. Suradi Adventure Part 4 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 4

0
370

Suradi Adventure Part 4

Perasaan Suradi ringan dan tenang saat melewati jalan alternatif dari Kabupaten Cianjur ke Kota Cimahi. Walau jalannya tak semulus jalan raya provinsi dan agak melingkar, tapi lancar. Jalanan itu memang belum terkenal di kalangan para pengendara karena dianggap masih rawan. Dengan kepala setengah melamun, dia melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang.

Sebuah ledakan halilintar mengejutkan Suradi, lalu seperti tiba-tiba, awan yang memang sejak dari Cianjur setengah mendung pun menjadi gelap dan hujan pun turun deras. Dan terus bertambah semakin deras.

Suradi tahu medan yang akan dilaluinya, di bawah hujan, jalan alternatif itu sangat berbahaya. Apalagi kendaraan berbahan bakar diesel yang dibawanya adalah kendaraan tua yang sudah berumur 20 tahun. Daripada celaka, lebih baik dia mencari tempat berteduh untuk dirinya dan mobilnya. Syukur-syukur jika menemukan warung di mana dia bisa menikmati kopi dan beristirahat sejenak.

Pelahan Suradi melajukan mobilnya dan beberapa kali menemukan tempat yang cukup baik namun terus saja dilewatinya. Setelah lewat beberapa meter dia menyesalinya mengapa tidak berbelok dan berhenti di tempat itu. Sedikit merasa putus asa, Suradi terus melajukan kendaraan dengan sepasang mata lebih awas memperhatikan kalau-kalau ada tempat yang baik untuknya berhenti.

Ketika hujan semakin lebat, dari balik wiper yang sudah letih bergoyang-goyang, Suradi melihat warung itu. Ada tempat yang luas di sebelah warung itu untuknya memarkir kendaraan dan ada 2 motor teparkir kedinginan di depan warung.
“Nah, di sini.” Kata Suradi dalam hatinya. Dia berbelok dan memarkir kendaraannya. Mengambil payung di belakang jok, memasukkan HP ke dalam saku kemeja lengan pendeknya, mengantongi kunci mobil di saku celana, melipat ujung pantalonnya hingga kaos kakinya terlihat semua lalu membuka pintu. Dia mengembangkan payung dan ke luar dari mobil. Menutup pintu mobil dengan sekali banting.

Suradi mengira warung itu adalah warung kelontong yang secara umum banyak terdapat di jalan-jalan pinggiran kabupaten. Dia melangkah menuju selasar warung dan mendekati etalase kaca yang memperlihatkan berbagai barang yang sangat umum dijual. Mie instan, sabun, kue-kue kemasan, koipi dan lain-lain.

Suradi menutupkan payungnya sambil celingukan mencari penjaga warung. Tidak ada. Dia kemudian melangkah ke pinggir warung dan menemukan sebuah gang yang sudah diplester semen. Dari gang itu dia melihat ada beberapa orang terhalang tembok rumah, sedang duduk-duduk.

Suradi melangkah melewati pinggiran warung dan dinding rumah yang merupakan bagian besar dari warung itu. Tiba di ujung, Suradi tersenyum. Di situ ada lebih dari selusin orang sedang duduk di bangku-bangku panjang yang terbuat dari papan serta meja-meja yang dilapisi karpet plastik bermotif lingkaran warna merah muda.
“Silakan, Pak.” Sebuah suara merdu mengelus telinganya yang dingin karena hujan. Suradi melirik ke arah suara itu. Seorang perempuan STW dengan dandanan khas daerah pinggiran sedang menatapnya. Eh, ternyata di situ ada warung lain. Judulnya, sedia mie rebus dan bakso. Wah.

Suradi membelokkan langkah mendekati STW tersebut. Tersenyum. Suradi tahu bahwa walau pun dia agak sulit dikatakan ganteng namun dia memiliki pembawaan kharismatis. Tingginya sedang, 165 cm, kulit coklat terang, rambut ikal pendek jarang disisir dan sorot mata yang lembut. STW itu seperti terperangah. Mungkin karena agitasi dari sisa-sisa minyak wangi yang masih menempel di tubuh Suradi telah menyerang hidung kewanitaannya.
“Ada apa aja ya, teh?” Tanya Suradi dalam bahasa Sunda yang halus.
“Biasa, Pak, mie dan kopi.”
“Ya, udah. Kopi aja.”
“Mau sama rotinya, Pak?”
“Boleh, kalau ada roti tawar.”

Suradi membalikkan badan, matanya mencari-cari meja kosong yang kira-kira tepat untuknya duduk.

Di meja terdekat sebelah kiri, ada 3 orang lelaki desa seumurannya duduk bercengkrama. Agak di tengah, empat orang pemuda seumuran mahasiswa duduk saling berhadapan dan sibuk bermain HP, paling ujung kosong. Di meja terdekat sebelah kanan, ada empat orang cowok abg tertawa-tawa. Meja tengah dan paling ujung dipenuhi siswi-siswi berseragam putih abu. Semua cewek SMA itu memesan mie yang sudah mereka habiskan dan mangkok-mangkok kosong itu masih tergeletak di atas meja.

Mau tidak mau Suradi melangkah di antara jajaran meja sebelah kiri dan kanan, menuju meja kosong itu. Sekilas dia melirik cewek-cewek itu. Semuanya manis-manis.
“Memeknya juga pasti manis-manis.” Pikir Suradi.

Duduk di pinggiran bangku, Suradi tidak bermaksud biar lebih dekat dengan cewek-cewk itu, tapi menghindari cipratan air hujan yang semakin deras. Dari tempat duduknya kini, dia bisa melihat bagian depan mobilnya yang digebuki air hujan.

Suradi melihat jam di HPnya, pukul 02:10. Dan dia ingat dia belum makan siang. Ketika pesanan datang, HP berdering dari istrinya.
“Pah, di sini hujan lebat, perabotan-perabotan bekas itu kehujanan.”
“Biarin aja.” Kata Suradi. “Teh, kopinya satu lagi dan air putih panas segelas besar ya.”
STW itu mengangguk. Kelihatannya dia mencoba menguping pembicaraan Suradi.
“Papah lagi dimana?”
“Di warung kopi mah, lagi berteduh. Di sini juga hujan lebat.”
“Ya, udah. Hati-hati di jalan ya.”
“Ya.”

Suradi menyikat habis 2 buah roti kemasan dengan label harga Rp.2000 itu. Menyesap kopi dan menyalakan rokok. Ketika pesanan kopi yang kedua dan air putih panas itu datang, gelas kopi pertama sudah habis setengahnya.

Sambil menikmati kopi dan kreteknya, diam-diam Suradi memperhatikan ke delapan cewek itu. Di antara mereka, hanya 2 orang yang tidak melepas kerudung sedangkan sisanya membiarkan rambutnya tergerai. Dua di antara 6 orang yang melepas kerudung itu menggunakan kerudungnya untuk mengeringkan rambut.

Suradi memperhatikan satu-satu cewek itu. Ada yang manis, ada yang semok, ada yang toge, ada yang putih… semua menjanjikan kenikmatan kepada kelelakiannya yang kini tiba-tiba saja terbangun. “Edan, pikiranku ngelantur.” Katanya dalam hati.

Tapi cewek yang hitam manis itu mencuri perhatiannya lebih dari yang lain. Matanya besar, hidung mancung, rambut ikal, nenennya sedikit toge dengan bodi cenderung kurus. Wow. Itu adalah type yang disukainya.

Suradi ingat, dulu waktu ke Medan, dia pernah bercinta dengan STW keturunan India. WOTnya mantap, bikin ketagihan.

Hujan mulai reda walau masih deras. Air putih dan kopi ke dua tinggal setengahnya. Jam di HP 02:35. Otaknya kehilangan akal untuk mencari cara agar bisa mengobrol dengan cewek-cewek itu. Dia tak berani nakal kalau tidak dimulai duluan.

Akhirnya, hujan berubah menjadi gerimis. 3 orang lelaki desa meninggalkan tempat duduknya dan membayar ke perempuan STW itu.

Suradi menenggak kopinya yang mulai dingin sampai habis. Lalu meneguk air putihnya, juga sampai habis. Dia membiarkan kunci mobilnya tergeletak di bangku tempat duduknya, dia sengaja mengeluarkannya dari saku celana, lalu berdiri dan melangkah menuju perempuan STW itu dan membayar harga yang diminta. 10 ribu perak.
“Teh, boleh ikut buang air kecil.” Kata Suradi dalam bahasa Sunda.
“Oh, i ya, silakan. Yang itu pak kamar mandinya.” Kata perempuan STW itu.

Ketika kencing, Suradi berbisik kepada adik kecilnya yang setengah tegang.
“Sabar, ya, tol. Jangan marah. Abg-abg itu sudah membikinmu tergoda untuk menyelonong ke situ kan?”

Suradi tersenyum sendiri. “Aku sudah edan.” Katanya dalam hati.

Ke luar dari kamar mandi, Suradi pura-pura meraba-raba saku celananya seperti orang bingung.
“Om, pasti lagi cari ini.” suara khas abg itu terdengar demikian indah di telinga Suradi. Dia sudah menduga, cewek-cewek itu akan dengan mudah menemukan kunci mobilnya dan karena tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa nyetir, tentu saja mereka tak akan punya niatan untuk mencuri mobilnya. Tapi bahwa si hitam manis itu yang mengacung-acungkan kuncinya, itulah yang membuat Suradi merasa terekstasi.
“Ah, i ya. Makasih banyak ya cantik.” Kata Suradi dan menjemput kunci itu dengan sedikit nakal memegang tangannya. Eh, dia biasa saja tuh.
“Winda, cepet bayar.” Seorang temannya berkata kepada cewek hitam manis itu. Oh, namanya Winda.

Suradi segera mencegah tangan cewek itu untuk mengambil uang dari dalam tas sekolahnya. Kulitnya tangannya lembut.
“Berapa, teh?”
“Tadi pake baksonya dua ya? 10 ribu.” STW itu berkata sedikit ketus. Suradi membayarnya sambil menebarkan senyum.
“Eh, Om, pulangnya mau ke arah mana?” Cewek montok berkulit putih itu bertanya.
“Ke arah sana, ke Cimahi. Emang ada apa?”
“Kita semua boleh numpang ga Om?” kata cewek yang lain.
“Tentu saja boleh kalau mau di belakang.”

Mereka berteriak: horeee…
“Kamu mau ikut juga, Win?” Tanya Suradi.
“I ya atuh Om, duduknya di depan.” Katanya. “Eh, kalian semuanya ya duduknya di belakang, cuma akyu yang di depan.” tambahnya.

Huuuu…

Cewek montok berkulit putih kelihatannya sedikit kecewa.
“Dasar si Winda centil!”
“Biarin, wew.” katanya. “Akyu sama Om di depan.”

Sementara itu si perempuan STW terlihat kesal, dia menendang ember kosong hingga bergulingan di lantai.

***

Sisa gerimis masih ada. Cewek-cewek yang berada di bak mobil sangat riuh. Suradi melajukan mobilnya pelahan dan tenang.
“Rumah kamu di mana, Win?”
“Masih, jauh Om. Di Tegalsari.”
“Sudah punya pacar?”
“Sudah.”
“Ehem. Asik dong.”
“Asik apanya Om?”
“Pacarnya masih sekolah atau udah kerja?”
“Udah kerja, Om di Bandung.”
“Kamu sekarang kelas berapa?”
“Kelas 12, Om.”
“Kalau udah lulus mau kerja atau nerusin kuliah?”
“Entahlah, Om. Mungkin langsung nikah sama si aa.”

Tiba-tiba terdengar bunyi pukulan dari belakang jok.
“Om, stop di sini.”
“Kiri kiri.”

Suradi menghentikan mobilnya. Beberapa cewek berloncatan dari bak mobil.
“Makasih ya Om. Dah semua.”

Beberapa puluh meter kemudian, suara pukulan itu berbunyi lagi. Semua penumpang di belakang turun. Tinggal mereka berdua. Jantung Suradi berdebar. Mungkinkah adik kecilnya menemukan kehangatan di dalam liang lembut itu? Kalau tidak memungkinkan, ya sudah. Jangan memaksa.

Suradi melajukan kembali mobilnya. Dia menduga-duga apakah Winda pernah melakukan hubungan intim dengan pacarnya. Kalau sudah, tentu lebih baik. Sudah ada orang yang mendahuluinya memecahkan keperawanannya.

Mereka berbicara santai. Winda tidak rese dan sok alim. Pembicaraan mengalir tenang.
“Om, boleh ga Winda terus terang?”
“Wah, terus terang apa? Boleh dong.”
“Entar di depan ada tukang service HP, mm Winda mau ngambil HP Winda yang udah selesai diservis. Tapi, Om, uangnya kurang.”
“Kurangnya berapa?”
“190 ribu.”
“Total biaya servisnya berapa?”
“200 ribu.”
“Itu mah bukan kurang atuh…” Suradi tertawa. Cewek itu juga. “Kesempatan nih.” Pikir Suradi.
“Ya, udah. Nanti Om bayarin?”
“Serius, Om?”
“Ya, seriuslah. Paling nanti Om minta cipok dikit boleh kan?”

Sepasang mata besar itu tampak berbinar-binar. Tiba-tiba dia menyorongkan mulutnya ke pipi Suradi dan menciumnya. Cup. Mmmuuaah.

Aw!!! Suradi merasa kesetrum.
“Nah, itu Om tempat servis HPnya.”

Counter HP sekaligus tempat servis terlihat sepi. Mereka turun dan mengambil HP Winda, Suradi menarik uang 2 lembar pecahan 100 ribu dan memberikannya kepada Winda.

Winda dengan gembira mencoba-coba HP dan meminta selfie bersama Suradi.
“Koq hasilnya gelap?”
“Habis mendung sih.” Kata Winda. Tiba-tiba hujan turun kembali dengan deras, mereka memepet ke etalase counter menghindari cipratan hujan. Winda yang berada di depan Suradi memepet hingga bokongnya mengenai adik kecil Suradi.

Duh! Keluh Suradi.

Suradi sekilat memperhatikan tukang service itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Selfie lagi, Om.”
“Okey.”

Suradi menundukkan kepala, kedua tangannya memeluk perut Winda dan dengan kecepatan kilat mencium bibir cewek itu selama dua detik. Bibirnya begitu lembut dan hangat…. dan ada reaksi balasan.

Kedua lengan Suradi merasakan degup jantung pada lembut kenyal kedua payudara cewek itu.

Cepret.
“Gambarnya masih jelek.” Kata Suradi.
“I ya.” Terdengar suaranya gemetar. “Makasih ya Om.”
“Sama-sama, cantik.” Bisik Suradi di telinga cewek itu.

Mereka, entah bagaimana, tiba-tiba saja bergeser bersama ke arah lekukan tembok di samping paviliun itu, yang menyembunyikan mereka dari jalanan yang hujan dan gelap dan dari tukang servis itu.

Kedua tangan Winda meraih kepala Suradi untuk menariknya ke bawah, sementara wajahnya sendiri sudah tengadah dengan bibir membuka. Pertemuan bibir antara dua insan itu tak terhindarkan lagi. Mereka saling memagut dengan lembut. Sementara itu, jari jemari Suradi meremas kedua bukit payudara Winda yang lembut kecal dan mengeras di ujungnya.

Dari balik celana pantalonnya, kontol suradi sudah menegang dan mengeluarkan suhu panas yang bisa dirasakan oleh pantat Winda.

“Sudah, Om. Nanti ketahuan orang.” Kata Winda, suaranya gemetar. Dia tahu, pada ujung memeknya ada sesuatu yang meleleh. Sejak awal ketika Winda melihat Suradi memesan kopi, dia sudah tergoda oleh cara bicaranya dan sikap tubuhnya.
“Om, ke mobil yuk.”
Suradi mengangguk.
“Ayo jalan.” Kata Winda, saat mereka sudah duduk di jok.
“Oke, Cantik. Sabar.”
“Om, sudah punya istri ya?”
“I ya. Kamu juga kan punya pacar.”
“Menurut Om, Winda cantik atau jelek?”
“Cantik. Sangat cantik.”
“Tapi Winda item, Om.”
“Justru kulitmu yang membuat kamu menjadi sangat cantik.”
“Tadi kenapa Om mencium Winda?”
“Karena suka. Tapi kenapa tadi kamu membalas ciuman Om?”
“Sama, karena suka.”
“Mau lagi?” Tanya Suradi.
“Kalau,Om?”
“Mau. Kamu?”
Dia mengangguk. “Om, belok di situ.”
“Kenapa belok?”
“Pokoknya belok.”

Suradi membelokkan mobillnya memasuki jalan aspal kecil yang tertutupi ilalang. Di situ ada tanah datar yang luas, ditumbuhi ilalang di san sini. Suradi merasa yakin, itu adalah proyek perumahan yang terbengkalai.

Suradi menghentikan mobilnya di bawah pohon. Hujan bertambah deras. Dia kemudian menoleh dan menemukan Winda sedang menatapnya. Suradi mencium bibir Winda dan mendapatkan balasan yang lebih hangat. Jari-jemari Suradi membuka satu kancing baju seragam Winda, kemudian masuk dan mencari-cari buah dadanya yang lembut kenyal dan berdenyar. Putingnya yang mengeras dipilin lembut dengan jari tengah dan jempolnya.

Remasan jari jemari Suradi berpindah dari satu bukit ke bukit lainnya. Dia melakukannya secara lembut dan sistematis secara ritmis berulang-ulang. Kemudian tangannya pergi dari situ untuk membuka kancing-kancing yang lain. Kemudian, ketika semuanya terlepas, Suradi menarik kaitan BH Wulan yang terletak di tengah-tengah agar penutup bukit lembut itu terbuka. Suradi melepaskan kuluman bibirnya pada bibir Winda dan berpindah mengulum pentil susu cewek itu. Sementara itu, tangannya berpindah operasinya ke betis Winda, naik pelahan mengusap-usap pahanya. Dan menemukan ujung celana dalam Winda sudah basah kuyup oleh lendir kenikmatan.

Ketika jarinya menyentuh-nyentuh celana dalam basahnya, sebuah desahan lembut terdengar indah di telinga Suradi.
“Akhh…”

Melalui pinggiran celana dalamnya, jari jemari Suradi menyelusup untuk melakukan kontak langsung dengan memek Winda. Mengoles-olesnya, mengobelnya dan mempermainkan klitorisnya.

Tiba-tiba Winda mendorong kepala Suradi dan melepaskan diri dari kuluman di puting susunya. Dia memandang Suradi dengan mata sayup.
“Om, Winda sudah ga tahan.” bisiknya.
“Kamu mau?”
Winda mengangguk. Kedua tangannya kemudian melepaskan sepatu dan celana dalamnya. Sedangkan Suradi buru-buru melepaskan ikat pinggang dan kancing celana panjangnya, lalu menurunkan pantalon dan celana dalamnya melewati dengkul.

“Tak secepat ini.” Bisik Suradi dalam hatinya ketika melihat Winda naik ke atas jok dan berdiri dengan badan membungkuk, kakinya melangkah ke pinggir melewati persneling dan berdiri memantati wajah Suradi.

Suradi mengangkat Rok Winda yang lebar dan menciumi buah pantatnya yang halus, menjilati anus dan bagian bawah memeknya yang basah. Lendir itu terasa manis bagi Suradi. Bibir-bibir memek Winda yang tebal dan tembem membuat Suradi merasa masih penasaran untuk bermain-main dengannya lebih lama lagi.

Tapi sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Winda menurunkan pantatnya dan menjongkoki kontol Suradi yang sudah menegang keras.
“Tak mungkin secepat ini.” Kata Suradi dalam hatinya saat tangan yang lembut itu meraih batang kontolnya yang panas, menggenggamnya dan mengarahkannya agar tepat berada di mulut liang memek Winda yang juga terasa panas.

Suradi mengeluh ketika Winda menggerakkan pantatnya sehingga kepala kontolnya itu masuk ke dalam liang memeknya. Blessshhh…
“Aghkhkhhh…. ”

Sebuah sensasi kenikmatan kini mengguncang Suradi. Di dalam liang itu, batang kontol Suradi sedang dicambuk-cambuk oleh pecut kenikmatan yang tak terperi. Dia nyaris tak sanggup menanggung goncangan syaraf kenikmatan yang ditimbulkan karenanya.

Winda menurunkan ke dua kakinya hingga mencapai bagian bawah mobil, menduduki paha Suradi dengan kedua buah pantatnya yang lembut dan kenyal itu menempel pada pangkal paha lelaki matang berpengalaman yang berumur 40 tahun itu.

“Oughh… tidaak…” keluh Suradi.

Kedua tangan Winda sekarang memegang stir dan memanfaatkannya untuk mendapatkan tenaga, agar dia bisa memantul-mantulkan pantatnya naik turun dengan baik. Selain memantul-mantulkan pantatnya, Winda juga melakukan goyangan ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang dan goyangan memutar yang membuat Suradi hanya bisa memeluk perut cewek itu dan menempelkan pipinya pada punggung Winda.

Suradi merasa mustahil bahwa liang memek yang mengulum batang kontolnya sekarang ini, sama dengan liang-liang memek lainnya yang pernah dia masuki. Tidak. Daya jepit dan kedutan-kedutan yang ditimbulkannya berdampak lebih dahsyat dari yang pernah dirasakan sebelumnya.

“Om sshh… sekarang ya Om.” Katanya. “Winda sudah ga kuat pengen ke luar.”
“Ya, cantik. Sama-sama ya. Om ke luar di dalam ga pa pa?”
“Di dalam aja Om, ga pa pa.”
“Yuk.”

Mereka mengejan bersama. Sebuah semprotan yang memuncrat keras meledak di mulut kontol Suradi. Dia memeluk Winda dengan erat, seakan-akan ingin bertahan dari terjangan badai kenikmatan yang mengamuk dahsyat di seluruh bagian-bagian syarafnya.

Selama beberapa saat Suradi terus memeluk Winda. Dengkulnya berkeriat-keriut seperti ngilu ketika kontolnya berkerut dan Winda melepaskan kuluman memeknya. Dia berpindah ke kursi sebelah dan mengambil tissue di dasbord, mengelap bagian-bagian tertentu di selangkangannya.

Suradi melakukan hal yang sama. Dia melap batang kontolnya yang setengah tegang dan mulai mendingin dari lendir yang mulai mengering.

Winda memakai kembali celana dalamnya dan mengenakan sepatunya lagi. Dia menoleh ke arah Suradi dan menjangkau pipinya untuk dicium.
“Om, makasih.” Bisiknya. “Kontol Om enak.”
“Winda cantik… yang barusan adalah yang terbaik selama hidup Om.” Kata Suradi.

Winda tersenyum.

Hujan masih mengucur deras ketika mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Winda sudah mengenakan kerudungnya kembali dan memeluk tas sekolah di pangkuannya. Tapi dia merasa ragu ketika Suradi bersikeras mengantarnya sampai rumah.
“Emang kenapa? Takut apa?” Tanya Suradi datar. Dia melirik cewek itu dengan ujung matanya. Bahkan jika dibandingkan dengan memek neneng, memek Winda sangat jauh sensasinya, dia telah memberikan suatu surprise berefek sangat “wow” pada kontolnya. “Mustahil dilupakan.” Desis Suradi dalam hatinya.
“Soalnya di rumah engga ada apa-apa Om, lagian rumah Winda jelek.”
“Terus, masalahnya apa?” Kata Suradi. “Om takkan membiarkan Winda kehujanan. Nanti sakit.”
“Tapi..”
“Sudah, kita mampir ke warung itu sebentar. Belilah semua yang kamu perlukan dan inginkan.”
“Maksudnya Om?”
“Ayolah Winda yang cantik… jangan bilang engga ada apa-apa di rumah. Warung itu kelihatannya cukup lengkap…”

Winda terdiam sebentar. Matanya mengerjap-ngerjap.

“Kalau begitu, jangan di warung itu Om. Nanti setelah warung itu ada warung lain yang lebih lengkap. Apakah Winda boleh belanja apa aja?”
“Boleh. Kalau perlu, borong saja semua isinya.”
“Om becanda.”
“Tidak. Om serius.”
“Sungguh?”

Suradi mengangguk sambil tersenyum.

Tiba di warung yang cukup besar itu, Winda masih merasa ragu. Tapi Suradi meyakinkannya dengan tegas, jangan ragu! Beli apa yang bisa dibeli.

Hanya dalam hitungan waktu 30 menit, Winda telah menyelesaikan semua pembelian barang-barang yang dibutuhkannya. Dari beras 1 karung, mie instan, segala jenis tetek bengek bumbu dapur, sabun mandi dan cuci, shampo, odol, sikat gigi dan entah apa lagi. Suradi tak peduli. Dia merasa bahagia melihat abg itu senang.

“Jadi semuanya berapa, Pak?” Tanya Suradi pada penjaga warung yang melayani pembelian itu. Setelah memencet-mencet kalkulator, penjaga warung yang kemungkinan besar juga adalah pemilik warung tersebut berkata, “Satu juta dua ratus ribu 51 ribu rupiah. Dibulatkan aja jadi satu juta 250 ribu, Pak.”
“Baik.” Kata Suradi. Dia mengeluarkan dompetnya dan membayar harga yang diminta.

Karena hujan masih deras, semua belanjaan disimpan di depan di bawah dashboard.

Mereka melanjutkan perjalanan. Berkali-kali Winda menciumi pipi Suradi dan mengucapkan terimakasih. Diciumi seperti itu, kontol Suradi yang belum lama muntah pejuh, bangun lagi. Edan elu, tol!!! Suradi memaki dalam hatinya.

Setelah memasuki sebuah jalan aspal rusak yang sempit dan agak menanjak, Winda menunjukkan sebuah rumah tua khas bangunan pinggiran tahun 80-an. Rumah seperti memencilkan diri karena halamannya yang luas dan ditumbuhi berbagai jenis pepohonan.

Suradi tidak merasa kesulitan memarkir mobil baknya di pinggir rumah itu. Dia membantu Winda membawa semua barang-barang belanjaan ke dalam rumahnya. Setelah selesai, Suradi menikmati interior rumah tua itu yang sangat sederhana. Dia ingat masa kecilnya dihabiskan di rumah yang lebih jelek dari rumah ini. Suradi melihat Winda masuk ke dapur yang luas berlantai tanah, menyalakan kayu bakar dan menanak nasi liwet.
“Winda… “Sebuah suara tua tiba-tiba terdengar dari kamar paling ujung yang bergorden paling lusuh.
“I ya, nek.”
“Kamu lagi masak nasi?”
“I ya.”
“Wanti sudah pulang?”
“Belum, Nek. Mamah belum pulang.”

Suradi duduk di kursi tua yang sudah sangat tua, tapi ternyata masih kuat. Winda dua kali menghampirinya dan mencium pipi dan bibirnya ketika duduk.
“Sabar, ya Om. Tunggu sebentar.” katanya. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci celana dalamnya sekaligus mandi. Berganti pakaian mengenakan kaos dan celana pendek.

Jam di HPnya menunjukkan waktu 03:55. Dan hujan mulai reda.

Winda datang dan duduk di sisinya. Dia memeluk tangan Suradi.
“Winda enggak tahu nama Om tapi Winda sudah berkenalan lebih dulu dengan kontol Om.” Katanya. Suradi melepaskan tangannya dari pelukan Winda untuk merangkul pundaknya. Menciumnya pipi, kening, hidung dan matanya.
“Boleh lihat KTPnya, Om?”

Suradi merogoh dompetnya dan memberikan KTPnya. Winda menelitinya dengan cermat.
“Om tinggal di Cimahi ya?” Katanya. “Eh, no HP Om berapa? ga pa pa kan Om minta nopenya?”
“Ga pa pa.”
“Ga takut kalau ketahuan istri?”

Suradi mengangkat bahu. “Kalau ketahuan berarti sial!” Katanya dalam hati.
“Winda sendiri ga takut ketahuan sama pacar?”
Sepasang mata besar bonekanya itu mengerling-ngerling.
“Ssstt. Ini rahasia ya, Om adalah selingkuhan Winda. Setuju?”

Suradi tertawa kecil. Dia memeluk gadis kecil itu dan menciumi bibirnya. Tiba-tiba, gairah itu bangkit kembali. Kontolnya yang belum satu jam lalu mengentot memek gadis itu, kini bangun kembali.

Sebuah ledakan halilintar mengejut mereka. Hujan yang semula mereda, berubah menjadi deras kembali. Bahkan lebih deras dari sebelumnya.
“Mamah pasti akan terlambat pulang.” Kata Winda dalam hati. Memeknya yang masih remaja itu berdenyar-denyar lagi menahan rangsangan jemari Suradi yang mengoles-olesnya.

Winda dengan lembut menarik tangan Suradi dan membimbingnya untuk memasuki kamarnya. Kamar yang sederhana dengan berbagai perabotan yang sederhana. Di kasur busa yang sudah lepek itu, Suradi membaringkan Winda dan melucuti seluruh pakaiannya.

Suradi adalah lelaki yang sudah matang. Dia tahu, ketika menikmati sesuatu, maka dia akan menikmatinya secara sempurna. Jika dia menikmati gulai kambing kesukaannya, misalnya, dia akan menghabiskan semuanya bahkan dengan kuahnya tanpa sisa. Dia akan menyisir makanan itu dari yang paling kurang enak secara bertahap sedikit demi sedikit menuju yang paling disukainya, sehingga menyisakan yang terbaik di akhir untuk disantapnya. Dia akan merasa kenyang dengan cara yang baik.

Demikian juga ketika dia menikmati sex. Dia tidak akan terburu-buru untuk menyemprotkan pejuhnya secara membabi buta. Tidak. Dia akan menikmatinya dengan pelahan dan bertahap. Apalagi abg yang kini berbaring telanjang bulat di hadapannya adalah idaman terbaik lelaki mana saja yang memiliki selera normal.

Sejenak Suradi menikmati ketelanjangan cewek itu dengan minat seorang penjelajah untuk menemukan daerah-daerah baru yang bisa diekplorasi. Kedua buah susu cewek itu yang besar, bulat dan mancung, menjanjikan ekplorasi gairah yang berliku. Tapi memek mungil yang tembem itulah puncak segala eksplorasinya.

Suradi melepaskan semua kemeja dan celananya sampai telanjang. Kontolnya sudah mengacung. Dia tidak akan meminta kontol itu diisap, jika Winda tak menginginkannya. Walau Suradi berharap Winda mau mengulum kontolnya sebentar saja, tapi dia tak ingin merusak hidangan istimewa ini.

Suradi membungkuk dan mulai menciumi wajah Winda. Lalu menemukan bibirnya untuk mendapat pagutan yang lama dan saling berbalas dengan gairah. Tangannya merabai dan merambahi seluruh tubuh abg itu sampai sejauh apa yang bisa diraba dan dirambah dengan lembut. Tangan itu akan menemukan rambu-rambu rangsangan yang berdenyar lembut, yang hanya bisa dirasakan dan ditemukan oleh tangan yang memiliki jam terbang pengalaman menikmati wanita yang tinggi.

Suradi melepaskan diri dari kuluman bibir Winda. Mulutnya kini menyusuri leher yang berdenyut-denyut oleh aliran darah yang bergerak cepat. Mengisapnya pelahan, kemudian naik ke telinga lalu turun kembali ke leher untuk menuju pundak. Menyesap pinggiran payudara dan keteknya. Turun ke perut. Mencecapnya dan menyusur naik ke atas di sepanjang pinggiran perut hingga ke pinggiran bukit susu yang berbeda.

Kedua bukit nenen yang kenyal itu akan mengeras demikian juga dengan putingnya. Bergantian mulut Suradi memamah sekitaran bukit-bukit itu dengan bibir-bibir mulut bagian dalam. Barulah kemudian dia melahap puting-putingnya yang mengeras itu dan mempermainkan denyarannya dengan lidahnya.
“Aghkhkh….” suara desahan itu memberi tahu Suradi bahwa eksplorasi kenikmatan di daerah itu harus segera di akhiri.

Sekarang fokusnya beralih ke daerah paha. Dia mengendus belahan memek tembem itu dan menikmati aromanya yang memikat. Tapi Suradi tak menyantapnya. Dia melahap pinggiran pangkal paha dan seluruh paha sampai dengkul. Kemudian menggulingkan tubuh Winda agar menelungkup. Menciumi punggungnya yang halus dan menemukan kedua buah pantatnya yang bulat dan indah. Memamah-mamahnya dan kemudian menyusuri belahan pantat itu dengan lidahnya hingga mencapai lubang anus. Membalikkan kembali tubuh abg itu dan merenggangkan ke dua pahanya.

Bibir-bibir memek yang tembem itu merekah. Belahannya membuka dengan kelentit yang berdnyut-denyut. Pada pucuk bagian bawah, telah menetes lendir yang merambat menuju anus.

Inilah bagian akhir dari awal perjalanan menuju ke angkasa kenikmatan.

Dia mengecup pubis yang berrambut halus. Mencaplok bibir-bibir luar si memek tembem yang mulai gelisah. Lalu dengan cerdik menyesap bibir-bibir bagian dalamnya yang lembut dan basah. Menjulurkan lidahnya untuk menyapu semua lendir yang meleleh, mengentot liang memek itu dengan lidahnya, membiarkannya berdenyut-denyut lalu mengulum itilnya yang bergerak-gerak centil.

“Omhkhkhk…omhkhkhk…” Winda menggelinjang. Pinggulnya mengangkat beberapa centimeter dari permukaan kasur. Itulah isyarat bahwa tugas mulut sudah selesai. Kini kontolnya yang sejak tadi sudah tak sabar ingin bertugas, dibawanya ke mulut liang memek itu. Membenamkannya hingga masuk semuanya… maka pengentotan itu pun dimulai.

Memek berusia remaja memang beda. Suradi meresapi perbedaan itu. Saat menggenjotnya, dia tak ingin terburu-buru. Dia ingin kontolnya benar-benar menikmati memek itu secara sempurna. Dia tidak akan berganti posisi sampai dia yakin bahwa perubahan posisi akan menambah kesempurnaan kenikmatan.

Clep clep clep… terdengar suara ritmis hujaman kontol Suradi yang berkecepatan sedang. Liang memek itu terasa hangat ketika menyemburkan orgasme puncaknya yang pertama. Winda menggelinjang lemah. Suradi terus menggenjotnya secara ritmis. Pelahan tapi pasti, puncak ke dua dan ke tiga dilalui oleh abg itu dengan mata terpejam. Akhirnya, moment itu datang juga. Sebuah denyaran dan lenguhan Winda menyadarkan Suradi bahwa puncak terakhir akan mereka naiki.

Suradi memeluk Winda dengan erat dan melakukan genjotan dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi.

Winda menjerit lirih saat mendaki puncaknya yang tertinggi. Kedua tangan dan kakinya memeluk Suradi dengan erat.

Perjalanan sudah sampai di ujung. Suradi melawan pelukan itu dengan lebih erat dengan membenamkan seluruh batang kontolnya ke dalam memek Winda. Dia mengejan sangat keras dan menyemprotkan lahar pejuh itu dengan ledakan yang sangat gila.

PROTTTT!!!!

“Eughkhkh…” Suradi melenguh menimati letupan susulan yang mengecrot-ngecrot pelahan dan melemah.

Suradi memeluk Winda dan merasakan kehangatan dan kelembutan seluruh tubuh abg itu. Mereka terdiam. Bertahan dengan pelukannya masing-masing dan menikmati keheningan yang sempurna efek kelezatan persetubuhan yang menyatu.

Mereka terdiam meresapi dunia lain yang melayang-layang jauh entah di mana.

Sampai gemuruh itu membangunkan mereka dari efek ekstasi percintaan yang sempurna. Hujan deras masih terdengar riuh di luar.

Winda yang pertama bangkit. Dia mengecup bibir Suradi dengan cepat.
“Indah sekali, Om. Sangat indah.” Bisiknya.

Suradi tersenyum.
“Ya, memang sangat indah.”

***

Suradi membiarkan gadis itu mengenakan pakaiannya, lalu membiarkannya sendirian di kamar itu.
“Nasinya mungkin sudah matang.” Kata Winda sambil menebah gorden kumal dan pergi ke dapur.

Suradi menikmati kesendirannya di kamar yang asing itu. Lututnya terasa berdenyut-denyut seperti disedot sesuatu. Dia berbaring di kasur busa yang sudah lepet itu dengan nafas teratur. Matanya menatap langit-langit yang terbuat dari anyaman bambu dengan nanar. Meresapi keindahan yang baru saja direguknya, yang belum tentu akan dia dapatkan kembali di masa yang akan datang.

Dia bangkit dari tidurannya, cairan lendir itu mulai mengering di sekujur batang kontolnya dan beberapa menyangkut di bulu-bulu pubisnya. Dia melapnya dengan saputangan. Mengenakan kembali kemeja dan pantalonnya lalu pergi ke dapur dan menyaksikan Winda sedang menjerang air menggunakan tungku.
“Nasi liwetnya udah mateng.” Katanya.

Suradi menemukan kamar mandi yang sangat sederhana itu di ujung dapur, kencing di sana dengan lancar dan banyak. Kembali ke dapur, Winda sedang menyeduh kopi hitam untuknya.

Jam di HPnya menunjukkan waktu 04:05.

Suradi kembali duduk di ruang tamu. Mengenakan sepatunya.
“Kopi datang.” Kata Winda. “Dinikmati ya Om.” sebuah ciuman mendarat di pipi Suradi.
“Hadeuh…” Suradi mengeluh. Dia mengeluarkan kreteknya dan menyalakannya. Pintu rumah itu dibukanya agar asap rokok berlari ke arah situ. “Dia akan membuat aku kedanan karena kangen.” keluh Suradi.

Hujan deras berhenti dan cuaca tiba-tiba saja terang.

Dari pintu yang terbuka, dia melihat seorang wanita muda, mungkin seumuran dengannya, berjalan terburu-buru diikuti oleh dua orang lelaki yang sikapnya terlihat kurang bersahabat.
“Pokoknya harus sekarang, Ceu. Kalau tidak TVnya akan kami ambil.” Kata salah seorang lelaki itu di teras. Wanita itu tidak menjawab. Dia malah sedikit terkejut melihat seorang lelaki yang tak dikenal duduk di ruang tamunya. Apakah dia gurunya Winda? Ah, ya. SPP sudah dua bulan belum dilunasi.

Suradi berdiri begitu wanita itu berada di ambang pintu, dia mengangguk hormat dan membiarkan wanita muda itu masuk ke dalam ruang tengah sambil memanggil Winda. Wanita muda itu tak membalas anggukan hormatnya.
“Ceu, gimana ceu!” Kata salah seorang lelaki itu dalam bahasa Sunda.
“Tunggu sebentar, saya kan baru pulang.” Jawab wanita muda itu, juga dalam bahasa Sunda.
“Pokoknya harus bayar sekarang!”

Sampai dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh lelaki itu, Suradi langsung paham duduk persoalannya.
“Om, sini sebentar. Kenalan dulu sama mamah.” Kata Winda dari ruang tengah.
“Selamat sore, Bu.” Kata Suradi. “Saya Suradi, saya ke sini hanya mengantarkan Winda pulang. Tadi hujan besar.”

Wanita muda itu menatapnya dengan curiga.
“Bapak baik benar sama anak saya.” Katanya, nadanya setengah sinis.
“Ya, tentu saja, Bu. Dia telah menemukan kunci mobil saya yang jatuh entah di mana.” kata Suradi dengan simpatik. “Sebagai balas budi atas kebaikannya dan rasa gembira saya mendapatkan kunci mobil itu, saya memaksanya agar mau diantar biar tidak kehujanan.” Kata Suradi.
“Tapi bapak juga kan yang membelikan semua barang belanjaan ini.”
“Ya. Tentu saja. Tapi itu nilainya tak seberapa jika saya harus berjalan kaki dan mencari tukang kunci yang entah ada di mana. Mohon ibu jangan curiga.”

Tatapan wanita muda itu nampak mencair.
“Tapi….” Katanya.
“Sudah, Bu. Jangan dipikirkan terlalu panjang, barang-barang belanjaan itu sudah terlanjur ada di sini, tidak perlu kan kita kembalikan ke warung.” Suradi berkata sambil tersenyum. Wanita muda itu menarik nafas lega.

“Ceu, cepat ceu.” Kata salah seorang lelaki itu di ruang tamu. Wanita muda itu bergegas kembali ke ruang tamu.
“Kang, beri tempo seminggu lagi, uangnya kepakai buat bayar SPP.”
“Tidak bisa. Ceu Wanti sudah telat 3 bulan angsuran dan tempo seminggu yang kemarin kita kasih juga sudah lewat. Bayar sekarang atau TVnya kita ambil.”

Wanita muda yang dipanggil Ceu Wanti itu menggigit bibir. Dia sangat mirip dengan Winda tapi rambutnya lurus dan kulitnya lebih terang. Suradi mendengar semua percakapan itu dan bergegas memasuki ruang tamu. Dia berdiri di samping wanita muda itu dan tersenyum kepada dua orang debt collector itu.
“Sabar, akang-akang.” Kata Suradi. “Jadi semua yang harus dibayar Ceu Wanti ini berapa?” Tanya Suradi, suaranya tenang dan datar.
“Tiga kali 175 ribu plus bunga.”
“Baik. Sisa cicilannya berapa kali lagi?”
“Kalau yang 3 bulan itu dibayar, jadi tinggal 3 kali cicilan lagi.” Jawab salah seorang debt collector itu.
“Kalau dibayar semuanya jadi berapa?” Tanya Suradi.
“Sebentar, Pak.” Kata si debt collector itu tadi. Dia mengeluarkan kalkulator dan memencet-mencetnya. “Jadi, semuanya 1 juta 50 ribu.”
“Baik. Sekarang tulis lunas di buku catatanmu.” Kata Suradi sambil menarik dompetnya. Mengeluarkan uang sejumlah yang diminta dan membayarnya. “Tulis lunas ya.”

Wanita muda bernama Ceu Wanti itu terpana. Dia tak bisa mengatakan satu patah kata pun ketika para debt collector itu.
“Persoalannya beres kan, Ceu.” Kata Suradi.
“Ttterimakasih… Pak.”
“Sama-sama. Nah, kalau tidak keberatan saya ijin, permisi pulang.”
“Tunggu, Om.” Kata Winda. “Winda sudah bikin nasi liwet, sambel dan lalap, sama kerupuk udang yang tadi dibeli. Makan dulu ya?”
“Saya…”
“Ayo Mah, ajak dia makan.” Katanya.
“Tapi mamah belum kenal dia.” Katanya kepada Winda.
“Tadi Om sudah memperkenalkan diri. Sekarang giliran Mamah.” Kata Winda riang.
“Saya Wanti…. bagusnya saya pangil bapak atau…”
“Akang aja. Kalau saya panggilnya Ceuceu atau apa?”
“Wanti aja.” Kata wanita itu dengan senyum malu-malu.

Suradi tak kuasa menolak ajakan makan itu. Lagi pula perutnya memang sudah lapar. Mereka duduk lesehan di atas tikar yang sudah tua. Nenek juga ikut makan.
“Tadi waktu hujan, nenek samar mendengar ada orang yang mengaduh-aduh.” Katanya, entah ditujukan kepada siapa. Hanya saja Winda tiba-tiba tersedak dan Suradi tersenyum simpul.
“Makanya, Mak, diminum obatnya biar bisa tidur dengan nyenyak.” Kata Wanti.

Selesai makan, Suradi pamitan hendak pulang diikuti tatapan kecewa Winda yang mencari waktu satu detik saja untuk memeluk lelaki itu… tanpa diketahui ibunya.

Suradi juga merasakan hal yang sama. Dia merasa sangat khawatir terhadap dirinya sendiri. Pertemuan kilat yang bersahabat, membuat hatinya selalu terpikat. “Win, apa kamu pikir aku akan mudah melupakanmu?” Katanya dalam hati.

***

Sepanjang minggu itu Suradi disibukkan oleh dua proyek kecil di suatu instansi pemerintah provinsi di Bandung. Walaupun nilai proyek pengecatan gedung kantor itu kecil, namun benefit relasinya tinggi. Dia bisa berkenalan dengan sejumlah pejabat dan ikut kongkow dengan mereka di suatu kafe.

Selama seminggu itu pula istrinya mengeluh karena tak semalam pun dia disentuh. Suradi juga sama mengeluh. Walau pun dia sudah menghabiskan sate kambing 20 tusuk, tetap saja adik kecilnya tak mau bangun.

Iis menyangka suaminya sedang banyak pikiran karena hanya mendapat proyek-proyek kecil. Ia juga beberapa kali memergoki suaminya sedang melamun.

Ya, akhir-akhir ini Suradi memang sering melamun. Dia sangat kangen dengan abg itu.
“Perlu berapa lama aku bisa melupakan dia? Seminggu? Dua minggu? Sebulan?” Pikir Suradi.

Kekhawatirannya dulu pada dirinya sendiri, kini benar-benar terjadi. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan Winda? Kecil, Mungil, lucu, legit…

***

Dua minggu pun berlalu.

Pagi itu Suradi mendapat telpon dari salah seorang relasinya dari Pemprov Jabar, bahwa ada suatu proyek bantuan rehabilitasi gedung SMA swasta di Cianjur yang nilainya cukup lumayan.
“Terus terang saja, Pak Radi, saya sudah menyodorkan proyek ini ke beberapa kontraktor tapi mereka kurang berminat.”
“Kenapa ya Pak?” Tanya Suradi.
“Karena ini dananya dari APBN, jadi pencairannya sering molor. Bagaimana, Pak Radi berminat tidak?”
“Tentu saya berminat, Pak. Tapi, apa bapak sudah tawarkan ke kontraktor lokal?”
“Sudah. Tapi enggak ada yang deal. Jatah saya biasanya 10%, tapi mereka enggak ada yang berani, paling tinggi cuma 7%. Tanggung. Lagi pula yang 10% itu saya bagi dua dengan orang pusat, jadi memang tanggung kalau 7%.” Katanya.
“Boleh nanya nama SMA Swastanya pak?”
“SMA Sukaharja (bukan nama sebenarnya).”

Suradi tiba-tiba tersentak. Itu sekolahnya Winda.
“Baik, Pak. Saya sekarang langsung meluncur ke kantor bapak.”
“Siap.”

***

Hari itu adalah hari pertama pengerjaan proyek.

Suradi mengenakan stelan terbaiknya untuk menemui sejumlah pejabat penting di sekolah itu agar bisa bekerja sama demi kelancaran rehabilitasi. Namun jauh dari dalam hatinya, dia berharap-harap dapat menemukan Winda pada hari itu. Tapi tidak ketemu.

Pada hari kedua matanya memperhatikan satu demi satu siswi-siswi sekolah itu, tapi juga tidak ketemu. Ada ratusan siswi di sekolah itu. matanya sampai lelah menelisik tapi gagal mengidentifikasi abg pujaan hatinya itu.

Pada hari ke tiga Suradi berpikir, apakah pantas jika dia pergi ke ruang guru dan menanyakan kelas di mana Winda berada? Ah, entahlah. Ataukah dia harus pergi ke rumahnya dan menjemputnya untuk pergi ke sekolah? Tidak. Itu ide buruk.

Hari ke tiga Suradi galau.
“Sudahlah, cepat atau lambat juga pasti akan ketemu. Toh aku punya waktu dua bulan di sini.” Kata Suradi menghibur diri.

***

Hari itu entah hari ke berapa Suradi berada di sekolah itu. Mungkin hari ke 11. Dia menyusuri koridor sekolah untuk menuju ruang Tata Usaha yang plafonnya sudah diperbaiki. Tujuannya hanya untuk mengechek sebentar apakah pekerjaan yang dilakukan anak buahnya itu sudah sesuai dengan spesifikasi ataukah belum. Kalau sudah, ya bagus. Kalau belum, ya diperbaiki.

Dia melongok dari ambang pintu ruang TU dan sekilas saja dia tahu anak buahnya sudah bekerja dengan baik.
“Masuk saja, Pak.” Kata salah seorang staf TU, mereka tahu kalau Suradi adalah pemborong pekerjaan rehabilitasi itu.
“Trimakasih, saya cuma ngechek saja sebentar. Maaf menggangu.”
“Tidak, Pak. Silakan.”

Suradi hanya masuk beberapa langkah saja ke dalam ruangan itu dan merasa yakin pekerjaan anak buahnya dilakukan dengan baik sesuai spek.

Ada yang tidak disangkanya ketika sekilas dia melihat seorang siswi sedang tertunduk di depan sebuah meja yang terletak di pojok. Itu meja Kepala TU, tampaknya dia sudah kesal karena siswi itu sudah menunggak SPP selama 3 bulan.
“Pokoknya, kalau minggu ini belum dilunasi, terpaksa kami akan memanggil orangtuamu ke sini.” Katanya.

Suradi cepat-cepat ke luar dari ruangan itu dan berdiri tidak jauh dari ambang pintu. Pura-pura memperhatikan plafon koridor.
“Akhirnya, aku menemukannya juga.” Kata Suradi, wajahnya tampak sumringah. Setelah menunggu cukup lama (padahal cuma 5 menit) Winda ke luar dari ruangan itu dengan wajah menunduk. Suradi sengaja menghalangi jalannya sehingga gadis itu menubruknya.
“Aduh, maaf.” Kata Suradi sambil tersenyum, menatap mata besar mirip boneka itu yang sedang terperangah. Ekspresi wajahnya yang terkejut sekaligus gembira itu membuat hati Suradi berbunga-bunga.

Apalagi ketika gadis itu memeluknya. Suradi merasa bahagia tapi dia cepat melepaskan pelukan itu.
“Om, Winda kangen.”
“Sama Om juga.”
“Pulang sekolah mau ketemuan?”
“Jangan Om, tiap hari Winda dijemput Aa.”
“Pacar kamu?”
Winda mengangguk.
“Om enggak cemburu kan?”
“Om enggak punya hak untuk cemburu, cantik.”
“Tapi aa orangnya pencemburu, Om.”
“Itu tandanya dia sayang sama kamu.”
“Berarti Om enggak sayang dong sama Winda.”

Suradi terdiam sebentar.
“Coba kamu bilang, apa yang perlu Om lakukan sebagai bukti bahwa Om sangat sayang sama kamu.”
“Cium pipi Winda sekarang! Berani enggak?”
“Enggak, enggak berani.”
“Huh, katanya minta bukti.”
“Soalnya, kalau sudah nyium Winda, Om akan sulit dihentikan.” Kata Suradi, kalem.

Winda terkikik.
“Koq ketawa?”
“Kayaknya kita sama deh Om.”
“Kamu harus cepat pergi ke kelas.” Kata Suradi. “SPP kamu nanti sama Om diberesin.”

Winda menatap Suradi dengan tatapan aneh.
“Jangan, Om. Biarin mamah dipanggil ke sini.”
“Koq begitu?”
“Pokoknya biarin aja.” Kata gadis itu. “Om jalannya ke sini, kelas Winda ada di pojok… Om di sini sebenarnya lagi ngapain?”
“Lagi kerja.”
“Kerja? Jadi guru?”

Suradi tertawa kecil.
“Bukan, masa jadi guru? Om yang ngerjain perbaikan sekolah ini.”
“Tapi kenapa Om enggak ikut kerja? Om yang jadi bosnya ya?”
Suradi mengangkat bahu.
“Begitulah kira-kira.”
“Om… kapan bisa kangen-kangenan?”
“Kamu atur deh, Om ikut aja.”
“Entar Winda pikirin dulu… Om sayang, dadah, Winda masuk kelas dulu.”

Suradi merasa berbunga-bunga.

***

Pagi itu, hari ke-17, pada jam istirahat pertama, Winda menjajari langkah Suradi yang melangkah pelahan di koridor sekolah dekat toilet siswa.
“Om, Winda mau cerita. Penting. Di tunggu ya di tukang soto di depan sekolah. Jam 12.”
“Ashiyap cantik. Tapi kenapa di situ tempatnya?”
“Pokoknya jam 12.”

***

Setengah jam Suradi duduk di tukang soto itu. Tapi Winda tidak muncul juga. Ketika Suradi menduga Winda tidak bisa datang, dia melihat Winda dan ibunya ke luar dari pintu gerbang sekolah. Mereka kelihatannya bertengkar. Ibunya memaksa Winda naik angkot tapi kelihatannya Winda menolak.

Ibunya kemudian naik angkot sendirian.

Winda celingukan sebentar, setelah menyebrang jalan dan memasuki warung soto ini, barulah Suradi tahu kalau Winda baru saja menangis.

Suradi mencermati wajah itu. Ehm. Ada yang melukai hatinya. Tapi apa? Siapa? Mengapa?
“Laper?” Tanya Suradi. Winda menggelengkan kepala sambil memeluk tas sekolahnya.
“Kamu bawa tas emang mau pulang? kan masih jam istirahat?”

Winda tidak menjawab, malah meneteskan air mata.
“Pergi yuk Om.”
“Kemana?”
“Ke mana aja, Winda pengin nangis.”

Suradi menarik nafas berat. Dia lalu menelpon Pak Tono dan memintanya membawakan mobil yang lagi nganggur ke tukang soto di depan sekolah.
“Yang lagi nganggur cuma espas, Bos. Si dukun sama pick up biru dipake. Bos mau ngambil besi ya?”
“Enggak, besi nanti dianter. Saya ada perlu.”
“Siap, bos.”

***

Suradi bingung. Sepanjang jalan Winda menangis, tak bisa dihentikan. Dia juga bingung tak punya tujuan mau ke mana. Akhirnya Suradi berhenti di sebuah kafe. Dan memaksa abg itu untuk mau makan.

Setelah makan, wajahnya tampak lebih cerah. Mungkin benar apa kata pepatah, makanan yang enak bisa menghilangkan kesedihan.

Meski pun begitu, Winda masih lebih senang bungkam daripada cerita.
“Tadi katanya bilang mau cerita. Penting. Koq sekarang diam saja?”
“Om, bercinta yuk?”

Suradi menatap abg itu dengan teliti. Tidak. Winda tak sedang ingin bercinta.
“Kamu kenapa cantik? Cerita dong biar perasaannya jadi lega.”
“Om sayang enggak sama Winda?”
“Itu pasti.”
“Mau bercinta sama Winda tiap hari?”
“Mau.”
“Terus kenapa sekarang diajak gak mau?”
“Kamu lagi sedih, sayang. Kamu lebih butuh dipeluk daripada ML.” Kata Suradi. “Nah, sekarang kita pulang. Om anter sampai rumah.”
“Winda enggak mau pulang.”
“Loh?”
“Pokoknya enggak mau.”
“Kamu bertengkar sama mamah ya? Kenapa?”

Winda menatap Suradi dengan tajam. Matanya nanar. Tiba-tiba dia menangis lagi. Suradi memeluknya.
“Om.” Katanya sambil terisak.
“Ya, sayang.”
“Ngentot yuk?”
“Kamu serius?”
Winda mengangguk.
“Tidak. Kamu harus pulang.” Kata Suradi.
“Winda ga mau pulang!!!” Tiba-tiba saja Winda berteriak keras. Nadanya sangat marah. Dia berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan meja itu.
“Winda, tunggu sebentar!” Panggil Suradi. Tapi gadis itu seperti tidak mendengarkan. Dia terus melangkah meninggalkan kafe itu.

Suradi bingung. Dia cepat-cepat membayar tagihan dan menyusul gadis itu yang tengah berjalan di trotoar, menjauh dari kafe.
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Ke mana saja asal enggak pulang.”
“Sabar, cantik, sayang. Kita cari tempat lain yang lebih tenang… ke mobil yuk.”
“Tapi Om harus janji enggak akan nganter Winda pulang.”
“Om janji.”
“Sumpah?”
“Om sumpah.”

***

Di dalam mobil, Winda menciumi Suradi berkali-kali. Tapi entah bagaimana, lelaki itu tidak merasakan apa-apa di balik ciuman itu.
“Kalau engga mau pulang, terus entar malem Winda mau tidur di mana?”
“Di mana aja, asal sama Om.”
“Baik.” Kata Suradi. “Sekarang kita cari pakaian dulu buat kamu…”
“Eh, i ya. Lupa. Masa kemana-mana pake seragam?”
“Kita ke supermarket ya…”
“Jangan Om, cari yang murah aja.”
“Cari yang murah?”
“Ya, biar uangnya bisa dihemat.”
“Belinya di mana?”
“Di kaki lima banyak.”
“Terus tidurnya?”
“Di losmen murah aja, Om. Kita bisa bercinta semalaman sampai puas.”
“Baik. Om ikut aja.”
“Om, baik banget.” Dia mencium pipi Suradi.

***

Malam telah jatuh ketika mereka check in di losmen itu. Suradi mengenakan kaos “I Love Cianjur” dan celana bokser yang dibelikan Winda di pedagang kaki lima. Dia duduk di teras yang menghadap taman dalam keadaan tidak bisa berpikir, berteman kopi dan rokok.

Dia bingung. Apa sih yang sebenarnya terjadi pada Winda?

Winda sedang sibuk di kamar. Menggantung baju-baju di lemari, lalu mencuci kaos kaki, celana dalam dan BH, sambil mandi. Setelah selesai baru dia menemani Suradi duduk di teras itu. Dia memakai kaos dan celana bokser yang sama dengan Suradi. Rambutnya diikat ke belakang dengan karet gelang. Dia cantik.

Suradi sebenarnya tercengang oleh kebeliaan abg itu. Kontolnya sudah bangun berkali-kali tapi hatinya, entah mengapa, merasa resah. Winda memandanginya dengan tatapan menyelidik, tapi Suradi pura-pura tidak tahu.
“Aduh sakit, aduh sakit.” Tiba-tiba saja Winda mengaduh. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan berbaring di kasur yang empuk. Suradi merasa cemas. Dia mengikuti Winda.
“Apanya yang sakit, sayang?” Kata Suradi.
“Ini, nenennya pengen diemut.” Jawab Winda dengan senyum yang nakal. Dia membukakan kaosnya hingga kedua bukit kembarnya yang tanpa BH menyembul. Menantang.

Suradi jadi merasa gemas campur lega.
“Kamu ini ya… bikin kuatir orang aja.”

Winda terkikik.
“Om emut Om.”
“Ga mau.”
“Emut!”
“Ga mau.”
“Kalau ga mau, Winda yang akan ngemut.” Katanya sambil merangkul Suradi dan memeluknya dengan kedua tangan di leher dan kedua kaki di pinggang. Mulutnya mengemut telinga Suradi sehingga lelaki itu kegelian.
“Ampun… ampun…” Kata Suradi sambil menjatuhkan diri di kasur. Winda menduduki perut Suradi yang rata dan kedua tangannya menekan pergelangan tangan Suradi ke kasur. Lalu menggoyang-goyangkan kedua buah susunya di mulut Suradi.
“Emut.” Katanya.

Suradi pun mengemutnya.
“Enak kan?”
“Enyak…enyak.”
“Satu lagi. Enak kan?”
“Enyak… enyaakkk…”
“Nah, udah.”

Winda melepaskan cekalan tangannya pada lengan Suradi, tangannya bergerak untuk menarik kaosnya ke atas, melepaskannya melalui kepalanya. Kedua tangannya kemudian memegang kedua pelipis Suradi, seakan-akan memaksa lelaki 40 tahun itu untuk memelototi kedua payudaranya yang bulat dan mancung.

Suradi pasrah. Membiarkan gadis itu melakukan apa yang diinginkannya.

Winda menciumi wajah Suradi, mulai dari keningnya, matanya, hidungnya, pipinya… lalu mengemut bibirnya. Suradi membalasnya. Mereka saling berpagut lama sekali sampai akhirnya Winda melepaskan bibirnya dari bibir Suradi. Dia kemudian menarik kaos yang dipakai Suradi, dari arah pinggang ke atas melalui kepala dan ke dua tangannya, sehingga ketika lepas, kaos itu dalam keadaan terbalik.

Winda menciumi dada Suradi yang tak berbulu. Mengemuti puting lelaki itu hingga kegelian. Dia menciumi perutnya dan menemukan celana bokser lelaki itu sudah menggembung.
“Kontol Om udah ngaceng.” Kata Winda dengan terkikik. Dia kemudian menarik celana bokser lelaki itu beserta celana dalamnya hingga melewati dengkul dan akhirnya lepas dari kedua kakinya.
“Winda… kamu… ough…” Suradi mengeluh ketika mulut mungil itu mengulum kontolnya dengan lembut. Mengocoknya pelahan dengan mulutnya, lalu menjilati batang kontol dan pelirnya dengan lidahnya.

Winda berdiri sejenak di atas kasur, melepaskan celana boksernya dan melemparkannya. Suradi hanya bisa diam dan memandanginya saja.

Winda kembali menduduki Suradi, kali ini tepat di atas pangkal pahanya. Menempelkan batang kontol itu pada belahan memeknya. Menggesek-geseknya hingga memeknya basah.

Suradi mengerang ketika Winda memasukkan batang kontolnya ke dalam liang memeknya. Membenamkannya hingga amblas semuanya.

“Winda sayang…ough…”

Suradi mengeluh dan mengerang ketika Winda menggerak-gerakkan pinggulnya ke berbagai arah. Tangan Suradi menggapai-gapai tanpa arah dicekam sensasi kenikmatan yang belum pernah dirasakannya selama ini.

Selama hampir 10 menit Winda “mengulek” kontol Suradi dengan memeknya sampai akhirnya Winda menemukan tanda-tanda bahwa dia akan kedatangan tamu kenikmatannya.

Winda lalu menurunkan badannya dan memeluk lelaki itu dan menciumi bibirnya. Dia mengentot lelaki itu dengan pelukan erat, dengan perut dan susunya menempel erat pada tubuh lelaki itu.

“Winhhh…ddhhaaa… Om… sudah gah hkhkhuuaaattt….” Kedua tangan Suradi hinggap di kedua buah pantat Winda, meremasnya dan menekannya hingga genjotan Winda tertahan.
“Ayo Om, kita ke luar sama-sama.”

Aaahkhkhkhhh….. crot…crot…crot… srrr… srrr…crot…crot…

Winda merasakan cairan hangat itu menyembur di dalam memeknya. Dia tak melepaskan pelukannya dan menjatuhkan dagunya di atas pundak lelaki itu.

Winda merasa nikmat. Nyaman. Dan letih.

Zzzzzzz…. Winda pun terlelap dalam mimpi.

***

Suradi terbangun oleh mimpi aneh yang tak bisa diingatnya. Dia menatap langit-langit kamar losmen selama beberapa detik sampai merasa benar-benar terjaga. Hembusan lembut angin pada pundaknya, berasal dari nafas Winda yang teratur di dalam lelap.

Gadis kecil itu terlelap dalam peluknya. Kontol Suradi yang mengecil, terjepit di dalam lubang memek yang merapat oleh dua jenis lendir kenikmatan yang mengering. Suradi tersenyum nyengir.

Pelahan dan hati-hati, Suradi menggulingkan gadis kecil itu ke sisinya. Menatap sejenak ketelanjangan belianya yang indah dan mempesonakan seluruh kelelakiannya. Lalu menyelimutinya.

Dia mengenakan kembali pakaiannya dan duduk di kursi. Menopang dagu pada dua tangannya dan memandangi wajah gadis itu yang sedang terlelap.

“Mamah jahat… mamah jahat…” Gadis itu mengigau. Beberapa kali dia menggelinjang-gelinjang gelisah. Lehernya tampak berkeringat. Kemudian diam. Nafasnya tampak teratur kembali.

Suradi diam dan memandanginya. “Dia tidak mendengkur.” Bisik Suradi. Ingin sekali Suradi bangkit dan mencium kening serta hidung gadis kecil itu, tapi takut membangunkannya.

Tiba-tiba, dalam lelap tidurnya gadis itu menangis sesenggukan. “Huk… huk… aa… kamu jahat… huk… huk… jahat…”

Airmata menetes pada ujung-ujung matanya, mengalir dan merambati kedua pipinya. Dia gelisah sejenak. Lalu diam dan nafasnya teratur kembali.

Suradi merasa sangat trenyuh.

Dia bangkit dari duduknya. Berjalan hilir mudik di dalam kamar sambil berpikir keras, menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada Winda. Tapi tak menemukan jawaban pasti. Dia melangkah ke lemari pakaian, memeriksa kemeja dan pantalonnya yang digantung di situ. Memeriksa dompetnya dengan cermat tapi tidak tertarik memeriksa HPnya.

Matanya menangkap tas sekolah yang tergolek di bagian paling bawah lemari, Suradi mengambilnya dan memeriksa isinya: buku-buku, cepuk wadah ballpoint dan dompet plastik murahan warna pink. Dia mengambil dompet itu dan membukanya. Ada sebuah foto selfie yang sudah dirobek setengahnya. Hm, bagian yang dirobek itu mungkin foto pacarnya. Sisa yang tidak dirobek adalah foto wajahnya yang lagi unyu-unyu.

Yang pertama dilihat secara teliti tentu saja KTPnya. Nama lengkapnya Windari Setyanugraha. Ulang tahunnya sudah lewat. Usianya 18 tahun lebih.

Di dalam dompetnya dia memiliki sejumlah uang yang sangat sedikit. Tetapi yang aneh, cara menyimpan uangnya di dompet dengan cara Suradi, sama. Dia memisahkan pecahan uang yang berbeda dalam lapisan dompet yang berbeda. Uang logam recehan disimpan di tempat yang lain.
“Dia orang yang teliti.” Pikir Suradi. Setelah termenung sejenak, Suradi kemudian mengisi lapisan dompet yang kosong dengan 20 lembar uang pecahan 100 ribu. Memasukkan kembali dompet itu ke dalam tas. Melihat-lihat sekilas buku catatannya dan Suradi mengagumi tulisan tangannya yang bagus.

Suradi meninggalkan lemari itu dan duduk di bibir ranjang. Memandang sejenak wajah yang damai itu. Air matanya sudah kering.

Pelahan Suradi masuk ke dalam selimut dan membaringkan diri dengan membantalkan kedua lengan. Memejamkan mata. Tiba-tiba gadis itu bergerak, kepalanya masuk ke bawah ketiak dan tangannya memeluk dada Suradi. Nafasnya harum, tenang dan teratur. Payudaranya lembut menekan dadanya.

Suradi menarik nafas panjang.
Zzzzzzzz…..

***

Suradi terbangun oleh harum sabun dan rasa geli di telinganya. Bibir yang hangat dan harum pasta gigi itu telah menciuminya pada mata, pipi, hidung dan bibirnya.
“Bangun sayang, udah pagi.” Kata gadis itu sambil terus menciuminya. Suradi menggeliat dan merasa seperti bermimpi. Suradi mendengar Winda berkata entah kepada siapa, “Eh.. kamu juga ikut bangun.” Katanya. Untuk sesaat Suradi tidak mengerti, dia baru sadar ketika celana boksernya ditarik dan dilepaskan oleh gadis itu.
“Uuuu, chayang…. pagi-pagi udah pengen diemut ya?” Katanya.

Suradi mengerang pelahan saat mulut Winda menggelomoh dan mengemuti batang kontolnya. Dia menjilati kepala kontol Suradi dengan lembut.
“Akhkhhhh… Winda… sayang…”

Tapi Winda kelihatannya tidak mendengarkan erangan Suradi. Dia membuka handuk yang melilit tubuhnya dan melemparkannya ke kursi. Dia menduduki paha Suradi dan memegang batang kontolnya untuk dipukul-pukulkan bagian kepalanya ke belahan memek Winda.
“I ya pengen machuk… chekalang? ayo machuk..machuk… nahh… udah machuk… aduh batang kamu anget banget chayang… akhhh..”

“Adddduuuuhhhhkhkh….akhkhkhhhh… oguhkhkh….” Suradi meringis-ringis keenakan.

Awalnya Winda mengentot Suradi dengan goyangan pelahan yang berirama, lalu sedang dan kemudian cepat.

Suradi mengerang-erang dan akhirnya mengejan kuat. Crot…crot…crot… Winda menahan gelinjangan tubuh Suradi dengan tekanan pinggulnya. Dia merasakan batang kontol itu berdenyut-denyut di dalam kuluman memeknya, lalu cairan hangat itu muncrat.

“Akhhkhkh… Winda sayang, kamu, kamu nakal.”
“Biarin.” Katanya dengan senyum lebar. “Tapi enak kan Om.”
“Heu euh, enak.”
“Om suka?”
“Suka banget.”
“Ih, Om ngecrotnya banyak banget.” Kata Winda sambil melepaskan batang kontol itu dengan pelahan.
“I ya, sayang. Banyak ya? Om enak ngecrot di dalem, kamu ga pa pa?”
“Gak pa pa sayang.”
“Gak takut hamil?”
“Hamil? Biarin aja.” Katanya sambil mengambil handuk di kursi dan kembali lagi ke kamar mandi.

Suradi terkapar di ranjang, tak berdaya.
“Hadeuhh… Parah bener enaknya.” Keluhnya. Raut wajah Suradi tampak berbinar-binar karena bahagia.

***

Mereka sarapan di resto losmen dan mendapat meja dekat kolam ikan yang menggemericikkan air. Wajah Winda tanpak riang. Walau dia memakai baju dan kaos murahan, tapi mata besar dan hidung mancungnya menutupi semua kesederhanaan itu dalam sebuah pameran kecantikan alami yang menawan. Bahkan Suradi kini memperhatikan gadis manis itu sama sekali tidak memakai riasan apa pun.

Winda memesan seporsi besar nasi goreng udang, dua telor ceplok dan empat lembar roti bakar.

“Om pengen tahu kan kenapa Winda ga mau pulang?” Katanya.
“Kamu berantem sama mamah ya?”
“Mmmm… enggak sih sebenarnya, bukan berantem.” Katanya.
“Terus?”
“Om, sebulan lagi Winda kan UN (Ujian Nasional) berarti sebentar lagi Winda akan lulus sekolah.”
“Ya. Dan kamu bermasalah dengan uang SPP kan dan mamah kamu ga punya uang buat bayarnya, jadi kalian berantem kan?”
“Bukan begitu, Om sayang. Dengerin dulu sebentarrrr aja. Ini penting ceritanya.”
“Baik, baik. Om siap denger.”
“Begini, Winda emang nunggak SPP 3 bulan dan belum bayar uang ujian, tapi itu sebenarnya bisa dibicarain sama kepala sekolah kalau belum ada uangnya. Nah, mamah sebenarnya ada uangnya, tapi kata Mamah uang itu mau dipakai untuk keperluan yang lain, yaitu untuk syukuran kecil-kecilan karena mamah udah dilamar orang dan mau menikah lagi.”
“Wah, kabar baik. Bagus itu. Terus?”
“Winda seneng dengernya, hati mamah udah terbuka jadi nanti kalau punya suami dia enggak akan kesepian lagi. Tapi…”
“Tapi?”

Tiba-tiba raut wajah Winda berriak. Kelopak matanya mengembang, lalu menitiklah dua butir air mata itu jatuh menetes di pipinya.
“Tapi yang ngelamar mamah ternyata Aa, Om.” Katanya. “Winda udah pacaran sama aa dua tahun, aa setia dan baik. Aa yang pertama Om, yang pertama kali menyentuh Winda… ternyata aa selingkuh sama mamah udah lama. Waktu kemarin-kemarin dia selalu antar jemput Winda, sebenarnya dia mau bilang sama Winda kalau dia mau nikah sama mamah.”

Suradi tercenung. Dia menatap gadis itu dengan tajam.
“Om, maafin Winda ya, sebenarnya waktu kejadian di mobil itu waktu hujan… sebenarnya Winda ngebayanginnya sama Aa… tapi.. tapi ternyata beda. Maafin Winda tidak bermaksud membandingkan… karena Om tak bisa dibandingkan dengan Aa. Tapi yang kedua di rumah… indah sekali Om. Winda tidak akan pernah lupa seumur hidup.”

Suradi terdiam. Dia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis kecil yang lucu ini telah mengalami hal yang tragis. Tapi dia tegar. Dia gadis kecil yang hebat.
“Om diam saja. Om marah sama Winda?”

Suradi tak menjawab. Dia mengecup kening gadis itu lama sekali.
“Nah, sekarang Om sudah paham seluruh persoalannya. Udah mengerti. Tapi pertanyaannya, kamu punya rencana apa ke depan?” Kata Suradi, nadanya datar dan tenang.
“Pertama, Winda ingin mamah sama aa hidup bahagia, jadi Winda ga mau pulang. Terus, Winda mau cari rumah kontrakan deket sekolah, sampai lulus, terus Winda akan cari kerja.”
“Kamu ga pengen kuliah?”
“Ya pengen, tapi…”
“Kuliah itu penting buat masa depan kamu. Nanti Om bisa bantu.”
“Makasih, Om. Kenapa Om sangat baik sama Winda?”
“Karena kamu cantik.”
“Om, boleh Winda cerita satu hal lagi, ini penting.”
“Apa?”
“Aa enggak pernah ngecrot di dalem kayak Om.”

Suradi diam tak menjawab. Dia hanya tersenyum.
“Ya, aku tahu.” Kata Suradi dalam hatinya. Soalnya, waktu Suradi melap adik kecilnya dengan tissue di mobil, ketika hujan deras itu, ada darah yang menempel seperti selaput pada ujung kepala kontolnya. Itu adalah darah perawan.

“Hm. Si aa ternyata tak menembus sejauh itu.” Kata Suradi dalam hatinya. Itulah yang membuat Suradi tersenyum riang dan merasa bahagia.

***

Dua bulan setelah lulus, Winda menolak usul Suradi untuk kuliah. Dia malah memilih mengelola toko kelontong yang terletak tidak jauh dari Pasar Muka Cianjur. Suradi akhirnya mengalah. Apalagi ketika dia tahu ternyata Winda hamil 3 bulan. Suradi kemudian menikahinya secara siri dan mempersiapkan 2 nama untuk anaknya, satu nama perempuan satu lagi nama laki-laki. Tapi Suradi merahasiakannya kepada Winda.

Suradi merasa bahagia. Dia mencintai dan mengagumi gadis kecil yang tidak saja memiliki sikap tegar, tapi baik dan lembut hatinya.

Walau tidak bisa serumah dan hanya bisa dijenguk 3 kali seminggu, tapi Winda tidak pernah banyak menuntut. Dia orangnya sederhana, logis dan nerima apa adanya.

Di mata Suradi Winda adalah gadis yang sempurna.

Wajarlah jika kepergian Winda yang tak disangka-sangka itu membuat murung dirinya selama berbulan-bulan. Suradi tenggelam dengan dirinya sendiri dan pekerjaannya; dia sering terbangun tengah malam dan menemukan dirinya sendiri menangis dalam kesedihan.

Seluruh anak buahnya tahu apa yang terjadi antara Bosnya dan gadis kecil yang jelita itu. Mereka tak ada yang berhianat dan menutup rahasia itu dengan sangat rapat dari Bu Iis dan Reyhan, istri dan anak Bosnya.

Seluruh anak buahnya tahu, Bosnya memang baik dan murah senyum, tapi di balik senyum itu menyimpan luka yang mendalam.***

Catatan Tambahan dari Cianjur Pos :

SOPIR TRUK TELER, HAJAR WARUNG 3 TEWAS​

Cianjur (CP). Kapolres Cianjur AKBP Sumandono menyatakan bahwa sopir truk yang menewaskan 3 orang itu telah diamankan di Mapolres Cianjur dan akan segera diproses secara hukum secepatnya. Dalam siaran persnya, Sumandono menjelaskan, DD diduga mengendarai truk dalam keadaan mabuk, sehingga dia tidak bisa mengendalikan truknya dan menabrak sebuah warung kelontong yang terletak tidak jauh dari Pasar Muka. Pada saat kejadian, pemilik warung Winda (19) sedang melayani pembeli, yaitu Udung (35) dan Ocid (27) yang sedang membeli rokok. Ketiganya tewas seketika akibat benturan dengan bagian depan truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Menurut keterangan sejumlah warga, Ibu Winda pemilik warung sedang berbadan dua dengan usia kandungan 4 bulan.

Sementara itu, menurut sejumlah saksi mata, DD pengemudi truk itu berusaha melarikan diri tapi berhasil ditangkap warga. Badan dan wajahnya babak belur dihajar masa.

Dalam akhir siaran persnya, Sumandono menghimbau kepada para sopir untuk tidak mengkonsumsi minuman keras.
“Kalau ingin kuat dan tidak ngantuk, sebaiknya minum jamu saja.” Begitu pungkasnya (Oding)***

Bersambung

Daftar Part