. Suradi Adventure Part 43 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 43

0
194

Suradi Adventure Part 43

ANASTASIA MELINDA LIEM 8

“Hey, Gembil, minggir kamu!”
“Menyingkir!”
“Kasiin Suradi buat kita gangbang!”

Melinda menatap ke tiga perempuan itu dengan nyalang. Mereka melangkah pelahan dan dia mencoba mempertahankan Suradi yang tengah tidur pulas di sisinya.
“Aku akan membunuh kalian semua!” Kata Melinda.
“Ha ha ha… kau takkan bisa melakukannya Lin lin.” Kata Tante Melani.
“Ya, dia sudah kita hipnotis untuk memuaskan kita.” Kata Dewi.
“Elu gak kan bisa mempertahankan dia.” Kata Siska.

Tidak bisa! Tidak bisa! Tidak bisa!!! Teriak Melinda. Dia milikku. Aku akan mempertahankannya sampai mati.

Mereka semakin dekat dengan sikap mengancam. Melinda berdiri dan mengambil bantal, dia menyerang ke tiga STW yang kelaparan itu dengan bantal.

Prang!!!

Bantal itu mengenai bingkai foto di dinding. Melinda terperanjat. Dia bangun dan terlambat menyesali figura itu jatuh ke lantai.
“Aku bermimpi lagi.” Bisiknya dalam hati. Dia turun dari ranjang dan memunguti pecahan kaca. Menepikannya ke pinggiran dinding dengan hati-hati. Setelah berpakaian, dia memanggil bi Ijah untuk membersihkan pecahan kaca dan menyimpan figura yang rusak itu ke kamar kerjanya.

“Jam 11.” Desis Melinda. “Kenapa aku jadi sering tertidur ya? 2 jam lagi. Apakah aku jadi bertambah malas?”

Melinda mencari Suradi dan berniat menceritakan bingkai foto itu yang terjatuh dan kacanya pecah. Dia melangkah mendekati pintu kembar depan yang terbuka dan melihat lelaki itu mengenakan kemeja polo pendek dan celana jeans. Rambutnya yang sudah dicukur pendek, dibiarkan saja bagian ujungnya yang masih panjang itu dipermainkan angin. “Dia memang ganteng.” Bisik Melinda dalam hatinya.

Suradi tengah memeriksa mobil double cabinnya yang baru. Lalu telponnya berdering. Suradi mengangkatnya dengan tangan kiri dan menyalakan speakernya, sementara tangan kanannya sibuk membuka tutup bagasi belakang.
“Halloooo Giselle, aku nunggu-nunggu telponmu dari kemaren.” Kata Suradi, suaranya lembut dan ngebas. Melinda dapat mendengarnya dengan jelas dan tiba-tiba saja dia merasa cemburu.
“Maaf, Pak Sur yang ganteng… saya sibuk. Biasa kastamer yang cerewet. ” Suara itu terdengar manja. Tubuh Melinda gemetar.
“Gimana? Hari ini bisa kan?”
“Oh, i ya dong. Pasti. Kan Semua pembayaran sudah selesai.”
“Kalau bisa agak sore, yah. Biasanya Lin lin lagi sibuk di kamar kerjanya, jadi dia enggak akan tahu.”
“Siap, Pak Sur. Dikirimnya ke Kiarapayung, kan?”
“Yup.”
“Saya akan akan segera ke sana.”
“Giselle, kalau bisa…”

Melinda sudah tidak sanggup menahan diri, pembicaraan mesra Suradi dengan perempuan itu membuatnya menjadi gila karena cemburu. Dia berlari mendekati Suradi dan merebut Handphone yang sedang dipegang lelaki itu. Membantingnya ke tanah dan menginjak-injaknya.
“Kamu jahat! Kamu jahat!” Teriak Melinda sambil menangis.

Suradi tampak gelagapan.
“Lin lin, sayang, kamu kenapa?”

“Kamu jahat! Kamu penghianat! Kamu pembohong! Kamu tega mepermainkan perasaan aku! Kamu selingkuh!” Melinda menjerit-jerit. Lalu dia berlari ke kamar kerjanya. Membanting pintunya dengan keras dan menguncinya.

“Sayang… dengarkan Kaka… sayang!”
“Pergi kamu! Pergi! Aku benci kamu!!!”
“Sayang… dengarkan dulu.”
“Pergiiiiiiii!!!” Sebuah jeritan di dalam kamar demikian melengking dan menyayat.

Suradi menarik nafas panjang dan berat.

Dia berdiri selama hampir satu jam di dekat pintu.
“Sayang… Giselle bukan…”
“Kamu bohong! Kamu selingkuh!!!” Jerit Melinda di dalam kamar. Lalu, terdengar sebuah bunyi bantingan keras di pintu.

Brak!!!
Sangat keras. Suradi tak bisa menduga apa yang telah dilontarkan oleh Melinda ke daun pintu itu.
“Pergi kamu! Aku benci! Aku benciiiii” Dia menjerit-jerit.

Suradi akhirnya mengalah. Dia pergi ke teras depan dan duduk menekur di tangga. Pak Tono yang baru saja datang dari Cisaranten menghampirinya.
“Ada apa, Pak? Kok kelihatannya muram.”

Suradi diam sejenak. Kelihatannya dia sedang ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
“Pak Tono, saya sebenarnya agak ragu untuk pergi. Bu Linda kelihatannya kurang sehat… Saya akan pergi selama beberapa hari.” Kata Suradi. Suaranya agak gemetar.
“Saya bisa jaga dia, Pak. Mengapa harus khawatir?”
“Entahlah.” Kata Suradi. “Belakangan ini sifatnya koq agak aneh. Mungkin dia sangat tertekan dengan kasus itu.” Kata Suradi. “Barangkali Pak Tono bisa tolong nanti panggilkan dokter atau psikiater. Kalau Bu Linda sudah tenang, mungkin bisa diperiksa. Saya sebenarnya tidak tega meninggalkan dia dalam kondisi seperti itu. Tapi… tapi saya harus pergi. Pak Tono paham, kan? Ada banyak hal yang tidak diselesaikan hanya dengan telepon. Saya harus mendatanginya secara langsung.”
“Saya paham, Pak.” Kata Pak Tono.
“Kalau Bu Linda bertanya ke mana saya pergi, tolong sampaikan dia tak perlu khawatir. Saya pasti kembali.” Kata Suradi.
“Baik, Pak.”

***

Kamar kerja itu kini benar-benar berantakan. Kepingan-kepingan printer yang dilemparkan dan menghajar daun pintu itu, bergeletakan dilantai. Berkas-berkas dan aneka pajangan yang semula tersusun indah di office buffet, sudah amburadul sedemikian rupa.

Melinda menangis sesiang suntuk dan merasa terluka. Perasaannya tersayat-sayat pilu. Dia merasa hidupnya tidak berarti.

“Akan kubunuh perempuan itu!” Katanya dengan geram. “Lalu aku akan membunuh diriku! Hidupku sudah tidak berarti. Percuma saja semuanya.” Melinda mengambil pistol yang berisi penuh dengan peluru itu dari tas tangannya. “Andai seluruh manusia di dunia ini memusuhi dan menghianati aku, aku tidak peduli. Apabila semua lelaki di dunia ini selingkuh, aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Asal jangan Kaka yang menghianati aku, asal jangan Kaka yang selingkuh. Tapi sekarang Kaka sudah tega menyakiti aku. Hidupku tidak berarti! Hidupku hancur!”

Melinda sudah membulatkan tekad. “Percuma aku menangis terus di sini. Kaka harus lihat Lin lin nanti, meledakan pistol ini di kepala. Biar Kaka tahu bagaimana rasanya sakit hati ini diselingkuhi.” Kata Melinda.

Dia lalu duduk diam di meja kerjanya. Menekur. Hatinya hitam. Dari jendela, dia melihat senja yang sangat indah.

Senja indah untuk hati yang terluka.

Terdengar ketukan di pintu.
“Bu, maaf ada tamu.” Kata Pak Tono.
“Siapa?” Tanya Melinda.
“Bu Giselle.” Kata Pak Tono. “Dia tak bisa terima alasan, ingin ketemu langsung dengan Ibu.”

“Kebetulan sekali.” Bisik Melinda. Dia kemudian mengantongi pistol itu ke dalam saku celananya.
“Tunggu sebentar. Saya akan ke luar.”

***

Melinda melihat wanita yang bernama Giselle itu. Sangat cantik. Hidung mancung, mata besar biru muda, rambut pirang. Tinggi dan langsing. Usianya sekitar 40-an. “Pantas Kaka kepincut, dia turunan bule.” Melinda menggeram dalam hatinya.
“Selamat sore, Bu Linda. Maaf mengganggu.” Kata Giselle dengan ramah. Suaranya khas keturunan Indo. Wajahnya tampak berseri.
“Aku tak perlu basa-basi!” Melinda berkata kasar dan sinis. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Kaka?” Nada Melinda mengancam. Tangannya merogoh saku celananya.

“Berikan satu alasan saja agar aku tidak menembakmu!” Berkata demikian Melinda menodongkan pistol itu.

Giselle terbelalak. Dia gemetar ketakutan.

“Saya… saya… tidak mengerti maksud Ibu.” Katanya dengan tubuh gemetar. “Saya…”
“Cepat jawab!!!” Suara Melinda melengking tajam.

Pak Tono yang berdiri di ambang pintu ikut gemetar karena terkejut.

“Saya cuma… cuma…”
“Cuma apa?!”
“Sabar bu…” Pak Tono ikut menimpali.
“Diam! Pak Tono jangan ikut campur!!!”
“Saya cuma mengantarkan pesanan Pak Suradi.” Kata Giselle dengan nada ketakutan. “Saya berani sumpah, Bu. Saya tak pernah… saya tak pernah ada apa-apa dengan Pak Suradi… demi Tuhan, Bu.”
“Kamu jangan coba-coba berbohong. Peluru ini tidak akan berbohong!” Melinda menembakan pistol itu ke atas.

Dor!!!

Peluru menembus langit-langit. Giselle menjerit dan terduduk lemas di kursi ruang tamu. Pak Tono terhenyak, terkejut setengah mati.
“Ampun, Bu. Sumpah demi Tuhan! Saya hanya mau mengantarkan ini.” Seluruh tubuh Giselle benar-benar bergetar ketika mengeluarkan kotak indah berlapis beludru warna merah dari tas tangannya. Dengan ketakutan, dia meletakkan kotak itu di meja tamu.

Sepasang mata Melinda gemerdep melihat kotak itu.
“Buka.” Kata Melinda, suaranya menjadi lembek.

Giselle membuka kotak itu, seketika cahaya berkilauan berkilat dari sebentuk mata kalung yang sangat indah.

Melinda mendadak megap-megap. Tubuhnya mengejang.

Pistol itu terjatuh dari genggaman tangannya. Lututnya tak kuasa menopang beban tubuhnya. Dia terkulai di depan meja ruang tamu dan memeluk kotak beludru merah itu. Sepasang matanya yang mengembang berloncatan lelatu cahaya yang berasal dari mata kalung itu.

“Ini… ini berlian 24 karat.” Kata Giselle, suaranya masih gemetar oleh efek rasa takut yang belum hilang. “Pak Suradi memesannya satu minggu yang lalu.”

Tapi Melinda tidak mendengarkan apa yang dikatakan Giselle. Dia membaca tulisan kecil di dalam kotak beludru itu:

“Kalung kulit cuma tahan 100 tahun, tapi berlian ini abadi. Seperti kamu telah mencuri hidupku.
Selamat ulang tahun sayang. Kaka bahagia bisa mencintaimu”

Selamanya abadi,
Suradi.

Melinda menjerit diam.

Seluruh kemanusiaannya luluh. Dia memeluk kotak beludru merah itu dan melangkah terhuyung-huyung ke dalam kamar. Dia tahu dia bahagia. Tapi ironisnya, kebahagiaan itu pula yang menyakitinya secara brutal.

Tak ada seorang pun yang ingat hari ini adalah hari ulangtahunnya. Termasuk dirinya sendiri.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler