. Suradi Adventure Part 28 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 28

0
234

Suradi Adventure Part 28

METAMORFOSIS SURADI 3

“Pak Gito, saya mau adakan meeting mendadak malam ini di Priangan.”
“Baik, Bu. Saya siapkan mobilnya.”
“Lima menit.”

Di dalam mobil Melinda menelpon sejumlah manajer untuk melaksanakan meeting kilat. Di dalam ruang meeting, Pak Gito ikut duduk mendengarkan di pojokan.
“Saya hanya ingin mengingatkan kepada saudara-saudara, bahwa dari hasil evaluasi yang sudah saya lakukan dengan teliti, ada sedikitnya 3 orang yang melakukan penyalahgunaan uang perusahaan.” Kata Melinda dengan penuh wibawa. Dia meletakkan tas tangan dan tas kerjanya di atas meja. “Malam ini, satu orang demi satu orang akan saya interograsi di sini. Saya menduga, selain manajer, sejumlah staf juga melakukan konspirasi dan bekerjasama dengan 3 manajer ini untuk mencuri uang perusahaan. Nah, sekarang kalian mohon bubar dan boleh beristirahat, siapkan handphonenya masing-masing, saya panggil melalui telepon. Pak Gito, silakan beristirahat. Saya tidak akan pulang ke Dago Resort.”
“Baik, bu.”

Para manajer itu bubar dengan sunyi. Mulut terkatup dan hati bertanya-tanya.

Setelah ruang meeting kosong, Melinda memanggil seorang bellboy dan meminta dipesankan taxi.
“Jangan beri tahu siapa pun aku pergi.” Kata Melinda sambil menyelipkan uang seratus ribuan 2 lembar. Memasuki taxi dan meluncur ke Kafe Dago Tea House.

Tiba di depan pintu gerbang kafe, Desti menurunkan koper itu dari punggungnya. Hatinya merasa sedikit kecewa. Dia berharap Melinda meminta bantuannya lebih banyak dari sekedar mengantarkan koper berisi baju-baju itu. Dia berharap Melinda tergantung kepadanya.

“Apa sih sebenarnya yang dia lihat dari seorang kontraktor miskin si Suradi itu.” Pikirnya dengan keheranan.

Tiba-tiba Handphonenya berdering.
“Desti?” Terdengar suara laki-laki yang merdu merayu.
“Ya. Betul.”
“Saya Winardi. Kamu dibayar berapa untuk menyembunyikan laptop perusahaan oleh Melinda?”
“Mm…. cukup lumayan.”
“Saya kasih seratus cash, laptop kamu kirim ke Hotel Lembang. Saya tunggu di kamar 105.” Kata suara itu.

Desti terdiam.

“Murah amat.” Kata Desti. “Seratus juta transfer, ditunggu sekarang. Seratus lagi cash.”
“Okay. Kirim nomor rekeningnya.”
“Tunggu… ” Desti memijit-mijit HPnya. “Sudah. Berapa menit?”
“Okay… sudah terkirim.”
“Tunggu, saya chek dulu… baik. Saya OTW ke hotel Lembang.”

Desti menemui resepsionist kafe dan menitipkan koper baju yang masih terkunci itu.
“Ini milik orang yang memesan meja No. 11 jam 11, seorang perempuan.”
“Ya, kami tahu. Namanya Melinda, kan?”
“Betul. Saya hanya pengantar barang. Minta tanda terimanya.”

Desti tiba tiba di depan pintu kamar 105 Hotel Lembang Jam 9.30. Dia mengetuk pintu dengan keras. Winardi muncul di pintu dengan melongokkan kepalanya.
“Desty?”
“Uangnya?”
“Mana Laptopnya?”

Desti mengacungkan tas.

Winardi mengambil sebuah kantong kertas berwarna coklat ke dalam kamar, lalu kembali lagi dan memberikan kantong itu kepada Desti. Winardi mengambil tas laptop. Mereka saling memeriksa isi tas dan kantong coklat.

Desti kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Melinda tiba di Kafe Dago Tea House jam 10.30. Memesan kopi jahe dan cemilan. Dua orang Pelayan datang, yang satu menyerahkan pesanan yang satu lagi membawakan tas koper yang besar itu.

“Terimakasih.” Kata Melinda.

Dia menatap cahaya kota Bandung yang berkilauan sambil menikmati kopi jahenya. Dia tersenyum pedih. Desti pasti sudah menghianatinya dan menyerahkan laptop itu ke Winardi.
“Untung aku sudah mem-back up datanya ke harddisk external.” Katanya dalam hati.

Jam 11.10 Tapi Suradi belum juga muncul. Melinda gelisah.

Seorang lelaki tua memasuki kafe itu dan celingukkan. Dia melihat Wanita cantik itu tengah duduk sendirian. Pak Tono pernah melihat wanita itu ketika berkunjung ke tempat kost-kost-an dan menanyakan bosnya.
“Bu Linda?” Pak Tono mendekati Melinda.

Sejenak Melinda menatap lelaki tua itu.
“Ya… ah, saya kenal dengan bapak.” Kata Melinda.
“Saya disuruh Pak Suradi.”
“Dia tidak bisa datang?”
“Urusannya ternyata memakan waktu yang agak lama, petugas KUA itu agak susah dijemput. Bahkan hampir saja menolak.” Kata Pak Tono.
“Petugas KUA?” Tanya Melinda merasa aneh.
“Ya, bu. Pak Suradi menceraikan Bu Iis.”
“Apa?”
“Ketika saya disuruh ke sini, mereka baru saja menanda tangani surat cerai. Lalu bapak dibantu teman-teman membereskan barang-barangnya… .”
“Bapak bawa mobil?” Tanya Melinda.
“I ya bu. Espas.”
“Antar saya menemui Pak Suradi.”
“Tapi…”

HP Melinda berdering.
“Bu Linda, maaf. Pak Tono sudah datang?”
“Sudah.”
“Saya… bisakah meetingnya ditunda besok?”
“Besok Maminya Lin lin sudah tiba di Bandung. Kalau Pak Suradi tidak bisa datang sekarang, semuanya akan terlambat.”
“Sungguh? Mami ada di Bandung besok?”
“Ya.”

Terdengar suara nafas memburu di sebrang Handphone. Melinda gemetar.

“Maafkan jika sudah merepotkan ibu.” Suara Suradi benar-benar bergetar di sebrang sana.
“Tidak apa-apa. Kita harus ketemu.”
“Saya baru selesai packing. Saya mau pindah dari rumah ini.”
“Mau pindah ke mana… Pak?” Kata Melinda.
“Entahlah, saya belum memutuskan. Tapi untuk sementara saya akan pergi ke Losmen Harapan, di sekitar Jalan Cilimus.”
“Pak Tono tahu tempatnya?” Tanya Melinda.
“Tentu saja.”
“Baik. Kita bertemu di sana.” Kata Melinda sambil menutup telpon.

Melinda berpaling ke arah Pak Tono.
“Pak, antar saya ke Losmen Harapan.”
“Baik, Bu.”

Bersambung

Daftar Part