. Suradi Adventure Part 48 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 48

0
195

Suradi Adventure Part 48

ANASTASIA MELINDA LIEM 13

Mereka kembali lagi ke meja VIP dan melanjutkan makan siang yang tertunda.

“Steaknya masih hangat.” Kata Esther dengan senyum gembira. “Tekstur dagingnya sangat lembut dan gurih.” Katanya lagi. Wajahnya yang semula agak kusam kini benar-benar tampak riang.

Setelah memeknya dipuaskan, sikap Esther menjadi sangat menyenangkan. Sambil makan, dia menceritakan berbagai hal kecil tentang kehidupan keluarganya, tentang anaknya yang lucu dan suami yang dicintainya.

Suradi tersenyum-senyum mendengar lelucon Esther tentang perusahaannya yang berada di ambang kebangkrutan.

Setelah kenyang dengan steak, Suradi memesan penutup berupa wine. Dia hanya minum sedikit saja sedangkan Esther minum cukup banyak. Tetapi Esther tidak cukup mabuk ketika menjelaskan bahwa pengajuan kredit yang dilakukan oleh Pak Handono itu sebetulnya agak mustahil.
“Soalnya, dokumen yang asli mengenai kelengkapan berkas pengajuan kredit itu masih dipertanyakan. Pak Sur paham maksud saya?”
“Entahlah, Bu Esther. Itu apa maksudnya?” Suradi berkata berpura-pura bego.
“Dari sistem manajemen dan informasi perusahaan, kita bisa tahu, bahwa semua dokumen asli itu belum masuk ke Bank. Jadi agak aneh kan pihak Bank mau mengucurkan kredit tapi dokumen agunannya belum ada. Mereka bodoh!”
“Maksudnya?”
“Huuuh, Pak Suradi ini koq lelet bener… eh, maaf. Saya tidak bermaksud menganggap Pak Suradi bodoh…”
“Tidak apa-apa, Bu Esther. Saya tahu kekurangan saya. Saya memang cukup berpengalaman dalam hal bangunan, tapi soal administrasi memang bikin pusing.”
“Bukan dalam hal bangunan saja Pak Suradi berpengalaman, dalam mencoblos memek saya juga Pak Suradilah yang paling the bestttt.”
“Bu Esther bisa saja.”
“Pak Sur, terus terang ya kondisi keuangan saya sedang seret bener. Mau bantu beliin barang-barang kebutuhan saya enggak di supermarket, terutama susu buat anak saya.”
“Boleh. Bu Esther jangan khawatir. Beli aja semua kebutuhan Bu Esther, nanti saya yang bayar.”
“Sungguh?”
“Ya.”
“Satu lagi saya minta tolong kepada Pak Suradi… nanti kalau sampai di rumah, mau kah Pak Suradi mengentot saya lagi… please, Pak. Memek saya masih pengen.”
“Boleh.” Kata Suradi dengan nada mantap. “Jadi, sistem informasi dan manajemen Halim Group ternyata bisa mendeteksi pergerakan dokumen ya?”
“I ya, Pak. Sistem itu dibangun oleh Bu Linda ketika menjadi Direktur Utama di PT Global Cipta Mandiri ini, lalu diterapkan di seluruh perusahaan yang lain di lingkungan Halim Group.”
“Oh, begitu.”
“I ya. Pak, yuk sekarang kita pulang.”
“Yuk.”

Suradi menemani Esther membeli barang-barang kebutuhannya di sebuah supermarket. Sambil mendorong roda troli yang penuh dengan barang belanjaan, Suradi terus memancing agar Esther berbicara tentang PT GCM dan Halim Group. Serta sebuah nama yang akan terus diingatnya: Santoso.

“Ada yang kelupaan Bu Esther.” Kata Suradi ketika Esther sudah merasa cukup dengan barang-barang belanjaannya.
“Apa Pak Sur?”
“Mainan buat anaknya. Siapa namanya?”
“Silvi.” Kata Esther. “Saya koq bisa lupa ya. Mengapa justru Pak Sur yang mengingatkan saya?”
“Carilah beberapa mainan yang bisa menyenangkan Silvi, Bu Esther.”
“Oke siap.” Kata Esther gembira.

“Saya sangat mencintai suami saya, Pak Sur.” Kata Esther di dalam mobil. Mereka sedang meluncur menuju sebuah perumahan di daerah Jakarta Selatan, di mana rumah Esther berada.
“Ya, tentu saja. Itu sudah seharusnya.”
“Saya tidak akan meminta cerai seperti yang dilakukan oleh istri Pak Sur. Saya akan memaafkan semua kesalahan suami saya walau pun dia berselingkuh.”
“Itu bagus.”
“Apa yang kita lakukan tadi di toilet itu bukan berarti saya mencintai Pak Sur.”
“Tentu saja bukan.”
“Saya tidak ingin Pak Sur meminta saya jadi istri Pak Sur.”

Suradi tertawa.

“Tentu saja saya tidak akan meminta Bu Esther jadi istri saya.” Kata Suradi, nadanya riang.
“Dengan semua kebaikan Pak Sur kepada saya… saya tak mungkin membalasnya.”
“Tak perlu.” Kata Suradi. “Kita jadi sahabat, sudah cukup bagi saya.”
“Sahabat? Ah, i ya. Kita jadi sahabat saja.” Esther tertawa mengikik. Tangannya kemudian menjulur ke arah celana Suradi. Esther membuka ritsluitngnya dan tangannya kemudian masuk ke dalam untuk menggenggam kontol Suradi yang langsung menegang.
“Kontol ini juga ikutan bersahabat, kan Pak Sur?”

Suradi tersenyum. Melirik ke arah Esther.
“Tentu saja dia sahabat Bu Esther juga.”

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler