. Suradi Adventure Part 47 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 47

0
190

Suradi Adventure Part 47

ANASTASIA MELINDA LIEM 12

Dari KPK, Suradi kemudian pergi ke PT Global Cipta Mandiri yang kantornya terletak di Kemang. Tiba di situ, dia menemukan suasana kantor terasa sepi. Tempat parkirnya yang luas itu terasa lowong, hanya ada beberapa mobil dan motor saja. Turun dari mobil, Satpam yang berjaga dengan malasan-malasan, ke luar dari gardu penjagaan dan menanyakan maksud kedatangannya.
“Saya mau menemui Bu Suzie.” Kata Suradi. Dia sengaja tidak mengatakan Bu Suzana, tetapi Bu Suzie, seakan ingin memperlihatkan kepada satpam itu seakan-akan dia kenal dekat dengan orang nomor satu di PT GCM tersebut.
“Sudah ada janji, Pak?”
“Belum. Soalnya ketika saya nelpon dia, tapi HPnya selalu tidak aktif.” Suradi berbohong.
“Maaf, Pak. Saat ini Bu Suzana tidak bisa menerima tamu siapa pun.”
“Oh, begitu ya?” Kata Suradi “Kalau Bu Linda masih di sini enggak?” Tanya Suradi.

Wajah satpam itu terlihat berubah ketika mendengar kata Bu Linda.
“Beliau dipindahkan ke Bandung.” Kata Satpam itu dengan wajah muram. “Padahal beliau sangat baik memimpin perusahaan ini.”
“Beliau memang salah satu top exekutif terbaik.” Kata Suradi. “Pindahnya sudah lama?”
“Ada setahun lebih.” Kata Satpam itu. “Ngomong-ngomong, bapak dari mana ya?”
“Saya kontraktor dari Majalengka. Kemarin lalu saya yang mengerjakan proyek di Kertajati. Kalau bisa, saya ingin ketemu Bu Suzie sekarang, saya ingin membicarakan satu proyek PT Global Cipta Mandiri yang terbengkalai.” Suradi tak sepenuhnya berbohong. Memang ada satu proyek yang terbengkalai di Kertajati, yaitu perbaikan pagar di sekeliling Bandara yang rusak.
“Tapi bagaimana ya…” Wajah Satpam itu terlihat suram. “Coba saya tanyakan dulu pada Bu Esther.”
“Bu Esther sekretarisnya ya?”
“Dia sekertaris perusahaan.” Kata Satpam itu. “Silahkan tunggu di Lobby, Pak.”
“Baik, terimakasih.”

Sekretaris perusahaan? Wah. Kebetulan sekali.

Duduk di Lobby yang ber AC, Suradi menekur memikirkan pertanyaan apa kira-kira, yang tidak secara saklek namun bisa mengungkap semua permasalahan.

Seorang wanita muda berpenampilan sangat menarik muncul. Dia mengenakan hem katun putih tipis dengan kerah berrenda, rok pendek dan sepatu hak tinggi. Kulitnya coklat terang dengan hidung mancung dan mata kecoklatan agak dalam. Rambutnya ikal. Suradi menarik nafas ketika dalam hitungan detik pikirannya melahap bentuk tubuh yang sintal itu. “Wanita type seperti itu adalah pekerja keras yang tidak suka berada di bawah, tapi di atas dengan gocekan seperti menggerus sambel di atas cobek. Hadeuuh.” Suradi mengeluh. Dia menduga wanita itu berusia sekitar 30-an.

Sekejap wanita itu menatap Suradi. Tatapannya tajam.

“Saya Esther.” Katanya sambil menyorongkan tangannya.
“Suradi.” Jawab Suradi sambil tersenyum dan menyambut jabatan tangan itu. Genggamannya yang lembut dan kuat. “Mungkin jepitannya juga.” Pikir Suradi. Dia cepat membuang jauh-jauh pikirannya yang agak menggila.
“Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa ingin bertemu dengan Ibu secara langsung?”
“Saya ingin membicarakan proyek perbaikan pagar Bandara Kertajati yang dimenangkan oleh PT Global Cipta Mandiri, kenapa sampai sekarang masih belum ada tindak lanjut ya? Apakah kontraktornya mengundurkan diri atau bagaimana? Karena kalau yang saya dengar, ada sejumlah kontraktor yang mendapat pekerjaan dari PT GCM banyak yang mengundurkan diri.”
“Terus maksud Bapak?” Wajah sekretaris perusahaan itu tampak tidak senang.
“Maksud saya, jika para kontraktor itu mengundurkan diri, kenapa saya harus berdiam diri? Saya bisa menggantikan mereka.”

Esther menatap Suradi dengan tajam, lagi.

“Pak Suradi tahu alasan mengapa mereka mengundurkan diri?”
“Ya. Mereka tersendat oleh cashflow perusahaan ini yang macet.” Kata Suradi. “Saya khawatir jika sampai dengan triwulan ke tiga tahun ini dan proyek-proyek itu tidak diselesaikan, ada kemungkinan kredibilitas PT GCM akan rusak, bahkan mungkin diblacklist oleh PT Angkasa Pura.”

Esther menarik nafas berat.

“Itu betul, Pak. Kami sedang mengalami gangguan kerusakan system.”
“Saya datang ke sini bukan tanpa alasan, Bu. Saya kira, jika kita mengerjakan proyek itu di luar system, maksud saya secara manual, mungkin permasalahan akan sedikit terselesaikan. Hanya saja memang pekerjaan administrasinya menjadi sedikit lebih melelahkan.” Kata Suradi. Tiba-tiba dalam kepala Suradi muncul sebuah ide yang biasa dilakukan olehnya untuk mendekati perempuan. “Sebentar, Bu Esther. Apakah Ibu yakin kita tidak pernah bertemu?”

Esther mengerutkan kening.
“Kita baru bertemu sekarang. Jangan sok kenal, Pak. Itu pendekatan kuno yang hanya berlaku bagi para ABG.”

Suradi tersenyum. Dia tahu perusahaan ini sedang kalut, otomatis karyawannya pun ikut kalut.
“Saya tidak salah lagi! Ya, di hotel Priangan!” Seru Suradi dengan wajah gembira. “Saya ketemu Bu Esther di hotel Priangan waktu ada Grand Launching Cireundeu Mall.” Kata Suradi. Dia sebetulnya tidak bersungguh-sungguh yakin Esther hadir di sana, hanya menebak-nebak saja. Suradi menduga, sebagai seorang sekretaris perusahaan yang notabene merupakan salah satu top manajemen, tentulah hadir di acara penting itu. Seandainya salah, Suradi bisa berpura-pura salah melihat orang.

Wajah Esther berubah.

“Pak Suradi diundang juga?”
“Kebetulan saya memesan salah satu ruko yang cukup strategis.” Kata Suradi. “Kalau system masih berjalan, Bu Esther bisa check saya di database, pasti ada.” Suradi ingat, dulu Melinda pernah mengatakan bahwa dia sudah dipesankan di salah satu ruko di Cireundeu Mall. Suradi berharap Melinda tidak berbohong.

“Coba saya check sebentar. Soalnya, kalau system database klien Halim Group di seluruh Indonesia, tidak bermasalah.” Berkata demikian, Esther meninggalkan ruang lobby tamu itu dan pergi ke balik dinding. Beberapa menit kemudian dia datang lagi dengan senyum.
“Ya, Pak Suradi ada di database. Hanya saja keterangan uang muka yang masuk belum jelas.” Katanya.
“Itulah masalahnya, Bu. Saya datang ke sini sekalian untuk menanyakan masa depan Cireundeu Mall. Kalau tidak salah, saya pernah baca berita bahwa aset Halim Group di Bandung dibekukan. Jadi saya harus berhati-hati.”

Esther menarik nafas berat.
“Entahlah, semuanya tiba-tiba berubah dan terasa sangat memberatkan.” Keluhnya.

Suradi mengangguk simpatik.
“Jadi, kesimpulannya saya tidak bisa bertemu dengan Bu Suzie, ya?” Suradi pura-pura mengembalikan pembicaraan ke arah bisnis.
“Begitulah, Pak.” Jawab Esther.

Suradi merasa sudah menarik perhatian Esther. Wanita ini mungkin sudah menikah, mungkin juga belum. Tapi kalau dilihat dari bahasa tubuhnya, dia terlihat seperti belum pernah mendapat perlakuan yang baik dari seorang lelaki. Hadeuh, Suradi merasa tertantang!
“Ya sudah kalau tidak bisa bertemu. Saya tak mungkin memaksa.” Kata Suradi. “Kalau begitu, saya pamit, Bu Esther. Saya sudah agak gemetar nih dari Majalengka belum makan.” Suradi berdiri dan menyorongkan tangan meminta jabatan tangan. Esther menyambutnya dan tangannya digenggam dengan lembut oleh Suradi. “Hm. Ada sedikit getaran.” Desis Suradi dalam hatinya.

Suradi melangkah menuju pintu ke luar diikuti Esther.
“Oh, ya Bu. Boleh minta rekomendasi resto mana yang paling dekat, tapi yang paling nyaman di sekitar sini untuk makan siang?”
“Mmm, mungkin di… tapi agak jauh… di Kemang’s Steak. Cuma memang agak mahal.”
“Di Jakarta mana ada yang enggak mahal, Bu.” Suradi berkata dengan senyum yang tulus.
“Saya… saya sebetulnya akan makan siang juga.” Kata Esther.
“Saya akan merasa terhormat jika Bu Esther mau menemani.”
“Tapi… ”
“Saya tahu Bu Esther sedang bekerja, jadi mungkin agak merepotkan.”
“Tidak, bukan itu. Saya kebetulan lupa membawa kartu kredit saya, jadi…”

Suradi tertawa lunak. Mana bisa orang lupa bawa kartu kredit jika punya.
“Saya traktir dan saya janji Bu Esther tidak berhutang budi apa pun.”

Wajah Esther tampak memerah.

“Tunggu sebentar, saya ambil tas dulu.” Kata Esther. Dia kemudian pergi dan menghilang di balik dinding. Suradi menunggu sekitar 15 menit. Ketika kembali, wajahnya sudah lebih cerah dengan bedak tipisnya. Dan lipstiknya pun tidak sepudar tadi. Suradi tersenyum, pasti Esther berdandan kilat dulu.
“Silakan, Bu. Saya mengikuti dari belakang. Mobil Ibu pasti yang merah itu, kan?” Kata Suradi waktu mereka melangkah menuju tempat parkir.
“Mobil dibawa suami.” Kata Esther. “Saya biasa diantar atau dijemput. Atau naik taksi.”
“Waduh!” Suradi pura-pura terkejut.
“Kenapa?”
“Enggak. Enggak apa-apa.” Suradi melangkah cepat dan pura-pura terburu-buru mendahului Esther. Dia masuk ke dalam mobil dan membereskan berbagai barang-barang dan berkas yang menumpuk di kursi penumpang depan. Suradi secara diam-diam sengaja menjatuhkan berkas pribadinya agar ditemukan nanti oleh Esther.
“Maaf. Berantakan.” Kata Suradi dan menarik tangan Esther untuk membantunya masuk ke dalam. Mobil double cabin itu cukup tinggi, apalagi bagi wanita yang mengenakan rok pendek dan berusaha menghindari agar roknya tak tersingkap.

Esther terlambat menyelamatkan pahanya yang mulus dan sebagian celana dalam G-Stringnya yang berwarna hitam dari pandangan mata Suradi. Lelaki itu tersenyum simpul. Seorang perempuan yang memakai G-String adalah orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, merasa seksi dan mendambakan kenikmatan.

Esther pura-pura tidak peduli pada kerling tatapan pada Suradi.

“Sebetulnya, selain mau bertemu dengan Bu Suzie saya ingin ketemu juga dengan Bu Linda.” Suradi menyalakan starter dan memundurkan mobil. “Kata Pak Satpam dia sudah pindah ke Bandung.”
“Sudah setahun lebih.” Kata Esther. Kakinya merasa tak enak menginjak sebuah berkas. Suradi mengerling memperhatikannya dan mematikan mesin mobil.
“Maaf, sebentar. Bagasi mungkin tidak ditutup dengan baik.” Kata Suradi. Dia turun dan memeriksa tutup bagasi. Tentu saja semuanya dalam keadaan tertutup rapat dengan baik. Tapi dia membukanya dan menutupkannya kembali. Suradi pura-pura sibuk.

Esther merunduk dan memungut berkas itu yang menggeletak di lantai mobil yang berlapis karpet empuk seperti karet. Bio data itu paling isinya hanya 5 atau 7 lembar. Sekilas baca saja sekarang Esther tahu kalau Suradi adalah seorang duda.
“Pantas matanya seperti kelilipan melihat paha aku.” Desisnya dalam hati merasa senang. “Mungkin dia adalah lelaki paling munafik yang pernah aku tahu. Tapi dia baik.” Katanya dalam hati. Esther merasa agak terkejut mengetahui dirinya memikirkan kontraktor itu. “Dia juga ganteng.”

Esther cepat menyimpan berkas bio data itu ke dalam tumpukan berkas lainnya di kursi penumpang belakang. Isi mobil ini seperti lemari remaja ABG yang seminggu tidak dirapikan oleh ibunya. Pikir Esther.

“Maaf ya.” Kata Suradi sambil menaiki kursinya dan duduk di belakang stir. Sekilas dia melihat berkas bio data itu sudah pindah ke kursi belakang.
“Gak pa pa.” Kata Esther. “Sekarang aku tahu kamu adalah duda.” Bisik Esther dalam hatinya.

Dia merasa sedikit lega, entah mengapa. Secara diam-diam Esther merasa kepo akan kehidupan duda di sebelahnya itu. Terlihat dia menyetir dengan sedikit melamun. “Mungkin dia masih terbayang dengan paha mulusku.” Kata Esther dalam hati. Jantungnya sedikit berdegup memikirkan seandainya duda itu merayunya. “Dia mungkin pengentot yang payah. Tapi aku bisa memintanya mengantar pulang dan membeli sejumlah kebutuhan di supermarket. Benar-benar sialan! Perusahaan ini mungkin akan bangkrut, sudah satu bulan gaji dan uang makan belum dibayarkan juga!” Kata Esther dalam hatinya.
“Memangnya ada keperluan apa dengan Bu Linda?” Tanya Esther. Dia mengerling ke arah Suradi. Semakin dia melihat, semakin terasa lelaki ini memiliki daya pikat.
“Apa? Maaf. Saya agak melamun.” Kata Suradi sambil terus melarikan mobil dengan kecepatan 60 km/jam.

Esther terkikik kecil. “Duda ini pasti tergoda olehku.” bisiknya dalam hati.

“Ada apa mau ketemu Bu Linda?” Kata Esther mengulangi. “Tuh, itu tuh tempatnya.” Dia menunjuk sebuah restoran di pinggir jalan yang terlihat sepi.
“Ini ya? Baik, kelihatannya nyaman.” Kata Suradi. “Bisnis tentu. Dia selalu memiliki jalan ke luar jika menghadapi saat-saat sulit seperti ini.”
“Ya. Dia memang hebat walau sadis.”
“Sadis? Kalian tidak dekat?”
“Dia sulit dekat dengan siapa pun. Dia banyak musuhnya.”
“Begitu ya?” Berkata begitu Suradi memasuki area parkir yang ternyata penuh. Dia memperhatikan dan mencari-cari tempat lowong untuk parkir. “Aneh. Kenapa banyak musuh?” Kata Suradi seperti menggerutu.
“Daripada banyak musuh, lebih baik banyak selingkuhan.” Kata Suradi lagi. “Berarti Bu Linda dipindahkan gara-gara musuhnya itu ya?” Suradi berkata datar dan tenang.
“Mungkin.” Kata Esther. Mereka telah menemukan tempat parkir dan turun bersama. Menyusuri trotoar resto berendengan. Esther merasa tengah berjalan dengan seorang sahabat lama. Dia merasa riang.

Karena memakai sepatu hak tinggi, Esther terlihat lebih tinggi dari Suradi.

Esther pernah dua kali berselingkuh. Pertama dengan seorang pejabat Pemprov DKI, seorang Kepala Bagian di Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan. Tapi tidak lama. Paling sekitar 3 atau 4 pertemuan, yang berlangsung di sejumlah tempat yang berbeda. Walau cukup tajir, tapi pejabat itu tidak cukup memuaskannya. Esther bosan dan meninggalkannya. Kedua, dengan Direktur Keuangan perusahaan, Pak Sanjaya, yang dimutasi ke Surabaya. Cuma sekali. Itu pun di ruang kerjanya ketika Bu Suzie sedang ke Medan. Dia menyesali perselingkuhan itu bukan saja karena kurang memuaskannya tapi juga karena Pak Sanjaya sangat pelit. Esther berhasil mengelabui Pak Sanjaya bahwa Esther telah dipuaskan olehnya. Berkaitan dengan hal tersebut, Esther merasa yakin kaum lelaki mudah sekali ditipu. Termasuk juga di dalamnya suaminya.

Mereka tiba di Lobby restoran dan petugas menanyakan meja mana yang akan mereka pesan.
“Silahkan Bu Esther aja yang pilih.” Kata Suradi.
“Saya ingin di tempat yang santai.” Kata Esther.
“Tempat yang santai? Kerjaan gimana?” Tanya Suradi tanpa bermaksud menghakimi.
“Tadi saya sudah izin sama Bu Suzana. Rencananya siang ini Bu Suzie akan melakukan meeting tertutup dengan Pak Winardi dan Pak Santoso.”
“Bisa pilih yang eksekutif atau yang VIP, Bu.” Kata Petugas itu.
“VIP saja.” Kata Suradi. Esther menatap Suradi dengan senyum dikulum.

Esther sudah beberapa kali makan di resto ini, tapi dia belum pernah memesan meja VIP.

“Pak Santoso itu siapa?” Tanya Suradi.
“Dia adiknya Pak Handono.”
“Oh.”

Mereka melangkah mengikuti seorang pelayan yang menunjukkan jalan, melewati suasana resto yang ramai. Meskipun dari luar terlihat sepi, ternyata restoran ini dipenuhi para pelanggan.

“Silakan.” Kata Pelayan itu dengan sikap sangat hormat.

Suradi menunggu Esther duduk dengan nyaman di kursi yang dipilihnya. Setelah itu barulah dia duduk di depan Esther.
“Pak Suradi sudah menikah?” Tanya Esther tiba-tiba. Suradi pura-pura menunjukkan wajah kaget.
“Sssudah.” Kata Suradi agak gugup, meskipun demikian, jauh dalam hati Suradi merasa senang. Esther sudah tahu status dirinya adalah duda.
“Bu Esther sendiri?”
“Saya juga. Suami kerja di Cirebon, anak satu, perempuan umur 5 tahun.” Jawab Esther tersenyum. “Benar-benar lelaki yang pandai berpura-pura.” Kata Esther dalam hatinya.
“Istri kerja?” Tanya Esther lagi.
“Yyya kerja.” Suradi menjawab seakan-akan dia tidak suka dengan pertanyaan Esther. “Pertemuan tertutup itu tentulah sangat penting untuk perusahaan.” Kata Suradi, seakan-akan mengalihkan pembicaraan. Suradi tahu persis, sebagai Sekretaris perusahaan, Esther tentulah memiliki informasi yang sangat mendalam dan akurat.

Esther tersenyum. “Lelaki itu tidak suka dengan pertanyaanku. Hm, aku jadi simpati. Dia mencoba menutupi ketidakbahagiaannya.” Kata Esther dalam hati. “Dia pasti bisa kugoda.”
“Ya, memang sangat penting. Tapi ini rahasia kita… mereka akan melakukan langkah-langkah pengambil alihan Halim Group secara besar-besaran.”
“Maksudnya?” Suradi bertanya dengan nada seakan tidak acuh.
“Pak Handono telah melakukan kesalahan besar mengajukan kredit 5 Triliun dengan mengagunkan sejumlah perusahaan dan itu akan berujung pada pidana. Pak Santoso berniat akan menutupi kredit itu dan akan mengambil alih Halim Group.”
“Gak ngerti ah, ribet. Ngapain juga Pak Santoso ikut campur masalah Halim Group.” Kata Suradi dengan nada santai.
“Itulah masalahnya… eh, maaf saya tidak bisa mengatakan hal itu. Itu rahasia.” Kata Esther. “Istri kerja di mana, Pak?”
“Di Bandung.”
“Wah, berjauhan dong.”
“Begitulah.” Kata Suradi. “Suami Bu Esther juga jauh kan di Cirebon?”

Esther tertawa kecil.
“I ya. Jatahnya seminggu sekali. Sabtu atau minggu. Tergantung situasi.”
“Itu cukup adil.” Kata Suradi datar.
“Kadang-kadang… kurang.” Esther berkata sambil tatapannya menyelidik ke arah Suradi. Lelaki itu sepertinya menundukkan wajahnya. “Pak Suradi sendiri gimana?”
“Eh, pesanan kita sudah datang.” Kata Suradi. Esther tertawa dalam hatinya, tentu saja lelaki itu tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. “Dia kan duda, mana punya jatah.”

Pesanan steak datang. Pelayan menata makanan di meja dengan sangat cekatan.
“Mungkin maksud Pak Santoso turut campur itu tujuannya baik.” Kata Suradi.

Esther tertawa.

“Bapak sangat pandai menghindari pertanyaan.” Kata Esther. “Seminggu berapa kali jatahnya, Pak?” Tanya Esther, maksa.

Suradi tersenyum. Esther sudah masuk ke dalam perangkapnya.
“Silakan, Bu Esther. Mungpung masih hangat.” Kata Suradi sambil mengambil garpu steak yang memiliki dua mata serta pisau stik yang bergerigi. “Hm. Ini steak tenderloin.” Kata Suradi. “Eh, maaf. Tadi soal jatah ya? Seharusnya sih sehari dua kali.”

Esther tertawa lagi. Kali ini dia benar-benar jatuh simpati pada lelaki itu.
“Dua kali? Rakus amat.”
“Bahkan bisa tiga kali.”
“Bohong. Enggak ada lelaki yang sekuat itu.”
“Jangan minta bukti, Bu Esther. Nanti ketagihan.”

Esther melotot. Dia penasaran dan bersemangat.
“Berani enggak ke toilet sekarang?” Tantang Esther. Suradi sudah menduganya.
“Saya bisa melakukannya sambil berdiri.” Kata Suradi, kalem.

Esther melempar lap tangannya ke meja dan bangkit berdiri untuk pergi ke toliet yang terdapat di ruang VIP tersebut. Suradi mengikutinya.
“Buktikan.” Kata Esther setelah berada di dalam toilet. Dia lalu mengangkat roknya dan menyibakkan G-Stringnya. Seketika memeknya yang berjembut lebat itu terpampang jelas. “Sambil berdiri.” Katanya.

Suradi mendekatinya dan melepaskan ritsluitingnya celananya, dia mengeluarkan batang kontolnya yang sudah menegang sejak mengkhayalkan wanita itu di ruang Lobby perusahaan.

Esther memandang batang kontol itu tanpa kedip. “Koq sudah tegang lagi.” Katanya dalam hati.

Suradi mendekati Esther dengan kontol mengacung dan berjalan dengan lutut agak ditekuk. Begitu tiba di depan Esther, Suradi menempelkan kepala kontolnya pada lubang memek itu dan menekannya hingga masuk.

Cleb!!!

“Akhhh…” Desah Esther. “Kontolnya langsung masuk, Pak. Tekan lagi yang dalam.”

Kedua tangan Suradi kemudian meraih pinggang Esther dan dengan menarik pinggang itu serta mendorong pinggulnya sendiri, batang kontol Suradi sukses masuk menembus liang memek Esther.

“Aghhh… enak, Pak. Ayo genjot.”

Suradi menggenjot pantatnya maju mundur dan membuat Esther berdesis-desis kepedesan.
“Akhh… enak… aghhh… terouussss… Pak…. genjot terousssss….. akhhhh…” Esther ikut menggoyangkan pinggulnya. Tidak menunggu lama, lendir dari memeknya pun berjatuhan menetes ke lantai.

Tanpa banyak bicara, Suradi mengentot Esther sambil berdiri.
“Pak Sur, aku ingin di doggy… akhhhhhhkkkkhhhhh…. kontolnya enak Pak…. akhhhh… Pak Sur… aku ke luar…. akhhh….”

Prot. Prot. Prot. Esther menyemprotkan lendirnya dengan sangat banyak sekali.
“Sudah cukup Bu Esther?”
“Pengen nambah. Pak Suradi masih kuat?”
“Masih.”
“Belum ke luar?”
“Belum. Masak baru 7 menit udah ke luar. Bu Esther aja yang udah ke luar duluan.”
“Oughkhkh… Pak Sur… genjot lagi yang cepet…”
“Cepetnya kayak gini?” Tanya Suradi sambil dengan sekuat tenaga mempercepat genjotannya dengan secepa-cepatnya.

Dalam keadaan diewe sambil berdiri, jelas sekali bibir-bibir memek Esther terbeliak-beliak dan mengeluarkan suatu buih seperti buih sabun deterjen.

“OOkkkkkhhhhhhh…. aku ke luar lagi… Pak Sur…. okkkkkkkhhhhhhh….”

Prot. Prot. Prooooooot.

Lantai toilet itu kini basah dan licin sebagai akibat dari tetesan lendir kenikmatan memek Esther yang terus mengucur.
“Bu Esther, sekarang gantian saya yang ke luar ya.”
“I ya Pak…. akhhh… silahkan…. Pak… keluarkan pejuhnya di dalam memek saya Pak… semprotin aja… akhhh… oughhhh…. ”

Suradi kemudian bersiap-siap menyemprotkan pejuhnya di dalam memek Esther. Dia menarik pinggang Esther hingga memeknya dan kontolnya benar-benar rapat menempel.

Srrrrr…… crot crot crot….

“Ougkhhhkhh…” Suradi mengeluh nikmat. Dia hendak mencabut kontolnya tapi Esther mencegahnya.
“Jangan dicabut dulu, Pak Sur, jangan dicabut dulu… adduuuuuuhhhh…. enak bener… nikmat bener kontolnya, Pak. Ough… tak sangka.”
“Cabut sekarang ya?”
“Jangan dulu, biarin 5 detik lagi…. akhhh….”

Bersambung

Daftar Part