. Suradi Adventure Part 40 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 40

0
199

Suradi Adventure Part 40

ANASTASIA MELINDA LIEM 5

Malam datang membentangkan kelam. Melinda gelisah di dalam kamar. Beberapa kali Pak Tono mengetuk pintu kamarnya dan menawari makan malam. Tapi Melinda menolak.

Dia merasa sunyi. Dan tak bisa tidur.

Tidak ada laptop, tidak ada internet, tidak ada HP, tidak ada catatan, tidak ada apa pun untuk dikerjakan. Dia membuka lemari pakaian dan mengganti hem-nya dengan sebuah kaos murah bertuliskan “I love Cianjur” dan mengganti celana panjangnya dengan celana boxer. Melinda sedikit heran dengan selera Suradi dengan kaos dan celana murahan itu. Di sisi lain, ada sejumlah kemeja merk terkenal dengan harga ratusan ribu bahkan mendekati jutaan.

Pak Tono mengetuk pintu dan minta izin permisi ke Bandung.
“Sebentar lagi bapak akan datang, saya izin pulang dulu, Bu.” Katanya. “Kalau Ibu lapar, Usep sudah membuat nasi liwet dan ayam bakar tanah merah kesukaan Bapak.”
“I ya makasih, Pak Tono.” Kata Melinda. Dia merasa heran, baru sekali ini dia mendengar ada menu ayam bakar tanah merah. Kesukaan Suradi lagi.

Melinda memasuki ruang makan yang dirasanya terlalu luas. Dia mendekati meja makan dan membuka tutup anyaman bambu. Makanan itu disajikan dengan cara yang membuat selera makan Melinda langsung pergi entah ke mana. Sebuah ayam utuh berwarna putih kecoklatan sedang menungging di atas piring. Melinda dengan agak malas memotong satu kakinya dengan mudah. Dia lalu menggigit bagian pahanya dan melotot.
“Ini, enak sekali.” Katanya. Daging ayam itu rasanya lembut dan gurih. Dia pernah pergi ke Seoul, Tokyo dan Beijing dan merasakan cita rasa khas ayam buatan terbaik restoran-restoran ke tiga kota besar tersebut. Tapi tidak ada yang seenak ini.

Dua puluh menit kemudian ayam bakar tanah merah itu tinggal tulang-tulangnya saja.

Setelah mencuci tangan dan menggosok gigi, Melinda pergi ke ruang tengah dan menonton TV. Tidak ada yang menarik. Dia mematikan TV dan coba memetakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya dia hadapi.

Pengajuan kredit itu rasanya mustahil bisa direalisasikan tanpa adanya keterlibatan orang dalam. 5 triliun bukan angka kecil. Kapan Papa Handono mengajukan kredit itu? Tahun lalu? Dua tahun lalu? Kapan?

Kalau dua tahun lalu, Melinda merasa yakin pengajuan itu tidak mungkin tidak terdeteksi oleh Laptop perusahaannya. Bagaimana pun pasti ada suatu dokumen laporan atau dokumen pemberitahuan bahwa pengajuan kredit sedang dilakukan. Tahun lalu apalagi. Dia berkutat hampir setiap menit dengan lalu lintas laporan, baik di pusat mau pun di daerah.

Pengajuan kredit pasti dilakukan di luar sistem. Pasti. Tapi mengapa bisa?

Melinda berpikir keras. Dia tetap dengan asumsinya bahwa Papa Handono tidak mungkin berbuat tolol mengajukan kredit 5 triliun dengan jaminan 2 aset PT GCM dan PT PHB yang sangat menguntungkan.

Baiklah, mari kita hitung. Bisiknya. Bila di Bandung Papa membuat apartemen dengan jumlah 500 buah rumah dengan biaya 500 milyar, maka Papa harus menjual per rumah apartemen dengan harga 2 Milyar. Jika uang muka pengambilan apartemen 200 juta, maka pada tahun itu juga Papa sudah bisa melunasi hutang kredit 1/5nya. Dengan tenor cicilan 10 tahun, maka Papa bisa memetik keuntungan pada 5 tahun cicilan terakhir.

Hm. Lantas, mengapa Papa tidak buru-buru melakukan pembangunan apartemen? Mengapa tiba-tiba uang itu amblas ditelan bumi? Mengapa Papa tidak menyimpannya di Bank Sendiri? Lalu tiba-tiba Papa dituduh mengemplang duit negara?

Woy. Tunggu. Linda, pelan-pelan. Coba pikir dan bandingkan, berapa nilai agunan dan nilai kredit itu? Baik. Aset PT PHB dengan manajemennya taruh 2,5 T dan aset PT GCM dengan manajemennya taruh 4,5 T. Jumlah total 7 T.

Hm. Lucu kan?

Kamu ambil kredit 5 T, lalu tidak bisa bayar maka asetmu disita Bank. Bank tidak rugi. Tapi kamu yang rugi. Kamu memang punya duit 5 T tapi kamu kehilangan tanah, rumah dan pekerjaan. Bodoh sekali kamu.

Tiba-tiba Melinda tertawa sendirian.
“Semua ini sandiwara yang tolol!” Katanya dalam hati.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler