. Suradi Adventure Part 35 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 35

0
210

Suradi Adventure Part 35

METAMORFOSIS SURADI 10

Sore itu, sekitar jam 4, Suradi agak merasa aneh ketika Melinda memanggilnya ke kamar Mami. Mereka duduk lesehan di lantai dan Suradi duduk mengikuti mereka.
“Ini, meeting. Tolong serius.” Kata Melinda dengan nada yang berwibawa.
“Iya, Mami juga serius.”
“Kaka juga.” Kata Suradi.

Melinda memangku buku gambar A3 yang isinya berupa sketsa rumah kost yang dibuat Suradi. Dia juga memegang ballpoint dan buku binder.
“Saya minta Mami menjelaskan rencananya dulu. Silakan.” Kata Melinda. Suradi melihat Top Eksekutif berwajah cantik itu sedang benar-benar memimpin meeting.
“Kalao Mami sih pengennya ke Jakarta.”
“Tidak bisa. Cari opsi lain.”
“Kalo rumah yang dulu, kita beli lagi gimana?”
“Itu sulit. Pendekatannya lama. Coba pikirkan yang lain, Mi?”

Mami terdiam.

“Kalau begitu, Mami dilewat dulu. Sekarang kaka. Gimana?”
“Apanya?”
“Rencananya. Kaka enggak mungkin kan selamanya tinggal di losmen ini.”
“Mmm, baik. Tadinya kaka mau pindah ke Kiarapayung, Jatinangor.”
“Terus?”
“Kamu enggak mungkin ikut ke sana kan?”
“Belum tentu.” Kata Melinda. “Di sana ada apa? Aset tanah atau rumah?”
“Tanah dan rumah.”
“Berapa jaraknya dari kampus UNPAD?”
“Sekitar 10 kilo.”
“Itu kejauhan, kurang strategis. Rencana lain?”
“Kaka berniat mengontrak rumah di Kompleks Guruminda.”
“Itu rencana bagus. Saya setuju. Kita akan memulai dari sana. Sudah dihubungi pemiliknya?”
“Sudah. Sekarang juga bisa transaksi.”
“Tunggu dulu. Luas rumahnya berapa?”
“Cukup. 4 Kamar Tidur, 1 dapur 2 kamar mandi, kamar tengah dan kamar tamu.”
“Garasinya?”
“Cukup untuk 3 mobil.”
“Baik. Deal. Siapa pemiliknya? Bisa dihubungi sekarang?”
“Bisa. Dia pemilik losmen ini.”
“Oh. Okey. Kaka, kita akan memulai babak baru perusahaan kita. Suradi, Contractor & Builder, akan kita tingkatkan menjadi bertaraf nasional, saya nanti akan urus-urus suratnya ke notaris. Sementara itu kantor pusatnya kita tentukan di Cisaranten, di tempat kost-kost-an kita. Kaka nanti akan mendisain ulang tempat itu sesuai dengan kebutuhan yang nanti akan saya jelaskan.”
“Siap.” Kata Suradi.
“Bentuk organisasinya lini. Lin lin yang jadi Direktur Utama, Kaka Direktur Operasional, Mami jadi manajer kost.”
“Mami setuju.” Kata Mami. “Anak buah Mami siapa?”
“Pak Mamat, Dia menjadi Kepala Bagian Kemanan dan Pak Jajang, Kepala Bagian Maintenance dan Cleaning Service.”
“Pak Mamat kan Satpam? Dan Si Jajang cuma tukang bersih-bersih biasa.” Kata Mami.
“Udah, Mami terima aja.” Kata Melinda. “Kita butuh nama-nama untuk mengisi SOTK. Deal, ya Mi?”
“Ya, udah deh, deal.”
“Kaka?”

Suradi terdiam. Dia menatap Melinda.
“Kamu jadi Dirut ya? Ehem, apa enggak salah?”
“Enggak. DirOps harus patuh dan taat sama Dirut. Ketahuan selingkuh akan langsung dipecat.”
“Tapi kan ini Perusahaan Kaka.”
“Ya, sekarang ini. Nanti kalau secara legal saya bawa ke Notaris, jadi milik kita.”
“Dirops boleh nyuruh-nyuruh Dirut, enggak?”
“Tidak bisa.”
“Berarti kamu jadi penguasanya, dong.”
“I ya.” Kata Melinda sambil tersenyum.
“Kaka aja yang Dirut, kamu Sekretaris.”
“Gak mau. Dirut suka banyak ngelesnya, jadi Dirops aja.”
“Entar Dirut ketemu brondong terus selingkuh.” Kata Suradi, wajahnya sebal.
“Dirops dilarang cemburu dan dilarang selingkuh.” Kata Melinda. “Itu aturan pertama perusahaan.”
“Kalau cemburu?”
“Kalau cemburu, malemnya harus ngentot sepuluh kali sampe lemes.” Kata Melinda.
“Ini meeting apaan?” Kata Mami protes. “Mami enggak mau denger kayak ginian, sana terusin meetingnya di tempat lain.”
“Kalau Kaka selingkuh?” Kata Suradi dengan wajah muram.
“Besoknya Kaka akan tahu ada peluru di dalam kepala Lin lin.” Kata Melinda, matanya berkaca. “Lin lin takkan mau bangun lagi selamanya. Mati mungkin lebih baik.”
“Kalian ngomong apaan?” Kata Mami. “Jangan di sini, Mami enggak mau dengar. Sana pergi, di kamar kalian aja.”
“Terus, Winardi gimana?” Tanya Suradi, wajahnya serius.
“Bodo amat.”
“Dia suamimu.”
“Bodo amat.”
“Dia dan Handono akan menuntut kamu di pengadilan.” Kata Suradi.
“Bodo amat.” Kata Melinda, tegas. “Coba aja dia kalau berani.”
“Kamu enggak takut?”
“Selama ada Kaka sama Mami, apa yang Lin lin takutkan? Enggak ada.” Katanya.

Tiba-tiba telpon Suradi berdering. Dari Siska. Melinda merebut HP dari tangan Suradi, mengangkatnya.
“Halo, Bu Siska. Apa kabar?”
“Ini siapa? Saya mau bicara dengan Suradi.”
“Kaka lagi tidur, kami udah bercinta selama 3 jam, jadi dia cape, enggak bisa diganggu.” Kata Melinda. “Oh, i ya, saya Linda.”
“Bisa tolong sampaikan, ditunggu di Kafe Unyu Bu Dewi malam ini, bisa enggak?”
“Enggak, bisa.” Kata Melinda, suaranya gemetar. “Paling nanti saya suruh ke sana seorang teroris buat ngebom kafe sialan itu. Mudah-mudahan kamu juga ikut mampus di dalamnya.”

Suradi bengong. Mami bangkit berdiri dan pergi ke ranjang, menutup kepalanya dengan bantal.

Telpon ditutup. Klik.

Melinda menatap Suradi dengan tajam.
“Kaka enggak boleh ketemu dia lagi.” Katanya.
“Aturan perusahaan kalau Dirut cemburu ada enggak?” Tanya Suradi.

Melinda dengan kesal berdiri, lalu pergi ke luar kamar. Suradi diam. Melinda kembali lagi membawa sepucuk pistol.
“Ini pistol buatan India, didisain khusus untuk perempuan, untuk melindungi diri dari pemerkosa. Cukup mematikan. Amunisinya ada 2 kotak.” Katanya dengan getas. Dia lalu menodongkan pistol itu kepalanya sendiri.
“Sekarang Kaka pilih, pelurunya meledak di sini atau di kepala perempuan jelek itu.”

Suradi terpana.
“Cepet bilang!”

“Lin lin jangan main-main sama pistol.” Kata Mami dengan nada yang penuh ketakutan.
“Mami diam, jangan ngomong. Cepet pilih!”

Suradi hendak berdiri.
“Jangan berdiri, Kaka jawab aja.”
“Kamu… apa-apaan sih?”
“Cepat jawab!” Melinda berkata keras, suaranya gemetar dan airmatanya menetes.
“Saya tidak akan ke sana.” Kata Suradi.
“Kaka belum memilih, cepat tentukan jawaban Kaka!”

Suradi mendongak dan menatap wanita itu.
“Kaka pilih Bu Dirut.”
“Sejak saat ini tidak boleh ada perempuan lain selain Lin lin.” Katanya.

Suradi berdiri, memeluk Melinda.
“Kaka janji, sejak saat ini, tidak akan ada perempuan lain.” Kata Suradi.
“Janji?”
“Janji.”
“Sumpah?”
“Sumpah.”
“Kalau ada perempuan lain, kalau Lin lin enggak mati bunuh diri, Lin lin akan jadi pembunuh. Kaka paham?”
“Paham.”
“Kaka sayang sama Lin lin?”
“Sayang.”
“Baik. Kalau begitu, kita ke kamar.”
“Sekarang?”
“Ya, sekarang. Cepet.” Berkata begitu Melinda menarik tangan Suradi untuk membawanya ke kamar mereka.
“Aturan ke dua perusahaan, kalau Dirut minta ngentot, Dirops tidak boleh menolak.” Katanya sambil tersenyum.*** The End

DENGERIN CURHAT GUE
by @MelancholyBlue

Kisah petualangan Suradi bukan ide gue, jadi gue ngerasa ketempuhan sama si sosis @Sumandono untuk nerusin ceritanya. Soalnya gue bingung setengah mampus gimana caranya. Masa si suman yang ngentot gue yang harus ngecrot. Gile bener. Jadi kepada para permirsah dan para suhu di sini, gue mohon maaf jika ceritanya diakhiri dengan cara yang kurang berkenan.

Kalo mau nyalahin, nyalahin aja @Sumandono dia yang harusnya bertanggungjenab.

Gue juga sebenernya seneng sih baca cerita ini. Jujur dah, @Sumandono emang jempol kalo bikin cerita. Kadang gue diem berjam-jam dengerin dia ngibul.

Harapan gue sih, dia bisa muncul lagi di forum ini dan meneruskan cerita Petualangan Suradi selanjutnya.

Sekian, mohon disantuy ya gaes
tetede

Bersambung

Daftar Part