. Suradi Adventure Part 31 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 31

0
213

Suradi Adventure Part 31

METAMORFOSIS SURADI 6

Melinda melihat bagaimana dada pria itu turun naik dengan nafas tersengal. Wajah dan telinganya tampak memerah.
“Ini pemberianmu, Ka.” Kata Melinda, akhirnya dia merasa lega bisa memanggil Suradi dengan panggilan Kaka.
“Kaka ingat? Di kafe Fizzis lantai dua meja paling pojok… ”
“Cukup.” Kata Suradi. “Cukup. Jangan siksa saya, Bu. Saya takkan sanggup menanggungnya.”
“Jangan panggil aku bu. Kaka, aku Lin lin! Aku Lin lin.” Kata Melinda, gemetar.
“Kau bukan dia.”
“Aku Lin lin.”
“Bukan.”

Suradi bangkit dari duduknya.
“Kau bukan dia.” Kata Suradi, kakinya melangkah menuju pintu.
“Kaka! Tunggu sebentar. Dengarkan dulu!”
“Jangan bohongi saya lagi.” Kata Suradi dengan nada gemetar. Dia sangat emosional.

Melinda bangkit dari duduknya dan memburu pria itu. Dia memeluk Suradi dari belakang.
“Jika kaka benar-benar sayang sama Lin lin, dengarkan dulu.” Kata Melinda. Kedua tangannya merasakan degup jantung Suradi yang berdegup sangat kencang. “Maafkan Lin lin, Kaka. Maafkan.”

Suradi diam. Dia mencoba melepaskan pelukan tangan itu tapi Melinda tidak mau mengalah. Dia semakin erat memeluk Suradi.
“Lepaskan… bu … Linda…”
“Tidak. Panggil aku Lin lin kaka.”
“Lepaskan.”
“Tidak.”

Suradi kemudian mencekal lengan Melinda dan dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi kekuatan tenaga Suradi sedikit tersedot oleh tekanan lembut sepasang bukit payudara di punggungnya.

“Lepaskan… Lin… lin…”
“Tidak. Kaka patahkan dulu tangan Lin lin baru bisa lepas.”

Suradi akhirnya mengalah. Dia melemaskan tenaga pegangannya pada pergelangan Melinda.

“Benarkah kamu adalah Lin lin?”
“Ya, kaka, aku Lin lin.”
“Tetapi… tetapi… maukah kau melepaskan dulu tanganmu…”
“Tidak.” Kata Melinda. “Jangan pergi, Kaka.”
“Lepaskan dulu.”
“Jangan pergi, Ka. Jangan tinggalkan Lin lin.” Kata Melinda.
“Saya tidak akan pergi.”
“Berjanjilah.”
“Saya sudah berjanji sejak 18 tahun yang lalu.”
“Berjanjilah sekali lagi.”
“Lepaskan dulu.”
“Tidak.”
“Kamu tidak percaya sama kaka?” Kata Suradi. Melinda mendengar kata “kamu” dan “kaka” yang diucapkan pria itu demikian lembut menyentuh hatinya.
“Lin lin percaya.”
“Kalau begitu lepaskan dulu.”
“Tidak. Tidak mau.”
“Mengapa? Kamu enggak percaya sama kaka?”
“Bukan.”
“Kaka tidak akan pergi.”
“Lin lin percaya kaka tidak akan meninggalkan Lin lin lagi.”
“Kalau begitu lepaskan.”
“Tidak mau.”
“Lin lin sayang… lepaskan. Kaka janji.”
“Janji apa?”

Suradi terdiam.

“Dengarkan dulu…” Kata Suradi.
“Janji apa dulu?”
“Kaka janji, apa pun yang terjadi, kamu harus kembali.”
“Kembali ke mana?”
“Suamimu.”
“Lin lin tidak mau.” Kata Melinda. “Kaka… ”
“Dengarkan dulu, sayang. Dengarkan kaka.” Kata Suradi. “Kamu harus kembali ke Halim Group.”
“Tidak. Tempat itu penuh dengan srigala.”
“Lin lin dengarlah, kaka rela menyerahkan nyawa kaka demi kamu. Lepaskan dulu pelukannya.”
“Tidak.”
“Lin lin… kaka kangen… lepaskan dulu, kaka tidak bisa melihat wajahmu jika begini.”
“Kaka janji tidak akan pergi?”
“Kaka janji.”

Melinda melepaskan pelukannya. Suradi membalikkan badan dan memeluk wanita itu dari depan. Mencium bibirnya dengan lembut namun Melinda membalasnya dengan agak kasar dan penuh nafsu. Kedua tangannya meraih rambut Suradi dan menjambaknya. Mulutnya melumat bibir Suradi dengan sangat rakus dan ganas.

Suradi terengah-engah.

Dia merasakan kedua payudara Melinda mengeras di dadanya. Bibir Melinda dengan liar masuk dan mengemut gigi Suradi, lidahnya menjulur masuk ke dalam rongga mulut Suradi dan menemukan bagian atasnya. Sampai-sampai Suradi tak bisa bernafas.

Suradi melepaskan diri dari pagutan yang penuh nafsu itu dan merenggangkan wajahnya dari wajah Melinda. Dia menatap mata wanita itu dan menangkap binar kebahagiaan.

Ditatap begitu, Melinda melebarkan bibirnya dalam bentuk senyum yang tulus.
“Enak.” Katanya. “Lin lin mau lagi, kaka.”

Suradi menatap Melinda dengan lembut. Dia bisa merasakan, dari cara bagaimana wanita itu melumat bibirnya, dia ibarat seorang yang berminggu-minggu kelaparan dan ketika menemukan makanan, dia melahapnya dengan rakus.

“Sabar sayang. Kaka dengar perut kamu keroncongan.”
“Bodo.” Kata Melinda. “Mau lagi.” Berkata begitu Melinda menarik tangan Suradi ke tempat tidur. Suradi terbawa oleh tarikan tangan lembut itu dan mereka duduk berdampingan di bibir ranjang.
“Lin lin sayang, dengarkan. Kaka bukan seperti kaka yang dulu.”
“Lin lin juga sama, bukan Lin lin yang seperti dulu.”
“Ya, kamu sekarang punya suami.”
“Kaka juga punya istri.”
“Sudah bercerai.”
“Kenapa kaka menceraikan dia?”
“Dia yang minta.”
“Kenapa?” Tanya Melinda.
“Kaka tidak tahu.”
“Mungkin dia tahu kaka banyak berselingkuh.” Kata Melinda.

Suradi terdiam.

“Apakah kamu marah?” Tanya Suradi.
“Kenapa harus marah?”
“Apakah… apakah kamu cemburu?”
“Sangat.”

Suradi terdiam lagi. Kali ini lebh lama.

“Lin lin, kaka malu.” Kata Suradi. “Kamu sudah tahu semuanya tentang kaka, ya?”
“Ya.”
“Maafkan, Kaka.”

Melinda tersenyum. Dia mengecup bibir Suradi. Tapi pria itu tak membalasnya.
“Mengapa, mengapa kamu dulu pergi meninggalkan kaka?”
“Lin lin tidak pergi meninggalkan kaka. Lin lin sakit.”
“Kamu sakit apa?”
“Jatuh dari motor. Nanti sama mami dijelaskan.”
“Kaka merasa bersalah.” Kata Suradi dengan nada yang lemah.

Lin lin menatap Suradi dengan tatapan menyelidik.
“Kaka… lihatlah ke sini.” Kata Melinda. “Kalung ini tak pernah satu kali pun lepas dari leher Lin lin.” Melinda menciumi kalung itu. “Jika Lin lin merasa sunyi dan kangen, Lin lin memejamkan mata sambil memeluk kalung ini.” Melinda berkata sambil memejamkan mata dan kedua tangannya memeluk kalung itu seperti sedang berdoa.

Suradi menatapnya. Dan mencium bibir tu dengan lembut.

Bersambung

Daftar Part