. Suradi Adventure Part 3 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 3

0
348

Suradi Adventure Part 3

MANG, KONTOL MANG… PlISSSS

Sore.

Suradi pusing 7 keliling. Sudah seminggu koq si mamah belum beres-beres juga kode merahnya. Mana pulang badan remek, proyek gagal, kepala yang di atas dan yang di bawah berdenyut-denyut… hadeuh. Tiba-tiba datang lagi 2 kakak iparnya, bawa rombongan 3 ponakan dan 5 cucu yang tidak pernah berhenti teriak-teriak, berlari-lari ke sana kemari, meloncat-loncat. Pokoknya pusing.

Suradi mengasingkan diri di ruang kantornya yang sederhana, berteman rokok dan kopi. Menikmati kesendiriannya yang tenang. Namun belum juga setengah jam, tiba-tiba Karina masuk nyelonong begitu saja ke ruangannya.
“Mang Sura, lagi apa?”
“Lagi istirahat. Memang ada perlu apa, Rin?”
“Cuma mau nanya, Mang….”
“Nanya apa? Enggak usah ragu-ragu sama mamang mah.” Kata Suradi, menyembunyikan rasa kesal.
“Apa benar mang apa yang dibilang Bi Iis?”
“Emang si Mamah ngomong apa sama kamu? Koq nanyanya ragu-ragu begitu sih?”
“Itu Mang, mmm… kata Bi Iis mamang suka ngejilat itunya ya.”
“Maksudnya?”
“Ah, udahlah. Bi Iis pasti bohong.” Katanya sambil pergi meninggalkan ruangan.

Suradi tak peduli. Dia menyesap kopinya dan menikmati kretek favoritnya. Dia memang tidak begitu dekat dengan anak-anak dari kakak-kakak iparnya. Apalagi dengan Karina, mentang-mentang suaminya bekerja di sebuah bank yang bonafid, sikapnya terkadang menyebalkan. Meskipun begitu, Suradi merasa kasihan juga kepada Karina, sudah 10 tahun menikah, masih juga belum punya anak.

Karina menikah dengan Ivan ketika berusia 18 tahun. Begitu lulus SMA, Ivan yang berumur 28 tahun dan sudah memiliki pekerjaan tetap, langsung melamarnya. Setelah menikah, mereka tinggal di rumah sendiri di Padalarang.

Tiba-tiba Karina balik lagi.
“Bi Iis berani sumpah katanya mamang selalu melakukannya.” Katanya.
“Melakukan apa, Rina? Yang jelas dong kalau ngomong.”
“Ngejilatin memek Bi Iis.” katanya dengan berbisik.
“Oh, itu. Ya i ya lah.” Suradi berkata datar.
“Mamang enggak jiji?”
“Waduhhh kamu itu gimana sih, itu kan salah satu tugas mamang sebagai suami menyenangkan istri. Masa mamang harus jiji?”

Karina terdiam.
“Mang… mamang, bisa pegang rahasia enggak?”
“Rahasia apa?”
“Pokoknya mamang harus bersumpah dulu.”
“Sumpah apa?”
“Bersumpah akan memegang rahasia yang akan Rina bilangin.”
“Kamu selingkuh ya?” Goda Suradi.
“Ih, bukan itu mang.”
“Terus?”
“Sumpah dulu.”
“Ya, sudah, mamang bersumpah tidak akan membocorkan rahasia kamu.”
“Bener, ya? Awas kalau mamang buka rahasia. Kata Bi Iis dijilatin memek itu rasanya geli-geli enak.”
“Terus?”
“Rina mau nyobain dijilatin sebentar aja. Satu menit.”
“Loh? Kok mintanya sama mamang bukan sama suami?”

Karina menarik nafas berat. Wajahnya murung.
“Si Aa mah enggak pernah mau begituan. Nancep-nancep aja, keluar, sudah selesai.”
“Waduh, koq sampai segitunya. Egois bener.” Kata Suradi. “Berarti dia belum pernah merasakan orgasme.” Suradi membatin.
“Rina penasaran mang sama yang dibilangin Bi Iis.”
“Penasaran?”
“I ya, mang. Pengen nyobain dijilat. Sebentar aja.”
“Boleh. Sekarang?”
“Jangan atuh, mang. Kan banyak orang?”
“Terus kapan?”
“Gini mang, sebentar lagi semuanya mau pada ke rumah Wak Ipah, Bi Iis juga ikut. Rina akan menyimpan HP di deket TV, terus Rina tinggalin. Pas sampai di rumah Wak Ipah, Rina lalu bilang HPnya ketinggalan di rumah Bi Iis. Terus Rina balik lagi ke sini ngambil HP. Terus mamang jilatin memek Rina, sebentar aja. Rina cuma mau nyobain doang.”
“Satu menit ya?”
“Satu menit aja, Mang.”
“Terus hadiah buat mamang apa?”
“Besok Rina ke Bogor, nanti dibeliin asinan deh.”
“Oke, mamang tunggu di sini.”

Ketika Rina pergi, Suradi diam-diam tersenyum. Hm. Di antara semua keponakannya, Rina itu yang paling bohai. Tubuhnya langsing tapi toketnya gede. Kulitnya putih bersih agak berbulu. Wah. Dalam mimpi pun tidak pernah Suradi membayangkan akan menjilat memek keponakannya sendiri.

Beberapa saat kemudian istrinya pamit pergi ke rumah kakaknya.
“Sebentar koq, Pah. Paling satu atau dua jam.”
“Ya, udah ga pa pa, mah.”

Setelah semua rombongan itu pergi, Suradi cepat mengganti pantalonnya dengan celana bokser tanpa memakai celana dalam dan mengganti kemeja dengan kaos santai. Setengah jam kemudian Rina datang dengan tergesa.
“Sebentar aja ya mang, cuma penasaran.”
“Ya, sebentar.”
“Tapi mamang tidak boleh macam-macam, cuma jilatin doang. Udah gitu, udah.”
“Baik.”
“Satu menit, mang.”
“Baik, satu menit.”

Karina kemudian duduk di sofa ruang tamu dan bersiap-siap.
“Jangan di sini Rin, di sofa TV aja biar agak tinggian.” Kata Suradi datar.

Rina pun duduk di sofa TV. Suradi kemudian berdiri dengan lututnya dan mengangkat kaki Rina ke atas sofa, merenggangkannya agar lebih lebar. Suradi lalu menyingkapkan roknya yang lebar dan menyisihkan bagian depan celana dalamnya agar memeknya tak terhalangi.

Sekejap Suradi merasa takjub. Memeknya putih dan tembem. Di bibir luarnya ada bulu-bulu halus yang tumbuh.

Mulai dari bagian bawah dekat lubang anus, Suradi kemudian menyisir bagian-bagian sensitif lainnya, terutama itilnya. Seketika Suradi merasakan denyaran-denyaran dan cairan asin yang menetes. “Ah, inilah memek gadis rasa perawan.” Bisik Suradi dalam hati.
“Sshhhh…. ” Rina mendesis.
“Sudah, Rin, sudah satu menit.” Kata Suradi sambil menjauhkan wajahnya dari aroma merangsang yang ditimbulkan oleh bibir-bibir memek yang mulai merekah.

Karina memandang Suradi dengan nanar.
“Satu menit lagi, mang. Pliss…”
“Baiklah. Satu menit lagi. Tapi celana dalamnya harus dilepasin dulu biar leluasa.” Kata Suradi.

Karina menurut.

Suradi menyasar lagi bagian-bagian sensitif memek Karina, kali ini dengan pendekatan yang lebih cepat. Dia melahap itilnya dan mempermainkannya dengan lidahnya.

“Ssshhhh… ssshhhh… ”

Lalu Suradi menjulurkan lidahnya menusuk-nusuk liang memek Rina dengan ujung lidahnya. Srrrr… cairan kenikmatan itu menggelosor dari dalam liang memeknya.

“Sudah satu menit.” Kata Suradi.
“Ssshhattuu menit lagi, mang.”

Suradi tersenyum. Dia langsung mengganyang memek itu dengan tehnik jilatan lidah terbaiknya dan tak memberikan pelajaran pada memek gadis itu agar jangan melawan ledakan-ledakan ngecrot di dalam liang memeknya. Srrrr… srrrr… srrr…. berkali-kali gadis itu mengeluarkan orgasme kecil yang membuat tubuhnya menggelinjang-gelinjang, mulut atasnya mengerang-erang, sementara mulut bawahnya empot-empotan
“Mang….kontol Mang…Plisss… Rina ga tahan.”
“Bener nih? Mamang sudah janji engga akan macam-macam.”
“Mang… plisss… kontol… cepet ewe mang…plisss…”

Suradi dengan senyum penuh kemenangan langsung saja memerosotkan celana boksernya, menancapkan kepala kontolnya yang memang sudah ngaceng sejak awal di mulut memek yang tembem itu, membenamkannya sampai masuk. Terussss…. sampai terbenam semuanya.

Setelah itu barulah dia menggenjot sekuatnya.
“Duh enaknya memek rasa perawan.” Kata Suradi dalam hatinya. “Legitnya sulit diucapkan dengan kata-kata.”

Karina menjerit-jerit karena belum pernah merasakan orgasme sebelumnya. Tusukan-tusukan yang dilakukan oleh kontol Suradi tepat mengenai syaraf-syaraf kenikmatan yang terdapat di dalam liang memeknya.

Sampai akhirnya tiba juga di moment terindah itu… Karina mengejang dan Suradi menahan genjotannya dan berusaha sekuat tenaga agar bisa ke luar bersama-sama.

“Aaaakkkkkkhhhhh….. ” Teriaknya. Lalu, ceplok…ceplok…ceplok… lendir kenikmatanya menyemprot dengan sangat kuat. Suradi juga sudah tidak tahan menanggung lahar yang akan meledak… srrr..crot.. crot…crottt… Suradi menyemprotkan pejuhnya di dalam memek Karina.

Hadeuuuhhh nikmat.

***

“Awas ini rahasia kita ya Mang!” Kata Rina sambil memakai celana dalamnya, lalu dia buru-buru pergi. Dua hari kemudian Karina menelpon Bi Iis agar Mang Suradi ke rumahnya untuk mengambil asinan bogor sekaligus memperbaiki genteng rumahnya ada yang pecah satu.

Suradi dengan semangat pergi ke Padalarang sendirian tanpa ditemani anak buahnya. Dia pergi pagi-pagi sekali dan pulangnya larut malam sekali. Ketika Suradi tidur, dia tidak sadar mengigau. “Mang…kontol..mang…plissss…” ***

—-

Catatan Tambahan Tentang Karina:
SUATU SAAT DI TERAS BELAKANG
(Apa yang tidak kau ketahui, tidak akan melukaimu)​

—-

Ivan Hermansyah mendekati Suradi yang tengah duduk di teras belakang berteman kopi dan rokok. Walau Ivan lebih muda dari Suradi beberapa tahun, tapi wajahnya tampak lebih tua. Perutnya buncit dan beberapa kerutan terlihat di dahinya.
“Kata Bi Iis, belakangan ini Mamang selalu murung.” Kata Ivan sambil mengeluarkan rokok putihnya.
“Begitulah, Van.” Jawab Suradi pendek.
“Beberapa tahun belakangan ini Ivan juga mengalami hal yang sama, mungkin stress karena pekerjaan.”
“Mungkin.”
“Kira-kira 2 bulan yang lalu Ivan ke dokter spesialis, dia mengatakan kelelahan fisik dan mental bisa berpengaruh pada kualitas sperma pria, sehingga sulit membuahi rahim istrinya.”
“Dokter cuma menduga, Van, jangan terlalu yakin.”
“I ya, Mang. Katanya ada kemungkinan Ivan impoten. Tapi buktinya sekarang Rina ternyata hamil.”
“Berapa bulan?” Tanya Suradi.
“3 bulan. Saya juga dapat promosi jabatan ke Bogor.”
“Jadi kepala cabang, Van? Selamat ya. Hebat kamu.”
“I ya, Mang. Di daerah Bogor Selatan.” Kata Ivan. “Bi Iis minta kepada saya agar memberi saran kepada Mamang jangan terlalu stress karena pekerjaan. Tekanan kerja di bank juga sangat keras mang, kita harus belajar menghadapinya.”
“Ya, mamang juga sedang belajar menghadapi semuanya.”
“Jangan terlalu murung, Mang. Bi Iis khawatir.”
“Tidak, mamang biasa saja.”
“Ivan ingat 3 bulan yang lalu mamang pernah memperbaiki genteng di rumah, tapi sekarang ada lagi genteng lain yang pecah.”
“Harusnya ada sedikit renovasi kecil, Van. Rumah itu kan sudah hampir berumur 15 tahun.” Kata Suradi.
“Ya, memang. Ivan berniat menjual rumah itu, Mang. Mungkin sama mamang perlu diperbaiki sedikit-sedikit di sana-sini, terus dicat biar kinclong. Mungkin akan lebih cepat laku.”
“Itu rencana bagus, Van. Nanti saya suruh Pak Tono ke sana.”
“Saya ke sini cuma mampir sebentar, Mang. Selain pamit mau ke Bogor, juga ini ada hadiah dari Rina. Dua stel pakaian yang kami beli waktu liburan ke Singapura kemarin.”
“Koq jadi repot seperti itu sih, Van.”
“Ini Rina yang maksa. Katanya mamang yang terbaik. Salam kangen untuk mamang dan keluarga.”
“Berarti Rina sudah di Bogor ya?”
“I ya Mang, lagi beres-beres rumah kami yang baru, ditemani Mamahnya.”
“Oh, berarti Wak Ipah di Bogor juga ya?”
“I ya, Mang. Saya mohon pamit mau ke kantor lagi.”
“Ya, sukses buat kamu, Van.”
“Terimakasih, Mang. Mamang juga, semoga sukses.” Kata Ivan sambil mematikan rokoknya di asbak. “Oh, ya, mang. Rina bilang, sampaikan terimakasih saya buat Mang Suradi yang sedalam-dalamnya…”

Suradi mengangguk dan tersenyum kecil. Tentu saja, Van, yang sedalam-dalamnya. Katanya dalam hati.***

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler