. Suradi Adventure Part 24 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 24

0
222

Suradi Adventure Part 24

SERENADE CINTA YANG HILANG

Setelah Desti pergi, Melinda mencolokkan flashdisk itu di laptopnya dan membuka file WMA rekaman dari CCTV itu. Seorang lelaki dengan rambut tersisir rapi, berkumis dan berperut gendut tampak sedang menurunkan celana panjang sekaligus celana dalamnya, dengan kontolnya yang kecil itu dia langsung menggenjot Bu Iis selama kurang lebih 3 menit, lalu lelaki itu mengalami orgasme dan kemudian memakai kembali celananya. Mereka duduk di bibir ranjang dan mengobrol sekitar 5 menit. Setelah itu lelaki berkumis itu pergi. CCTV itu merekam bagaimana Iis duduk di bibir ranjang sendirian seperti melamun selama 15 menit.

Melinda melihat dengan teliti, angka-angka yang menunjukkan durasi lama waktu, tanggal bulan dan tahun. Semua asli.

Melinda tiba-tiba saja menangis. “Kaka…kaka…” Isaknya. “Kamu tidak bahagia. Kamu tidak bahagia… Kaka… huk.. huk.. huk… kaka…”

Seharian itu Melinda hanya menangis di karpet bulu angsa yang lembut itu sambil memeluk HP yang menampilkan foto selfie dirinya dan Suradi.

***

Untuk kesekian kalinya, mereka bertemu di meja pojok lantai 2 Kafe Fizzis. Lin lin menangis karena gagal dalam UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan Mami memintanya untuk tidak kuliah tapi ikut kursus memasak kepada tantenya Mami, Miranda Liem, di Jl. Pagarsih. Suradi menghiburnya dan menjelaskan bahwa kursus memasak yang diusulkan Mami bukan ide buruk.
“Kamu nanti bisa buka restoran, atau setidak-tidaknya kamu bisa memasak makanan kesukaan kamu.” Kata Suradi. “Kamu jangan nangis, ya sayang. Kaka enggak tahan lihat airmata kamu.” Kata Suradi sambil membelai rambut Lin lin dan menciumi kening, mata, hidung dan bibir gadis itu.
“Kaka… Lin lin ingin nikah sama kaka.”
“Kaka juga ingin nikah sama Lin lin.”
“Ka… bagaimana ya rasanya nikah?”
“Enggak tahu sayang, kaka belum pernah mencobanya.”
“Kaka mau?”
“Mau apa?”
“Mau mencobanya.”
“Mau.” Kata Suradi muda lembut.
“Kapan?”
“Enggak tahu.”
“Di hotel yu.”
“Hayu. Tapi kaka belum punya uang.”
“Lin lin punya.”
“Jangan, punya kamu tabung aja dulu. Gini aja, sayang, Gimana kalau Kaka nerima tawaran kerja Pak Suroso di Tanah Abang. Upah mandornya sangat besar, tapi kaka harus ke Jakarta dan enggak pulang selama 3 bulan. Setuju enggak?”
“Tapi 3 bulan ya ka? Lama sekali.”
“Enggak, enggak lama. Pulang nanti kaka bisa bawa uang banyak. Cukup untuk ke hotel atau ke mana saja yang Lin lin mau?”
“Kalau Lin lin kangen gimana?”
“Kalau kamu kangen, pejamkan mata… ayo pejamkan mata. Terus ingat ini…” Sebuah ciuman yang lembut dan lama mendarat di bibir Lin lin. Rasanya nikmat sekali. “Nah, kalau kangen kamu ingat itu, ya.”

Lin lin menatap Suradi.
“Lagi.” Katanya.

***

Suradi pergi ke Jakarta dan Lin lin ikut kursus memasak. Mereka diam-diam memendam kebahagiaan menunggu hari tertentu yang telah mereka rencanakan.

***

Sepagi itu Alex sudah berteriak-teriak.
“Gembiiilllll, cepat dong. Keburu siang.”
“I ya, i ya sebentar. Ini lagi pake celana.”
“Makanya jangan gembrot kayak gajah, jadinya lemot.” Kata Alex

Lin lin diam saja. Dia berjalan mendekati Alex yang sudah siap dengan motor supra terbarunya, yang dibelikan mami sebulan lalu. Lin lin duduk di belakang Alex, pantatnya menghabiskan setengah jok lebih sehingga Alex sedikit terdorong ke depan. Shockbreaker dan ban belakang motor itu langsung saja terlihat kempes.
“Hadeuhhhh… sial banget nih bawa anak gajah.” Kata Alex merutuk.

Mereka ke luar halaman rumah dan langsung masuk ke jalan dipatiukur, motor melaju kencang karena Alex terburu-buru ingin sampai di tujuan dengan cepat. Alex menyalip angkot yang melaju ogah-ogahan sambil mencari penumpang. Lalu tarik gas untuk melajukan motor lebih cepat.

Sebuah angkot yang penuh penumpang, berlari kencang melewati motor Alex. Alex merasa panas dan menarik gas dengan kencang untuk menyalip angkot tersebut. Tapi tiba-tiba saja angkot itu berhenti dan Alex dengan sigap menginjak rem. Cekittttttt. Hampir saja motornya mencium bemper belakang angkot.

Alex kemudian melajukan kendaraannya dengan sangat cepat. Dia merasa ringan berkelak-kelok di antara ramainya lalu lintas kota Bandung. Dengan tangkas dan lugas dia melewati berbagai jebakan macet dan tiba di Jl. Pagarsih 5 menit lebih cepat.

Tapi ketika berhenti, Alex baru sadar, penumpang yang duduk di belakangnya itu sudah tidak ada.
“Pantesan ringan.” Katanya sambil tertawa kering.

***

Melinda terjungkal persis di depan rumah sakit Boromoeus. Helmnya terlontar karena tali pengaitnya tidak direkatkan. Belakang kepalanya membentur tanah dan dia langsung pingsan. Beberapa orang segera membawanya ke UGD dan seorang dokter senior yang pagi itu baru tiba, memeriksanya.
“Dia pingsan. Dia mengalami gegar otak ringan.” Kata Dokter itu.

Tapi sejak itu, Melinda tidak bangun selama 6 bulan.

***

Selama 6 bulan, Melinda mengalami koma alias mati suri. Dia menjadi fenomena di bidang kedokteran dan ramai dibicarakan oleh para pakar Neurolog (dokter spesialis otak dan syaraf). Ternyata, sejak lahir Melinda memiliki kelainan hormon otak yang mengendalikan rasa laparnya. Sehingga dia selalu merasa lapar dan tak pernah kenyang sejak bayi.
“Padahal bentuk tulangnya kecil dan didisain dari sananya untuk menopang daging yang tidak besar.” Kata seorang neurolog menjelaskan kepada Mami. Mami datang ke rumah sakit itu 4 hari setelah kejadian, dia melapor kepada polisi bahwa anaknya hilang. Dan polisi yang mendapat laporan dari rumah sakit ada anak gemuk mengalami kecelakaan, tapi tidak diketahui identitasnya, langsung membawa mami ke rumah sakit.
“Kami mohon ibu bersabar. Putri ibu tidak meninggal. Dia masih hidup. Gegar otak yang dialaminya memang telah merusak sebagian fungsi-fungsi hormon di otaknya, termasuk kelainan hormon yang diderita putri ibu sejak lahir. Kami semua di sini sedang berupaya untuk mengatasinya.”
“Apakah dia akan sembuh, dok?” Tanya Mami.
“Tentu. Saat ini di dalam otaknya tengah terjadi suatu proses pemulihan dan tubuhnya juga sedang melakukan recovery secara aneh. Kami bahkan tidak perlu menginfusnya, karena di dalam tubuh putri ibu itu tersedia banyak makanan. Jadi Ibu tunggu saja, bersabar dan berdoa.”

***

Pulang dari Jakarta, Suradi berhasil mengumpulkan uang sebanyak 3 juta rupiah. Sebuah jumlah yang cukup fantastis pada saat itu. Dia langsung menuju rumah Lin lin dan mencari mang Ujang untuk menyampaikan pesan. Tapi rumah itu tampak sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Dia kemudian ke kafe Fizzis, duduk di meja pojok lantai 2. Memesan jus alpukat. Berharap Lin lin datang terengah-engah menaiki tangga itu dengan wajah berseri. Tapi harapannya tersangkut di kursi kosong yang diam membeku.

Setiap hari, dia ke rumah Lin lin lalu pergi ke kafe. Duduk menunggu. Tapi Lin lin tak pernah datang.

Suatu hari, pada hari ke 44 dia pergi ke rumah Lin lin, Suradi melihat ada orang yang tengah mengeluarkan perabotan-perabotan rumah. Dia lalu bertanya kepada orang itu mengapa memindahkan perabotan.
“Oh, kami tak suka dengan perabotan tua ini. Kami akan membuangnya!” Kata orang itu. Ternyata orang itu adalah pemilik baru rumah Lin lin. Rumah itu telah dijual.

Suradi tak pernah lagi mendatangi rumah itu. Tetapi setiap sore, selama 1 jam, setiap hari, selama seminggu, sampai 3 bulan berikutnya, dia selalu datang di meja pojok lantai 2 kafe itu memesan jus alpukat. Menunggu Lin lin.

Tapi Lin lin tak pernah datang.

***

Bersambung

Daftar Part