. Suradi Adventure Part 52 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 52

0
187

Suradi Adventure Part 52

ANASTASIA MELINDA LIEM 17

Shanti mendengar rintihan-rintihan itu di kamar. Walau dia menutup telinganya, jeritan terakhir yang keras itu tetap saja didengarnya.

Ketika Kak Tania masuk ke dalam kamar, Shanti pura-pura tidur. Malam itu Shanti gelisah tak bisa memejamkan mata untuk mendapatkan lelap tidur yang biasanya tak sesulit ini.

Sementara Kak Tania di sampingnya demikian nyenyak terpejam sambil tersenyum.
“Ah enak Om… terus Om… enak… enak…”
Bahkan rasa nikmat itu sampai terbawa mimpi.

“Aduuuhhh, gimana ini?” Keluh Shanti di dalam hati.

Suradi merasa sangat letih. Setelah berganti kaos dan celana pendek yang dibawanya di mobil, dia pergi ke kamar mandi yang licin dan gelap. Gosok gigi dan cuci muka. Lalu masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan dan langsung tertidur lelap.

Walau ranjang itu bukan ranjang terburuk yang pernah ditidurinya tapi entah mengapa Suradi merasa ada sesuatu yang merangsangnya. Pipi dan bibirnya diciumi. Kaosnya didorong ke atas dan sebuah mulut menciumi dadanya. Lalu ada yang menarik celana pendek sekaligus celana dalamnya.

Suradi seperti bermimpi ketika dia merasa kontolnya menegang oleh sebuah emutan lembut yang mempesona.

“Aghkh…” Suradi mengeluh ketika sebuah tangan mungil itu menggenggam batang kontolnya dan menyentuh-nyentuhkan kepalanya yang panas pada sebuah lubang daging yang hangat dan berlendir.
“Ouhkhkh…” Suradi mendengar suara erangan itu. Tetapi mata Suradi terpejam dan jiwanya sedang dikuasai mimpi. Suradi tak bisa melihat bidadari manakah yang sedang memberinya kenikmatan itu.

Tangan mungil lembut itu kemudian membenamkan kepala kontolnya masuk ke dalam liang yang sempit dan hangat. Liang itu membekap kontolnya dan memaksa membekap lebih dalam.

“Ouhkhk… ahkhkh…” Suradi merintih.
“Ughhhhh…. ughhhh… ” Suara rintihan lain pun mengikutinya.

Dalam keadaan setengah tidur, kedua tangan Suradi secara refleks menggapai sebuah pinggang kecil yang lembut. Menggenggamnya dan menariknya agar menekan ke bawah, sehingga batang kontolnya bisa masuk semua.

Srrrttt…. cleb! srrrtttt… jleb!!!

“Eughkhkh…” Suradi mengeluh. Lubang itu hangaaaaat sekali, tapi sempit dan seret. Mendenyut-denyut.
“Adddduuuuhhhhh…. huk… huk… huk…. ssssaakkkiiittttt….” Terdengar sebuah isak kesakitan.

Dengan sangat terkejut Suradi membuka matanya. Dia mengira dirinya sedang bermimpi. Tapi ternyata tidak. Suradi tidak sedang bermimpi. Isak kesakitan itu jelas nyata di telinganya. Ketika Suradi membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah Shanti sedang duduk di atas pangkal pahanya dan kini Suradi merasakan sebuah tetesan yang hangat pada pahanya.

Suradi melihat Shanti sedang meringis.

“Sha…sha…shanti… kamu lagi apa…? euukhkhhhh….” Suara Suradi gemetar.
“Ouhkhh… sakiitt… Omhkh… saakiithhh…. ttaapiii… enakhkh….” Kata Shanti dengan nada melenguh. Dia menggenjot pelahan pinggulnya ke atas dan ke bawah.
“Sha…sha…shanti… ja… ja… ngaaannhhh… ahhhhhkk…” Suradi benar-benar gemetar oleh sensasi yang mendenyar pada seluruh urat-urat syaraf yang berpusat pada seluruh permukaan batang kemaluannya. Mendenyar oleh kehangatan sentuhan dinding-dinding vagina bagian dalam serta denyutan-denyutan yang ditimbulkannya secara simultan.

Seluruh tubuh Suradi mengejang. Perutnya mengempis, otot-otot pahanya menegang menahan amukan dahsyat lahar yang berkehendak untuk segera meledak.

“Omh…Omh… eeennnnaaakhhh… adduuuuhhhhh… pengeeeeennnn… ppppiiiiippiiiissshhhh…. akkkhhhhh…. Ommhhhh….. Shanti pppipipiisss….”

Srrrrrr…. ceprot…. srrrrrr… ceprot….. ceprot…. ceprott…

Suradi menggelinjang-gelinjang menahan ledakan lahar yang akan meledak. Tapi dia tak sanggup melepaskan diri dari tekanan pantat Shanti yang sedang menyemprotkan kenikmatan pertama kali dalam hidupnya.

Srrrrrr…. ceprot…. srrrrrr… ceprot….. ceprot…. ceprott…
“Ouhkhkhh… ” Lenguh Suradi.
“Adduuhh…. ” Keluh Shanti.

Shanti kemudian terkulai di atas dada Suradi. Lelaki itu sudah terlambat untuk menyesali semua yang terjadi. Dia memeluk gadis itu di punggungnya yang tipis dan lembut.

Mereka pun tertidur bersama.

Tak ada yang istimewa pagi itu ketika Suradi mendusin dari tidurnya. Matahari masih belum menampakkan sinarnya, namun suara gaduh di dapur menandakan kehidupan telah dimulai di rumah itu. Dia melangkah menuju teras belakang, mengambil handuk, odol, sikat gigi, sabun cair, au de cologne, yang selalu dia bawa di dalam mobil, lalu pergi ke kamar mandi.

Mandi air dingin.

Berganti pakaian dengan kemeja dan celana bersih. Memakai sepatu. Menyisir rambut dengan tangan. Siap berangkat.
“Masih terlalu pagi, Om.” Kata Tania. “Sarapan dulu, singkong goreng sama kopi.”
“Shanti mana? Siap-siap, kan mau dianter sekolah.”
“Masih tidur.”
“Enggak, udah bangun.” Kata Shanti tiba-tiba. Dia ke luar kamar dengan terhuyung-huyung karena masih mengantuk.
“Cepet mandi ya cantik.” Kata Suradi.

Sepasang mata Tania mendelik ke arah Suradi.
“Jangan dibilang cantik, Om. Entar manja dia.”
“Mana sarapannya?” Suradi tersenyum kepada Tania.
“Nih.”
“Makasih.” Kata Suradi. “Kamu juga sarapan.”
“Sudah, tadi duluan!” Suaranya terdengar kesal.

Suradi menyantap sarapannya dengan cepat.
“Tan, Om mau ke sekolah Shanti dulu, pokoknya jangan khawatir, semua pasti beres. Udah gitu, Om mau langsung pulang. Kamu baik-baik ya sama Gugun.”
“Om apaan sih? Ini nasehat apa nyindir.” Suara Tania terdengar sebal.
“Ya, nasehat dong. Masa nyindir?”
“Ya, udah ga pa pa. Om kapan mau ke Jakarta lagi?”
“Entahlah, kelihatannya semua urusan udah kelar deh.”
“Huuu.”
“Koq Pake huuu?”
“Tau ah.”
“Kamu ngambek ya.”
“Enggak. Emang Tania punya hak buat ngambek gitu?” Kata Tania, wajahnya memberengut. “Om, minta nomor hpnya!”
“Entar aja disave sama Shanti. Sudah ya. Bilangin kalau Shanti sudah siap, sarapannya di mobil aja.”
“Om…” Tania berkata manja.
“Apa?”
“Sun dulu.” Bisik Tania.
“Mulut Om penuh singkong.” Suradi membalas berbisik. Tapi Tania memaksa dan mengecup bbir Suradi yang masih belepotan singkong goreng.
“Hati-hati di jalan. Jangan lupain Tania ya Om.”
“Om tidak akan lupa.”

Suradi segera melangkah menuju mobilnya. Duduk di belakang stir, memanaskan mesin.

Setengah berlari Shanti ke luar dari rumah. Mulutnya menggigit singkong goreng, satu tangannya menggamit tas, satu tangannya lagi memasukkan sepatu agar pas ke kakinya. Dia kemudian duduk di pinggir Suradi dengan senyum menyeringai. Singkong masih di dalam gigitannya.
“Habiskan dulu singkongnya, cantik.” Kata Suradi lembut. “Rambutnya disisir yang rapi, biar tambah cantik.” Kata Suradi sambil melirik ke arah Shanti.

Shanti memiliki sepasang mata berwarna coklat yang besar dan terang, hidungnya mancung bangir dengan dagu yang tajam dan bibir jambu air. Rambut ikalnya dipotong pendek setengkuk. Dia memakai jepit di atas telinga kiri dan kanannya.

Kulit badan Shanti berwarna kuning langsat, tubuh langsingnya lebih tinggi beberapa centi dari Tania. Ekspresi wajahnya yang kekanakan membuat Suradi berkali-kali menarik nafas panjang.

“Kenapa Om?” Tanya Shanti.
“Kenapa apa?”
“Om menarik nafas panjang gitu, kayak Kakek kalau lagi merasa susah.” Kata Shanti, wajah lucunya tampak serius. “Om… menyesal ya?”

Suradi terdiam. Dia menginjak pedal gas dan melajukan kendaraan dengan pelahan. Shanti mengamati wajah Suradi dengan tatapan menyelidik.
“Om tidak menyesal.” Kata Suradi, nadanya terasa getir. “Semalam kamu berdarah. Sakitkah?”

Shanti mengangguk.
“Tapi enak.” Bisiknya. “Pengen lagi.”
“Kamu tahu…”
“Shanti tahu.” Kata Shanti. “Jangan bicarakan perempuan lain, Om. Shanti enggak mau.”

Suradi menarik nafas lagi. Berat.
“Om…” Shanti memeluk lengan Suradi yang sedang memegang persneling. Menggosok-gosokkan pipinya ke lengan yang sedikit berbulu itu.
“Ya, cantik.”
“Shanti enggak menyesal. Walau pun cuma sesaat, tapi Shanti bahagia.” Katanya dengan suara bergetar. Suradi merasakan lengannya basah.

Shanti menangis. Air mata membasahi ujung lengan kemeja tangan pendek Suradi.

“Jangan nangis, Cantik.”
“Shanti nangis karena bahagia.” Katanya. “Shanti bahagia bisa memberikan semuanya buat Om. Shanti sayang sama Om.”
“Kamu enggak mungkin menyayangi orang yang baru kamu kenal selama beberapa jam.” Kata Suradi.
“Terserah, Om. Shanti enggak peduli.” Katanya sambil merapatkan pelukannya pada lengan Suradi. “Cukup bagi Shanti tahu bahwa perasaan ini enggak bohong. Perasaan yang indah, Om. Walau cuma sepuluh menit, tapi Shanti pernah merasakannya. Dan Shanti bahagia.”
“Ba… bagaimana kalau… kalau Om tidak bisa membalasnya?”
“Enggak ada urusan, Om. Itu perasaan Om sendiri. Mau benci, marah, kesal apa pun itu, Shanti enggak peduli. Shanti tidak meminta Om membalasnya. Tidak. Cukup bagi Shanti merasakan perasaan indah ini. Cukup.”

Suradi terdiam. Wajahnya berriak. Sepasang matanya memerah. Suradi seringkali tidak mengerti, walau pun Lin Lin adalah cinta pertamanya, namun setiap kali dia melangkah, selalu saja wajah Winda yang terbayang.

Shanti lebih cantik, lebih ramping dan lebih tinggi dari Winda. Tapi perasaan gadis itu mengingatkannya akan Winda.

Seorang lelaki, segoblok apa pun, dia akan bisa membedakan mana cinta sejati yang murni mana yang bukan. Shanti memiliki perasaan yang tulus, tapi Suradi ketakutan karenanya.

“Semalam kita melakukan kesalahan.” Kata Suradi. “Kamu masih terlalu muda, seharusnya kamu tidak… ”
“Cukup, Om! Cukup!!!!” Kata Shanti, nadanya tegas. Dia menyusut air matanya. “Aku tahu apa yang telah aku lakukan!” Katanya. Wajahnya tegar dan sungguh-sungguh.

Suradi diam. Tak bisa berkata-kata.

“Shanti tak berharap apa pun, Om.” Katanya, kali ini nadanya lembut. “Setelah Om menyelesaikan urusan dengan TU, pergilah, Om. Menghilanglah. Lupakanlah Shanti.”
“Nomor HP Om disave dulu, tadi Tania minta.”
“Tidak perlu.” Kata Shanti, wajahnya serius. “Menghilanglah, Om. Shanti yakin Om punya keluarga, uruslah mereka. Lupakanlah Shanti.”

Mereka telah tiba di depan pintu gerbang sekolah, Shanti ke luar dari mobil dan pergi meninggalkan Suradi sendiri.

Suradi merasa sedikit malu ketika dia menghadap TU. Ada 5 orang siswi yang bernama Shanti dan Suradi tidak tahu nama kepanjangan Shanti-nya.
“Shanti Susanti, Shanti Rohayati, Shanti Roshanti, Shanti Kumalawati dan Shanti Ardianti. Shanti yang mana yang bapak maksud?”
“Yang tinggal di Leuwi Liang, kelas 10, katanya sudah 3 bulan belum bayar SPP dan Uang bangunan.”
“Oh, itu. Shanti Kumalawati. Bapak siapanya?”
“Saya Om-nya. Kebetulan baru datang dari Jakarta. Saya ingin menyelesaikan semua biaya sekolahnya sebelum saya kembali lagi ke Jakarta.” Kata Suradi.

Lelaki bertubuh pendek berkacamata tebal itu menatap Suradi.
“Seluruhnya?”
“I ya, Pak. Semua biaya yang harus ditanggung sampai dia kelas 12 nanti.”
“Baik. Sebentar saya hitung dulu… mmm… tunggu sebentar, Pak.”
“Siap.”

Setelah beberapa lama, akhirnya lelaki itu mengeluarkan sejumlah angka.
“Jadi yang harus bapak bayar, jumlahnya sekitar 15 juta.”
“Baik. Saya bayar cash.”
“Tunggu, saya bikinkan kwitansinya dulu.” Katanya dengan nada ringan. Dia kemudian mengetik sesuatu di kopmuter lalu mencetak hasil ketikannya dengan printer laser jet.

Suradi mengeluarkan uang dari tas kecil yang dibawanya. Membayar sejumlah uang yang sudah dituliskan di kwitansi.
“Kalau Shanti Kumalawati itu kelas 10 berapa ya Pak?”
“Shanti Kumalawati kelas 10 D, kelas yang di tengah. Terimakasih, Pak atas kerjasamanya.” Kata Lelaki pendek berkacamata tebal itu.
“Sama-sama, Pak.” Kata Suradi. “Pak, boleh saya minta amplop coklat yang besar itu?”
“Oh, boleh. Silahkan.”
“Terimakasih, Pak.”

Bersambung

Daftar Part