. Suradi Adventure Part 56 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 56

0
188

Suradi Adventure Part 56

ANASTASIA MELINDA LIEM 21

Handono terjaga dari tidurnya. Kasur busa itu menyakiti punggungnya yang sudah tua. Lagi pula dia memiliki gejala penyakit diabetes dan dia tak tahan ingin kencing. Dia ke luar kamar melangkahi Tedi dan Dade yang sedang ngorok. Mereka tidur di lantai beralaskan kasur busa tanpa sprei.

Di ruang tengah, Bi Ijah dan Pak Tono tidur di lantai beralaskan tikar. Sedangkan di ruang tamu, Usep meringkuk di sofa panjang.

Handono pergi ke kamar mandi dan kencing banyak sekali. Mata dan tubuh tuanya masih mengantuk, ingin dibawa tidur kembali. Tetapi dia penasaran apa yang tengah terjadi di ruang kerja Melinda, yang dulu asalnya adalah ruang tamu.

Handono mendekati kamar itu dan menempelkan telinganya di daun pintu. Terdengar suara printer sedang mencetak sesuatu.

Ragu-ragu Handono mengetuk pintu.
“Ini Papa.” Katanya.
“Masuk, Pa.” Terdengar suara Linda.
Handono membuka pintu dan melihat Linda tampak sibuk sekali. Printer melontar-lontarkan kertas hasil cetakannya.
“Ini jam berapa, Linda? Kamu harusnya istirahat.”
“Baru setengah satu. Sebentar lagi selesai.”

Mata Handono menyapu ruang kerja yang sempit dan sederhana itu.
“Mana Suradi?”

Linda tertawa.
“Baru kenal beberapa jam saja Papa udah nyari-nyari, apalagi Linda yang udah kenal lama.”
“Di mana dia?”
“Papa mau apa sih? Pokoknya dia ada. Lagi melaksanakan tugas.” Kata Linda dengan ekspresi wajah miris.
“Tugas dari siapa?”
“Dari Dirut, dari Linda Papa.”
“Dia ke luar?”
“Papa nanya aja. Pokoknya Kaka lagi bertugas. Titik. Enggak usah nanya ke mana.”

Handono menarik nafas.
“Ya, udah. Papa mau tidur lagi.” Kata Handono, dia menutupkan pintu dengan rapat. Lalu menempelkan telinganya ke daun pintu. Suara printer sudah berhenti.

“Adduuuhhhh…. addduuuuhhh…. terusss… kaka… ya itu, yang itu… ahhhh….”

Suradi ternyata berada di kolong meja sedang bertugas. Handono pergi ke kamar tidurnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Anak itu… membuatku jadi pengen muda kembali.” Katanya dengan gegetun.

Pagi itu Handono terbangun oleh cahaya matahari. Pikiran pertamanya yang muncul dalam kepalanya adalah anak itu, Suradi. Dia memaki dirinya sendiri karena perasaannya yang mesra terhadap anak itu dan dia merasa sangat bodoh. Dia bukan termasuk orang mudah percaya pada seseorang, tetapi Suradi telah mencuri sebagian hidupnya yang dia sesali. Berkali-kali dia membunuh khayalan seandainya Suradi adalah anaknya.

Setelah kencing, Handono pergi ke ruang makan dan melihat Linda sedang sarapan sambil membaca sesuatu di HPnya.
“Selamat Pagi.”
“Pagi Papa. Kaka lagi pergi sama Usep ke bukit sana, enggak tahu mau ngapain.” Kata Linda.

Handono menyengir. Linda seakan tahu apa yang dipikirkannya.
“Sarapan apa nih?”
“Nasi goreng daging kambing. Enak lo, Pa.”
“Hm, boleh juga.” Kata Handono. “Kamu masih ngurusin perusahaanmu?”
“Semalam kayaknya udah kelar. Nanti Linda mau tunjuk Siau Ling sebagai direktur keuangan.”
“Kamu mau ambil Bank Halim enggak?”

Linda menghentikan suapan nasi gorengnya. Dia menatap Handono dengan terbelalak.
“Itu duit, Papa. Enggak takut diselewengin sama Linda?”

Handono mengambil piringnya dan menyendok nasi goreng itu.
“Papa enggak peduli. Mau kamu bakar juga enggak jadi masalah. Toh itu buat kamu. Buat cucu Papa yang ada dalam perut kamu.”
“Sungguh, Pa?”

Handono mengangguk. Dia tersenyum lebar. Suradi benar, Linda pasti tidak akan menolak.

Handono melihat sepasang mata bola Melinda berputar-putar. Dia tidak lagi menyentuh makanannya dan tak mempedulikan HPnya.
“Pa, kata Kaka, kalau Papa mau ke pengacara, sebaiknya Papa ke Borman Saragih. Ini kartu namanya.” Kata Melinda setelah memilih sebuah kartu nama yang menumpuk di sebelah piringnya.
“Sebelum Papa ke pengacara, pecat dulu Direktur Utamanya, si Enzo.”
“Baik.” Kata Handono dengan serius. “Sepagi ini kamu udah main kartu, santai sedikit Lin.”
“Saya lagi cari orang terbaik.”
“Kalungmu bagus. Berlian 24 karat. Tapi kenapa talinya dari kulit, bukan dari emas?”
“Papa selalu nanya yang enggak nyambung.” Kata Melinda. “Pa, ini perasaan Linda atau apa yah, kenapa Papa sama Kaka banyak kemiripannya?”
“Ah, masa sih. Aneh kamu.”

Linda terkikik.
“Tapi kaka jauh lebih ganteng dari Papa.”
“Setelah sarapan Papa mau pergi ke Pengacara, terus pulang ke Jakarta. Mungkin enggak sempet pamitan sama Suradi.”
“Pecat dulu si Enzo.” Kata Linda. “Nanti Linda sampein pamit Papa ke Kaka. Linda ke ruang kerja dulu, ya Pa. Kalau mau pergi, bilang.”
“Baik.” Kata Handono dengan nada yang takzim.

Lama dia termenung di meja makan sebelum akhirnya dia menyantap nasi goreng kambing yang sudah dingin itu. Harapannya semakin berkembang dan dia optimis bisa bertahan.
“Santoso mungkin saja telah mengalahkan aku. Tapi belum tentu bisa mengalahkan Suradi. Aku harus mengangkat cawan dan menjadikan Suradi sebagai anak angkatku.” Janji Handono dalam hatinya.

Hari sudah semakin siang dan Handono merasa anak itu tidak akan kembali dengan cepat. Setelah pamit kepada Linda, dia memasuki sedan Camry-nya. Duduk dengan nyaman dan penuh harapan. Dade di belakang stir dan Tedi duduk di sebelahnya.
“Sebelumnya, maaf Bos. Tadi Suradi menyimpan oleh-oleh di kursi belakang, saya pindahin ke bagasi.” Kata Tedi.

Handono melotot dan Tedi melihatnya dari kaca spion di dekat atap mobil. Handono marah. Kepala Tedi dikemplang dengan keras.
“Tolol, kamu. Respek sedikit sama orang yang sudah menjatuhkanmu hanya dengan satu gerakan.” Kata Handono.
“I ya Bos, siap bos.”
“Bisa jadi dia akan menjadi Bosmu di masa depan. Ambil lagi oleh-olehnya dari bagasi, simpan di sini.”
“Baik Bos.” Kata Tedi.

Tedi mengambil kotak-kotak kardus bekas kemasan mie instant itu dan menumpukan 2 kardus di jok belakang, di pinggir Handono, dua kardus lagi di lantai mobil.
“Jalan.” Kata Handono.

Selama dalam perjalanan, Handono tak pernah habis pikir bagaimana Suradi bisa mempersiapkan uang 36 Milyar dengan begitu cepat. Bahkan hitungannya termasuk kilat.
“Anak itu, tak pernah berhenti membuat aku surprise.” Keluhnya.

Seorang lelaki dengan sebuah garis bekas luka berwarna coklat, yang membentang dari pertengahan batang hidungnya dan melintang sekitar 3 cm di bawah matanya, sedang merobek-robek sebuah surat kabar bisnis dengan rasa gusar yang tak terkira.

Dia berteriak-teriak mengeluarkan caci maki, dari mulai tinja manusia hingga nama-nama binatang tertentu. Para pembantunya dan bodyguardnya, menyingkir menjauh.
“Harusnya kubunuh saja perempuan brengsek itu oleh si Gito. Tolol! Tolol! Tolol!” Makinya.

Seorang gadis belia bergaun terusan berwarna biru donker, dengan model rok lebar yang sangat mini, mendekati lelaki itu sambil membawa Handphone. Wajahnya tampak ketakutan.
“Dari Pak Jendral, Pak. Dia gak mau menunggu.”

Lelaki itu dengan bengis mengambil Handphone yang diberikan oleh gadis belia itu, lalu menjambak rambut si gadis dan menekan tengkuknya hingga dadanya telungkup di atas daun meja.
“Halo, siap Komandan.” Kata Lelaki itu. Tangan kirinya memegang Handphone dan tangan kanannya mengangkat rok gadis itu yang posisinya menungging karena menelungkup di atas meja, lalu menjambret celana dalamnya.
“Maaf, Pak Santoso mengganggu sebentar. Sedang sibukkah?”
“Sedikit.” Jawab lelaki itu sambil melepaskan kaitan ikat pinggang dan kancing celananya. Kontolnya yang kecil dan terkulai itu digosok-gosokannya ke pantat gadis itu yang putih bagai susu. Hingga menegang. Memasukkannya ke dalam liang memek gadis itu walau cuma kepalanya saja yang masuk. Menggenjotnya selama satu menit dan memecahkan pejunya di dalam memek gadis itu.
“Begini, tinggal selangkah lagi perizinannya akan segera kelar, berkasnya sudah ada di Pak Mentri. Saya mungkin harus mengundang beliau makan malam sekedar ngobrol santai, kalau bisa sih di hotel yang enak dan privasinya terjaga.”
“Oh, itu gampang. Nanti saya suruh orang untuk menghadap komandan, dia akan mempersiapkan segala sesuatunya.”
“Siap, Pak San. Terimakasih ya. Kalau bisa Pak San juga hadir.”
“Kapan, nDan?”
“Nanti malam.”
“Sayang sekali, malam ini saya akan meeting dengan staf dan direktur-direktur utama saya, nDan. Mohon maaf. Dan terimakasih.”
“Ya. Sama-sama. Mudah-mudahan usaha kita lancar ya.”
“Ya. Semoga.” Kata Santoso sambil menutup telepon dan menendang pantat gadis itu yang telanjang.

Gadis itu dengan wajah meperlihatkan ekspresi kesakitan dan ketakutan, mengumpulkan robekan surat kabar dan membereskan sejumlah perabotan yang berantakan akibat amukan bosnya itu.

Dia kemudian ke luar dari ruang kerja mewah bosnya itu dan membuang robekan surat kabar itu ke tong sampah.

Dalam surat kabar itu, tampak terpampang sebuah berita berupa laporan investigatif, hampir setengah halaman.

HALIM GROUP SELAMAT DARI SEKARAT‚Äč

Liputan Eksklusif Tim Binal

Jakarta, Bisnis Nasional.
Langkah-langkah strategis yang dilakukan Handono Halim merupakan sebuah terobosan baru dalam pengelolaan bisnis properti di Indonesia. Terlepas dari kontroversi putusan pengadilan yang menyatakan Handono bersalah atas serangkaian tuduhan penipuan kredit sebesar 5 T dan mengganjar pria berusia 61 tahun itu dengan 5 tahun kurungan penjara, namun hal tersebut bukan alasan yang tepat untuk tidak menilai bahwa Handono adalah seorang bisnisman ulung.

Sejumlah pengamat ekonomi dan bisnis memperkirakan Halim Group yang sudah 20 tahun malang melintang di bisnis properti, akan mengalami keruntuhan paska diterungkunya Handono ke dalam bui. Hal tersebut mengingat Handono tidak memiliki pewaris tahta yang mumpuni baik dari sisi leadership maupun manajerial, yaitu Winardi Halim dan Suzana Halim. Para pengamat menilai keduanya selain dianggap kurang cakap juga tidak memiliki sense of bisnis yang memadai.

Namun keputusan Handono mewariskan seluruh hartanya untuk cucu yang sedang dikandung oleh menantunya, merupakan keputusan yang kontroversial dan dianggap tidak lazim. Bahkan beberapa minggu sebelumnya, Handono telah memecat Direktur Utama Bank Halim dan menyerahkan kepemilikan bank itu kepada menantunya, Anastasia Melinda Liem. Pengamat Ekonomi Bisnis dari Universita Bandung Jaya, KangAden, mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan upaya Handono untuk menyelamatkan perusahaan dari kesalahan pengelolaan yang lebih parah.
“Saya tidak setuju dengan sejumlah pengamat bahwa Halim Group akan runtuh. Penyerahan Bank Halim kepada Melinda Liem merupakan langkah paling spektakuler, kalau tak boleh saya katakan jenius, yang dilakukan Handono untuk menyelamatkan asset propertinya di tempat lain, terutama di Denpasar dan Surabaya yang memiliki kontribusi tinggi terhadap kestabilan cash flow perusahaan.” Katanya di ruang kerjanya di kawasan Jl. Tamansari. “Justru kunci tetap kokohnya Halim Group di blantika Properti Nasional adalah dijadikannya Melinda Liem sebagai Komisaris Utama yang memiliki wewenang dan kekuasaan penuh untuk membangkitkan Halim Group yang sempat terpuruk.”

Senada dengan KangAden, pengamat Properti Dian Barra menyatakan bahwa langkah aneh Handono Halim tidak bisa dilihat melulu dari ketidaklazimannya menyerahkan tahta di luar putra dan putri mahkota, tapi justru pada cucu mahkota.
“Kita tahu, Melinda Liem pada tahun lalu dinobatkan oleh majalah FORBEST sebagai Top Young Executive of The Year. Ini artinya, Melinda bukan eksekutif kaleng-kaleng kualitas lokal. Dia memiliki kualitas dunia. Gaya kepemimpinannya dan kepiawaian manajerialnya sudah terbukti mampu mempertahankan 10 anak perusahaan Halim Group lainnya dari efek domino penyitaan dan pembekuan PT GCM dan PT PHB. Salah satu langkah Melinda yang paling krusial adalah mengintegrasikan sistem Bank Halim dan anak-anak perusahaan Halim Group. Ini merupakan pencapaian tertinggi yang hanya bisa dilakukan oleh sejumlah kecil perusahaan-perusahaan terbaik level Eropa dan Amerika.” Ujarnya.

Meskipun demikian, secara umum para pengamat merasa pesimis Melinda akan bertahan mepertahankan dan mengelola Halim Group lebih dari 5 tahun.
“Tunggu saja tanggal mainnya, begitu Handono ke luar dari bui, Melinda pasti sudah menjual semua asset Halim Group yang dipercayakan kepadanya.” Kata Almago, pengamat properti dari Universitas Tanjungpriuk, Jakarta. “Buktinya, begitu dia menduduki kursi Komisaris Utama, dia langsung menyisihkan Winardi dan Suzana. Menjadikan mereka sebagai eksekutif pasif di Dewan Pengawas.” Katanya.

Sementara itu, Komisaris Utama Halim Group yang baru, Anastasia Melinda Liem menjelaskan bahwa pemindahan kepemilikan kepada anak yang sedang dikandungnya dan penunjukkannya sebagai Komisaris Utama telah melalui proses hukum yang berkekuatan tetap serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan berbagai perubahan pegawai dan manajer yang terjadi di seluruh anak perusahaan Halim Gorup merupakan sebagai suatu keniscayaan.
“Sebagai Komisaris Utama, yang memiliki wewenang dan kekuasaan penuh serta tanggung jawab untuk memajukan Halim Group, saya berhak dan wajib menentukan orang-orang yang kompeten di seluruh anak perusahaan Halim Group sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Saya juga memilih mereka dengan persyaratan yang ketat, sesuai kebutuhan spesifik yang tidak slelalu sama untuk setiap anak perusahaan.” Jelasnya. “Ini bukan pembersihan pegawai dan manajer yang tidak loyal pada perusahaan, tapi ini merupakan peremajaan yang biasa dilakukan oleh perusahaan mana saja untuk mencapa tujuannya, baik tujuan jangka pendek, menengah mau pun tujuan jangka panjang.” Jelas Melinda di ruang kerjanya di sekitar Cisaranten, Bandung.

Sementara itu, ketika diminta komentarnya mengenai pinangan Partai Solidaritas Sosial Indonesia (PSSI) sebagai kader yang akan menduduki jabatan Kepala Bidang Organisasi dan Kaderisasi, Melinda menyatakan secara tegas bahwa pihaknya kini hanya fokus untuk mengembangkan bisnis dan sama sekali tidak tertarik terjun di bidang politik. *** (Team)

Bersambung

Daftar Part