. Suradi Adventure Part 15 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 15

0
256

Suradi Adventure Part 15

CINTA PERTAMA SI GEMBIL 2

Setelah menenangkan badai tsunami yang mengamuk selama beberapa detik dalam dalam dadanya, Melinda mendekati pria itu, dan hampir saja dia tidak sanggup menahan diri untuk tidak menggabruknya dan menciumi bibirnya.
“Mohon maaf, Pak.” Kata Melinda dengan senyum manis. “Kalau dari Singkawang Hotel ini ke Kantor Kabupaten arahnya ke mana ya… kalau dekat saya ingin berjalan kaki.” Katanya. Pria itu menatap Melinda langsung di mata selama beberapa detik, tiba-tiba saja sepasang mata pria itu seperti berair… seperti ingin menangis, lalu dengan gelagapan pria itu menjawab.
“Maaf, ah, eh, saya dari Cimahi, saya baru dua hari di sini, saya kurang tahu…”

Melinda tertawa renyah mendengar jawaban lugu itu. “Ay! Sur, kamu tidak pernah berubah. Tetapi airmata apakah yang mengembang di matamu itu? Apakah kamu mengenaliku?” Bisik Melinda dalam hatinya.
“Wah…” Kata Melinda, “Maaf saya salah mengenali orang, kirain orang sini. Dari Cimahi ya?”
“I ya, Bu. Maaf saya tidak bisa membantu.”
“Saya yang harusnya minta maaf. Bapak harus terima undangan saya di Couple Table. Kalau tidak menerima, saya akan menangis di sini menggerung-gerung.” Kata Melinda dengan senyum dikulum.
“Saya terima, saya terima. Jangan nangis, saya tidak akan tahan.” Kata Pria itu.

Melinda merasa senang dan bahagia bisa duduk berdua dengan Suradi di meja couple itu. Lidahnya nyaris keseleo memanggil pria itu dengan panggilan Kaka, panggilan mesranya dahulu. Tapi yang paling aneh, mengapa Suradi selalu menatapnya dengan tatapan seperti orang berduka. Apakah dia sudah mengenalinya dan ingin mengatakan bahwa dia sudah mencintai wanita lain dan ingin melupakannya? Tunggu, Linda. Sabar.
“Saya belum pernah ngobrol dengan orang Cimahi.” Kata Linda memulai percakapan. Tiba-tiba pria itu seperti membuang mukanya lalu mengusap-usapkan jari jemarinya di wajahnya.
“Maaf, sepertinya saya ingin bersin tadi.” Kata Pria itu dan Linda tahu pria itu sedang berbohong. “Eh, kalau ngobrol sama orang Cimahi hati-hati… bisa ngangenin.” Kata pria itu.

Melinda tertawa renyah.
“Tadi ikut tender juga ya?”
“I ya. Kita keroyokan dengan West Java Investment Centre. Keok juga sama Konsorsium Adiputra. Kalau Ibu? Maaf, kalau boleh tahu nama Ibu… siapa?… Saya Suradi.”

Sejenak Melinda ragu menyebutkan namanya. Dia sedikit khawatir Suradi akan terluka jika mengetahui Lin-linnya dulu telah berubah. Pria itu belum siap menerima perubahan ini. “Aku tak mau kaka terluka untuk yang kedua kalinya.” Kata Melinda dalam hatinya.
“Saya… Mel… Melinda.”
“Kalau Ibu Melinda sendiri dari mana ya?”
“Saya dari Handono Halim Group.” Kata Linda dengan nada setenang mungkin. Dia gemas sekali melihat wajah yang kelimis dan berpura-pura tegar itu.
“Wah, enggak sangka. Kalah juga ya?”
“Begitulah.” Jawab Melinda. “Mau pesan apa?”
“Tidak terimakasih. Saya sudah pesan cappuchino.”
“Saya pesankan cemilannya ya?”
“Jangan,jangan. Tidak usah. Terimakasih.”

Suradi tidak pernah berubah, bisik Melinda dalam hatinya.

“Kalau begitu, boleh kita tukeran kartu nama?”
“Oh, boleh, boleh. Ini Kartu Nama saya.” Dia mengambil dompetnya dari saku celana belakangnya dan memberikan kartu nama itu.
“Ini perusahaan sendiri ya Pak? Suradi Jaya, Contractor & Builder.”
“I ya, Bu. Perusahaan kecil milik sendiri.”

“Wah, hebat! Mandor muda itu kini telah berubah jadi pengusaha.” Kata Melinda dalam hatinya. “Kaka, Lin lin ikut bahagia. Rasanya ingin sekali Lin lin memeluk dan mengucapkan selamat, Kaka sudah mewujudkan impian kaka memiliki usaha sendiri. Kaka, Lin lin janji akan bantu usaha Kaka menjadi perusahaan besar dan berwibawa di negri ini. Lin lin janji, Ka.”

Melinda tak kuasa menahan tangis haru. Dia menunduk dan berpura-pura memperhatikan kartu nama itu.
“Aku harus membuka diri kepadanya pelahan-lahan. Biar dia tidak syok.” Melinda berkata dalam hatinya.

Tiba-tiba saja seorang lelaki berkacamata dengan kepala setengah botak masuk ke dalam resto dan mendekati mereka. Dia tersenyum terpana kepada Melinda.
“Sur, sekarang. Sur. Kita harus ke Ponti.” Katanya dengan rusuh. “Aku ada perlu ke saudara. Cepatlah, ayo.”
“Eh, Kar, datang-datang koq bikin rusuh.” Kata Suradi.
“Cepat, Sur. Travel di depan sudah menunggu, kita tidak punya waktu lagi.” Kardi menarik tangan Suradi, memaksanya berdiri.
“Tenang, Kar. Minimal saya harus bayar bill dulu ke kasir.” Kata Suradi.
“Biar saya yang bayar.” Kata Melinda.
“Tuh, dengerin. Makasih, bu.” Kardi lalu menggusur Suradi menuju pintu lobby. Melinda masih ingat, pria itu menoleh ke arah dirinya dengan tatapan nanar. Tapi Melinda tidak yakin benar apa yang diucapkan Suradi sebelum menghilang di balik pintu kaca lobby yang setengah gelap itu.
“Linda, aku sayang kamu.” Ataukah “Winda, aku sayang kamu.”

Tidak. Melinda merasa tidak yakin.

Di dalam minibus travel eksekutif, Suradi menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Jiwanya terguncang hebat. Airmata meleleh di sudut-sudut matanya.
“Bro, kenapa nangis?” Tanya Kardi.
“Mataku kepedesan entah kenapa.” Jawab Suradi. “Aku lagi mencoba tidur, kamu jangan ganggu.”
“Oke, bro. Oke.”

Seandainya Winda masih hidup, dan Suradi mampu membimbingnya menjadi wanita pengusaha yang handal, 15 tahun kemudian, tentulah dia akan menjelma menjadi Melinda yang beberapa saat lalu ditatapnya.

Berkali-kali matanya menafikan bukan Winda, bukan Winda, bukan Winda. Itu orang lain, namanya Melinda. Pengusaha kaya raya menantu Handono Halim.
“Bukan, itu adalah Winda ketika berumur 35.”
“Tidak, Winda sudah meninggal. Umurnya 19.”
“Bodoh kamu, itu Winda.”
“Bukan.”
“Winda.”
“Bukan.”

“Winda, aku sayang kamu.”
“Winda, aku sayang kamu!”
“Winda, aku sayang kamu!!!”

Suradi pun terlelap di dalam minibus itu.
ZZZzzzz….

Bersambung

Daftar Part