. Suradi Adventure Part 36 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 36

0
224

Suradi Adventure Part 36

ANASTASIA MELINDA LIEM 1

Suradi sedang bermain-main dengan mistar dan pensil, ketika dari ruang sebelah Melinda memanggilnya.
“Kaka…”
“Belum selesai.” Jawab Suradi.
“Sini dulu.”
“Entar, lagi tanggung.”
“Kalau dipanggil Dirut harus langsung dateng.”
“Ih! Maksa amat.” Katanya sambil berdiri, mematikan rokok dan melangkah menuju kamar sebelah. Dia melihat Melinda sedang sibuk dengan aneka berkas, sementara printer laser jet itu mendesis-desis sambil melontar-lontarkan kertas hasil cetakannya.
“Siap, Bu Dirut.”
“Nah, gitu dong. Bahagia deh punya anak buah yang bisa diandalkan.” Katanya sambil merapikan sejumlah berkas dan menjepretnya dengan hekter. “Ini kopian akta pendirian perusahaan, kaka pegang satu, Lin lin pegang satu. Aslinya ada di brankas. Terus ini, kontrak pekerjaan pembangunan kantor kita di Cisaranten. Rekening perusahaan, kita pegang berdua, Mami enggak ikut. Udah ada isinya, satu koma lapan eM. Kaka nombok dong?”
“Berapa?”
“Sini pinjem HPnya, emang Kaka punya saldo berapa sih?” Katanya. Suradi menyerahkan HPnya. Melinda memain-mainkan jemarinya di HP itu. “Ada 800 juta, enggak jelek untuk seorang Dirops. Lin lin pindahin ya 500?”
“Boleh. Kamu sendiri nombok berapa? Masa Mami doang yang nombok.”
“Duit Mami itu duit Lin lin juga.” Katanya. “Rekening Lin lin diblokir, nunggu Papa Handono selesai diperiksa KPK, baru bisa kelar.”
“Cepat atau lambat kamu juga akan terseret.” Kata Suradi.
“Jangan khawatir, Ka. Tenang aja.” Kata Melinda sambil merapikan berkas yang baru selesai dicetak printer. “Lin lin paling jadi saksi, itu pun dengan catatan. Lin lin akan bersaksi secara tertutup.”
“Apa bener Pak Handono ngemplang duit negara 5 triliun?”

Melinda menatap Suradi, tajam. Dia lalu mendengus.
“Hm. Seharusnya Papa tahu kalau si Win akan menikam dia dari belakang. Dan Kak Suzie kurang peka terhadap persoalan Halim Group yang mendasar.”
“Maksudnya?”
“Udah, deh. Kaka jangan ikut campur.”
“Cuma penasaran.”
“Tuh kan bener…” Kata Melinda sambil memelototi Hpnya sendiri. “Lihat Ka, Aset Halim Group di Bandung dibekukan, ini berarti yang pertama dikorbankan Winardi itu Lin lin, Ka. Istrinya sendiri. Tuh, baca, bahkan berita ini seakan-akan mengatakan bahwa Melinda Liem bersekongkol dengan Handono Halim menyembunyikan duit rampokan kredit BRI.”
“Koq dibekukan?”
“Ya, sebab menurut dugaan Lin lin, waktu si Win ngajukan kredit, dia jadikan aset PT. Priangan Halim Bandung sebagai agunan…tunggu.” Kata Melinda seperti berkata kepada dirinya sendiri. “Paling kalau dihitung aset di bandung enggak akan nyampe segitu, 5 Mall plus 3 Hotel, paling juga 2 T.” Katanya.

Telpon Melinda berdering.
“Halo Siauw Ling, apa kabar?” Kata Melinda.
“Bu, punya cash 100 ribu yuan enggak?”
“Rekeningku diblokir, sayang.”
“Waduh sayang nih, ada prodak bagus, bu. Cashflownya cepet, paling lama juga 2 atau 3 minggu.”
“Emang prodak apa?”
“HP Bu, barangnya sudah ada di Hongkong tinggal dikirim. Tapi mereka pengen pake Yuan.”
“Berapa marginnya?”
“Bukan tanya margin, bu, berapa kali lipat keuntungannya gitu.”
“Berapa?”
“Mungkin 2 atau 3 kali. Dipotong pajak, cukai dan biaya lain-lain, kita bisa bersih dapat 500 jutaan.”
“Wow. Oke juga tuh.”
“Punya enggak, Bu?”
“Entar saya cari dulu, ya, say. Kapan tenggatnya?”
“Kalau bisa hari ini, sore.”
“Baik, berarti saya punya waktu… 6 Jam. Ada atau enggak ada saya telpon jam 2, ya?”
“Oke, siap, bu. Makasih.”
“Eh, entar dulu, kamu sendiri dapat berapa dari keuntungan net?”
“Ya, biasa Bu, 25%.”
“20% aja ya, biar saya semangat nyari donaturnya.”
“20 ya Bu? Oke, siap.”

Sementara Melinda menelpon, Suradi menatapnya.
“Hm, 100 ribu yuan ya?” Melinda memukul-mukulkan ballpoint yang dipegangnya ke keningnya. “Coba kutelpon Andri, dia punya enggak.” Katanya lagi. Dia sepertinya bicara sendiri.

“Halo, nDri. Apa kabar?”
“Baik, Linda. Wah, surprise nih ditelpon cewek cantik. Masih di Halim Group?”
“Masih.” Katanya. “To de poin aja ya nDri, lu punya 100 ribu yuan enggak?”
“Mmm, ada. Mau pinjem atau gimana?”
“Pinjemlah, entar gua kembaliin 300 jutaan, mau enggak?”
“Wow, berati gua dapet 100 ya? Easy money banget. Boleh. Tapi lu kasih gua jaminan dan syarat.”
“Jaminan sertifikat, gua ada. Syaratnya?”
“Lu makan malam ama gua, mau?”
“Kalau gua kagak mau?”
“Sorri deh kalo gitu. Lu tahu kan gua suka sama elu dari dulu, tapi elu kerjaannya mainin perasaan gua aja.”
“Salah sendiri lu yang baper.” Kata Melinda. “Mau ngasih enggak?”
“Memohon deh ke gua… pliiis Andri sayang…”

Tiba-tiba Suradi mendekat dan mengambil HP melinda.
“Hey monyet, bangsat lu.” Kata Suradi dengan gemas dan menutup telpon.

Melinda terpana.
“Kaka juga bisa cemburu, sayang.” Kata Suradi, lembut.
“Tapi ini bisnis, Ka. Enggak lebih.” Wajah Melinda terlihat kesal.
“Kalo gitu, bisnisnya sama Kaka aja. Tunggu sebentar.” Berkata begitu Suradi masuk ke kamar kerjanya, mengambil kunci filling dan membuka salah satu lacinya. Dia mengambil uang Yuan itu dan mengunci kembali filling kabinetnya.
“Ini.” Kata Suradi.

Melinda bengong.

“Horeee, Kaka punya uang Yuan.” Kata Melinda. “Makasih ya Ka.”

Tapi Suradi diam. Melinda mendekatinya dan memeluk tangannya.
“Jangan marah, dong.”
“Kaka juga punya hak untuk cemburu!” Kata Suradi ketus.
“I ya i ya, maafin deh.” Kata Melinda dengan tersenyum. “Lin lin siap dihukum.”
“Aturan ke 3 perusahaan. Dirut dilarang membuat cemburu Dirops. Paham?”
“Cie, cie… yang cemburu, bikin aturan.” Kata Melinda sambil terkikik. “Lihat Kaka cemburu, Lin lin jadi horny nih… Ka, ngentot yuk?”
“Ayuk, siapa takut!”

Bersambung

Daftar Part