongnong!” Kata Ginanjar.
“Ya, bener. Masa saya bohong.” Kata Suradi.
“Anjing siah!”

Tangan kanan Ginanjar yang sudah siap menonjok itu bergerak dengan cepat menuju wajah Suradi yang leher bajunya dicekik dan ditekan ke dinding oleh tangan kiri Ginanjar. Suradi, walau cukup tinggi, tapi badannya terkesan kurus dan lemah. Dia adalah kerupuk yang siap diremukkan oleh Ginanjar yang memang terkenal pemberang.

Semua orang terpekik. “Jangan Gin!”

Tapi terlambat. Ginanjar sudah menghantamkan kepalan tangannya ke arah wajah Suradi.

Tidak ada seorang pun yang melihat gerakan Suradi menurunkan kepalanya, tangan kiri Ginanjar yang mencekik leher bajunya itu dipegang oleh kedua tangan Suradi, lalu ditarik ke bawah seiring gerakan tubuh Suradi yang menekuk lutut agak dalam.

Seandainya Ginanjar cuma bermaksud memukul biasa tanpa bermaksud melukai Suradi dan tanpa menggunakan seluruh tenaganya, maka akibatnya tidak akan sedahsyat itu. Kepalan tangan Ginanjar dengan telak menghajar dinding, tangan kirinya yang ditarik ke bawah oleh kedua tangan Suradi, otomatis menarik tubuh Ginanjar ke arah dinding kelas. Ditambah dengan tenaga dorongan pukulan yang kuat, membuat tubuh Ginanjar seakan-akan menubruk dinding dengan bagian wajah lebih dahulu mencium dinding yang diplester beton.

Pada saat yang bersamaan Suradi menggerakkan kaki kirinya ke sebelah kiri dan menarik tubuhnya ke samping, membiarkan tubuh Ginanjar menubruk dinding tanpa rintangan.

Ketika Ginanjar terpental oleh dinding, dia jatuh terjengkang ke belakang dengan kepala lebih dahulu. Semua orang yang berkerumun di situ tidak ada satu pun yang tidak terpana. Mereka menyaksikan Ginanjar terjengkang ke lantai selasar dengan hidung mengucurkan darah. Sepasang mata Ginanjar melotot kosong, bola mata hitamnya mengecil.

Ginanjar kelengar. Pingsan seketika.

Kerumunan yang menonton perkelahian antar siswa di STM Citarum itu sudah biasa. Setiap hari ruang BP selalu penuh dengan kasus semacam itu.

Suradi dan Komar dipanggil ke ruang BP untuk kali kedua.

Semua siswa yang berkumpul di situ memberikan keterangan yang sama ketika mereka dipanggil Bu Fira di ruang BP. Suradi diancam oleh Ginanjar karena mengatakan melihat Bu Fira mengelus-elus kepala Komar. Lalu Ginanjar mencekiknya dan memukulnya.
“Suradi tidak melawan, Bu. Dia hanya berkelit ke samping dan kami semua merasa aneh Ginanjar terjengkang dan pingsan.” Kata salah seorang siswa yang dipanggil ke ruang BP.
“I ya, Bu. Dia yang mukul sendiri dan terjengkang sendiri.” Kata yang lain.
“Apa betul ibu mengelus-elus kepala Komar, Bu?” Tanya salah seorang yang dipanggil karena ikut berkerumun.
“Ibu tidak mengelus, tapi Ibu memeriksa rambutnya apa benar enggak dicat.” Kata Bu Fira. “He, rambut pirang kepanasan sini, ke mana kamu ketika mereka berantem?”
“Apa bu saya mah enggak tau apa-apa.” Kata Komar. “Saya lagi ke WC, Bu. Perut mules karena pagi-pagi sudah makan rujak.”
“Kamu, Suradi. Mengapa kamu berantem?”
“Saya tidak berantem, Bu.”
“Kamu memukul Ginanjar?”
“Tidak, Bu.”
“Lalu kenapa dia terjengkang dan pingsan, ha? Kamu tahu, sekarang dia dibawa ke rumah sakit. Tadi ibu dapat telpon dari saudaranya, tangannya patah dan Ginanjar mengalami gegar otak ringan. Dia sama kamu diapain?” Kata Bu Fira. “Kamu mau jadi jagoan ya?”
“Tidak, Bu. Saya tidak ingin jadi jagoan.”
“Kamu diskor 3 hari.”
“Kita juga, bu?” Kata yang lain agak serempak.
“Kalian tidak, cepat masuk ke kelas.”

Diam-diam terdengar gemuruh suara Huuu…

2

Sejak itu Komar merasa lebih dekat dengan Suradi. Mereka sering terlihat jalan bersama waktu istirahat, atau waktu datang dan pulang sekolah. Persahabatan Suradi dan Komar adalah suatu perpaduan yang aneh. Yang satu tinggi, ramping, ganteng dan pendiam, yang satu lagi pendek, jelek, cerewet dan suka cari masalah.

Setiap hari, pergi dan pulang, Komar mengendarai motor RX King. Dia selalu menjemput dan mengantar Suradi. Dari Komar, Suradi belajar mengendarai motor.

Komar memiliki sifat yang agak ganjil, dia senang memulai sesuatu keributan lalu kabur.

Pernah suatu kali, dia melajukan motornya di depan SMA Belitung dengan sengaja ketika anak-anak SMA itu lagi nongkrong di depan sekolah. Keesokan harinya, ketika pulang sekolah dan Suradi ikut membonceng motornya, anak-anak SMA belitung itu mengepung mereka.

Ketika Suradi turun dari motor dan bermaksud meminta maaf, Komar mengendarai motornya dengan cepat dan kabur.

Lusanya, Komar mendatangi Suradi dan mengatakan bahwa dia pergi bukan karena takut atau tidak setia kawan, tapi karena dia buru-buru mau menjemput adiknya yang SD pulang sekolah.

Suradi hanya tersenyum kecil saja mendengar alasan itu.

Komar tidak pernah tahu bagaimana Suradi menjatuhkan 5 orang pengeroyoknya yang bersenjata rantai, gir dan samurai. Komar hanya tahu, ketika dia ngebut lagi di depan anak-anak SMA belitung yang sedang nongrong, mereka semua memalingkan muka. Seakan-akan tidak pernah ada orang songong yang ngebut di depan mata mereka. Ya, Komar tak pernah tahu.

3

Usai lulus STM, Komar mengikuti jejak bapaknya menjadi sopir angkot sedangkan Suradi diterima di ITB jurusan Tehnik Sipil. Tapi Komar sering mampir ke rumah Suradi dan mengajak Suradi jalan, narik angkot bersamanya. Jika tidak sibuk, Suradi mengikuti ajakan narik yang dilakukan Komar.

Dari Komar, Suradi belajar mengendarai mobil.

4

Karena ayahnya sakit-sakitan dan biaya untuk menghidupi keluarga terasa kembang kempis, akhirnya Suradi menepikan kuliahnya dan ikut bekerja di bangunan bersama ayahnya.

Dari ayahnya Suradi belajar mengenai seluk beluk bangunan dari sisi seorang kuli.

Suradi meloncat-loncat dari satu kontraktor ke kontraktor lain, selama itu setiap malam dia bersama Komar mereka narik angkot bersama. Atau tepatnya, Suradi narik angkot dan Komar main judi dan melacur. Setiap subuh mereka pulang bersama ke rumahnya Komar. Di situ Suradi numpang tidur sebentar, bangun jam delapan lalu pergi ke bangunan untuk menjadi kuli.

Suatu malam, Komar tidak pergi main judi dan tidak juga melacur. Dia membawa sebuah kardus bekas kemasan botol minuman dan menyimpannya di bawah kursi penumpang, lalu mengajak Suradi pergi ke sebuah perumahan elit di sekitar jl. By pass Bandung.

Tiba di rumah itu, Komar menyuruh Suradi masuk duluan. Suradi tidak menyangka di dalam rumah itu ada 10 orang polisi, dia ditangkap sementara Komar berhasil kabur dengan angkotnya. Di dalam rumah itu, seorang lelaki yang lain, juga berhasil ditangkap. Suradi pernah melihat orang itu.

Namanya Santoso. Sahabat ayahnya.

Dalam keadaan tangan diborgol ke belakang, Santoso dan Suradi bertatapan. Saling berkenalan.

Di dalam rumah itu, terdapat ratusan kilo ganja, kokain dan ribuan butir ekstasi serta uang ratusan juta rupiah.

“Kalian, 5 orang, jaga dua orang gembong ini. Sisanya ikut aku menangkap satu orang yang kabur.” Kata salah seorang di antara mereka, yang ternyata adalah komandannya. “Sebelum jam 6 pagi, orang itu harus kita tangkap.”

Santoso tidak tahu bagaimana caranya Suradi melepaskan satu tangannya dari borgol itu. Dia hanya terpana melihat anak muda itu tiba-tiba tangannya bebas, walau satu tangannya yang lain masih terikat borgol yang menggantung bagai gelang. Lalu dia mengendap-endap dan melumpuhkan 5 orang polisi itu serta melucuti senjatanya dalam hitungan beberapa menit.

Dari salah seorang polisi itu, Suradi berhasil mendapatkan kunci borgolnya dan kunci borgol Santoso.

Setelah bebas, Santoso membunuh ke lima orang polisi itu dengan sadis. Suradi berusaha mencegahnya, tapi Santoso tidak bisa dihentikan.

Dengan mobil curian dari tetangga rumahnya, Santoso dan Suradi mencari Komar. Akhirnya ditemukan di terminal Ciroyom sedang bersembunyi.

5

Santoso mengajak Suradi bergabung dengan kelompok mafianya. Tapi Suradi menolak.
“Kau ini miskin dan kau menolak uang dan kekayaan.” Kata Santoso. “Kenapa?”
“Saya mencintai seseorang dan ingin menikahinya.”
“Kamu mencintai gadis gendut itu.” Kata Santoso.
“Ya.” Kata Suradi.
“Aku tahu dirimu semuanya, Sur, kau berhak kaya bersamaku dan gadis itu tidak layak kau cintai.”
“Dia layak. Hatinya kuat.”
“Dia jelek. Dengan uang kau bisa mendapatkan semua gadis cantik di seluruh dunia.”
“Saya tidak tertarik. Saya mencintai dia dan itu cukup untuk semuanya.”

Santoso menatap Suradi dengan tajam. Dia lalu tertawa.
“Baiklah, jika kau menolak, tidak apa-apa. Sewaktu-waktu aku bisa mendatangimu …” Katanya. “Dan ibumu sekalian… he he he.”

Srettt!

Pisau lipat itu bergerak bagai kilat. Santoso baru menyadari luka di wajahnya setelah darah itu merembet dan menetes ke bibirnya.

Suradi melipat kembali pisaunya.
“Kalau kau mendekati ibuku lagi, maka kau akan mati.”

Santoso terdiam. Wajahnya jelas ketakutan.

6

Komar bergabung dengan Santoso dan hidup makmur.

Beberapa kali Komar menjerumuskan Suradi ke dalam berbagai kesulitan karena masalah narkoba dan Komar masih merasa suci di hadapan Suradi. Komar selalu menghianati Suradi tetapi Suradi selalu membantunya.

Dua kali Suradi mengeluarkan Komar dari penjara. Dia bahkan tidak mengucapkan terimakasih.

7

Untuk yang ketiga kalinya Suradi membebaskan Komar dari penjara walau harus dilakukan dengan seribu satu cara dan biaya yang sangat mahal. Akhirnya Komar bisa dibebaskan tanpa diketahui siapapun. Kecuali sang pengacara dan Kepala Lapas.

Suatu sore yang cerah, mereka berbincang di rumah Suradi di Kiarapayung.
“Kali ini aku tidak akan menghianati kamu lagi, Sur.” Katanya. “Aku sudah tak punya-apa dan tak punya siapa-siapa lagi.”

Suradi tertawa.

“Kau masih punya aku. Rumah ini buat kamu. Dan ini, uang satu milyar buat kamu untuk memulai awal baru.” Kata Suradi. “Ganti nama dan rubah penampilanmu, Mar. Jangan bisnis narkoba lagi.”

Komar berlutut mencium kaki Suradi, mengucapkan terimakasih. Suradi meloncat dengan gesit menghindari penyembahan Komar.

“Aku tidak akan bisnis narkoba. Aku akan bisnis emas.” Kata Komar.
“Emas?” Tanya Suradi dengan sangat keheranan.
“Ya, emas. Aku tahu sebuah tempat yang isinya puluhan kilo emas dan bisa memenuhi sumur tua di belakang rumah ini.” Kata Komar sambil terkekeh.
“Tambang emasnya di mana? Mungkin aku juga bisa ikutan.” Kata Suradi.

Komar tiba-tiba tertawa-tawa sampai airmatanya meleleh ke luar.
“Bukan tambang, Sur, bukan tambang. Tapi aku bilang tempat.”

Suradi mengerutkan kening.
“Sudah, kau tak perlu turut campur. Ini urusanku sendiri.” Kata Komar dengan penuh rahasia.

Dan dia tak pernah berhenti tertawa terbahak-bahak.

8

Santoso murka besar. Seluruh anak buahnya dihajar dan disiksanya bahkan ada yang dibunuhnya. Seluruh emas yang dia kumpulkan selama puluhan tahun dengan susah payah, raib tanpa bekas sebatang pun. Bersama dengan raibnya emas, raib pula gadis pelampiasan sexnya yang bernama Lisa.

Dengan mengerahkan seluruh relasinya di kepolisian dan militer, akhirnya Santoso berhasil menemukan dua orang pencurinya, yaitu Komar dan Lisa.

Mereka sedang minum teh di beranda bungalow kecil di Lembang.

Santoso dan seluruh anak buahnya mengepung bungalow itu. Tapi Komar dan Lisa hanya tersenyum-senyum saja menghadapi Santoso yang gemetaran badannya karena amarah yang tak tertahan.
“Mari minum teh.” Kata Komar.
“Mari minum teh.” Kata Lisa.

Beberapa saat setelah mereka meneguk teh, badan mereka kejang-kejang dan mulut mereka memuncratkan buih.

Teh itu sengaja mereka campur dengan sianida. Mereka saling mencintai dan bunuh diri bersama.

Santoso menjerit. Jeritannya melengking memecah langit. Harapannya untuk menemukan emasnya ikut mati dengan matinya kedua pencuri itu.

9

“Anjing!” Desis Santoso. “Otak pencurian ini pasti Suradi. Dia yang membebaskan si Komar dari penjara. Aku harus membunuh bangsat itu!”

Bersambung

Daftar Part