. Suradi Adventure Part 38 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 38

0
192

Suradi Adventure Part 38

ANASTASIA MELINDA LIEM 3

“Kami langsung saja ke pokok persoalan kedatangan kami ke sini, Bu.” Kata lelaki bersepatu coklat itu. “Ada 10 pertanyaan yang ingin kami ajukan, hal ini terkait Ibu sebagai saksi dari kasus yang menimpa Handono Halim, pertanyaan kami akan diperdalam apabila nanti ada surat perintah khusus pemanggilan Ibu ke kantor kami di Jl. Kuningan Persada.”

Ketiga orang lelaki yang lain mengeluarkan catatan dan handphone untuk merekam.
“Boleh kami tahu apa hubungan Ibu dengan Handono Halim?”
“Saya pegawainya sekaligus juga menantunya.”
“Jadi Ibu adalah istrinya Winardi Halim?”
“Begitulah.”
“Apakah ibu mengetahui Handono mengajukan kredit ke BRI sebesar 5 Trilliun rupiah untuk membangun apartemen di 10 kota besar di Indonesia?”
“Saya tidak tahu.”
“Sebagai salah satu pegawai dan juga menantu, apakah Ibu diberi kepercayaan untuk melakukan analisa bisnis terhadap pengajuan kredit tersebut?”
“Saya tidak tahu menahu soal pengajuan kredit tersebut.”
“Apakah Ibu tahu Handono memiliki rekening di Bank Nasional Singapura?”
“Saya tidak tahu.”
“Menurut Ibu, seandainya Handono memiliki sejumlah uang yang cukup banyak, kira-kira akan disimpan di mana? Di Swiss atau Singapura?”
“Papa Handono punya Bank sendiri, ngapain dia nyimpan uang di bank orang lain. Bego bener.” Kata Melinda dengan kesal.

Lelaki bersepatu coklat itu mengangguk-angguk.
“Benarkah Ibu pernah jadi Direktur Utama PT Global Cipta Mandiri?”
“Benar.”
“Benarkah sistem manajerial dan pelaporan seluruh perusahaan di Halim Group mengikuti sistem di PT GCM?”
“Benar.”
“Benarkah sistem tersebut berpusat dan dikendalikan oleh Ibu walau pun Bu Winda sudah dirotasi ke PT. Priangan Halim Bandung?”

“Bu Winda?” Tanya Melinda dalam hati. Dia merasa aneh.

“Tidak benar. Kendali ada di pusat.” Jawab Melinda dengan tegas.
“Kami menemukan data, bahwa seluruh sistem itu dikendalikan melalui Laptop Bu Winda.” Kata lelaki itu.
“Koq bisa?” Melinda berpura-pura bego. “Bagaimana caranya?”

Lelaki bersepatu coklat itu tersenyum sinis.
“Benarkah ibu pernah mengadakan interograsi secara rahasia terhadap semua manajer di PT. PHB ?”

Melinda berpikir keras. Dari mana orang ini tahu dia melakukan meeting mendadak dengan semua manajer?
“Ya. Saya memangil mereka satu per satu dengan telpon.” Melinda berbohong
“Apakah itu artinya Bu Winda memerintahkan mereka untuk melakukan transaksi bank secara tertutup?”
“Maksudnya apa ya? Saya kurang paham.”
“Kami menemukan data, ada aliran dana mencurigakan dari 3 orang manajer PT. PHB ke sebuah rekening tak dikenal.”
“Saya tidak tahu.” Kata Melinda. “Saya hanya menanyakan beberapa laporan yang tidak sesuai.”
“Ketidak sesuaiannya di mana?”
“Saya lupa lagi, semua data sebenarnya ada di laptop perusahaan. Tapi laptop itu sekarang tidak ada pada saya.”

Telpon berdering, dari Suradi. Melinda merasa heran. “Maaf Pak.” Kata Melinda sambil mengangkat telpon.
“Haallo?”
“Diam dan dengarkan. Cepat pergi ke belakang lewat dapur, di sana ada tangga kayu yang sudah disediakan Pak Tono. Hati-hati kamu menaikinya, jangan sampai terpeleset. Kamu harus secepatnya kabur.”
“Oh, ya , baik, baik. Kapan, Pak? Malam ini? Baik, siap Pak.” Kata Melinda. “Cuma bisnis biasa.” Kata Melinda sambil tersenyum. “Saya ke belakang dulu ya sebentar.”

Melinda bangkit dari duduknya dan melangkah menuju dapur. Seorang lelaki yang paling jangkung mengikutinya dari belakang.
“Bi kopinya udah belum?” Tanya Melinda. Berkata begitu, Melinda terus melangkah menuju pintu keluar. Dia kemudian mengunci pintu itu dari luar.
“Ini bu lagi disiapkan.”

Melinda pergi ke halaman belakang dan menemukan tangga kayu itu berdiri miring pada tembok benteng. Pak Tono duduk di atas tembok menunggunya.
“Cepat, Bu.”

Melinda menaiki tangga kayu itu dengan ketar-ketir. Tiba di atas tembok benteng dia hampir saja terjatuh karena pusing. Pak Tono kemudian menarik tangga kayu itu dengan kedua tangannya yang kuat dan menyandarkannya lagi di tembok benteng sebelah luar. Pak Tono dengan cekatan menuruni tangga itu dan meminta Melinda untuk melakukan juga.

“Jangan takut Bu, cepat Bu, sebelum mereka tahu.”

Jantung Melinda berdegup kencang. Seumur hidupnya dia belum pernah menaiki tangga kayu dan menuruninya. Dia merasa ngeri.
“Ayo, Bu.” Kata Pak Tono. “Ibu pasti bisa.”

Dengan peluh bercucuran dan rasa takut jatuh yang masih tersisa, akhirnya Melinda berhasil menuruni tangga kayu itu. Pak Tono segera mengangkut tangga kayu itu dan menyimpannya di bak mobil.
“Kita akan kemana, Pak?” Tanya Melinda.
“Ke tempat aman, Bu.”

Lelaki jangkung itu akan memasuki dapur ketika Bi Ijah membawa nampan berisi 4 cangkir kopi. Dia menghindar dan menatap ke arah temannya yang lain.
“Sssttt.” Bisik lelaki bersepatu coklat itu. “Kita tangkap sekarang.”

Mereka menebah Bi Ijah hingga terpelanting ke lantai dan nampan itu pun terjatuh. Demikian juga dengan cangkir-cangkir kopinya. Air kopi pun tumpah dan cangkir terlontar menimbulkan suara gemerincing.

Ke 4 orang lelaki itu masuk menyerbu ke dalam dapur. Tapi di sana kosong, tidak ada siapa-siapa. Secara otomatis mereka menuju pintu dapur dan mencoba membukanya. Ternyata terkunci. Ke 4 orang lelaki itu bergerak cepat ke luar dari dapur dan ke luar rumah melalui pintu depan, mereka masuk ke halaman samping yang dipenuhi tanaman bunga. Di halaman belakang itu ternyata juga tidak ada orang.

Melinda menghilang.

Lelaki bersepatu coklat itu memaki-maki dan segera memasuki mobil van-nya. Dia langsung menyalakan mobil itu dan mengendarainya ke luar pekarangan.

Suradi tersenyum melihat satu ban belakang mobil van itu kempes. Dari balik stir colt bak tuanya, dia menelpon Pak Amat.
“Pak Amat, bawa anak-anak 10 orang, truk dan espass biru ke Guruminda sekarang. Kita akan pindahan lagi.”

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler