. Suradi Adventure Part 50 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 50

0
191

Suradi Adventure Part 50

ANASTASIA MELINDA LIEM 15

Begitu Tania dan Silvi pergi, Esther yang sudah tidak sabar segera menarik tangan Suradi ke dalam kamar. Mereka saling menelanjangi dirinya sendiri sampai bugil, sambil berciuman.
“Tadi ngentot sambil berdiri enak loh Pak Sur.” Kata Esther sambil melepaskan ciuman Suradi. “Tadinya saya pengen didoggy juga.” Katanya lagi. “Tapi waktunya terbatas.” Kata Esther sambil mendesah. Rupanya Suradi tanpa membuang waktu telah mengisap pentil susunya yang coklat dan bulat itu.
“Mmhhh… udah ah.” Kata Esther, dia mendorong Suradi ke ranjang hingga lelaki itu berbaring rebah. Esther kemudian menaiki ranjang dan mengangkangi Suradi dengan punggung menghadap ke arah wajah Suradi. Pantatnya yang bulat semok itu demikian halus dan mulus membuat lelaki itu tidak sabar untuk meremasnya.

Dari belakang, memek Esther terlihat seperti huruf W yang tebal yang memiliki rumbe-rumbe.

Esther menurunkan pantatnya bersamaan dengan mulutnya mengulum kontol Suradi. Sejenak Suradi menahan sensasi kuluman bibir-bibir mulut Esther yang lembut sebelum dia kemudian mengusap-usap pantat bulat Esther yang lembut dan halus seperti kue apem. Lalu Suradi menjilati lunas antara liang pantat dan ujung memek Esther.

Esther yang sedang mengemut kontol Suradi yang hangat, mengerang sebentar.
“Akhhh…. Pak Sur… ya jilat terus di situ…aghkh… ”

Esther menghentikan emutannya dan memejamkan mata sambil menggoyang-goyangkan pantatnya menikmati jilatan lidah Suradi. “Adddduuuuu….hhhkhkhk… terrrrrouusshhhh…. ppPakkhh… itttiiillnyaa… itttillnya… aghkhkh….”

Buah pantat yang dipegang Suradi bergetaran. Esther mengejang seperti kucing sedang menggeliat. “Akkhhh…. aku keluarrrrr…. pppaakkk ssurrrr….”

Srrrr…. lendir Esther menggelosor ke luar dari lubang memeknya. Menetes seperti ingus yang sedang terkena flu.

Saat mereka sedang asyik dalam posisi 69, Tania masuk ke dalam rumah untuk mengambil boneka yang tertinggal di ruang tengah. Pintu kamar yang tak ditutup membuka setengahnya. Tania mendengar suara erangan Kak Esther dan mendekati kamar. Dari pintu yang terbuka, dia melihat kontol Suradi yang melengkung seperti buah pisang. Besar dan tebal. Air liur Tania menetes di mulut dan di memeknya.

Saat itu Tania melihat Kak Esther melepaskan diri dari jilatan memeknya oleh Suradi. Kak Esther merangkak mendekatkan selangkangannya pada selangkangan Suradi. Batang kontol yang besar dan tebal itu digenggam oleh Kak Esther dan dipukul-pukulkan kepala kontol itu ke lubang memeknya. Sebelum akhirnya dibenamkan hingga amblas.

Jleb!!!

“Adduhhh enak Pak Sur.” Kak Esther mengeluh.
“Pasti enak.” Bisik Tania dalam hatinya.
“Aghkh… aghkh… aghkhk…” Kak Esther mengendarai kontol Pak Suradi sambil memejamkan mata. Dia menggenjot dengan tubuhnya naik turun sehingga kedua bukit payudaranya ikut juga bergoyang-goyang naik turun.

“Akhhhkhhhh…. Pppppaakkkkk Surrrr…. enaaaaakkkkkk….” Tania melihat Kak Esther menekan memeknya dengan sangat kuat ke pangkal selangkangan Pak Suradi. Bibir-bibir memek Kak Esther sepertinya berdenyut-denyut.
“Uuuuuukhkhhhhh…. ”

“Dia keluar lagi.” Bisik Tania dalam hatinya. “Uh, pasti enak deh.” Kata Tania dalam hatinya sambil mengusap-usap memeknya sendiri.

Tania tak berkedip melihat pemandangan dua insan yang sedang ngentot itu.
“Adduuuh…. ennak… ennakkk… ennakkkk…” Tapi Suara Kak Esther mirip seperti isak tangis yang pilu merintih-rintih.

Ketika Tania sedang terbuai oleh pemandangan indah itu, tiba-tiba Silvi sudah ada di belakangnya dan menarik-narik rok pendeknya.
“Kak Tania, ayo main lagi.”
“Sssttt… jangan keras-keras, ayo kita main di luar.”

Sebelum pergi meninggalkan pintu kamar Esther, Tania sempat melihat bagaimana memek Kak Esther dipenuhi busa putih tanda Kak Esther telah menemukan puncak kenikmatannya.

“Lendirku banyak sekali.” Kata Esther sambil melap tubuhnya yang basah oleh keringat dengan handuk. Dia duduk di atas kasur dan bersandar pada dinding. Kedua lututnya melipat dengan telapak kaki di atas kasur, Esther mengangkangkan pahanya, kepalanya menunduk melihat memeknya yang tersenyum senang karena sudah terpuaskan. Dia melap memeknya dengan handuk bekas melap keringat.
“Lihat itilnya Pak Sur… hi hi hi… lihat nih… lucu ya.” Kata Esther.

Suradi tersenyum melihat kelentit Esther yang panjang bagai cacing itu bergerak-gerak.
“Ya, lucu sekali. Tapi kayaknya masih pengen lagi tuh.” Kata Suradi.
“Aaahh, udah atuh Pak Sur. Ini lihat bibir-bibir memeknya udah merah gini. Kasihan kan kepanasan…. ehhh, lihat pejuh Pak Sur ikut ke luar… aduh, banyak sekali ya.” Kata Esther. “Kontol Pak Sur is the best.” Kata Esther lagi. “Nanti kalau ke Jakarta lagi, Pak Sur kasih tahu saya dulu ya, biar saya bisa prepare.”
“Siap, Bu Esther. Nopenya udah disave kan?”
“Eh, belum. Sini, saya misscall-in dulu…. nah, udah.” Kata Esther sambil menyerahkan HP Suradi yang butut itu. “Saya pasti kangen deh sama ini.” Berkata begitu Esther menunduk dan mencium kontol Suradi. “Ya, ampun! Kontolnya tegang lagi!”

Esther melotot. Suradi tertawa.
“I ya nih, nakal ya?” Kata Suradi.
“Nakal tapi enak.” Kata Esther tersenyum.

Lembayung senja di ufuk barat tampak sangat indah. Suradi berpamitan kepada Esther untuk pulang kembali ke Majalengka.
“Kak Esther, Tania izin boleh ikut pulang dengan Pak Suradi gak?” Kata Tania dengan buru-buru. Dia membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas dengan tergesa.
“Wah, kalau kakak sih ngijiinin tapi Pak Suradi bersedia nganter kamu atau enggak, kakak enggak tahu.”
“Enggak apa-apa. Saya bersedia. Ayo sekalian.” Kata Suradi tersenyum.

Wajah Tania langsung berseri-seri.

“Tapi rumahnya jauh Pak Sur di Bogor.” Kata Esther. “Kamu enggak apa-apa Tan pulang kampung enggak bawa uang?” Esther berpaling ke arah Tania.
“Tidak apa-apa. Saya bisa ke Majalengka lewat jalur Bogor, agak memutar sih tapi enggak apa-apa.” Kata Suradi tenang dan datar.
“Enggak apa-apa, Kak. Mungpung kak Esther besok libur jadi Tania ada waktu pulang ke kampung dulu. Mamah Tania juga pasti ngerti kalau Kak Esther sedang kesulitan keuangan.”
“Makasih, Ya Tan. Salam buat Bi Yanti.”
“Yuk, kita berangkat. Keburu malem.” Kata Suradi.

Tania dengan kegembiraan meluap-luap masuk ke dalam mobil.
“Semoga…” Bisik Tania dalam hatinya.

“Namanya Tania ya?” Kata Suradi memulai percakapan ketika mereka melaju tenang di Jalan raya. Dia melirik gadis itu yang tampak malu-malu.
“I ya, Pak.”
“Jangan panggil bapak ah, panggil Om aja biar enak.” Kata Suradi, suaranya kalem dan tenang. “Umurnya berapa, Tan?”
“Sebentar lagi 18, Om.”
“Udah punya pacar?”
“Sudah Om di kampung.”
“Emang kampungnya di mana?”
“Di Leuwi Liang, Bogor Om.”
“Jauh juga, ya.”

Tania menunduk diam. “Bagaimana ya caranya menggoda si Om ini? Biar dia mau nakalin aku.” Kata Tania dalam hatinya. “Kesempatan emas nih dapat Om ganteng.”

“Koq diem aja?” Kata Suradi.

Tania menunduk. Wajahnya memerah karena malu.
“Kamu malu ya tadi celana dalamnya ketahuan sama Om di sofa.”

Tania mengangguk.

Dia teringat peristiwa siang tadi ketika Kak Donny datang tiba-tiba dari Cirebon lalu memeluk dan menciuminya. Lalu melepaskan celana dalamnya dan dengan tergesa-gesa memasukkan kontolnya ke dalam Memek Tania. Enak sih, lumayan. Tapi kurang lama. Jadinya agak nanggung. Sekarang memek Tania berdenyut-denyut.
“Tadi Kak Donny ngecrotnya di dalem apa di luar ya?” Tania berpikir-pikir mengingat-ingat. “Oh, di luar.” Katanya lagi dalam hatinya.

“Enggak usah malu. Om enggak akan bilang-bilang sama Bu Esther koq.” Kata Suradi sambil mengambil tiket tol.
“Sungguh Om?” Kata Tania, dengan wajah ragu-ragu.
“Sungguh.” Kata Suradi sambil menginjak pedal gas. “Tapi koq bisa ya celana dalamnya ketinggalan.”
“I ya, Om. Lupa sih. Soalnya Kak Donny buru-buru banget.” Tania menjawab dengan ekspresi wajah ambigu.
“Koq buru-buru? Entar kentang dong.”
“Kentang apaan sih Om?”

Suradi tersenyum.
“Kentang itu artinya kena tanggung. Bisa bikin sakit kepala.”
“O, gitu ya Om. Pantesan…”
“Pantesan apa?”
“Om punya aspirin enggak?”
“Kamu sakit kepala?”
“I ya Om, kentang nih… tadi Kak Donny cuma segitu doang… beda sama Kak Esther, sampai berbuih gitu loh.”
“Maksud kamu apa, Tan?” Suradi agak kaget.
“Aah, Om jangan ngelak. Tania lihat tadi di kamar, Om sama Kak Esther ngentot.” Tania berkata dengan nada yang cemburu. “Huuu….” Tambahnya.
“Koq pake huuu…?”
“Ya iyalah huuuu… soalnya kan Kak Esther engga kena kentang.”
“Jadi sekarang kamu kena kentang?”
“I ya Om, kepala jadi nyut-nyutan.”
“Terus gimana dong?”
“Ya enggak tau.”
“Koq enggak tau?”
“Ah, si Om ini pura-pura aja.”

Suradi tertawa.

“Pura-pura apa?”
“Pura-pura enggak tau.”
“Enggak tau apa?”
“Ah udah ah.”
“Deuuhhh… segitu aja marah. Katanya kentang.”
“Emang.”

Suradi tertawa lagi.

“Dari tadi Om ketawa mulu, kenapa sih?”
“Lucu. Liat ABG morang maring kena kentang.”
“Emangnya Tania termasuk ABG Om?”
“Ya. Kamu ABG.”
“Apa eeh, Tania kan udah 18. Udah gadis Om.”

Suradi senyam-senyum saja.
“Kamu lapar enggak?” Tanya Suradi.
“Lapar Om. Tadi lupa belum makan dulu.”
“Nanti kalau udah ke luar dari tol, mau makan di Warteg, di Nasi Padang atau di restoran?”
“Enggak di semuanya Om.”
“Katanya laper?”
“Di rumah aja Om makannya.”
“Rumah siapa?”
“Rumah Tania dong Om.”
“Wah, jangan dong. Entar nyusahin.”
“Enggak Om, enggak nyusahin.”
“Terus yang masak siapa?”
“Ya beli dulu nasi sama lauknya di Warung Padang.”

Suradi tertawa.

“Kamu benar-benar lucu.” Katanya. “Ya, udah kita mampir dulu di warung padang, beli nasi dibungkus.”
“Belinya 5 bungkus ya Om.”

Bersambung

Daftar PArt

Cerita Terpopuler