. Suradi Adventure Part 2 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 2

0
372

Suradi Adventure Part 2

Maafkan Saya Bos

Suradi adalah seorang kontraktor kecil yang tinggal di Cimahi, sekarang usianya sudah menginjak 40. Istrinya lebih tua 5 tahun darinya dan mengajar di sebuah SMP Negeri yang terletak tidak jauh dari rumah. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Reyhan 17 tahun, yang bercita-cita ingin menjadi musisi. Reyhan sekarang duduk di kelas 11 sebuah SMA Swasta yang cukup ternama di Bandung.

Suradi dikenal oleh anak buahnya sebagai bos yang kalem dan tenang. Dia sangat loyal terhadap anak buahnya dan tidak pernah mengingkari janji, baik soal upah atau janji-janji kecil yang diucapkannya. Suradi tahu persis bagaimana mengatur dan mengelola anak buahnya, dengan pendekatan seperti bapak kepada anak-anaknya. Hal itu mungkin dikarenakan Suradi tahu benar bagaimana rasanya menjadi seorang kuli.

Suradi sendiri pernah mengakui bahwa dia meniti karirnya benar-benar dari bawah. Begitu lulus STM (Sekarang SMK) Tehnik Bangunan, dia langsung ikut bekerja bersama ayahnya menjadi kuli bangunan, untuk membantu meringankan biaya sekolah adik-adiknya. Bertahun-tahun jadi kuli, dia kemudian menjadi mandor dan berihtiar menjadi pemborong kecil-kecilan. Setelah menikah dengan Iis Sukaesih, Suradi mendirikan perusahaan sendiri. Dan rajin mengikuti berbagai tender, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, swasta maupun BUMN. Bahkan dia juga menerima pekerjaan borongan dari perseorangan yang umumnya bernilai tidak pernah lebih dari 500 juta. Prinsip Suradi sederhana, apa pun pekerjaannya, kalau bisa dia kerjakan dan ada lebihnya, pasti digarap.

Suradi tidak pernah pilih-pilih pekerjaan.

2

Siang itu Suradi baru saja tiba dari Bandung bersama anak buah kesayangannya Ugi, ketika seorang laki-laki berkacamata tebal berusia sekitar 58 tahun, namanya Pak Joni, mendatangi kantornya dan memintanya melakukan renovasi rumah dengan nilai kontrak sebesar 100 juta. Tanpa ba bi bu lagi, Suradi menyanggupi dan langsung pergi ke lokasi untuk melakukan survey.

Pak Joni menginginkan rumahnya yang besar itu direnov menjadi rumah kost-kostan yang nyaman, baik untuk yang indekost maupun untuk dirinya sendiri.

Sambil berjalan pelahan mengelilingi dan meneliti rumah itu, Suradi mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan keinginan kliennya dengan serius dan penuh perhatian.

“Untuk saya dan istri, tidak perlu tempat yang luas. Cukup satu kamar tidur, ruang tamu yang kecil, ruang tengah sederhana untuk nonton TV, dapur yang luas yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan dan kamar mandi. Sisanya untuk kost-kostan semua.” Kata Pak Joni.
“Bagaimana kalau nanti anak-anak Pak Joni datang dan akan menginap, apakah…” Kalimat Suradi dipotong oleh Pak Joni.
“Tidak. Itu jangan dipikirkan. Mereka sudah bertebaran jauh, ada yang ke Papua, Kalimantan bahkan di Singapura. Mereka beberapa kali ke sini tapi selalu menginap di hotel.”
“Oh, begitu, Pak. Baiklah. Saya akan melakukan pembuatan partisi gypsum untuk pembentukan kamar-kamar dan pembuatan 2 kamar mandi tambahan. Bapak juga harus mengosongkan berbagai perabotan yang ada di sini… bisa kami lakukan dengan tambahan biaya sedikit. Sedangkan untuk perbaikan pagar dan perbaikan halaman samping menjadi tempat parkir motor, saya khawatir tidak masuk dalam kalkulasi 100 juta, mungkin ada tambahan sekitar 10 atau 15 juta. Besok saya akan datang lagi membawa peralatan gambar dan rincian biaya, kalau bapak setuju, lusa kita bisa tanda tangan kontrak biar masing-masing merasa nyaman. Bagaimana?” Kata Suradi.
“Setuju, itu bagus sekali. Kira-kira pengerjaannya berapa lama ya?”
“Paling lama 20 hari kerja, empat minggu. Saya punya 10 orang pegawai yang cakap dan berpengalaman, saya juga punya peralatan yang memadai. Dijamin hasilnya baik dan tepat waktu.” Kata Suradi dengan tegas dan meyakinkan.
“Uang mukanya?”
“25%, sisanya dibayar paling lambat 5 hari kerja setelah serah terima barang.”
“Oke.”

3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Suradi bersama anakbuahnya, Ugi dan Tono, mendatangi rumah itu dengan membawa peralatan gambar dan meteran. Karena pintu rumah masih dikunci, mereka melakukan pengukuran pertama di halaman depan dan samping sambil menunggu penghuninya ke luar. Tiba-tiba, datang dari arah pintu gerbang seorang perempuan STW semok membawa kantung kresek yang menggembung. Dia memakai baju piyama ketat dan tipis, sehingga belahan pada pantatnya demikian jelas tercetak.
“Wah, bapak-bapak sudah pada datang. Maaf saya baru dari warung membeli kopi.” Katanya. “Saya bu Joni. Bapak belum bangun ya?”
“Mungkin belum, Bu. Tadi saya ketuk-ketuk, tapi pintu enggak ada yang buka. Jadi kami melakukan pengukuran di luar dahulu.” Kata Suradi. Dia menatap Bu Joni langsung ke matanya dan merasakan ada sesuatu yang nakal di sana.
“Saya ke dalam dulu, ya.”
“I ya,bu. Silakan.”

“Wuih!” Kata Tono, mandor senior yang sudah punya 2 cucu ini meleletkan lidahnya. “Busyet bener itu bodi.”
“Dia gak pake CD.” Kata Ugi. Sepasang matanya tampak masih nanar menyaksikan pemandangan yang baru saja lewat. Remaja 18 tahun yang sudah ikut dengan Suradi selama 2 tahun, semenjak lulus SMP itu, sepertinya terkesima.
“Sudah. Ayo kerja lagi.” Kata Suradi datar.

Sepanjang pagi hingga siang, Suradi sibuk membuat gambar denah di ruang tengah dengan wajah serius. Sementara Bu Joni bolak-balik melewati ruang tengah itu dan mencuri-curi pandang kepadanya. Suradi pura-pura tidak tahu.

Beberapa kali Bu Joni mendekati Suradi, dengan sangat dekat, untuk melihat gambar-gambar yang masih setengah jadi dan berkomentar memuji. Suradi sengaja menggoda STW itu dengan pura-pura tak sengaja menyentuh beberapa bagian sensitifnya. Bu Joni tampaknya menyukainya. Bahkan Bu Joni seperti sengaja menyentuhkan kedua nenen pepayanya untuk menyentuh-nyentuh pundak Suradi.

“Kalau bukan istri klien, pasti sudah kusikat saat ini juga.” Kata Suradi dalam hati.

Siangnya, gambar-gambar itu sudah selesai beserta perhitungan biayanya. Suradi mengajukan perubahan menjadi 115 juta. Pak Joni setuju.
“Baru melihat gambarnya saja istri saya sudah sedemikian senang, biasanya dia bersikap agak cemberut… tapi sekarang, lihatlah… dia mau sedikit berdandan dan sikapnya sangat riang.” Kata Pak Joni.

Suradi hanya tersenyum biasa saja.

4

Setelah kontrak ditandatangan, Suradi beserta anak buahnya langsung bekerja. Pada minggu pertama, mereka memprioritaskan pemenggalan ruangan untuk membentuk kamar tidur, ruang tengah dan ruang tamu mungil yang menghadap ke halaman belakang untuk tempat tinggal pasutri tersebut. Pada minggu ke dua dan ketiga, mereka membongkar garasi dan membuat partisi kamar-kamar sesuai dengan denah rencana.

Pada minggu ke 3 ketika semua rencana gambar telah berhasil diwujudkan, Pak Joni mengundangnya makan siang dan mengucapkan terimakasih atas pekerjaan Suradi yang efektif dan efisien. Dia sangat puas dengan hasil kerjanya.
“Kepppuasssan… itulah moto kami.” Kata Suradi. Dia mengerling sejenak ke arah Bu Joni yang sedang berdiri di belakang suaminya. Orang yang diberi kerlingan memberikan senyum seribu arti.
“Untuk pembayaran, kami sudah mempersiapkan sisanya sesuai dengan perjanjian. Begitu selesai, kami bayar. Hanya saja…” Pak Joni menghentikan kalimatnya.
“Hanya saja, apa pak?”
“Istri saya agak mengeluh mengenai penataan perabotan di sini… lihat, masih berantakan kan? Belum perabotan-perabotan di luar yang kelihatannya tidak bisa masuk lagi ke dalam tempat kami yang mengecil ini…”
“Tenang, Pak. Saya bisa atur. Saya akan suruh Ugi untuk membantu.” Kata Suradi.
“Kapan mulainya ya Pa?” Tanya Bu Joni, suaranya terdengar manja.
“Oh, secepatnya,Bu.” Jawab Suradi sambil tersenyum.

Sore itu, ketika anak buahnya membereskan peralatan kerja mereka, Suradi memanggil Ugi dan membawanya ke halaman belakang.
“Kita akan bantu bu Joni beres-beres.” Katanya.
“Siap, Bos.” Jawab Ugi, nadanya riang. “Bos kalau boleh tahu, kira-kira berapa ya umurnya Bu Joni?”

Suradi menatap Ugi dengan kening berkerut.
“Maaf, bos, jika pertanyaan saya lancang.” Ugi tampak rikuh.
“Umurnya mungkin sekitar 50-an…” Kata Suradi kalem, “tapi bodi dan semangat di dalamnya mungkin masih 30-an.”
“Ma maaf, bos, maksudnya apa?” Tanya Ugi bingung.

Suradi tersenyum.
“Ah, sudahlah. Saya akan ke dalam dan menemui bu Joni. Kamu di sini, ambil sampah-sampah yang berserakan ini dan kumpulkan bersama sampah lainnya, nanti suruh siapa saja yang mau untuk membuangnya.”
“Siap bos.”

Suradi mengetuk pintu paviliun belakang rumah itu yang sudah disulap penataan ruangannya menjadi seperti rumah type 21. Pak Joni membukakan pintu, dia memakai sarung dan kaos singlet. Badannya berkeringat.
“Sesuai janji, saya akan bantu melakukan pemberesan.” Kata Suradi, dia melihat wajah Pak Joni yang murung.
“Oh, iya iya.” Katanya. “Masuk, Pak. Tapi maaf ya jika istri saya bersikap kurang baik karena dia sedang uring-uringan.”
“Tidak apa.” Kata Suradi tersenyum. Suradi tidak tahu, beberapa menit sebelumnya, Pak Joni baru saja mengentot istrinya. Tapi Bu Joni tampaknya tidak puas sehingga dia uring-uringan.

Suradi memasuki ruangan dan melihat Bu Joni sedang merapikan susunan kaset VCD di ruang tengah.
“Bu, ini ada Pak Suradi.” Kata Pak Joni.
“Ya, tolong Pak perbaiki lemari di dapur masih belum pas letaknya.”

Suradi masuk ke dalam dapur dan merasa heran, lemari itu letaknya sudah pas. Tak ada yang perlu di lakukan lagi di sini. Sementara itu Pak Joni masuk ke dalam kamar tidur dan membiarkan pintunya terbuka, dia tiduran.
“Sebentar lagi bapak akan tertidur nyenyak.” bisik bu Joni yang ternyata mengikuti Suradi ke dapur. Dia meraih tangan Suradi dan membawanya ke selangkangannya, menggesekkannya. Bu Joni mengenakan baju gamis panjang rumahan yang biasa dipakai sehari-hari. “Tapi tidak lama. Paling 30 menit.” katanya masih dengan berbisik.

Wajah Suradi tampak tegang. Tangannya yang telah berpengalaman itu menolak diajari lagi oleh tangan Bu Joni yang menggesek-gesekannya ke belahan memek dari luar kain.
“Apakah dia sudah tidur?” Bisik Suradi. Dia melepaskan tangannya dan memeluk Bu Joni dari belakang. Kedua tangannya merambahi perut dan kemudian meremas ke dua susu Bu Joni yang besar dan lembek.
“Mungkinhkh…” Jawab Bu Joni sambil mengeluh ketika mulut Suradi menciumi daun telinga dan tengkuknya.

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran Pak Joni yang sangat keras dari dalam kamar.

Suradi segera berjongkok dan menyingkap gamis Bu Joni. Suradi masuk ke dalamnya dari belakang dan menemukan pantat semok itu tanpa celana dalam. Ke dua tangannya merayap di pinggiran pinggang yang sudah menggelambir itu, merabainya dan mencari-cari pangkal pahanya. Sementara mulutnya menciumi buah pantat Bu Joni.
“Masih lumayan.” Batin Suradi.

Suradi merasa berada di dalam kurungan kain gamis Bu Joni pemandangannya samar bahkan agak gelap. Kedua tangannya sudah menemukan memek Bu Joni tapi kurang leluasa untuk melakukan gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan kenikmatan.

Suradi ke luar dari dalam gamis dan berdiri. Dia melihat wajah Bu Joni tampak merah. Mungkin karena nafsu berahinya sudah memuncak. Dia membalikkan badan Bu Joni dan menciumi bibirnya dan mengulum lidahnya sebentar. Dia berjongkok lagi dan masuk ke dalam gamis Bu Joni untuk menemukan susu sebesar buah pepaya. Menggampar-gamparkan pipinya pada nenen yang lembut itu dan melumat-lumat putingnya dengan mulutnya.

Suradi kemudian menurunkan kepalanya dan mengemuti perut dan kedua pangkal paha Bu Joni. Setelah itu barulah dia menjilati bibir-bibir Memek bu Joni dengan lidahnya. Suradi mengajari itil Bu Joni bagaimana lidah bisa membuat sang itil berdenyar dan merasakan sensasi nikmat yang sulit diucapkan, tetapi bisa didesahkan.
“Aghkhkh… aghkh… ”

Ke luar dari kurungan gamis, Suradi mendorong tubuh Bu Joni yang tampak seperti tak berdaya itu ke kursi meja makan, mendudukkannya. Secara otomatis Bu Joni duduk menyandar, dia menyingkapkan gamisnya dan membuka ke dua pahanya dengan sangat lebar. Sekarang barulah terlihat memek bu Joni berdenyut-denyut, tak sabar untuk dicoblos.

Suradi melepaskan pantalon sekaligus celana dalamnya, dia menyorongkan kontol ke mulut Bu Joni untuk diemut. Tapi kelihatannya Bu Joni kurang pengalaman sehingga kulumannya kurang enak menurut Suradi. Dia segera melepaskam kontolnya dari kuluman mulut Bu Joni.
“Boleh saya masukan sekarang, bu?”

Mulut Bu Joni tersenyum seperti nyengir, matanya menatap Suradi dengan nanar. Lalu kepalanya mengangguk.

Clep.

Suradi memasukan kontolnya ke dalam memek Bu Joni, dengan lutut agak ditekuk, dia mengentot memek itu dengan penuh semangat. Menggenjot sekuatnya dan membiarkan Bu Joni menikmati hujaman demi hujaman batang kontolnya.

Bu Joni merintih-rintih.
“Adddduuuhhhh…. saya… mau ke luarhkh…” Rintihnya.
“Sekarang?” Tanya Suradi, wajahnya agak kecewa. Bu Joni mengangguk.
“Kalau begitu, yuk kita ke luar sama-sama. Boleh ngecrot di dalem?” Tanya Suradi. Bu Joni sekali lagi mengangguk.

Suradi melakukan genjotannya yang terakhir dengan kekuatan penuh, sebelum akhinya mereka ke luar bersama-sama. Setelah ngecrot, Suradi membiarkan kontolnya terbenam di dalam memek Bu Joni selama beberapa saat, kemudian dia mencabutnya dan mengenakan kembali pantalonnya.

Bu Joni menurunkan gamis dalam keadaan masih duduk bersandar. Kedua tangannya tampak jatuh di pinggiran kursi. Dia tersenyum kepada Suradi.
“Makasih ya, Pak. Saya enak banget.” Katanya.
“Sama-sama, Bu.”
“Kapan-kapan boleh minta lagi gak Pa?”
“Selagi saya di sini, tentu boleh.” Kata Suradi sambil tersenyum, walau pun dalam hati dia membatin masih kurang puas.

Ketika mereka berbincang, terdengar Pak Joni terbatuk-batuk.
“Bapak sudah bangun.” Bisik Bu Joni.
“Baik.” Kata Suradi, pelan. “Saya akan ke ruang tengah memperbaiki dudukan panel LCD.”

5

Dudukan panel LCD TV itu sebenarnya sudah baik, Suradi hanya memperkuat baut-bautnya saja. Dia mendorong bufet rak CD agar lebih merapat ke dinding. Pada saat itu, tiba-tiba saja Pak Joni sudah berada di depan punggungnya.
“Maafkan tadi saya tertidur.” Katanya. Suradi membalikkan badan, wajahnya yang ramah itu tersenyum.
“Tidak apa-apa, Pak.” kata Suradi dengan nada yang tenang. Pada saat itu Ugi berteriak dari luar.
“Bos, sudah selesai.”
“Ya.” Jawab Suradi. Dia berdiri dan berkata kepada Pak Joni. “Beberapa perabotan di luar itu harus dibereskan, tapi tempatnya sudah tidak ada lagi di ruangan ini. Pak Joni punya rencana?”
“Saya ingin menjualnya, tapi mungkin tidak akan laku dengan cepat. Sedangkan istri saya ingin semuanya rapih kembali secepatnya. Bagaimana ya?” Kata Pak Joni.
“Dijual juga harganya mungkin tak seberapa.” Kata Suradi.
“Bu, bu, sini sebentar.” Pak Joni memanggil istrinya. Bu Joni datang dari arah dapur dengan wajah berseri-seri. Pak Joni heran. “Gimana ini perabotan-perabotan yang gak kepakai di luar?”
“Udah kasiin aja ke Pak Suradi, terserah dia mau dibuang atau mau diapain juga.” Kata Bu Joni.
“Nah, bagaimana menurut Pak Suradi?” Tanya Pak Joni.
“Saya mungkin akan membongkarnya dan membuangnya, Pak. Semua perabotan itu sudah tua.” Kata Suradi sambil memperhatikan koleksi kaset VCD yang menumpuk dan belum sempat disusun oleh Bu Joni.
“Ngomong-ngomong, ini koleksi film bluenya banyak juga ya.” Kata Suradi.
“Yaaa… begitulah, Pak. Saya menontonnya agar bisa bergairah.” Jawab Pak Joni. Suradi mengangguk-angguk.
“Bos, di luar sudah bersih.” Kata Ugi yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
“Semua sampah di depan sudah dibuang?”
“Sudah, bos.”
“Panggil si Maman dan Ujang. Angkut semua perabotan yang tak terpakai itu ke mobil pick up yang biru, terus bawa ke belakang kantor.”
“Siap, bos.”

6

Memasuki minggu ke 4, fase finishing dimulai.

Pada fase finishing inilah mereka sering bekerja lembur sampai larut malam. Namun bagi Suradi fase ini dia lebih banyak santainya, karena semua pekerjaan dia tidak perlu lagi turut campur. Dia hanya menunggu hasil. Oleh sebab itu dia sering datang sore hari karena sesiangnya sibuk mencari orderan. Itu pun kerjanya cuma duduk-duduk saja.

“Pak Suradi ke mana saja?” Tanya Bu Joni tiba-tiba. “Koq siang enggak pernah muncul?”
“Saya ikut tender di Bandung, Bu.” Kata Suradi datar.
“Sudah 2 hari lo Pak. Boleh minta sekaliiii lagi aja.” kata Bu Joni dengan suara pelahan, namun dengan harapan keras di wajahnya.
“Tentu, Bu. Sekarang?”

Bu Joni mengangguk.
“Di mana?”
“Di kamar kost belakang yang sudah selesai, saya sudah siapkan kasur busa.”
“Bapak gimana?” Tanya Suradi.
“Saya udah kasih obat tidur, mungkin sekarang obat tidurnya sudah bekerja.”
“Baiklah.” Kata Suradi.

Bu Joni berbalik, dia melangkah dengan cepat menuju paviliun belakang dan melihat Pak Joni sudah tertidur pulas. Dia ke luar dan menutupkan pintu, dia memperhatikan semua anak buah Suradi tidak ada yang sedang bekerja di halaman belakang, lalu memasuki kamar kost itu dan menutupkan pintunya.

Suradi tengah berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantal ketika Bu Joni masuk memakai daster terusan. Tanpa banyak basa-basi Bu Joni langsung melepaskan ikat pinggang dan kancing celana pantalon Suradi, menariknya sekaligus dengan celana dalamnya dan melemparkannya ke pojokan.

Dia langsung menerkam kontol Suradi dan mengemut serta mengulumnya.
“Ahhkh… ” Suradi mendesah pelan. “Kali ini, tehniknya lebih baik.” Kata Suradi dalam hati. Setelah beberapa saat, batang kontol Suradi pun menegang.
“Maaf ya Pak, kontolnya langsung saya tunggangi.” Kata Bu Joni. “Soalnya, memeknya udah gak kuat pengen langsung ngewe.”
“Tidak apa-apa, Bu. Masukin aja ke dalam memek ibu.”

Bu Joni menarik dasternya melalui kepalanya lalu melemparkannya. Dia mengangkangi kontol Suradi yang sudah ngaceng. Memasukkannya ke dalam liang memeknya, menekan pinggulnya ke bawah sampai seluruh batang kontol Suradi masuk ke dalam mulut memeknya.
“Addduuuhhh…. enak sekali kontolnya, Pak.” Kata Bu Joni sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Suradi tersenyum.
“Ayo, Bu. Goyangnya yang semangat.” Kata Suradi sambil mempermainkan ke dua nenen Bu Joni dengan tangannya.

Bu Joni terus menggoyang-goyangkan pantatnya selama beberapa menit. Kadang Bu Joni mengangkat pinggulnya naik turun, kadang menekannya maju mundur, kadang dia juga meliuk-liukkannya dengan arah berputar. Sehingga keringat pun bercucuran di dahi dan punggungnya. Nafasnya tersengal-sengal. Akhirnya dia menghentikan gerakannya dan duduk diam di atasnya. Dia menarik nafas panjang.
“Capek ya?”
“I ya, Pak. Haduh, sampai keringatan nih. Tapi ini tanggung lagi enak, digoyang lagi gak pa-pa kan, Pak?”
“Ga apa-apa. Lanjutkan saja.”

Setelah beristirahat sejenak, Bu Joni melanjutkan pengentotannya selama beberapa menit sampai akhirnya dia mengejan dan orgasme. Setelah diam beberapa saat, dia berdiri dan melihat kontol Suradi yang masih berdiri dengan gagahnya.
“Wah, lendirku banyak sekali.” Katanya dengan agak terkikik.
“Ya, banyak.” Kata Suradi. “Enak kan?”
“Enak dan nikmat. Pak, saya ingin diewe nungging. Mau kan?”
“Boleh.” Kata Suradi.

Bu Joni pun segera bersujud dan menunggingkan pantatnya dengan punggung melengkung. Suradi melihat lubang anusnya yang rapat berdenyut-denyut. Dia melebarkan kedua paha Bu Joni membenamkan kontolnya ke dalam liang memek STW itu. Dia kemudian menggenjotnya dengan kedua tangan berpegangan pada ke dua buah payudara Bu Joni yang panjang dan lembek.

“Terus, Pak. Terus. Lebih cepat, Pak… aduh, enak sekali.”
“Sssttt… jangan terlalu keras.” Kata Suradi. Bu Joni tertawa kecil dengan agak mengikik. “Maaf.” Katanya.

Suradi terus menggenjot memek bu Joni dengan penuh semangat, walau pantat Bu Joni sudah agak lembek, tapi masih cukup semok dan masih lumayan nikmat ketika mengenai pubis dan pangkal pahanya.
“Liang memek Bu Joni sudah kendor jadi kontolku kurang mendapat gigitan.” Pikir Suradi sambil terus menggenjot.

“Aaahkhkh… enak Pak enak…” Kata Bu Joni melenguh. “Dia keluar lagi.” Pikir Suradi sambil mencabut kontolnya dari dalam memek Bu Joni. Suradi kemudian mendorong pantat Bu Joni agar turun sehingga posisi Bo Joni berbaring menelungkup. Dia merapatkan ke dua paha bu Joni lalu membeliakkan memeknya dengan kedua jempolnya, setelah itu dia langsung menancapkan kontolnya dengan cepat. Clep!!!

Nah, sekarang buah pantatnya baru berrasa! Kata Suradi, lalu dia memeluk Bu Joni dan menyusupkan lengannya ke bawah dua payudara Bu Joni. Dia mengentot Bu Joni pelahan-lahan.
“Koq posisi gini enak ya… adduuuhhh… pak… lebih cepet dong ngegenjotnya.”

Suradi pun mempercepat genjotannya. Tak berapa lama Bu Joni mengejan kembali. Kedua buah belahan pantatnya seakan-akan ikut menjepit batang kontol Suradi. Dia lalu menekan kontolnya dengan kuat dan merasakan betapa nikmatnya saat pejuhnya menggelosor ke luar…. srrrr… srrrr… crot! Crot!
“Aghhh… enak, Pak. Saya ke luar lagi.”
“Saya juga, Bu.”
“Kontol Pak Suradi emang mantap.” Kata Bu Joni. “Terimkasih ya, Pak, atas ngentotnya.”
“Sama-sama, Bu.”
“Besok ngentot lagi, mau kan Pak?”
“Mmm, besok saya akan ke Subang, ikut tender, mungkin pulangnya malam.” kata Suradi.
“Saya mohon, Pak. Izinkan saya menikmati kontol bapak untuk yang terakhir.”
“Mudah-mudahan, bisa ya, Bu.”
“Harus pokoknya.”
“Kalau begitu, begini saja, Bu, besok jika saya pulang malam, saya tidak akan pulang ke rumah, tapi saya akan tidur di kamar ini. Saya biasa tidur dengan lampu dimatikan, nah, jika ibu melihat kamar ini lampunya mati, berarti saya tidur di sini. Bagaimana?”
“Ok, Pak.”
“Saya permisi, Bu.” Kata Suradi sambil mengenakan pantalonnya.
“Sampai besok malam.” Kata Bu Joni.

7

Ke luar dari kamar kost di halaman belakang itu, Suradi melihat anak buahnya masih sibuk melakukan pengecatan di beberapa kamar. Dia memanggil Ugi yang sedang mengaduk campuran cat.
“Gi, sini sebentar.”
“I ya Bos.”
“Anak-anak kalau sudah selesai kerja biasanya pada tidur di mana?”
“Anak-anak biasanya tidur di kamar yang bekas garasi.”
“Kalau kamu?”
“Saya di sebelahnya, Bos.”
“Hm, begitu ya. Begini, besok kamu tidur di kamar yang di halaman belakang itu ya. Tapi kamu harus mematikan lampunya.”
“Siap, Bos.”
“Ingat! Matikan lampunya!!!”
“Siap,bos!”

8

Besoknya, ketika berada di Pemkab Subang, Suradi mendapat SMS dari Pak Joni bahwa sisa uang pembayaran sudah ditransfer. Suradi tersenyum sambil membayangkan apa yang akan terjadi pada si Ugi, anak buah kesayangannya.
“Sekali-kali, bolehlah dia mendapat memek gratis.” Pikir Suradi sambil tersenyum nyengir.

9

Suradi gagal mendapat proyek di Subang, tapi itu soal biasa, dia kemudian langsung pulang ke rumahnya di Cimahi agak malam.
“Pah, bagaimana tendernya?” Tanya istrinya.
“Kalah, Mah.”
“Sabar, Pah. Lain kali Papah bisa mendapat proyek besar lagi seperti waktu di Kabupaten Bandung itu.”
“Papah sabar koq, Mah.”
“Pah, sudah seminggu Papah ngejilmek Mamah. Jadi kangen deh.”
“Ya, sama Papah juga kangen.”
“Mandi dulu, ya Pah. Udah itu makan, Mamah sudah siapin sate kambing.”
“Ok ok.”

10

Suradi terbangun oleh cahaya matahari yang menyorot dari jendela. Istrinya sudah berangkat kerja demikian juga anaknya, sudah pergi sekolah. Suradi bermaksud sarapan ketika HPnya berdering. Dari Tono.
“Ada apa, Ton?”
“Bos, maaf mengganggu. Si Ugi semalam ketahuan sama Pak Joni lagi ngentot istrinya.”
“Terus?” Kata Suradi, tenang.
“Suradi akan diadukan ke polisi, dia ingin si Ugi dipenjara.” Katanya.
“Baik, saya akan telpon Pak Joni, mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan.”
“Baik, Bos.”

Suradi kemudian menelpon Pak Joni dan dengan kata-kata yang lembut, berusaha meredam semua kemarahan Pak Joni.
“Sudahlah, Pak. Nanti akan saya beri pelajaran anak itu. Tidak perlu lapor polisi, nanti bapak juga yang malu. Kan bukan si Ugi yang mendatangi Ibu, tapi Ibu yang mendatangi si Ugi di kamar belakang itu. Jangan-jangan malah nanti Ibu yang ditangkap Pak karena dianggap merayu anak di bawah umur untuk berhubungan badan.”

Terdengar helaan nafas berat di sana.
“Pokoknya Pak Suradi harus memberi hukuman berat pada anak itu.”
“Baik, Pak. Akan saya hukum seberat-beratnya.”

11

Hari itu, Proyek renovasi rumah Pak Joni dianggap sudah rampung. Anak buah Suradi dengan menaiki pick up, pulang sambil bercanda di bak mobil sambil meledekki si Ugi yang mendadak jadi pendiam.
“Bos pasti akan menghukum kamu dengan berat.” Kata Tono kepada Ugi yang diam memeluk lutut.
“Bos, pasti marah besar.” Kata Mamat.

Setibanya mereka di kantor Suradi dan mendapatkan gajinya masing-masing, Suradi mendekati Ugi yang diam tepekur. Anak buah Suradi yang lain ikut terdiam juga, mereka menunggu hukuman berat apa yang kira-kira akan dijatuhkan Ugi, anak buah kesayangan bosnya.
“Ma… maafkan saya Bos… ini bukan salah saya… ” Kata Ugi gemetar. Anak buah Suradi yang lain serentak mengatakan HUUUU…
“Sudah, kalian semua tunggu di luar. Saya akan berbicara secara pribadi dengan Ugi.” Setelah anak buahnya ke luar semua, Suradi melanjutkan, “Terus?”
“Seperti yang bos perintahkan, saya tidur di kamar itu dengan lampu dimatikan. Karena saya tidak bisa tidur, terus saya melepaskan celana dan berniat ngeloco (onani)… baru aja ngelus-ngelus sebentar… tiba-tiba ada orang masuk dan langsung mengemuti kontol saya bos… terus dia berkata, eh sudah keras lagi kontolnya… suaranya saya kenal sebagai suara Bu Joni… terus dia bilang… langsung dimasukkin ke memek ya, soalnya memek saya sudah gatel pengen ditusuk-ditusuk… begitu katanya bos.”
“Terus?”
“Terus saya, saya mengentotnya bos, berkali-kali bos, sampai tiba-tiba Bu Joni menjerit-jerit sangat keras… suara jeritannya itu mungkin membangunkan Pak Joni… tahu-tahu Pak Joni sudah membuka pintu kamar dan menyalakan lampu… Bu Joni sangat terkejut bos, saya juga.”
“Tapi kamu ngecrot di dalam memek bu Joni nggak?”
“I ya bos, maafkan saya bos, saya tidak salah…”
“Enak enggak ngentot bu Joni?”
“Enak, bos. Walau sudah tua, tapi enak.”

Suradi dengan wajah datar mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tadi saya sudah nelpon Bu Joni dan meminta maaf kepadanya atas kelalaian saya. Tapi kata Bu Joni tidak apa-apa.”
“Jadi, bos tidak akan menghukum saya?” Kata Ugi dengan mimik wajah gembira.
“Saya tetap akan menghukum kamu.” Kata Suradi dengan tegas.
“Siap, Bos. Apa pun hukumannya akan saya terima.”
“Hukumannya, malam ini kamu harus pergi ke alamat ini.” Suradi kemudian menuliskan sebuah alamat dan nama tempatnya.
“Ini kan losmen, Bos.”
“Ya, kamarnya no 9, paling ujung.”
“Mak…maksudnya apa bos… ini… ini…”
“Sudah, gak usah banyak cingcong. Sana pergi.”

Malam itu, Suradi duduk di beranda depan sambil merokok. Dia tersenyum-senyum sendirian membayangkan apa yang sedang dilakukan Ugi di losmen itu. “Hm, jeritan kenikmatan Bu Joni pasti tidak akan terdengar oleh Pak Joni.” Kata Suradi dalam hatinya. ***

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler