. Suradi Adventure Part 46 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 46

0
182

Suradi Adventure Part 46

ANASTASIA MELINDA LIEM 11

Setelah seharian penuh menguntit Indra, akhirnya Suradi berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia telah dikhianati. Keempat orang lelaki itu berbicara dengan Indra di kafe yang terletak di pinggir Losmen. Suradi kemudian menyuruh Pak Amat memasuki kafe itu untuk menguping pembicaraan mereka. Tentu saja Pak Amat merasa senang. Dia bisa menguping sambil makan makanan enak yang terdapat di kafe itu.

Satu tahun yang lalu, Suradi merenovasi losmen itu. Indra yang merupakan owner Losmen itu, ikut pula memandori anak buahnya. Dia memakai celana pendek dan dengan sombong meperlihatkan sepatu kickersnya yang berwarna coklat dan bertali.
“Ini kalau di Indonesia harganya bisa mencapa 15 juta.” Katanya dengan sombong. Tapi anak laki-lakinya yang berumur sekitar 18 tahun, yang kebetulan ada pada saat itu menimpali Indra.
“Tapi sayangnya sepatu itu punya temen Papa.” Katanya.

Waktu itu Suradi hanya tersenyum. Tapi kini menjadi petunjuk.

Sekitar dua jam kemudian, Indra ke luar dari kafe dan berjalan menuju losmen. Beberapa menit kemudian Pak Amat ke luar dan menyebrang jalan, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang stir.
“Mereka menginap di Priangan.” Katanya. “Kita ke sana, Pak?”
“Tidak perlu.” Kata Suradi. “Apalagi yang Pak Amat dengar?”
“Mereka dimarahi bos karena gagal menangkap Bu Linda. Oh, ya Pak. Selamat ya, Pak Tono tadi nelpon dan mengatakan bahwa Bu Linda mengandung.”

Sepasang mata Suradi gemerdep oleh cahaya aneh yang berkilat. Dia tidak menjawab ucapan selamat dari Pak Amat. Wajah Suradi tampak mengeras dan gerahamnya seakan-akan bergerak-gerak. Selama beberapa saat Suradi terdiam.

Hatinya mengeras. “Aku akan punya anak darah dagingku sendiri.”

Suradi menyuruh Pak Amat pulang dan meminta handphonenya.
“Pak Amat beli lagi yang lebih bagus.” Kata Suradi sambil menyerahkan sejumlah uang. “Tolong sekalian isi pulsanya yang 100 ribu.”
“Siap, Pak.” Kata Pak Amat dengan sangat gembira. Uang 10 juta bukan jumlah yang kecil menurut Pak Amat.

Suradi melajukan kendaraannya, dia memasuki gerbang tol Padalarang menuju Cikampek. Dari Cikampek dia Ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, dia tak sanggup menahan untuk tidak menelpon Lin lin. Tapi dia kuatkan diri.
“Dia akan menjadi ibu dari anak-anakku.” Katanya. “Aku harus menjamin dia aman dari segala jenis ancaman. Handono tidak akan mungkin melepaskannya begitu saja. Saat ini, anak buahnya pasti terus dikerahkan untuk menemukan Lin lin. Aku tidak boleh lengah. Aku harus melangkah duluan.”

Hari menjelang malam ketika dia memasuki Jalan Rasuna Said dan menemukan hotel bintang empat milik Halim Group itu. Usai check in, memesan kamar dan membayar tunai, Suradi memasuki kamarnya dan memikirkan langkah-langkah yang direncanakannya.

Besok dia akan ke gedung KPK dan menanyakan perkembangan Kasus Handono Halim. Dia akan mencoba memahami permasalahan tersebut itu dengan sebaik-baiknya. Kalau perlu, dia juga akan berusaha menemui Handono Halim.

Suradi merasa yakin, apa yang dikatakan Lin lin bahwa Handono ditikam dari belakang oleh Winardi, bukanlah pendapat asal-asalan. Apalagi pendapat bodoh. Lin lin adalah top eksekutif di Halim Group, dia pasti lebih paham masalah internal perusahaan daripada dirinya.

Suradi juga pernah berbincang panjang lebar dengan Mami. Menurut Mami, Pak Handono menerima secara membabi buta segala apa yang dikatakan anak laki-lakinya itu. Padahal Winardi terkadang memberikan informasi palsu agar Papanya melakukan pengambilan keputusan sesuai yang diinginkan Winardi.
“Koq bisa? Darimana Mami tahu?” Tanya Suradi waktu itu, di ruang kerja Mami sebagai Manajer Kost.
“Tentu saja, Mami tahu. Mami kan kadang-kadang kerja jadi juru masak di rumah Pak Handono. Kadang-kadang aja kalau diminta. Mami sering ngobrol dengan para pembantu Pak Handono.”

Tapi Suradi berpikir, sehebat-hebatnya Winardi, sejahat-jahatnya dia, tak mungkin sanggup melakukan semua itu seorang diri. Dari sejumlah informasi yang dia kumpulkan dari berbagai sumber yang bisa dipercaya, Winardi memasuki dunia bisnis yang dimiliki ayahnya belum genap 10 tahun. Setelah lulus S1 di universitas khusus bisnis, dia meneruskan kuliahnya ke Australia dan tinggal lama di sana. Tak ada satu pun yang menyebutkan prestasinya di bidang akademis. Bahkan ketika dia ditunjuk sebagai direktur di PT Halim Developer Building, dia justru mencatat sejumlah kerugian. Hanya karena dukungan dan kerja keras Melindalah perusahaan tersebut lolos dari kebangkrutan.

Winardi itu bodoh.

Keesokan paginya, Suradi pergi ke gedung KPK dan berhasil menemui salah seorang penyidik kasus Handono Halim. Dengan menyandarkan diri pada kepentingannya sebagai seorang kontraktor yang pernah bekerja dengan Halim Group, dia menanyakan masa depan Handono dan Halim Groupnya.
“Soalnya, modal saya sangat terbatas, Pak.” Kata Suradi. “Apabila saya menginvestasikan seluruh modal saya untuk mengerjakan proyek-proyek yang ditawarkan Halim Group, kemudian macet. Bisa celaka hidup saya.”
“Sampai dengan saat ini, status Pak Handono masih sebagai terperiksa. Kami masih mengumpulkan bukti-bukti, apakah benar dia yang menjadi otak dari kredit bermasalah itu.” Kata sang penyidik.
“Jadi, dia belum tentu bersalah?”
“Kami punya keyakinan dia bersalah. Kami hanya belum menemukan bukti-bukti yang kuat.”
“Baiklah.” Kata Suradi. “Kalau begitu sebaiknya saya mundur dari semua proyek-proyek Halim Group.”

Penyidik itu mengangkat bahu dan tersenyum.

Bersambung

Daftar Part