. Suradi Adventure Part 53 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 53

0
191

Suradi Adventure Part 53

ANASTASIA MELINDA LIEM 18

Sepanjang 4 jam pelajaran itu, Shanti tidak bisa konsentrasi. Dia tidak menyesali apa pun tapi dia entah bagaimana, merasakan suatu kehilangan yang sangat aneh. Dia merasa dirinya menjadi kosong. Meskipun begitu, dia tersenyum bila mengingat peristiwa semalam.

Ketika Bel istirahat pertama berdering, Guru Piket memanggilnya. Shanti merasa was-was.
“I ya, Bu. Ada apa?”
“Enggak ada apa-apa. Ini, ibu cuma mau memberikan sebuah titipan dari… mm, dari Pak Suradi.” Guru piket itu kemudian memberikan sebuah amplop kabinet berwarna coklat.

Shanti merasa aneh dan penasaran. Amplop kabinet itu ukurannya kira-kira sebesar ukuran kertas A4. Shanti cepat pergi ke dalam kelas yang kosong karena teman-temannya sedang pergi beristirahat dan tak ada seorang pun yang tinggal di kelas.

Di bangkunya dia membuka amplop itu. Airmatanya menetes. Kebahagiaan itu menyelimuti seluruh jiwanya. Tapi bukan karena di dalam amplop itu ada kwitansi yang menyebutkan semua biaya sekolah telah lunas dan uang 5 gepok 10 jutaan. Bukan. Bukan karena itu. Tapi karena sebuah catatan kecil, yang berbunyi:

Om juga sayang.
Gunakan uang ini dengan bijak.
Jaga dirimu baik-baik.
Suatu hari nanti, kita mungkin akan bertemu lagi.

Peluk Cium,
Suradi.

Shanti memeluk amplop itu sampai jam istirahat usai.

Ke luar dari Tol Buahbatu Bandung, jam menunjukkan pukul setengah sebelas siang.

Suradi melajukan kendaraannya ke jalan by pass lalu berbelok memasuki jalan pintas yang tembus menuju Arcamanik. Dia menuju Lapas Sukamiskin.

Setelah melewati semua pos penjagaan dan berbagai pemeriksaan yang sangat detil, akhirnya Suradi tiba di ruangan itu. Ruangan jenguk khusus untuk terpidana mati.

Komar tampak pucat. Sorot matanya redup.
“Putusan pengadilan sudah ke luar?”

Dia mengangguk.

“Bagaimana?” Tanya Suradi. Dia memperhatikan Komar dengan teliti. Tubuhnya mulai menciut beberapa kilogram. “Kau tampak kurus.” Kata Suradi, suaranya datar.

Komar terdiam. Wajah piasnya memancarkan dendam yang membara.
“Aku telah ditinggalkan, Sur.” Katanya. “Semua orang yang kubela mati-matian meninggalkanku.”
“Tapi aku kembali lagi.”
“Untuk apa? Untuk melihat aku tergeletak dan menjadi saksi hukuman mati? Aku tahu, aku bukan temanmu yang baik. Aku tahu aku yang meninggalkanmu. Aku juga tahu aku telah menghianatimu berkali-kali. Aku tahu kau akan membalas dendam. Aku tahu, Sur.” Katanya.

Suradi diam selama beberapa saat dan hanya memandangi lelaki yang putus asa itu dengan tatapan ambigu.

“Tapi aku tetap temanmu.” Kata Suradi.
“Ya. Kau memang temanku satu-satunya di dunia ini.” Kata Komar. “Aku bisa mengerti kau menolak menolongku, aku sudah sangat brengsek kepadamu. Kau berhak menghukum aku.”
“Jadi putusan pengadilannya?”
“Hukuman mati.” Komar menjawab dengan suara gemetar.

Suradi menarik nafas panjang.
“Kapan eksekusinya?”
Sepasang mata Komar yang redup menatap Suradi dengan tajam.
“Tiga atau empat bulan lagi.”
“Pengacaranya masih Borman Saragih?”
“Masih.”
“Kau pernah berpikir untuk kabur dari penjara dan menjadi manusia baru?”

Komar menatap Suradi lama sekali. Mulutnya menganga.
“Pernah?” Tanya Suradi.

Komar menggelengkan kepalanya.
“Mar, aku tak pernah dendam kepadamu. Kamu pernah menjadi sahabat terbaikku.” Kata Suradi, suaranya tenang dan dalam. “Tunggulah. Aku akan mengusahakan semampuku. Sekarang, aku permisi.”

Komar terdiam.

Ketika Suradi berdiri dan melangkah ke pintu, Komar ambruk ke lantai dengan posisi tubuh seperti menyembah.
“Maafkan aku, Sur. Terimakasih atas semua kebaikan yang tak pernah sanggup aku balas.” Katanya.

Tetapi Suradi tak bisa mendengarkan karena dia sudah berada di balik pintu dan melangkah jauh di kawal oleh seorang penjaga.

Suradi melajukan mobilnya ke luar dari Lapas, menyusuri jalanan yang agak lengang lalu berhenti di sebuah gerai Handphone yang terletak tidak jauh dari pasar Ujungberung. Dia membeli sebuah Handphone terbaru yang kualitasnya cukup baik berserta nomor perdana. Dia kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kiarapayung di mana rumahnya berada dan Lin lin yang sedang hamil menunggu.

Ada yang sangat janggal ketika Suradi memasuki halaman rumahnya. Pintu gerbang terbuka dan dia tidak melihat Pak Tono atau Usep.
“Ke mana mereka?” Bisik Suradi. Hatinya was-was. Dia memarkir kendaraannya dekat pohon mangga dan ke luar dari mobil dengan waspada.

Di halaman samping, tampak sebuah sedan camry yang mewah tengah terparkir. Dua orang lelaki tinggi dan gagah, memakai setelan jas lengkap, dengan sigap berdiri dari duduknya di kursi teras depan. Mereka mendekati Suradi. Wajah mereka sama sekali tidak bersahabat.

Dengan cermat Suradi memperhatikan ke dua orang itu.
“Mungkin mereka membawa pistol di balik rompi jasnya.” Kata Suradi dalam hati. Tiba-tiba saja pikiran Suradi merasa ketakutan ada sesuatu hal yang buruk menimpa Lin Lin, Pak Tono dan Usep. Mungkin juga menimpa Bi Ijah, pembantu setianya.

Hati lelaki itu sedikit kalut.

“Heh, mau apa kemari?” Kata Lelaki berambut cepak itu dengan wajah beringas. Sementara lelaki yang satu lagi, memakai kacamata hitam dan rambut agak panjang, bertolak pinggang dengan senyum sinis.

“Aku harus melakukan sesuatu.” Bisik Suradi dalam hatinya.

Suradi melangkah mendekati lelaki cepak itu dengan kepala agak menunduk, pura-pura menghormat, padahal itu adalah gerak langkah tipuan. Dia justru bergerak dengan sangat cepat mendekati lelaki berkacamata hitam yang sedang bertolak pinggang itu. Mata Suradi yang tajam sekilas melihat gagang pistol menyembul dari balik jasnya ketika dia bertolak pinggang itu. Suradi langsung meraih gagang pistol itu dan mencabut dari sarungnya dengan paksa. Sambil memutar tubuhnya 180 derajat, Suradi menyarangkan ujung sikutnya pada rahang lelaki berkacamata itu.

Lelaki itu terjengkang dan pistolnya sudah berhasil direbut. Dalam hitungan sepersekian detik, pistol yang sudah berhasil direbut itu dilemparkan dan secara telak mengenai wajah lelaki berkepala cepak itu.

Pistol itu terpental oleh pantulan wajah lelaki itu dan Suradi segera menangkapnya. Dia lalu membuka pengunci pistol otomatis itu, mengokangnya dan menodongkan pistol itu ke arah lelaki berkepala cepak yang hidungnya mengucurkan darah.

“Aku yang harus bertanya, kalian siapa?” Kata Suradi. Nada suaranya geram. Kedua orang lelaki itu saling berpandangan.
“Cepat jawab atau…”

Suara tepuk tangan pelahan terdengar dari teras.
“Gerakan bagus.” Kata Lelaki itu. Dia seorang lelaki tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya. Sejumlah keriput menghiasi kulit wajahnya yang tua. Kulitnya putih dengan sepasang mata sipit khas keturunan.

Suradi dengan cepat mengarahkan todongan pistol itu ke arah lelaki tua itu. Tetapi lelaki tua yang kelihatannya bijak itu hanya tersenyum sambil mengangkat ke dua tangannya.
“Tenang anak muda. Tenang. Saya tidak berbahaya.”
“Kamu siapa? Di mana Lin lin?” Teriak Suradi.

Tiba-tiba Melinda ke luar dari pintu, dia berlari ke arah Suradi dan menjerit.
“Kakaaaa!”

Melinda memeluk Suradi dengan erat sementara tangan Suradi masih mengacungkan pistol ke arah lelaki tua itu.
“Kamu baik-baik saja, sayang? Mereka siapa?” Tanya Suradi.

Melinda menarik tangan Suradi dan mengambil pistol yang dipegangnya.
“Itu Papa Handono. Saya baik-baik saja. Lin lin kangeennnn sekali.” Kata Melinda. Lelaki berambut panjang itu masih mengusap-usap rahangnya yang masih terasa sakit oleh sikutan Suradi ketika memungut pistolnya dari tangan Linda.
“Yuk, masuk dulu. Banyak sekali yang Lin lin mau ceritakan.” Kata Linda sambil menuntun tangan Suradi.

Suradi menoleh ke arah dua orang lelaki itu, yang ternyata adalah bodyguardnya Pak Handono.
“Sorry ya.” Kata Suradi. Kedua orang lelaki itu diam tak menjawab.

Ternyata Pak Tono, Usep dan Bi Ijah sedang berada di halaman belakang, mereka sibuk membuat hidangan istimewa menyambut kehadiran Pak Handono. Mereka akan membuat kambing tanah merah, makanan khas yang hanya bisa dibuat oleh Usep.

Usep sendiri mengetahui tehnik memasak Kambing Tanah merah itu dari ayahnya almarhum, ayahnya dari kakeknya, kakeknya dari ayah kakeknya.
“Ini sebenarnya makanan tradisional kita, Pak.” Kata Usep, dulu sekali ketika pertama kali Suradi menerimanya sebagai penjaga sekaligus pengurus rumahnya yang di Kiarapayung ini.
“Tehnik memasak ini aslinya digunakan untuk memasak kijang hasil buruan, bumbu-bumbunya diperoleh dari rempah-rempah di sekitar hutan.” Kata Usep lagi menjelaskan. Pada saat itu Suradi hanya mengangguk-angguk saja dan tersenyum.

Sekarang, ketika Suradi melihat mereka sedang asyik bekerja menguliti kambing muda yang utuh itu, hatinya merasa lega.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler