. Suradi Adventure Part 54 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 54

0
201

Suradi Adventure Part 54

ANASTASIA MELINDA LIEM 19

Handono menarik nafas berat melihat bagaimana kemesraan yang ditunjukkan oleh Melinda kepada lelaki ganteng yang kharismatik itu. Dia tak mungkin menyalahkan Melinda. Dia sudah mempelajari rekaman CCTV yang ditunjukkan Melinda tentang bagaimana kelakuan anaknya, Winardi.

Kesalahan terbesar yang dilakukan Winardi kepada Handono bukan karena Winardi adalah seorang homo. Tapi karena Winardi bodoh. Otaknya terlalu kecil untuk menjalankan roda perusahaan yang dia bangun dari nol.

Winardi juga membohonginya berkali-kali.

Sedangkan Suzana sangat lemah. Perasaannya mudah goyah dan tidak memiliki kemampuan leader yang kuat.

“Anak yang dikandung Linda harus bermarga Halim.” Bisik Handono dalam hatinya. “Lelaki itu tidak boleh mengklaim sebagai anaknya.”

Handono memperhatikan foto keluarga Suradi dan menatap perempuan setengah baya di foto itu. Handono sepertinya pernah melihat perempuan itu. Tapi di mana? Kapan?

“Kaka, pake kaos ini.” Kata Melinda ketika Suradi ke luar dari kamar mandi hanya dengan berhanduk. Dia memeluk leher lelaki itu dan mencium pipinya. “Mmm, wangi.”

Handono menatap tajam Melinda. Bagaimana pun, Melinda masih resmi sebagai menantunya.

“Maaf, Papa.”
“Oh, sudahlah.” Kata Handono dengan nada gemetar. Wajahnya sekilas terlihat kelam tapi kemudian kembali lagi seperti sedia kala.

Melinda kemudian mengikuti Suradi ke dalam kamar. Menutup pintunya dengan rapat dan menciumi Suradi di bibir seakan tanpa bosan.
“Lima menit aja ya, Kak.” Kata Melinda. “Kangen banget, ininya pengen dilongokin.” Melinda melepaskan kancing celana panjangnya dan memelorotkan celana dalamnya. Sementara, Handuk Suradi yang melilit lemah itu sekali tarik saja sudah lepas.

Handono mendekati pintu dan mengintip dari lubang kunci, Melinda berdiri mengangkang dengan kedua ujung jari kaki berjinjit sementara Suradi menekuk lututnya agak dalam. Mengarahkan dengan tepat kepala kontolnya ke dalam liang memek Melinda yang sudah menganga minta disumbat.

Mereka ngentot sambil berdiri.

Handono melihat bagaimana batang kontol itu masuk dan ke luar dengan irama yang stabil, memberikan kenikmatan kepada sang pemilik memek yang merengek-rengek minta terus digenjot.
“Terus kaka… terussss.”

Kedua tangan Melinda menggantung di leher lelaki itu sedangkan kedua tangan Suradi meraih pinggul Melinda.

“Terussss…. terussss… sedikit lagi Kaka… sedikit lagi…. akhhh….”

Crot crot crot… Handono melihat Melinda mengeluarkan lendir kenikmatannya.

Handono cepat-cepat pergi ke teras depan, menyalakan rokok kreteknya. Dia menyangka Suradi dan Melinda akan segera selesai. Tapi Handono keliru, setelah batang rokok ke dua hampir habis setengahnya, barulah mereka berdua ke luar.

Wajah Melinda tampak berseri-seri. Bahkan Melinda sempat bersenandung sebuah lagu barat yang juga disukai oleh Handono, sebuah lagu dari LeAnn Rimes, penyanyi bergenre pop contry dari AS.

How do I… get through one night without you
If I had to live without you
What kinda life would that be
Oh I… need you in my arms, need you to hold
You are my world, my heart, my soul…
….

Handono sekarang tahu, Melinda bahagia berada di samping lelaki itu.
“Demi kebaikan perusahaan, aku harus memisahkan mereka.” Bisik Handono dalam hatinya.

Mereka makan siang bersama. Daging kambing muda tanah merah itu sangat spesial. Handono tampak sangat lahap menikmatinya.

“Ini siapa yang memasaknya? Aku seharusnya membuka restoran dengan menu daging kambing ini sebagai jagoannya.”
“Usep, Papa.” Jawab Suradi. “Dia menggunakan tehnik khusus dalam memasaknya. Menggunakan tanah merah.”
“Sungguh? Bagaimana caranya?”
“Pertama, Usep akan memilih tanah merah yang gembur dan bersih. Lalu memberinya garam. Setelah itu dia membuat adonan tanah merah dan diratakan di atas plastik, menaburinya dengan berbagai dedaunan yang cuma dia aja yang tahu daun apa aja. Lalu kambing muda yang isi perutnya sudah diisi dengan rempah-rempah seperti kemangi kuning jahe dan lain-lain, disimpan di atas hamparan tanah merah itu. Lalu hamparan tanah merah itu dilipat untuk membungkus seluruh permukaan kambing, hingga daging kambing terbungkus seperti kepompong. Setelah itu baru dibakar dengan menggunakan kayu bakar.”
“Koq, Kaka tahu?” Tanya Melinda.
“Kaka pernah membikinnya bersama Usep, dulu sekali, waktu pertama kali pindah ke sini.”
“Ini lezat sekali.” Kata Handono. “Lembut, gurih, harum… lezatnya ekstrim.”
“Kaka sebenarnya ke mana aja sih, empat hari enggak pulang. Enggak nelpon-nelpon lagi.” Kata Melinda dengan menggerutu.
“Kan HPnya rusak diinjak-injak orang.” Kata Suradi. “Baru tadi kaka membeli lagi HP baru di Ujungberung.”
“Koq bisa orang menginjak-injak HPmu, Sur. Kamu pasti menghajarnya ya kan?” Kata Handono dengan wajah polos.

Seketika wajah Melinda menjadi cemberut.

“Saya tidak menghajarnya, Pa.” Kata Suradi. “Tapi saya pergi menjauhinya.”
“Pasti orang itu sangat kejam dan berbahaya. Kalau Papa lihat tadi gerakanmu menjatuhkan si Dade dan si Tedi, kamu bukan orang yang lemah. Tentu orang yang menginjak-injak HPmu adalah orang yang ingin membunuhmu dan kau lari menyelamatkan diri, begitu kan?”
“Entahlah. Mungkin saja dia akan membunuh saya, Papa.” Kata Suradi sambil mengerling ke arah Melinda.
“Udah udah, ngapain juga ngurusin HP yang udah jelek.” Kata Melinda. “Papa, sikap Linda tegas. Linda tidak akan kembali ke Halim Group.”

Handono tersenyum. Tiba-tiba saja dia memahami apa yang terjadi dengan HP Suradi.

Handono tahu Melinda takkan mudah digoyahkan. Dia adalah top eksekutif terbaik saat ini, karena itu dia terus mencoba merayu Melinda.
“Nanti Papa kasih PT GCM buat kamu.” Kata Handono, tenang.
“Linda sudah punya perusahaan sendiri, Pa. Enggak perlu perusahaan lain. Linda akan bangun perusahaan ini menjadi perusahaan terbaik se Indonesia bahkan Asia Tenggara lalu seDunia.”
“Itu akan membutuhkan waktu 30 tahun lebih, Linda.”
“Siapa yang peduli soal waktu, Papa. Selama kita merasa bahagia menjalani waktu yang berlalu, siapa yang peduli?”
“Kakak peduli.” Kata Suradi.
“Kakak diam jangan ikut campur. Ini urusan Linda dan Papa.”
“Oke, oke. Sebaiknya Kakak pergi ke belakang aja.”
“Tidak perlu.” Kata Handono. “Di sini saja, Sur. Enggak apa-apa koq. Bagaimana kalau Papa tawarkan setengah Halim Group buat kamu?”

Melinda diam, dia memonyongkan mulutnya.
“Enggak. Linda enggak akan kembali.”

Sepasang mata Handono yang mulai memudar itu tampak nanar. Dia menatap Melinda dengan tatapan lembut.
“Kalau begitu, Papa kasih Halim Group semuanya buat kamu. Dari Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Palangkaraya, Makasar, Menado dan Raja Ampat, semuanya buat kamu. Total aset semuanya 12 Triliun.”

Melinda tiba-tiba tertawa. Tetapi ekpresi wajahnya jelas sekali bimbang.

“Papa tidak mungkin menyerahkan nyawa Papa kepada orang lain tanpa syarat yang sangat berat.” Kata Melinda.
“Kamu mau tidak?”
“Tawaran yang sangat menggoda, Papa. Semua orang pasti tergiur. Apa syaratnya?”

Handono tersenyum penuh arti. Dia diam sejenak.
“Kamu tidak boleh bercerai. Dan anak dalam perutmu adalah cucuku.” Kata Handono. Wajahnya tampak serius.

Melinda meneguk jus jeruknya dengan pelahan. Lalu dia menatap Handono sambil tersenyum.
“Maaf, Papa. Linda tidak tertarik.” Berkata demikian Melinda berdiri dari duduknya, dia lalu menarik tangan Suradi dengan memaksa. Suradi menahan tangannya dan menolak tarikan tangan itu.
“Ayo Kakak kita ke kamar.”
“Kakak mau bicara dulu dengan Papa Handono.” Kata Suradi.
“Tidak. Tidak perlu. Semua sudah selesai.”
“Tunggu sebentar saja, lima menit.”
“Tidak.” Kata Melinda. “Ini perut Lin lin mules Kakak, tolong… pengen dibelai-belai.”
“Sebentar saja.” Kata Suradi.
“Tidak. Pokoknya tidak.”

Suradi akhirnya mengalah. Dia mengikuti Melinda masuk ke dalam kamar.
“Lihat ini perutnya udah nyendul gini, Kakak lihat enggak?”
“I ya, Kakak juga lihat.”
“Lin lin lagi hamil Kakak… ini, di dalamnya anak kita.” Kata Linda sambil membuka bajunya. “Ciumin.” Kata Linda sambil menunjuk puting payu daranya.
“Tadi kan sudah sayang.”
“Tadi kan cuma memeknya, sekarang nenennya. Cium!”

Suradi mencium payudara yang masih kenyal itu. Cup!
“Bukan gitu iiihhhh… yang pake dijilat dan disedot… yang biasa Kakak.”
“Entar kalau udah dijilatin nenennya terus minta juga disodok memeknya.”
“Memang.” Kata Melinda dengan senyum menyeringai.
“Kan baru dua jam lalu sayang, masa pengen lagi?”
“Pengen lagi. Gatel. Lihat nih lihat itilnya merem melek.” Kata Melinda sambil melepaskan celana panjang dan celana dalamnya.

Suradi mencium kening Melinda dengan mesra.
“Ya udah, geseran ke sebelah sana.” Kata Suradi sambil melepaskan seluruh pakaiannya.
“Hi hi hi… asikkk.” Kata Melinda dengan kegirangan.

Melinda memejamkan mata keika Suradi menciumi seluruh tubuhnya. Tapi sensasi ciuman itu hilang entah ke mana. Suradi dengan cermat memperhatikan seluruh bahasa tubuh Melinda.

Suradi tiba-tiba menghentikan semua ciumannya. Dia lalu duduk di bibir ranjang.

“Kamu enggak bisa menikmatinya, sayang.” Kata Suradi. “Tawaran itu sangat menggoda, sehingga kamu tidak bisa berhenti memikirkannya.”
“Kaka…” Melinda bangkit dari rebahnya dan memeluk Suradi dari belakang. “Lin lin bahagia bisa berada di samping Kaka.”
“Ya, kaka tahu. Tapi itu bukan berarti rasa hausmu akan tantangan mengelola perusahaan besar bisa terpuaskan.”
“Lin lin bisa melupakannya.”
“Tidak. Kamu tidak akan bisa melupakannya.” Kata Suradi. “Halim Group adalah cinta pertamamu pada bisnis. Kamu mustahil melupakannya.”
“Halim group dalam keadaan sekarat.” Kata Melinda.
“Oleh sebab itulah kamu takkan sanggup melupakannya. Kamu akan memperjuangkan Halim Group hingga bangkit kembali.”
“Lin lin tak mau berpisah dengan Kaka.”
“Duniamu bukan di perusahaan kecil, sayang. Butuh 30 tahun lebih untuk membesarkan perusahaan kita. Kamu nanti menyesal menolak tawaran Papa Handono.”
“Lin lin pengen jadi Komisaris Utama Halim Group, tapi juga Lin lin pengen Kaka berada di samping Lin lin selamanya.”
“Tidak. Kamu harus memilih salah satu.”
“Lin lin memilih Kaka. Tadi sudah diputuskan.”
“Ya. Tapi itu keputusan seorang perempuan. Bukan keputusan seorang Top Eksekutif.”
“Kaka…”
“Sayang, dengarlah. Biarkan Kaka berbicara dulu dengan Papa Handono.”
“Enggak.” Kata Melinda sambil menciumi telinga Suradi.
“Lin lin…”

Melinda menarik leher Suradi dan menjatuhkannya hingga rebah di ranjang. Dia bangkit dan kakinya yang putih panjang itu melangkah turun ke lantai. Kedua tangan Melinda menekan ke dua paha Suradi dan mulutnya kemudian menyorong ke arah batang kemaluan Suradi yang masih terkulai. Dia mengemutnya pelahan dan lembut. Mengocoknya dengan mulut hingga batang itu menegang.

Begitu tegang, Linda langsung menaikinya. Membenamkannya ke dalam liang memeknya hingga menancap. Menekannya pelahan agar masuk amblas seluruhnya. Setelah itu barulah Melinda menghelanya dengan genjotan-genjotan yang berirama.

Suradi menatap Melinda dengan trenyuh. Wajah dan ekspresinya tampak sangat memilukan. Matanya terpejam dan pikirannya mencoba fokus pada sensasi yang berpusat pada syaraf-syaraf di dalam dinding-dinding vaginanya.

15 menit Melinda menggenjot tanpa membuahkan hasil. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat tapi dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Kakak aja yang ke luar.” Katanya dengan nada kecewa.
“Sekarang?”
“I ya. Cepet.”
“Tunggu… mhhh… eughkh… sudah.”
“Sudah?”
“Sudah.”

Melinda turun dari tubuh Suradi. Dia berdiri di lantai dan menundukkan kepala untuk melihat Memeknya.
“Pejuh kakak sedikit.”
“Ya. Habis enggak enak sih.”
“Lin lin juga sama. Enaknya cuma dikit. Tapi lumayanlah.”
“Lumayan?”

Lin lin tertawa menyeringai.
“Ya, lumayan. Stressnya hilang sedikit.” Kata Melinda. “Hadeuh, capek juga.” Melinda kemudian berbaring di sisi Suradi.
“Tawaran Papa kepikiran terus.” Kata Melinda.
“Siapa pun pasti tergoda.”
“Tapi Lin lin enggak mau pisah sama kaka.”
“Itu enggak mungkin. Yang berada di dalam perutmu ini siapa? Kaka kan?”

Melinda tiba-tiba terkikik.
“Jadi inget waktu pertama kali kita di losmen itu.” Katanya dengan tatapan mata menerawang ke langit-langit. “Rasanya enaaaaak banget.” Kata Linda. Dia mengusap-usap perutnya yang sudah sedikit menyendul. “Kamu dibikinnya di losmen, sayang.”
“Losmen?” Tanya Suradi. Pura-pura heran. “Kamu punya puluhan hotel bintang 4 dan 5, ngapain juga tidur di losmen.”
“Kaka! Masa lupa? Sebulan kemaren, waktu kita pertama kali bertemu!”
“Kamu yang lupa.” Kata Suradi. “Kita pertama kali bertemu di Singkawang, ingat?”
“Maksud Lin lin bukan itu…”
“Maksud kamu apa sih, Kaka enggak ngerti.”
“Iiiiihhh… enggak mau.” Katanya. “Kaka jahat. Masa lupa?”
“Entar dulu, kaka nginget-nginget dulu… mmmm… apa ya?”
“Kaka jahat. Jahat. Jahat.” Kata Linda sambil memukuli dada Suradi.
“Lupa.Lupa.Lupa.” Jawab Suradi sambil memeluk Melinda.

Mereka bergulingan di kasur, yang satu memukul-mukul yang satu lagi menghindar dengan cara memeluk. Tiba-tiba Melinda sedikit tersentak kaget.
“Eh… Kaka, koq masuk? Enak lagi.” Kata Melinda ketika berada di atas tubuh Suradi.
“Genjot aja.”
“Oke. Ugh! Ugh! Ugh!”
“Enak kan?”

Melinda nyengir.

“Diam, kakak jangan turut campur. Ini urusanku ahk…ahk… diam!” Kata Melinda. Kedua tangannya menahan lengan Suradi yang terkapar di atas kasur.
“Ihk! Ihk! Ihk! Ihhhhkkkk….. adduuuhh… dikit lagi… akhhh… horeeee… keluarrrrrrhhh… ahhhh… ha ha ha… akhirnya enak juga.”
“Gantian… cepet genjot lagi… nah… nah… ahhhh…. tahann dikit lagi…. akhhh… tahaaaaannn!”

Srrrrrrr…. crot. Crot.

“Hadeuuuh, yang ini enak.” Kata Melinda sambil melepaskan diri dari tubuh Suradi. “Wuih, pejuhnya banyak.”
“Enak sih.”
“Kenapa tadi enggak enak ya?”
“Soalnya pikiran kamu enggak konsen. Makanya Kaka godain.”
“Hi hi hi… Udah ah. Tiduran bentar.”
“Tidur beneran aja.” Kata Suradi sambil memeluk Melinda dari arah belakang.
“Mmhhh… enak. Badan kaka anget.”

Beberapa menit kemudian, Melinda pun mendengkur halus.
Zzzzzzzzzzz

Pelahan dan hati-hati Suradi bangkit dari tempat tidur. Dia mengenakan pakaiannya dan pergi ke luar kamar. Suradi melihat Handono sedang duduk menekur di teras samping. Berteman kretek dan kopi hitam.
“Dari sini, sore yang cerah bisa dinikmati.” Kata Suradi sambil duduk di kursi di sebrang meja kecil itu. Handono menoleh.
“Ya. Pantes kamu betah di sini. Tempatnya adem. Sayang kekecilan, jadi Papa enggak bisa ikut nginep.”
“Papa bisa nginep di kamar, kita mengalah.”

Handono tertawa kering.
“Sekarang harapan Papa satu-satunya cuma Linda.” Katanya. “Jika PT GCM dan PT PHB jatuh, yang lain mungkin akan ikut jatuh.” Handono berkata seperti kepada dirinya sendiri.
“Efek domnio, ya Pa?”
“Ya. Mereka akan ketakutan dan kinerja manajemen akan runtuh. Winardi dan Suzie takkan sanggup menanggulanginya. Harus ada leader yang kuat. Pemimpin yang keras dan tangguh.”
“Melinda harus kembali ke Halim Group.” Kata Suradi. Suaranya datar dan tenang seperti biasa, tanpa emosi.
“Saya sudah dengar semuanya dari Mei Yin mengenai kamu dan Linda.”
“Maksud Papa, dari Mami?”
“Ya. Maminya Linda, siapa lagi?”

Suradi tersenyum kering.
“Kirain namanya Mei mei. Soalnya Linda sering dipanggil Lin lin.”
“Mey Yin itu artinya sangat indah.” Katanya. “Kamu sangat mencintainya ya?”

Sepasang mata Suradi gemerlap oleh suatu kilatan aneh.

“Kalau Papa menyerahkan Halim Group itu artinya Papa melemparkan Lin lin ke lautan api yang membara.”
“Tidak, kalau GCM dan PHB sudah jatuh.”
“Jatuh ke tangan siapa, Pa?”

Handono mendengus. Sepasang matanya berubah menjadi satu garis.
“Papa yakin kamu sudah tahu.”

Suradi menarik nafas panjang. Lelaki tua itu sepertinya biasa saja, tapi dia memiliki ketajaman berpikir seperti silet.
“Melulu dari kamu melarikan Linda ke sini, memberinya perangkat internet satelit dan mencegah komunikasi hanya melalui lelaki tua itu, siapa namanya?”
“Pak Tono.”
“Saya sudah menduga kamu pasti paham secara mendalam persoalan ini.” Handono menggerakkkan kursinya menghadap ke arah Suradi. Dia menatap tajam Suradi dengan sepasang mata segarisnya. “Kamu engga berani berhadapan mata denganku.” Katanya. Tajam dan serius.
“Lembayung sore sangat indah.” Jawab Suradi. Nadanya tetap tenang dan datar. “Santoso itu sebenarnya siapanya Papa?”
“Kalau bicara lihat ke sini.”
“Saya akan meminta Bi Ijah membuatkan kopi.” Kata Suradi. “Papa mau nambah?”

Tiba-tiba Handono berdiri. Wajahnya memerah.
“Bangsat!” Makinya. Dia mendekati Suradi dan menarik leher bajunya. “Kamu punya rencana apa ha? Ngomong!” Katanya sambil satu tangannya menggampar pipi Suradi.

Plak!!!

Sebuah tamparan menyusul sekali lagi. Plak!!!

“Kamu punya rencana apa, ha? Rencana apa?” Suara Handono terdengar keras dan gemetar. Tubuh tuanya tak sanggup menahan ledakan emosi di dalam dirinya. Kedua orang bodyguardnya, Dade dan Tedi mendekat. Tapi Handono dengan isyarat tangan mengusir mereka.

Suradi membiarkan orangtua itu menampari pipinya. Dia tidak melawan.

Handono kembali duduk, tubuhnya masih gemetar. Jemarinya bergetaran ketika mengambil batang ke 9 kreteknya hari itu. Dia menyalakan korek api dan membakar ujung kreteknya itu.
“Papa mau nambah kopinya, enggak?” Suradi berkata datar, sama sekali tidak terlihat emosi.
“Nambah. Yang kental.” Suara Handono masih gemetar.
“Tanpa Gula?”
“Tanpa gula.”
“Kopi tanpa gula bagus buat Papa.” Kata Suradi sambil pergi ke dapur dan memanggil Bi Ijah.

Handono mengisap kreteknya dalam-dalam.

Dia merasa heran dengan dirinya sendiri. Anak muda itu demikian memikat dan dia merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Dia seperti merasa memiliki seorang anak lelaki yang sesungguhnya. Seorang anak lelaki yang bisa diandalkannya, meneruskan bisnisnya dan menancapkan panji-panji kejayaan atas nama marga Halim. Membuat nenek moyangnya di alam baka sana tersenyum senang dan bangga.

“Tapi dia bukan anakku.” Bisiknya dalam hati. “Tapi anaknya yang ada dalam perut Linda harus jadi cucuku. Harus. Linda harus kembali.”

Bersambung

Daftar Part