. Suradi Adventure Part 41 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 41

0
198

Suradi Adventure Part 41

ANASTASIA MELINDA LIEM 6

Suradi berdiri diam. Dia menyaksikan Melinda sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memejamkan mata. Lalu tiba-tiba saja Melinda tertawa.

Melinda mengenakan kaos dan celana boxer yang pernah dipakai Winda dulu. Wajah Melinda tampak lelah. Dia tak semuda dan sesegar Winda, itu jelas. Tapi wanita itu adalah cinta pertamanya. Dia tidak boleh membandingkan ke duanya, masing-masing memiliki kelebihan.

“Tertawa itu sehat, sayang. Tapi kalau sendirian, Kaka jadi khawatir.” Kata Suradi. Mesem.

Melinda membuka matanya dan melihat Suradi sudah ada di ruang tengah.
“Kaka…” Katanya. “Lama banget.”
“Kaka udah ngepak semua barang-barang kita. Ada di luar. Nih HP sama tas tangannya.”
“Tas kerja Lin lin?”
“Ada. Nih di dalam koper Kaka.”
“Koper baju Lin lin mana?”
“Ada di pick up. Mau diambilin sekarang?”
“Nanti aja. Kaka sini duduk di sini.” Melinda menepuk-nepuk ruang kosong sofa di pinggir kanannya.
“Kalau Dirut memerintah, asiap…” Kata Suradi. Dia duduk di sisi kanan Melinda.
“Keringatnya bau.” Kata Melinda.
“Biarin. Banyak yang suka koq.”
“Ih.” Kata Melinda. “Bau rokok.”
“Anak-anak nanti tidur di ruang tengah dan di ruang tamu. Kamu udah lihat kamar tamu? Itu besok kita jadikan kamar kerja Dirut.”
“Tadi Lin lin ke kamar Kaka.”
“Foto curian itu tidak boleh diganggu. Awas.” Kata Suradi. Wajahnya memperlihatkan ekspresi serius.
“Dulu Lin lin tembem ya?”
“Sekarang juga masih… tapi bawahnya.” Kata Suradi sambil mengelus bagian tengah selangkangan Melinda.
“Aaahh… gak mau dielus.”
“Kaka mandi dulu ya?”
“Gak perlu.”
“Eh, kan masih keringatan.”
“Biarin, Lin lin suka koq. Ayo sekarang.”

Mereka masuk ke dalam kamar dan beberapa menit kemudian beberapa anak buah Suradi yang sedang melakukan pemberesan barang-barang di ruang tengah itu, saling berpandangan karena mendengar suara erangan-erangan.
“Duh, si bos. Bikin ngiler kita aja.”

Perlu seharian penuh bagi Melinda untuk menata kamar tamu itu menjadi kamar kerjanya. Sore hari dia ke luar rumah dan menikmati senja. Bi Ijah menawarinya kopi.
“Loh, bibi ikut ke sini juga?” Tanya Melinda, sedikit heran. Bi Ijah tersenyum.
“Pokoknya bibi ikut ke mana Pak Suradi pergi, Bu.” Katanya. “Soalnya, bibi udah enggak punya siapa-siapa lagi.”
“Kan bisa ikut sama Bu Iis.” Kata Melinda.
“Enggak, Bu. Soalnya Bu Iis sudah punya pembantu sendiri, saudaranya sendiri.”
“Tadi bapak bilang mau pergi ke mana, Bi?”
“I ya, Bapak pergi pagi-pagi sekali. Katanya mau ke Pemprov terus ke Cisaranten.”
“Ya, udah. Bi, bikinin kopi satu.”

Senja di Kiara Payung terasa sepi.

Melinda berharap semua pesanannya bisa dipenuhi oleh Suradi. Laptop Core I8, V-Sat, Handphone dengan OS minimal Oreo, Kertas HVS dan A4 masing-masing 5 Rim dan kalau bisa mobil baru.

Tapi kepalanya tidak bisa melepaskan diri dari permasalahan Papa Handono.

“Semuanya tentu akal-akalannya Winardi.” Kata Melinda sambil menatap lembayung yang keemasan. “Hm. Tapi dia tidak mungkin bermain sendirian.”

Siapa kira-kira partner seimbang Winardi? Valentino Group? Tidak. Erwin Salim? Hm. Agak mustahil. Bagaimana kalau Tsuma Group? Tidak. Mereka tidak mungkin melakukan cara-cara kotor seperti itu. Mereka semua bersaing, kadang dengan cara bersih kadang dengan sedikit kotor. Tapi mereka tidak mungkin masuk begitu dalam ke keluarga Halim. Tak ada jejaknya.

Tapi siapa? Coba pikir Linda. Pikir!!!

Bersambung

Daftar Part