. Suradi Adventure Part 44 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 44

0
200

Suradi Adventure Part 44

ANASTASIA MELINDA LIEM 9

Pak Tono memungut pistol mungil itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya yang berkancing. Dia menemani Giselle ke luar rumah dan meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan itu.
“Oh, sudahlah.” Kata Giselle. “Saya bersyukur semua sudah berlalu.” Katanya sambil masuk ke dalam mobilnya. Dia menginjak pedal gasnya dan membiarkan lambaian selamat tinggal Pak Tono tak berbalas.

Antara perasaan kesal dan memaklumi, Giselle melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, dia berkonsentrasi penuh mengendara. Sayangnya, meskipun dia bisa mengendalikan mobilnya namun dia tak bisa menyetir hati dan pikirannya. Suradi. Nama itu demikian pekat di hatinya.

Tapi Giselle menolak bahwa dia jatuh cinta kepada lelaki itu. Sebagaimana dia menolak jatuh cinta kepada Lawrence De Maupassant atau kepada John Kassinky atau kepada Paul McDermot Jr. Namun bahwa Suradi memiliki tempat khusus di hatinya, dia mustahil menafikannya.
“Oh, Tuhan! Apa yang terjadi dengan diriku?” Kata Giselle ketika memasuki apartemennya di Cicadas, melemparkan kunci mobilnya dan menghempaskan dirinya di ranjang yang sunyi.

Seminggu yang lalu, ketika Suradi memesan berlian seharga 2 milyar itu, hatinya sudah merasa tidak enak. Namun sesungguhnya, perasaaan pertama yang muncul ketika lelaki itu datang di tokonya di Jl. Braga, hatinya merasa berbunga-bunga. Giselle merasa Suradi datang untuk mengajaknya makan malam, bukan memesan berlian. Lelaki itu tidak cukup kaya untuk membeli berlian mana saja di tokonya.

Tapi Giselle keliru. Suradi memesan berlian terbaik yang dimilikinya. Bahkan nyaris tanpa menawar. Perasaan Giselle sedikit tergoncang.
“Kalau boleh tahu, siapakah wanita istimewa yang akan mengenakan kalung ini, Pak Sur eh Sur?”

Lelaki itu tertawa lembut seperti kebiasaannya.
“Kamu kenapa jadi kaku, Giselle? Kita kan masih berteman.”
“Oh, ya, tentu. Kita masih berteman. Tapi sekarang kau klien, jadi izinkan saya memanggil bapak, Pak Suradi.”
“Aku lebih suka kau memanggil aku Suradi. Lebih enak.”
“Oh, please. Jangan menggoda, aku tak akan menahan diri.” Giselle tersenyum.

Suradi memiliki gaya jentelman original ketika dia ingin mengatakan sesuatu dengan cara yang sejujur-jujurnya.
“Aku takkan berani. Mungkin aku kapok kepadamu.” Kata Suradi dengan ujung katanya diakhiri tawa kecil.

Giselle kecewa terhadap jawaban Suradi.
“Oke. Nah, katakan padaku, siapa wanita itu.”
“Hm. Namanya Linda. Minggu depan dia ulang tahun. Aku ingin hari itu menjadi hari istimewa.”
“Linda ya?” Giselle tiba-tiba merasa cemburu. Dia adalah salah satu pedagang berlian terbaik di Indonesia, tapi tidak pernah ada seorang lelaki pun yang mau bersusah payah membelikannya berlian khusus yang akan dipakainya dan tidak akan pernah dijualnya. “Tentu dia sangat cantik.” Kata Giselle.
“Ya. Melindaku memang cantik.”

Jleb! Jawaban itu menyakitinya.
“Ya, Tuhaaannnn apa yang terjadi dengan diriku.” Keluh Giselle. Perasaanya demikian nyeri seperti ditusuk-tusuk jika ingat bagaimana lelaki itu pernah ditinggalkannya tanpa kabar berita. Dia menyesal.

Giselle pergi ke buffet, menuangkan setengah gelas scocth dan melemparkan sebutir valium 10 mg ke dalam tenggorokkannya. Lalu menenggak minuman itu sekaligus.

“Bisa saja aku jatuh cinta kepadanya.” Kata Giselle, sebelum akhirnya dia melupakan semuanya ketika valium itu bekerja.

Dia terlelap dalam kesunyian.

Psikiater Siti Djuariah Mutaqien tiba di depan rumah yang berhalaman luas itu sekitar pukul 10 malam. Pak Tono menyambutnya dengan gembira.
“Terimakasih Bu dokter sudah mau datang.” Kata Pak Tono. Perempuan berusia sekitar 55 tahun itu tersenyum dengan bijak. Dia cukup tinggi dengan kerudung panjang menghiasi seluruh badannya.
“Siap, Pak Tono. Boleh tahu di mana pasiennya?”

Pak Tono setengah berlari menuju ke kamar. Dia mengetuk pintu pelahan.
“Bu… saya dipesan bapak memanggil dokter. Boleh dibuka pintunya?”
“Kaka pulang?”
“Belum, Bu. Bapak belum pulang.” Kata Pak Tono. “Tapi beliau ingin ibu diperiksa sebentar oleh dokter.”
“Saya tidak sakit.” Kata suara di dalam dengan lemah.
“Bapak sangat khawatir, Bu. Izinkan…”

Pintu dibuka.
“Masuklah, Bu dokter.” Kata Melinda. Matanya tampak sembab akibat tangisan yang terlalu lama. Psikiater Djuariah yang sudah berdiri di belakang Pak Tono, sekilas saja sudah bisa melihat bahwa wanita itu sedang tertekan.

“Silakan berbaring, Bu. Santai aja.” Katanya. “Boleh tahu nama lengkapnya?”
“Anastasia Melinda Liem.”
“Umur?”
“Hari ini saya 37.”
“Oh. Selamat ulangtahun, Bu. Semoga panjang umur.”
“Terimakasih.”

Bu Djuariah mengeluarkan stetoskop dan menempelkannya pada dada Melinda.
“Tarik nafas, Bu. Tahan sebentar… ya cukup.” Memasukkan kembali stetoskop itu ke dalam tasnya dan mengambil alat lain berupa pengukur tensi darah elektronik. Mengikatnya ke pergelangan bisep Melinda dan memompa benda bulat mirip balon karet kecil itu.

Bu Djuariah mengangguk-angguk.
“Tensinya sedikit tinggi, tapi normal koq. Apakah Ibu merasa pusing?”
“Sedikit, Dok. Tapi tidak mengganggu.”
“Baik.”

Psikiater adalah dokter medis yang mengambil spesialisasi di bidang psikologi. Pendekatan pertama yang dilakukannya terhadap pasien adalah pendekatan medis. Karena itu, Psikiater Djuariah agak sedikit kebingungan ketika sejumlah alat medisnya ada yang tertinggal. Dia agak lama berkutat dengan tasnya, mencari-cari sesuatu.

“Oh, alat testnya ketinggalan. Tapi tak apa, masih ada cara lain.” Kata Dokter Djuariah. “Maaf, Bu Linda, boleh ya saya minta sample urine-nya?”
“Boleh, Bu.” Kata Melinda menurut. “Saya ke kamar mandi dulu ya.”
“Ya, kira-kira seperempat gelas saja. Sekalian tolong bawakan saya pasta gigi.”
“Pak Tono, boleh saya carikan sendok plastik?”
“Siap, Bu.”

Melinda menyerahkan gelas sample urinenya dan walau tidak mengerti, dia menyerahkan pasta gigi itu ke dokter Djuariah. Pak Tono menyusul memberikan sebuah sendok plastik. Dokter yang berpengalaman itu sambil tersenyum menuangkan pasta gigi ke dalam sendok plastik lalu mencelupkannya ke dalam gelas berisi urine dan mengaduknya.

Urine yang semula berwarna kuning terang itu berubah menjadi biru dan sedikit berbusa. Dokter itu kemudian tertawa pelan.
“Ini sudah saya duga sebelumnya.” Kata dr. Djuariah dengan tersenyum. Dia menatap Melinda yang sedang kebingungan. “Selamat ya, sebentar lagi Bu Linda akan menjadi Mama.”

Melinda terbelalak.
“Maksudnya…dok… saya hamil?”

Bu Djuariah mengangguk.
“Bagaimana, Bu?” Tanya Psikiater Djuariah dengan tatapan menyelidik.
“Saya… saya bahagia, Dok.”
“Oh, syukurlah. Tapi Ibu harus hati-hati ya, usia 37 memang agak rawan untuk melahirkan. Terutama dari sisi psikis. Jaga makanan dan minuman, perbanyak buah-buahan dan sayuran. Jaga hubungan dengan suami. Jangan mudah cemburu atau curiga.” Kata dokter itu. “Jadi, pada dasarnya ibu enggak apa-apa. Ibu sehat wal afiat. Ibu cuma hamil, itu saja.”

Melinda meneteskan airmata. Rasa cinta dan sayangnya kepada Suradi tak lagi bisa diukur dengan apa pun.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler