. Suradi Adventure Part 55 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 55

0
186

Suradi Adventure Part 55

ANASTASIA MELINDA LIEM 20

Suradi menating baki berisi dua cangkir kopi, melangkah mendekati meja lalu berlutut, berdiri di atas lututnya. Mengambil satu cangkir dan meletakkannya ke arah Handono. Satu cangkir lagi diletakkan bersebrangan, agak jauh. Suradi kemudian menyimpan baki itu di bawah meja.
“Ibumu, namanya siapa, Sur?” Tanya Handono.
“Maimunah.” Jawab Suradi, sambil duduk di kursi.
“Bapakmu?”
“Sugiri.”
“Kamu lahir di?”
“Garut.”

Handono mengangguk-angguk.
“Orangtuamu masih ada?”
“Sudah meninggal.”
“Dua-duanya?”
“Dua-duanya.”
“Semasa hidupnya, ibumu kerja di mana?”
“Dia tidak kerja. Ibu rumah tangga biasa.”
“Bapakmu?”
“Bapak, kuli bangunan.”
“Kamu pernah kuliah?”
“Pernah.”
“Di mana?”
“Tehnik Sipil ITB. Cuma 3 semester. Saya memutuskan berhenti kuliah dan bekerja.”
“Jadi kuli bangunan?”
“Jadi kuli bangunan.”

Handono Halim manggut-manggut lagi.
“Saya seperti pernah melihat ibumu, entah kapan, entah di mana.” Katanya.

Suradi tertawa kering.
“Emak tidak pernah ke mana-mana. Dia di rumah, buka warung kecil-kecilan.” Kata Suradi. “Bahkan dia tidak pernah pergi ke pasar. Saya yang pergi belanja ke pasar.” Tambah Suradi.
“Begitu ya?”
“Ya. Begitulah faktanya.”
“Kamu punya saudara?”
“Papa sudah lihat foto itu kan? Rahmi dan Marni. Rahmi sekarang di Balikpapan dan Marni di Kerinci.”
“Berjauhan ya?”
“Mereka ikut suami.”

Handono terdiam. Menyesap kopinya dan menyalakan rokok baru.
“Menurutmu, Linda dalam bahaya?”

Suradi menatap lelaki tua itu. Kemudian mengangguk.

“Santoso?”

Suradi mengangguk lagi.
“Itu mudah diduga.” Kata Handono. “Saya akan dipenjara oleh sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. PT GCM dan PT PHB lalu jatuh ke tangan dia, anak perusahaan lain akan dikelola oleh dua anak saya yang tidak becus. Lalu satu demi satu, akan berguguran ke tangan Santoso. Begitulah skenarionya.”
“Melinda Liem harus out.” Kata Suradi.
“Walaupun Linda memiliki perusahaan sendiri, tetapi dia akan memiliki daya ekspansi yang tinggi.” Kata Handono. “Apakah kamu pernah ke ruang kerjanya?”
“Dia direktur utama, saya direktur operasional, saya bolak balik ke ruang kerjanya.” Kata Suradi.

Tiba-tiba saja Handono Halim tertawa terbahak-bahak. Suradi ikut tersenyum-senyum.

“Saya bingung. Siapa di sini yang jenius, kamu atau dia?” Kata Handono sambil terus tertawa. “Tetapi bukan itu maksud saya, kamu sudah lihat target-target operasinya?”
“Ya.”
“Gila, dia bisa merencanakan semuanya dengan terperinci. Papa yakin, dalam 5 tahun dia sudah bisa menguasai setengah proyek pusat dan daerah. Dia jenius.”
“Sangat cocok menjadi pengganti Papa bila Papa dipenjara.”
“Ya. Tepat. Persis benar pikiran kita.” Kata Handono. “Saya akan secepatnya pergi ke Pengacara dan melegalkan kepemilikan Halim Group atas nama Melinda. Jadi dia nanti yang akan menanggung semua kerugian yang dituduhkan kepada saya itu.”
“Dia akan mempertahankan Halim Group dengan kejeniusannya.” Kata Suradi. “Karena itu Linda harus out. Tetapi Papa lupa satu hal.” Kata Suradi, wajahnya bersinar gembira.
“Tidak, Papa tidak melewatkan apa pun.”
“Papa lupa satu hal.”
“Tidak.”
“Bank Halim.” Kata Suradi.
“Itu akan ikut tenggelam.”
“Kebijakan properti dengan kebijakan bank itu beda, Pa. Melinda tahu persis itu. Sebagai langkah awal, serahkan Bank Halim kepadanya. Dia pasti mau.”

Handono Halim mengerutkan keningnya yang penuh kerutan.
“Maksudmu… apakah sama seperti yang aku pikirkan?”

Suradi tersenyum.
“Dia akan memasuki dan mengintegrasikan sistem, lalu mengontrol cash flow Halim Group di seluruh anak perusahaannya.”
“Bagaimana kamu yakin dia mau menerimanya?”
“Dia pasti mau. Soalnya dia menyimpan uang perusahaan di Bank Halim. Ya, dia pasti akan mengintegrasikan sistem bank dan sistem keuangan perusahaan.”

Handono Halim manggut-manggut.

“Seandainya kamu adalah anak laki-lakiku, maka aku adalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini.” Kata Handono dalam hatinya.

Bi Ijah memecah keasyikan dua orang lelaki yang sedang berbincang seru itu.
“Panekuk, Den. Bikininan Bibi.” Kata Bi Ijah sambil meletakkan piring lodor berbentuk elips di atas daun meja.
“Bi, kopinya tambah.” Kata Suradi sambil mengambil baki di bawah meja dan menyerahkannya kepada Bi Ijah.
“Saya juga, kopinya nambah.”
“Papa udah berapa cangkir? Jangan terlalu banyak.”
“Bukan urusanmu.” Kata Handono Halim dengan nada riang. Dia mencomot pan cake itu dan menyuapkannya ke dalam mulutnya. “Hm, enak.”
“Memang.” Kata Suradi. Dia ikut mencomot pan cake itu dan melahapnya.
“Setelah sistem terintegrasikan… itu cuma baru selang air. Untuk mengalirkan air dari bak satu ke baik lainnya perlu air lagi sebagai pemancingnya, harus ada uang cash yang disetor tanpa sepengetahuan manajemen di tiap anak perusahaan, agar semuanya terpancing mengalir masuk ke dalam sistem. Ada 12 anak perusahaan, jika tiap anak perusahaan menyetor uang 3 milyar, berarti kita membutuhkan dana cash sebesar 36 Milyar. Cukup besar.” Kata Handono. “Saat ini Papa tidak tahu harus mencari ke mana.” Katanya dengan termangu.
“Anggap saja uang itu sudah ada.” Kata Suradi, senyumnya simpatik.
“Kau tak punya uang cash sebanyak itu.” Kata Handono dengan nada sinis.
“Anggap saja uang itu sudah ada. Siapa orang yang akan menyetorkannya?” Tanya Suradi, serius.
“Jika uang itu sudah ada, berarti harus ada meeting tertutup yang sangat rahasia. Melinda harus ikut.” Kata Handono.
“Tetapi saat ini dia belum boleh ke luar dari Kiarapayung. Belum aman.”
“Apa imbalannya?” Tanya Handono. “Katakan sekarang imbalannya apa, agar saya bisa memikirkan tawaranmu.”
“Tidak. Saya tidak minta imbalan.”
“Taik kucing!” Teriak Handono. “Kamu pembohong.”
“Coba katakan Pa, Santoso itu apanya Papa?”

Handono Halim terdiam. Dia membisu beberapa saat lamanya.
“Dia tidak bermarga Halim, kan?”
“Tidak, dia tidak bermarga Halim. Kami bersahabat sejak kecil, lalu kami mengangkat sumpah sebagai saudara.”
“Papa tidak berpikir dia akan berhianat, kan?”
“Tidak, tentu saja.”
“Lalu yang menjadi otak di balik sandiwara kredit 5 triliun itu siapa? Winardi? Suzie?” Kata Suradi dengan nada seperti mengejek. “Papa jangan membodohi diri Papa sendiri.”

Ada yang demikian nyelekit di hati Handono ketika lelaki muda itu memanggilnya “Papa” walau jelas-jelas sebetulnya lelaki muda itu hanya ikut-ikutan Linda saja, tetapi rasanya ada sebuah jurang yang begitu lebar dan dalam, yang memisahkan dirinya dengan lelaki muda itu. Tetapi juga Handono mustahil menafikan betapa senangnya dia dipanggil Papa oleh lelaki muda itu.

Entah bagaimana, rasa sayang seorang ayah kepada anak, tiba-tiba datang begitu saja bergumpalan di dalam dadanya.
“Kamu punya urusan apa dengan Santoso?”

Suradi tidak menjawab.
“Anggap saja uang itu sebagai modal anak saya untuk memiliki saham Halim Group.” Kata Suradi.
“Kamu punya urusan apa dengan Santoso?” Handono Halim mengulang pertanyaannya.
“Anak saya, yang akan Papa akui sebagai cucu.” Suradi berkata dengan nada datar, seakan tidak peduli dengan pertanyaan Handono, salah satu orang terkaya di Indonesia itu.

Tubuh Handono gemetaran.

“Saya juga titip Lin lin. Saya mencintainya lebih dari hidup saya sendiri.” Kata Suradi.
“Ka… kamu tidak akan berbuat bodoh, kan, Sur? Kamu tidak setolol itu kan?”

Suradi tidak menjawab. Dia menyalakan kreteknya dan mengucapkan terimakasih kepada Bi Ijah yang mengantarkan cangkir kopi ke duanya sore itu.

“Dengarkan, Sur. Dia orang kuat. Kau tak bisa menyentuhnya. Kamu jangan bunuh diri.”
“Bukan urusanmu, Pa.” Kata Suradi dengan senyum sinis. Dia menyemburkan asap nikotin yang dihisapnya ke arah lembayung senja yang sangat indah.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler