. Suradi Adventure Part 51 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 51

0
191

Suradi Adventure Part 51

ANASTASIA MELINDA LIEM 16

Hari sudah jatuh malam ketika Suradi dan Tania tiba di Leuwi Liang, sekitar pukul setengah delapan. Suradi memarkir kendaraannya di belakang rumah Tania yang berupa kebun terbengkalai melalui jalan samping yang kosong. Mereka disambut oleh Kakek dan Neneknya Tania yang masih menonton TV.
“Tania, koq kamu udah pulang lagi Cu?” Tanya Si Nenek.
“I ya Nek, ini Tania bawain nasi padang kesukaan Kakek sama Nenek.”
“Shanti juga mau, Kak.” Tiba-tiba adiknya Tania yang bernama Shanti datang meminta jatah.
“I ya, kamu juga dapat satu bungkus.”
“Makasih, Kak. Eh, itu siapa Kak?”
“Oh, ini Om Suradi, yang nganter Kakak ke sini.” Kata Tania. Kedua kakak beradik itu kemudian pergi ke dapur untuk mengambil piring sambil berbisik-bisik.
“Kakak belum dapat gajian, Kak Esthernya lagi ada masalah keuangan. Entar Kakak ke sekolah menghadap TU, pokoknya kamu jangan khawatir, sekolah mah sekolah aja.”
“I ya, Kak. Tapi janji ya Kakak datang ke TU.”
“I ya, i ya.”

Setelah itu mereka ke luar bersama sambil membawa piring dan gelas.
“Yuk kita makan bersama nasi padangnya.” Kata Tania dengan nada ceria.

Lampu boglam 15 watt itu demikian letih menyinari ruang tengah yang cukup luas. Suradi duduk lesehan di atas tikar bersama Tania, Shanti, kakek dan neneknya menyantap nasi padang, dengan tenang dan pelahan.

Dalam suasana yang sangat sederhana itu, ingatan Suradi berlari menembus waktu, menyisir masa lalu di mana dia pernah merasakan bahwa kebahagiaan itu memang sederhana. Saat pulang kerja sebagai mandor muda, dia selalu membeli 5 nasi bungkus. Untuk ayah dan ibunya dan untuk 2 adiknya, Surahmi dan Sumarni.

Kebahagiaan yang sederhana itu tidak sanggup dia beli walau pun sekarang Suradi punya uang milyaran.

Sambil makan lesehan, mereka berbincang tentang hal-hal sederhana dan sepele. Suasana riang menyelimuti mereka. Kakek dan neneknya Tania menceritakan hasil kebun yang semakin lama semakin sedikit. Meskipun mereka mengeluh tapi keluhan itu disampaikan dengan cara agak bercanda sehingga yang mendengarnya tak merasa berat.

Sayangnya lampu boglam itu tak sanggup menyinari perubahan wajah Suradi. Beberapa kali bayangan masa lalu yang getir berriak-riak di wajahnya.

“Om, nanti istirahatnya di kamar Tania ya.” Kata Tania.
“Baik. Terserah yang punya rumah aja.”
“Om jangan khawatir, mobil di belakang pasti aman.”
“Saya tidak khawatir soal mobil.” Kata Suradi.
“Tapi mengapa Om diam saja dari tadi?”
“Saya senang mendengar cerita kalian, jadi saya diam.” Kata Suradi. “Eh, kalau Shanti sekarang kelas berapa?”
“Kelas 10, Om.” Jawab Shanti.
“Tadi Om enggak sengaja mendengar kalian bisik-bisik soal uang sekolah… mmm, maaf kalau Om turut campur… Om cuma mau usul sedikit.”
“Usul apa, Om?” Tanya Shanti.
“Gimana kalau Om saja yang ke sekolah Shanti menghadap TU? Om kan udah tua, mungkin kata-kata Om lebih didengar.”
“Masa sih Om Sur sudah tua?” Kata Shanti sambil terkikik. “Kalau kakek sama nenek, itu baru sudah tua.”
“I ya, Om masih muda. Ganteng lagi.” Kata Tania.
“I ya, lebih ganteng dari Kang Gugun, pacarnya Kak Tania.” Kilah Shanti.
“Kalian ini gimana sih, usulan Om diterima enggak?”
“Shanti sih setuju. Besok kan Jum’at, jadi Om bisa sekalian nganter Shanti sekolah, terus Om menghadap TU dan mengatakan bahwa uangnya belum ada. Kalau sudah ada, pasti secepatnya dibayar.” Kata Shanti.
“Shanti, kamu umurnya berapa sih? Koq pinter banget.”
“16 Om.”
“Tuh, umur 16 aja udah pinter. Apalagi kalau umur 100 tahun, pasti peot.”

Mereka semua tertawa.

Lampu boglam 5 watt yang dipasang tinggi di langit-langit teras belakang rumah, sepertinya sangat kepayahan menerangi lantai teras yang berupa peluran semen. Di atas teras itu ada sebuah kursi tua yang ketika diduduki berkeriat-keriut karena paku-pakunya sudah enggan menempel. Suradi duduk di situ berteman segelas kopi dan kretek favoritnya.

Dia sedikit melamun ketika Tania ke luar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk. Tania mendekati Suradi dan berbisik di telinganya.
“Om, kentang nih dari siang.” Katanya. Mulutnya yang baru digosok sikat gigi itu terasa dingin di telinga Suradi.
“Kasiaaannnn deeehhhh….” Kata Suradi sambil mengisap kreteknya. Suradi tersenyum dan melingkarkan tangannya pada pinggul Tania yang tipis.

Berbeda dengan kakak sepupunya Esther, meski pun mereka sama-sama memiliki kulit coklat terang dengan mata yang dalam dan hidung yang mancung, namun Tania memiliki perawakan yang ramping dengan paha dan betis yang kecil panjang. Usianya yang baru menginjak 18 menjanjikan banyak sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan.

“Atttuuulaahhhh…” Tania merengek.
“Manja ih.” Kata Suradi, jari jemarinya meremas pantat Tania yang tipis. “Entar kamu ketagihan.” Bisik Suradi sambil menggigit telinga Tania dengan bibirnya.
“Biarin.” Bisik Tania. Pori-pori di seluruh tubuhnya berdiri gara-gara gigitan bibir di telinganya itu.
“Kakek nenek belum tidur, Shanti juga masih nonton TV… sabar dong.”
“Di mobil, Om.” Kata Tania sambil menarik tangan Suradi menuju mobil double cabin yang diparkir tidak jauh dari teras, hanya sekitar dua meter.
“Berantakan, belum sempet diberesin.”
“Kita beresin dulu… ayoooo.”
“Hadeuuhhh…koq maksa sih.” Kata Suradi sambil mengikuti tarikan tangan Tania.

Shanti sebetulnya sangat kesengsem dengan Om Suradi. Om yang satu ini memang sangat beda. Kalem, tenang dan senyumnya simpati.
“Dibilang tampan-tampan amat sih enggak, tapi dia ganteng.” Bisik Shanti dalam hatinya sambil mencuri-curi pandang ke arah Suradi waktu makan lesehan. “Kak Tania pasti deh suka sama si Om ganteng ini. Ih, padahal Kak Tania kan udah punya Gugun.” Kata Shanti dalam hatinya.

Usai makan, Shanti menawarkan membuatkan kopi. Si Om mengangguk sambil tersenyum.
“Saya akan sangat berterimakasih.” Begitu katanya.

Iiiih. Apa sih artinya segelas kopi dengan kebaikan yang dia bawa? Aduuuh, Om gemesin deh.

Ketika si Om ini sedang menikmati kopinya, Shanti ingin mendekatinya dan berbicara dengannya. Mungkin akan sangat menyenangkan. Shanti kemudian ke luar lewat pintu depan, menyisir samping rumah, Shanti melihat si Om sedang menikmati kopinya.

Tiba-tiba Kak Tania ke luar dari kamar mandi, cuma pake handuk. Terus Kak Tania menarik tangan si Om ke dalam mobil.

Aaaahhhh, jangan Kakak.

Kakak udah punya Gugun. Shanti belum punya siapa-siapa. Tuh kan… tuh kan…

Shanti berlari ke kamarnya dan menangis.
“Pengeeennnnn.” Isaknya.

Suradi merasa mustahil menolak tubuh muda itu.

Tubuh yang lembut dengan nafsu yang ganas adalah perpaduan keindahan yang sempurna. Dia seperti tersedot oleh ekstasi edan yang membuat tubuhnya menjadi sinting melenting-lenting.

Arrrggggghhhhh…. aarrrrrrrgggghhhhkhkhhkkk….

“Tania, lepaskan. Om mau ke luar.”

Tapi Tania tidak menjawab. Dia asyik dengan dirinya dan kenikmatannya sendiri. Dia idak mempedulikan Suradi. Dia terus menggenjot tanpa henti dan tanpa bisa dihentikan. Sampai akhirnya Tania menjerit. Dia menekan pantatnya dengan sekuat-kuatnya di atas pangkal paha Suradi, kedua tangannya mendorong sandaran kursi depan agar tekanan dorongannya memiliki kekuatan berlipat ganda.

Suradi tak sanggup melepaskannya. Dia hanya bisa membiarkan Tania melakukan apa yang ingin dilakukannya. Suradi hanya bisa memeluk abg itu dari belakang sambil menikmati punggungnya yang sehalus sutra.

“Ommmmmmmhkhkh…..”
Prot. Prot. Prot.

Sementara itu Suradi pun tak bisa lagi menahan sensasi yang meledakkan seluruh kelelakiannya.
Srrrrrrr…. crot…. Srrrrrrr…. crot …. Srrrrrrr…. crot.

Suradi mengeluh dan melolong seperti serigala.
Auuuung….

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler