. Suradi Adventure Part 22 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 22

0
248

Suradi Adventure Part 22

CINTA PERTAMA SI GEMBIL 9

“Sekarang giliran Siska.” Dengus Melinda. Dia menelpon Dewi dan mengatakan bahwa dia sudah membeli kost-kost-an Melani dan menyuruh tantenya pergi ke Medan.
“mBak Dewi kost-kost-an itu akan saya jadikan sebagai awal peperangan saya dengan Valentino Grup. Saya akan jadikan semacam apartemen sewaan dengan harga sewa murah. Mbak Dewi mau ikut bergabung?”
“Maksudnya apa ya mBak Linda?”
“Maksud saya, sementara ini kan yang menguasai apartemen di Bandung dan Bogor itu kan Valentino grup. Mereka sasarannya kelas menengah ke atas. Saya juga mau bikin apartemen dengan konsep kost-kost-an, sasaran saya jelas, menengah ke bawah. Ini akan menggoyang dominasi Valentino Grup. Prodak saya akan laku keras. Mbak Dewi mau ikut gabung kan? Ini tawaran menarik loh.”
“Wah, mbak Linda, saya cuma pengusaha katering, saya ndak bisa main di properti. Terimakasih atas tawarannya.”
“Oh, engga pa pa kalau tidak berminat, makasih ya mBak.”
“Ya, sama-sama.”

Melinda kemudian menelpon manajer hotel Homann, apakah ada acara meeting dari PT Valentino Group, jawab manajer itu ada. Mereka sudah tiga hari mengadakan meeting dan berakhir hari ini.

Melinda kemudian memesan sebuah meja di sudut resto. Diam dan memperhatikan. Seperti yang dia duga, Suradi datang mendatangi sebuah meja. Hm, Melinda mendengus. Dia menelpon Suradi sebentar, kemudian menutupnya.

Melinda tersenyum ketika laki-laki itu pergi dengan tergesa.
“Jangan coba-coba intervensi harga diri dia.” Kata Melinda dengan senyum penuh kemenangan.

Keesokan paginya, dia pergi ke tempat kost-kost-an itu dan hanya menemukan anak buahnya.
“Pak Suradi di Kantor Kecamatan Cipatat.” Katanya.
“Terimakasih, Pak.”

Dia kemudian menelpon Suradi beberapa kali, tapi tidak diangkat. Melinda segera meluncur ke Kantor Kecamatan Cipatat dan menemukan Suradi di sana.
“Ada apa, Bu Linda?” Suradi terlihat kurang ramah.
“Saya cuma mau mengantarkan undangan Grand Launching Cireundeu Town Square.”
“Saya tidak akan datang.” Jawab Suradi, nadanya datar.
“Saya juga sudah indent satu tempat atas nama Pak Suradi di CITOS.”
“Itu harus dibicarakan dulu, sebetulnya saya juga cukup minat. Itu tempat yang strategis. Tapi saya tidak akan pergi ke grand launchingnya.”
“Tak apa. Hanya saja… saya juga mengundang Lin lin. Kalau tidak bersedia tidak akan dipaksa.” Kata Melinda sambil pergi berlalu menuju mobilnya yang terparkir agak jauh.

Melinda tersenyum ketika Suradi mengejarnya.
“Sungguh?”
“Tapi saya tidak menjamin apakah dia akan datang atau tidak.”
“Saya akan datang ke sana.” Suara Suradi terdengar berapi-api.
“Kalau begitu, ini ambillah undangannya.”
“Siap!”

Melinda sudah mempersiapkan diri untuk berterus terang kepada Suradi mengenai dirinya, malam itu. Tapi biduan brengsek itu mengganggu rencananya. Biduan itu berhasil merayu Suradi. Sialan! Kalau tidak dirayu, tidak mungkin Suradi mau menerima duit perempuan itu. Suradi punya harga diri yang tak bisa ditawar. Dia tidak akan mau ditraktir makan malam dan berhutang budi.

Melinda benar-benar dibuat geram.
“Awas kamu, tidak boleh ada yang mendekati Suradi kecuali aku.” Katanya. “Laki-laki itu milikku.”

Pagi itu Melinda terjaga di ruang kerjanya. Dia tergeletak di karpet bulu angsa di bawah meja kerja, berbantal tas tangan dan berselimut blazer. Kursi putarnya tampak terjengkang di dekat filling kabinet. Sunarsih, pembantunya sekaligus istrinya Pak Gito, membangunkannya dan membawakannya kopi, Pan Cake, Telur dadar dan Roti lapis daging sapi.
“Bu, sarapannya saya simpan di meja atau di karpet?”
“Di karpet aja, Bu Nar.”
“Hey, tunggu, jangan masuk!” Suara Pak Gito terdengar keras. Tapi rupanya Pak Gito terlambat, seorang gadis tomboy mengenakan topi baret dan jaket kulit masuk ke dalam ruang kerja Melinda.
“Uff sorri, aku pake sepatu.” Katanya.
“Hey, kamu jangan kurang ajar. Cepat keluar.” Kata Pak Gito.
“Biarkan, Pak.” Kata Melinda. “Mau ikut sarapan?”
“Mau, mau. Sorri aku mengotori karpet, Bu. Sebentar saya lepaskan sepatu dulu.” Kata Gadis tomboy.
“Bu Nar, tolong tambahin sarapannya.”
“Baik, bu.”
“Lain kali kamu jangan kurang ajar, ya.” Kata Pak Gito kepada gadis tomboy itu.
“Gak apa apa, Pak Gito. Ga pa pa.”

Gadis tomboy itu tertawa menyeringai tanpa suara.

“Gimana hasilnya, Des?”
“Bu, boleh roti lapisnya buat saya? Sudah seminggu Desti jadi gelandangan, makan seadanya, tidur di emperan… akhirnya ketemu juga.” Kata Desti sambil menyikat roti lapis itu. “Hm, lezat nian. Ada lapis dagingnya.”
“Masih banyak kalau kau mau. Jadi siapa Winda itu, Des?”
“Ibu tidak akan percaya.” Katanya. “Ini Pan Cake ya?” Tanpa bertanya Desti menyikat pan cake itu dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.

Melinda tersenyum. Dia membiarkan detektif swasta itu menyelesaikan urusan dengan perutnya lebih dahulu. Ketika Sunarsih datang membawa tambahan sarapan, Melinda meminta tambahan sekali lagi.
“Lagi, bu?”
“Ya. Ada orang kelaparan di sini.”
“Baik, bu.”
“Kopinya jangan lupa.” Kata Desti dengan mulut penuh.

Setelah merasa kenyang, Desti duduk bersandar ke dinding.
“Hadeuuhhh…. sudah lama ga sarapan enak kayak begini.” Katanya. “Nama lengkapnya Windari Setyanugraha. Umurnya 20 tahun saat ini, jika masih hidup.” Kata Desti.
“Maksudmu?”
“Dia sudah meninggal, kurang dari satu tahun lalu… mmm, mungkin sekitar 6 atau 7 bulan lalu.”
“Kenapa?” Tanya Melinda penasaran.
“Seorang sopir truk yang teler menabrak warung kelontongnya, saya sudah cek ke polsek setempat. Waktu tewas, Winda sedang hamil 4 bulan. Winda adalah istri sirinya Suradi.” Kata Desti.

Melinda mengangguk-angguk. “Jadi, Winda sudah meninggal.” Katanya dalam hati.
“Terus?” Tanya Melinda. “Informasi apa yang kira-kira bisa mengejutkan saya, Des?”

Desti tersenyum. Dia mengeluarkan sebuah kertas HVS yang dilipat, dia membukanya dan memberikannya kepada Melinda.
“Kamu ngeprint foto saya di mana? Koq jelek amat hasil print outnya.” Kata Melinda mengerutkan kening.

Desi menatap Melinda dengan serius.
“Saya ngeprintnya di sebuah rental komputer, di Cianjur.” Kata Desti. “Saya sengaja ngeprintnya hitam putih. Tidak berwarna.”
“Kalau berwarna?”
“Kalau berwarna, Ibu pasti tidak akan bisa teliti. Coba teliti foto ini dengan cermat, Bu. Ada yang aneh?”
“Rambut saya tidak ikal. Wajah saya juga tidak semuda ini. Aneh benar. Dapat copian dari mana foto saya ini, Des?” Tanya Melinda sambil terus meneliti print out foto itu.

Desti tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Itu bukan foto ibu. Itu foto Winda.”

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler